Selasa, 25 Juli 2023

Agama Dan Stratifikasi Sosial

I.  PENDAHULUAN

Penekanan masyarakat terhadap nilai-nilai yang sakral sangatlah berbeda-beda. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan dalam tipe masyarakat. Tipe masyarakat ini dibedakan berdasarkan nilai-nilai baik sakral maupun sekuler yang mempengaruhi kehidupan mereka.

Masyarakat

Ciri-Ciri Kehidupan

Hidup Keagamaan

Tipe I

Masyarakat terbelakang dan terisolasi dalam nilai sakral mereka.

Agama menjadi pemersatu dalm pembentukan kepribadian individu.

Tipe II

Masyarakat pra-industri yang sedang berkembang. Teknologi lebih berkembang.

Lembaga pemerintahan menjadi saingan bagi organisasi keagamaan. Keduanya mengembangkan hierarki masing-masing.

Tipe III

Masyarakat industri-sekuler. Masyarakat sangat dinamis.

Fungsi agama sebagai pemersatu menjadi melemah. Negara mengambil alih fungsi-fungsi penting agama. [1]

Saingan utama bagi semua sistem nilai keagamaan adalah sistem nilai sekuler yang semakin dominan walaupun masih ada yang beranggapan bahwa nilai keagamaan tradisional (yang sudah diperbaharui) masih bisa menjadi landasan dalam pembentukan karakter. Namun tak ada satupun di antara ketiga tipe diatas yang berdiri sendiri dalam dunia modern. Kebhinekaan kelompok dalam masyarakat akan mencerminkan perbedaan jenis kebutuhan keagamaan dan oleh karena itu agama dapat mempengaruhi struktur sosial. Perubahan itu tidak hanya mengembangkan bentuk sosial yang baru namun juga hancurnya bentuk tatanan yang lama. Emile Durkheim menyebut istilah ini dengan nama anomi. Keberadaan anomi memicu gerakan solidaritas baru yang bersifat keagamaan atau mungkin keagamaan semu.[2]

II.  Agama Dan Stratifikasi Sosial

Diperoleh dari hasil penelitian Max Weber tentang agama dunia dan suatu penentuan tentang pandangan keagamaan oleh stratifikasi sosial (kelas menengah rendah dalam pembentukan Kristen). Mengenai penelitiannya yang kedua, Max Weber membagi masyarakat dalam kelompok pengrajin perkotaan, petani, pedagang kaya, ksatria dan buruh industri. Terdapat perbedaan dalam kecenderungan mengembangkan konsep keagamaan dari status sosial tinggi dan status sosial rendah. Situasi rumit yang dihadapi oleh setiap status menyebabkan munculnya gerakan-gerakan mesianik. Kondisi kehidupan akan mempengaruhi kecenderungan agama manusia dan mempengaruhi semua kelas, strata dan kelompok masyarakat.[3]

Beralih Agama (Konversi)

Konversi agama erat hubungannya dengan kebutuhan dan aspirasi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Konversi kontemporer terjadi karena adanya reaksi terhadap keadaan anomi yang merasa tercabut dari akar kelompok. Dalam konversi ini ide dan nilai baru tidaklah sama sekali baru. Periode penuh dosa adalah saat dimana seorang pribadi benar-benar tersesat di komunitas baru. Namun masa kini konversi agama dilakukan oleh agama itu sendiri melalui nasionalisme misalnya.

Pengaruh Agama sebagai Stratifikasi Sosial

Stratifikasi adalah susunan berbagai kedudukan sosial menurut tinggi rendahnya dalam masyarakat. Stratifikasi sosial tidak sama antara masyarakat yang satu dan yang lain. Jikalau anggota-anggota lapisan sosial menyadari kedudukannya yang setingkat, maka timbullah sebuah kelas sosial. Kategori sosial adalah ciri sama yang tidak diperhatikan secara khusus oleh masyarakat namun diperhatikan oleh pengamat.

Golongan

Ciri-ciri Kehidupan

Hidup Keagamaan

Petani

Sikap mental terbentuk oleh situasi dimana mereka hidup.

Kekuatan magis dan kosmos masih berperan. Jiwa religius relatif lebih besar dan keagamaan lebih stabil.

Pengrajin dan pedagang kecil

Hidup didasarkan atas landasan ekonomi dan perhitungan rasional.

Agama yang dipilih adalah agama etis yang rasional. Unsur emosi tidak berperan penting.

Pedagang besar

Hidup dikuasai oleh orientasi keduniawian.

Agama yang dipilih adalah agama non- profetis etis.

Karyawan (birokrat)

Hidup mencari untung dan enak.

Praktik keagamaan pada umumnya bersikap formalistis.

Buruh

Hidup disingkirkan dari sistem sosial yang berlaku.

Agama berhubungan dengan etika pembebasan. Siapa yang dapat menyingkirkan kesengsaraan ini.

Elite dan hartawan

Hidup haus akan kehormatan.

Agama dapat ditunda sampai hari tua, karena mereka sekarang masih memiliki kekuasaan.

Orang dewasa dan orang muda

Identitas orang dewasa sudah terbentuk, stabil dan sulit diubah. Identitas orang muda belum terbentuk dan masih perlu dicari.

Pendirian kaum dewasa akan agama sudah stabil dan sukar diubah berbeda dengan kaum muda yang dewasa ini sering terjadi fenomena kehilangan iman.

Wanita

Keterlibatan emosional yang tinggi.

Daya reseptif yang kuat terhadap semua hal religius.[4]

 III.  REFLEKSI

Kelas sosial mempunyai pengaruh besar terhadap partisipasi kegiatan keagamaan. Orang-orang miskin kurang terlibat dalam aktivitas gereja dan mereka juga kurang mendapat informasi keagamaan. Tetapi yang menarik justru mereka lebih emosional dalam beragama dibanding mereka yang kaya. Contoh nyata yang dapat kita lihat dalam kehidupan kita bergereja adalah adanya pembeda-bedaan yang dilakukan oleh pelayan dalam melayani jemaat. Pelayan akan lebih senang dan tanggap apabila ia diunjuk melayani di kediaman jemaat kaya dan berpengaruh walaupun jemaat kaya itu jarang mengikuti program gereja. Berbeda kepada masyarakat miskin, si pelayan akan berpikir beberapa kali untuk pergi melayani ke kediamannya walau sang pelayan tahu pasti bahwa jemaat miskin ini justru memiliki hidup keagamaan yang lebih dalam dibanding jemaat kaya tersebut diatas.

KESIMPULAN

Faktor keturunan, faktor pendidikan, jabatan dan kedudukan pada kenyataannya membuat lapisan sosial di masyarakat. Setiap lapisan yang dikemukakan oleh para ahli (misalnya Max Weber, Thomas O’ Dea,  Glock dan Stark) memiliki perbedaan status baik dalam bidang sosial maupun bidang agama. Fungsi agama bagi masyarakat yang tercermin dalam fungsi edukatif, fungsi penyelamatan, fungsi pengawas sosial, fungsi profetis diharapkan mampu memperkecil jurang status itu.



[1] Elizabeth K. Nottingham, Agama Masyarakat (Jakarta: CV Rajawali, 1985), 49-66.

[2] Thomas F. O’Dea, Sosiologi Agama (Jakarta: CV Rajawali, 1985), 105-108.

[3] Thomas F. O’Dea, Sosiologi Agama (Jakarta: CV Rajawali, 1985), 109-116.

[4] D. Hendropuspito, Sosiologi Agama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983), 57-69.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...