Jumat, 08 Desember 2023

Penelitian Arkeologi Dan Sejarah Terkait Budaya Dan Ekspresi Kehidupan (Pakaian, Perhiasan, Musik, Nyanyian, dan Tarian) dalam Budaya Israel Kuno

I.  PENDAHULUAN

Kehidupan orang Israel kuno, tidak terlepas dari beragam kebudayaan yang saling tarik menarik dengan budaya yang ada di Kanaan dan disekitarnya pada masa itu.[1] Penelitian terhadap hal ini dimulai ketika dilakukannya serangkaian penelitian di  Yerusalem di bidang arkeologi  dan juga sejarah.[2] Kebudayaan dan ekspresi kehidupan sesungguhnya adalah sesuatu yang menarik dikarenakan hal ini selalu terhubung langsung dalam kehidupan masyarakat terutama orang Israel kuno. Tulisan dalam Alkitab sering menunjukkan adanya serangkain kaitan budaya dan ekspresi kehidupan orang Israel kuno dan bangsa di timur dekat kuno dalam narasi Alkitab. Terkhusus tulisan dalam Perjanjian Lama, selain menunjukkan budaya Israel kuno juga sering menunjukkan adanya pengaruh budaya asing yang ada di sekitar Israel kuno. Budaya dan ekspresi kehidupan dapat dikategorikan dalam berbagai hal seperti dalam pakaian, musik, tarian dan berbagai hal yang berada disekitar kehidupan masyarakat, khususnya orang Israel kuno.[3]  

Meskipun pada zaman modern ada sedikit pertukaran budaya antara bagian Yahudi dan Arab dari populasi Israel, meskipun orang-orang Yahudi yang tiba di Israel dari berbagai komunitas di seluruh dunia, termasuk Arab Timur Tengah, telah membawa serta warisan budaya mereka sendiri dan unsur-unsur yang diserap dari mayoritas budaya di mana mereka tinggal selama berabad-abad. Pembauran tradisi Ashkenazi, Sephardi, dan Timur Tengah sangat penting dalam menempa Israel modern. Warisan budaya yang beragam dan bahasa bersama ini, bersama dengan tradisi umum Yahudi, baik agama maupun sejarah, membentuk fondasi kehidupan budaya di Israel.[4] Namun dalam tulisan ini secara khusus membahas bagaimana Kebudayaan dan Ekspresi Kehidupan dalam Budaya Israel Kuno dan melihat bagaimana hal itu ada dan tertuang dalam tulisan Alkitab terkhusus dalam PL.

II. PEMBAHASAN

1. Pakaian dan Perhiasan

            A. Pakaian

Pengenai pakaian di Israel kuno biasanya bahan dasarnya terbuat kain wol ( Im. 8:36;19:19,  Yeh 27:18 yang berasal dari bulu domba, baik yang diwarnai atau dengan warna aslinya.  linen yang terbuat dari tanaman yang disebut rami. Wol lebih mudah digunakan, dan membutuhkan pewarna lebih baik. Itu juga tahan air sampai batas tertentu, memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap cuaca. Linen/lenan ( Im.6:10) lebih halus dan lebih mahal. Biasanya ini diperdagangkan dan merupakan salah satu dagangan yang laris. Orang-orang yang diluar Israel dan disekitarnya juga melakukan perdagangan dan pakaian menjadi salah satu komoditas yang sangat penting untuk diperdagangkan.[5]  Pakaian menjadi bagaian yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Ini sama pentingnya dengan makanan sebagai bahan pokok. Pakaian digunakan sejak awal periode Paleolitik, digunakan untuk kesehatan, pertahanan hidup dan juga sebagai makna kehidupan tiap peradaban. Pakaian sebagai ukuran dalam tingkata sosial, ekonomi dan juga simbol sebuah identitas juga status yang memakainya. Contoh pada zaman Alkitab membuka dan merobek pakaian didepan umum adalah tanda perkabungan atau keputusan ( 2 Sam.3:31, Yer.41:5 ), pakaian sebagai konotasi peralihan kekuasaan ( 2 Raj.2:14 ). Sumber informasi tentang pakaian  adalah: 

1. Ezor,  pakaian dalam yang bersentuhan dengan kulit ( pakaian dasar tentara dan buruh Israel ). Ezor juga dapat diterjemahkan dengan ikat pinggang ( 2 Raj.1:8; Yes5:27)
2. 
Kuttonet, pakaian yang digunakan menutupi pakaian dalam yaitu jubah.  Membungkus mulai dari pundak sampai mata kaki, lengan pendek atau wol ( Kej.37:3, 2 Sam. 13:18-19)
3. 
Khagora, kain panjang dari wol atau lenan yang dililitkan sekitar pinggang diluar jubah ( sama dengan angkin atau selendang ( Rut.3:15).
4. 
Kesut istilah umum untuk pakaian luar mirip dengan jubah
5. 
Simla / Sal‘a pakaian yang panjangnya mencapai bawah lutut, terkadang dililitkan di tubuh. ( Kel.22:26-27, Ul. 24:13) )
6.  
Me’il jubah pakaian luar yang anggun dengan lengan lebah yang bergantung lepas yang menandakan kedudukan dan keagungan dipakai oleh kalangan elite ( 1 Raj.22:10)). Ada juga efod untuk imam yang terbuat dari lenan dan sutra (1 Sam 22:18) 
7.  Adderet sebuah rompi atau mantel istimewa empat persegi panjang yang biasa dipakai raja dan nabi ( Yos.7:21, Yun.3:6, 1 Raj. 19:13)  

Untuk Pakaian Perempuan tidak terlalu berbeda dengan pakaian laki-laki, namun ada sedikit perbedaan pada simla untuk perempuan lebih panjang untuk menutupi tubuh dan kadang wajah ditutupi dengan cadar sya’ip ( Kej.24:16).  Selain yang dipakai di badan, ada juga yang dipakai di kepala Penutup kepala mirip seperti sorban yang dililitkan disekeliling kepala atau diikat dengan kawat sebagai pelindung dari panas matahari. Ada juga di kaki, yaitu alas kaki seperti sandal/kasut. Sandal/kasut adalah alas kaki sehari-hari yang digunakan bila keluar rumah untuk melindungi kaki kecuali orang miskin. Sandal terbuat dari sol kulit, diikatkan sampai ke mata kaki dengan sebuah tali kulit. Kasut atau sandal adalah sebuah alat untuk melegalkan kontrak dan perjanjian, pertukaran kasut menandakan pengalihan hak kepemilikan dan dilepaskan sebagai tanda penghormatan (Ul.25:10, Rut.4:7-8).

B.     Perhiasan   

Perhiasan adalah bagian tambahan. Perhiasan menandakan status dan kekayaan, bias juga digunakan untuk kegiatan keagamaan seperti jimat untuk melindungi dari roh-roh jahat. Dalam Yesaya 3: 16-24, di cantumkan jenis-jenis perhiasan seperti gelang tangan atau kaki, gelang kepala yang tampak seperti bandul kalung berbentuk piringan bintang, bulan sabit yang dipakai di leher unta sebagai dekorasi, anting-anting berbentuk tetesan air, tali kalung, manik-manik, cincin emas ( Bil.31:50), hiasan kepala lencana gelang kerajaan.[8] Penggalian Arkeologi di situs-situs penelitian menemukan beragam perhiasan yang pernah digunakan di zaman kuno. Produk perhiasan tersebut memiliki bahan dasar seperti Emas, Perak maupun batu-batu berharga lainnya.[9] Perhiasan dan ornamen tersebut ditemukan dari beragam penggunaan seperti pada pesta pernikahan, pesta kerajaan ataupun dalam kegiatan sehari-hari bagi yang memiliki status sosial tinggi. Orang Israel mengenakan perhiasan yang desainnya mirip dengan perhiasan Mesir, Mesopotamia, dan Asyur. Perhiasan tersebut ditemukan di kota Arsuf kuno dan juga di Yerusalem.

Untuk referensi Alkitab tentang perhiasan kuno dapat dilihat dalam tabel berikut:

Kejadian 24:53

Kemudian hamba itu mengeluarkan perhiasan emas dan perak serta pakaian kebesaran, dan memberikan semua itu kepada Ribka; juga kepada saudaranya dan kepada ibunya diberikannya pemberian yang indah-indah.

Keluaran 32:24

Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang empunya emas haruslah menanggalkannya. Mereka memberikannya kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini.

Keluaran 35:22

Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN.

Hosea 2:13

Dan Aku akan menghukum dia karena hari-hari ketika dia membakar korban untuk para Baal, berhias dengan anting-antingnya dan kalungnya, dan mengikuti para kekasihnya dan melupakan Aku," demikianlah firman TUHAN.

2. Musik, Nyanyian, dan Tarian

A. Musik dan Fungsinya

Pentingnya musik dalam kehidupan Israel kuno dapat dilihat melalui kitab kejadian yang memuat nama musisi diantar tiga profesi utama yaitu pengembala, pandai besi dan pemain kecapi dan suling ( Kej.4:20-22). Perkembangan musik Israel. Kitab Mazmur memberi keterangan mengenai perkembangan musik Israel. Kitab Mazmur berisi lebih banyak rujukan pada pertunjukan musik dari pada buku lain di Alkitab. Musik terdiri dari musik vocal yaitu nyanyian religious dalam peribadatan di Bait Suci maupun musik instrumental  ( Mzm.68:25-26; 81:3-4; 98:4-6).  Musik dan Nubuat. Musik sering kali dikaitkan dengan nubuat di dunia kuno. Memainkan musik terkadang digunakan untuk membuat ekstasi kenabian yang di yakini sebagai kerasukan roh Yahweh. Keadaan ekstasi ini sering kali disertai dengan tarian (1 Sam.10:5-6 ).[10] 

Musik dan Kesukarian. Musik juga dinikmati oleh masyarakat kelas atas ( Ams. 6:5 ) . Musik juga menyertai peristiwa-peristiwa domestic sehari-hari ( Kej.31:27 ), seperti  pada pesta perkawinan juga merupakan bagian penting (Yer.7:34; 16:9 ), pada perayaan-perayaan panen anggur (Yes.5:1), pada perayaan tahunan yang menyebabkan terjadinya penculikan (Hak.21:20-21 ). Musik dan Peperangan. Musik, nyanyian, dan tarian menjadi bagian peperangan khususnyaa di dalam perayaan kemenangan setelah pertempuaran. Kaum perempuan seperti Miryam menyanyikan lagu kemenangan (Kel.15:20-21 ), Debora menyanyi setelah kemenangan atas koalis raja-raja kanaan (Hak.5:3 ).

B. Alat-alat Musik 

Alat-alat musik ( gembus, kecapi dan suling ), yang semuanya tampaknya berasal dari awal millennium ke-3 SM, dibagai menjadi tiga kategori dasar yaitu senar, tiup, dan tabuh (perkusi). Alat-alat musik terbuat dari perunggu, besi, emas, oerak, tembikar, dan tulang untuk musik tiup.  Alat Musik Senar. Dalam kebudayaan Israel kuno, menyanyi biasanya diiringi dengan alat-alat musik seperti alat musik senar yang sering disebut dengan kecapi atau harpa. Kecapi terdiri dari sebuah kotak suara empat persegi panjang, dua lengan yang tidak simetris dan sebuah tongkat penyangga yang miring. Kecapi dibedakan berdasarkan jumlah senarnya ada yang 4-8 senar dan 10-13 senar. Perbedaan dengan harpa adalah harpa tidak memiliki tongkat penyangga. Kecapi banyak ditemukan dari periode dinasti awal ( ±2500sM ) di pekuburan kerajaan Sumeria di Ur. 

Alat Musik Tiup. Contoh dari alat musik tiup pada zaman Israel kuno adalah sangkakala, suling  yang terbuat dari dua potong gelagah, logam, atau gading yang terpisah, dipakai ketika Salomo diurapi menjadi raja ( 1 Raj 1:40 ) dan nubuat Yeremia yang mengasosiasikan suling menjadi ratapan penguburan ( Yer.48:36 ). Terompet terbuat dari perak atau perunggu tempaan yang memanjang dengan rentang nada terbatas. Terompet mririp dengan nafiri dimana alat ini digunakan untuk mengumpulkan jemaat, untuk menyerang kemah, alarm untuk perang dan juga biasanya ditiup pada saat sakral seperti persembahan korban. Dan terompet tanduk biri-biri yang sering disebut dalam Alkitab. Tanduk biri-biri hanya mengeluarkan suara keras saja, terbentuk dari sebuah tanduk yang panjang denga ujung yang melengkung ke atas dan suara yang memekakkan telinga yang digunakan dalam kontek religus dan perang ( Hak.3:27; 6:34 ). 

Alat Musik Tabuh. Dalam Alkitab alat musik tabuh sering disebut dengan : ceracap ( simbal ) yang terbuat dari tembaga atau perunggu ( 1 Taw 15:19 ) yang ditemukan di Mesir, Levant dan Asyur, Rebana ( tabuhan ) yang berkerangka kecil, dangkal yang sering dimainkan dengan tanga oleh kaum perempuan dengan tarian. Rebana dimainkan ketika peristiwa sukacita dan dengan peribadatan ( 1 Sam.18:6; Kel.15:20 ). Sebuah cetakan dari tanah liat yang berbentuk perempuan membawa rebana ditemukan dibangungan kuil abad ke 10 di Tanaakh, Hillers mengidetifikasi arca tersebut sebagai dewi atau seorang musisi perempuan didalam kuil.

C. Tarian

Tarian adalah bentuk pujian religious yang diiringi musik. Dalam Alkitab akar kata tarian memiliki berbagai makna seperti meloncat, berjingkat, melompat dan berputar. Pada umumnya tarian berputuar dilakukan oleh kaum perempuan, contohnya ketika Miryam diiringi oleh kaum peremupuan dalam lagu kemenangannya ( Kel.15:20 ), ketika Daud pulang dari perang melawan Filistin kaum perempuan menyongsong dengan nyanyian dan tarian ( 1 Sam.18:6 ) dan lain-lain. Tarian dalam Alkitab yang dilakukan oleh laki-laki hanya terdapat pada 2 Sam.6:14-16 dimana Daud menari-nari dengan baju efod dan kain lenan ( pakaian keimanan Daud). Bagi bangsa Israel, menari bukanlah hal yang dilakukan ketika dalam keadaan dukacita seperti penguburan atau ratapan tetapi pemazmur merujukkan tarian pada peribadatan seperti ( Mzm.149:3 ), Pemazmur juga menyejajarkan meratap dan menari ( Mzm.30:12 ), pengkhotbah menyatakan segala sesuatu ada waktunya (Pkh.3:4).[11]     

 

 

 

 

 



[1] Karel Van Der Toorn, Scribal Culture and the Making of the Hebrew Bible, (Cambridge: Harvard University Press, 2007), 52.

[2] David E. Graves, Biblical Archaeology, Volume 1:  An Introduction with Recent Discoveries  that Support the Reliability  of the Bible, (Canada: Electronic Christian Media, 2015 ), 34-35.

[3] Philip J. King, Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 154.

[4] Adele Maeir, Archaeology and the Hebrew Bible, ( Oxford: Oxford University Press, 2014), 2124-2126.

[5] Kristine Henriksen Garroway, Growing Up in Ancient Israel Children in Material Culture and Biblical Texts, (Atlanta: Society of Biblical Literature (SBL) location, 2018), 195.

[6] Gary A. Anderson, Priesthood and Cult in Ancient Israel, ( New York: Bloomsbury Publishing, 1991), 9.

[7] Philip J. King, Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, 55.

[8] Warren W. Wiersbe, The Wiersbe Bible Commentary: Old Testament, (Colorado: David C Cook, 2007), 356.

[9] Jennie R. Ebeling,  Women's Lives in Biblical Times, ( Now York: Bloomsbury Academic, 2010), 105.

[10] Carl Heinrich Cornill, “Music In The Old Testament. Lecture Given For The Benefit Of The Home For Aged Music Teachers At Breslau”, Oxford Journal,  February 9, 1906, hal. 241.

[11] Philip J. King, Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, 289.

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...