I.
Pendahuluan
Jiwa
dan raga, rohani dan jasmani, harus seimbang, seperti halnya dengan pembangunan
gedung gereja dan pengembangan Gereja sebagai jemaat. Namun, mana yang lebih
penting dalam membangun Gereja? Meskipun membangun gedung gereja itu penting,
namun lebih penting dan utama adalah membangun jemaat atau umat. Melalui judul
di atas, maka secara lansung atau tidak langsung gereja dituntut untuk dapat
menjawab konteks yang ada.
Refleksi
teologi sangat dibutuhkan dan harus dilakukan gereja untuk dapat menjawab
konteks dan kebutuhan jemaat tersebut. Kemudian dari refleksi teologi tersebut,
gereja dapat mengambil tindakan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Gereja
dalam melakukan refleksi perlu mengambil tindakan yang tepat dan sesuai dengan
keadaan actual serta membutuhkan bantuan dari ilmu teologia dalam disiplin teologi
pratika (teologi praktis), Bagian teologi pratika yang sangat berperan besar
dalam usaha gereja ini adalah pembangunan jemaat.
II.
Apresiasi
Terhadap Sajian
Terima kasih
kepada penyaji yang telah berusaha memaparkan sajian ini kepada kita semua. Semoga
sajian ini dapat menolong kita semua untuk memahami masalah krisis ekonomi yang
dihadapi masyarakat sehingga kita dapat melihat, dan mencoba mengatasi
masyarakat yang mengalami kemunduran dalam peribadahan. Dalam pendahuluan
penyaji sudah jelas menghantarkan kita pada pemahaman topik yang ingin dibahas.
III.
Tanggapan
Terhadap Sajian
3.1.Kekurangan
a. Pembanding
melihat beberapa kekurangan dalam hal penulisan dan susunan kata yang
digunakan. Pembanding belum menemukan inti dari sajian ini, dan pembanding melihat
penyaji hanya masih mengutarakan masalah-masalah, dan solusi pribadi terhadap
masalah yang tengah dihadapi jemaat.
b. Dalam
sajian ini juga pembanding melihat tidak adanya peran gereja dalam menanggapi
pembangunan jemaatnya dalam menghadapi krisis ekonomi sehingga dalam hal ini
dapat mempengaruhi intensitivitas peribadahan jemaat.
c. Sebaiknya penyaji juga melampirkan daftar
pertanyaan terhadap narasumber.
d. Krisis
ekonomi jemaat mempengaruhi peribadahan. Penyaji hanya memaparkan peribadahan
dalam minggu dewasa saja. Sebaiknya penyaji juga melakukan penelitian terhadap
sekolah minggu, karena sekolah minggu adalah termasuk bagian jemaat. Sehingga
kita bisa melihat, adakah pengaruh krisis ekonomi terhadap peribadahan sekolah
minggu.
e. Sebenarnya
apa peran gereja dalam mengatasi krisis ekonomi yang mempengaruhi intensivitas
peribadahan jemaat? Dalam sajian, gereja tidak memberikan tawaran terhadap
masalah ini. Sebaiknya penyaji harus
melampirkan tawaran yang diberikan gereja dalam mengatasi masalah ini, melalui
wawancara terhadap penatua gereja setempat.
f. Penyaji
hanya memberikan tawaran terhadap penalaran akan persembahan, akan tetapi
tawaran praktiknya (tindakannya), tidak ada ditawarkan. Sebaiknya, penyaji juga
harus memberikan tawaran praktiknya, sehingga kita dapat melihat bagaimana
masalah ini dapat dijangkau gereja dalam mengatasi masalah jemaat yang mungin
terjadi lagi.
g. Dalam
hal ini juga pembanding ingin mempertanyakan kepada penyaji:
·
Apakah yang dimaksud dengan pembangunan
jemaat dan teologis praktis?
·
Dalam halaman 3 dikatakan aspek dasar
dari pembangunan jemaat, coba jelaskan kelima aspek dasar pembangunan tersebut?
·
Jika jemaat bekerja pada hari minggu,
adakah gereja berperan dalam mengatasi hal ini?
IV.
Kontribusi
Pikiran
Beberapa
definisi pembangunan jemaat yang dapat diberikan oleh teolog teologi pratika,
agar kita dapat mengetahui makna dari pembangunan jemaat tersebut terlebih
dahulu:
Menurut
Van Hoijdonk mendefinisikan pembangunan jemaat sebagai berikut:
Pembangunan
jemaat adalah intervensi sistematis dan metodis dalam tindak tanduk jemaat
beriman setempat. Pembangunan jemaat menolong jemaat beriman lokal untuk -
dengan bertanggung jawab penuh - berkembang menuju persekutuan iman, yang
mengantarai keadilan dan kasih Allah, dan yang terbuka terhadap masalah manusia
di masa kini.[1]
Sedangkan
menurut Van Kessel:
Pembangunan merupakan salah satu
disiplin dalam teologi praktis yang mengaitkan fungsi-fungsi jabatan
(vertikal), yaitu ibadat, perwartaan, katekese, diakonia, pastoral kepada
pribadi dan kelompok, perwujudan hukum gereja secara horizontal. Pembangunan
jemaat membandingkan juga fungsi-fungsi itu secara kritis. Pembangunan jemaat
mempelajari juga bagaimanakah fungsi-fungsi itu dapat dijalankan agar
gereja-gereja menjadi jemaat beriman yang vital di dunia kini dan esok;
bagaimana relasi antara berbagai bentuk kerja dan bidang kerja harus
diwujudkan; bagaimana harus mewujudkan relasi antara para anggota gereja dalam
bidang kerja itu menerima dan memberi, memimpin dan melaksanakan, dan apa yang
tidak dilakukan yang semestinya dilakukan.[2]
Berdasarkan
definisi Van Hoijdonk dan Van Kessel tentang pembangunan jemaat tersebut, dapat
dilihat adanya persamaan prinsip keduanya, yaitu bagaimana gereja dan
anggotanya membangun diri untuk mengantarai keadilan dan kasih Allah di dalam
dunia serta perubahan-perubahannya.
Melihat
kenyataan demikian, maka pembangunan jemaat memiliki tempat yang sangat penting
dalam kehidupan sebuah gereja. Pembangunan jemaat yang memungkinkan suatu gereja
dapat bertumbuh dan berkembang baik secara kualitas maupun kuantitas.
Pembangunan jemaat tentu saja dilarang di tengah-tengah jemaat dan keberadaan
jemaat tidak bisa lepas dari keadaan konteks disekitarnya, maka dalam
pelaksanaanya pembangunan jemaat tidak dapat berdiri sendiri, tetapi
membutuhkan bantuan dari disiplin ilmu yang lain seperti ilmu sosial,
manajemen, dan sebagainya.
Gereja dapat mengalami perkembangan
dengan cara melakukan pembangunan jemaat. Pembangunan jemaat secara umum
memiliki tujuan untuk mewujudkan kerajaan Allah dalam dunia ini.[3]
Perwujudan Kerajaan Allah dapat dilakukan oleh gereja jika gereja menjadi
gereja yang hidup atau vital. Gereja yang vital secara sederhana oleh Jan
Hendriks didefinisikan sebagai berikut:
a. Gereja
yang vital adalah keadaan di mana untuk berpartisipasi dengan senang hati dan
di mana partisipasi itu membawa hasil atau efek yang baik bagi mereka sendiri
maupun bagi realitas tujuan-tujuan jemaat.[4]
Sedangkan
Van Kessel membuat definisi yang lebih kompleks sebagai berikut:
b. Gereja
yang vital adalah jemaat beriman yang secara realistis dengan berani, dan
memahami kenyataan, tanpa pamrih mengikuti Yesus Kristus, lalu secara konkret
berusaha dan berjuang demi keadilan, demi perdamaian, demi kehidupan yang
manusiawi serta bermakna bagi setiap orang.[5]
Berdasarkan
tujuan pembangunan jemaat tersebut, dapat dilihat bahwa individu sebagai
anggota atau persekutuan dalam sebuah gereja memegang peranan penting dalam
kehidupan sebuah gereja untuk mewujudkan gereja yang vital.
Pembangunan jemaat dalam prakteknya
tentu saja menempatkan gereja dan jemaat lokal sebagai subjek sekaligus objek
dalam kegiatan pembangunan jemaat tersebut. Dalam teologi tentang jemaat yang
baru muncul pemikiran bahwa warga jemaat bersama-sama menjadi penanggung jawab
dan membawa tindak tanduk jemaat lokal dalam hal mengajar memelihara, melayani
dan merayakan. Di tengah-tengah kebersamaan itu ada jabatan dalam jemaat lokal
sebagai pelayanan kepada pembangunan jemaat lokal. Partisipasi aktif jemaat
lokal sangat dibutuhkan agar pembangunan jemaat dapat mencapai tujuan yang
ingin dicapainya.[6]
Gereja perlu melakukan upaya sesuai
dengan kehendak Kristus itu, upaya ini merupakan upaya perubahan (tranformasi).
Pembangunan jemaat mengolah sumber daya yang dimiliki oleh gereja
(orang-orangnya, pengetahuannya, kemampuan dananya, serta peluang-peluang yang
dimilikinya) supaya menghasilkan sumber daya yang menjadi berkat bagi jemaatnya,
seperti: cinta kasih, pertobatan, kerelaan saling berbagi, semangat
persaudaraan dan sebagainya. Dalam melakukan perubahan itu kecuali didasari
oleh penghayatan iman dan pengetahuan teologis yang mendalam, juga menggunakan
cara-cara dan sarana-sarana yang tepat seperti dikembangkan dalam ilmu
manajemen gereja. Perubahan ini juga tidak berlangsung sesaat, namun dilakukan
secara bertahap secara terus-menerus: tahap penyadaran terhadap perlunya
perubahan, tahap penelitian terhadap hal-hal yang perlu diperbaiki, tahap
perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap pemantapan. Dengan demikian
pembangunan jemaat dilakukan oleh gereja secara terencana, dan terus menerus,
agar gereja mampu mewujudkan hidup dan karyanya sebagai Gereja Yesus Kristus di
dunia.
V.
Kesimpulan
Gereja harus tanggap terhadap masalah yang dihadapi jemaat. Baik itu krisis ekonomi maupun sosialnya. Gereja harus secara sadar dan terbuka serta peka, karena setiap masalah jemaat adalah krisis yang dihadapi gereja juga. Jeritan jemaat, pergumulan jemaat adalah pergumulan gereja juga. Untuk itulah gereja harus hadir dan melibatkan dirinya secara praktik, bukan hanya memberikan penalaran-penalaran semata. Sehingga jemaat memahami dan mengerti keadaan yang tengah dihadapi, serta jemaat bersama-sama dengan gereja menemukan solusi yang bisa diatasi melalui sumber daya yang tersedia.
[1] P.
G van Hoijdonk, Batu-Batu yang Hidup-Pengantar ke dalam Pembangunan Jemaat,
(Yogyakarta, 1996), 32.
[2]
Rob van Kessel, 6 Tempayan Air: Pokok-Pokok Pembangunan Jemaat, (Yogyakarta, 1997),
3.
[3]
Hoijdonk, Batu-Batu yang Hidup, 13-17.
[4]
Jan Hendriks, Jemaat Vital dan Menarik: Membangun Jemaat dengan Menggunakan Metode
Lima Faktor, (Yogyakarta, 2002), 19.
[5]
Kessel, 6 Tempayan Air, 19.
[6]
Hoijdonk, Batu-Batu yang Hidup, 9-12.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar