Selasa, 25 Juli 2023

EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM DAN KRISIS EKOLOGIS (Buku Etika Bumi Baru, Bab II; Dr Robert P.Borrong)

Tanggapan:

Eksploitasi sumber daya alam dimulai dengan datangnya Revolusi Industri ± 200 tahun lalu. Menurut Franz Magnis-Suseno, dasar ideologi itu adalah pertumbuhan. Melihat bahwa kerusakan lingkungan hidup, terutama kegiatan eksploitasi sumber daya alam terkait dengan pembangunan dan perilaku ekonomi. Kerakusan manusia menciptakan eksploitasi yang berlebihan. Kebutuhan dan keinginan manusia tidak pernah berkecukupan. Manusia selalu berusaha memenuhi kebutuhannya dan keinginannya, dengan cara mengeksploitasi alam secara berlebihan. Bahkan dalam kebutuhannya tidak memiliki ambang batas. Kehidupan manusia yang matrealistis, produktif, dan komsumtif harus dihilangkan, agar alam dapat diselamatkan setidaknya memperlambat proses kerusakan alam yang berlebihan. Contohnya saja adalah, keinginan dan gaya hidup manusia dengan sengaja menggunakan barang-barang dengan menggunakan kulit-kulit binatang, dan menggunakan kayu-kayu tertentu untuk properti rumah yang dimiliki. Eksploitasi berlebihan biasanya adalah ulah-ulah manusia yang hidup dalam taraf kebutuhannya, baik itu negara-negara berkembang dan negara-negara maju. Namun umumnya dilakukan oleh negara-negara maju. Negara-negara maju memiliki beban tanggung jawab moril yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara berkembang. Negara-negara maju adalah pusat industri dan energi, dan alam bukanlah pusat negara ini tetapi dari negara-negara berkembang. Negara-negara maju membeli barang mentah alam dari negara-negara berkembang dengan harga murah, sehingga negara-negara berkembang yang mengeksploitasi hanya untuk pangan, terpaksa mengeksploitasi sebanyak-banyaknya untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari. Pembangunan sebenarnya tidak banyak membantu negara-negara berkembang, justru semakin menekan. Dikarenakan hanya menguntungkan negara-negara maju saja, negara maju menekan dan mempersulit negara berkembang sehingga penjualan alam sangat murah. Dengan produktifitas industri yang berlebihan juga banyak menyebabkan kerusakan alam. Karena alam, yang ada di dalamnya hidupnya saling berkesinambungan dan bersangkutan, sehingga jika ada satu komunitas yang rusak  maka akan merusak alam ciptaan lainnya.  

Pengeksploitasian juga terjadi dan dilakukan oleh negara-negara berkembang. Salah satunya adalah dikarenakan meningkatnya pertumbuhan penduduk. Ini adalah identik dari negara-negara berkembang. Sehingga pengeksploitasian yang dilakukan berupa, pemenuhan kehidupan sehari-hari yaitu berupa pangan, pembangunan rumah-rumah tempat tinggal dan tempat-tempah sawah, dan ladang.

Meskipun demikian tanggung jawab negara maju lebih besar dibandingkan negara berkembang. Negara maju sadar eksploitasi dapat merusak, tetapi dengan kesadaran dan demi kebutuhan gaya hidup mereka tetap melakukannya. Terlebih lagi negara-negara maju lebih berpendidikan dibandingkan negara-negara berkembang. Negara-negara berkembang identik dengan rendahnya pendidikan. Sehingga eksploitasi yang dilakukan negara berkembang adalah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di negera berkembang yang umunya kehidupan desa, juga eksploitasi yaitu berupa pemberian pupuk-pupuk.

Untuk itu kesadaran, moral dan etika manusia harus diperbaiki. Baik itu negara berkembang maupun negara maju. Manusia harus bisa membatasi kebutuhannya dengan berkecukupan. Artinya mencukupkan dirinya dari gaya hidupnya yang berlebihan. Manusia harus memiliki kesadaran terlebih untuk melakukan perdagangan-perdagangan yang berlebihan. Manusia harus berusaha mengganti gaya hidupnya yang berlebihan, dan mencukupkan dirinya.

Kesimpulan:

Kesadaran dan moral manusia dibentuk dari diri sendiri, dan kesadaran diri sendiri. Sehingga ia mampu hidup di atas keadilan manusia dan di atas ciptaan lainnya. Dan ia mampu menjadi teladan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya dan mampu mempengaruhi pribadi bahkan komunitas yang ada disekitarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...