I. PENDAHULUAN
Kehidupan orang Israel kuno, tidak terlepas dari
beragam kebudayaan yang saling tarik menarik dengan budaya yang ada di Kanaan
dan disekitarnya pada masa itu.[1] Penelitian
terhadap hal ini dimulai ketika dilakukannya serangkaian penelitian di Yerusalem di bidang arkeologi dan juga sejarah.[2] Kebudayaan
dan ekspresi kehidupan sesungguhnya adalah sesuatu yang menarik dikarenakan hal
ini selalu terhubung langsung dalam kehidupan masyarakat terutama orang Israel
kuno. Tulisan dalam Alkitab sering menunjukkan adanya serangkain kaitan budaya
dan ekspresi kehidupan orang Israel kuno dan bangsa di timur dekat kuno dalam
narasi Alkitab. Terkhusus tulisan dalam Perjanjian Lama, selain menunjukkan
budaya Israel kuno juga sering menunjukkan adanya pengaruh budaya asing yang
ada di sekitar Israel kuno. Budaya dan ekspresi kehidupan dapat dikategorikan
dalam berbagai hal seperti dalam pakaian, musik, tarian dan berbagai hal yang
berada disekitar kehidupan masyarakat, khususnya orang Israel kuno.[3]
Meskipun pada zaman modern ada sedikit pertukaran
budaya antara bagian Yahudi dan Arab dari populasi Israel, meskipun orang-orang
Yahudi yang tiba di Israel dari berbagai komunitas di seluruh dunia, termasuk
Arab Timur Tengah, telah membawa serta warisan budaya mereka sendiri dan
unsur-unsur yang diserap dari mayoritas budaya di mana mereka tinggal selama
berabad-abad. Pembauran tradisi Ashkenazi, Sephardi, dan Timur Tengah sangat
penting dalam menempa Israel modern. Warisan budaya yang beragam dan bahasa bersama
ini, bersama dengan tradisi umum Yahudi, baik agama maupun sejarah, membentuk
fondasi kehidupan budaya di Israel.[4]
Namun dalam tulisan ini secara khusus membahas bagaimana Kebudayaan dan
Ekspresi Kehidupan dalam Budaya Israel Kuno dan melihat bagaimana hal itu ada
dan tertuang dalam tulisan Alkitab terkhusus dalam PL.
II. PEMBAHASAN
1. Pakaian dan Perhiasan
A. Pakaian
Pengenai pakaian di Israel kuno biasanya bahan dasarnya terbuat kain wol ( Im. 8:36;19:19, Yeh 27:18 yang berasal dari bulu domba, baik yang diwarnai atau dengan warna aslinya. linen yang terbuat dari tanaman yang disebut rami. Wol lebih mudah digunakan, dan membutuhkan pewarna lebih baik. Itu juga tahan air sampai batas tertentu, memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap cuaca. Linen/lenan ( Im.6:10) lebih halus dan lebih mahal. Biasanya ini diperdagangkan dan merupakan salah satu dagangan yang laris. Orang-orang yang diluar Israel dan disekitarnya juga melakukan perdagangan dan pakaian menjadi salah satu komoditas yang sangat penting untuk diperdagangkan.[5] Pakaian menjadi bagaian yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Ini sama pentingnya dengan makanan sebagai bahan pokok. Pakaian digunakan sejak awal periode Paleolitik, digunakan untuk kesehatan, pertahanan hidup dan juga sebagai makna kehidupan tiap peradaban. Pakaian sebagai ukuran dalam tingkata sosial, ekonomi dan juga simbol sebuah identitas juga status yang memakainya. Contoh pada zaman Alkitab membuka dan merobek pakaian didepan umum adalah tanda perkabungan atau keputusan ( 2 Sam.3:31, Yer.41:5 ), pakaian sebagai konotasi peralihan kekuasaan ( 2 Raj.2:14 ). Sumber informasi tentang pakaian adalah:
1. Ezor, pakaian
dalam yang bersentuhan dengan kulit ( pakaian dasar tentara dan buruh Israel ).
Ezor juga dapat diterjemahkan dengan ikat pinggang ( 2 Raj.1:8; Yes5:27)
2. Kuttonet, pakaian yang digunakan menutupi pakaian dalam yaitu
jubah. Membungkus mulai dari pundak sampai mata kaki, lengan pendek atau
wol ( Kej.37:3, 2 Sam. 13:18-19)
3. Khagora, kain panjang dari wol atau lenan yang dililitkan
sekitar pinggang diluar jubah ( sama dengan angkin atau selendang ( Rut.3:15).
4. Kesut istilah umum untuk pakaian luar mirip dengan jubah
5. Simla / Sal‘a pakaian yang panjangnya mencapai bawah lutut,
terkadang dililitkan di tubuh. ( Kel.22:26-27, Ul. 24:13) )
6. Me’il jubah pakaian luar yang anggun dengan lengan lebah yang
bergantung lepas yang menandakan kedudukan dan keagungan dipakai oleh kalangan
elite ( 1 Raj.22:10)). Ada juga efod untuk imam yang terbuat
dari lenan dan sutra (1 Sam 22:18)
7. Adderet sebuah
rompi atau mantel istimewa empat persegi panjang yang biasa dipakai raja dan
nabi ( Yos.7:21, Yun.3:6, 1 Raj. 19:13)
Untuk Pakaian Perempuan tidak terlalu berbeda
dengan pakaian laki-laki, namun ada sedikit perbedaan pada simla untuk perempuan lebih panjang untuk menutupi tubuh dan kadang
wajah ditutupi dengan cadar sya’ip (
Kej.24:16). Selain yang dipakai di
badan, ada juga yang dipakai di kepala Penutup kepala mirip seperti sorban yang
dililitkan disekeliling kepala atau diikat dengan kawat sebagai pelindung dari
panas matahari. Ada juga di kaki, yaitu alas kaki seperti sandal/kasut. Sandal/kasut
adalah alas kaki sehari-hari yang digunakan bila keluar rumah untuk melindungi
kaki kecuali orang miskin. Sandal terbuat dari sol kulit, diikatkan sampai ke
mata kaki dengan sebuah tali kulit. Kasut atau sandal adalah sebuah alat untuk
melegalkan kontrak dan perjanjian, pertukaran kasut menandakan pengalihan hak
kepemilikan dan dilepaskan sebagai tanda penghormatan (Ul.25:10, Rut.4:7-8).
B.
Perhiasan
Perhiasan adalah
bagian tambahan. Perhiasan menandakan status dan kekayaan, bias juga digunakan
untuk kegiatan keagamaan seperti jimat untuk melindungi dari roh-roh jahat.
Dalam Yesaya 3: 16-24, di cantumkan jenis-jenis perhiasan seperti gelang tangan
atau kaki, gelang kepala yang tampak seperti bandul kalung berbentuk piringan
bintang, bulan sabit yang dipakai di leher unta sebagai dekorasi, anting-anting
berbentuk tetesan air, tali kalung, manik-manik, cincin emas ( Bil.31:50), hiasan
kepala lencana gelang kerajaan.[8] Penggalian Arkeologi di situs-situs penelitian menemukan
beragam perhiasan yang pernah digunakan di zaman kuno. Produk perhiasan
tersebut memiliki bahan dasar seperti Emas, Perak maupun batu-batu berharga
lainnya.[9]
Perhiasan dan ornamen tersebut ditemukan dari beragam penggunaan seperti pada
pesta pernikahan, pesta kerajaan ataupun dalam kegiatan sehari-hari bagi yang
memiliki status sosial tinggi. Orang
Israel mengenakan perhiasan yang desainnya mirip dengan perhiasan Mesir,
Mesopotamia, dan Asyur. Perhiasan tersebut ditemukan di kota Arsuf kuno dan
juga di Yerusalem.
Untuk referensi Alkitab tentang perhiasan kuno
dapat dilihat dalam tabel berikut:
|
Kejadian 24:53 |
Kemudian hamba itu mengeluarkan perhiasan emas dan perak serta pakaian
kebesaran, dan memberikan semua itu kepada Ribka; juga kepada saudaranya
dan kepada ibunya diberikannya pemberian yang indah-indah. |
|
Keluaran 32:24 |
Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang
empunya emas haruslah menanggalkannya. Mereka memberikannya kepadaku dan aku
melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini. |
|
Keluaran 35:22 |
Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun
perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting
hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam
barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan
unjukan dari emas bagi TUHAN. |
|
Hosea 2:13 |
Dan Aku akan menghukum dia karena hari-hari
ketika dia membakar korban untuk para Baal, berhias dengan anting-antingnya
dan kalungnya, dan mengikuti para kekasihnya dan melupakan Aku,"
demikianlah firman TUHAN. |
2. Musik, Nyanyian, dan
Tarian
A. Musik dan Fungsinya
Pentingnya musik dalam kehidupan Israel kuno dapat dilihat melalui kitab kejadian yang memuat nama musisi diantar tiga profesi utama yaitu pengembala, pandai besi dan pemain kecapi dan suling ( Kej.4:20-22). Perkembangan musik Israel. Kitab Mazmur memberi keterangan mengenai perkembangan musik Israel. Kitab Mazmur berisi lebih banyak rujukan pada pertunjukan musik dari pada buku lain di Alkitab. Musik terdiri dari musik vocal yaitu nyanyian religious dalam peribadatan di Bait Suci maupun musik instrumental ( Mzm.68:25-26; 81:3-4; 98:4-6). Musik dan Nubuat. Musik sering kali dikaitkan dengan nubuat di dunia kuno. Memainkan musik terkadang digunakan untuk membuat ekstasi kenabian yang di yakini sebagai kerasukan roh Yahweh. Keadaan ekstasi ini sering kali disertai dengan tarian (1 Sam.10:5-6 ).[10]
Musik dan Kesukarian. Musik juga dinikmati oleh masyarakat kelas atas ( Ams. 6:5 ) . Musik juga menyertai peristiwa-peristiwa domestic sehari-hari ( Kej.31:27 ), seperti pada pesta perkawinan juga merupakan bagian penting (Yer.7:34; 16:9 ), pada perayaan-perayaan panen anggur (Yes.5:1), pada perayaan tahunan yang menyebabkan terjadinya penculikan (Hak.21:20-21 ). Musik dan Peperangan. Musik, nyanyian, dan tarian menjadi bagian peperangan khususnyaa di dalam perayaan kemenangan setelah pertempuaran. Kaum perempuan seperti Miryam menyanyikan lagu kemenangan (Kel.15:20-21 ), Debora menyanyi setelah kemenangan atas koalis raja-raja kanaan (Hak.5:3 ).
B. Alat-alat Musik
Alat-alat musik ( gembus, kecapi dan suling ), yang semuanya tampaknya berasal dari awal millennium ke-3 SM, dibagai menjadi tiga kategori dasar yaitu senar, tiup, dan tabuh (perkusi). Alat-alat musik terbuat dari perunggu, besi, emas, oerak, tembikar, dan tulang untuk musik tiup. Alat Musik Senar. Dalam kebudayaan Israel kuno, menyanyi biasanya diiringi dengan alat-alat musik seperti alat musik senar yang sering disebut dengan kecapi atau harpa. Kecapi terdiri dari sebuah kotak suara empat persegi panjang, dua lengan yang tidak simetris dan sebuah tongkat penyangga yang miring. Kecapi dibedakan berdasarkan jumlah senarnya ada yang 4-8 senar dan 10-13 senar. Perbedaan dengan harpa adalah harpa tidak memiliki tongkat penyangga. Kecapi banyak ditemukan dari periode dinasti awal ( ±2500sM ) di pekuburan kerajaan Sumeria di Ur.
Alat Musik Tiup. Contoh dari alat musik tiup pada zaman Israel kuno adalah sangkakala, suling yang terbuat dari dua potong gelagah, logam, atau gading yang terpisah, dipakai ketika Salomo diurapi menjadi raja ( 1 Raj 1:40 ) dan nubuat Yeremia yang mengasosiasikan suling menjadi ratapan penguburan ( Yer.48:36 ). Terompet terbuat dari perak atau perunggu tempaan yang memanjang dengan rentang nada terbatas. Terompet mririp dengan nafiri dimana alat ini digunakan untuk mengumpulkan jemaat, untuk menyerang kemah, alarm untuk perang dan juga biasanya ditiup pada saat sakral seperti persembahan korban. Dan terompet tanduk biri-biri yang sering disebut dalam Alkitab. Tanduk biri-biri hanya mengeluarkan suara keras saja, terbentuk dari sebuah tanduk yang panjang denga ujung yang melengkung ke atas dan suara yang memekakkan telinga yang digunakan dalam kontek religus dan perang ( Hak.3:27; 6:34 ).
Alat Musik Tabuh. Dalam Alkitab alat musik tabuh sering disebut dengan : ceracap ( simbal ) yang terbuat dari tembaga atau perunggu ( 1 Taw 15:19 ) yang ditemukan di Mesir, Levant dan Asyur, Rebana ( tabuhan ) yang berkerangka kecil, dangkal yang sering dimainkan dengan tanga oleh kaum perempuan dengan tarian. Rebana dimainkan ketika peristiwa sukacita dan dengan peribadatan ( 1 Sam.18:6; Kel.15:20 ). Sebuah cetakan dari tanah liat yang berbentuk perempuan membawa rebana ditemukan dibangungan kuil abad ke 10 di Tanaakh, Hillers mengidetifikasi arca tersebut sebagai dewi atau seorang musisi perempuan didalam kuil.
C. Tarian
Tarian adalah
bentuk pujian religious yang diiringi musik. Dalam Alkitab akar kata tarian
memiliki berbagai makna seperti meloncat, berjingkat, melompat dan berputar.
Pada umumnya tarian berputuar dilakukan oleh kaum perempuan, contohnya ketika
Miryam diiringi oleh kaum peremupuan dalam lagu kemenangannya ( Kel.15:20 ),
ketika Daud pulang dari perang melawan Filistin kaum perempuan menyongsong dengan
nyanyian dan tarian ( 1 Sam.18:6 ) dan lain-lain. Tarian dalam Alkitab yang
dilakukan oleh laki-laki hanya terdapat pada 2 Sam.6:14-16 dimana Daud
menari-nari dengan baju efod dan kain lenan ( pakaian keimanan Daud). Bagi
bangsa Israel, menari bukanlah hal yang dilakukan ketika dalam keadaan dukacita
seperti penguburan atau ratapan tetapi pemazmur merujukkan tarian pada
peribadatan seperti ( Mzm.149:3 ), Pemazmur juga menyejajarkan meratap dan
menari ( Mzm.30:12 ), pengkhotbah menyatakan segala sesuatu ada waktunya (Pkh.3:4).[11]
[1]
Karel Van Der Toorn, Scribal Culture and
the Making of the Hebrew Bible, (Cambridge: Harvard University Press,
2007), 52.
[2]
David E. Graves, Biblical Archaeology,
Volume 1: An Introduction with Recent
Discoveries that Support the
Reliability of the Bible, (Canada:
Electronic Christian Media, 2015 ), 34-35.
[3] Philip J. King, Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, ( Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2010), 154.
[4]
Adele Maeir, Archaeology and the Hebrew
Bible, ( Oxford: Oxford University Press, 2014), 2124-2126.
[5]
Kristine Henriksen Garroway, Growing Up
in Ancient Israel Children in Material Culture and Biblical Texts, (Atlanta:
Society of Biblical Literature (SBL) location, 2018), 195.
[6]
Gary A. Anderson, Priesthood and Cult in
Ancient Israel, ( New York: Bloomsbury Publishing, 1991), 9.
[7]
Philip J. King, Kehidupan Orang Israel
Alkitabiah, 55.
[8]
Warren W. Wiersbe, The Wiersbe Bible
Commentary: Old Testament, (Colorado: David C Cook, 2007), 356.
[9]
Jennie R. Ebeling, Women's Lives in Biblical Times, ( Now York: Bloomsbury Academic,
2010), 105.
[10]
Carl Heinrich Cornill, “Music In The Old
Testament. Lecture Given For The Benefit Of The Home For Aged Music Teachers At
Breslau”, Oxford Journal, February 9, 1906, hal. 241.
[11]
Philip J. King, Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, 289.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar