Selasa, 25 Juli 2023

Pembangunan Jemaat Dalam Menghadapi Krisis Ekonomi Yang Mempengaruhi Intensitivitas Peribadahan Jemaat

I.                   Pendahuluan

Jiwa dan raga, rohani dan jasmani, harus seimbang, seperti halnya dengan pembangunan gedung gereja dan pengembangan Gereja sebagai jemaat. Namun, mana yang lebih penting dalam membangun Gereja? Meskipun membangun gedung gereja itu penting, namun lebih penting dan utama adalah membangun jemaat atau umat. Melalui judul di atas, maka secara lansung atau tidak langsung gereja dituntut untuk dapat menjawab konteks yang ada.

Refleksi teologi sangat dibutuhkan dan harus dilakukan gereja untuk dapat menjawab konteks dan kebutuhan jemaat tersebut. Kemudian dari refleksi teologi tersebut, gereja dapat mengambil tindakan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Gereja dalam melakukan refleksi perlu mengambil tindakan yang tepat dan sesuai dengan keadaan actual serta membutuhkan bantuan dari ilmu teologia dalam disiplin teologi pratika (teologi praktis), Bagian teologi pratika yang sangat berperan besar dalam usaha gereja ini adalah pembangunan jemaat.

II.                Apresiasi Terhadap Sajian

Terima kasih kepada penyaji yang telah berusaha memaparkan sajian ini kepada kita semua. Semoga sajian ini dapat menolong kita semua untuk memahami masalah krisis ekonomi yang dihadapi masyarakat sehingga kita dapat melihat, dan mencoba mengatasi masyarakat yang mengalami kemunduran dalam peribadahan. Dalam pendahuluan penyaji sudah jelas menghantarkan kita pada pemahaman topik yang ingin dibahas.

III.             Tanggapan Terhadap Sajian

3.1.Kekurangan

a.       Pembanding melihat beberapa kekurangan dalam hal penulisan dan susunan kata yang digunakan. Pembanding belum menemukan inti dari sajian ini, dan pembanding melihat penyaji hanya masih mengutarakan masalah-masalah, dan solusi pribadi terhadap masalah yang tengah dihadapi jemaat.

b.      Dalam sajian ini juga pembanding melihat tidak adanya peran gereja dalam menanggapi pembangunan jemaatnya dalam menghadapi krisis ekonomi sehingga dalam hal ini dapat mempengaruhi intensitivitas peribadahan jemaat.

c.        Sebaiknya penyaji juga melampirkan daftar pertanyaan terhadap narasumber.

d.      Krisis ekonomi jemaat mempengaruhi peribadahan. Penyaji hanya memaparkan peribadahan dalam minggu dewasa saja. Sebaiknya penyaji juga melakukan penelitian terhadap sekolah minggu, karena sekolah minggu adalah termasuk bagian jemaat. Sehingga kita bisa melihat, adakah pengaruh krisis ekonomi terhadap peribadahan sekolah minggu.

e.       Sebenarnya apa peran gereja dalam mengatasi krisis ekonomi yang mempengaruhi intensivitas peribadahan jemaat? Dalam sajian, gereja tidak memberikan tawaran terhadap masalah ini.  Sebaiknya penyaji harus melampirkan tawaran yang diberikan gereja dalam mengatasi masalah ini, melalui wawancara terhadap penatua gereja setempat. 

f.       Penyaji hanya memberikan tawaran terhadap penalaran akan persembahan, akan tetapi tawaran praktiknya (tindakannya), tidak ada ditawarkan. Sebaiknya, penyaji juga harus memberikan tawaran praktiknya, sehingga kita dapat melihat bagaimana masalah ini dapat dijangkau gereja dalam mengatasi masalah jemaat yang mungin terjadi lagi.

g.      Dalam hal ini juga pembanding ingin mempertanyakan kepada penyaji:

·         Apakah yang dimaksud dengan pembangunan jemaat dan teologis praktis?

·         Dalam halaman 3 dikatakan aspek dasar dari pembangunan jemaat, coba jelaskan kelima aspek dasar pembangunan tersebut?

·         Jika jemaat bekerja pada hari minggu, adakah gereja berperan dalam mengatasi hal ini?

IV.             Kontribusi Pikiran

Beberapa definisi pembangunan jemaat yang dapat diberikan oleh teolog teologi pratika, agar kita dapat mengetahui makna dari pembangunan jemaat tersebut terlebih dahulu:

Menurut Van Hoijdonk mendefinisikan pembangunan jemaat sebagai berikut:

Pembangunan jemaat adalah intervensi sistematis dan metodis dalam tindak tanduk jemaat beriman setempat. Pembangunan jemaat menolong jemaat beriman lokal untuk - dengan bertanggung jawab penuh - berkembang menuju persekutuan iman, yang mengantarai keadilan dan kasih Allah, dan yang terbuka terhadap masalah manusia di masa kini.[1]

Sedangkan menurut Van Kessel:

            Pembangunan merupakan salah satu disiplin dalam teologi praktis yang mengaitkan fungsi-fungsi jabatan (vertikal), yaitu ibadat, perwartaan, katekese, diakonia, pastoral kepada pribadi dan kelompok, perwujudan hukum gereja secara horizontal. Pembangunan jemaat membandingkan juga fungsi-fungsi itu secara kritis. Pembangunan jemaat mempelajari juga bagaimanakah fungsi-fungsi itu dapat dijalankan agar gereja-gereja menjadi jemaat beriman yang vital di dunia kini dan esok; bagaimana relasi antara berbagai bentuk kerja dan bidang kerja harus diwujudkan; bagaimana harus mewujudkan relasi antara para anggota gereja dalam bidang kerja itu menerima dan memberi, memimpin dan melaksanakan, dan apa yang tidak dilakukan yang semestinya dilakukan.[2]

Berdasarkan definisi Van Hoijdonk dan Van Kessel tentang pembangunan jemaat tersebut, dapat dilihat adanya persamaan prinsip keduanya, yaitu bagaimana gereja dan anggotanya membangun diri untuk mengantarai keadilan dan kasih Allah di dalam dunia serta perubahan-perubahannya.

Melihat kenyataan demikian, maka pembangunan jemaat memiliki tempat yang sangat penting dalam kehidupan sebuah gereja. Pembangunan jemaat yang memungkinkan suatu gereja dapat bertumbuh dan berkembang baik secara kualitas maupun kuantitas. Pembangunan jemaat tentu saja dilarang di tengah-tengah jemaat dan keberadaan jemaat tidak bisa lepas dari keadaan konteks disekitarnya, maka dalam pelaksanaanya pembangunan jemaat tidak dapat berdiri sendiri, tetapi membutuhkan bantuan dari disiplin ilmu yang lain seperti ilmu sosial, manajemen, dan sebagainya.

            Gereja dapat mengalami perkembangan dengan cara melakukan pembangunan jemaat. Pembangunan jemaat secara umum memiliki tujuan untuk mewujudkan kerajaan Allah dalam dunia ini.[3] Perwujudan Kerajaan Allah dapat dilakukan oleh gereja jika gereja menjadi gereja yang hidup atau vital. Gereja yang vital secara sederhana oleh Jan Hendriks didefinisikan sebagai berikut:

a.       Gereja yang vital adalah keadaan di mana untuk berpartisipasi dengan senang hati dan di mana partisipasi itu membawa hasil atau efek yang baik bagi mereka sendiri maupun bagi realitas tujuan-tujuan jemaat.[4]

Sedangkan Van Kessel membuat definisi yang lebih kompleks sebagai berikut:

b.      Gereja yang vital adalah jemaat beriman yang secara realistis dengan berani, dan memahami kenyataan, tanpa pamrih mengikuti Yesus Kristus, lalu secara konkret berusaha dan berjuang demi keadilan, demi perdamaian, demi kehidupan yang manusiawi serta bermakna bagi setiap orang.[5]

Berdasarkan tujuan pembangunan jemaat tersebut, dapat dilihat bahwa individu sebagai anggota atau persekutuan dalam sebuah gereja memegang peranan penting dalam kehidupan sebuah gereja untuk mewujudkan gereja yang vital.

            Pembangunan jemaat dalam prakteknya tentu saja menempatkan gereja dan jemaat lokal sebagai subjek sekaligus objek dalam kegiatan pembangunan jemaat tersebut. Dalam teologi tentang jemaat yang baru muncul pemikiran bahwa warga jemaat bersama-sama menjadi penanggung jawab dan membawa tindak tanduk jemaat lokal dalam hal mengajar memelihara, melayani dan merayakan. Di tengah-tengah kebersamaan itu ada jabatan dalam jemaat lokal sebagai pelayanan kepada pembangunan jemaat lokal. Partisipasi aktif jemaat lokal sangat dibutuhkan agar pembangunan jemaat dapat mencapai tujuan yang ingin dicapainya.[6]

            Gereja perlu melakukan upaya sesuai dengan kehendak Kristus itu, upaya ini merupakan upaya perubahan (tranformasi). Pembangunan jemaat mengolah sumber daya yang dimiliki oleh gereja (orang-orangnya, pengetahuannya, kemampuan dananya, serta peluang-peluang yang dimilikinya) supaya menghasilkan sumber daya yang menjadi berkat bagi jemaatnya, seperti: cinta kasih, pertobatan, kerelaan saling berbagi, semangat persaudaraan dan sebagainya. Dalam melakukan perubahan itu kecuali didasari oleh penghayatan iman dan pengetahuan teologis yang mendalam, juga menggunakan cara-cara dan sarana-sarana yang tepat seperti dikembangkan dalam ilmu manajemen gereja. Perubahan ini juga tidak berlangsung sesaat, namun dilakukan secara bertahap secara terus-menerus: tahap penyadaran terhadap perlunya perubahan, tahap penelitian terhadap hal-hal yang perlu diperbaiki, tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap pemantapan. Dengan demikian pembangunan jemaat dilakukan oleh gereja secara terencana, dan terus menerus, agar gereja mampu mewujudkan hidup dan karyanya sebagai Gereja Yesus Kristus di dunia.

V.                Kesimpulan

Gereja harus tanggap terhadap masalah yang dihadapi jemaat. Baik itu krisis ekonomi maupun sosialnya. Gereja harus secara sadar dan terbuka serta peka, karena setiap masalah jemaat adalah krisis yang dihadapi gereja juga. Jeritan jemaat, pergumulan jemaat adalah pergumulan gereja juga. Untuk itulah gereja harus hadir dan melibatkan dirinya secara praktik, bukan hanya memberikan penalaran-penalaran semata. Sehingga jemaat memahami dan mengerti keadaan yang tengah dihadapi, serta jemaat bersama-sama dengan gereja menemukan solusi yang bisa diatasi melalui sumber daya yang tersedia.


[1] P. G van Hoijdonk, Batu-Batu yang Hidup-Pengantar ke dalam Pembangunan Jemaat, (Yogyakarta, 1996), 32.

[2] Rob van Kessel, 6 Tempayan Air: Pokok-Pokok Pembangunan Jemaat, (Yogyakarta, 1997), 3.

[3] Hoijdonk, Batu-Batu yang Hidup, 13-17.

[4] Jan Hendriks, Jemaat Vital dan Menarik: Membangun Jemaat dengan Menggunakan Metode Lima Faktor, (Yogyakarta, 2002), 19.

[5] Kessel, 6 Tempayan Air, 19.

[6] Hoijdonk, Batu-Batu yang Hidup, 9-12.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...