Selasa, 25 Juli 2023

DOGMA KEESAAN GEREJA

I.                   Istilah Oikumene

Istilah Oikoumene nyaris diartikan sebagai universal atau interiman, yang  sesungguhnya keliru. Makna aslinya adalah bumi yang dihuni. Kata oikos dalam bahasa Yunani berarti “rumah”, mene adalah “bumi”. Pemahaman tentang hal ini dalam kehidupan batin gereja sejajar dengan konsep ahl al-kitab dalam Islam. Istilah Oikoumene merupakan istilah misi yang analog dengan dinamisme konsep ahl alkitab dan berpusat pada pesan iman. Paulus meringkas pesan ini sebagai, “sebab jika kamu mengakui dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu. Bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Rm. 10 : 9). Jadi sesungguhnya Oikoumene merupakan istilah untuk menggambarkan misi keKristenan, gerakan Oikoumeneuntuk mendiami bumi yang kepadanya Injil diberitakan. Itu semacam parafrase bagian akhir Injil Matius, untuk pergi dan membaptis bangsabangsa (Mat. 28 : 18 – 20) atau bagian pembuka kisah para Rasul “kamu akan menjadi saksiku .... sampai ke ujung bumi” (Kis. 1 : 8).[1]

            Menurut Abineno, istilah oikumene itu sendiri telah dipakai oleh Herodotus sejak abad ke-5 sM. Menurut tradi Yunani oikumene identik dengan dunia kebudayaan, sebab itu mereka yang berada di luar oikumene dianggap sebagai orang-orang yang tidak berkebudayaan. Sementara itu dalam Alkitab Perjanjian Baru oikumene cenderung memiliki pengertian kerajaan, jelasnya kerajaan romawi. Oikumene dalam arti gereja mula-mula dipakai oleh origenes (185-254 sM), yang kemudian diteruskan oleh pimpinan-pimpinan gereja yang lain, sehingga istilah itu semaki dikenal di lingkungan gereja. kemudian istilah oikumene lazim dipakai untuk menyebut suatu pertemuan/konsili yang dilakukan oleh gereja-gereja, termasuk di dalamnya gereja katolik. Sejarah Lahirnya Oikumene di Dunia.[2]            Dalam tradisi agama Kristen, ada yang disebut dengan istilah Oikoumene (bahasa Yunani, Oikos = rumah, monos = satu; Oikoumene = satu rumah). Istilah ini mengalami beberapa penyesuaian dengan konteks perkembangan keKristenan sedunia. Tadinya hanya sebatas lingkungan keKristenan di wilayah kerajaan Romawi, tetapi kemudian menunjuk pada keKristenan secara umum. Dari situ berkembang lagi menjadi gereja-gereja (=agama Kristen) dan agama-agama non Kristen, dan berkembang lagi sampai kepada hubungan gereja-gereja dengan ideologi-ideologi. Gerakan ini sangat dikenal dengan gerakan Oikoumene. Gerakan yang peduli pada relasi-relasi antar denominasi gereja (keKristenan) antara agama Kristen dengan agama-agama lain, ideologi-ideologi bahkan tentang lingkungan hidup dan seluruh ciptaan Allah.[3]

II.                Sejarah gerakan Oikumene

Para ahli sejarah gereja cenderung memilih konperensi Pekabaran Injil Sedunia di Edinburgh 1910, sebagai titik mula lahirnya gerakan Oikumene Internasional. Walaupun sebenarnya Gerakan Oikumene sudah dirintis pada zaman Reformasi bahkan sebelumnya, di mana gereja-gereja di Eropa mulai mengadakan pendekatan untuk mewujudkan kesatuannya.[4] Tetapi jika diselidiki lebih jauh, sebenarnya sebelum konperensi Edinburgh 1910, pergerakan Oikumene baru dirintis oleh beberapa negara dan belum dalam kategori Internasional. Nanti pada konperensi Edinburgh baru dapat dikatakan Internasional, karena terdiri dari berbagai negara di dunia dan diikuti oleh 1200 delegasi dari 159 Badan Misi. Salah satu yang berhasil disimpulkan dalam konperensi itu yakni mengenai kerja sama dan pemupukan keesaan. Hal ini juga membawa gereja yang muda untuk memikirkan ke arah gereja yang dewasa.[5] Hal-hal ini penting bagi gerakan keesaan gereja di kemudian hari, khususnya untuk gereja-gereja di Indonesia yang masih muda. Pada tanggal 22 Agustus 1948 diadakan pembentukan DGD di Amsterdam, yang merupakan penggabungan dari Gerakan Life and Work dan Gerakan Faith and Order. Dewan ini mengadakan sidang raya I yang dihadiri oleh 351 utusan dari 147 gereja dan di dalamnya termasuk perutusan dari Indonesia. DGD (Dewan gereja-gereja sedunia) yang merupakan hasil dari Gerakan Oikumene, memberikan suatu perkembangan yang baru bagi Gerakan Oikumene. Sebagai realisasi di Indonesia, pada tanggal 6-13 Nopember 1949 diadakan konperensi persiapan pembentukan DGI di Jakarta; dan akhirnya pada tanggal 25 Mei 1950 terbentuklah DGI[6] (setelah SR X th. 1984 di Ambon, berubah nama menjadi PGI), yang juga merupakan hasil dari gerakan Oikumene. Dan selanjutnya PGI menjadi motivator utama bagi gerakan Oikumene di Indonesia.

III.             Tokoh-tokoh Oikumene

Nathan Soderblom mempunyai gagasan untuk untuk mendirikan suatu dewan gereja-gereja dimulai sejak akhir Perang Dunia Pertama. Semangat untuk mendirikan dewan gereja-gereja sejajar dengan semangat untuk mendirikan Liga Bangsa-bangsa (1919/1920). Dirasa perlu untuk mendirikan suatu persekutuan gereja-gereja sebagai “jiwa” untuk kerjasama antara bangsa-bangsa.

Erasmus menjembatani dunia klasik Yunani- Romawi dan dunia Kristen. Seorang pendidik yang kuliahnya berupa karya-karta berseru pemimpin dan umum agar memilih jalan saleh dan rasional sambil menjauhkan diri dari setiap macam pemikiran dan tindakan yang berlebihan. Dia berbicara kebajikan eharusnya diamalkan orang Kristen, meniru kelakuan yesus khususnya kebajukanNya, rendah hari, lemah lembut, murah hari, kasih, damai, kerelaan mengampuni serta kebebasan berkorban demni keselamatan sesamaNya. Ia bersedia memperkaya pengalaman kristianinya dengan oikiran para pengarang kuno. Erasmu merupakan orang yang suka damai, dia cenderung tidak mamu memihak. Namun seiting dengan berjalannya waktu, Erasmus berpendapat bahwa kita harus memihak karena tanah netral sudah tidak ada. Artinya apabila kita tidak memihak, mungkin saja hasilnya akan lebih buruk lagi. Dalam perananya sebagai pendidik oikumenis, Erasmus mendidik melalui usahanya memperoleh teks perjanjian baru dalam bahasa yunani yang paling asli dan menjelaskan maknanya kepada jemaat. Erasmus tidak hanya peduli dalam pelajaran saja tetapi ia juga peduli terhadap kaum perempuan dalam usaha hak mereka, pernikahan, kaum Kristen dan upacara gereja yang terkadang dianggap mutlak oleh beberapa pihak.

Untuk usaha menyelenggarakan suatu konperensi sedunia mengenai iman dan tata negara (world conference in Faith and Order) dipelopori oleh Charles H. Brent (1862 – 1929) seorang uskup dari Protestan Episcopal Church di Amerika. Tujuan Faith and Order, yang dirumuskan oleh Brent, adalah jalan menuju keesaan gereja. Brent melihat gerejanya sendiri sebagai titik permulaan untuk gerakan Faith and Order. Gerejanya harus mengundang gereja-gereja lain untuk menghadiri konperensi mengenai pokok ini. Dan akhir tahun 1910 gerejanya memutuskan menunjuk suatu panitia yang harus mengundang tata gereja dari gereja lain untuk membicarakan persoalan-persoalan di bidang iman dan tata gereja untuk mencari jalan menuju keesaaan gereja. Pada tahun 1912 delegasi penitia ini mengunjungi gereja-gereja Anglikan di Inggris dan memperoleh dukungan untuk rencana konperensi sedunia mengenai iman dan tata gereja.

IV.             Dokumen Keesaan Gereja[7]

Dokumen Keesaan Gereja adalah rumusan pengakuan bersama gereja-gereja di Indonesia yang disusun dalam wadah Oikumene FGI/PGI. Adapun tujuan penyusunan dokumen ini sebagai pedoman dan alat dalam mewujudkan gereja Kristen yang esa di Indonesia. Dokumen Keesaan Gereja disingkat denan DKG yang dikenal pada saat ini merupakan pembaruan dan penyempurnaan terus menerus dari naskah-naskah sebelumnya. Berikut ini idi dari 5 Dokumen Keesaan Gereja :

1.      Pokok-pokok tugas panggilan bersama (PTTB)

2.      Pemahaman bersama Iman Kristen (PBIK)

3.      Piagam saling mengakui dan menerima (PSMSM) di antara gereja-gereja PGI

4.      Menuju kemandirian teologi daya dan dana (MKTDD)

5.      Tata dasar persekutuan gereja-gereja di Indonesia (TD-PGI)

LDKG mengalami penyempurnaan pada Sinode Raya XI pada tahun 1989 di Surabaya. Pada LDKG diberikan tambahan sejenis pengantar umum untuk keseluruhan LDKG secara utuh dan menempatkannya secara terpisah dari ke-5 dokumen. Pengantar umum bernama Prasetya Keesaan[8]

Pemahaman gereja mengenai gereja Kristen yang esa di Indonesia dalam Sidang Raya DGI I mendorong DGI untuk melakukan studi dan penyelidikan bersama mengenai pengakuan iman, tata gereja, katekisasi dan liturgy yang digunakan oleh gereja-gereja anggotanya. Studi dan penyelidikan ini memuncak pada Sidang Raya DGI VI pada tahun 1967 di Ujung Pandang yang diperkenalkan dalam konsep Tata Sinode Oikumene Gereja di Indonesia (Sinogi) dan Pemahaman Iman Bersama pada Sidang Raya DGI VII tahun 1971 di Pemantang Siantar, konsep Sinogi dan Pemahaman Iman Bersama diterima sebagian karena gereja-gereja di Indonesia pada saat itu dinilai belum siap. Inilah tahap awal perubahan, nama dan pemahaman diri. Oleh karena itu dibutuhkan usaha-usaha mewujudkan keesaan secara konkrit pada Sidang Raya XI tahun 1980 di Tomohon. Usaha-usaha konkrit mewujudkan keesaan semakin berkembang. Simbol-simbol ini mendorong pembicaraan mengenai simbol-simbol keesaan yang merupakan kristalisasi dari 5 Dokumen Keesaan Gereja.

Simbol keesaan ini meliputi 4 dokumen, yaitu :

1.      Piagam Prasetya Keesaan[9]

2.      Pemahaman Iman Bersama

3.      Piagam Saling Mengakui dan Menerima

4.      Tata Gereja Dasar

Kemudian pada Sidang Raya DGI/PGI X pada tahun 1984 di Ambon, dokumen-dokumen ini dirumuskan kembali dan disahkan dengan nama 5 Dokumen Keesaan Gereja (LDKG). Pada sidang ini juga wadah keesaan gerejaberganti nama DGI menjadi PGI. Pergumulan Theologis gereja-gereja di Indonesia. Karena itu dokumen ini juga merupakan hasil pergumulan theologies gereja-gereja di Indonesia sejak berdirinya DGI pada tahun 1950.

Kekuatan LDKG ialah merupakan dokumen keesaan dengan nilai theologies-eklesiologis, historis dan misiologis dalam Sidang Raya XIII PGI tahun 1994 di Jayapura dilakukan perbaikan namun tidak banyak melakukan perubahan sehingga susunan 5 Dokumen Keesaan Gereja menjadi :

1.      Prasetya Keesaan

a.       Pokok-pokok tugas panggilan bersama

b.      Pemahaman bersama Iman Kristen

c.       Piagam saling mengakui dan menerima

d.       Tata dasar PGI

e.       Menuju kemandirian theology daya dan dana

2.      Daftar-daftar anggota PGI[10]

a.       Pokok-pokok tugas panggilan bersama. Dokumen ini memuat hal-hal dasariah mengenai :

·         Pemahaman bersama gereja-gereja yentang tugas panggilan (misi) bersama

·          Konteks nyata dimana gereja ditempatkan dalam suatu realism yang berpengharapan

·         Dokumen ini pun dilihat sebagai dokumen misiologi dari gereja-gereja di Indonesia.

3.      Tata dasar[11]

Dokumen tata dasar isinya 13 BAB yang berisi tata gereja bagio organisasi gereja. Dilihat dari isinya ada pemahaman baru tentang gereja yang esa.keesaan tidak dibentuk karena sejatinya ia memang esa namun belum terwujud. Maka dari itu, rumusan tujuan tidak lagi membentuk gereja Kristen yang esa melainkan secara konkrit. Dilihat dari fungsinya ia semacam aturan main organisasi dan mirip anggaran dasar dari organisasi pa umumnya atau tata gereja pada khusunya demikian tata gereja merupakan alat bagi persekutuan gereja-gereja di Indonesia untuk melaksanakan kiprahnya.

4.       Piagam saling mengakui dan menerima (PSMSM)[12]

PSMSM isinya 12 BAB yang berkaitan dengan keanggotaan danpenerimaan gereja-gereja dan anggota untuk salingmengakui dan menerima berkaitan dengan pemberitaan firman, pelaksanaan sakramen dan beberapa hal yang berkaitan dengan penggembalaan jemaat. Dilihat dari isinya PSMSM ini menggarisbawahi bahwa keberagaman denominasi dan organisasi gerejatidak dipertentangkan satu sama lain melainkan dilihat sebagai kwkayaan manivestasi dari gereja yang satu. Sedangkan dilihat dari fungsinya, PSMSM berperan sebagai hubungan kreatif antara gereja-gereja amggota dimana di dalam identitas masing-masing gereja tetap diakui akan tetapi juga ditempatkan dalam hubungan kebersamaan dengan identitas gereja lain. Dalam hal ini ada penghormatan terhadap perbedaan dan penerimaan keberagaman sebagai yang memperkaya persekutuan. Dengan diterima dokumen ini menunjukkan langkah menuju perwujudan gereja Kristen yang esa semakin jelas.

5.      Pemahaman bersama Iman Kristen (PBIK)[13]

Dokumen inimembahas mengenai bagaimana setiap jemaat Kristus memahami arti sebuah iman. Ada 7 poin yang dibahas di sini :

Dasar pemikiran

Semangat Pgi dalam membentuk persekutuan gereja-gereja di Indonesia di dalam tugas dan tanggungjawab yang berikrarkan pengakuan iman rasuli dan pengakuan iman nicea konstatinopel di mana lahir dari pergumulan iman pada zaman gereja purba sebagai kesaksian berlandaskan alkita sebagai lambing keesaan Gereja Tuhan di segala tempat dan sepanjang zaman. Semua diwujud nyatakan pada sidang Raya XiV di Caringin, Bogor, 29 Nopember – 5 Desember 2004 menyepakati untuk meningkatkan dan mengembangkan Pemahaman Bersama Iman Kristen di Indonesia yang ditetapkan oleh sidang Raya X DGi/ PGi tahun 1994 di Ambon. Tujuan pengembangan ini untuk lebih mencerminkan lagi pergumulan-pergumulan dalam menghayati iman Kristen di tengah-tengah masyarakat dan bangsa Indonesia. Beberapa pokok pemahaman bersama iman Kristen di Indonesia, yaitu :

Tuhan Allah[14]

Dalam pelbagai cara, Allah menyatakan diri kepada manusia ciptaanNya namun dikemudiannya, Dia mengosongkan diri dan datang kedunia melalui seorang hamba dalam rupa manusia dan menjadi sama seperti manusia dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri dan taat samapi mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadanya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang adal di langit dan yang ada di bawah bumi.

Allah bekerja di dalam Roh Kudus dan dalam greja melalui Roh Kudus yang memedekakan manusia dari hukuman dosa dan hukum maut. Roh kudus itu menhidupkan, membaharui, membangun, mempersembahkan, menguatkan, menertibkan, dan meneguhkan seta memberu kuasa pada gereja untuk menjadi saksi, menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman, dan memimpin orang-orang percaya kepada seluruh kebenaran Allah.

Penciptaan dan Pemeliharaan[15]

Kami percaya bahwa : Segala ciptaanNya adalah baik. Semua yang terlihat dan yang tidak terlihat adalah milikNya namun semua yang telah diciptakan Allah tidak boleh diperilah dan disembah. Ciptaan Allah dalam keselarasan yang saling menghidupkan, sejalan dengan kasih karunia pemeliharaanNya atas ciptaanNya. Allah tidak menginginkan seluruh ciptaanNya saling merusak. Dari permulaan hingga akhir, Tuhan memerintah, memelihara dan menuntun segenap ciptaanNya dengan kasih setia dan adil.

Manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan dengan martabat yang sama dan untuk memperlengkapi tugas dan mandat itu, Allah memperlengkapi manusia dengan akal budi dan hikmat. Manusia diciptakan dalam kebebasan, dan dalam kebebasannya itu ia bertanggungjawab kepada Allah. Ia juga diciptakan sebagai makhluk yang hidup dalam persekutuan dan wajib mengatur kehidupan bersamanya dalam keluarga dan masyarakat, yang dapat membawa kebaikan bagi semua orang. Manusa dikuasai oleh iblis, dan menjadi hamba dosa dan sebagai upahnya ia menerima maut dan kebinasaan. Allah mengasihi menusia dan tidak menghendaki kebinasaan manusia, melainkankeselematannya. Kasih Allah yang agung yang menyelamatkan manusia dari kuasa dosa.

Kerajaan Allah dan Hidup Baru[16]

Kerajaan Allah itu adalah kuasa dan pemerintah Allah yang menyelamatkan, yang tampak dan berwujud di dalam lingkungan dan suasana hidup yang di dalamnya terdapat kasih, kebenaran, keadilan, damai sejahtera, kesucian, pemulihan dan pembaharuan hidup. Kerajaan Allah itu sudah datang dan menjadi nyata dalam kehidupan dunia dan umat manusia dengan kedatangan yesus Kristus, Raja dan Juruselamat dunia. Oleh karena itu, gereja dan ornag-orang percaya mendoakan dan menyongsong penggenapan Kerajaan Allah itu dengan secara tekun bekerja menegakkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dalam kehidupan sehari-hari. Dlaam rangka penggenapan Kerajaan Allah itu, gereja sebagai persekutuan orang percaya dan setiap warganya dipanggil untuk menjalankan suatu kehidupan baru sesuai dengan tuntunan kerajaan Allah.

Roh Kudus[17] menghimpun umatNya dari segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa, ke dalam suatu perkutuan yaitu gereja, yang di dalamnya Kristus adalah Tuhan dan Kepada. Gereja dan mengutusnya jke dalam dunia untuk menjadi saksi, memberitakan injil Kerajaan Allah. Gereja dan warganya akan dapat menghayati dengan sungguh-sungguh makna dari baptisan dan perjamuan kudus yang senantiasa dilayankan bersama-sama dengan pemberitaan Firman Allah di tengah-tengah ibadah gereja sebagai tanda keberadaan dan kekuasaannya. Greja ada di tengah-tengah dunia ini sebagai arak-arakan umat Allah yang terus bergerak menuju ke kepenuhan hidup di dalam Kerajaan Allah. Gereja dipanggil untuk membina hubungan dan kerjasama dengan pemerintah dan semua pihak di dalam masyarakat untuk mendatangkan kebaikan dan mendirikan tanda-tanda Kerajaan Allah menuju kesempurnaannya di dalam Yesus Kristus.

Alkitab[18]

A.    Konsep Dasar Keesaan Gerejawi[19]

Perpecahan dan kesendiri-sendirian gereja-gereja telah menjadi kendala mendasar bagi keberadaan gereja sebagai gereja dan mengaburkan ,melemahkan serta menumpulkan kesaksian dan pelayanan kami.caya TUHAN sedang terus melakukan pekerjaan menyatukangereja TUHANdemi persatuan dan kesatuan umat manusia dengan melawan segala macam bentuk kekerasan yang memecah belah dan merusak manusia,ketetapan hati itu kami mengambil bagian dalam karya TUHAN memulikan dan menyembuhkan gereja dan dunia dari keterbelahan dan ketrpecahannya.kami bergantung pada TUHAN dalam kesatuan itu, semakin kami mandiri dan berdaya, sehingga kami semakin dimampukan untuk saling mengakui dan saling menerima, saling menolong dan saling melengkapi.keesaan di dalam TUHAN itu adalah kesatuan yang bersambung pada hakikat Allah dalam kristus,keesaan bukan suatu pilihan atau alternative yang secara netral dapat dipilih atau ditulak oleh gereja sebagai gereja. Keesaan gereja adalah anugrah TUHAN untuk diwujudnyatakan dan panggilan TUHAN untuk dilaksanakan oleh gereja TUHAN, agar gereja menjadi satu, dan agar dunia tahu (Yoh. 17:23) dan percaya (yoh. 17:21).keesaan gereja kesatuan yang majemuk yang memberi ruang kebebasan dan kehidupan pada semua makhluk.Tuhan Yesus kristus menjadi penesa dari suatu keesaan yang sangat majemuk merangkum semua manusia denan segala kekayaan budayanya. Kami percaya menamai keesaani ini  Oikoumene Gerejawi [OG]  yang adalah GKYE.kami percaya bahwa secara hakikat GKYE adalah tubuh krisrus dalam setiap budaya dan lintas semua budaya sekaligus. Ciri khas masing-masing, dan semua perbedaan ras, etnis, budaya, ajaran, denominasi, structural kami, kepadaTuhan Yesus Kristus,agar mendapatkan tempat dan fungsinya yang benar, yaitu sebagai elemen kemajemukan yang membentuk, menghidupkan, dan memperkaya kesatuan, dan tidak menjadi prinsip primordial yang eksklusif, memecah.bentuk Oikoumene Gerejawi dalam Gkye itu, ditentukan, pertama, oleh derajat konektivitas antar anggota tubuh dan  seluruh tubuh dengan sang kepala mewujudkan Gereja Kristen yang esa di Indonesia yang mengikratkan kembali kesediaan salin mengakui dan menerima satu terhadap yang lain dengan segala perbedaan yang ada.

B.     Saling mengakui dan saling menerima[20]

                       Keanggotaan gereja dan peppindahan/penerimaan keanggotaan. Mengakui dan menerima keanggotaan gereja setiap orang yang telah menyebut panggilan Tuhan untuk hidup di dalam dan dari. Mereka adalah orang-orang yang telah mengaku percaya di hadapan jemaat dan Tuhan di dalam kebaktian yang diselenggarakan menurut peraturan gereja Anggota PGI. Tuhan, suatu iman dan satu baptisan, sehingga mereka semua adalah anggota dari keluarga Allah yang satu, sebagai satu tubuh dalam kebersamaan dan damai sejahtra

Diakonia

Kami mengakui dan menerima pekabaran injil diselenggarakan oleh setiap gereja pgi menurut peraturan gereja tersebut dengan memperhatikan pemahaman-pemahaman bersama menenai injil dan pekabaran injil yang sudah dihasilkan dalam perjalanan memasukin sejarah bersama ini  

Baptisan Kudus

Mengakui dan menerima pelayanan babtisan kudus yang diselenggarakan oleh gereja Anggota PGI kepada seseorang.

a.       Telah diamatkan oleh Tuhan Yesus yang telah bangkit

b.      Telah dilakukan dalam dan oleh gereja di zaman para rasul

c.       Dilaksanakan dalam kebaktian yang didasari dengan pemberitaan Firman

d.      Mempersatukan setiap orang yang telah menerima babtisa kudus itu dengan kematian dan kebangkitan kristus

e.       Menghisabkan setiap orng yang telah menerima babtisan kudus itu ke dalam satu tubuh. Tidak melakukan pembabtisan ulang, melainkan hanya mengumumkannya di dalam kebaktian jemaat.

Perjamuan kudus

Mengakui dan menerima pelayanan perjamuan kudus yang diselenggarakan oleh setiap gereja Anggota PGI menurut pemahman  dan peraturan gereja tersebut.

a.       Telah diamatkan oleh Tuhan yesus sebagai tanda kehadiranNya dan tanda peringatan akan kematian,

b.      Telah dilakukan dalam dan oleh gereja dan di zaman para rasul

c.       Memungkinkan setiap orang percaya untuk mengalami sukacita keselamatan yang telah dikerjakan oleh keristus dalam peng harapan akan memasuki perjamuan Anak Domba

d.      Adalah ucapan syukur jemaat atas karunia pengampunan dosa dan penyelamatan manusia oleh kristus,

e.       Dilayani dalam suatu kebaktian yang didasari dengan pemberitaan Firman dan melalui tanda-tanda nyata,

f.       Dihayati sebagai persekutuan dengan tubuh dan darah kristus yang membawa kepada persekutuan persaudaraan,

·         Penggembalan

Mengakui dan menerima pelaksanaan pelayanan penggembalaan dalam kehidupan gereja-gereja dalam lingkungan PGI.

·         Disiplin Gerejawi

Mengakui dan menerima tindakan disiplin gerejawi seperti yang dinyatakandalam Alkitab

·         Pengajaran Pokok-Pokok Iman Kristen

Mengakui dan menerima penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran pokok-pokok iman Kristen

·         Pemberitaan pernikahan gerejawi

Mengakui dan menerima setiap pelayanan pemberkatan pernikahan gerejawi oleh pejabat gereja menurut peraturan gereja anggota PGI

·         Pelayan/pejabat gerejawi

mengakui menerima pengadauan, pengakatan dan peneguhan/pelantikan pejabat gerejawi yang dilakukan oleh setiap gereja Anggota PGI.

Hal itu berdasarkan kesksian alkitab bahwa seluruh anggota jemaat dipanggil untuk melayani pada dasarnya Allahlah yang memanggil para pejabat gerejawi,untuk menjadi kawan sekerja-Nya dalam perwujutan npekerjaan dan misi Allah bagi dan dalam dunia ini. Kristus memberikan jabatan untuk memperlengkapi warga gereja bagi pekerjaan pelayanan.

 

·         Penguburan/pengabuan

Kami mengakui dan menerima pelayanan  dan upacara penguburan dan atau vpengabuan menurut pemahaman dan peraturan gereja anggota PGI. Mengakui dan menerima pelayanan upacara penguburan dan atau pengbuan menurut pemahaman gereja anggota PGI, untuk memberitakan kebangkitan Kristus bahwa ia telah mengalahkan maut dan untuk memberikan penghiburan dan harapan bagi keluarga yang ditinggalkan. Penghiburan dan pengharapan ini berdasar pada kebangkitan Kristus dari antara orang mati

C.     Saling menopang di bidang daya dan dana[21]

Yang dimaksud saling topang menopang gereja dalah suatu upaya bersama untuk terus menerus memperkembangkan semua kemampuan dan pemberian Tuhan secara bebas dan bertanggungjawab bagi persekutuan pelayanan dan kesaksian yaitu kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan sesuai dengan kepenuhan Kristus. Saling menopang mencakup tiga unsure yaitu teologi, daya, dan dana yang merupakan satu mata rantai yang saling berkaitan erat, di mana yang satu dapat mengambat bila tidak diperhatikan, tetapi akan sangat mendorong bila mana dikaitkan dengan yang lainnya. Secara umum saling menopang dipahami sebagai sikap yang merupakan salah satu cirri kemandirian. Saling meopang didasarkan pada pemahaman dan pengakuan bahwa dalam diri Yesus Kristu yang datang di tengah kancah kehidupan dunia, Allah berkenan mengawali misiNya untuk menyelamatkan dan mensejahterakan dunia dengan membebaskan manusia dari dosa, maut dan segala bentuk penindasan dan penderitaan dalam rahmat pengampunanNya. Untuk melaksanakan panggilannya sesuai hakikat dan tujuan hidupnya, gereja memerlukan visi dan motifasi teologis, tenaga manusia dan dana serta berbagai sarana lain. Seluruh upaya saling menopang di bidang teologi daya dan dana dilaksanakan dalam konteks keesaan, visi dan misi bersama, sekaligus merupakan gaya hidup otentik dari gereja-gereja di Indonesia.

I.                   Tata dasar persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia[22]

Semua orang percaya di setiap tampat mengakui dan percaya bahwa adanya satu gereja yang Esa, kudus, am dan rasuli seperti keesaan antara Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bahwa oleh bimbingan dan kuasa Roh Kudus yang senantiasa membaharui, membangun dan mempersatukan gereja-gereja, dan didorong pula oleh keinginan melanjutkan dan meninggalkan kebersamaan dalam keesaan yang telah dicapai selama ini melalui wadah DGI, maka 54 gereja anggota DGI yang terhimpun dalam sidang raya X DGI di Ambontelah sepakat untuk meningkatkan DGI dalam saru lembaga gerejawi dengan nama persekutuan gereja-gereja di Indonesia yaitu PGI dengan tujuan perwujudan gereja Kristen yang Esa di Indonesia

V.                Tanggapan Dogmatis Kontekstual

Oikoumene adalah kata dari bahasa Yunani, yaitu Partitium Preasentis passivum femium dari kata kerja oikeo, yang berarti tinggal, berdiman atau yang mendiami. Oleh karena itu arti harfiah kata Oikoumene adalah “yang didiami”. Tetapi particium ini telah mempunyai arti khusus sebagai kata benda. Arti pertama adalah geografis, dunia yang didiami (LK. 4 : 5, Rom. 10 : 18, Lbr. 1 : 6 dan lain-lain). Kemudian kata Oikoumene juga mendapat arti politik : kekaisaran Romawi (Kis. 24 : 5) dan semua penduduknya (Kis. 17 : 6).[23]

jika Oikoumene diartikan dalam arti yang sesungguhnya, maka dapat ditarik akar-akar yang melatarbelakangi gerakan Oikoumene (keseluruhan orang-orang Kristen) yaitu adanya perpecahan di kalangan orang-orang Kristen. Perpecahan itu terlihat secara nyata, pada zaman reformasi gereja Katolik Roma untuk pertama kali (sejak Khisma dengan gereja ortodoks Yunani tahun 1054), umat Kristen dihadapkan pada ancaman perpecahan secara besar-besaran.

Walaupun Luther dengan cepat dikucilkan dari gereja (1612), namun tetap diusahakan mencari perdamaian dengan pengikutpengikutnya kaum Injil demi kesatuan kaum Kristen terhadap ancaman Turki. Usaha-usaha ini yang didorong oleh pertimbangan-pertimbangan politik menghasilkan pembicaraan-pembicaraan agama di Leipzig (1539), Hagenau (1540), Worms (1540) dan Regensburg Ratizbon (1561) di wilayah kekaisaran Jerman dan Colloguium di Poissy (1561) di Perancis tetapi persetujuan tidak dicapai.[24]

Perlu dijelaskan di sini hal-hal mendasar yang membedakan antara Kristen Katolik dan Protestan, faktor-faktor ini pula yang menjadi sebab awal perpecahan di kalangan orang-orang Kristen sekaligus factor pendorong adanya Kristen Protestan. Menurut orag-orang Katolik, gereja-gereja adalah jalan ke Kristus dengan jabatan dan sakramensakramen. Sedangkan menurut orang-orang Protestan, Kristus adalahjalan ke gereja, dengan penekanan menurut firman dan iman. Disamping itu juga, terjadinya kehidupan mewah dalam istana Paus melebihi kemewahan raja-raja Perancis dan Inggris, sementara itu perubahan sosial politik sangat tajam, sehingga kedudukan para rohaniawan kehilangan monopoli dalam masyarakat. Pada puncaknya gereja ternyata menyalahgunakan wewenangnya, antara lain karena menjual idulgensi (penghapusan siksa, dosa) dan absolusi kepada parajemaat gereja. Hal ini menyebabkan kejengkelan para anggota jemaat dan pemimpin gereja, terutama di Jerman yang dipelopori oleh Marthin Luther.[25]

Demikianlah sekilas gambaran penyebab perpecahan yang ada di kalangan umat Kristen yang kemudian memunculkan konsep gerakan Oikoumene yang muncul di kalangan orang-orang Kristen Protestan.

Kembali kepada pembahasan gerakan Oikoumene, seperti yang dijelaskan di atas, bahwa meskipun kaum Injili memisahkan diri dari Roma, namun tetap ada kesadaran, baik di kalangan Protestan maupun di kalangan Katolik-Roma bahwa satu warisan menjadi milik bersama, yaitu warisan gereja kuno. Timbul kesadaran bahwa usaha-usaha untuk memulihkan perpecahan yang diakibatkan reformasi harus bertolak dari warisan bersama. Kesadaran ini hidup khususnya di kalangan kaum humanis, cendekiawan Katolik maupun Protestan yang mengecam keadaan gereja Katolik Roma pada zaman itu karena telah menyimpang dari ajaran dan praktek gereja kuno.

Dengan penjelasan ini marilah kita melihat adanya ajaran yang sah didalam gereja dan melalui kesepakatan. Dengan adanya penyimpangan disitulah adanya perpecahan. Dogmatika dalam gereja juga berubah. Namun dibuatlah sebuah gerakan yaitu gerakan oikumene untuk menyatukan gereja yang esa. Karena gereja adalah satu. Kepala gereja adalah Kristus. Ada beberapa bagian Alkitab yang ada sangkut pautnya membicarakan mengenai keesaan gereja. Salah satu di antaranya yaitu terdapat di dalam Yohanes 17:20-26. Bagian ini menunjukkan perhatian Tuhan Yesus yang khusus untuk semua orang percaya/gereja yang universal. Perhatian yang dominan dalam bagian ini adalah merupakan suatu kesatuan dan kemuliaan Ilahi.[26]  Tetapi apa yang dimaksud kesatuan di sini? Kesatuan orang percaya dibandingkan dengan kesatuan antara Bapa dan Anak (ay. 21a). Sifat kesatuan ini bukan persamaan melainkan merupakan suatu analogi. Tetapi yang jelas bahwa kesatuan antara orang percaya permulaannya hanya mungkin diperoleh dalam hubungan Bapa dan Anak. Namun selanjutnya kesatuan yang dimaksud dalam doa Tuhan Yesus ini dapat ditafsirkan dalam dua cara; yaitu:

1. Keberadaan kesatuan di antara orang percaya dan kesatuan antara Bapa dan Anak ada dalam kekekalan. Keduanya ini jelas sifat dasar kesatuan antara Bapa dan Anak yang rohani dapat bersatu menghadapi dunia ini. Ketika orang percaya bersatu dalam iman mereka ini, maka mereka mempunyai kuasa dan pengaruh dalam menghadapi dunia.[27]

2. Kesatuan yang diutarakan oleh Berkouwer, yaitu yang dimaksud dalam bagian ini (Yoh. 17:21), bukan 'kesatuan yang mistik' atau kesatuan batiniah yang tidak kelihatan tetapi kesatuan kebenaran, pengudusan dan kasih sebagai suatu realitas yang nampak, yang dapat dilihat oleh tiap-tiap orang.[28]

Kesatuan di antara orang percaya hanya dimungkinkan karena kepercayaan kepada Kristus (Yoh. 17:20). Kesatuan di antara orang percaya berhubungan dan berdasarkan pada kesatuan Bapa dan Anak. Kesatuan di sini erat hubungannya dengan kebenaran, kekudusan (ay. 17-19), kemuliaan (ay. 22,24) dan kasih (ay. 23,26), semuanya untuk dapat dilihat orang (ay.21,24). Bapa dan Anak secara zat/esensi adalah satu (Yoh. 10:30), sehingga apa yang Bapa miliki juga dimiliki oleh Anak (Yoh. 16:15). Tetapi kesatuan ini tanpa dinyatakan kepada manusia, maka itu tidak akan berarti dan tidak dimengerti oleh manusia. Sebab itu Kristus yang mulia harus datang ke dalam dunia untuk menyatakan hal ini (Yoh. 1:14; band. Yoh. 17:24). Kedatangan Kristus sejak semula yaitu melakukan kehendak Bapa untuk mati di atas kayu salib (Yoh. 3:14-17; band. Fil. 2:8). Kristus datang untuk menyatakan Allah Bapa kepada manusia (Yoh. 14:9-10). Tetapi dalam melihat hubungan Kristus yang unik dengan Allah Bapa, dan sekaligus memperkenalkan Allah Bapa kepada manusia, maka itu diwujudkan melalui perbuatan-perbuatanNya (Yoh. 14:11). Segala sesuatu yang Kristus lakukan dan katakan semuanya sesuai dengan kehendak Allah Bapa (Yoh. 8:28; 14:24). Jikalau kesatuan orang percaya ada dalam kesatuan Bapa dan Anak (ay. 21), maka kesatuan itu juga adalah dalam melakukan segala pekerjaan yang sesuai dengan Firman Tuhan, atau melakukan segala pekerjaan seperti Kristus melakukan pekerjaan Allah. Kesatuan di antara orang percaya/gereja akan terwujud jikalau orang percaya/gereja melakukan pekerjaan Tuhan sesuai dengan yang difirmankan Tuhan, dengan demikian barulah dapat membawa orang-orang untuk percaya kepada Kristus dan mengaku Kristus sungguh diutus Allah, sebagai Juru Selamat (ay. 21,23). Berhubungan dengan kemuliaan, jika orang-orang percaya menyatakan kemuliaan Kristus, maka ini akan menghasilkan kesatuan asasi.

Pemahaman tentang kesatuan di antara orang percaya/gereja di atas, hampir sejalan dengan pandangan yang dikemukakan oleh Dr. Harun Hadiwijono yakni bahwa kesatuan yang dirindukan oleh Kristus dalam doanya itu, adalah terletak dalam berkata dan berbuat seperti yang difirmankan dan diperbuat oleh Bapa dan Anak: Perkataan dan perbuatan mereka harus mendemonstrasikan Firman dan karya Kristus dan Bapa. Di situlah mereka dipersatukan dengan Bapa dan Anak. Jikalau semua itu terjadi, maka dunia akan percaya bahwa Allah Bapa benar-benar telah mengutus Kristus untuk menyelamatkan dunia ini. Berdasarkan hal ini, maka tidak benar untuk menafsirkan doa Tuhan Yesus dalam Yoh. 17:20, 21, sebagai amanat untuk mendirikan satu gereja yang esa.[29]

Keesaan (=kesatuan) gereja adalah pekerjaan Roh Kudus. Hanya pekerjaan Roh Kudus sendiri yang memungkinkan kesatuan itu terwujud. Pengalaman dalam kesatuan ini hanya memungkinkan di antara mereka yang telah diterangi dan didiami oleh Roh Kudus (ay. 2-3, band. I Kor. 12:12-13). Pada dasarnya kesatuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus itu tidak terlihat, bersifat rohani. Tetapi hal itu kemudian akan diungkapkan secara nyata, terlihat melalui persekutuan di antara orang percaya.[30] Dalam mencapai keesaan di antara orang percaya, maka hal pertama harus dimiliki oleh orang Kristen adalah kerendahan hati (ay. 2). Dengan, kerendahan hati akan mengantar seseorang untuk lemah lembut dan sabar; selanjutnya dalam kasih akan membawa kerja sama di antara orang percaya, karena kasih itu tidak mementingkan diri sendiri, tetapi mau toleransi dengan yang lain (I Kor. 13:4-7).



[1] Geogre B. Grose dan Benjamin J. Hubbard (ed.), Tiga Agama Satu Tuhan : Sebuah

Dialog, Terj. Santi Indra Astuti, Mizan, Bandung, 1998: hlm. 227

[2]Weinata Sairin, Gereja, agama-agama dan Pembangunan nasional, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2006: hlm. 82

[3] Th. Sumartana, Noegroho Agoeng, Zuly Qodir (ed.), Pluralisme, Konflik dan

Perdamaian (Studi Bersama Antar Iman), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002: hlm. 94-95

[4] Rouse, Ruth, Stephen Charles Neil, (ed), A History of the Ecumenical Movement, The Westminster Press, Philadelphia 1967: hlm.1-69.

[5] Ukur, F.  dan F.L. Cooley, (ed), Jerih dan Juang : Lembaga Penelitian Studi DGI, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1979: hlm.571-572.

 

[7] Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Dokumen Keesaan Gereja Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (DKG-PGI): Keputusan Sidang Raya XIV PGI, Wisma Kinasih, 29 November - 5 Desember 2004(Jakarta: Gunung Mulia, 2006)

[8] Ibid 1-30

[9] Ibid hal 31-40

[10] Ibid 41-49

[11] Ibid 50-58

[12] Ibid 59-65

[13] Ibid 66-71

[14] Ibid, 72-73

[15] Ibid, 73-74

[16]  Ibid 78-79

[17] Ibid 79-83

[18] Ibid 83-84

[19] Ibid 85-87

[20]Ibid 87-95

[21] Ibid 96-100

[22] Ibid 101-118

[23] Dr. Christian De Jonge, Menuju Keesaan Gereja (Sejarah, Dokumen-dokumen dan

Tema-tema Gerakan Oikoumene), BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2000, hlm. xvii

[24] Dr. Christian De Jonge, Op. cit., hlm. 3

[25] Hilman Hadikusuma, Antropologi Agama (Bagian II : Pendekatan Budaya terahdap

Yahudi, Kristen Katolik, Protestan dan Islam), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993, hlm. 128

[26] Leon Morris, The Gospel According to John, Eerdmands, Grand Rapids, Michigan, 1973.hal 732

[27] William hendriksen, The Gospel of John, New Testament Commentary, The Banner of Truth Trust, London, 1973.hal 364-365

[28] Abineno,J.L.Ch, Gereja dan Keesaan Gereja, BPK Gunung Mulia, Jakarta: hlm. 14

[29] Harun Hadiwijono, Supaya mereka semua menjadi satu, Berita Oikumene, Nopember 1981. hal 16-19

[30] Donal Guthrie (ed), Tafsiran Alkitab Masa Kini, BPK, Jakarta, 1981.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...