I.
Pendahulaun
Persembahan adalah suatu ritus yang
biasanya terdapat dalam peribadahan kepada Allah. Baik dalam Perjanjian Lama
maupun dalam Perjanjian Baru persembahan dikenal dan diterapkan sebagai
ungkapan hati dari si penyembah kepada Allah yang kudus. Persembahan dilaksanakan
berbeda-beda karena memiliki berbagai jenis dan berbagai tata cara
pelaksanaannya. Akan tetapi suatu masalah atau kejanggalan akan muncul ketika
peribadahan yang dilakukan kepada Allah dengan seolah-olah penuh dengan hikmah
dan kudus, dan sungguh-sungguh, tetapi kesungguhan itu hanya tinggal di bait
Allah saja.
Kesungguhan umat dalam menyembah Allah
dengan berbagai korban persembahan tidak dinyatakan dengan perilaku dalam
kehidupan sehari-hari dan bahkan jauh dari Hukum Taurat. Oleh karena itulah,
Allah tidak hanya akan memandang persembahan yang diberikan kepadaNya,
melainkan juga perilaku dan tindakan kita di dalam keseharian yang seharusnya
menunjukkan perbuatan benar di hadapan Allah.
II.
Terminologi
Istilah persembahan dalam
Perjanjian Lama disebut dengan qorban
(Ibrani) yang berarti ‘yang dibawa mendekat’. Kata ini jarang digunakan. Kata
yang secara umum digunakan adalah ‘Isysyeh
yang berarti korban sesuai Hukum Taurat.[1]
Dalam Perjanjian Lama juga ditemukan istilah resyit, yaitu permulaan, pemberian yang pertama (buah, dan
lain-lain), mempersembahkan buah yang pertama atau hasil alam seperti anggur,
gandum yang disucikan kepada Allah, pemberian dari kesuksesan (Bilangan 18:2;
Ulangan 18:4; 26:2, 10; 2 Kor 31:5). Kata ini juga berarti suatu persembahan
syukur kepada Allah. Praktek kultus bangsa Israel mayakini bahwa Allah adalah
berkuasa dan pemilik dari kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan. Persembahan
buah yang pertama dan dari segala sesuatu yang hidup adalah kepunyaan Allah
(Bil 18:15; Kel 23:19).[2]
Istilah yang dipakai dalam
Perjanjian Baru adalah aparche (άπαρχή) yang berarti pemberian buah yang
pertama, persembahan. Dalam Perjanjian Baru kata tersebut ditemukan dalam Roma
11:16 yang mengatakan bahwa roti sulung adalah kudus (bnd Roma 16:5 (buah
pertama); 8:23 (Roh sulung); I Kor 15:20 (Kristus sebagai yang sulung)).[3]
Kata lain yang digunakan adalah thusia,
doron, prosfora dan seasal dengan itu dan juga anafero yang diterjemahkan dengan korban, pemberian, persembahan.[4]
III.
Konsep Persembahan
1. Dalam Perjanjian Lama
Acara persembahan korban-korban
memainkan peranan penting sebagai iringan doa-doa permintaan. “Pada waktu pagi
Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagiMu, dan
aku menunggu-nunggu” (Maz 5:4). Dalam hubungan dengan peran upacara kurban
sebagai media pengiring doa, terdapat tiga rumusan penting, yakni:
v Melunakkan wajah Tuhan (Ibr. hallot pene YHWH)
Menurut apa yang dikutip dari 1 Samuel 12:12,
mula-mula dilaksanakan dengan mempersembahkan suatu korban bakaran di mana
persembahan itu dianggap mampu untuk meredakan murka Tuhan (bnd. Kel 32:11; Yer
26:19; Zak 7:2).
v Mempersembahkan korban sebagai bau yang
menyenangkan bagi Tuhan (Ibr. Reah nihoah).
Pemahaman ini bisa dilihat dari peristiwa Nuh di
mana Tuhan dikatakan, “mencium persembahan yang harum itu” (Kej 8:21), lalu
berjanji untuk “takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia”. Rumusan ucapan
ini ditemui berpuluh kali (bdn. Kel 28:18, 25, 41). Biar bagaimanapun bau
korban itu nampakkanya dianggap manjur untuk memperoleh perkenaan Allah.
v Mengadakan pendamaian (Ibr. kapper)
Upaya pemersembahan korban itu, manusia memperoleh
pengampunan dari Tuhan (bnd. Ul 21:8; Yeh 16:63; Yer 18:3).[5]
Pada awalnya tujuan
persembahan korban adalah untuk menciptakan suatu persekutuan antara si
penyembah (si pembawa korban) dengan ilahinya, atau bahwa korban tersebut
merupakan persembahan yang dipersembahkan si penyembah dalam rangka meminta
bantuan ilahinya, atau bahwa korban itu merupakan makanan yang menguatkan ilah
tersebut. Persembahan juga dianggap sebagai sesuatu yang memiliki kasiat di
dalam darah korban yang dipersembahkan. Ritus korban dianggap berhasil apabila
ritus tersebut menjadi sarana demi pengekspresian hasrat roh manusia. Bangsa
Israel menganggap bahwa kasiat korban itu terletak pada pelaksanaan ritus
secara teliti dan dinyatakan bahwa ritus tersebut berhasil atau tidak
tergantung pada soal apakah ritus tersebut benar-benar merupakan pengekspresian
hasrat rohani si penyembah.[6]
Beberapa Jenis-jenis Persembahan Korban
1. ‘ola. Merupakan suatu persembahan korban bakaran.
Persembahan tersebut disampaikan dengan membakar korban tersebut setelah
dipotong (Imamat 1). Setelah korban dipotong , kemudian darahnya disiramkan ke
sekeliling Altar, dan dagingnya lalu dibakar dan dipersembahkan kepada Allah.
Persembahan seperti ini dilakukan setiap hari (bnd. Im 28-29; 1 Raja 9:25; 2
Sam 24:25).
2. zevakh. Merupakan korban sembelihan yang dipersembahkan
oleh keluarga setiap tahunnya. Persembahan korban ini bertujuan untuk
mengucapkan pujian atau diadakan ketika berjanji di depan Tuhan atau juga
pemberian secara sukarela (1 Sam 1:21f; 20:6; 16:2-5). Pada zaman nabi-nabi
persembahan ini telah dikenal sama seperti korban bakaran (Yes 1:11; 43:23; Yer
6:20; 7:22).
3. schelamim. Merupakan korban ucapan syukur yang
dipersembahkan pada pesta peresmian Altar dan Bait Suci. Bagi bangsa Israel
korban ini juga dipersembahkan dengan tujuan untuk menyadarkan orang supaya
mengubah kelakuannya dengan cara menangis dan berpuasa (Hak 20:26f; 21:2-4).
4. minkha. Merupakan persembahan makanan dan nesekh
sebagai persembahan minuman. Persembahan ini dipakai sebagai tambahan untuk
persembahan kultus (Bil 29:6; 2 Raja 16:10ff). Persembahan ini diyakini
menyertai korban pendamaian (Bil 5:15; Im 5:11-13).
5. khattat. Merupakan korban penghapusan dosa (Im 4:5-6).
Persembahan ini dilaksanakan untuk memohon keampunan dosa yang telah dilakukan.
Makna persembahan korban ini tidak hanya kepada pelanggaran-pelanggaran moral,
melainkan kepada hal-hal yang ternoda seperti kusta, ibu yang telah melahirkan
(Im 14 dan 12).[7]
Upacara Persembahan Korban
Sesuai dengan Imamat 1-5, ada enam kerangka
upacara persembahan korban dalam keagamaan. Tiga diantaranya dilakukan oleh
penyembah dan yang lainnya dilakukan oleh imam.
1. higriv,
yaitu penyembah membawa persembahannya mendekat kepada ruang depan Kemah
Perjanjian atau di pintu kemah suci (Im 17:4).
2. samakh,
yaitu penyembah meletakkan kedua tangannya atau dengan satu tangan (Bil 27:18)
pada korban dan sambil mengakui dosanya.
3. syakhat,
yaitu penyembelihan korban yang dilakukan sendiri oleh penyembah (Im 16:11; 2
Taw 29:24)
4. zaraq,
yaitu penggunaan darah dan merupakan urusan imam dan menampungnya di dalam
sebuah bejana dan menempatkannya di sudut Timurlaut dan Baratdaya dari Mezbah.
5. hiqtir,
yaitu pembakaran atas semua korban. Diyakini bahwa darah dan lemak adalah milik
Tuhan maka harus dibakar.
6. ‘akhal,
yaitu bagian-bagian yang tersisa dari daging korban dimakan dalam perjamuan
korban, baik oleh para imam atau para penyembah dan keluarga mereka.[8]
Apakah
persembahan korban wajib atau secara sukarela? Barth menjelaskan bahwa
persembahan korban harus dan wajib dipersembahkan sesuai dengan ketetapan yang
berlaku sejak dulu kala. Khususnya pada kalangan Imamat selalu menekankan keteraturan
ibadah itu, tetapi di pihak lain mereka justru memberi tempat yang luas kepada
persembahan-persembahan sukarela (lih. Kel 25:2; 36:3; Im 7:16; 22:18; 23:38;
Yeh 46:12).[9]
Fungsi Persembahan dalam Perjanjian Lama:
Adapun fungsi persembahan dalam Perjanjian Lama
dapat dilihat sebagai berikut:
- Pemberian,
karena manusia terikat kepada Tuhan, maka dia penting menyembahNya (Kel
23:15; 34:20; Ul 16:16f).
- Persekutuan,
melalui persembahan dan pemberian tersebut maka terbentuklah persekutuan
atau persatuan antara pemberi dan penerima persembahan.
- Pemberian
Istimewa, yaitu yang kudus dan suci umumnya tidak dimiliki oleh manusia,
misalnya anak sulung yang menjadai milik Tuhan (Yer 2:3; Im 19:23; Hos
2:10; Ul 26:1-11).
- Sebagai
alat pendamaian dan pengampunan dosa manusia.
- Pekerjaan
kesetiaan, loyalitas di dalam hidup dan pelayanan (Bil 28:1-15; Maz
51:17-21; Ams 16:6).[10]
Inti Persembahan Korban: Pendamaian
Tata cara bagi semua jenis
korban itu tersusun atas lima acara utama, yaitu: persembahan bahan korban, penekanan
tangan atas kepala binatang korban,
penyembelihan binatang itu,
penyiraman darah, dan pembakaran. Semua persembahan korban
yang dilakukan adalah sebagai ritus atau upacara pendamaian. Bangsa Israel
hendak mempersembahkan sesuatu untuk mengucapkan syukurkah atau untuk
bernazarkah? Untuk meneguhkan persekutuannyakah dengan Tuhan atau antara
sesama, atau untuk meneguhkan suatu perjanjiankah? Untuk mencegah suatu
bencanakah atau suatu hukuman akibat kenajisan, dosa atau salah? Apapun maksud
yang merupakan pendorong di belakangnya, tanpa pendamaian, maka itu tidak mungkin menjadi “bau yang menyenangkan
bagi Tuhan”. Hal ini akan disebut dengan “buah yang busuk pada akarnya”. Oleh
karena itu, pendamaian merupakan inti dari setiap korban yang disampaikan.
Tuhanlah yang memberikan pendamaian kepada manusia dan Allah sendiri yang
memutuskan dalam persembahan korban sebagai perbuatan Allah.[11]
Korban pendamaian yang dipersembahkan
kepada Allah berbeda dengan korban bakaran karena tidak seluruhnya korban
tersebut dibakar. Korban bakaran digunakan untuk mengungkapkan penghormatan dan
ketaatan kepada Allah, sedangkan korban pendamaian mengungkapkan persekutuan
denganNya melalui perjamuan bersama.[12]
Persembahan pendamaian diyakini sebagai perjamuan dengan Tuhan yaitu
persekutuan antara penyembah dengan Tuhan.[13]
Sikap Kritis para Nabi terhadap Persembahan Korban
Para
nabi pada umumnya sangat kritis dan tegas terhadap praktik-praktik ibadah
korban di Israel. Sikap kritis dan tegas tersebut bukan disebabkan oleh adanya
persaingan antara nabi dengan para imam, sebagaimana dipikirkan oleh banyak
orang. Sikap tersebut disebabkan oleh kenyataan bahwa praktek ibadah korban di
bait Allah telah jatuh ke dalam bahaya sinkritisme dan formalitas agama, sehingga
sama sekali tidak membentuk penghayatan dan pelaksanaan firman Tuhan secara
benar dalam kehidupan sehari-hari. Nabi Yesaya, Amos, dan Mikha mengkritik
bahkan mengecam dengan keras ibadah-ibadah kurban tersebut, karena
ibadah-ibadah itu telah kehilangan maknanya dan fungsinya yang sesungguhnya,
yakni tidak membawa Israel ke dalam relasi yang benar dengan Tuhan (Yes
1:10-17; Am 5:4-5; 5:21-27; Mi 6:3-8).[14]
Para nabi memang menyaksikan bahwa para penyembah membawa korban yang gemilang,
namun melanggar Hukum Taurat dalam kehidupannya sehari-hari. Maka para nabi
menentang karena ternyata bahwa itu tidaklah merupakan pengekspresian secara
sungguh-sungguh isi hati si penyembah. Penghormatan kepada Tuhan dengan
kata-kata tanpa perbuatan berarti tidak menghormati Tuhan sama sekali. Makanya
Allah yang sampai memandang isi hati manusia pastilah menolak ibadat yang tidak
bermakna itu.[15]
Para
nabi tidak menolak sama sekali sistem peribadahan Israel, tetapi yang ditolak
adalah ibadah korban yang dipisahkan dari kebenaran dan ketaatan kepada Tuhan.
Dengan kata lain, mereka hanya mengungkapkan sikap etik yang benar dalam
kepercayaan kepada Tuhan. Bahaya dari sistem korban dalam bangsa Israel sebagai
kritikan dari para nabi adalah karena bahaya formalitas agama. Bahaya tersebut
merupakan suatu kecenderungan beragama yang lebih menekankan pemenuhan hal-hal
formal dalam agama dibanding dengan penghatan yang sungguh pada nilai-nilai
agama dan pembentukan perilaku (sikap etik) umat beragama. Formalisme tersebut
merupakan bahaya yang sangat besar karena tidak akan membawa umat Israel kepada
penghayatan yang sungguh dan pengamalan yang nyata akan kehendak Allah.[16]
2. Dalam Perjanjian Baru
Yesus mengingatkan dalam Mat
21:12-17 untuk tidak memperdagangkan atau mengomersilkan dan mengambil
keuntungan yang tidak patut melalui penggantian korban persembahan dengan uang.
Di samping itu, Yesus menyampaikan diriNya sebagai persembahan untuk menebus
umat manusia. Dia mempersembahkan sekali dan untuk selama-lamanya (Rm 3:25f; 1
Kor 5:7f; 1 Kor 2:18f). Dalam Efesus 5:2, persembahan itu mempunyai dua bentuk,
yaitu: pertama, bahwa kematian Yesus sebagai persembahan pendamaian, yang
berhubungan dengan iman dalam Perjanjian Lama. Kedua, bahwa persembahan harus
berdasarkan nilai-nilai suruhan, yaitu supaya mengasihi sesama manusia. Hidup
manusia diatur oleh Tuhan yang telah memberikan nyawaNya untuk melepaskan kita
dan sebagai persembahan yang istimewa kepada Allah. Pemahaman mengenai
persembahan bukan berbentuk hukum tetapi berdasarkan kasih. Gereja mula-mula
selalu menekankan arti persembahan melalui kematian Yesus Kristus yang dapat
menebus dosa kita dan memperdamaikan manusia dengan Tuhan.[17]
Persembahan dalam Perjanjian
Baru dikenal dengan “korban-korban rohani” (1 Pet 2:5; bnd. Yoh 4:23, 24; Rm
12:1; Fil 3:3). Setiap tindakan manusia yang dipengaruhi oleh Roh Kudus dapat
dianggap sebagai persembahan rohani, dalam arti dikhususkan bagi Allah dan
dapat diterima oleh Allah. Akan tetapi, persembahan ini tidak berarti penebusan
atau pendamaian yang sejati. Persembahan korban pendamaian sejati ditemukan
dalam korban Yesus Kristus.[18]
Tubuh sebagai Persembahan
Tubuh yang dipersembahkan
kepada Allah adalah seluruh hidup seseorang. Hal ini bukan mengartikan bahwa
tubuh manusia adalah kudus atau suci karena persembahan kepada Allah harus
kudus dan suci. Tubuh yang dipersembahkan kepada Allah adalah yang rohani bukan
penyerahan diri kepada Allah secara batiniah atau penyerahan diri kepada tata
cara (bnd. 1 Pet 2:5). Mempersembahkan tubuh, artinya diri seseorang yang hidup
dan mempersembahkannya untuk hidup suci sesuai dengan kehendak Allah.[19]
Persembahan tubuh sebagi ibadah memiliki segi negatif dan positif. Segi
negatifnya adalah orang Kristen tidak boleh lagi membiarkan pola hidup mereka
ditentukan oleh dunia. Segi positifnya adalah hidup seseorang diharapkan
berubah bukan hanya secara lahiriah saja tetapi juga perubahan hati yang terwujud
dalam seluruh kehidupan, sehingga dapat membedakan manakah kehendak Allah dalam
hidupnya.[20]
IV.
Tafsiran Kitab
1.
Yesaya 1:10-20[21]
Sama seperti nabi Amos, Yesaya
juga mengecam kehidupan peribadahan di Bait Allah yang tidak memberikan akses
kepada tanggung jawab yang berkualitas orang beriman dalam bidang sosial dan
hukum. Ia menegaskan bahwa Tuhan membenci ibadah-ibadah yang dilakukan secara
formalitas, namun sama sekali tidak membangun tanggung jawab orang percaya
dalam bidang sosial. Yang dikehendaki Tuhan adalah umatNya menjahui kejahatan
dengan melakukan kebaikan, menegakkan keadilan, mencegah kekerasan dalam
masyarakat, membela hak-hak orang lemah (para janda dan yatim piatu) dalam
hukum dan peradilan (16-17). Tuhan menyuruh umatNya untuk membasuh diri dari
keberdosaannya.[22]
Nabi Yesaya sangat menekankan
pentingnya kehidupan sosial yang adil dan benar, serta tegaknya keadilan dan
kebenaran dalam kehidupan masyarakat. Ketaatan kapada Hukum Taurat Tuhan tidak
dibuktikan dalam kehidupan ritual di Bait Allah saja, tetapi terutama harus
diwujudkan bidang sosial dan hukum. Ibadah kepada Tuhan memperoleh bobot iman
yang mendalam ketika umat yang taat beribadah juga menjadi umat yang taat dalam
melakukan kebaikan, keadilan, dan kebenaran di dalam kehidupan mereka
sehari-hari. Oleh karena itu, para nabi sebenarnya tidak bersikap anti-kultus
atau anti-ibadah korban, tetapi mereka menuntut agar ibadah kurban itu
berfungsi sebagaimana mestinya. Ibadah kurban tidak boleh sebagai formalitas
agama, tetapi harus berfungsi untuk menyadarkan umat Israel pada kedudukan
mereka sebagai umat Tuhan yang harus melaksanakan kehendakNya di dalam
kehidupan sehari-hari. Yang dituntut Tuhan dari mereka bukan korban
persembahan, melainkan “kasih setia dan pengenalan akan Tuhan” (Hosea 6:6),
bukan ribuan domba jantan dan puluhan ribu tetes curahan minyak, melainkan
“berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan
Allah” (Mi 6:7-8).[23]
Barth juga menegaskan bahwa
para nabi dengan tidak ragu-ragu mengungkapkan apa yang sebenarnya dituntut
oleh Tuhan yaitu yang mencerminkan penyerahan diri umatNya kepada pengabdian
yang rela dan setia, dengan segenap hati, dengan seluruh tindak-tanduknya di
dalam kehidupan dan bukan hanya dalam kebaktian. Kritikan dari para nabi
menghasilkan keinsafan bangsa Israel akan bahaya penyalahgunaan korban-korbanyang
dipersembahkannya itu.[24]
2.
Roma 12:1-2[25]
Paulus menasehati demi kemurahan Allah yang berarti bahwa
Tuhan meneguhkan kembali hakNya atas ciptaanNya. Orang berdosa itu dimantaNya
agar hidup sesuai dengan kehendakNya. Istilah Yunani yang digunakan terhadap mempersembahkan
adalah paristanai yang merupakan
istilah peribadatan dari lingkungan bait Allah, yaitu mempersembahkan kurban.[26]
Dari pemahaman tersebut, maka yang dimaksud dengan mempersembahkan adalah
penyerahan diri secara total kepada Allah.
Yang dipersembahkan di dalam
nats ini adalah tubuhmu. Yang
dimaksud dengan hal itu tentu bukan bahwa orang percaya harus menyerahkan
tubuhnya untuk dibunuh, sebagaimana kadang-kadang terjadi dalam lingkungan agama
lain. Bukan juga bahwa mereka wajib menyiksa diri supaya bertambah suci. Dalam
tafsiran 6:12 dikatakan bahwa “tubuh” kita adalah “kehadiran kita di dunia ini,
pikiran, perkataan, dan perbuatan kita yang semuanya memang terjadi dan
terungkap lewat beberapa bagian tubuh kita”. Oleh karena itu, Paulus
memaksudkan di sini bahwa seluruh pikiran, perkataan, dan perbuatan, pokoknya
seluruh kemampuan dan kegiatan kita, harus dipersembahkan kepada Tuhan.[27]
Pemahaman tersebut memberikan
beberapa pertimbangan:
1. Mempersembahkan berarti penyerahan total. Seseorang
tidak dapat menyisihkan sebagian untuk dipegang sendiri atau diserahkan kepada
pihak lain (Kis 5:1). Korban yang dipersembahkan adalah sempurna atau dalam
kitab Imamat dikatakan tidak bercela.
2. Selain tubuh
itu tidak ada kurban lain yang harus dipersembahkan orang Kristen. Dalam dunia
abad pertama Masehi masih membawa berbagai korban. Allah sendiri telah
menyediakan korban yang mencegah murkaNya, yaitu Kristus dan kurban itu sudah
cukup untuk selama-lamanya. Bukan pemberian kita yang kita kehendaki, tetapi
Dia menghendaki kita sendiri.[28]
Oleh karena itu, persembahan
itu disebut persembahan yang hidup.[29]
Perkataan hidup dipakai di sini dalam arti yang sama dalam pasal 6:4: “Yanng
hidup dalam hidup yang baru”. Hidup yang baru itu dibangkitkan oleh Roh Kudus.
Jadi persembahan yang hidup adalah penyerahan diri kita untuk menempuh
kehidupan baru, yang menjahui dosa dan menentang kuasa dosa itu. Persembahan
juga disebut dengan kudus. Dengan demikian tubuh kita bukan lagi milik kita
sendiri, sebab mempersembahkan korban berarti korban itu diserahkan menjadi
milik Allah. Seseorang yang mempersembahkan tubuhnya kepada Allah, maka hal itu
berarti bahwa seluruh kehidupannya adalah milik Tuhan. Seorang Kristen harus
berupaya terus hidup semakin sesuai dengan kehendak Dia yang menjadi
pemilikNya, sehingga persembahannya menjadi berkenan kepada Allah. Akhirnya
Paulus mengatakan, “Itu adalah ibadahmu yang sejati”. Istilah ibadah dalam
bahasa Yunani digunakan Paulus dari pemahaman Perjanjian Lama yaitu latreia dan abodah (Ibrani) yang berarti suatu pengabdian. Dalam Hukum Taurat dan
kitab-kitab para Nabi ibadah dalam bait Allah merupakan titik pusat ibadah
dalam arti umum, yaitu ketaatan pada perintah-perintah Tuhan dan pengabdian
kepadaNya. Dalam Perjanjian Baru ibadah dalam bait Allah bermakna ketaatan dan
pengabdian juga. Oleh karena itulah dikatakan persembahan tubuh sebagai
persembahan yang hidup dan yang kudus.[30]
V.
Refleksi Teologis
Gereja adalah lembaga persekutan
orang-orang Kristen yang melakukan ibadah setiap hari Minggu. Gereja juga
memberikan persembahan kepada Allah dan biasanya berupa uang atau materi. Konsep
ibadah dan pemberian persembahan yang adala dalam kedua kitab juga tercermin
dalam konsep gereja pada masa kini. Orang-orang yang melakukan ibadan dan memberikan
persembahan sudah merasa bahwa hal itu sudah cukup untuk menyenangkan hati
Allah. Jemaat kehilangan arti persembahan yang sebenarnya karena mereka juga
tidak menunjukkan kesungguhannya kepada Allah dalam perilaku kesehariannya di
dalam kehidupan.
Oleh karena itu, orang-orang percaya
dituntut untuk memberikan persembahan yang benar kepada Allah bukan hanya
melalui materi yang diberikan kepada gereja, tetapi juga tampak dalam aksi
sosial yang dilakukan. Orang-orang percaya harus melayani dalam seluruh aspek
kehidupannya, yaitu dengan memancarkan kasih dari Allah kepada sesama,
memberikan tangan kepada mereka yang sedang dalam kesulitan, mencintai semua
orang, dan jauh dari perbuatan-perbuatan yang di luar kebenaran Allah termasuk
kekerasan, penindasan, korupsi, dan tindakan amoral lainnya. Persembahan yang
benar kepada Allah adalah tampak dari perbutan kita sehari-hari yang
memancarkan kasih dan bukan melalui persembahan materi atau korban apapun yang
kita bawa kepadaNya.
VI.
Kesimpulan
Peribadahan melalui Persembahan yang
disampaikan kepada Allah merupakan ibadah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh
agar menjadi persembahan yang benar kepada Allah. Dalam Perjanjian Lama telah
diutarakan bawa persembahan itu tidak hanya dilakukan dengan sungguh-sungguh di
bait Allah tetapi juga harus ditunjukkan di dalam perilaku sehari-hari yang
sesuai dengan kehendak Allah. Apabila persembahan tersebut tidak dibarengi
dengan perbuatan benar maka persembahan itu tidak berkenan di hadapan Allah.
Demikian juga dalam Perjanjian Baru
dinyatakan bahwa tubuh dipersembahkan kepada Allah berarti bahwa seluruh hidup
dan totalitas dari diri seseorang harus dipersembahkan kepada Allah.
Persembahan tubuh bukanlah persembahan tubuh yang secara lahiriah, tetapi
persembahan yang rohani kepada Allah malalui kasih yang terpancar dalam
perbuatan sehari-hari.
[1] J. D.
Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini
Jilid I, Korban dan Persembahan,
(
[2] Colin
Brown, The New International Dictionary
of New Testament Theology, (Michigan: The Paternoster press, 1978), hlm.
415
[3] ibid.,hlm. 415
[4] J. D.
Douglas, op.cit., hlm. 580
[5] C.
Barth, Theologia Perjanjian Lama 3,
(
[6] H. H.
Rowley, Ibadat di Israel Kuna (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981), hlm. 85
[7] A. A.
Sitompul, Bimbingan Tata Kebaktian
Gereja, (Pematangsiantar: 1993), hlm. 152-153
[8] J. D.
Douglas, op.cit.,hlm. 576-57
[9] C. Barth, op.cit., hlm. 97
[10] A. A.
Sitompul, op.cit, hlm. 154
[11] C.
Barth, Theologia Perjanjian Lama 1,
(Jakarta BPK Gunung Mulia, 2005), hlm. 381-382
[12] David
F. Hinson, Sejarah Israel Pada Zaman
Alkitab, (
[13] H. H.
Rowley, op. cit., hlm. 96
[14]
Marthinus Theodorus Mawene, Perjanjian
Lama dan Teologi Kontekstual, (
[15] H. H.
Rowley, op.cit., hlm. 102
[16]
Marthinus Theodorus Mawene, op.cit., hlm. 78-79
[17] A. A.
Sitompul, op.cit., hlm. 156-157
[18] J. D.
Douglas, op.cit.,hlm. 581
[19]
Soedarmo, Tafsiran Alkitab Masa Kini,
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983), hlm. 472
[20] Th. Van
den End, Surat Roma, (
[21] Dalam
buku C. Groenen, Pengantara Ke dalam
Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992), hlm. 247 dipaparkan
bahwa Nabi Yesaya selama 40 tahun berkarya di Ibukota kerajaan Yehuda, yaitu
Yerusalem. Yesaya termasuk kalangan atas masyarakat yang tidak hanya mendapat
karunia kenabian, tetapi juga berbakat seni sastra dengan menciptakan sajak-sajak
yang termasuk seni sastra yang bermutu tinggi. Yesaya tampil pada tahun 740 sM
di mana ketika itu kerajaan Israel Utara masih berdiri tegak bahkan mengalami
masa kemakmuran dan kesejahteraan. Akan tetapi kesejahteraan itu disertai
kemerosotan akhlak, ketidakadilan, dan pemerasan dari pihak kalangan atas
terhadap rakyat kecil.
[22] David
Mckenna, Mastering The Old Testament,
Isaiah 1-39, (New York: Word Publishing, 1994), hlm. 57-58
[23]
Marthinus Theodorus Mawene, op.cit., hlm. 103-104
[24] C.
Barth, op. cit., hlm 97
[25] Surat
Roma ditulis di Korintus (15:32 pada akhir perjalanan Paulus yang ketiga
(15:25), menjelang awal musim pelayaran di wilayah Laut Tengah (Th. Van dden
End).
[26] Th. Van
den End, op.cit., hlm. 652-653
[27] Th. Van den End, op.cit., hlm. 653
[28] Th. Van den End, op.cit., hlm 654
[29]
Perkataan hidup dipakai bukan karena karena kita sendiri memang hidup,
bertentangan dengan hewan kurban yang mati.
[30] Th. Van
den End, op.cit., hlm. 654-655
Tidak ada komentar:
Posting Komentar