Gustavo Gutierrez terkenal sebagai teolog pembebasan. Pengalaman
tinggal bersama orang-orang kecil yang tertindas mendorongnya untuk melakukan
kontekstualisasi dalam berteologi.Karier pelayanan Gutierrez diawali dengan
melayani jemaat yang miskin di Lima dan mengajar teologi serta ilmu-ilmu sosialdi
Universitas Katolik di sana. Namun, sejak kembali ke Peru, Gutierrezberhadapan
kembali dengan realita kemiskinan dan penderitaanmasyarakat di sana. Ia merasa
bahwa teologi yang dipelajarinya di Eropa“kurang cocok” untuk situasi gereja
dan masyarakat di mana ia melayani.Karena itu, ia berusaha menemukan teologi yang
tepat dan relevan ditengah-tengah situasi yang sedemikian.Hal lain yang
memprihatinkanGutierrez adalah sikap dan tindakan Gereja Katolik sebagai gereja
yangmemiliki kekuasaan yang sangat besar di banyak negara. Dengankekuasaannya
ini, Gutierrez melihat bahwa Gereja Katolik tidak “netral”di dalam
keterlibatannya dalam kancah sosial-politik tetapi lebihberpihak pada sisi
penindas.Gutierrez mendapat pengaruh dari seorang Revolusione ArgentinaChe
Guevara yang menganut paham Marxisme. Teologi Pembebasan adalah suatu pemikiran
teologis yang munculdi Amerika Latin dan negara-negara dunia ketiga yang lain,
sekaligusmerupakan suatu pendekatan baru yang radikal terhadap tugas
teologidimana titik tolaknya mengacu pada pengalaman kaum miskin danperjuangan
mereka untuk kebebasan, di mana Allah juga hadir di dalamnya.Jadi, teologi
menurut Gutierrez, bukanlah suatu “teori yangtransenden” yang tanpa
praksis, tetapi adalah suatu refleksikritikal, dimana
teologi dapat menjawab tantangan zaman dengansegala permasalahan sosialnya.
Teologi Kristen bukan hanya mencariotensitas dasar iman Kristiani, tetapi
haruslah memiliki praksis sebagaiwujud konkret penghayatan iman.Dari penjelasan
di atas, Teologi Pembebasan dapat dirumuskan secara singkat sebagai upaya-upaya
untuk merealisasikan pengajaranAlkitab mengenai pembebasan ke dalam praksis,
suatu teologi yangmemerhatikan situasi dan
penderitaan orang miskin. “Keadilan sosialdan solidaritas” dengan
orang miskin dianggap sebagai bagian utamaamanat misi gereja. Konsep-konsep di
dalam Teologi Pembebasan tidak langsungmuncul dalam waktu seketika dan
pergerakan teologi ini tidak terjadibegitu saja, tetapi ada penyebab-penyebab
yang menjadi akar munculnyaTeologi Pembebasan.
Menurut
Gutierrez pendekatan teologi Barat yang dia pelajari tidak dapat diaplikasikan
dalam situasi masyarakat di Amerika Latin. Menurut dia, butuh pendekatan khas
untuk berteologi dalam situasi yang sangat memprihatinkan di Amerika Latin
waktu itu. Namun, teologi pembebasan tidak selalu mendapat dukungan dari pihak
Gereja sendiri. Di Amerika Latin sempat terjadi perpecahan antara kelompok yang
menyatakan bahwa “Gereja harus netral terhadap pilihan politik” dengan para
teolog pembebasan. Perlawanan yang muncul terhadap teologi pembebasan tidak
lain menunjukkan betapa Gereja waktu itu berada dalam ketakutan terhadap suatu
kekuatan politik yang menindas. Pendapat Gutierrez benar bahwa Gereja dari dulu
sampai sekarang banyak berhubungan dan bersahabat dengan mereka yang
mengendalikan ekonomi dan politik. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Gereja
berada di pihak golongan penindas. Memang, sekarang kondisinya sudah agak
berubah, yakni ketika muncul kelompok pembaharuan dalam Gereja, khususnya para
penegak teologi pembebasan.
Karya terobosan Gutiérrez, A Theology of Liberation: History, Politics, Salvation (1971) (“Suatu Teologi Pembebasan:
Sejarah, Politik, Keselamatan”), menjelaskan pemahamannya tentang kemiskinan
Kristen sebagai suatu tindakan solidaritas penuh cinta kasih dengan kaum miskin
maupun sebagai protes pembebasan melawan kemiskinan.Menurut Gutiérrez,
“pembebasan” sejati mempunyai tiga dimensi utama: Pertama, ia mencakup
pembebasan politik dan sosial, penghapusan hal-hal yang langsung menyebabkan
kemiskinan dan ketidakadilan.Kedua, pembebasan mencakup emansipasi kaum miskin,
kaum marjinal, mereka yang terinjak-injak dan tertindas dari “segala sesuatu
yang membatasi kemampuan mereka untuk mengembangkan diri dengan bebas dan
dengan bermartabat”.Ketiga, teologi pembebasan mencakup pembebasan dari egoisme
dan dosa, pembentukan kembali hubungan dengan Allah dan dengan orang-orang
lain.
Teologi pembebasan dan Gutiérrez telah berulang
kali diperiksa secara cermat oleh Paus. Bukunya. A Theology of Liberation: History,
Politics, Salvation dibahas
oleh Kardinal(saat itu) Ratzinger dan ditemukan mengandung banyak gagasan
yang dianggap mengganggu.Pada September 1984, sekelompok uskup Peru dipanggil
ke Roma untuk mendengar langsung kecaman terhadap Gutiérrez dari Vatikan, namun
para uskup itu tetap mendukung Gutiérrez.Meskipun Gutiérrez sendiri tidak
dikenai sanksi, banyak teolog pembebasan lainnya mendapatkan sanksi kepausan.
Karena hubungan antara para pengikut teologi pembebasan dan kelompok-kelompok komunis seperti Sandinista (umumnya karena orang-orang miskin dilihat sebagai
calon potensial pemberontak komunis) banyak imam yang berpikiran pembebasan
dibunuh di negara-negara Amerika Selatan pada tahun 1980-an, yang paling
terkenal di antaranya adalah Uskup Agung Oscar Romero. setelah menafsirkan pesan-pesan dalam
Alkitab berdasarkan tindakan Yesus yang membela dan menolong orang-orang lemah,
sakit, dan tertindas, maka peran agama juga seharusnya demikian. Dalam agama Kristen sendiri, hal ini
menjadi tanggung jawab gereja sebagai lembaga agama yang memiliki pengaruh,
baik kepada jemaatnya, masyarakat di mana dia tinggal, maupun kepada
pemerintahannya. nilai-nilai yang
muncul itu biasanya dilihat dari perikemanusiaan dan perikeadilan. Pelanggaran nilai-nilai ini di
sejumlah negara telah membangkitkan keprihatinan di kalangan aktivis Teologi
Pembebasan. Nilai-nilai
yang didapat dari tafsir Kitab Sucinya masing-masing. Sebagai contoh,
Umat Kristen dengan ajaran Kristologi yang menafsirkan bahwa Kristus (Tuhan) adalah seorang yang
hadir dalam situasi karut marut dan membawa pembebasan bagi rakyat kecil dan
tertindas. Dari dasar inilah, maka orang Kristen mengikuti
teladan Yesus dan menentang ketidakadilan. Mereka merasa
mendapat tugas untuk meneruskan perjuangan Tuhan yang disembahnya.
Teologi pembebasan lahir sebagai respons terhadap
situasi ekonomi dan politik yang dinilai menyengsarakan rakyat. Masalah-masalah itu dijabarkan dalam
penindasan, rasisme, kemiskinan,
penjajahan, bias ideologi dsb. Pada
kalangan Jesuit, baik di Asia termasuk Indonesia, Brazil , Amerika Latin, dan Afrika Selatan Teologi ini berkembang pesat sebagai
dampak dari hermeneutika Alkitab secara kontekstual untuk menjawab
persoalan yang dihadapi umat manusia. Teologi
Pembebasan merupakan refleksi bersama suatu komunitas terhadap suatu persoalan sosial. karena
itu masyarakat terlibat dalam perenungan-perenungan keagamaan. Mereka mempertanyakan seperti apa
tanggung jawab agama dan apa yang harus dilakukan agama dalam konteks
pemiskinan struktural. Teologi
Pembebasan muncul pada abad ke-20 seiring banyaknya permasalahan dunia yang
sedang tidak merdeka dinilai dari sudut pandang keadilan sebagai manusia yang
sama di hadapan Tuhan. Dunia harus merdeka dari tindakan yang menindas
sesamanya, bahkan seharusnya yang kaya dan memiliki jabatan harus membela dan
memperhatikan kebutuhan rakyat kecil dan miskin. Kemunculan pertamanya di Eropa yang berkonsentrasi pada persoalan
globalisasi, berprihatin pada dosa sosial yang terdapat
pada sistem pemerintahan sebuah negara. Teologi
Pembebasan menawarkan sistem sosial yang mengedepankan keadilan sebagai warga
negara dan warga dunia dalam pandangan agama (manusia yang adil, tidak
tertindas)yang dirusak oleh manusia sendiri. Sementara
itu, teologi pembebasan yang lahir di Amerika Latin berfokus pada gerakan
perlawanan yang kebanyakan dilakukan oleh para agamawan terhadap kekuasaan yang hegemoni dan otoriter. Pemikiran teologi pembebasan bermula dari Hermeneutika Alkitab.
Bagi Gutierrez ada tiga cara berteologi. Pertama,
teologi sebagai sumber hidup rohani. Kedua, teologi sebagai
pengetahuan rasional. Ketiga, teologi sebagai refleksi kritis dalam
terang Sabda Allah atas praksis hidup orang Kristen. Gutierrez menekankan
fungsi yang ketiga, meskipun fungsi ini tidak dapat dipisahkan dari kedua
fungsi lainnya. Maka, teologi pembebasan Gutierrez adalah refleksi kritis dalam
terang Sabda Allah atas praktis hidup orang Kristen, yang ikut melibatkan diri
dalam usaha pembebasan. Motivasi dasarnya adalah keyakinan bahwa
masyarakat yang tidak adil sama sekali tidak sesuai dengan tuntutan injil.
Mereka merasa tidak pantas disebut orang Kristen jika tidak ikut berjuang
melakukan pembebasan, meskipun kesadaran ini masih dalam taraf intuisi serta
meraba-raba. Tugas teologi adalah menunjukkan dengan jelas hubungan antara iman
dan perjuangan pembebasan. Namun, bukan berarti bahwa refleksi teologi
dimaksudkan sebagai iustifikasi praksis yang sudah ada. Sebaliknya, refleksi
teologi, menurut Gutierrez, harus menunjukkan nilai positif dan nilai negatif
yang ada dalam praksis pembebasan. Bahkan, dari refleksi teologi diharapkan ada
koreksi-koreksi atas kesalahan-kesalahan yang mungkin ada, misalnya ada aspek
hidup Kristen yang dilupakan karena orang terlalu tergesa-gesa mengambil
tindakan politik. Inilah yang dimaksud dengan teologi sebagai refleksi kritis.
Teologi pembebasan Gutierrez dapat dikatakan bukan hanya bersifat orthodoxy
(memantapkan ajaran) dan bukan pula hanya orthopraxis (menuntut
dijalankan dalam tindakan mendunia dan menuju Allah), tetapi bersifat heteropraxis
yakni orthodoxy sejauh bersumber pada orthopraxis (rumusan
ajaran sejauh berpangkal dari pengalaman konkret dan kembali secara baru kepada
tindakan yang dituntut oleh rumusan ajaran tersebut).Gutierrez melihat bahwa
orang Kristen yang ikut melibatkan diri dalam usaha pembebasan telah yakin,
meski secara samar-samar dan intuitif, keterlibatannya merupakan tuntutan iman.
Itu berarti bahwa refleksi teologi atas praksis pembebasan diharapkan
memperjelas hubungan antara iman dan praksis pembebasan. Refleksi teologi
diharapkan menjawab soal hubungan antara iman dan eksistensi manusia, soal-soal
sosial, aksi politik atau hubungan antara Kerajaan Allah dan bangunan dunia.
Ringkasnya, bagaimana hubungan antara iman dan penciptaan manusia baru yang
merupakan tujuan perjuangan pembebasan. Memahami kembali iman berarti mengajak
orang untuk kembali memahami misi Gereja di dunia ini.
Teologi Pembebasan adalah suatu pemikiran
teologis yang muncul di Amerika Latin dan negara-negara dunia ketiga yang lain,
sekaligusmerupakan suatu pendekatan baru yang radikal terhadap tugas teologidimana
titik tolaknya mengacu pada pengalaman kaum miskin danperjuangan mereka untuk
kebebasan, di mana Allah juga hadir di dalamnya.Jadi, teologi menurut
Gutierrez, bukanlah suatu “teori yangtransenden” yang tanpa
praksis, tetapi adalah suatu refleksikritikal, dimana
teologi dapat menjawab tantangan zaman dengansegala permasalahan sosialnya.
Teologi Kristen bukan hanya mencariotensitas dasar iman Kristiani, tetapi
haruslah memiliki praksis sebagaiwujud konkret penghayatan iman.Dari penjelasan
di atas, Teologi Pembebasan dapat dirumuskansecara singkat sebagai upaya-upaya
untuk merealisasikan pengajaranAlkitab mengenai pembebasan ke dalam praksis,
suatu teologi yangmemerhatikan situasi dan
penderitaan orang miskin. “Keadilan sosialdan solidaritas”
dengan orang miskin dianggap sebagai bagian utamaamanat misi gereja. Konsep-konsep
di dalam Teologi Pembebasan tidak langsungmuncul dalam waktu seketika dan
pergerakan teologi ini tidak terjadibegitu saja, tetapi ada penyebab-penyebab
yang menjadi akar munculnyaTeologi Pembebasan.
Pertama, pada abad ke-16, seorang uskup
berdarah Spanyol,Bartolome de Las Casas, mengadakan perjuangan untuk membela
kaumIndian yang menjadi korban penindasan orang-orang Spanyol.Pembelaannya
begitu gigih dan mengesankan sehingga para peloporTeologi Pembebasan belakangan
memandangnya sebagai “Musa TeologiPembebasan Amerika Latin.” Las Casas memiliki
pengaruh yang amatmendalam terhadap Gutierrez dan amat mewarnai
pandangan-pandangan teologisnya. Kedua, munculnya peristiwa-peristiwa dan
gerakan-gerakanreligius serta sekuler pada pertengahan abad ke-20, seperti
TeologiPolitik di Eropa dan Teologi Radikal di Amerika Utara yang
dicetuskanoleh J. B. Metz, Jurgen Moltmann dan Harvey Cox. Dalam
gagasanteologinya, Metz telah meletakkan beberapa dasar pemikiran yang kelak menjadi
metode bagi Teologi Pembebasan, khususnya pada perananpolitik praksis sebagai
titik tolak refleksi teologis. Ketiga, kemudian muncul apa yang disebut sebagai
konferensi paraUskup Amerika Latin (CELAM II) yang menghasilkan dokumenMedellin
(1968), yang inti perumusannya berbunyi: “Demi panggilannya,Amerika Latin akan
melaksanakan kebebasannya apapun pengorbananyang diberikan. Perintah Tuhan yang
jelas untuk menginjili orang-orangmiskin harus membawa kita kepada distribusi
sumber-sumber danpersonil apostolis yang secara efektif memberikan pilihan
kepada yangpaling miskin dan sektor-sektor yang paling membutuhkan.
Keempat, situasi konkret di Amerika
Latin. Negara-negara diAmerika Latin telah menjadi korban kolonialisme,
imperialisme dankerja sama multinasional. Hal ini terjadi karena adanya
ketergantungan ekonomis negara-negara Amerika Latin kepada Amerika
Serikat(khususnya), yang pada akhirnya banyak merugikan kepentinganAmerika
Latin sehingga menimbulkan keresahan-keresahan sosial. Dampak Teologi
Pembebasan meluas ke benua lain dengan bangkitnyaTeologi Pembebasan di Asia,
tentu tidak dapat dilepaskan denganTeologi Pembebasan yang lahir terlebih
dahulu di Amerika Latin. Banyakteolog Asia, membangun Teologi
Pembebasannyadengan mengambilreferensi dari Teologi Pembebasan asal Amerika
Latin. Dengan kata lain,semangat para teolog Amerika Latin telah membangkitkan
kesadaranpara teolog Asia untuk menanggalkan pakaian lama teologi asal
Barat,dan mengenakan pakaian teologi asal Asia yang harus berurusan
denganpersoalan kemiskinan.
Konsep atau Metode Teologi Pembebasan
yaitu Pertama,Teologi Pembebasan bertitik tolak dari situasi Amerika
Latin.Teologi haruslah secara intrinsik dihubungkan dengan situasi, budaya,dan
sosial yang khusus. Apa yang berkembang di suatu tempat, tidakdapat dipaksakan
di tempat yang lain, seperti halnya teologi di AmerikaLatin yang muncul dari
kenyataan-kenyataan sosio politiknya yang unik jelas tidak dapat diterapkan secara “sama persis” di tempat yang lain. Jadi menurut teolog pembebasan, teologi tidaklah terpisah dari kontekssosial
dan kultural di mana teologi itu berlangsung, atau situasi hidupdari masyarakat
yang menjadi objek dari teologi itu sendiri. Atau dengankata lain, Teologi
Pembebasan tidak dilihat sebagai “teologi universal”tetapi teologi haruslah
bersifat kontekstual yaitu terjadi dan berlakupada tempat dan waktu yang khusus
dan tertentu, tidak secara universalataupun dijadikan patokan secara umum. Kedua,teologi
sebagai refleksi kritis di dalam komunitas. MenurutGutierrez, teologi haruslah
keluar dari kehidupan iman yang berusaha“menjadi otentik dan sempurna”. Karena
justru kekristenan dapatmenjadi otentik dan sempurna ketika ia memihak orang
miskin danmelibatkan diri kepada perjuangan untuk membebaskan mereka.
Teologiseharusnya menjadi refleksi kritis atas dirinya sendiri, dan atas
kondisi-kondisi ekonomi, sosial, dan budaya dari kehidupan dan
pemikirankomunitas Kristen. Hanya dengan demikian teologi dapat
memberikanvaliditas terhadap realitas Amerika Latin dan dunia ketiga.Ketiga,menempatkan
praksis sebagai peran utama bagi pembebasan kaumtertindas.Titiktolak untuk
refleksi teologi adalah kehadiran danaktivitasgerejadidalam dunia. Teologi adalah produk dari aktivitas pastoral, yangdimulai dari pelayanan kasih. Ini
adalah kritikan atas gereja ditinjaudari sudut kemiskinan.Gutierrez
mengatakan, Kita menemukan Tuhan dalam perjumpaan dengan sesama,khususnya
mereka yang miskin, tersisihkan, dan terperas. Suatutindakan cinta terhadap
mereka adalah tindakan cinta terhadapTuhan. Meskipun demikian, sesama manusia
bukan hanyamerupakan suatu kesempatan, sarana untuk menjadi lebih dekatdengan
Tuhan. Kita secara konkret mencintai sesama melulu demimereka, dan bukan “demi
cinta terhadap Tuhan”.
Ada beberapa bagian Alkitab yang sering
dipakai oleh penganutTeologi Pembebasan sebagai landasan pengajaran mereka
yakni:
1).Kisah yang
tercantum dalam Kitab Keluaran, takkala bani Israelberada di tanah Mesir, Tuhan
telah mendengarkan jeritan mereka,dan membebaskan mereka dari perbudakan dan
penderitaan. Nyanyian pujian Maria yang terdapat dalam Injil Lukas
1:46-55.3.
Nubuat nabi Yesaya tentang pekerjaan Mesias dalam Lukas
4:18-19(bdg. Yesaya 61:1-2). Gagasannya adalah Yesus itu mempunyai
kuasauntuk membebaskan dari ketakutan, penyakit dan kejahatan. Kristussebagai
pembebas. Penghakiman terakhir yang terdapat dalam Injil Matius
25:31-46,dimana penghakiman Tuhan berdasarkan sikap seseorang
terhadaporang-orang yang menderita dan miskin. Analisa Biblika
Terhadap Konsep Teologi PembebasanGereja Dalam Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez:Deskripsi
Dan Analisis Hermeneutikal Pertama. Gutierrez percaya bahwaseluruh
dunia ada di bawah kasih karunia Allah yang menyelamatkan.Karunia ilahi entah
itu ditolak atau diterima diberikan kepada semuaorang, khususnya kepada
orang-orang miskin. Setiap manusia tanpakecuali adalah Bait Allah. Akibatnya,
kita dapat bertemu Allah di dalamperjumpaan kita dengan manusia, khususnya di
dalam orang-orangmiskin. Kristus ada di dalam sesama kita. Semua orang ada di dalamKristus,
jadi semuanya dipanggil untuk bersekutu dengan Allah. Pemalingan gereja kepada dunia.Di
dalam analisis finalnya, menurutGutierrez, tidak ada perbedaan antara gereja
dan dunia. Gereja tidakhanya hadir di dalam dunia, tetapi adalah bagian dari
dunia. Akibatnya,gereja harus berpaling kepada dunia di mana Kristus dan
Roh-Nya hadir dan aktif di dalamnya. Gereja haruslah mengizinkan dirinya dihuni
dan“diinjili” oleh dunia.Gerejaharus tidak mengijinkan
kondisikesenjangan miskin dan kaya berlangsung terus. Gereja harusmendorong
kepada dunia untuk menjadi bagian dunia dan
untukkeadilan sosial diwujudkan.
Jadi penekanan eklesiologi pembebasanbukanlah
pada pemalingan dunia kepada gereja, tetapi pemalingan gerejakepada dunia.
Dengan kata lain, gereja seharusnya dijadikan
“Kristen”oleh dunia, khususnya oleh orang miskin.Kesatuan
gereja yangterjadi melalui upaya untuk memperjuangkan keadilan. Gutierrez
melihat apayang memisahkan manusia dengan manusia adalah ketidakadilan
sosial.Perjuangan kelas adalah suatu masalah yang tidak dapat disangkal.Adanya
komunitas Kristen itu sendiri adalah akibat dari konflik sosialini. Jadi
menurut Gutierrez, tidak mungkin berbicara tentangkeselamatan gereja tanpa
terlibat di dalam situasi konkret yangberlangsung di dalam dunia.
Dengan
melihat kenyataan bahwa gerejaitu hidup di dalam sistem yang tidak adil, maka
kesatuan gereja tidakakan terwujud tanpa kesatuan dunia dan kesatuan manusia
yang dapatdicapai dengan terciptanya keadilan untuk semua. Oleh karena itu
gerejaharuslah terlibat di dalam perjuangan untuk menegakkan suatumasyarakat
yang tidak berkelas dan berjuang melawan penyebab-penyebab perpecahan antara
manusia yang merupakan satu-satunya caradi mana gereja dapat menjadi tanda
kesatuan yang otentik.
Kesimpulannya, menurut Gutierrez, penekanan utama gereja
dalamperspektif Teologi Pembebasan bukanlah pada naturnya tetapi pada
misigereja itu. Di dalam perspektif Teologi Pembebasan,keselamatan itu dapat
terwujud ketika terjadi solidaritas dengan orangmiskin di dalam perjuangan mereka,
mengerti penyebab-penyebab darikemiskinan mereka dan mendukung serta mendorong
usaha-usaha yangdilakukan oleh rakyat untuk melepaskan diri dari penindasan.Denganlebih tajam, Gutierrez menyatakan
bahwa tujuan gereja tidak untukmenyelamatkan, di dalam pengertian “menjanjikan
sorga.” Karyakeselamatan adalah suatu realita yang terjadi dalam sejarah.
Jadiperjuangan untuk masyarakat yang adil di dalam hak-haknya merupakan bagian
dari sejarah keselamatan.
Jadi, misi
gereja mencakup:Pertama, Pemilihan terhadap orang miskin:
adanya sikap solidaritas dengan merekayang tertindas. Bagi Teologi Pembebasan,
kaum miskin adalah kaumpilihan Allah yang istimewa. Di dalam situasi revolusi
yang ditandai olehkonflik dan perjuangan kelas, gereja haruslah
memproyeksikan seluruhaktivitas dan tindakannya dengan kaum yang tertindas
karena di dalamsejarah Allah sendiri ada di pihak orang miskin. Memang
Allahmengasihi semua orang, tetapi Dia mengidentikkan dan menyatakandiri-Nya
sendiri kepada orang miskin dan berada di sisi mereka.Pemilihan Allah terhadap
orang miskin ini jelas terlihat di dalamPerjanjian Lama di mana Allah memihak
orang miskin dan melindungimereka dari penindas-penindas. Sedangkan di dalam
Perjanjian Baru, halini terlihat di dalam inkarnasi Anak Allah di mana Dia
mengidentikkandiri-Nya sendiri dengan semua manusia, secara khusus terhadap
orang miskin. Memandang sikap Allah sendiri terhadap orang miskin,menurut
Gutierrez, gereja haruslah mengarahkan dirinya kepada yangtertindas dan menjadi
miskin supaya dapat mengambil bagian di dalamsolidaritas dengan mereka yang
menderita. Hanya dengan berpartisipasidi dalam perjuangan mereka kita dapat
mengerti implikasi-implikasipesan Injil dan membuatnya memiliki dampak di dalam
sejarah.Kedua,suara kenabian.Salah satu cara gereja supaya dapat memperjelas
posisinyasehubungan dengan isu-isu sosial adalah dengan pelayanan kenabian,yang
mencakup kritik atas ketidakberesan yang terjadi di dalammasyarakat dan gereja.
Karakteristik dari suara kenabian bersifat:
(a) global,
yaitu mencakup setiap situasi dan setiap struktur yang menekandan menindas
hak-hak asasi manusia, dan yang bertentangan denganpersaudaraan, keadilan dan
kebebasan.
(b) Radikal,karena
reformasi danpengembangan saja tidak cukup, tetapi perubahan yang revolusioner
danradikal, itulah yang diperlukan. Jadi, gereja haruslah dapat
menyatakan,tanpa terkecuali, apa yang menjadi akar dari ketidakadilan sosial.
(c) praksiologis, dimana kebenaran injil
haruslah menjadi kebenaran yang dilakukan. Suara ini tidak hanya tertuang dalam
kata-kata atau teks,tetapi adalah suatu tindakan, memproklamirkan Kerajaan
Allah. Situasi ketidakadilandan eksploitasi adalah bertentangan dengan Kerajaan
Allah. Dengandemikian, gereja seharusnya memproklamirkan adanya pertentangan
inidan mendorong mereka yang terjerat dalam situasi ketidakadilan danyang
menjadi korban eksploitasi untuk mencari kebebasan merekasendiri. Jadi,
kabar baik akan pembebasan haruslah mencakup secarastruktural masalah-masalah
rasisme, ketidakadilan, kemiskinan danperbedaan.
Dalam tindakan politik, Gutierrez
menekankan sifat politik dari pelayanan Kristus. Kristus tidak tergabung dalam
gerakan orangZelot Yahudi, namun Ia terus menerus melawan pihak penguasa
danstruktur-struktur kekuasaan politik pada zaman-Nya, di mana Iadisalibkan
juga oleh kuasa-kuasa politik tersebut. Kristus menyerangakar ketidakadilan
sosial, yang berarti bahwa Ia mengaitkanpembebasan masa kini dengan sejarah
keselamatan yang bersifatrevolusioner, kekal dan universal. Perkara-perkara
politik tercakup didalam kekekalan dan karya Kristus bersifat politik justru
karenamenyelamatkan manusia.Meneladani sifat pelayanan Kristus di atas,adalah
tidak mungkin bagi gereja untuk hidup di dalam injil jikalauterpisah dari
keterlibatan politik, karena pesan injil itu sendirimempunyai dimensi politik
yang tidak dapat dihindarkan. Lebih jauhsituasi ketidakadilan yang membuat
berjuta-juta orang Amerika Latinmenderita, menuntut orang-orang Kristen untuk
mewujudkanpembebasan dalam semua bentuknya.
Dalam karya klasiknya, ATheology of
Liberation, Gustavo Gutierrez menekankan bahwa programpolitis yang terkait
dengan gerakan pembebasan harus berpusat padasebuah spiritualitas pembebasan.
Gutierrez tentunya sadar akan
bahaya-bahaya mengabsolutkan usaha-usaha politis yang menjadi favorit kita,yang
karenanya menjadi sangat selektif dalam menemukan
tema-temaKristen yang berguna untuk menyebarkan tujuan-tujuan yang sudahkita
sendiri tentukan. Untuk mengatasi kecenderungan sedemikian,Gutierrez berpendapat
bahwa hidup kekristenan harus dipenuhi dengansebuah pemahaman yang hidup
tentang tahu berterima kasih gratuitousness. Persekutuan dengan Tuhan dan
dengan semua (umatmanusia) lebih dari segalanya adalah sebuah pemberian.
Partisipasi kitadalam ibadah, dia katakana adalah sebuah kegiatan waktu luang,
sebuahwaktu yang terbuang, yang mengingatkan kita bahwa Tuhan berada diluar
kategori yang berguna dan yang tidak berguna. Dalam persekutuanibadah kita
dengan Allah, Gutierrez mengatakan pada kita, kita melihatke depan ke sebuah
masa depan indah saat kita mendengar, dia katakansebagaiundangan untuk
berpartisipasi dalam sukacita eskatologis.TeologiPembebasan setuju dengan penjelasanKarl Marx, yangmengatakan:sampai sekarang filsuf-filsuf menerangkan
dunia; tugas kita adalahmengubahnya.
Marxisme dan prinsip hermeneutiknya
telah menjadikekuatan yang mendorong dalam teologi ini. Dengan demikian
seluruhKitab Suci tampak dalam terang konsep perjuangan kelas, yang
menujupenggulingan struktur-struktur sosial. Konsep agama harus dihancurkandemi
yang duniawi, yakni kemerdekaan manusia agar dia mampumengkritik dan mengubah
dunia. Hidup sebagai manusia sekarangtercapai karena
manusia membebaskan diri dan mencapai ketuhanan didalam
pengertian diri sendiri.Teologi Pembebasan juga menentang developmentalisme yangterjadi di dunia ketiga pada umumnya dan
Amerika Latin khususnya.Mereka berpendapat bahwa penanaman modal asing
untuk“mengembangkan” dunia ketiga, memunyai banyak unsur negatif. Apayang
dibutuhkan oleh negara-negara tersebut bukan “perkembangan”,tetapi perubahan
dasar sistem kemasyarakatan mereka. Untukmemeroleh kemerdekaan dan pembebasan
dari penderitaan, bila perlumereka boleh memakai kekerasan untuk menggulingkan
penguasa yangmenindas mereka.Hal ini juga didukung oleh pengajaran
TeologiPengharapan, Jurgen Moltmann menyimpulkan bahwa panggilanKristiani
adalah melibatkan umat manusia untuk mengkonfrontir danmengubah kebobrokan yang
ada dalam masyarakat. Untuk itu umat Kristiani harus toleran dengan yang
tertindas dan teraniaya, danmemakai segala sarana yang tersedia, termasuk
kalau perlu “revolutionwith violence” yaitu revolusi dengan kekerasan
untuk perbaikan dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar