Selasa, 25 Juli 2023

Pengantar Kitab Amos

1.      Pendahuluan

1.1.Latar Belakang Masalah

        Penulisan kitab Amos ini, ialah ditujukan untuk pemenuhan tugas Keterampilan Teknik, yaitu pembentukan penulisan ilmiah. Alasan pengambilan Kitab Amos sebagai judul atas tugas ini ialah ketertarikan penulis atas sifat Amos yang  berani untuk menyampaikan kabar baik kepada suatu jemaat yang kondisi spiritualnya sudah rusak, tetapi itu tidak terlihat jelas karena ditutupi oleh suatu hal yang sangat besar, sehingga jemaat tersebut tidak menyadari bagaiamana sebenarnya kondisi spiritual mereka, artinya yang mau dikatakan disini, bagaimana seorang Amos dapat menyampaikan kabar baik yang sifatnya tidak memuaskan telinga jemaat tersebut, atau dapat dikatakan kabar baik ini ialah suatu teguran keras.

1.2.Rumusan Masalah

            Apakah  bentuk pemberitaan Amos? Bagaimana Amos menyampaikan suatu teguran Tuhan atas jemaat Israel Utara yang sudah lari dari kehendak Tuhan? Bagaimanakah aplikasi pemberitaan Amos bagi para pelayan-pelayan dalam melakukan pelayanannya?

1.3.Tujuan Penulisan

Tulisan ini bertujuan diantaranya:

·         Mengetahui Amos secara keseluruhan, baik tempat kelahiran, dan tempat pelayanannya.

·         Mengetahui panggilan yang dimiliki oleh Amos, dan bentuk panggilannya.

·         Mengetahui pembagian kitab Amos.

·         Mengetahui pesan yang ingin disampaikan oleh kitab Amos, sebagai bentuk aplikasi kepada para pelayan-pelayan pada masa kini.

·      Makna penyelamatan suatu jemaat yang sudah lari dari kehendak Tuhan, dengan menggunakan nabi sebagai perwakilan Tuhan dalam menyampaikan tegurannya.

·    Makna dari kasih Tuhan atas umat yang dikasihiNya, namun umat tersebut telah lari dari kehendak dan perintah Tuhan.

1.4.Manfaat Penulisan

Saya harap tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dalam mengenal lebih jauh tentang Amoss dan pelayanannya, dan terutama pesan yang ingin disampaikan oleh nabi Amos dalam pelayanannya. Dikarenakan ini merupakan tugas keterampilan teknik, maka saya berharap agar model-model penulisan dan sistematika penulisan dapat dipelajari dari tulisan ini.

2.      Pembahasan

2.1.Amos dan Panggilannya

Tidak banyak yang dapat diketahui dari Amos, selain melalui ktiab Amos sendiri. Amos hidup di sebuah kota kecil di Yehuda dekat Betlehem, melalui Amos 1:1 dan 7:12, sangat jelas diterangkan bahwa Amos merupakan seorang gembala dan pemungut buah pohon ara hutan. Sebelum menjadi nabi bagi orang Israel, Amos hidup didalam kondisi hidup yang mengharuskan dia untuk bekerja keras untuk dapat hidup, Amos sangatlah jijik melihat suatu kekayaan, kemalasan, dan ketidak adilan pada suatu kota di Israel Utara. Kemauannya menjadi sebagai nabi, bukanlah dikarenakan ia berasal dari keluarga nabi, melainkan karena panggilan Allah atas dirinya.[1]

      Panggilan yang dapat dilukiskan dari kontek pembicaraan Amos, pada tahun 760 SM, dimana pada waktu itu Amos menyaksikan 5 pristiwa, diantaranya[2]:

a.       Amos 7:1-3, musibah Belalang. Musibah berhenti dikarenakan seruan doa Amos.

b.      Amos 7:4-6, api mengamuk. Musibah yang telah berhenti berkat doa yang dilakukan oleh Amos.

c.       Amos 7:7-8, tali sipat, dan ancaman YAHWE yang tidak mau memaafkan.

d.      Amos 8:1-2, bakul berisi buah-buahan mengisyaratkan suatu akhir.

e.       Amos 9:1-4, kemalangan pada akhirnya akan terjadi kepada semua orang.

Dari hal tersebut sebenarnya dapat disimpulkan bahwa akan datangnya musibah alamiah, dimana kedua musibah tersebut akan berhenti melalui doa Amos, dan juga terdapat ancaman yang lain dimana adanya ancaman militer yang mengalahkan Israel serta pendudukan Israel oleh pasukan asing. Maka bentuk pemberitaan Amos disini merupakan suatu ancaman akan hancurnya kerajaan Israel Utara bersamaan dengan seluruh isi istana  raja (Amos 7:7-9), kehancuran tersebut merupakan akhir dari kerajaan Israel  Utara, dan pembuangan seluruh penduduk negeri.[3] Hal diatas ini merupakan bagaimana Tuhan memanggil Amos yang bukanlah seperti nabi-nabi kebanyakan, yang dimana ia merupakan seorang gembala, dimana ia ditugaskan untuk menyampaikan berita kehancuran atas kerajaan Israel Utara yang pada saat itu kerajaan Israel Utara sedang mengalami kemajuan ekonomi yang sifatnya tidaklah sehat pada masa kepemimpinan raja Yerobeam II.

2.2.Zaman Pembertiaan Amos

Amos hidup pada masa Israel telah terpecah, dimana Israel Selatan, dan Utara. Israel Selatan dipimpin oleh Rehabeam dengan teridiri dari suku Yehuda, dan Benyamin, dan Israel Utara dipimpin oleh Yerobeam, yang terdiri dari 10 suku. Israel Selatan memiliki ibukota di Yerusalem, dan Israel Utara pada akhirnya semasa pemerintahan raja Omri menjadi di Samaria.[4] Hal ini menggambarkan bagaimana kondisi Israel yang pecah menjadi dua buah kubu.

            Sedangkan kondisi pada saat pemberitaan Amos ialah pada saat itu Amos yang merupakan seorang Yehuda, memberitakan nubuatan amarah Tuhan atas kerajaan Israel Utara, dengan akan mendatangkan kehancuran kepada Israel Utara tersebut, melalui pelayanannya di Betel. Israel Utara waktu itu dipimpin oleh Raja Yerobeam II (783-743), dimana kondisi pada waktu itu sangatlah sejahtera, dan kondisi ekonomi yang sedang sukses, dimana daerah kerajaannya semakin luas, kerajaan Asyur pada waktu itu belum mengancam Israel Utara, dan kaum-kaum atas merasakan kenyamanan atas kemajuan ini, dengan hidup materialisme namun hal ini juga sejalan dengan kemerosotan nilai-nilai moral dan keagamaan dalam masyarakat tersebut.[5] Sisi negative yang terus berkembang dalam kerajaan Israel Utara ialah diantaranya keadilan yang telah hancur, orang dapat dengan mudah melakukan suap untuk dapat mendapatkan sesuatu dalam peradilan[6], ibadah-ibadah yang sebenarnya sudah lari dari yang seharusnya, ibadah yang sifatnya megah dan meriah, sehingga YAHWE tidak berkenan hadir dalam ibadah tersebut dikarenakan sikap hati yang tidak bertobat dan iman yang hidup dan juga ibadah yang dilakukan mereka (Israel Utara) hanya menjadi suat selebrasi keoptimisan nasional yang mengarah hanya kapada diri mereka sendiri, yaitu dengan mengidolakan apa yang mereka suka. Peribadatan mereka atas kemakmuran yang telah mereka dapat, pada akhirnya menjadikan suatu keuntungan melalui korupsi yang dilakukan di peradilan dan ketidakadilan kepada orang miskin untuk membiayai segala kehidupan mewah kerajaan dengan ibadahnya, dan mereka juga berdoa kepada Yahwe agar memberikan lebih lagi dari yang telah mereka dapat seperti saat ini, namun pada dasarnya dalam Bethel saja mereka tidak mencari Yahwe . Pada saat itu juga terjadi penjualan orang dikarenakan uang, dan orang-orang miskin oleh karena sepasang kasut… (Amos 2:6-8).[7]

Atas segala hal kemerosotan ini Amos sangatlah tegas dalam menyampaikan nubuatannya, ia mengkritik setiap aspek keagamaan, sosial, ekonomi, dengan sangat tajam, dan dikatakan nubuatan Amos menjadi seperti api bagi Israel Utara, Amos sangatlah tegas dalam penyampaian nubuatannya atas Israel Utara dimana perbuatan mereka yang telah tidak sesuai sebagai bangsa pilihan, Amos juga manambahkan bahwa Israel Utara seharusnya tidaklah berbangga sebagai bangsa pilihan yang dikasihi, bahwa sebenarnya bangsa Israel tersebut akanlah dihancurkan, kebaikan Allah pada masa lampau akan lebih memperberat tanggung jawab mereka kepada masa kini, dan juga Yahwe sangatlah menolak persembahan dan puji-pujian yang mereka lakukan, dan kemakmuran yang Israel dapat pada waktu itu ialah sia-sia, karena hubungan dengan Allah juga telah rusak. Namun Amos bukanlah nabi yang suka menasehati dan menegur agar orang tersebut berubah secara moral dan etis melainkan Amos menyampaikan suatu  tanda penghakiman, sebagai isyarat akan berakhirnya Israel.[8]

            Kecaman-kecaman yang dilakukan oleh Amos sebagai bentuk nubuatannya, yang memang seorang nabi benar adalah sangat layak. Dikatakan demikian didasari atas keadaan Israel Utara yang telah dijelaskan pada paragraph sebelumnya. Dikatakan Nabi benar pada abad ke-8 ini ialah jika nabi tersebut memberitakan nubuatan-nubuatan yang sifatnya kecaman, peringatan tajam, sampai kepada kutukan-kutukan. Seorang nabi benar pada abad ke-8 ini tidaklah pernah memberikan nubuatan-nubuatan yang sifatnya memuji dan meninggikan bangsa Israel waktu itu, dan bila ada dapatlah ditarik kesimpulan nabi tersebut merupakan seorang nabi palsu, karena memang haruslah demikian.

            Namun dalam nubuat kehancuran tersebut, masih ada nubuat-nubuat keselamatan yang dapat kita temukan pada kitab Amos, yang diselipkan oleh redactor pada fasal 4:13, 5:8, 9:5. Ayat ini mau menunjukkan bahwa YAHWE yang disembah oleh orang Israel, adalah TUHAN yang sangatlah tegas, dan pengampun, bukan tuhan yang jahat yang mau memusnahkan bangsa pilihannya. Hal ini menggambarkan bagaimana Tuhan masih menerima pertobatan atas umatNya, yang mau menyesali perbuatanNya, namun hal tersebut tidaklah serta merta membuat mereka untuk lepas dari penghukuman yang seharusnya diterima mereka, artinya bangsa tersebut tetap dihukum tetapi pengampunan tetaplah didapat oleh bangsa pilihanNya. Dan juga pernyataan bahwa Ketak-pedulian Allah akan terhadap umatNya, bila kita keluar dari pernyataan tersebut maka kita akan menemukan suatu pernyataan besarnya perhatian Allah agar bangsa Israel tetap menjadi milikNya (Amos 3:2). Namun respon dari imam Amaziah atas nubuatan Amos disini ialah ia mengusir Amos dan menuduhnya menakut-nakuti masyarakat, dan meminta bayaran yang tinggi, namun pada dasarnya Amos melakukan hal ini atas dasar sikap patriotism yang tinggi sebagai penduduk asli Yehuda, dalam mempertahankan diri atas tuduhan itu Amos hanya dapat kembali kepada wibawa ilahi yang mengutusnya untuk menyampaikan nubuatan ini kepada bangsa Israel Utara.[9]

2.3.Universalime Keselamatan dan Monoteisme

                Dalam nubuatan-nubuatan para Nabi benar pada abad ke-8, diantaranya Hosea, dan juga Amos, dapat kita tarik pemikiran bahwa terdapat penekanan akan adanya Monoteisme Etis, hal ini dapatlah kita lihat bagaimana Amos menggambarkan Yahwe sebagai penguasa alam semesta satu-satunya, dan juga dalam nubuatannya ia mengesampingkan dengan keras ritus-ritus terhadap dewa-dewa pada zaman itu[10], yang pada dasarnya sedang berkembang sangat gencar pada waktu itu. Amos juga menegaskan bahwa Yahwe merupakan Allah yang universal, maka dapat dikatakan Amos menempatkan dasar Tuhan sebagai suatu yang Esa, artinya ia menempatkan hanya melalui Tuhan sajalah. Pandangan Kaufmann atas hal ini ialah tuntutan Nabi Amos akan keadilan sosial sebagian besar merupakan suatu pernyataan ulang atas hukum-hukum perjanjian yang sifatnya kuno, yang tidak hanya ditujukan kepada individu-individu suatu bangsa, melainkan juga kepada nasib daripada bangsa tersebut kelak. Pernyataan akan Tuhan sebagai Allah segala bangsa atau universal, hanya menjadi jembatan atas perjanjian Allah kepada Abraham kepada setiap umat di bumi, dan pernyataan Allah akan menghukum bangsa-bangsa lain akan menjembatani bahwa Allah pernah menghukum Mesir dengan dewa-dewa mereka. Namun hal ini menjadi perdebatan para ahli, dimana ada beberapa para ahli yang menekankan Amos sebagai pelopor Monoteisme Etis, tetapi ada juga yang mendasarkannya kepada tradisi perjanjian (pandangan Kaufmann).[11]

            Memang tidak menjadi perhatian pokok daripada Amos atas Universalisme dan Monoteisme Etis, tapi hal ini dapatlah kita lihat dari Amos 1-2, bagaimana tersirat Yahwe bertindak sebagai hakim bangsa-bangsa asing, tentunya Israel termasuk didalamnya, dikarenakan mereka merupaka suatu bangsa pilihan, Amos meyakini Allah dengan bangsa Israel terikat, dalam artian Allah dengan bangsa Israel disatukan dengan sebuah perjanjian yang telah dibuat dahulunya dengan Musa  di gunung Sinai, saat exodus dari bangsa Israel dari tanah Mesir (Amos 3:1-2)[12], sehingga bila bangsa-bangsa dihukum oleh Yahwe, maka sebagai bangsa terpilih Israel haruslah ikut bertanggung jawab akan hal tersebut. Sedangkan dalam Amos 9:7 Yahwe digambarkan sebagai Allah yang tidak hanya memberikan keselamatan kepada bangsa Israel saja, melainkan kepada bangsa lain juga, oleh karena itu keselamatan yang daripada Allah sendiri sifatnya universal, dan bukan hanya bangsa pilihan saja yang mendapatkan keselamatan ini, melainkan seluruh bangsa, sampai kepada saat sekarang ini.

2.4.Pembagian Kitab Amos

Kitab Amos ini disusun dengan tujuan tertentu, dimana pembagiannya ialah sebagai berikut:

Amos 1:1,2         Berisikan judul, tentang pribadi Amos, pekerjaan sehari-hari Amos, kapan kelahiran daripada Amos sendiri. Raja yang berkuasa di saat Amos hidup juga dijelaskan, perkataan “Dua tahun sebelum gempa bumi” hal ini tidak dapat ditemukan pada saat gempa bumi itu terjadi, namun kita sulit untuk mengetaui kapan gempa tersebut terjadi.[13]

Amos 1:3-2:16   Nubuatan penghukuman dari pada Allah. Penghukuman ini terbagi lagi yaitu kepada Damaskus (Syria) pada pasal 1:3-5 bagaimana penghukuman atas Syria, yang telah dikalahkan dalam peperangan dengan Asyur, yang dimana waktu itu Tiglath Pileser menguasai Damaskus. 1:6-10 Philistine yang merupakan musuh bangsa Israel, dan Phoenica putus hubungan dengan Israel. Kemudian pada 1:11, 12 tentang Edom, 1:13-15 tentang Ammon, kemudian 1:14 tentang badai, berupa angin puting beliung. 2:1-3 menceritakan tentang Moab.[14]

Amos 2:4-16      Memuat akan penghukuman kepada Israel, yang pada pasal 2:4-5 berisikan penghukuman atas Yehuda yang menolak hukum Tuhan, atau tidak berpegang kepada ketetapan-ketetapan-Nya, sehingga penghancuran akan Yehuda akan terjadi, tetapi tidak melalui Asyur yang merupakan penghancur Yerusalem, melainkan melalui Nebukadnezar, raja Babilonia, yang menyerang ratusan tahun kemudian. Bagian yang lain ialah 2:6-16, dimana berisikan penghukuman atas Israel, Amos menyampaikan nubuatan ini dengan bahasa yang keras, dalam arti tajam, dan dalam bagian ini Amos menggambarkannya dengan menggunakan istilah orang berdosa.[15]

Amos 3:1-15      Pada bagian ini berisikan bagaimana tanggung jawab Bangsa Israel sebagai bangsa pilihan, dimana Amos mencoba untuk meyakinkan kepada bangsa Israel bahwa apa yang telah mereka lakukan ini ialah menyakiti hati Tuhan, dan bila tetap mereka melakukan hal ini mereka akan mendapatkan konsekuensi yang setimpal atas kelakuan mereka.[16] Sebenarnya bila disadari, bagian ini berisi tentang runtuhnya Israel, dan penyangkalan yang dilakukan oleh Amos atas segala tindakan peribadatan yang palsu yang terjadi di Bethel, dan dikatakan Israel akan runtuh bersamaan dengan dewa-dewa tersebut.

Amos 4:1-13      Berisikan akan perempuan Samaria yang mabuk akan kemewahan[17], yang digambarkan oleh Amos dengan sebutan “lembu-lembu basan yang ada di gunung Samaria”, mereka inilah yang mendesak kaum lelaki untuk melakukan korupsi yang mengakibatkan suatu penindasan dan ketidak adilan kepada orang-orang miskin, ibadat yang dilakukan oleh bangsa Israel merupakan suatu ibadah yang jahat yang memilukan hati Tuhan, mereka tetap berpegang kepada Allah telah menolong bangsa pilihanNya itu dan akan tetap menolongNya, dimana Amos menentang pemahaman ini, dimana Amos mengemukakan kepada bangsa Israel tersebut bahwa bencana-bencana juga merupakan berasal dari Allah, artinya, Allah tidak hanya memberikan sesuatu yang menggembirakan, ataupun menyenangkan, melainkan juga suatu pencobaan, penghinaan, kesengsaraan, dan bahkan malapetaka, dan dari setiap kejadian-kejadian itu, menjadi suatu pesan yang mengingatkan kita akan apa yang seharusnya kita lakukan.[18]

Amos 5:1-27      Dalam pasal ini terbagi menjadi delapan pokok bahasan, diantaranya: pertama ayat 1-3 berisikan bagaimana keluh kesah Amos atas Israel yang telah sangat jatuh kepada dunia ini, dan juga kejatuhan daripada Israel yang kuat dan Negara yang independen, yang jatuh di tangan Asyur. Kedua ayat 4-6,       bagian ini berisikan Israel yang hanya mencari tempat-tempat beribadat, seperti di Bethel dan Gilgal, namun mereka sebenarnya tidak mencari pokok dari peribadatan itu sendiri yaitu Yahwe. Ketiga pada ayat 8 dan 9, berisikan kidung pujian yang kedua. Keempat ayat 7 dan 10-13, dimana berisikan penindasan terhadap kaum yang lemah, pada bagian ini sangatlah dekat artinya dengan suatu kesengsaraan yang dialami oleh bangsa Israel yang lemah, yang ditindas oleh kaum raja-raja. Kelima ayat 14 dan 15, berisikan suatu hukuman daripada Allah tidak langsung turun kepada orang berdosa itu melainkan Allah masih memberikan kesempatan kepada orang yang berdosa itu untuk dapat keluar dari penghukuman Allah itu. Keenam ayat 16 dan 17, berisikan rahmat Allah atas umatNya, dimana waktu pengorbanan telah berlalu kepada seluruh orang, hanya orang yang sisa yang dapat selamat, dan orang yang menyesal akan selamat pada waktunya. Ketujuh ayat 18-20, berisikan hari Tuhan, dimana hari Tuhan dalam Yahudi merupakan hari yang panjang atas kedatangan kerajaan Allah, dan orang-orang kristen mula-mula yang kembali kepada kristus, sehingga Amos mengingatkan bangsa Israel untuk melihat kedepan akan hari Tuhan. Kedelapan ayat 21-27, berisikan pengaduan upacara-upacara pemujaan korban.[19]

Amos 6:1-14      Pada pasal ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu ayat 1-7, lalu 8-10, lalu kemudian 11-14. Ketiga bagian tersebut membahas akan kecaman Amos atas suatu ketentraman yang palsu, dimana orang-orang Israel yang kaya raya dan makmur, sebenarnya didapat dari penindasan yang dilakukan kepada rakyat yang lemah, sehingga ada suatu keutungan sepihak atau berat sebelah, dan dengan kehidupan yang berfoya-foya ini orang-orang kaya tersebut tidak mempedulikan lagi kehidupan disekitarnya seperti gejala-gejala yang terjadi yang menjadi pertanda bahwa keruntuhan didalam negaranya akan segera terjadi, dan mereka mempercepat keruntuhan tersebut dengan perbuatan jahat yang mereka lakukan.[20]

Amos 7:1-17      Pada pasal ini berisikan penglihatan-penglihatan yang dialami oleh Amos, dimana pada ayat 1-3 berisikan penglihatan belalang, ayat 4-6 berisikan atas penglihatan api, ayat 7-9 berisikan penglihatan tali sipat, kemudian pada ayat 10-17 berisikan bagaimana Amos diusir, dimana Amos berjuang terhadap Amazia di Bethel mengingatkan kita sebagai pembaca akan perjuangan Elia terhadap imam-imam baal di gunung Karmel.

Amos 8:1-14      Pada pasal ini dibagi menjadi pada ayat 1-3 berisikan Bakul dengan buah-buahan, lalu kemudian pada ayat 4-8 memuat peringatan Amos terhadap orang yang menghisap sesamanya, perkataan ini ditujukan kepada para saudagar-saudagar yang ada pada kaum Israel. Ayat 9-10 berisikan akan gerhana matahari dan ratapan, bagian ini dikatakan sebagai sambungan dari Amos 5:18-20, yang berbicara akan hari Tuhan yang merupakan hari kegelapan dan bukanlah terang, namun yang ditekankan di ayat 9-10 ini ialah kegelapan, sehingga kegelapan tersebut digambarkan dengan gelapnya kegelapan itu nantinya.[21] Kemudian pada ayat 11-14 berbicara akan dua hal yang harus dilepas dalam pembacaan dan penafsirannya secara masing-masing, dimana pada bagian pertama berbicara akan penolakan Amos, yang berarti dapat dikatakan orang Israel menolak akan Tuhan itu sendiri, pemahaman yang kedua ialah bagaimana Amos mengecam peribadatan yang dilakukan orang Israel, dan kemudian orang Israel dikecam perbuatannya dengan kematian angkatan mudanya, karena dosa pada peribadatan.

Amos9:1-15       Berisikan penglihatan Amos yang kelima, yaitu pada ayat 1-6, dimana Tuhan dekat Mezbah, yang mau dijelaskan dengan tegas ialah tidak ada satupun jalan yang dapat ditempuh oleh manusia agar ia dapat luput dari penghukuman yang telah ditentukan oleh Allah. Pada ayat 7-10 berisikan bagaimana bangsa Israel tersebut yang merupakan bangsa pilihan Allah juga ditolak oleh Allah. Pada ayat 11-15 berisikan akan suatu janji keselamatan, dimana hal ini sangatlah berlainan bila kita membandingkan dengan ayat-ayat sebelumnya, disini Allah berubah seolah-olah ada matahari yang mengusir kegelapan yang menimpa bangsa Israel tersebut, artinya yang mau dikatakan disini ialah bagaimana Allah yang masih menyayangi umatnya yang mau bertobat, atau Allah masih menyediakan pengampunan bagi umatnya.

2.5.Ayat Kunci Kitab Amos

                Yang menjadi focus dalam memahami kitab Amos ini ialah terdapat dalam pasal 9, dimana bertumpu pada pemulihan Allah terhadap bangsa Israel, dikala nubuatan-nubuatan Amos yang tajam dan keras akan perilaku Israel yang telah menyimpang dari kehendak Tuhan, ternyata masih terdapat suatu keselamatan, yang konteksnya hanya ada dalam lima buah ayat, yang menjadikan masa depan suatu bangsa pilihan tersebut menjadi jelas, dan lebih konkret. Ayat penting yang dapat menjadi pegangan kita kemudian dalam kitab Amos ini ialah diantaranya Amos 3:1-2, kemudian Amos 4:11-12, kemudian Amos 8:11-12. [22]

3.      Refleksi

                Amos yang dalam tulisan ini telah digambarkan sebagai seorang pelayan yang menyampaikan kabar yang sangat tidak menyenangkan bagi Israel Utara akan kehancuran dan kebinasaan negeri itu, yang faktanya bangsa tersebut sedang mengalami kondisi yang makmur, dan dapat memenangkan peperangan-peperangan yang pada akhirnya telah memperluas daerah kekuasaan mereka. Sebenarnya nubuatan-nubuatan yang diberikan Amos ini dapat menjadi boomerang dan peringatan kepada suatu bangsa yang sedang mengalami kemajuan. Refleksi yang dapat diambil dari Nabi Amos ini ialah bagaimana seorang pelayan dapat menyampaikan suatu kabar, baik itu yang menyenangkan ataupun yang memilukan kepada suatu bangsa, karena pada dasarnya Tuhan tidak hanya memberikan terang kepada manusia, tetapi juga gelap. Artinya disini ialah seorang pelayan diharapkan dapat menyampaikan suatu nubuatan secara baik dan benar tanpa harus takut akan apa yang ia dapatkan bila menyampaikan nubuatan-nubuatan ini. Walaupun dari penyampaian nubuatan tersebut akan ada kelompok-kelompok atau individu-individu yang dirugikan atau disinggung disitu, tetapi seharusnya seorang pelayan kembali kepada panggilannya, bahwa ia dipanggil oleh Tuhan untuk menyampaikan nubuatan tersebut, persoalan diterima ataupun ditolak nubuat tersebut, kembali kepada bangsa itu sendir, apakah bangsa itu mau menerima atau menolak suatu perintah Tuhan. Pelayan-pelayan saat ini terkadang takut untuk menyampaikan apa yang baik dan apa yang tidak baik, dikarenakan adanya rasa saling membutuhkan ataupun takut posisinya terusik, oleh karena itu seorang pelayan haruslah yakin dan percaya bila ia menyampaikan kabar yang dari pada Tuhan saja, berarti ia telah menjadi penyambung lidah Tuhan yang baik, dan tentunya didalam setiap nubuatan-nubuatan Tuhan kepada manusia pastinya mengandung suatu nilai positif kepada manusia tersebut, tergantung manusia tersebut mau atau tidaknya menerima dan melakukan nubuatan tersebut.

            Bila kita hanya memandang sebelah mata terhadap kitab ini, pasti yang akan muncul ialah Tuhan yang jahat dan kejam, yang menghukum bangsa pilihannya, namun sebenarnya terdapat ayat-ayat yang disisipkan yang menjadi pokok atau inti daripada nubuatan tersebut. Dimana sebenarnya Tuhan tetap menyediakan suatu keselamatan kepada manusia itu sendiri, Tuhan tidak pernah memberikan pencobaan kepada manusia tanpa adanya pertolongan dan keselamatan ketika manusia tersebut bertobat dan menyesali perbuatannya. Artinya disini ialah Tuhan merupakan Allah yang tegas, ia tetap menghukum umat pilihannya ketika mereka melakukan kesalahan, tetapi kasihnya tetap ada didalam umat tersebut, karena kasih Tuhan tidak ada bandingannya, oleh karena itu setiap manusia harusnya menyadari betul bahwa Tuhan merupakan Allah yang maha pengasih dan penyayang, yang tidak pernah meninggalkan manusia tersebut sendiri, dan Tuhan tetap menjanjikan suatu keselamatan kepada umat manusia itu, dan keselamatan Allah itu universal, tidak hanya kepada bangsa Israel pada zaman dahulu, melainkan juga pada kita di zaman ini.

4.      Kesimpulan dan Saran

4.1.Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari tulisan kitab Amos ini ialah Amos merupakan seorang petani yang terpanggil untuk menjadi nabi, yang diminta untuk menyampaikan suatu nubuatan kehancuran bangsa lain yang kondisinya sedang naik daun, atau sedang sukses, dan Amos tetap melakukannya dan menyampaikan nubuatan yang tajam tersebut dikarenakan memang benar dibalik kemajuan yang dialami oleh bangsa tersebut terdapat suatu masalah besar baik dalam keadilan, dan peribadatan daerah tersebut. Namun dari penelusuran kitab ini kita dapat mengetahui lebih jelas bahwa Tuhan merupakan Tuhan yang pengasih, dan mengajari umat pilihannya baik dengan cobaan-cobaan atau apapun, namun dibalik cobaan tersebut masih ada kasih Allah, yang berupa pengampunan kepada umat pilihan tersebut, atas segala perbuatannya. Oleh karena itu sebagai umat Allah kita harus tetap peka atas segala cobaan-cobaan yang kita alami, karena dibalik cobaan tersebut tentunya terdapat pesan penting yang dapat kita pergunakan dalam kehidupan kita.

4.2.Saran

Saran dalam pembacaan kitab Amos ini ialah janganlah kita melihat kitab Amos ini hanya dari satu sudut pandang, usahakan berpikir secara universal, dan dapat melihat apa yang menjadi pokok penyampaian daripada setiap ayat-ayat tersebut, maka dari berbagai sudut pandang dan pemikiran universal tersebut akan timbul satu buah inti dari pemberitaan tersebut.

            Saran bagi pembaca dan penulis berikutnya hendaklah memperkaya diri dengan buku-buku, sehingga tidak terpaku kepada satu buku saja, sehingga pengetahuan yang didapat akan lebih beragam, dan dengan hal tersebutlah akan menguntungkan bagi penulis dan pembaca dalam mengetahui sosok dari Nabi Amos tersebut.

 


[1] Bernard Thorogood, A Guide to The Book Of Amos, United Society For Christian Literature For The Theological Education Fund, London, 1971, 9.

[2] Darmawijaya, Warta Nabi Abad VIII, Kanisius, Yogyakarta, 1990, hlm. 36.

[3] S. Wismoady Wahono, Disini Kutemukan, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2009, hlm. 158.

[4] B. J. Boland, Tafsiran Alkitab: Kitab Amos, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1997, hlm. 1.

[5] Denis Green, Pengenalan Perjanjian Lama, Gandum Mas, Jawa Timur, 2008, hlm. 190-191

[6] S. Wismoady Wahono, Disini Kutemukan, hlm. 159.

[7] James L. Mays, Amos, SCM  Press Ltd., Great Britain, 1969, 12.

[8] Darmawijaya, Warta Nabi Abad VIII, hlm. 38-40.

[9] S. Wismoady Wahono, Disini Kutemukan, hlm. 160

[10] Darmawijaya, Warta Nabi Abad VIII, hlm. 40-41

[11] W. S. Lasor, Pengantar Perjanjian Lama II, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2009, hlm. 200-201

[12] Bernard Thorogood, A Guide to The Book Of Amos, 11.

[13] Bernard Thorogood, A Guide to The Book Of Amos, 14.

[14] Bernard Thorogood, A Guide to The Book Of Amos, 15-20

[15] B. J. Boland, Tafsiran Alkitab: Kitab Amos, 18-28

[16] Bernard Thorogood, A Guide to The Book Of Amos, 35

[17] J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2009, 131.

[18] B. J. Boland, Tafsiran Alkitab: Kitab Amos, 50

[19] T. C. Witney, B. F. Price, Amos, The Senate of Serampore by The Christian Literature Society, Mysore City, 1956, 50-60.

[20] B. J. Boland, Tafsiran Alkitab: Kitab Amos, 70-81

[21] B. J. Boland, Tafsiran Alkitab: Kitab Amos, 100-102

[22] Jeane Ch. Obadja, Survei Ringkas Perjanjian Lama, Momentum (Momentum Christian Literature), Surabaya, 2004, 158-160

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...