Selasa, 25 Juli 2023

Teologi Pembebasan (Gustavo Gutierez)

Gustavo Gutierrez terkenal sebagai teolog pembebasan. Pengalaman tinggal bersama orang-orang kecil yang tertindas mendorongnya untuk melakukan kontekstualisasi dalam berteologi.Karier pelayanan Gutierrez diawali dengan melayani jemaat yang miskin di Lima dan mengajar teologi serta ilmu-ilmu sosialdi Universitas Katolik di sana. Namun, sejak kembali ke Peru, Gutierrezberhadapan kembali dengan realita kemiskinan dan penderitaanmasyarakat di sana. Ia merasa bahwa teologi yang dipelajarinya di Eropa“kurang cocok” untuk situasi gereja dan masyarakat di mana ia melayani.Karena itu, ia berusaha menemukan teologi yang tepat dan relevan ditengah-tengah situasi yang sedemikian.Hal lain yang memprihatinkanGutierrez adalah sikap dan tindakan Gereja Katolik sebagai gereja yangmemiliki kekuasaan yang sangat besar di banyak negara. Dengankekuasaannya ini, Gutierrez melihat bahwa Gereja Katolik tidak “netral”di dalam keterlibatannya dalam kancah sosial-politik tetapi lebihberpihak pada sisi penindas.Gutierrez mendapat pengaruh dari seorang Revolusione ArgentinaChe Guevara yang menganut paham Marxisme. Teologi Pembebasan adalah suatu pemikiran teologis yang munculdi Amerika Latin dan negara-negara dunia ketiga yang lain, sekaligusmerupakan suatu pendekatan baru yang radikal terhadap tugas teologidimana titik tolaknya mengacu pada pengalaman kaum miskin danperjuangan mereka untuk kebebasan, di mana Allah juga hadir di dalamnya.Jadi, teologi menurut Gutierrez, bukanlah suatu “teori yangtransenden” yang tanpa praksis, tetapi adalah suatu refleksikritikal, dimana teologi dapat menjawab tantangan zaman dengansegala permasalahan sosialnya. Teologi Kristen bukan hanya mencariotensitas dasar iman Kristiani, tetapi haruslah memiliki praksis sebagaiwujud konkret penghayatan iman.Dari penjelasan di atas, Teologi Pembebasan dapat dirumuskan secara singkat sebagai upaya-upaya untuk merealisasikan pengajaranAlkitab mengenai pembebasan ke dalam praksis, suatu teologi yangmemerhatikan situasi dan penderitaan orang miskin. “Keadilan sosialdan solidaritas” dengan orang miskin dianggap sebagai bagian utamaamanat misi gereja. Konsep-konsep di dalam Teologi Pembebasan tidak langsungmuncul dalam waktu seketika dan pergerakan teologi ini tidak terjadibegitu saja, tetapi ada penyebab-penyebab yang menjadi akar munculnyaTeologi Pembebasan.

 Menurut Gutierrez pendekatan teologi Barat yang dia pelajari tidak dapat diaplikasikan dalam situasi masyarakat di Amerika Latin. Menurut dia, butuh pendekatan khas untuk berteologi dalam situasi yang sangat memprihatinkan di Amerika Latin waktu itu. Namun, teologi pembebasan tidak selalu mendapat dukungan dari pihak Gereja sendiri. Di Amerika Latin sempat terjadi perpecahan antara kelompok yang menyatakan bahwa “Gereja harus netral terhadap pilihan politik” dengan para teolog pembebasan. Perlawanan yang muncul terhadap teologi pembebasan tidak lain menunjukkan betapa Gereja waktu itu berada dalam ketakutan terhadap suatu kekuatan politik yang menindas. Pendapat Gutierrez benar bahwa Gereja dari dulu sampai sekarang banyak berhubungan dan bersahabat dengan mereka yang mengendalikan ekonomi dan politik. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Gereja berada di pihak golongan penindas. Memang, sekarang kondisinya sudah agak berubah, yakni ketika muncul kelompok pembaharuan dalam Gereja, khususnya para penegak teologi pembebasan.

Karya terobosan Gutiérrez, A Theology of Liberation: History, Politics, Salvation (1971) (“Suatu Teologi Pembebasan: Sejarah, Politik, Keselamatan”), menjelaskan pemahamannya tentang kemiskinan Kristen sebagai suatu tindakan solidaritas penuh cinta kasih dengan kaum miskin maupun sebagai protes pembebasan melawan kemiskinan.Menurut Gutiérrez, “pembebasan” sejati mempunyai tiga dimensi utama: Pertama, ia mencakup pembebasan politik dan sosial, penghapusan hal-hal yang langsung menyebabkan kemiskinan dan ketidakadilan.Kedua, pembebasan mencakup emansipasi kaum miskin, kaum marjinal, mereka yang terinjak-injak dan tertindas dari “segala sesuatu yang membatasi kemampuan mereka untuk mengembangkan diri dengan bebas dan dengan bermartabat”.Ketiga, teologi pembebasan mencakup pembebasan dari egoisme dan dosa, pembentukan kembali hubungan dengan Allah dan dengan orang-orang lain.

Teologi pembebasan dan Gutiérrez telah berulang kali diperiksa secara cermat oleh Paus. Bukunya. A Theology of Liberation: History, Politics, Salvation dibahas oleh Kardinal(saat itu) Ratzinger dan ditemukan mengandung banyak gagasan yang dianggap mengganggu.Pada September 1984, sekelompok uskup Peru dipanggil ke Roma untuk mendengar langsung kecaman terhadap Gutiérrez dari Vatikan, namun para uskup itu tetap mendukung Gutiérrez.Meskipun Gutiérrez sendiri tidak dikenai sanksi, banyak teolog pembebasan lainnya mendapatkan sanksi kepausan. Karena hubungan antara para pengikut teologi pembebasan dan kelompok-kelompok komunis seperti Sandinista (umumnya karena orang-orang miskin dilihat sebagai calon potensial pemberontak komunis) banyak imam yang berpikiran pembebasan dibunuh di negara-negara Amerika Selatan pada tahun 1980-an, yang paling terkenal di antaranya adalah Uskup Agung Oscar Romero. setelah menafsirkan pesan-pesan dalam Alkitab berdasarkan tindakan Yesus yang membela dan menolong orang-orang lemah, sakit, dan tertindas, maka peran agama juga seharusnya demikian. Dalam agama Kristen sendiri, hal ini menjadi tanggung jawab gereja sebagai lembaga agama yang memiliki pengaruh, baik kepada jemaatnya, masyarakat di mana dia tinggal, maupun kepada pemerintahannya. nilai-nilai yang muncul itu biasanya dilihat dari perikemanusiaan dan perikeadilan. Pelanggaran nilai-nilai ini di sejumlah negara telah membangkitkan keprihatinan di kalangan aktivis Teologi Pembebasan. Nilai-nilai yang didapat dari tafsir Kitab Sucinya masing-masing. Sebagai contoh, Umat Kristen dengan ajaran Kristologi yang menafsirkan bahwa Kristus (Tuhan) adalah seorang yang hadir dalam situasi karut marut dan membawa pembebasan bagi rakyat kecil dan tertindas. Dari dasar inilah, maka orang Kristen mengikuti teladan Yesus dan menentang ketidakadilan. Mereka merasa mendapat tugas untuk meneruskan perjuangan Tuhan yang disembahnya.

Teologi pembebasan lahir sebagai respons terhadap situasi ekonomi dan politik yang dinilai menyengsarakan rakyat. Masalah-masalah itu dijabarkan dalam penindasan, rasisme, kemiskinan, penjajahan, bias ideologi dsb. Pada kalangan Jesuit, baik di Asia termasuk Indonesia, Brazil , Amerika Latin, dan Afrika Selatan Teologi ini berkembang pesat sebagai dampak dari hermeneutika Alkitab secara kontekstual untuk menjawab persoalan yang dihadapi umat manusia. Teologi Pembebasan merupakan refleksi bersama suatu komunitas terhadap suatu persoalan sosial. karena itu masyarakat terlibat dalam perenungan-perenungan keagamaan. Mereka mempertanyakan seperti apa tanggung jawab agama dan apa yang harus dilakukan agama dalam konteks pemiskinan struktural. Teologi Pembebasan muncul pada abad ke-20 seiring banyaknya permasalahan dunia yang sedang tidak merdeka dinilai dari sudut pandang keadilan sebagai manusia yang sama di hadapan Tuhan. Dunia harus merdeka dari tindakan yang menindas sesamanya, bahkan seharusnya yang kaya dan memiliki jabatan harus membela dan memperhatikan kebutuhan rakyat kecil dan miskin. Kemunculan pertamanya di Eropa yang berkonsentrasi pada persoalan globalisasi, berprihatin pada dosa sosial yang terdapat pada sistem pemerintahan sebuah negara. Teologi Pembebasan menawarkan sistem sosial yang mengedepankan keadilan sebagai warga negara dan warga dunia dalam pandangan agama (manusia yang adil, tidak tertindas)yang dirusak oleh manusia sendiri. Sementara itu, teologi pembebasan yang lahir di Amerika Latin berfokus pada gerakan perlawanan yang kebanyakan dilakukan oleh para agamawan terhadap kekuasaan yang hegemoni dan otoriter. Pemikiran teologi pembebasan bermula dari Hermeneutika Alkitab.

Bagi Gutierrez ada tiga cara berteologi. Pertama, teologi sebagai sumber hidup rohani. Kedua, teologi sebagai pengetahuan rasional. Ketiga, teologi sebagai refleksi kritis dalam terang Sabda Allah atas praksis hidup orang Kristen. Gutierrez menekankan fungsi yang ketiga, meskipun fungsi ini tidak dapat dipisahkan dari kedua fungsi lainnya. Maka, teologi pembebasan Gutierrez adalah refleksi kritis dalam terang Sabda Allah atas praktis hidup orang Kristen, yang ikut melibatkan diri dalam usaha pembebasan.  Motivasi dasarnya adalah keyakinan bahwa masyarakat yang tidak adil sama sekali tidak sesuai dengan tuntutan injil. Mereka merasa tidak pantas disebut orang Kristen jika tidak ikut berjuang melakukan pembebasan, meskipun kesadaran ini masih dalam taraf intuisi serta meraba-raba. Tugas teologi adalah menunjukkan dengan jelas hubungan antara iman dan perjuangan pembebasan. Namun, bukan berarti bahwa refleksi teologi dimaksudkan sebagai iustifikasi praksis yang sudah ada. Sebaliknya, refleksi teologi, menurut Gutierrez, harus menunjukkan nilai positif dan nilai negatif yang ada dalam praksis pembebasan. Bahkan, dari refleksi teologi diharapkan ada koreksi-koreksi atas kesalahan-kesalahan yang mungkin ada, misalnya ada aspek hidup Kristen yang dilupakan karena orang terlalu tergesa-gesa mengambil tindakan politik. Inilah yang dimaksud dengan teologi sebagai refleksi kritis. Teologi pembebasan Gutierrez dapat dikatakan bukan hanya bersifat orthodoxy (memantapkan ajaran) dan bukan pula hanya orthopraxis (menuntut dijalankan dalam tindakan mendunia dan menuju Allah), tetapi bersifat heteropraxis yakni orthodoxy sejauh bersumber pada orthopraxis (rumusan ajaran sejauh berpangkal dari pengalaman konkret dan kembali secara baru kepada tindakan yang dituntut oleh rumusan ajaran tersebut).Gutierrez melihat bahwa orang Kristen yang ikut melibatkan diri dalam usaha pembebasan telah yakin, meski secara samar-samar dan intuitif, keterlibatannya merupakan tuntutan iman. Itu berarti bahwa refleksi teologi atas praksis pembebasan diharapkan memperjelas hubungan antara iman dan praksis pembebasan. Refleksi teologi diharapkan menjawab soal hubungan antara iman dan eksistensi manusia, soal-soal sosial, aksi politik atau hubungan antara Kerajaan Allah dan bangunan dunia. Ringkasnya, bagaimana hubungan antara iman dan penciptaan manusia baru yang merupakan tujuan perjuangan pembebasan. Memahami kembali iman berarti mengajak orang untuk kembali memahami misi Gereja di dunia ini.

Teologi Pembebasan adalah suatu pemikiran teologis yang muncul di Amerika Latin dan negara-negara dunia ketiga yang lain, sekaligusmerupakan suatu pendekatan baru yang radikal terhadap tugas teologidimana titik tolaknya mengacu pada pengalaman kaum miskin danperjuangan mereka untuk kebebasan, di mana Allah juga hadir di dalamnya.Jadi, teologi menurut Gutierrez, bukanlah suatu “teori yangtransenden” yang tanpa praksis, tetapi adalah suatu refleksikritikal, dimana teologi dapat menjawab tantangan zaman dengansegala permasalahan sosialnya. Teologi Kristen bukan hanya mencariotensitas dasar iman Kristiani, tetapi haruslah memiliki praksis sebagaiwujud konkret penghayatan iman.Dari penjelasan di atas, Teologi Pembebasan dapat dirumuskansecara singkat sebagai upaya-upaya untuk merealisasikan pengajaranAlkitab mengenai pembebasan ke dalam praksis, suatu teologi yangmemerhatikan situasi dan penderitaan orang miskin. “Keadilan sosialdan solidaritas” dengan orang miskin dianggap sebagai bagian utamaamanat misi gereja. Konsep-konsep di dalam Teologi Pembebasan tidak langsungmuncul dalam waktu seketika dan pergerakan teologi ini tidak terjadibegitu saja, tetapi ada penyebab-penyebab yang menjadi akar munculnyaTeologi Pembebasan.

Pertama, pada abad ke-16, seorang uskup berdarah Spanyol,Bartolome de Las Casas, mengadakan perjuangan untuk membela kaumIndian yang menjadi korban penindasan orang-orang Spanyol.Pembelaannya begitu gigih dan mengesankan sehingga para peloporTeologi Pembebasan belakangan memandangnya sebagai “Musa TeologiPembebasan Amerika Latin.” Las Casas memiliki pengaruh yang amatmendalam terhadap Gutierrez dan amat mewarnai pandangan-pandangan teologisnya. Kedua, munculnya peristiwa-peristiwa dan gerakan-gerakanreligius serta sekuler pada pertengahan abad ke-20, seperti TeologiPolitik di Eropa dan Teologi Radikal di Amerika Utara yang dicetuskanoleh J. B. Metz, Jurgen Moltmann dan Harvey Cox. Dalam gagasanteologinya, Metz telah meletakkan beberapa dasar pemikiran yang kelak menjadi metode bagi Teologi Pembebasan, khususnya pada perananpolitik praksis sebagai titik tolak refleksi teologis. Ketiga, kemudian muncul apa yang disebut sebagai konferensi paraUskup Amerika Latin (CELAM II) yang menghasilkan dokumenMedellin (1968), yang inti perumusannya berbunyi: “Demi panggilannya,Amerika Latin akan melaksanakan kebebasannya apapun pengorbananyang diberikan. Perintah Tuhan yang jelas untuk menginjili orang-orangmiskin harus membawa kita kepada distribusi sumber-sumber danpersonil apostolis yang secara efektif memberikan pilihan kepada yangpaling miskin dan sektor-sektor yang paling membutuhkan. 

Keempat, situasi konkret di Amerika Latin. Negara-negara diAmerika Latin telah menjadi korban kolonialisme, imperialisme dankerja sama multinasional. Hal ini terjadi karena adanya ketergantungan ekonomis negara-negara Amerika Latin kepada Amerika Serikat(khususnya), yang pada akhirnya banyak merugikan kepentinganAmerika Latin sehingga menimbulkan keresahan-keresahan sosial. Dampak Teologi Pembebasan meluas ke benua lain dengan bangkitnyaTeologi Pembebasan di Asia, tentu tidak dapat dilepaskan denganTeologi Pembebasan yang lahir terlebih dahulu di Amerika Latin. Banyakteolog Asia, membangun Teologi Pembebasannyadengan mengambilreferensi dari Teologi Pembebasan asal Amerika Latin. Dengan kata lain,semangat para teolog Amerika Latin telah membangkitkan kesadaranpara teolog Asia untuk menanggalkan pakaian lama teologi asal Barat,dan mengenakan pakaian teologi asal Asia yang harus berurusan denganpersoalan kemiskinan.

Konsep atau Metode Teologi Pembebasan yaitu Pertama,Teologi Pembebasan bertitik tolak dari situasi Amerika Latin.Teologi haruslah secara intrinsik dihubungkan dengan situasi, budaya,dan sosial yang khusus. Apa yang berkembang di suatu tempat, tidakdapat dipaksakan di tempat yang lain, seperti halnya teologi di AmerikaLatin yang muncul dari kenyataan-kenyataan sosio politiknya yang unik jelas tidak dapat diterapkan secara “sama persis” di tempat yang lain.  Jadi menurut teolog pembebasan, teologi tidaklah terpisah dari kontekssosial dan kultural di mana teologi itu berlangsung, atau situasi hidupdari masyarakat yang menjadi objek dari teologi itu sendiri. Atau dengankata lain, Teologi Pembebasan tidak dilihat sebagai “teologi universal”tetapi teologi haruslah bersifat kontekstual yaitu terjadi dan berlakupada tempat dan waktu yang khusus dan tertentu, tidak secara universalataupun dijadikan patokan secara umum. Kedua,teologi sebagai refleksi kritis di dalam komunitas. MenurutGutierrez, teologi haruslah keluar dari kehidupan iman yang berusaha“menjadi otentik dan sempurna”. Karena justru kekristenan dapatmenjadi otentik dan sempurna ketika ia memihak orang miskin danmelibatkan diri kepada perjuangan untuk membebaskan mereka. Teologiseharusnya menjadi refleksi kritis atas dirinya sendiri, dan atas kondisi-kondisi ekonomi, sosial, dan budaya dari kehidupan dan pemikirankomunitas Kristen. Hanya dengan demikian teologi dapat memberikanvaliditas terhadap realitas Amerika Latin dan dunia ketiga.Ketiga,menempatkan praksis sebagai peran utama bagi pembebasan kaumtertindas.Titiktolak untuk refleksi teologi adalah kehadiran danaktivitasgerejadidalam dunia. Teologi adalah produk dari aktivitas pastoral, yangdimulai dari pelayanan kasih. Ini adalah kritikan atas gereja ditinjaudari sudut kemiskinan.Gutierrez mengatakan, Kita menemukan Tuhan dalam perjumpaan dengan sesama,khususnya mereka yang miskin, tersisihkan, dan terperas. Suatutindakan cinta terhadap mereka adalah tindakan cinta terhadapTuhan. Meskipun demikian, sesama manusia bukan hanyamerupakan suatu kesempatan, sarana untuk menjadi lebih dekatdengan Tuhan. Kita secara konkret mencintai sesama melulu demimereka, dan bukan “demi cinta terhadap Tuhan”.

Ada beberapa bagian Alkitab yang sering dipakai oleh penganutTeologi Pembebasan sebagai landasan pengajaran mereka yakni:

1).Kisah yang tercantum dalam Kitab Keluaran, takkala bani Israelberada di tanah Mesir, Tuhan telah mendengarkan jeritan mereka,dan membebaskan mereka dari perbudakan dan penderitaan. Nyanyian pujian Maria yang terdapat dalam Injil Lukas 1:46-55.3.

Nubuat nabi Yesaya tentang pekerjaan Mesias dalam Lukas 4:18-19(bdg. Yesaya 61:1-2). Gagasannya adalah Yesus itu mempunyai kuasauntuk membebaskan dari ketakutan, penyakit dan kejahatan. Kristussebagai pembebas. Penghakiman terakhir yang terdapat dalam Injil Matius 25:31-46,dimana penghakiman Tuhan berdasarkan sikap seseorang terhadaporang-orang yang menderita dan miskin. Analisa Biblika Terhadap Konsep Teologi PembebasanGereja Dalam Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez:Deskripsi Dan Analisis Hermeneutikal Pertama. Gutierrez percaya bahwaseluruh dunia ada di bawah kasih karunia Allah yang menyelamatkan.Karunia ilahi entah itu ditolak atau diterima diberikan kepada semuaorang, khususnya kepada orang-orang miskin. Setiap manusia tanpakecuali adalah Bait Allah. Akibatnya, kita dapat bertemu Allah di dalamperjumpaan kita dengan manusia, khususnya di dalam orang-orangmiskin. Kristus ada di dalam sesama kita. Semua orang ada di dalamKristus, jadi semuanya dipanggil untuk bersekutu dengan Allah. Pemalingan gereja kepada dunia.Di dalam analisis finalnya, menurutGutierrez, tidak ada perbedaan antara gereja dan dunia. Gereja tidakhanya hadir di dalam dunia, tetapi adalah bagian dari dunia. Akibatnya,gereja harus berpaling kepada dunia di mana Kristus dan Roh-Nya hadir dan aktif di dalamnya. Gereja haruslah mengizinkan dirinya dihuni dan“diinjili” oleh dunia.Gerejaharus tidak mengijinkan kondisikesenjangan miskin dan kaya berlangsung terus. Gereja harusmendorong kepada dunia untuk menjadi bagian dunia dan untukkeadilan sosial diwujudkan.

Jadi penekanan eklesiologi pembebasanbukanlah pada pemalingan dunia kepada gereja, tetapi pemalingan gerejakepada dunia. Dengan kata lain, gereja seharusnya dijadikan “Kristen”oleh dunia, khususnya oleh orang miskin.Kesatuan gereja yangterjadi melalui upaya untuk memperjuangkan keadilan. Gutierrez melihat apayang memisahkan manusia dengan manusia adalah ketidakadilan sosial.Perjuangan kelas adalah suatu masalah yang tidak dapat disangkal.Adanya komunitas Kristen itu sendiri adalah akibat dari konflik sosialini. Jadi menurut Gutierrez, tidak mungkin berbicara tentangkeselamatan gereja tanpa terlibat di dalam situasi konkret yangberlangsung di dalam dunia.

            Dengan melihat kenyataan bahwa gerejaitu hidup di dalam sistem yang tidak adil, maka kesatuan gereja tidakakan terwujud tanpa kesatuan dunia dan kesatuan manusia yang dapatdicapai dengan terciptanya keadilan untuk semua. Oleh karena itu gerejaharuslah terlibat di dalam perjuangan untuk menegakkan suatumasyarakat yang tidak berkelas dan berjuang melawan penyebab-penyebab perpecahan antara manusia yang merupakan satu-satunya caradi mana gereja dapat menjadi tanda kesatuan yang otentik.

Kesimpulannya, menurut Gutierrez, penekanan utama gereja dalamperspektif Teologi Pembebasan bukanlah pada naturnya tetapi pada misigereja itu. Di dalam perspektif Teologi Pembebasan,keselamatan itu dapat terwujud ketika terjadi solidaritas dengan orangmiskin di dalam perjuangan mereka, mengerti penyebab-penyebab darikemiskinan mereka dan mendukung serta mendorong usaha-usaha yangdilakukan oleh rakyat untuk melepaskan diri dari penindasan.Denganlebih tajam, Gutierrez menyatakan bahwa tujuan gereja tidak untukmenyelamatkan, di dalam pengertian “menjanjikan sorga.” Karyakeselamatan adalah suatu realita yang terjadi dalam sejarah. Jadiperjuangan untuk masyarakat yang adil di dalam hak-haknya merupakan bagian dari sejarah keselamatan.

Jadi, misi gereja mencakup:Pertama, Pemilihan terhadap orang miskin: adanya sikap solidaritas dengan merekayang tertindas. Bagi Teologi Pembebasan, kaum miskin adalah kaumpilihan Allah yang istimewa. Di dalam situasi revolusi yang ditandai olehkonflik dan perjuangan kelas, gereja haruslah memproyeksikan seluruhaktivitas dan tindakannya dengan kaum yang tertindas karena di dalamsejarah Allah sendiri ada di pihak orang miskin. Memang Allahmengasihi semua orang, tetapi Dia mengidentikkan dan menyatakandiri-Nya sendiri kepada orang miskin dan berada di sisi mereka.Pemilihan Allah terhadap orang miskin ini jelas terlihat di dalamPerjanjian Lama di mana Allah memihak orang miskin dan melindungimereka dari penindas-penindas. Sedangkan di dalam Perjanjian Baru, halini terlihat di dalam inkarnasi Anak Allah di mana Dia mengidentikkandiri-Nya sendiri dengan semua manusia, secara khusus terhadap orang miskin. Memandang sikap Allah sendiri terhadap orang miskin,menurut Gutierrez, gereja haruslah mengarahkan dirinya kepada yangtertindas dan menjadi miskin supaya dapat mengambil bagian di dalamsolidaritas dengan mereka yang menderita. Hanya dengan berpartisipasidi dalam perjuangan mereka kita dapat mengerti implikasi-implikasipesan Injil dan membuatnya memiliki dampak di dalam sejarah.Kedua,suara kenabian.Salah satu cara gereja supaya dapat memperjelas posisinyasehubungan dengan isu-isu sosial adalah dengan pelayanan kenabian,yang mencakup kritik atas ketidakberesan yang terjadi di dalammasyarakat dan gereja.

 Karakteristik dari suara kenabian bersifat:

(a) global, yaitu mencakup setiap situasi dan setiap struktur yang menekandan menindas hak-hak asasi manusia, dan yang bertentangan denganpersaudaraan, keadilan dan kebebasan.

 (b) Radikal,karena reformasi danpengembangan saja tidak cukup, tetapi perubahan yang revolusioner danradikal, itulah yang diperlukan. Jadi, gereja haruslah dapat menyatakan,tanpa terkecuali, apa yang menjadi akar dari ketidakadilan sosial.

 (c) praksiologis, dimana kebenaran injil haruslah menjadi kebenaran yang dilakukan. Suara ini tidak hanya tertuang dalam kata-kata atau teks,tetapi adalah suatu tindakan, memproklamirkan Kerajaan Allah. Situasi ketidakadilandan eksploitasi adalah bertentangan dengan Kerajaan Allah. Dengandemikian, gereja seharusnya memproklamirkan adanya pertentangan inidan mendorong mereka yang terjerat dalam situasi ketidakadilan danyang menjadi korban eksploitasi untuk mencari kebebasan merekasendiri. Jadi, kabar baik akan pembebasan haruslah mencakup secarastruktural masalah-masalah rasisme, ketidakadilan, kemiskinan danperbedaan.

Dalam tindakan politik, Gutierrez menekankan sifat politik dari pelayanan Kristus. Kristus tidak tergabung dalam gerakan orangZelot Yahudi, namun Ia terus menerus melawan pihak penguasa danstruktur-struktur kekuasaan politik pada zaman-Nya, di mana Iadisalibkan juga oleh kuasa-kuasa politik tersebut. Kristus menyerangakar ketidakadilan sosial, yang berarti bahwa Ia mengaitkanpembebasan masa kini dengan sejarah keselamatan yang bersifatrevolusioner, kekal dan universal. Perkara-perkara politik tercakup didalam kekekalan dan karya Kristus bersifat politik justru karenamenyelamatkan manusia.Meneladani sifat pelayanan Kristus di atas,adalah tidak mungkin bagi gereja untuk hidup di dalam injil jikalauterpisah dari keterlibatan politik, karena pesan injil itu sendirimempunyai dimensi politik yang tidak dapat dihindarkan. Lebih jauhsituasi ketidakadilan yang membuat berjuta-juta orang Amerika Latinmenderita, menuntut orang-orang Kristen untuk mewujudkanpembebasan dalam semua bentuknya.

Dalam karya klasiknya, ATheology of Liberation, Gustavo Gutierrez menekankan bahwa programpolitis yang terkait dengan gerakan pembebasan harus berpusat padasebuah spiritualitas pembebasan. Gutierrez tentunya sadar akan bahaya-bahaya mengabsolutkan usaha-usaha politis yang menjadi favorit kita,yang karenanya menjadi sangat selektif dalam menemukan tema-temaKristen yang berguna untuk menyebarkan tujuan-tujuan yang sudahkita sendiri tentukan. Untuk mengatasi kecenderungan sedemikian,Gutierrez berpendapat bahwa hidup kekristenan harus dipenuhi dengansebuah pemahaman yang hidup tentang tahu berterima kasih gratuitousness. Persekutuan dengan Tuhan dan dengan semua (umatmanusia) lebih dari segalanya adalah sebuah pemberian. Partisipasi kitadalam ibadah, dia katakana adalah sebuah kegiatan waktu luang, sebuahwaktu yang terbuang, yang mengingatkan kita bahwa Tuhan berada diluar kategori yang berguna dan yang tidak berguna. Dalam persekutuanibadah kita dengan Allah, Gutierrez mengatakan pada kita, kita melihatke depan ke sebuah masa depan indah saat kita mendengar, dia katakansebagaiundangan untuk berpartisipasi dalam sukacita eskatologis.TeologiPembebasan setuju dengan penjelasanKarl Marx, yangmengatakan:sampai sekarang filsuf-filsuf menerangkan dunia; tugas kita adalahmengubahnya.

Marxisme dan prinsip hermeneutiknya telah menjadikekuatan yang mendorong dalam teologi ini. Dengan demikian seluruhKitab Suci tampak dalam terang konsep perjuangan kelas, yang menujupenggulingan struktur-struktur sosial. Konsep agama harus dihancurkandemi yang duniawi, yakni kemerdekaan manusia agar dia mampumengkritik dan mengubah dunia. Hidup sebagai manusia sekarangtercapai karena manusia membebaskan diri dan mencapai ketuhanan didalam pengertian diri sendiri.Teologi Pembebasan juga menentang developmentalisme yangterjadi di dunia ketiga pada umumnya dan Amerika Latin khususnya.Mereka berpendapat bahwa penanaman modal asing untuk“mengembangkan” dunia ketiga, memunyai banyak unsur negatif. Apayang dibutuhkan oleh negara-negara tersebut bukan “perkembangan”,tetapi perubahan dasar sistem kemasyarakatan mereka. Untukmemeroleh kemerdekaan dan pembebasan dari penderitaan, bila perlumereka boleh memakai kekerasan untuk menggulingkan penguasa yangmenindas mereka.Hal ini juga didukung oleh pengajaran TeologiPengharapan, Jurgen Moltmann menyimpulkan bahwa panggilanKristiani adalah melibatkan umat manusia untuk mengkonfrontir danmengubah kebobrokan yang ada dalam masyarakat. Untuk itu umat Kristiani harus toleran dengan yang tertindas dan teraniaya, danmemakai segala sarana yang tersedia, termasuk kalau perlu “revolutionwith violence” yaitu revolusi dengan kekerasan untuk perbaikan dunia.

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...