Selasa, 30 April 2024

Preserving Nature Is An Important Task For All Believers

 

The responsibility of Christians today is to reflect on their lives in relation to the natural environment, both in terms of direct action and in response to the destruction of the natural environment by others. A Christian is one who walks and lives according to the steps and life of Jesus (Luke 14:27; John 13:16). Just as Jesus treated the natural environment, animals and plants as valuable neighbors, they must be preserved. World Peace Day in 1990 said that people can be at peace with people, with themselves and with all of creation. The crisis in the world of ecology begin from moral integrity, so that conference established two moral principles, namely the integrity of all creation and respect for life.

The task of caring for this nature is the essential duty of every believer (Gen 1:28), because in the performance of this ministry the image of God is at stake. To destroy this nature is to destroy the human face itself. Jesus seeks to restore the broken relationship between man and nature through his mission of restoring the kingdom of God, the new state of society that God has sought since creation, where all creation lives in harmony as brothers and sisters with one another, respecting one another, and mutual respect. God's love as one Father for all. It is the kingdom that all those who want to follow in the footsteps of Jesus' struggle and mission are still fighting for as an integral part of faith.

We believers and the Church must be able to implement real awareness raising and environmental protection measures. First, the Church emphasizes through her ecotheological considerations that this environmental degradation is mainly due to the massive exploitation of nature. Human greed and arrogance need to be corrected with new ways of thinking, for example by adopting local wisdom that respects nature. Local wisdom in various places and different tribes often refers to nature as human's brother. Second, concrete steps to protect and care for the environment. Christian theology today is called upon to further promote the idea that man was not only created to protect and care for his environment, but above all to protect it from the threat of destruction and premature destruction. Our task is to try and form an attitude of Christian spirituality that will enable us to participate in God's redemptive love for the world and all the people in it and to bring about justice, peace and the integrity of creation.

Selasa, 23 April 2024

Yehuda Pada Masa Pemerintahan Bangsa Yunani



 

Yunani merupakan bangsa yang sudah lama ada. Diketahui bahwa bangsa ini sudah ada sejak orang-orang Israel keluar dari tanah Mesir. Sebelumnya, kontak pertama antara orang-orang Yunani dengan orang Israel telah berlangsung semenjak bangsa Israel mulai menetap di Kanaan dan telah berlangsung hubungan keniagaan. Tentara-tentara Yunani juga dipergunakan sebagai tentara bayaran dalam angkatan perang Mesir maupun Babilonia sehingga melalui kedua bangsa tersebut, bangsa Israel juga telah berkenalan dengan orang Yunani. Akan tetapi perjumpaan antara bangsa Yunani dan Yahudi terjadi pada akhir abad keempat sebelum masehi (abad IV sM).

Pada awal tahun 301 sM terdapat lima wilayah pemerintahan yaitu Makedonia, Trasia, Asia kecil bersama Fenesia, Mesir bersama Palestina, dan Babilonia. Setelah Alexander meninggal, maka terjadi perang saudara antara jenderal-jenderal Alexander. Mereka berusaha mempertahankan wilayah mereka masing-masing. Yang berkuasa di Mesir adalah Jenderal Plotomeus. Pada tahun 281 sM, jenderal Seleukus yang memerintah Babilonia.

Oleh karena itu, tinggallah tiga wilayah Yunani yang masih bertahan yakni Makedonia, yang diperintah oleh Antigonus, Mesir yang diperintah oleh Plotomeus dan sisa wilayah kerajaan Alexander yang beribukota Antiokhia oleh wangsa Seleukus. Pada dasarnya, ketiga kerajaan Yunani ini bertahan sampai awal abad II sM. Akan tetapi raja Antiokhus III dari bangsa Seleukus memberikan perlindungan kepada Hanibal yang juga dikalahkan bangsa Romawi. Raja Antiokhus III mencoba merebut daratan Yunani, namun ia dipukul mundur oleh bangsa Romawi.

1.      Yehuda di bawah permerintahan bangsa Ptolomeus

Setelah kematian Alexander, wilayahnya yang ia perluas selama pemerintahannya harus menjadi suatu kerajaan kecil sebagaimana kita mengetahui bahwa wilayah yang sudah menjadi kecil itu dibagi oleh para prajuritnya. Hal ini dilakukan berdasarkan atas kekuasaan atas wilayahnya.

Yehuda pada pemerintahan bangsa Ptolomeus ini sebenarnya berada pada witayah bangsa Mesir. Ptolomeus mempunyai daerah kekusaannya yang terdiri dari Mesir bersama dengan Palestina, Babilonia. Ptolomeus memerintah Mesir pada masa ketika Yunani masih kerajaan kuat yang menentukan perkembangan dunia pada masa itu. Pada masa pemerintahan Ptolomeus, ia berusaha mengatur tanpa campur tangan dari para jenderal yang lain.

Akan tetapi kemudian timbul peperangan antara para jenderal yang lain itu, yang cukup lama. Akhirnya pada tahun 281 sM jenderal Seleukus yang memerintah Babilonia. Dari sini kita mengetahui bahwa Ptolomeus kehilangan daerahnya. Pada tahun yang sama jenderal Seleukus meninggal akibat terbunuh dan Makedonia dapat dengan segera membebaskan diri dari kekuasaan pengganti Seleukus.

Bangsa Ptolomeus memerintah selama 125 tahun dan kehidupannnya berlangsung dengan aman. Imam besar masih memegang kepemimpinan atas seluruh bangsa Yahudi. Tidak hanya masalah keagamaan namun juga masalah politik. Walaupun demikian ia merupakan seorang pejabat yang harus bertanggungjawab kepada bangsa Ptolomeus tentang segala hal yang terjadi di Yehuda.

Perkembangan penting bagi orang-orang Yahudi pada periode ini ialah timbulnya suatu paguyuban Yahudi yang kuat di kota Alexandria mengakui buah-buah pikiran dan kebudayaan Yunani sebagai hal yang tinggi nilainya. Oleh karena itu, mereka belajar agar dapat menggunakannya. Satu hal yang tidak baik dari bangsa Yahudi adalah mereka dengan mudah melupakan bahasa dan tulisan yang ada di tanah air mereka, dan sebagai gantinya mereka menggunakan bahasa Yunani dalam kesehariaannya.

Dari keterangan ini, jelaslah tampak bahwa mereka segera mengalami kesulitan untuk mempertahankan warisan sejarah dan iman mereka sebagai orang Yahudi karena buku keagamaan yang menjadi Kitab Suci mereka masih tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa yang tidak dimengerti lagi oleh seorang Yahudi pada kota itu.

Untuk itu disadari bahwasannya perlu sekali terjemahan dari kitab Taurat Musa dalam bahasa Yunani. Dan yang paling menonjol adalah kitab Perjanjian Lama berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Dan dalam terjemahan itu ditambahkan pula kepada PL berbahasa Yunani. Perjanjian Lama berbahasa Yunani ini disebut dengan Septuaginta, karena diterjemahkan oleh 72 orang ahli Yahudi di kota Alexandria. Dalam pengetahuan kita mengenai bangsa Yahudi pada zaman Yunani justru berasal dari laporan maupun kesaksian yang terdapat pada kitab Apokrif.

2.      Yehuda di bawah bangsa Seleukus

Sama halnya dengan Ptolomeus, Seleuka berasal dari kata Seleucus, adalah sama-sama perwira kaisar Alexander yang Agung. Pada tahun 312 sM, seleukus mengangkat dirinya menjadi raja atas wilayah bagian timur kekaisaran Alexander yang Agung. Kita telah mengetahui bahwa pada tahun 281 sM, Seleukus berhasil mengalahkan para jenderal saingannya yang lain, kecuali jenderal Ptolomeus yang berkuasa di Mesir. Akan tetapi pada tahun 198 sM, Antiokhus III dari bangsa Seleukus memperoleh kemenangan atas bangsa Mesir dan mengambil alih kekuasaan atas Palestina sehingga wilayah Palestina berada di tangan Seleuka.

Bangsa Yahudi pada pemerintahan Ptolomeus sudah terpengaruh oleh Hellenistis yang didasarkan pada kehidupan kota. Pada pemerintahan bangsa Seleuka, mereka memandang bahwa bangsa Yahudi tidak terlalu membahayakan,  sehingga keturunan Seleuka tidak memperlakukan mereka dengan jahat. Bahkan raja Antiokhus III berjanji untuk memperbaiki kota Yerusalem yang rusak, membantu memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk persembahan di Bait Allah dan melakukan penghapusan pajak-pajak.

Akan tetapi setelah raja Antiokhus III menderita kekalahan dalam peperangan melawan bangsa Romawi, ia mulai menuntut lebih banyak dari bangsa Yahudi. Pada saat pemerintahan Raja Antiokhus III berakhir, pemerintahan berikutnya, yaitu raja Seleukus IV (Tahun 187-175 sM). Dia berusaha untuk menolong bangsa Yahudi (2 Mak 3:3). Akan tetrapi ternyata Seleukus IV tergoda untuk menggunakan sejumlah besar uang simpanan Bait Allah untuk kepentingan sendiri.

Masa yang terburuk bagi orang-orang Yahudi pada periode ini adalah masa pemerintahan Antiokhus IV (175-163 sM). Ia memakai gelar Epifanes yang merupakan penampakan Allah secara jasmani. Yason saudara dari imam besar Onias membangun gelanggang olahraga yang berhubungan dengan pemujaan dewa Zeus di Yerusalem dan ia mengizinkan para imam untuk menyelenggarakan peribadatan kafir. dan selanjutnya Yason digantikan oleh Manelaus yang diangkat oleh Antiokhus IV sebagai imam besar. Namun, dia pun melakukan kesalahan dalam jabatannya dan dia merampok perbendaharaan Bait Allah. Antiokhus IV mengirim Apolonius yang menghancurkan kota Yerusalem,merobohkan tembok-temboknya dan mendirikan satu batalion tentara yang tetap menduduki Yerusalem sampai tahun 142 sM.

Tindakan Antiokhus IV selanjutnya sangat kejam dimana dia menginginkan Yahudi meninggalkan adat dan kebiasaan seperti mempersembahkan korban persembahan di tempat suci, menyucikan hari sabbat, membangun Bait Suci, menyunat anak laki-laki mereka. Antiokhus IV ingin bangsa Yahudi berbalik dan menentang itu semua. Dia berprinsip jika Yahudi dipaksa untuk menerima kebudayaan Yunani maka dengan sendirinya mereka akan tunduk serta mendukung pemerintahan Yunani. Untuk itu, Bait Allah benar-benar dinodai atau dinajiskan dengan mendirikannya sebuah patung berhala di atas mezbah persembahan. Antiokhus IV terus melakukan kehendaknya atas Yunani dan tidak memperdulikan hati dan perasaan bangsa Yahudi.

3.      Timbulnya perlawanan terhadap Hellenisme oleh kelompok Makabeus.

Secara menyeluruh ada beberapa reaksi yang berbeda-beda dari masyarakat Yahudi terhadap proses Hellenisme itu. Ada kelompok Yahudi yang secara positif menyambut Hellenisasi itu diantara mereka itu ada juga para imam Yahudi yang mendukung ketegasan kebijaksanaan Antiokhus IV. Imam-imam besar Yason, Menelaus dan Alkimus adalah mereka dengan senang hati memasukkannya. Di samping itu, ada sekelompok orang Yahudi yang sangat tegas menentang Hellenisasi ini. Kelompok yang menentang tersebut kelompok Hasidim artinya kelompok ‘saleh’ yang dengan kekuatan mereka menentang keyunaniannya yang memang bertentangan dengan imam dan agama Yahudi.

Dan kelompok Hasidim ini ada yang menggabungkan diri dengan kelompok Makkabeus yang militan. Reaksi dan perlawanan yang paling keras terhadap kebijaksanaan Antiokhus IV datang dari kelompok yang dipimpin oleh Matathias yaitu orang dari Modein. Matathias mempunyai anak yang bernama Yudas Makkabeus. Nama Makkabeus dipakai untuk menyebut kelompok yang sangat militan itu. Nama Makkabeus dalam bahasa Ibrani berarti Palu. Pada tahun 166 sM, penduduk Modein, dipaksa untuk mempersembahkan persembahan kepada dewa-dewi Yunani.

Atas dasar inilah kelompok Makkabeus semakin tidak senang. Mereka akan membunuh setiap orang yang melaksanakan perintah tersebut dan juga akan membunuh setiap orang yang datang yaitu utusan raja yang memaksa hal tersebut. Mereka melakukan perlawanan yang sangat hebat. Matathias lalu merobohkan mezbah dan bersama banyak pengikut melarikan diri ke bukit-bukit. Mereka selalu menghendaki adanya kebenaran dan keadilan. Pada saat itu juga pada suatu hari sabbat mereka diserang oleh tentara raja. Mereka memilih mati daripada melanggar hukum Tuhan. Namun, sejak peristiwa itu muncullah suatu perubahan kecil dalam hukum hari sabbat, yaitu bahwa hari sabbat orang Yahudi diperkenankan untuk mengadakan perlawanan dalam rangka pembelaan diri.

Dan kemudian semakin banyaklah orang Hasidim yang bergabung dengan kelompok Matatous itu. Dalam penggabungan itu, mereka membentuk tentara, mereka menghancurkan mezbah-mezbah berhala, melakukan sunat dan melawan orang-orang Yahudi yang memihak Hellenisme. Dan juga mereka menganiaya orang Yunani asli.

Matathias meninggal dan digantikan oleh anaknya Yudas Makkabeus. Dan sejak saat itu kelompok ini disebut kelompok Makkabeus. Adapun tujuan dari perlawanan Makkabeus adalah:

·         Memperoleh kembali kebebasan untuk menaati hukum-hukum Yahudi.

·         Menguasai dan menyucikan Bait Allah.

      Tujuan itu berhasil dengan perjuangan berat pada tahun 166-165 sM. Dari keberhasilan itu, mezbah baru didirikan dan merekapun menentukan hari perayaan syukur kepada Tuhan Allah. Mereka membangun tembok keliling Bait Allah dan menempatkan penjaga-penjaga disana. Banyak hal yang dilakukan Makkabeus dalam usaha perlawanannya. Mereka berusaha untuk membantu orang-orang Yahudi  yang tinggal di tengah-tengah masyarakat Yunani / non Yunani. Sebagaimana kita mengetahui bahwa Alkimus juga salah seorang yang sangat pro dengan Hellenisasi itu berusaha menyenangkan kelompok Hasidim. Namun, kelompok Makkabeus segera menentangnya dan berhasil mengalahkan tentara Syria yang datang membantu Alkimus di Adasa. Dan hari kemenangan itu selalu diperingati dan dirayakan oleh kelompok Makkabeus.

      Akan tetapi Yudas Makkabeus berhasil dibunuh oleh tentara Syria dan menduduki wilayah Yudea. Kelompok Makkabeus melarikan diri ke padang gurun. Di sana mereka mengatur diri di bawah pimpinan Yonatan Makkabeus, adik Yudas Makkabeus. Kelompok Makkabeus memperoleh kekuasaan untuk mengatur kehidupan bangsa Yahudi. Yohanes Hirkanus, kemenakan laki-laki dari Yudas Makkabeus yang menyandang gelar ‘raja’ atas negeri Yehuda. Ia memperluas wilayah kekuasaannya dengan menaklukkan negeri-negeri yang tidak mau mengakui kekuasaan kerajaan Yahudi di bawah bangsa Makkabe.

      Dan setelah raja mangkat, dua orang anaknya secara berurutan menggantikannya. Kedua anak itu adalah Aristobulus I dan Alexander Yeneus. Yang pertama raja adalah Aristobulus I dan ketika ia mangkat lalu ia digantikan oleh Alexander Yeneus. Pada dasarnya, peristiwa-peristiwa tersebut diatas mempunyai tujuan-tujuan tersendiri melalui kelompok-kelompok tersebut. Kelompok Hasidim menginginkan kebebasan agama. Para pendukung Hellenisasipun tidak dapat merasakan keamanan karena kelompok Makkabeus sewaktu-waktu dapat menyerang mereka dari padang gurun. Akhirnya kelompok Makkabeus tinggal di Mikhmash yaitu sebuh benteng yang kuat di sebelah timur kota Yerusalem. Yonatan memimpin kelompoknya dan melakukan tugasnya. Ia menjadi pemimpin militer, agama dan sekaligus politik, sehingga kelompok Makkabeus memperoleh kemenangan yang gemilang.

Rabu, 17 April 2024

Sisi Jembatan antara Teologi dan Tradisi Lutheran: Memahami Keseimbangan antara Keyakinan Sejarah dan tantangan Zaman Kontemporer

    Gereja tidak terlepas dari teologi dan taradisi yang mengitarinya. Teologi di terjemahkan secara sederhana yaitu pengalaman manusia dengan Allah. Meskipun pada masa kini banyak yang mencoba untuk menjelaskan defenisi teologi secara etimologi dan ontologis, namun secara umum teologi terkait dengan perjumpaan manusia dan Allah yang pasti dibingkai dalam iman. Dalam perjalanan gereja dikemudian hari, timbul yang namanya tradisi teologi. Tradisi teologi ini merupakan corak pemikiran teologi yang di wariskan dalam kurun waktu yang lama dalam sebuah komunitas. Hal ini tidak berkembang sendirian namun dikembangkan oleh banyak pemikiran dan dalam rentang waktu yang tidak sedikit. Tradisi teologi memainkan peran yang penting dalam pembentukan corak pemikiran teologis yang di wariskan kepada generasi selanjutnya. Cakupan dari tradisi teologi ini ada banyak seperti hal yang terkait dengan penafsiran Alkitab, ajaran, metode teologis,dll. Meskipun tradisi teologi berkembang dan diwariskan secara turun-temurun, namun ia tidak terlepas dari sumbernya yang adalah teologi itu sendiri dengan dasarnya adalah Alkitab. Dua hal ini mewarnai perkembangan gereja dan Kekristenan dalam kurun waktu 2000 tahun lamanya.

   Apakah hal ini adalah hal yang baru? Sesungguhnya tidak. Sejarah Yudaisme menunjukkan bahwa jauh sebelum Kekristenan ada, sudah ada beragam kelompok yang tumbuh dalam komunitas Yahudi, dengan pengembangan teologi kelompoknya dan juga tradisi kelompok tersebut yang di tutunkan kepada generasi selanjutnya dalam komunitas tersebut. Sebagai contoh, antara abad 2 SM-1 M, ada kelompok Qumran (Esseni), Farisi, Saduki, Zelotes, dll. Kelompok ini mengembangkan teologi dari Alkitab Ibrani (Hebrew Bible) dan juga tradisi yang berasal dari guru atau pemimpin kelompok tersebut.

   Lalu hal ini kemudian oleh gereja (ekklesia) dikembangkan sehingga corak teologi dari pengembangan teologi Kristen pada masa gereja mula-mula menjadi warisan yang di teruskan kepada orang Kristen di segala zaman. Salah satu contohnya adalah Sakramen (Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus). Sejarah gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul mencatat bahwa ketika orang-orang Kristen berkumpul mereka beribadah dan kemudian melakukan Perjamuan Kudus. Demikian juga ketika ada yang hendak menjadi orang Kristen maka setelah ia di didik dengan Firman Tuhan dan pengajaran para rasul, maka ia kemudian di Baptis. Oleh gereja yang berkembang di kemudian  hari, hal ini di masukkan ke dalam liturgi gereja sehingga Sakramen yang 2 ini masuk dalam rangkaian peribadahan.

   Sampai nantinya di abad Pertengahan (dimulai dari abad 4 M) terjadi perkembangan signifikan terhadapa perkembangan Kekristenan dan gereja, maka dimulailah secara  massif pengembangan teologi dan tradisi gereja. Namun sepertinya dalam perjalanan sejarah gereja, terjadi pembakuan tradisi teologi oleh gereja dan ini sepertinya di dorong oleh alasan politis untuk menyatukan peribadahan di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi. Memang diakui bahwa pada masa itu gereja dan negara menyatu. Sehingga kontrol Kaisar Konstantinus dan kaisar berikutnya terhadap gereja sangat kuat. Belum lagi pada masa itu, hal-hal yang di sampaikan oleh para Paus dan Uskup seperti menjadi sebuah ketentuan baku sehingga harus di jalankan. Ajaran gereja (Katolik) tentang otoritas Paus membuat banyak tradisi gereja menjadi seolah sejajar dengan sumber teologi itu sendiri yaitu Alkitab. Seolah tradisi itu datang dari surga dan dianggap sebagai pengejawantahan Alkitab.

   Hal ini dikemudian mendapatkan penentangan oleh Martin Luther sang Proklamator Protestantisme. Luther mengingatkan gereja Katolik pada waktu itu untuk tidak kaku dengan tradisi teologi gereja (tradisi gereja). Gereja harus kembali ke dasar yang utama yaitu Alkitab sebab Alkitab adalah dasar teologi Kekristenan. Seruan Sola Skriptura  mengubah pandangan para pengikut Luther untuk setia kepada Firman Allah yang dituangkan dalam Alkitab dan teologi yang di bangun dari Alkitab. Tradisi Teologi dapat di kembangkan, di perbaiki bahkan di modifikasi sesuai dengan perkembangan umat dan juga zaman, namun dalam kadar yang tepat.

   Belakangan kitik Luther kepada Paus dan gereja Katolik pada abad ke-16 M menimbulkan perpecahan dalam tubuh Katolik. Semula Luther hanya hendak mereformasi gereja Katolik agar mau membaharui diri kembali ke yang seharusnya. Perkataan Luther  ”ekklesia reformata semper reformanda” dikemudian hari ternyata menjadi semangat yang kuat bagi para pengikutnya untuk menata ulang gereja sesuai dengan tuntunan Kristus sang kepala gereja. Para pengikut Luther dikemudian hari menamakan dirinya menjadi Lutheran, dengan menggunakan nama Luther sebagai pemimpinnya. Luther sendiri menolak digunakannya namanya untuk menjadi sebuah kelompok yang mereformasi gereja, namun pengikutnya bersikeras menggunakan nama ini. Belakangan meluasnya semangat Luther dan para pengikutnya untuk membaharui gereja, menyebarkan api reformasi ke berbagai wilayah di Eropa. Muncullaah tokoh reformasi lain dengan pengembangan teologi, untuk mengembalikan ajaran gereja atau teologi sesuai dengan Alkitab.

   Luther dikemudian hari merumuskan ajarannya dan akhirnya di kenal dengan teologi Luther. Adapun teologi Luther seperti ajaran tentang Sola, 95 Dalil, 2 Kerajaan, Teologia Crusis, Katekhismus Kecil dan Besar, Sakramen, Baptisan, dll. Para pengikut Luther yang menyebut dirinya dengan Lutheran, kemudian merumuskan teologi yang dikembangkan dari teologi Luther. Dikemudian hari hal ini disebut dengan teologi Lutheran. Teologi Lutheran salah satunya adalah konfessi Augsburg. Itu sebabnya nanti gereja-gereja yang menyebut dirinya Lutheran, mereka menggunakan Konfessi Augsburg sebagai ajaran disamping teologi Luther yang diajarkan.

   Tidak hanya berhenti disana, teologi Lutheran berkembang dalam beragam konteks geografis dan budaya. Hal ini nantinya akan menimbulkan dorongan untuk di berlakukannya implementasi dari teologi Luther dan Lutheran tersebut. Hal ini disebut dengan tradisi Lutheran. Teologi Lutheran yang menjadi fondasi ajaran gereja sedangkan tradisi Lutheran merujuk pada bagaimana pengimplementasian ajaran itu dalam kehidupan gereja sehari-hari. Tradisi Lutheran merujuk pada cara beribadah, praktik gereja, kebiasaan dalam gereja-gereja Lutheran, liturgi, struktur gereja, pola ibadah, musik gereja, dll.

   Tradisi Lutheran tidaklah sama suatu negara/kawasan dengan wilayah lain. Sebagai contoh, ada perbedaan antara tradisi Lutheran di Jerman, Skandinavia dan Amerika Utara. Tradisi Lutheran bisa saja berbeda satu wilayah dengan wilayah lainnya. Juga bisa saja berbeda dari satu zaman ke zaman lainnya. Agaknya sedikit terlalu kaku bila gereja di masa sekarang bila hendak melakukan tradisi Lutheran seperti zaman Luther di abad 16 M. Tradisi Lutheran sesungguhnya mencakup banyak aspek praktis gereja, sebab ia berakar dalam teologi Lutheran. Namun tradisi Lutheran dapat di perbaharui sesuai dengan geografis dan budaya yang berkembang, walau tidak boleh terlalu jauh dari Alkitab, teologi Luther dan teologi Lutheran. Tradisi Lutheran dapat di modifikasi dalam beberapa hal. Tradisi Lutheran dapat dimodifikasi dalam beberapa hal dan bagian, dan dalam proses ini dipandu oleh pertimbangan teologis, sejarah gereja dan konsensus antara para pendeta dengan jemaat (di sinode). Meski demikian dalam prosesnya, tradisi teologi Lutheran yang hendak di modifikasi tidak boleh terlalu kaku maupun terlalu liar.

   Beberapa contoh modifikasi tradisi Lutheran:

1. Liturgi

   Gereja-gereja Lutheran banyak mengikuti liturgi yang terstandar dan dianggap sudah baku dan benar. Namun sesungguhnya karena ini adalah tradisi Lutheran, maka tidaklah salah bila ada sejumlah modifikasi yang dilakukan. Pada masa kini, ada juga gereja yang bergerak dan memodifikasi urutan ibadah, pemilihan bacaan doa yang beragam dan juga bacaan ayat Alkitab dengan tujuan menyesuaikan dengan konteks gereja lokal atau kehidupan jemaat. Anehnya pada masa kini justru timbul kekakuan dalam gereja arus utama, dengan dalih ketika hal ini dimodifikasi maka sudah merusak teologi Luther atau teologi Lutheran. Hal ini adalah dua hal yang berbeda. Praktik dari Liturgi memang pengimplementasian teologi Lutheran, namun bukan berarti ketika itu di modifikasi sudah merusak total Teologi Lutheran. Teologi Lutheran adalah ajaran atau dogma, sedangkan tradisi Lutheran adalah pengimplementasian teologi yang sesungguhnya dapat di baharui sesuai dengan konteks dimana gereja berada. Walau hal ini tidak dapat di ganggu dan dirubah sembarangan. Ada alasan yang kuat dan dasar dapat di pertahankan dan di pertanggungjawabkan.

2. Musik dan Nyanyian gereja

   Sejak semula Luther hanya hendak mereformasi Katolik, namun setelah terjadi perdebatan panjang pasca 95 dalil yang di pakukan di gereja Wittenberg 31 Oktober 1517, perlahan terjadi pemisahan Katolik dengan para Pengikut Luther dan mereka juga disebut dengan kaum Protestantisme atau orang Protestan. Agama baru akhirnya muncul sebagai bagian dari reformasi dogma oleh Luther dan kawan-kawan. Pasca pemisahan ini, ada beragam tradisi Katolik yang tidak sepenuhnya dirubah, salah satunya adalah nyanyian dan musik. Pengaruh dari musik dan nyanyian Katolik masih kental di gereja-gereja Lutheran pada masa itu, meskipun dorongan Luther dikemudian hari kepada para pendeta untuk menciptakan nyanyian baru dalam bingkai semangat reformasi. Tradisi musik gereja beragam mulai dari Hymne tradisional hingga musik kontemporer. Gereja juga tidak bisa terlalu kaku dengan hal ini. Memasuki abad 21 M, penggunaan musik modern dan ritme kontemporer sudah mulai terjadi di gereja, secara khusus di perkotaan/wilayah urban. Beberapa gereja memilih mengintegrasikan gaya musik yang berbeda sesuai dengan kebutuhan jemaat. Memodifikasi ini tidaklah merubah ajaran.

3. kebiasaan beribadah

   Praktik-praktik penatalayanan Sakramen, penampilan liturgis dan partisipasi jemaat dalam ibadah dapat di kembangkan dan di perbaharui sesuai dengan konteks dan kebutuhan lokal. Perubahan atau modifikasi ini bila dirasa perlu untuk di perbaharui maka hal tersebut sash-sah saja, sebab hal di perbaharui adalah tradisi Lutherannya bukan teologi Lutheran itu sendiri. Gereja harus lebih terbuka terhadap hal ini dengan melihat perkembangan dunia dan konteks dimana gereja berada pada masa kini.


Kerukunan Umat Beragama dalam Pandangan Kekristenan

 I. Pendahuluan

           Mengapa perlu rukun? Ini adalah pertanyaan yang penting untuk di pikirkan oleh seluruh elemen bangsa ini. Seperti yang kita tau bersama negara kita Indonesia adalah negara yang besar. Terdiri lebih dari 280 juta jiwa yang punya keberagaman masing-masing. Tidak ada satupun wilayah Indonesia  yang homogen 100 persen. Apakah itu sama dalam jenis kelamin, suku, budaya, kebiasaan, bahkan agama. Semuanya hetero dan beragam. Apakah keberagaman adala bancana? Sesungguhnya tidak. Keberagaman adalah anugrah Allah. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, sudah ada perbedaan atau keberagaman itu. Siang dan malam dipisahkan, air dibawah dan cakrawala (air diatas/langit) dipisahkan, daat lau dipisahkan, sampai pada Adam dan hawa meskipun sama-sama dibuat oleh tangan Tuhan yang sama, keduanya juga beragam (berbeda).

Sesungguhnya keberagaman adalah anugrah Tuhan untuk membuat semuanya menjadi indah. Ibarat karangan bunga, bila hanya satu jenis saja, bisa saja indah, namun tidak seindah bila ada banyak bunga dalam karangan bunga tersebut. Jadi bagaimana menyikapi keberagaman. Salah satu cara penting adalah dengan inklusif (keterbukaan), menghargai perbedaan, dan lainnya yang semuanya ini diikat oleh keinginan untuk mau hidup rukun. Perjanjian Lama mencatat bahwa kerukunan adalah kesukaan Allah. Dalam Mazmur 35:20 Daud menyampaikan keluhannya kepada Allah bahwa para musuhnya adalah orang yang tidak mencintai damai dan kerukunan. Hal ini disampaikan Daud karena ia tau bahwa orang yang mencintai kedamaian dan kerukunan disukai Allah, dan orang jahat yang menjadi musuhnya jauh dari itu. Kedua dalam Mazmur 133:1 Daud bernyanyi bahwa adalah sangat indah bila yang saudara hidup rukun. Paulus juga dalam Roma 15:5 menguatkan jemaat di Roma dan memohonkan Allah agar memberikan kerukunan kepada jemaat Kristen di sana.  

        Kerukunan sangat penting dalam Kekristenan, dan itu adalah kesukaan Allah. Kerukunan memiliki peran yang sangat penting karena mencerminkan nilai-nilai dasar dari ajaran Kristus. Ajaran Kristus menekankan pentingnya kasih, perdamaian, dan pengampunan. Kerukunan merupakan ekspresi dari nilai-nilai ini dalam hubungan antar sesama, yang tercermin dalam ajaran Kristus untuk mencintai sesama seperti diri sendiri. Oleh sebab itu setiap orang yang percaya kepada Allah harus hidup dalam kerukunan itu, sebagai bagian dari imannya dan sikapnya yang cinta damai, inklusif dan melihat saudara lain yang berbeda sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang sama dengan dirinya.

          Lalu bagaimana konteks kita pada masa kini? Urgensi kerukunan pada masa kini selalu dikaitkan dengan kehidupan beragama? Mengapa? Bukankan konteks dunia saat ini bicara kerukunan soal pemerataan HAM, gender, dan perlakukan terhadap disabilitas, dll. Hal ini dikarenakan di Indonesia, persoalan keberagamaan adalah persoalan yang rumit dan memiliki jalan yang panjang. Pergesekan antar kepercayaan sangat berbahaya di negara kita ini. Rentan konflik dan sangat mudah dipantik oleh orang atau kelompok yang tidak bertanggungjawab. Sementara Pancasila, dasar ideologi negara Indonesia, menegaskan pentingnya persatuan Indonesia (sila 3) dan salah satu turunannya menekankan kerukunan di antara keragaman. Nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong (kerja sama), keadilan sosial, dan persatuan, mendorong masyarakat untuk hidup berdampingan secara damai meskipun memiliki perbedaan. Kerukunan beragama sanagt penting dalam konteks kita di Indonesia. Kerukunan beragama adalah keadaan hubungan antarumat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian dan saling menghormati dalam pengamalan ajaran agama serta kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat.

            Dalam bagian ini secara khusus akan melihat bagaimana kerukunan umat beragama yang dilihat dari sudut pandanga Kekristenan.

II. Kerukunan dalam pandangan Kristen

Kerukunan dalam pandangan Kristen adalah konsep yang mendasar dan penting dalam kepercayaan Kristen. Ini mengacu pada hubungan harmonis antara individu, komunitas, dan Tuhan, yang tercermin dalam kasih, perdamaian, kesatuan, dan pengampunan. Dalam Alkitab Kristen, konsep kerukunan meliputi berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan antarindividu hingga hubungan manusia dengan Tuhan.

Pertama-tama, kerukunan dalam pandangan Kristen berakar pada ajaran Yesus Kristus. Yesus mengajarkan 1kasih sebagai prinsip utama dalam menjalin hubungan dengan sesama. Salah satu ajaran paling terkenal Yesus adalah ”… Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:34). Kata dasar kasih  yang dipakai dalam teks ini adalah ἀγαπάω (agapao) yang dalam bentuk lain sama dengan agape, kasih agave, kasih dengan pengorbanan tanpa pamrih, cinta tanpa syarat dan ketulusan. Istilah ini sering dianggap sebagai konsep tertinggi dari kasih, yang dipraktikkan oleh Allah dan yang dipanggil untuk diperlihatkan oleh umat manusia dalam hubungan mereka dengan Tuhan dan sesama.  Kasih ini menjadi dasar bagi kerukunan antarindividu dalam komunitas Kristen.

Selain itu, Alkitab Kristen juga menekankan pentingnya 2perdamaian dalam kerukunan. Rasul Paulus menulis dalam suratnya kepada jemaat di Roma, ”Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera  dan yang berguna untuk saling membangun. Jadi, marilah kita mengejar hal-hal yang mendatangkan damai sejahtera dan membangun satu dengan lain” (Roma 14:19). Perdamaian bukan hanya tentang ketiadaan konflik, tetapi juga tentang aktif mencari kebaikan dan kesejahteraan sesama dan membangun harmoni.

Kerukunan dalam pandangan Kristen juga mencakup 3penghormatan terhadap perbedaan. Rasul Paulus menekankan pentingnya penghormatan dalam menjalin hubungan antarindividu dalam komunitas Kristen. Dalam Roma 14:19 Paulus menekankan bahwa dalam keberagaman, penting untuk menghargai perbedaan dan bekerja menuju kesatuan.

Kerukunan dalam pandangan Kristen juga mengajarkan pentingnya 4keadilan sosial. Alkitab secara konsisten menekankan pentingnya memperjuangkan keadilan bagi mereka yang lemah dan terpinggirkan dalam masyarakat. Dalam Kitab Mazmur, Allah dinyatakan sebagai ”pengampun, yang mencintai keadilan” (Mazmur 99:4). Oleh karena itu, dalam kehidupan Kristen, mencari keadilan sosial adalah bagian integral dari upaya untuk membangun kerukunan dalam masyarakat.

Selain itu, kerukunan dalam pandangan Kristen juga 5melibatkan kerja sama dalam. Rasul Paulus menggambarkan orang percaya sebagai tubuh Kristus yang memiliki banyak anggota yang memiliki peran yang berbeda-beda, tetapi semua bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama (1 Korintus 12:14, 12:27). Kerukunan dalam pandangan Kristen juga menekankan pentingnya 6belas kasihan. Yesus mengajarkan kasih yang menyeluruh, termasuk kasih terhadap mereka yang memerlukan pertolongan. Dalam perumpamaan tentang Tuhan yang Maha Kasih dalam Injil Lukas, Yesus mengajarkan pentingnya belas kasihan terhadap sesama, terlepas dari perbedaan dan latar belakang (Lukas 10:25-37).

Terakhir, kerukunan dalam pandangan Kristen mencakup 7penerimaan kebenaran  Tuhan. Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah sumber kerukunan yang sejati, dan hanya melalui hubungan yang benar dengan-Nya, manusia dapat mencapai kerukunan yang sejati. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Rasul Paulus menekankan pentingnya damai Allah yang melebihi segala pemahaman manusia (Filipi 4:7). Darisini kita bisa melihat bahwa kerukunan akan benar-benar bisa di capai dan dinyatakan kalau kita sungguh-sungguh mencari kebenaran Tuhan seperti yang disampaikan oleh Nabi Asmos ”Carilah Tuhan” (Amos 5:4,6)

Secara keseluruhan, kerukunan dalam pandangan Kristen melibatkan kasih, perdamaian-harmoni, penghormatan, keadilan sosial, kerja sama, belas kasihan, dan penerimaan Tuhan. Ini adalah panggilan untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan dunia di sekitar kita, dengan mengikuti ajaran dan contoh Yesus Kristus.

III. Dengan Siapa Harus Rukun?

            Dalam hal hidup rukun Alkitab menjelaskan bahwa orang percaya harus Rukun dengan sesama-saudara. Jadi siapakah sesama ku? Ini pertanyaan yang diajukan ahli taurat kepada Yesus dan Yesus menjelaskan tentang ”perumpamaan orang Samaria yang baik hati”. Sesama merujuk kepada individu atau manusia lainnya, terlepas dari perbedaan latar belakang, keyakinan, ras, atau budaya. Konsep sesama mengandung makna yang luas, mencakup semua orang di sekitar kita, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal, dengan tujuan untuk memahami, menghormati, dan berinteraksi dengan mereka dengan penuh kasih dan kebaikan.

            Allah juga mengatakan dalam Im.19:18 ”kasihilah sesama mu seperti dirimu sendiri”. Daud dalam Mazmur 133:1 menyerukan agar saudara/sesama hidup rukun. Ayat-ayat seperti Imamat 19:18 dan Mazmur 133:1 mencerminkan pentingnya kasih dan kerukunan antarsesama dalam ajaran agama Kristen. Dalam Imamat 19:18, Tuhan menginstruksikan umat-Nya untuk mengasihi sesama dengan cara yang sama seperti mereka mencintai diri sendiri. Ini menekankan pentingnya kasih tanpa pamrih (agave) dan penghormatan terhadap nilai dan keberadaan orang lain. Sementara itu, Mazmur 133:1, yang ditulis oleh Daud, menyuarakan keindahan dan pentingnya hidup bersama dalam kerukunan. Daud menggambarkan kesatuan yang menyenangkan dan diberkati, yang merupakan hasil dari kerukunan antarsaudara. Pesan-pesan ini menekankan bahwa kasih dan kerukunan adalah prinsip-prinsip inti dalam kehidupan Kristen, yang menghubungkan keyakinan agama dengan praktik sehari-hari, serta membangun fondasi bagi komunitas yang harmonis dan saling mendukung.

Hubungan dengan sesama harus inklusif. Ini juga memiliki keterkaitan yang erat dengan kerukunan umat beragama. Kerukunan umat beragama merujuk pada keadaan di mana individu-individu dari berbagai keyakinan agama hidup bersama dalam damai, saling menghormati, dan bekerja sama untuk mempromosikan perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan bersama.

Dalam konteks Kristen, pandangan tentang kerukunan dengan umat beragama lain tercermin dalam prinsip-prinsip ajaran Yesus Kristus. Yesus mengajarkan pentingnya kasih, pengampunan, dan penghormatan terhadap sesama, termasuk mereka yang berbeda keyakinan agama. Dia menekankan perlunya mencintai sesama sebagaimana kita mencintai diri sendiri, serta pentingnya memperlihatkan belas kasihan dan pelayanan kepada mereka yang memerlukan pertolongan.

IV.  Pandangan Kristen Tentang Kerukunan Dengan Umat Beragama Lain

Secara khusus, pandangan Kristen tentang kerukunan dengan umat beragama lain mencerminkan ajaran untuk menjadi pembawa damai dan penebus dalam dunia yang terbagi. Pengikut Kristus dipanggil untuk menjadi saksi kasih Allah dan memperlihatkan pengampunan serta kasih yang tidak memandang perbedaan keyakinan atau latar belakang. Dalam Perjanjian Baru, terdapat banyak contoh di mana Yesus menunjukkan kasih dan pengampunan kepada mereka yang dianggap sebagai ”orang asing” atau ”orang lain”. Perumpamaan tentang Orang Samaria yang murah hati di Lukas 10:25-37, misalnya, menggambarkan seorang Samaria yang menolong seorang Yahudi yang terluka, meskipun kedua kelompok itu pada saat itu memiliki hubungan yang tegang (konflik-permusuhan).

Selain itu, pengajaran Paulus dalam surat-suratnya juga menekankan pentingnya perdamaian, kesatuan, dan kerukunan antarindividu dari berbagai latar belakang dan keyakinan. Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus menulis, ” Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih,  sebagai pengikat yang mempersatukan  dan menyempurnakan (Kolose 3:14).

Pandangan Kristen tentang kerukunan dengan umat beragama lain juga melibatkan dialog antaragama yang tulus dan saling menghormati. Ini mencakup mendengarkan dengan teliti, berbagi pemahaman tentang keyakinan masing-masing, dan mencari titik persamaan serta kesempatan untuk bekerja sama dalam hal-hal yang bersifat positif, seperti penyelesaian konflik, pemberdayaan masyarakat, dan memajukan perdamaian. Dengan demikian, pandangan Kristen tentang kerukunan dengan umat beragama lain memandang sesama sebagai saudara sesama manusa dalam penciptaan Allah (saudara dalam kemanusiaan) yang patut dihormati, dicintai, dan dibantu. Ini mencerminkan ajaran Yesus Kristus untuk mngasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Matius 22:37-39). Dengan demikian, kerukunan antarumat beragama dapat terwujud ketika individu-individu mempraktikkan kasih agave dan menghormati nilai-nilai serta keyakinan yang berbeda dalam semangat saling menghormati dan kerja sama yang tulus.

V. Langkah Dalam Menciptakan Kerukunan Umat Beragama Dalam Pandangan Kristen

            Lalu apa yang harus kita lakukan?

1. Moderasi beragama sebagai langkah mengenal agama lain dan mengasihi mereka

            Moderasi beragama memiliki arti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan moral dan watak sebagai ekspresi sikap keagamaan individu atau kelompok tertentu di tengah keberagaman dan kebhinekaan fakta sosial yang melingkupi kita. Agama tentu tidak dapat dimoderasikan karena sudah menjadi ketetapan dari Tuhan, tetapi kita memoderasikan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang kita peluk sesuai dengan kondisi dan situasi sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran agama.  Terdapat empat indikator moderasi beragama, yaitu toleransi, anti kekerasan, penerimaan terhadap tradisi, dan komitmen kebangsaan. Apabila empat indikator tersebut terpenuhi, kehidupan beragama dan berbangsa yang harmonis, damai, dan toleran menuju hubungan antar umat yang kuat.

Tiap agama selalu berusaha untuk menjaga kedamaian, toleransi serta kerukunan antar umat beragama melalui dialog-dialog dan kerjasama antar agama. Akan tetapi terkhusus mengenai hubungan (dialog) antar agama, dikalangan umat Kristen ada saja selalu muncul polemik antara menerima atau tidak menerima keberadaan agama lain. Orang-orang Kristen masih selalu saja bertanya kepada dirinya tentang bagaimana seharusnya sikap yang diambil terhadap hal tersebut. Disamping itu, orang-orang Kristen juga dibingungkan oleh pernyataan (yang menjadi salah satu dasar penerimaan terhadap agama lain) yang mengatakan bahwa, “Setiap agama benar adanya”. Hal ini kemudian menyebabkan orang Kristen kembali mempertanyakan kebenaran agama Kristen, “Apakah kebenaran agama Kristen sama seperti kebenaran agama lainnya?”. Pada masa sekarang ini ada saja  orang-orang Kristen yang masih kurang memahami kebenaran agama Kristen yang dianutnya sekaligus juga kurang memahami dasar (ajaran dogmatis) bagi diri mereka sendiri untuk menyikapi keberadaan agama lain.

            Alkitab menegaskan bahwa Allah itu esa (bnd. Yes 45 : 5 ; 46 : 9 ; Mark 12 : 29). Memang kalau dilihat dari pemahaman agama lain, mungkin mereka tidak menerima Allah dari setiap agama satu (esa). Tetapi yang jelas Alkitab mengatakan bahwa Allah itu adalah esa. Dengan demikian perlu pengkajian lebih lanjut tentang keesaan Allah itu. Untuk itu penjelasan tentang Allah harus Theosentris. Kemudian pemahaman dalam Theosentris dilanjutkan dengan Theoantroposentris. Pembicaraan tentang Allah dan pembicaraan tentang manusia harus seimbang, sehingga terlihat hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesamanya.

Pengenalan terhadap mereka yang diluar Kristen harus menjadi salah satu pegangan, dimana ketika sudah saling mengenal maka akan bisa melihat bahwa orang yang diluar agama kita sebagai orang yang sudah di mengerti dan akan ada peneriamaan terhadap mereka. Pengenalan dan penerimaan adalah bagian yang penting, yang harus dengan sungguh-sungguh di kerjakan oleh umat Tuhan yang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesamanya, dan ini akan mempererat hubungan antar umat beragama.

2. Membangun sikap Inklusif dan toleransi

Toleransi bukanlah merupakan suatu “semangat untuk bersikap tidak berlebihan” terhadap penganut dan religiusitas agama lain. Toleransi adalah “melatih pengendalian diri” terhadap mereka yang telah mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa iman mereka bukanlah satu-satunya iman, yang mengatakan bahwa fanatisme adalah hal yang buruk, yang mengatakan bahwa kasih adalah satu-satunya. Toleransi tidak boleh disamakan dengan “sikap menyendiri” orang yang rasionalistis (yang berpendapat bahwa dia dapat merasa nyaman dan pada akhirnya berhasil dengan semua agama-agama melalui konsep agama yang benar). Dan juga toleransi tidak boleh disamakan dengan relatifisme dan skeptisime yang “tidak memihak” (yang tidak mempertanyakan kebenaran dan ketidakbenaran dalam fenomena keberagamaan).  Dalam Pemahaman umat Kristen tentang toleransi, hal itu sangat berkaitan dengan kata damai. Karena kata damai secara umum diartikan sebagai keadaan tanpa perang, tanpa kerusuhan, tanpa musuh, rukun dan tentram.

Orang Kristen dapat menunjukkan toleransi terhadap penganut agama lain dengan berbagai cara.

1.      Pertama, mereka dapat mempraktikkan prinsip-prinsip kasih dan pengampunan yang diajarkan oleh Yesus Kristus, dengan menghormati keberadaan dan keyakinan orang lain tanpa menghakimi atau mencoba mengubah mereka.

2.      Kedua, mereka dapat membuka diri untuk memahami keyakinan agama lain melalui dialog dan pembelajaran saling menghormati.

3.      Ketiga, mereka dapat menjalin hubungan yang positif dan kolaboratif dengan komunitas agama lain, bekerja sama dalam proyek-proyek sosial, kemanusiaan, dan perdamaian yang menguntungkan bersama.

4.      Keempat, mereka dapat menghindari diskriminasi dan sikap prejudis terhadap penganut agama lain, serta menjaga sikap yang inklusif dan ramah dalam interaksi sehari-hari.

Dengan demikian, orang Kristen dapat membawa dampak positif dalam mempromosikan kerukunan dan toleransi antarumat beragama, mewujudkan semangat kasih dan perdamaian yang diwarisi dari ajaran Kristus.

3. Pembawa damai (memciptakan harmoni) dan tidak egois

Terkait damai atau harmoni, kata ini berasal dari kata שָׁלוֹם (syalom). Secara harfiah, syalom berarti damai atau keselamatan. Namun, arti kata ini melampaui sekadar ketenangan fisik atau absennya konflik. Syalom juga mencakup konsep keutuhan, keharmonisan, kesejahteraan, dan keberlimpahan. Kata ini menunjukkan hubungan yang baik antara manusia dengan manusia (rekonsiliasi), dan juga manusia dengan Allah. Orang Israel menggambarkan bahwa Syalom merupakan suatu kualitas dari kosmos yang terdapat dalam seluruh dalam seluruh lapangan hidup dan berkaitan dengan kepercayaan terhadap Allah. Syalom itu datang bukan usaha atas usaha manusia tetapi datang dari Tuhan Allah (Im. 26:6; Bil.6:26). Syalom mencakup segala sesuatu yang berupa kebahagiaan manusia seluruhnya dan seutuhnya, baik rohani maupun jasmani, baik perorangan maupun persekutuan. Kata Syalom juga menunjukkan relasi dalam hidup manusia (antar individu, antar keluarga, antar umat dan antar bangsa).

Untuk membuat dan menciptakan damai, tidak cukup hanya dengan dua orang/kelompok yang bertikai. Tugas menciptakan perdamaian melampaui tanggung jawab mendamaikan dua pihak yang berkonflik. Yang dimaksud Yesus dengan pembuat damai adalah orang-orang yang inklusif yang mengasihi sesamanya bahkan musuh sekalipun. Dalam Matius 5:44-48 Yesus mengajarkan agar orang percaya mengasihi musuh karena dengan demikian mereka menjadi anak-anak Allah (Mat.5:9).. Membuat damai dihubungkan dengan karakter moral Allah, yaitu mengasihi semua orang. Orang percaya tidak boleh angkuh (sombong), mereka harus memiliki gaya hidup sederhana. Setiap bentuk yang memberikan petunjuk tentang keangkuhan dan kesombongan haruslah dihilangkan. Sebaliknya orang benar/orang percaya/umat Allah harus dan wajib mempunyai kemampuan untuk  menciptakan damai dan harmoni dengan sikap inklusif kepada semua orang maka akan terwujud pembangunan bangsa yang rukun, baik dan harmonis serta berkelanjutan.

VI. Kesimpulan

          Kerukunan sangat penting dalam konteks Indonesia yang kaya akan keberagaman. Dalam konteks ini, keberagaman dipandang sebagai anugerah Tuhan yang harus disikapi dengan inklusif, menghargai perbedaan, dan semangat untuk hidup rukun. Kerukunan dipandang sebagai kesukaan Allah dalam ajaran agama, khususnya dalam Kekristenan, yang menekankan nilai-nilai seperti kasih, perdamaian, pengampunan, dan keadilan sosial. Pandangan Kristen tentang kerukunan dengan umat beragama lain menekankan pentingnya kasih tanpa pamrih, penghormatan terhadap perbedaan, dan kerja sama dalam menciptakan perdamaian dan kesejahteraan bersama. Ini tercermin dalam ajaran Yesus Kristus untuk mengasihi sesama dan memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Langkah-langkah konkret untuk menciptakan kerukunan antarumat beragama dalam pandangan Kristen termasuk moderasi beragama, membangun sikap inklusif dan toleransi, serta menjadi pembawa damai yang tidak egois. Moderasi beragama melibatkan pengenalan dan penerimaan terhadap agama lain, sementara sikap inklusif dan toleransi melibatkan menghormati keyakinan orang lain dan menjalin hubungan yang positif. Pembawa damai juga harus mengasihi musuh dan berusaha menciptakan damai dengan sikap inklusif kepada semua orang.

Kerukunan antarumat beragama merupakan pondasi yang penting bagi keharmonisan dan kemajuan Indonesia. Dalam konteks Kristen, kerukunan ini tercermin dalam kasih, perdamaian, penghormatan, dan kerja sama untuk menciptakan kesejahteraan bersama. Melalui langkah-langkah konkret seperti moderasi beragama, sikap inklusif, dan menjadi pembawa damai, kerukunan antarumat beragama dapat terwujud sebagai prinsip yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, memperkuat fondasi bagi komunitas yang harmonis dan saling mendukung.

Top of Form

 

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...