I. PENDAHULUAN
Penekanan
masyarakat terhadap nilai-nilai yang sakral sangatlah berbeda-beda. Hal
tersebut terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan dalam tipe masyarakat. Tipe
masyarakat ini dibedakan berdasarkan nilai-nilai baik sakral maupun sekuler
yang mempengaruhi kehidupan mereka.
|
Masyarakat |
Ciri-Ciri
Kehidupan |
Hidup
Keagamaan |
|
Tipe I |
Masyarakat
terbelakang dan terisolasi dalam nilai sakral mereka. |
Agama menjadi
pemersatu dalm pembentukan kepribadian individu. |
|
Tipe II |
Masyarakat
pra-industri yang sedang berkembang. Teknologi lebih berkembang. |
Lembaga
pemerintahan menjadi saingan bagi organisasi keagamaan. Keduanya
mengembangkan hierarki masing-masing. |
|
Tipe III |
Masyarakat
industri-sekuler. Masyarakat sangat dinamis. |
Fungsi agama
sebagai pemersatu menjadi melemah. Negara mengambil alih fungsi-fungsi
penting agama. [1] |
Saingan
utama bagi semua sistem nilai keagamaan adalah sistem nilai sekuler yang
semakin dominan walaupun masih ada yang beranggapan bahwa nilai keagamaan
tradisional (yang sudah diperbaharui) masih bisa menjadi landasan dalam
pembentukan karakter. Namun tak ada satupun di antara ketiga tipe diatas yang berdiri
sendiri dalam dunia modern. Kebhinekaan kelompok dalam masyarakat akan
mencerminkan perbedaan jenis kebutuhan keagamaan dan oleh karena itu agama
dapat mempengaruhi struktur sosial. Perubahan itu tidak hanya mengembangkan
bentuk sosial yang baru namun juga hancurnya bentuk tatanan yang lama. Emile
Durkheim menyebut istilah ini dengan nama anomi. Keberadaan anomi memicu gerakan
solidaritas baru yang bersifat keagamaan atau mungkin keagamaan semu.[2]
II. Agama
Dan Stratifikasi Sosial
Diperoleh dari hasil
penelitian Max Weber tentang agama dunia dan suatu penentuan tentang pandangan
keagamaan oleh stratifikasi sosial (kelas menengah rendah dalam pembentukan
Kristen). Mengenai penelitiannya yang kedua, Max Weber membagi masyarakat dalam
kelompok pengrajin perkotaan, petani, pedagang kaya, ksatria dan buruh
industri. Terdapat perbedaan dalam kecenderungan
mengembangkan konsep keagamaan dari status sosial tinggi dan status sosial
rendah. Situasi rumit yang dihadapi oleh setiap status menyebabkan munculnya
gerakan-gerakan mesianik. Kondisi kehidupan akan mempengaruhi kecenderungan
agama manusia dan mempengaruhi semua kelas, strata dan kelompok masyarakat.[3]
Beralih
Agama (Konversi)
Konversi
agama erat hubungannya dengan kebutuhan dan aspirasi orang-orang yang terlibat
di dalamnya. Konversi kontemporer terjadi karena adanya reaksi terhadap keadaan
anomi yang merasa tercabut dari akar kelompok. Dalam konversi ini ide dan nilai
baru tidaklah sama sekali baru. Periode penuh dosa adalah saat dimana seorang
pribadi benar-benar tersesat di komunitas baru. Namun masa kini konversi agama
dilakukan oleh agama itu sendiri melalui nasionalisme misalnya.
Pengaruh
Agama sebagai Stratifikasi Sosial
Stratifikasi
adalah susunan berbagai kedudukan sosial menurut tinggi rendahnya dalam
masyarakat. Stratifikasi sosial tidak sama antara masyarakat yang satu dan yang
lain. Jikalau anggota-anggota lapisan sosial menyadari kedudukannya yang
setingkat, maka timbullah sebuah kelas sosial. Kategori sosial adalah ciri sama
yang tidak diperhatikan secara khusus oleh masyarakat namun diperhatikan oleh
pengamat.
|
Golongan |
Ciri-ciri
Kehidupan |
Hidup
Keagamaan |
|
Petani |
Sikap mental
terbentuk oleh situasi dimana mereka hidup. |
Kekuatan
magis dan kosmos masih berperan. Jiwa religius relatif lebih besar dan
keagamaan lebih stabil. |
|
Pengrajin dan
pedagang kecil |
Hidup
didasarkan atas landasan ekonomi dan perhitungan rasional. |
Agama yang
dipilih adalah agama etis yang rasional. Unsur emosi tidak berperan penting. |
|
Pedagang
besar |
Hidup
dikuasai oleh orientasi keduniawian. |
Agama yang
dipilih adalah agama non- profetis etis. |
|
Karyawan
(birokrat) |
Hidup mencari
untung dan enak. |
Praktik
keagamaan pada umumnya bersikap formalistis. |
|
Buruh |
Hidup
disingkirkan dari sistem sosial yang berlaku. |
Agama
berhubungan dengan etika pembebasan. Siapa yang dapat menyingkirkan
kesengsaraan ini. |
|
Elite dan
hartawan |
Hidup haus
akan kehormatan. |
Agama dapat
ditunda sampai hari tua, karena mereka sekarang masih memiliki kekuasaan. |
|
Orang dewasa dan orang muda |
Identitas orang dewasa sudah terbentuk, stabil dan
sulit diubah. Identitas orang muda belum terbentuk dan masih perlu dicari. |
Pendirian kaum dewasa akan agama sudah stabil dan sukar
diubah berbeda dengan kaum muda yang dewasa ini sering terjadi fenomena
kehilangan iman. |
|
Wanita |
Keterlibatan emosional yang tinggi. |
Daya reseptif yang kuat terhadap semua hal religius.[4] |
III. REFLEKSI
Kelas
sosial mempunyai pengaruh besar terhadap partisipasi kegiatan keagamaan.
Orang-orang miskin kurang terlibat dalam aktivitas gereja dan mereka juga
kurang mendapat informasi keagamaan. Tetapi yang menarik justru mereka lebih
emosional dalam beragama dibanding mereka yang kaya. Contoh
nyata yang dapat kita lihat dalam kehidupan kita bergereja adalah adanya
pembeda-bedaan yang dilakukan oleh pelayan dalam melayani jemaat. Pelayan akan
lebih senang dan tanggap apabila ia diunjuk melayani di kediaman jemaat kaya
dan berpengaruh walaupun jemaat kaya itu jarang mengikuti program gereja.
Berbeda kepada masyarakat miskin, si pelayan akan berpikir beberapa kali untuk
pergi melayani ke kediamannya walau sang pelayan tahu pasti bahwa jemaat miskin
ini justru memiliki hidup keagamaan yang lebih dalam dibanding jemaat kaya
tersebut diatas.
KESIMPULAN
Faktor
keturunan, faktor pendidikan, jabatan dan kedudukan pada kenyataannya membuat
lapisan sosial di masyarakat. Setiap lapisan yang dikemukakan oleh para ahli
(misalnya Max Weber, Thomas O’ Dea, Glock dan Stark) memiliki
perbedaan status baik dalam bidang sosial maupun bidang agama. Fungsi agama
bagi masyarakat yang tercermin dalam fungsi edukatif, fungsi penyelamatan,
fungsi pengawas sosial, fungsi profetis diharapkan mampu memperkecil jurang
status itu.
[1] Elizabeth K.
Nottingham, Agama Masyarakat (Jakarta: CV Rajawali, 1985), 49-66.
[2] Thomas F. O’Dea,
Sosiologi Agama (Jakarta: CV Rajawali, 1985), 105-108.
[3] Thomas F. O’Dea,
Sosiologi Agama (Jakarta: CV Rajawali, 1985), 109-116.
[4] D. Hendropuspito,
Sosiologi Agama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983), 57-69.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar