1. Pendahuluan
1.1.Latar
Belakang Masalah
Penulisan kitab Amos ini, ialah
ditujukan untuk pemenuhan tugas Keterampilan Teknik, yaitu pembentukan
penulisan ilmiah. Alasan pengambilan Kitab Amos sebagai judul atas tugas ini
ialah ketertarikan penulis atas sifat Amos yang
berani untuk menyampaikan kabar baik kepada suatu jemaat yang kondisi
spiritualnya sudah rusak, tetapi itu tidak terlihat jelas karena ditutupi oleh
suatu hal yang sangat besar, sehingga jemaat tersebut tidak menyadari bagaiamana
sebenarnya kondisi spiritual mereka, artinya yang mau dikatakan disini,
bagaimana seorang Amos dapat menyampaikan kabar baik yang sifatnya tidak
memuaskan telinga jemaat tersebut, atau dapat dikatakan kabar baik ini ialah
suatu teguran keras.
1.2.Rumusan
Masalah
Apakah
bentuk pemberitaan Amos? Bagaimana Amos menyampaikan suatu teguran Tuhan
atas jemaat Israel Utara yang sudah lari dari kehendak Tuhan? Bagaimanakah
aplikasi pemberitaan Amos bagi para pelayan-pelayan dalam melakukan
pelayanannya?
1.3.Tujuan
Penulisan
Tulisan ini bertujuan diantaranya:
· Mengetahui Amos secara keseluruhan, baik tempat kelahiran, dan tempat pelayanannya.
· Mengetahui panggilan yang dimiliki oleh Amos, dan bentuk panggilannya.
· Mengetahui pembagian kitab Amos.
· Mengetahui pesan yang ingin disampaikan oleh kitab Amos, sebagai bentuk aplikasi kepada para pelayan-pelayan pada masa kini.
· Makna penyelamatan suatu jemaat yang sudah lari dari kehendak Tuhan, dengan menggunakan nabi sebagai perwakilan Tuhan dalam menyampaikan tegurannya.
· Makna dari kasih Tuhan atas umat yang dikasihiNya, namun umat tersebut telah lari dari kehendak dan perintah Tuhan.
1.4.Manfaat
Penulisan
Saya harap tulisan ini dapat bermanfaat
bagi para pembaca dalam mengenal lebih jauh tentang Amoss dan pelayanannya, dan
terutama pesan yang ingin disampaikan oleh nabi Amos dalam pelayanannya.
Dikarenakan ini merupakan tugas keterampilan teknik, maka saya berharap agar
model-model penulisan dan sistematika penulisan dapat dipelajari dari tulisan
ini.
2.
Pembahasan
2.1.Amos
dan Panggilannya
Tidak banyak yang dapat diketahui dari
Amos, selain melalui ktiab Amos sendiri. Amos hidup di sebuah kota kecil di
Yehuda dekat Betlehem, melalui Amos 1:1 dan 7:12, sangat jelas diterangkan
bahwa Amos merupakan seorang gembala dan pemungut buah pohon ara hutan. Sebelum
menjadi nabi bagi orang Israel, Amos hidup didalam kondisi hidup yang
mengharuskan dia untuk bekerja keras untuk dapat hidup, Amos sangatlah jijik
melihat suatu kekayaan, kemalasan, dan ketidak adilan pada suatu kota di Israel
Utara. Kemauannya menjadi sebagai nabi, bukanlah dikarenakan ia berasal dari
keluarga nabi, melainkan karena panggilan Allah atas dirinya.[1]
Panggilan
yang dapat dilukiskan dari kontek pembicaraan Amos, pada tahun 760 SM, dimana
pada waktu itu Amos menyaksikan 5 pristiwa, diantaranya[2]:
a. Amos 7:1-3, musibah Belalang. Musibah berhenti
dikarenakan seruan doa Amos.
b.
Amos
7:4-6, api mengamuk. Musibah yang telah berhenti berkat doa yang dilakukan oleh
Amos.
c.
Amos 7:7-8, tali sipat, dan ancaman
YAHWE yang tidak mau memaafkan.
d.
Amos 8:1-2, bakul berisi buah-buahan
mengisyaratkan suatu akhir.
e.
Amos 9:1-4, kemalangan pada akhirnya
akan terjadi kepada semua orang.
Dari hal tersebut
sebenarnya dapat disimpulkan bahwa akan datangnya musibah alamiah, dimana kedua
musibah tersebut akan berhenti melalui doa Amos, dan juga terdapat ancaman yang
lain dimana adanya ancaman militer yang mengalahkan Israel serta pendudukan Israel
oleh pasukan asing. Maka bentuk pemberitaan Amos disini merupakan suatu ancaman
akan hancurnya kerajaan Israel Utara bersamaan dengan seluruh isi istana raja (Amos 7:7-9), kehancuran tersebut
merupakan akhir dari kerajaan Israel
Utara, dan pembuangan seluruh penduduk negeri.[3]
Hal diatas ini merupakan bagaimana Tuhan memanggil Amos yang bukanlah seperti
nabi-nabi kebanyakan, yang dimana ia merupakan seorang gembala, dimana ia
ditugaskan untuk menyampaikan berita kehancuran atas kerajaan Israel Utara yang
pada saat itu kerajaan Israel Utara sedang mengalami kemajuan ekonomi yang
sifatnya tidaklah sehat pada masa kepemimpinan raja Yerobeam II.
2.2.Zaman
Pembertiaan Amos
Amos hidup
pada masa Israel telah terpecah, dimana Israel Selatan, dan Utara. Israel Selatan
dipimpin oleh Rehabeam dengan teridiri dari suku Yehuda, dan Benyamin, dan
Israel Utara dipimpin oleh Yerobeam, yang terdiri dari 10 suku. Israel Selatan
memiliki ibukota di Yerusalem, dan Israel Utara pada akhirnya semasa
pemerintahan raja Omri menjadi di Samaria.[4] Hal ini menggambarkan bagaimana kondisi Israel yang
pecah menjadi dua buah kubu.
Sedangkan kondisi pada saat
pemberitaan Amos ialah pada saat itu Amos yang merupakan seorang Yehuda,
memberitakan nubuatan amarah Tuhan atas kerajaan Israel Utara, dengan akan
mendatangkan kehancuran kepada Israel Utara tersebut, melalui pelayanannya di
Betel. Israel Utara waktu itu dipimpin oleh Raja Yerobeam II (783-743), dimana
kondisi pada waktu itu sangatlah sejahtera, dan kondisi ekonomi yang sedang
sukses, dimana daerah kerajaannya semakin luas, kerajaan Asyur pada waktu itu
belum mengancam Israel Utara, dan kaum-kaum atas merasakan kenyamanan atas
kemajuan ini, dengan hidup materialisme namun hal ini juga sejalan dengan
kemerosotan nilai-nilai moral dan keagamaan dalam masyarakat tersebut.[5] Sisi negative yang terus berkembang dalam kerajaan
Israel Utara ialah diantaranya keadilan yang telah hancur, orang dapat dengan
mudah melakukan suap untuk dapat mendapatkan sesuatu dalam peradilan[6], ibadah-ibadah yang sebenarnya sudah lari dari yang
seharusnya, ibadah yang sifatnya megah dan meriah, sehingga YAHWE tidak
berkenan hadir dalam ibadah tersebut dikarenakan sikap hati yang tidak bertobat
dan iman yang hidup dan juga ibadah yang dilakukan mereka (Israel Utara) hanya
menjadi suat selebrasi keoptimisan nasional yang mengarah hanya kapada diri
mereka sendiri, yaitu dengan mengidolakan apa yang mereka suka. Peribadatan
mereka atas kemakmuran yang telah mereka dapat, pada akhirnya menjadikan suatu
keuntungan melalui korupsi yang dilakukan di peradilan dan ketidakadilan kepada
orang miskin untuk membiayai segala kehidupan mewah kerajaan dengan ibadahnya,
dan mereka juga berdoa kepada Yahwe agar memberikan lebih lagi dari yang telah
mereka dapat seperti saat ini, namun pada dasarnya dalam Bethel saja mereka
tidak mencari Yahwe . Pada saat itu juga terjadi penjualan orang dikarenakan
uang, dan orang-orang miskin oleh karena sepasang kasut… (Amos 2:6-8).[7]
Atas segala hal kemerosotan ini Amos sangatlah tegas dalam menyampaikan
nubuatannya, ia mengkritik setiap aspek keagamaan, sosial, ekonomi, dengan
sangat tajam, dan dikatakan nubuatan Amos menjadi seperti api bagi Israel
Utara, Amos sangatlah tegas dalam penyampaian nubuatannya atas Israel Utara
dimana perbuatan mereka yang telah tidak sesuai sebagai bangsa pilihan, Amos
juga manambahkan bahwa Israel Utara seharusnya tidaklah berbangga sebagai
bangsa pilihan yang dikasihi, bahwa sebenarnya bangsa Israel tersebut akanlah
dihancurkan, kebaikan Allah pada masa lampau akan lebih memperberat tanggung
jawab mereka kepada masa kini, dan juga Yahwe sangatlah menolak persembahan dan
puji-pujian yang mereka lakukan, dan kemakmuran yang Israel dapat pada waktu
itu ialah sia-sia, karena hubungan dengan Allah juga telah rusak. Namun Amos
bukanlah nabi yang suka menasehati dan menegur agar orang tersebut berubah
secara moral dan etis melainkan Amos menyampaikan suatu tanda penghakiman, sebagai isyarat akan
berakhirnya Israel.[8]
Kecaman-kecaman yang dilakukan oleh
Amos sebagai bentuk nubuatannya, yang memang seorang nabi benar adalah sangat
layak. Dikatakan demikian didasari atas keadaan Israel Utara yang telah
dijelaskan pada paragraph sebelumnya. Dikatakan Nabi benar pada abad ke-8 ini
ialah jika nabi tersebut memberitakan nubuatan-nubuatan yang sifatnya kecaman,
peringatan tajam, sampai kepada kutukan-kutukan. Seorang nabi benar pada abad
ke-8 ini tidaklah pernah memberikan nubuatan-nubuatan yang sifatnya memuji dan
meninggikan bangsa Israel waktu itu, dan bila ada dapatlah ditarik kesimpulan
nabi tersebut merupakan seorang nabi palsu, karena memang haruslah demikian.
Namun dalam nubuat kehancuran
tersebut, masih ada nubuat-nubuat keselamatan yang dapat kita temukan pada
kitab Amos, yang diselipkan oleh redactor pada fasal 4:13, 5:8, 9:5. Ayat ini
mau menunjukkan bahwa YAHWE yang disembah oleh orang Israel, adalah TUHAN yang
sangatlah tegas, dan pengampun, bukan tuhan yang jahat yang mau memusnahkan
bangsa pilihannya. Hal ini menggambarkan bagaimana Tuhan masih menerima
pertobatan atas umatNya, yang mau menyesali perbuatanNya, namun hal tersebut
tidaklah serta merta membuat mereka untuk lepas dari penghukuman yang
seharusnya diterima mereka, artinya bangsa tersebut tetap dihukum tetapi
pengampunan tetaplah didapat oleh bangsa pilihanNya. Dan juga pernyataan bahwa
Ketak-pedulian Allah akan terhadap umatNya, bila kita keluar dari pernyataan
tersebut maka kita akan menemukan suatu pernyataan besarnya perhatian Allah
agar bangsa Israel tetap menjadi milikNya (Amos 3:2). Namun respon dari imam
Amaziah atas nubuatan Amos disini ialah ia mengusir Amos dan menuduhnya
menakut-nakuti masyarakat, dan meminta bayaran yang tinggi, namun pada dasarnya
Amos melakukan hal ini atas dasar sikap patriotism yang tinggi sebagai penduduk
asli Yehuda, dalam mempertahankan diri atas tuduhan itu Amos hanya dapat
kembali kepada wibawa ilahi yang mengutusnya untuk menyampaikan nubuatan ini
kepada bangsa Israel Utara.[9]
2.3.Universalime
Keselamatan dan Monoteisme
Dalam nubuatan-nubuatan para Nabi benar
pada abad ke-8, diantaranya Hosea, dan juga Amos, dapat kita tarik pemikiran
bahwa terdapat penekanan akan adanya Monoteisme Etis, hal ini dapatlah kita
lihat bagaimana Amos menggambarkan Yahwe sebagai penguasa alam semesta
satu-satunya, dan juga dalam nubuatannya ia mengesampingkan dengan keras
ritus-ritus terhadap dewa-dewa pada zaman itu[10],
yang pada dasarnya sedang berkembang sangat gencar pada waktu itu. Amos juga
menegaskan bahwa Yahwe merupakan Allah yang universal, maka dapat dikatakan
Amos menempatkan dasar Tuhan sebagai suatu yang Esa, artinya ia menempatkan
hanya melalui Tuhan sajalah. Pandangan Kaufmann atas hal ini ialah tuntutan
Nabi Amos akan keadilan sosial sebagian besar merupakan suatu pernyataan ulang
atas hukum-hukum perjanjian yang sifatnya kuno, yang tidak hanya ditujukan
kepada individu-individu suatu bangsa, melainkan juga kepada nasib daripada
bangsa tersebut kelak. Pernyataan akan Tuhan sebagai Allah segala bangsa atau
universal, hanya menjadi jembatan atas perjanjian Allah kepada Abraham kepada
setiap umat di bumi, dan pernyataan Allah akan menghukum bangsa-bangsa lain
akan menjembatani bahwa Allah pernah menghukum Mesir dengan dewa-dewa mereka.
Namun hal ini menjadi perdebatan para ahli, dimana ada beberapa para ahli yang
menekankan Amos sebagai pelopor Monoteisme Etis, tetapi ada juga yang
mendasarkannya kepada tradisi perjanjian (pandangan Kaufmann).[11]
Memang
tidak menjadi perhatian pokok daripada Amos atas Universalisme dan Monoteisme
Etis, tapi hal ini dapatlah kita lihat dari Amos 1-2, bagaimana tersirat Yahwe
bertindak sebagai hakim bangsa-bangsa asing, tentunya Israel termasuk
didalamnya, dikarenakan mereka merupaka suatu bangsa pilihan, Amos meyakini
Allah dengan bangsa Israel terikat, dalam artian Allah dengan bangsa Israel
disatukan dengan sebuah perjanjian yang telah dibuat dahulunya dengan Musa di gunung Sinai, saat exodus dari bangsa
Israel dari tanah Mesir (Amos 3:1-2)[12], sehingga
bila bangsa-bangsa dihukum oleh Yahwe, maka sebagai bangsa terpilih Israel
haruslah ikut bertanggung jawab akan hal tersebut. Sedangkan dalam Amos 9:7
Yahwe digambarkan sebagai Allah yang tidak hanya memberikan keselamatan kepada
bangsa Israel saja, melainkan kepada bangsa lain juga, oleh karena itu
keselamatan yang daripada Allah sendiri sifatnya universal, dan bukan hanya
bangsa pilihan saja yang mendapatkan keselamatan ini, melainkan seluruh bangsa,
sampai kepada saat sekarang ini.
2.4.Pembagian
Kitab Amos
Kitab Amos ini disusun dengan tujuan
tertentu, dimana pembagiannya ialah sebagai berikut:
Amos 1:1,2 Berisikan judul, tentang pribadi Amos,
pekerjaan sehari-hari Amos, kapan kelahiran daripada Amos sendiri. Raja yang
berkuasa di saat Amos hidup juga dijelaskan, perkataan “Dua tahun sebelum gempa
bumi” hal ini tidak dapat ditemukan pada saat gempa bumi itu terjadi, namun
kita sulit untuk mengetaui kapan gempa tersebut terjadi.[13]
Amos
1:3-2:16 Nubuatan penghukuman dari pada
Allah. Penghukuman ini terbagi lagi yaitu kepada Damaskus (Syria) pada pasal
1:3-5 bagaimana penghukuman atas Syria, yang telah dikalahkan dalam peperangan
dengan Asyur, yang dimana waktu itu Tiglath Pileser menguasai Damaskus. 1:6-10
Philistine yang merupakan musuh bangsa Israel, dan Phoenica putus hubungan
dengan Israel. Kemudian pada 1:11, 12 tentang Edom,
1:13-15 tentang Ammon, kemudian 1:14 tentang badai, berupa angin puting
beliung. 2:1-3 menceritakan tentang Moab.[14]
Amos 2:4-16 Memuat akan penghukuman kepada Israel, yang pada pasal 2:4-5
berisikan penghukuman atas Yehuda yang menolak hukum Tuhan, atau tidak
berpegang kepada ketetapan-ketetapan-Nya, sehingga penghancuran akan Yehuda
akan terjadi, tetapi tidak melalui Asyur yang merupakan penghancur Yerusalem,
melainkan melalui Nebukadnezar, raja Babilonia, yang menyerang ratusan tahun
kemudian. Bagian yang lain ialah 2:6-16, dimana berisikan penghukuman atas
Israel, Amos menyampaikan nubuatan ini dengan bahasa yang keras, dalam arti
tajam, dan dalam bagian ini Amos menggambarkannya dengan menggunakan istilah
orang berdosa.[15]
Amos 3:1-15 Pada bagian ini berisikan bagaimana tanggung jawab Bangsa
Israel sebagai bangsa pilihan, dimana Amos mencoba untuk meyakinkan kepada
bangsa Israel bahwa apa yang telah mereka lakukan ini ialah menyakiti hati
Tuhan, dan bila tetap mereka melakukan hal ini mereka akan mendapatkan
konsekuensi yang setimpal atas kelakuan mereka.[16]
Sebenarnya bila disadari, bagian ini berisi tentang runtuhnya Israel, dan
penyangkalan yang dilakukan oleh Amos atas segala tindakan peribadatan yang
palsu yang terjadi di Bethel, dan dikatakan Israel akan runtuh bersamaan dengan
dewa-dewa tersebut.
Amos 4:1-13 Berisikan akan perempuan Samaria yang mabuk akan kemewahan[17],
yang digambarkan oleh Amos dengan sebutan “lembu-lembu basan yang ada di gunung
Samaria”, mereka inilah yang mendesak kaum lelaki untuk melakukan korupsi yang
mengakibatkan suatu penindasan dan ketidak adilan kepada orang-orang miskin,
ibadat yang dilakukan oleh bangsa Israel merupakan suatu ibadah yang jahat yang
memilukan hati Tuhan, mereka tetap berpegang kepada Allah telah menolong bangsa
pilihanNya itu dan akan tetap menolongNya, dimana Amos menentang pemahaman ini,
dimana Amos mengemukakan kepada bangsa Israel tersebut bahwa bencana-bencana
juga merupakan berasal dari Allah, artinya, Allah tidak hanya memberikan
sesuatu yang menggembirakan, ataupun menyenangkan, melainkan juga suatu
pencobaan, penghinaan, kesengsaraan, dan bahkan malapetaka, dan dari setiap
kejadian-kejadian itu, menjadi suatu pesan yang mengingatkan kita akan apa yang
seharusnya kita lakukan.[18]
Amos 5:1-27 Dalam pasal ini terbagi menjadi delapan pokok bahasan,
diantaranya: pertama ayat 1-3 berisikan bagaimana keluh kesah Amos atas Israel
yang telah sangat jatuh kepada dunia ini, dan juga kejatuhan daripada Israel
yang kuat dan Negara yang independen, yang jatuh di tangan Asyur. Kedua ayat
4-6, bagian ini berisikan Israel
yang hanya mencari tempat-tempat beribadat, seperti di Bethel dan Gilgal, namun
mereka sebenarnya tidak mencari pokok dari peribadatan itu sendiri yaitu Yahwe.
Ketiga pada ayat 8 dan 9, berisikan kidung pujian yang kedua. Keempat ayat 7
dan 10-13, dimana berisikan penindasan terhadap kaum yang lemah, pada bagian
ini sangatlah dekat artinya dengan suatu kesengsaraan yang dialami oleh bangsa
Israel yang lemah, yang ditindas oleh kaum raja-raja. Kelima ayat 14 dan 15,
berisikan suatu hukuman daripada Allah tidak langsung turun kepada orang
berdosa itu melainkan Allah masih memberikan kesempatan kepada orang yang
berdosa itu untuk dapat keluar dari penghukuman Allah itu. Keenam ayat 16 dan
17, berisikan rahmat Allah atas umatNya, dimana waktu pengorbanan telah berlalu
kepada seluruh orang, hanya orang yang sisa yang dapat selamat, dan orang yang
menyesal akan selamat pada waktunya. Ketujuh ayat 18-20, berisikan hari Tuhan,
dimana hari Tuhan dalam Yahudi merupakan hari yang panjang atas kedatangan
kerajaan Allah, dan orang-orang kristen mula-mula yang kembali kepada kristus,
sehingga Amos mengingatkan bangsa Israel untuk melihat kedepan akan hari Tuhan.
Kedelapan ayat 21-27, berisikan pengaduan upacara-upacara pemujaan korban.[19]
Amos 6:1-14 Pada pasal ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu ayat 1-7,
lalu 8-10, lalu kemudian 11-14. Ketiga bagian tersebut membahas akan kecaman
Amos atas suatu ketentraman yang palsu, dimana orang-orang Israel yang kaya raya
dan makmur, sebenarnya didapat dari penindasan yang dilakukan kepada rakyat
yang lemah, sehingga ada suatu keutungan sepihak atau berat sebelah, dan dengan
kehidupan yang berfoya-foya ini orang-orang kaya tersebut tidak mempedulikan
lagi kehidupan disekitarnya seperti gejala-gejala yang terjadi yang menjadi
pertanda bahwa keruntuhan didalam negaranya akan segera terjadi, dan mereka
mempercepat keruntuhan tersebut dengan perbuatan jahat yang mereka lakukan.[20]
Amos 7:1-17 Pada pasal ini berisikan penglihatan-penglihatan yang dialami
oleh Amos, dimana pada ayat 1-3 berisikan penglihatan belalang, ayat 4-6
berisikan atas penglihatan api, ayat 7-9 berisikan penglihatan tali sipat,
kemudian pada ayat 10-17 berisikan bagaimana Amos diusir, dimana Amos berjuang terhadap
Amazia di Bethel mengingatkan kita sebagai pembaca akan perjuangan Elia
terhadap imam-imam baal di gunung Karmel.
Amos 8:1-14 Pada pasal ini dibagi menjadi pada ayat 1-3 berisikan Bakul
dengan buah-buahan, lalu kemudian pada ayat 4-8 memuat peringatan Amos terhadap
orang yang menghisap sesamanya, perkataan ini ditujukan kepada para
saudagar-saudagar yang ada pada kaum Israel. Ayat 9-10 berisikan akan gerhana
matahari dan ratapan, bagian ini dikatakan sebagai sambungan dari Amos 5:18-20,
yang berbicara akan hari Tuhan yang merupakan hari kegelapan dan bukanlah
terang, namun yang ditekankan di ayat 9-10 ini ialah kegelapan, sehingga
kegelapan tersebut digambarkan dengan gelapnya kegelapan itu nantinya.[21]
Kemudian pada ayat 11-14 berbicara akan dua hal yang harus dilepas dalam
pembacaan dan penafsirannya secara masing-masing, dimana pada bagian pertama
berbicara akan penolakan Amos, yang berarti dapat dikatakan orang Israel
menolak akan Tuhan itu sendiri, pemahaman yang kedua ialah bagaimana Amos
mengecam peribadatan yang dilakukan orang Israel, dan kemudian orang Israel
dikecam perbuatannya dengan kematian angkatan mudanya, karena dosa pada
peribadatan.
Amos9:1-15 Berisikan penglihatan Amos yang kelima, yaitu pada ayat 1-6,
dimana Tuhan dekat Mezbah, yang mau dijelaskan dengan tegas ialah tidak ada satupun
jalan yang dapat ditempuh oleh manusia agar ia dapat luput dari penghukuman
yang telah ditentukan oleh Allah. Pada ayat 7-10 berisikan bagaimana bangsa
Israel tersebut yang merupakan bangsa pilihan Allah juga ditolak oleh Allah.
Pada ayat 11-15 berisikan akan suatu janji keselamatan, dimana hal ini
sangatlah berlainan bila kita membandingkan dengan ayat-ayat sebelumnya, disini
Allah berubah seolah-olah ada matahari yang mengusir kegelapan yang menimpa
bangsa Israel tersebut, artinya yang mau dikatakan disini ialah bagaimana Allah
yang masih menyayangi umatnya yang mau bertobat, atau Allah masih menyediakan
pengampunan bagi umatnya.
2.5.Ayat
Kunci Kitab Amos
Yang menjadi focus dalam memahami kitab
Amos ini ialah terdapat dalam pasal 9, dimana bertumpu pada pemulihan Allah
terhadap bangsa Israel, dikala nubuatan-nubuatan Amos yang tajam dan keras akan
perilaku Israel yang telah menyimpang dari kehendak Tuhan, ternyata masih terdapat
suatu keselamatan, yang konteksnya hanya ada dalam lima buah ayat, yang
menjadikan masa depan suatu bangsa pilihan tersebut menjadi jelas, dan lebih
konkret. Ayat penting yang dapat menjadi pegangan kita kemudian dalam kitab
Amos ini ialah diantaranya Amos 3:1-2, kemudian Amos 4:11-12, kemudian Amos
8:11-12. [22]
3.
Refleksi
Amos yang dalam tulisan ini telah
digambarkan sebagai seorang pelayan yang menyampaikan kabar yang sangat tidak
menyenangkan bagi Israel Utara akan kehancuran dan kebinasaan negeri itu, yang
faktanya bangsa tersebut sedang mengalami kondisi yang makmur, dan dapat
memenangkan peperangan-peperangan yang pada akhirnya telah memperluas daerah
kekuasaan mereka. Sebenarnya nubuatan-nubuatan yang diberikan Amos ini dapat
menjadi boomerang dan peringatan kepada suatu bangsa yang sedang mengalami
kemajuan. Refleksi yang dapat diambil dari Nabi Amos ini ialah bagaimana
seorang pelayan dapat menyampaikan suatu kabar, baik itu yang menyenangkan
ataupun yang memilukan kepada suatu bangsa, karena pada dasarnya Tuhan tidak
hanya memberikan terang kepada manusia, tetapi juga gelap. Artinya disini ialah
seorang pelayan diharapkan dapat menyampaikan suatu nubuatan secara baik dan
benar tanpa harus takut akan apa yang ia dapatkan bila menyampaikan nubuatan-nubuatan
ini. Walaupun dari penyampaian nubuatan tersebut akan ada kelompok-kelompok
atau individu-individu yang dirugikan atau disinggung disitu, tetapi seharusnya
seorang pelayan kembali kepada panggilannya, bahwa ia dipanggil oleh Tuhan
untuk menyampaikan nubuatan tersebut, persoalan diterima ataupun ditolak nubuat
tersebut, kembali kepada bangsa itu sendir, apakah bangsa itu mau menerima atau
menolak suatu perintah Tuhan. Pelayan-pelayan saat ini terkadang takut untuk
menyampaikan apa yang baik dan apa yang tidak baik, dikarenakan adanya rasa
saling membutuhkan ataupun takut posisinya terusik, oleh karena itu seorang
pelayan haruslah yakin dan percaya bila ia menyampaikan kabar yang dari pada
Tuhan saja, berarti ia telah menjadi penyambung lidah Tuhan yang baik, dan
tentunya didalam setiap nubuatan-nubuatan Tuhan kepada manusia pastinya
mengandung suatu nilai positif kepada manusia tersebut, tergantung manusia
tersebut mau atau tidaknya menerima dan melakukan nubuatan tersebut.
Bila kita hanya memandang sebelah mata terhadap kitab ini, pasti yang akan muncul ialah Tuhan yang jahat dan kejam, yang menghukum bangsa pilihannya, namun sebenarnya terdapat ayat-ayat yang disisipkan yang menjadi pokok atau inti daripada nubuatan tersebut. Dimana sebenarnya Tuhan tetap menyediakan suatu keselamatan kepada manusia itu sendiri, Tuhan tidak pernah memberikan pencobaan kepada manusia tanpa adanya pertolongan dan keselamatan ketika manusia tersebut bertobat dan menyesali perbuatannya. Artinya disini ialah Tuhan merupakan Allah yang tegas, ia tetap menghukum umat pilihannya ketika mereka melakukan kesalahan, tetapi kasihnya tetap ada didalam umat tersebut, karena kasih Tuhan tidak ada bandingannya, oleh karena itu setiap manusia harusnya menyadari betul bahwa Tuhan merupakan Allah yang maha pengasih dan penyayang, yang tidak pernah meninggalkan manusia tersebut sendiri, dan Tuhan tetap menjanjikan suatu keselamatan kepada umat manusia itu, dan keselamatan Allah itu universal, tidak hanya kepada bangsa Israel pada zaman dahulu, melainkan juga pada kita di zaman ini.
4.
Kesimpulan
dan Saran
4.1.Kesimpulan
Kesimpulan
yang dapat ditarik dari tulisan kitab Amos ini ialah Amos merupakan seorang
petani yang terpanggil untuk menjadi nabi, yang diminta untuk menyampaikan
suatu nubuatan kehancuran bangsa lain yang kondisinya sedang naik daun, atau
sedang sukses, dan Amos tetap melakukannya dan menyampaikan nubuatan yang tajam
tersebut dikarenakan memang benar dibalik kemajuan yang dialami oleh bangsa
tersebut terdapat suatu masalah besar baik dalam keadilan, dan peribadatan
daerah tersebut. Namun dari penelusuran kitab ini kita dapat mengetahui lebih
jelas bahwa Tuhan merupakan Tuhan yang pengasih, dan mengajari umat pilihannya
baik dengan cobaan-cobaan atau apapun, namun dibalik cobaan tersebut masih ada
kasih Allah, yang berupa pengampunan kepada umat pilihan tersebut, atas segala
perbuatannya. Oleh karena itu sebagai umat Allah kita harus tetap peka atas
segala cobaan-cobaan yang kita alami, karena dibalik cobaan tersebut tentunya
terdapat pesan penting yang dapat kita pergunakan dalam kehidupan kita.
4.2.Saran
Saran
dalam pembacaan kitab Amos ini ialah janganlah kita melihat kitab Amos ini
hanya dari satu sudut pandang, usahakan berpikir secara universal, dan dapat
melihat apa yang menjadi pokok penyampaian daripada setiap ayat-ayat tersebut,
maka dari berbagai sudut pandang dan pemikiran universal tersebut akan timbul
satu buah inti dari pemberitaan tersebut.
Saran bagi pembaca dan penulis
berikutnya hendaklah memperkaya diri dengan buku-buku, sehingga tidak terpaku
kepada satu buku saja, sehingga pengetahuan yang didapat akan lebih beragam,
dan dengan hal tersebutlah akan menguntungkan bagi penulis dan pembaca dalam
mengetahui sosok dari Nabi Amos tersebut.
[1] Bernard Thorogood, A Guide to
The Book Of Amos, United Society For Christian Literature For The
Theological Education Fund, London, 1971, 9.
[2] Darmawijaya, Warta Nabi Abad VIII, Kanisius, Yogyakarta, 1990,
hlm. 36.
[3] S. Wismoady Wahono, Disini Kutemukan, BPK Gunung Mulia, Jakarta,
2009, hlm. 158.
[4] B.
J. Boland, Tafsiran Alkitab: Kitab Amos, BPK Gunung Mulia, Jakarta,
1997, hlm. 1.
[5]
Denis Green, Pengenalan Perjanjian Lama, Gandum Mas, Jawa Timur, 2008,
hlm. 190-191
[6] S. Wismoady Wahono, Disini
Kutemukan, hlm. 159.
[7]
James L. Mays, Amos, SCM Press
Ltd., Great Britain, 1969, 12.
[8] Darmawijaya, Warta Nabi Abad
VIII, hlm. 38-40.
[9] S. Wismoady Wahono, Disini
Kutemukan, hlm. 160
[10] Darmawijaya, Warta Nabi Abad
VIII, hlm. 40-41
[11] W. S. Lasor, Pengantar
Perjanjian Lama II, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2009, hlm. 200-201
[12] Bernard Thorogood, A Guide to
The Book Of Amos, 11.
[13] Bernard Thorogood, A Guide to
The Book Of Amos, 14.
[14] Bernard Thorogood, A Guide to
The Book Of Amos, 15-20
[15] B. J. Boland, Tafsiran
Alkitab: Kitab Amos, 18-28
[16] Bernard Thorogood, A Guide to
The Book Of Amos, 35
[17] J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian
Lama, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2009, 131.
[18] B. J. Boland, Tafsiran
Alkitab: Kitab Amos, 50
[19]
T. C. Witney, B. F. Price, Amos, The Senate of Serampore by The
Christian Literature Society, Mysore City, 1956, 50-60.
[20] B. J. Boland, Tafsiran Alkitab:
Kitab Amos, 70-81
[21] B. J. Boland, Tafsiran
Alkitab: Kitab Amos, 100-102
[22]
Jeane Ch. Obadja, Survei Ringkas Perjanjian Lama, Momentum (Momentum
Christian Literature), Surabaya, 2004, 158-160
Tidak ada komentar:
Posting Komentar