I.
Istilah
Oikumene
Istilah
Oikoumene nyaris diartikan sebagai universal atau interiman, yang sesungguhnya keliru. Makna aslinya adalah
bumi yang dihuni. Kata oikos dalam bahasa Yunani berarti “rumah”, mene adalah
“bumi”. Pemahaman tentang hal ini dalam kehidupan batin gereja sejajar dengan
konsep ahl al-kitab dalam Islam. Istilah Oikoumene merupakan istilah misi yang
analog dengan dinamisme konsep ahl alkitab dan berpusat pada pesan iman. Paulus
meringkas pesan ini sebagai, “sebab jika kamu mengakui dengan mulutmu bahwa
Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu. Bahwa Allah telah membangkitkan
Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Rm. 10 : 9). Jadi
sesungguhnya Oikoumene merupakan istilah untuk menggambarkan misi keKristenan,
gerakan Oikoumeneuntuk mendiami bumi yang kepadanya Injil diberitakan. Itu
semacam parafrase bagian akhir Injil Matius, untuk pergi dan membaptis
bangsabangsa (Mat. 28 : 18 – 20) atau bagian pembuka kisah para Rasul “kamu
akan menjadi saksiku .... sampai ke ujung bumi” (Kis. 1 : 8).[1]
Menurut
Abineno, istilah oikumene itu sendiri telah dipakai oleh Herodotus sejak abad
ke-5 sM. Menurut tradi Yunani oikumene identik dengan dunia kebudayaan, sebab
itu mereka yang berada di luar oikumene dianggap sebagai orang-orang yang tidak
berkebudayaan. Sementara itu dalam Alkitab Perjanjian Baru oikumene cenderung
memiliki pengertian kerajaan, jelasnya kerajaan romawi. Oikumene dalam arti
gereja mula-mula dipakai oleh origenes (185-254 sM), yang kemudian diteruskan
oleh pimpinan-pimpinan gereja yang lain, sehingga istilah itu semaki dikenal di
lingkungan gereja. kemudian istilah oikumene lazim dipakai untuk menyebut suatu
pertemuan/konsili yang dilakukan oleh gereja-gereja, termasuk di dalamnya
gereja katolik. Sejarah Lahirnya Oikumene di Dunia.[2] Dalam tradisi agama Kristen, ada yang disebut dengan
istilah Oikoumene (bahasa Yunani, Oikos = rumah, monos = satu; Oikoumene = satu
rumah). Istilah ini mengalami beberapa penyesuaian dengan konteks perkembangan
keKristenan sedunia. Tadinya hanya sebatas lingkungan keKristenan di wilayah
kerajaan Romawi, tetapi kemudian menunjuk pada keKristenan secara umum. Dari
situ berkembang lagi menjadi gereja-gereja (=agama Kristen) dan agama-agama non
Kristen, dan berkembang lagi sampai kepada hubungan gereja-gereja dengan
ideologi-ideologi. Gerakan ini sangat dikenal dengan gerakan Oikoumene. Gerakan
yang peduli pada relasi-relasi antar denominasi gereja (keKristenan) antara
agama Kristen dengan agama-agama lain, ideologi-ideologi bahkan tentang
lingkungan hidup dan seluruh ciptaan Allah.[3]
II.
Sejarah
gerakan Oikumene
Para ahli sejarah gereja
cenderung memilih konperensi Pekabaran Injil Sedunia di Edinburgh 1910, sebagai
titik mula lahirnya gerakan Oikumene Internasional. Walaupun sebenarnya Gerakan
Oikumene sudah dirintis pada zaman Reformasi bahkan sebelumnya, di mana
gereja-gereja di Eropa mulai mengadakan pendekatan untuk mewujudkan
kesatuannya.[4]
Tetapi jika diselidiki lebih jauh, sebenarnya sebelum konperensi Edinburgh
1910, pergerakan Oikumene baru dirintis oleh beberapa negara dan belum dalam
kategori Internasional. Nanti pada konperensi Edinburgh baru dapat dikatakan
Internasional, karena terdiri dari berbagai negara di dunia dan diikuti oleh
1200 delegasi dari 159 Badan Misi. Salah satu yang berhasil disimpulkan dalam
konperensi itu yakni mengenai kerja sama dan pemupukan keesaan. Hal ini juga
membawa gereja yang muda untuk memikirkan ke arah gereja yang dewasa.[5] Hal-hal ini penting bagi
gerakan keesaan gereja di kemudian hari, khususnya untuk gereja-gereja di
Indonesia yang masih muda. Pada tanggal 22 Agustus 1948 diadakan pembentukan
DGD di Amsterdam, yang merupakan penggabungan dari Gerakan Life and Work dan
Gerakan Faith and Order. Dewan ini mengadakan sidang raya I yang dihadiri oleh
351 utusan dari 147 gereja dan di dalamnya termasuk perutusan dari Indonesia.
DGD (Dewan gereja-gereja sedunia) yang merupakan hasil dari Gerakan Oikumene,
memberikan suatu perkembangan yang baru bagi Gerakan Oikumene. Sebagai
realisasi di Indonesia, pada tanggal 6-13 Nopember 1949 diadakan konperensi
persiapan pembentukan DGI di Jakarta; dan akhirnya pada tanggal 25 Mei 1950
terbentuklah DGI[6]
(setelah SR X th. 1984 di Ambon, berubah nama menjadi PGI), yang juga merupakan
hasil dari gerakan Oikumene. Dan selanjutnya PGI menjadi motivator utama bagi
gerakan Oikumene di Indonesia.
III.
Tokoh-tokoh
Oikumene
Nathan Soderblom
mempunyai gagasan untuk untuk mendirikan suatu dewan gereja-gereja dimulai
sejak akhir Perang Dunia Pertama. Semangat untuk mendirikan dewan gereja-gereja
sejajar dengan semangat untuk mendirikan Liga Bangsa-bangsa (1919/1920). Dirasa
perlu untuk mendirikan suatu persekutuan gereja-gereja sebagai “jiwa” untuk
kerjasama antara bangsa-bangsa.
Erasmus
menjembatani dunia klasik Yunani- Romawi dan dunia Kristen. Seorang pendidik
yang kuliahnya berupa karya-karta berseru pemimpin dan umum agar memilih jalan
saleh dan rasional sambil menjauhkan diri dari setiap macam pemikiran dan
tindakan yang berlebihan. Dia berbicara kebajikan eharusnya diamalkan orang
Kristen, meniru kelakuan yesus khususnya kebajukanNya, rendah hari, lemah
lembut, murah hari, kasih, damai, kerelaan mengampuni serta kebebasan berkorban
demni keselamatan sesamaNya. Ia bersedia memperkaya pengalaman kristianinya
dengan oikiran para pengarang kuno. Erasmu merupakan orang yang suka damai, dia
cenderung tidak mamu memihak. Namun seiting dengan berjalannya waktu, Erasmus
berpendapat bahwa kita harus memihak karena tanah netral sudah tidak ada.
Artinya apabila kita tidak memihak, mungkin saja hasilnya akan lebih buruk
lagi. Dalam perananya sebagai pendidik oikumenis, Erasmus mendidik melalui
usahanya memperoleh teks perjanjian baru dalam bahasa yunani yang paling asli
dan menjelaskan maknanya kepada jemaat. Erasmus tidak hanya peduli dalam
pelajaran saja tetapi ia juga peduli terhadap kaum perempuan dalam usaha hak
mereka, pernikahan, kaum Kristen dan upacara gereja yang terkadang dianggap
mutlak oleh beberapa pihak.
Untuk usaha menyelenggarakan
suatu konperensi sedunia mengenai iman dan tata negara (world conference in
Faith and Order) dipelopori oleh Charles H. Brent (1862 – 1929) seorang uskup
dari Protestan Episcopal Church di Amerika. Tujuan Faith and Order, yang
dirumuskan oleh Brent, adalah jalan menuju keesaan gereja. Brent melihat
gerejanya sendiri sebagai titik permulaan untuk gerakan Faith and Order.
Gerejanya harus mengundang gereja-gereja lain untuk menghadiri konperensi
mengenai pokok ini. Dan akhir tahun 1910 gerejanya memutuskan menunjuk suatu
panitia yang harus mengundang tata gereja dari gereja lain untuk membicarakan
persoalan-persoalan di bidang iman dan tata gereja untuk mencari jalan menuju
keesaaan gereja. Pada tahun 1912 delegasi penitia ini mengunjungi gereja-gereja
Anglikan di Inggris dan memperoleh dukungan untuk rencana konperensi sedunia
mengenai iman dan tata gereja.
IV.
Dokumen
Keesaan Gereja[7]
Dokumen Keesaan
Gereja adalah rumusan pengakuan bersama gereja-gereja di Indonesia yang disusun
dalam wadah Oikumene FGI/PGI. Adapun tujuan penyusunan dokumen ini sebagai pedoman
dan alat dalam mewujudkan gereja Kristen yang esa di Indonesia. Dokumen Keesaan
Gereja disingkat denan DKG yang dikenal pada saat ini merupakan pembaruan dan
penyempurnaan terus menerus dari naskah-naskah sebelumnya. Berikut ini idi dari
5 Dokumen Keesaan Gereja :
1. Pokok-pokok
tugas panggilan bersama (PTTB)
2. Pemahaman
bersama Iman Kristen (PBIK)
3. Piagam
saling mengakui dan menerima (PSMSM) di antara gereja-gereja PGI
4. Menuju
kemandirian teologi daya dan dana (MKTDD)
5. Tata
dasar persekutuan gereja-gereja di Indonesia (TD-PGI)
LDKG mengalami
penyempurnaan pada Sinode Raya XI pada tahun 1989 di Surabaya. Pada LDKG
diberikan tambahan sejenis pengantar umum untuk keseluruhan LDKG secara utuh
dan menempatkannya secara terpisah dari ke-5 dokumen. Pengantar umum bernama
Prasetya Keesaan[8]
Pemahaman gereja
mengenai gereja Kristen yang esa di Indonesia dalam Sidang Raya DGI I mendorong
DGI untuk melakukan studi dan penyelidikan bersama mengenai pengakuan iman,
tata gereja, katekisasi dan liturgy yang digunakan oleh gereja-gereja
anggotanya. Studi dan penyelidikan ini memuncak pada Sidang Raya DGI VI pada
tahun 1967 di Ujung Pandang yang diperkenalkan dalam konsep Tata Sinode
Oikumene Gereja di Indonesia (Sinogi) dan Pemahaman Iman Bersama pada Sidang
Raya DGI VII tahun 1971 di Pemantang Siantar, konsep Sinogi dan Pemahaman Iman
Bersama diterima sebagian karena gereja-gereja di Indonesia pada saat itu
dinilai belum siap. Inilah tahap awal perubahan, nama dan pemahaman diri. Oleh
karena itu dibutuhkan usaha-usaha mewujudkan keesaan secara konkrit pada Sidang
Raya XI tahun 1980 di Tomohon. Usaha-usaha konkrit mewujudkan keesaan semakin
berkembang. Simbol-simbol ini mendorong pembicaraan mengenai simbol-simbol
keesaan yang merupakan kristalisasi dari 5 Dokumen Keesaan Gereja.
Simbol keesaan ini meliputi 4 dokumen, yaitu :
1. Piagam
Prasetya Keesaan[9]
2. Pemahaman
Iman Bersama
3. Piagam
Saling Mengakui dan Menerima
4. Tata
Gereja Dasar
Kemudian pada
Sidang Raya DGI/PGI X pada tahun 1984 di Ambon, dokumen-dokumen ini dirumuskan
kembali dan disahkan dengan nama 5 Dokumen Keesaan Gereja (LDKG). Pada sidang
ini juga wadah keesaan gerejaberganti nama DGI menjadi PGI. Pergumulan
Theologis gereja-gereja di Indonesia. Karena itu dokumen ini juga merupakan
hasil pergumulan theologies gereja-gereja di Indonesia sejak berdirinya DGI
pada tahun 1950.
Kekuatan LDKG ialah merupakan
dokumen keesaan dengan nilai theologies-eklesiologis, historis dan misiologis
dalam Sidang Raya XIII PGI tahun 1994 di Jayapura dilakukan perbaikan namun
tidak banyak melakukan perubahan sehingga susunan 5 Dokumen Keesaan Gereja
menjadi :
1. Prasetya
Keesaan
a. Pokok-pokok
tugas panggilan bersama
b. Pemahaman
bersama Iman Kristen
c. Piagam
saling mengakui dan menerima
d. Tata dasar PGI
e. Menuju
kemandirian theology daya dan dana
2. Daftar-daftar
anggota PGI[10]
a. Pokok-pokok
tugas panggilan bersama. Dokumen ini memuat hal-hal dasariah mengenai :
·
Pemahaman bersama gereja-gereja yentang
tugas panggilan (misi) bersama
·
Konteks nyata dimana gereja ditempatkan dalam
suatu realism yang berpengharapan
·
Dokumen ini pun dilihat sebagai dokumen
misiologi dari gereja-gereja di Indonesia.
3. Tata
dasar[11]
Dokumen tata dasar isinya 13 BAB
yang berisi tata gereja bagio organisasi gereja. Dilihat dari isinya ada
pemahaman baru tentang gereja yang esa.keesaan tidak dibentuk karena sejatinya
ia memang esa namun belum terwujud. Maka dari itu, rumusan tujuan tidak lagi
membentuk gereja Kristen yang esa melainkan secara konkrit. Dilihat dari
fungsinya ia semacam aturan main organisasi dan mirip anggaran dasar dari
organisasi pa umumnya atau tata gereja pada khusunya demikian tata gereja
merupakan alat bagi persekutuan gereja-gereja di Indonesia untuk melaksanakan
kiprahnya.
4.
Piagam saling mengakui dan menerima (PSMSM)[12]
PSMSM isinya 12
BAB yang berkaitan dengan keanggotaan danpenerimaan gereja-gereja dan anggota
untuk salingmengakui dan menerima berkaitan dengan pemberitaan firman,
pelaksanaan sakramen dan beberapa hal yang berkaitan dengan penggembalaan
jemaat. Dilihat dari isinya PSMSM ini menggarisbawahi bahwa keberagaman
denominasi dan organisasi gerejatidak dipertentangkan satu sama lain melainkan
dilihat sebagai kwkayaan manivestasi dari gereja yang satu. Sedangkan dilihat
dari fungsinya, PSMSM berperan sebagai hubungan kreatif antara gereja-gereja
amggota dimana di dalam identitas masing-masing gereja tetap diakui akan tetapi
juga ditempatkan dalam hubungan kebersamaan dengan identitas gereja lain. Dalam
hal ini ada penghormatan terhadap perbedaan dan penerimaan keberagaman sebagai
yang memperkaya persekutuan. Dengan diterima dokumen ini menunjukkan langkah
menuju perwujudan gereja Kristen yang esa semakin jelas.
5.
Pemahaman bersama Iman Kristen (PBIK)[13]
Dokumen
inimembahas mengenai bagaimana setiap jemaat Kristus memahami arti sebuah iman.
Ada 7 poin yang dibahas di sini :
Dasar pemikiran
Semangat Pgi dalam membentuk
persekutuan gereja-gereja di Indonesia di dalam tugas dan tanggungjawab yang
berikrarkan pengakuan iman rasuli dan pengakuan iman nicea konstatinopel di
mana lahir dari pergumulan iman pada zaman gereja purba sebagai kesaksian
berlandaskan alkita sebagai lambing keesaan Gereja Tuhan di segala tempat dan
sepanjang zaman. Semua diwujud nyatakan pada sidang Raya XiV di Caringin,
Bogor, 29 Nopember – 5 Desember 2004 menyepakati untuk meningkatkan dan
mengembangkan Pemahaman Bersama Iman Kristen di Indonesia yang ditetapkan oleh
sidang Raya X DGi/ PGi tahun 1994 di Ambon. Tujuan pengembangan ini untuk lebih
mencerminkan lagi pergumulan-pergumulan dalam menghayati iman Kristen di
tengah-tengah masyarakat dan bangsa Indonesia. Beberapa pokok pemahaman bersama
iman Kristen di Indonesia, yaitu :
Tuhan Allah[14]
Dalam pelbagai
cara, Allah menyatakan diri kepada manusia ciptaanNya namun dikemudiannya, Dia
mengosongkan diri dan datang kedunia melalui seorang hamba dalam rupa manusia
dan menjadi sama seperti manusia dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah
merendahkan diri dan taat samapi mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah
sebabnya Allah meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadanya nama di atas segala
nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang adal di langit dan
yang ada di bawah bumi.
Allah bekerja di dalam Roh Kudus
dan dalam greja melalui Roh Kudus yang memedekakan manusia dari hukuman dosa
dan hukum maut. Roh kudus itu menhidupkan, membaharui, membangun,
mempersembahkan, menguatkan, menertibkan, dan meneguhkan seta memberu kuasa
pada gereja untuk menjadi saksi, menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan
penghakiman, dan memimpin orang-orang percaya kepada seluruh kebenaran Allah.
Penciptaan dan Pemeliharaan[15]
Kami percaya bahwa : Segala
ciptaanNya adalah baik. Semua yang terlihat dan yang tidak terlihat adalah
milikNya namun semua yang telah diciptakan Allah tidak boleh diperilah dan
disembah. Ciptaan Allah dalam keselarasan yang saling menghidupkan, sejalan
dengan kasih karunia pemeliharaanNya atas ciptaanNya. Allah tidak menginginkan
seluruh ciptaanNya saling merusak. Dari permulaan hingga akhir, Tuhan
memerintah, memelihara dan menuntun segenap ciptaanNya dengan kasih setia dan
adil.
Manusia diciptakan
sebagai laki-laki dan perempuan dengan martabat yang sama dan untuk
memperlengkapi tugas dan mandat itu, Allah memperlengkapi manusia dengan akal
budi dan hikmat. Manusia diciptakan dalam kebebasan, dan dalam kebebasannya itu
ia bertanggungjawab kepada Allah. Ia juga diciptakan sebagai makhluk yang hidup
dalam persekutuan dan wajib mengatur kehidupan bersamanya dalam keluarga dan
masyarakat, yang dapat membawa kebaikan bagi semua orang. Manusa dikuasai oleh
iblis, dan menjadi hamba dosa dan sebagai upahnya ia menerima maut dan
kebinasaan. Allah mengasihi menusia dan tidak menghendaki kebinasaan manusia,
melainkankeselematannya. Kasih Allah yang agung yang menyelamatkan manusia dari
kuasa dosa.
Kerajaan Allah dan Hidup Baru[16]
Kerajaan Allah itu adalah kuasa
dan pemerintah Allah yang menyelamatkan, yang tampak dan berwujud di dalam
lingkungan dan suasana hidup yang di dalamnya terdapat kasih, kebenaran,
keadilan, damai sejahtera, kesucian, pemulihan dan pembaharuan hidup. Kerajaan
Allah itu sudah datang dan menjadi nyata dalam kehidupan dunia dan umat manusia
dengan kedatangan yesus Kristus, Raja dan Juruselamat dunia. Oleh karena itu,
gereja dan ornag-orang percaya mendoakan dan menyongsong penggenapan Kerajaan
Allah itu dengan secara tekun bekerja menegakkan tanda-tanda Kerajaan Allah di
dalam kehidupan sehari-hari. Dlaam rangka penggenapan Kerajaan Allah itu,
gereja sebagai persekutuan orang percaya dan setiap warganya dipanggil untuk
menjalankan suatu kehidupan baru sesuai dengan tuntunan kerajaan Allah.
Roh Kudus[17] menghimpun umatNya dari
segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa, ke dalam suatu perkutuan yaitu gereja,
yang di dalamnya Kristus adalah Tuhan dan Kepada. Gereja dan mengutusnya jke
dalam dunia untuk menjadi saksi, memberitakan injil Kerajaan Allah. Gereja dan
warganya akan dapat menghayati dengan sungguh-sungguh makna dari baptisan dan
perjamuan kudus yang senantiasa dilayankan bersama-sama dengan pemberitaan
Firman Allah di tengah-tengah ibadah gereja sebagai tanda keberadaan dan
kekuasaannya. Greja ada di tengah-tengah dunia ini sebagai arak-arakan umat
Allah yang terus bergerak menuju ke kepenuhan hidup di dalam Kerajaan Allah.
Gereja dipanggil untuk membina hubungan dan kerjasama dengan pemerintah dan
semua pihak di dalam masyarakat untuk mendatangkan kebaikan dan mendirikan
tanda-tanda Kerajaan Allah menuju kesempurnaannya di dalam Yesus Kristus.
Alkitab[18]
A. Konsep
Dasar Keesaan Gerejawi[19]
Perpecahan dan
kesendiri-sendirian gereja-gereja telah menjadi kendala mendasar bagi
keberadaan gereja sebagai gereja dan mengaburkan ,melemahkan serta menumpulkan
kesaksian dan pelayanan kami.caya TUHAN sedang terus melakukan pekerjaan
menyatukangereja TUHANdemi persatuan dan kesatuan umat manusia dengan melawan
segala macam bentuk kekerasan yang memecah belah dan merusak manusia,ketetapan
hati itu kami mengambil bagian dalam karya TUHAN memulikan dan menyembuhkan
gereja dan dunia dari keterbelahan dan ketrpecahannya.kami bergantung pada
TUHAN dalam kesatuan itu, semakin kami mandiri dan berdaya, sehingga kami semakin
dimampukan untuk saling mengakui dan saling menerima, saling menolong dan
saling melengkapi.keesaan di dalam TUHAN itu adalah kesatuan yang bersambung
pada hakikat Allah dalam kristus,keesaan bukan suatu pilihan atau alternative
yang secara netral dapat dipilih atau ditulak oleh gereja sebagai gereja.
Keesaan gereja adalah anugrah TUHAN untuk diwujudnyatakan dan panggilan TUHAN
untuk dilaksanakan oleh gereja TUHAN, agar gereja menjadi satu, dan agar dunia
tahu (Yoh. 17:23) dan percaya (yoh. 17:21).keesaan gereja kesatuan yang majemuk
yang memberi ruang kebebasan dan kehidupan pada semua makhluk.Tuhan Yesus
kristus menjadi penesa dari suatu keesaan yang sangat majemuk merangkum semua
manusia denan segala kekayaan budayanya. Kami percaya menamai keesaani ini Oikoumene
Gerejawi [OG] yang adalah GKYE.kami
percaya bahwa secara hakikat GKYE adalah tubuh krisrus dalam setiap budaya dan
lintas semua budaya sekaligus. Ciri khas masing-masing, dan semua perbedaan
ras, etnis, budaya, ajaran, denominasi, structural kami, kepadaTuhan Yesus
Kristus,agar mendapatkan tempat dan fungsinya yang benar, yaitu sebagai elemen
kemajemukan yang membentuk, menghidupkan, dan memperkaya kesatuan, dan tidak
menjadi prinsip primordial yang eksklusif, memecah.bentuk Oikoumene Gerejawi
dalam Gkye itu, ditentukan,
pertama, oleh derajat konektivitas antar anggota tubuh dan seluruh tubuh dengan sang kepala mewujudkan
Gereja Kristen yang esa di Indonesia yang mengikratkan kembali kesediaan salin
mengakui dan menerima satu terhadap yang lain dengan segala perbedaan yang ada.
B. Saling
mengakui dan saling menerima[20]
Keanggotaan gereja dan
peppindahan/penerimaan keanggotaan. Mengakui dan menerima keanggotaan gereja
setiap orang yang telah menyebut panggilan Tuhan untuk hidup di dalam dan dari.
Mereka adalah orang-orang yang telah mengaku percaya di hadapan jemaat dan Tuhan
di dalam kebaktian yang diselenggarakan menurut peraturan gereja Anggota PGI.
Tuhan, suatu iman dan satu baptisan, sehingga mereka semua adalah anggota dari
keluarga Allah yang satu, sebagai satu tubuh dalam kebersamaan dan damai
sejahtra
Diakonia
Kami mengakui
dan menerima pekabaran injil diselenggarakan oleh setiap gereja pgi menurut
peraturan gereja tersebut dengan memperhatikan pemahaman-pemahaman bersama
menenai injil dan pekabaran injil yang sudah dihasilkan dalam perjalanan
memasukin sejarah bersama ini
Baptisan Kudus
Mengakui dan menerima pelayanan
babtisan kudus yang diselenggarakan oleh gereja Anggota PGI kepada seseorang.
a. Telah
diamatkan oleh Tuhan Yesus yang telah bangkit
b. Telah
dilakukan dalam dan oleh gereja di zaman para rasul
c. Dilaksanakan
dalam kebaktian yang didasari dengan pemberitaan Firman
d. Mempersatukan
setiap orang yang telah menerima babtisa kudus itu dengan kematian dan
kebangkitan kristus
e. Menghisabkan
setiap orng yang telah menerima babtisan kudus itu ke dalam satu tubuh. Tidak
melakukan pembabtisan ulang, melainkan hanya mengumumkannya di dalam kebaktian
jemaat.
Perjamuan kudus
Mengakui dan menerima pelayanan
perjamuan kudus yang diselenggarakan oleh setiap gereja Anggota PGI menurut
pemahman dan peraturan gereja tersebut.
a. Telah
diamatkan oleh Tuhan yesus sebagai tanda kehadiranNya dan tanda peringatan akan
kematian,
b. Telah
dilakukan dalam dan oleh gereja dan di zaman para rasul
c. Memungkinkan
setiap orang percaya untuk mengalami sukacita keselamatan yang telah dikerjakan
oleh keristus dalam peng harapan akan memasuki perjamuan Anak Domba
d. Adalah
ucapan syukur jemaat atas karunia pengampunan dosa dan penyelamatan manusia
oleh kristus,
e. Dilayani
dalam suatu kebaktian yang didasari dengan pemberitaan Firman dan melalui
tanda-tanda nyata,
f. Dihayati
sebagai persekutuan dengan tubuh dan darah kristus yang membawa kepada
persekutuan persaudaraan,
·
Penggembalan
Mengakui dan
menerima pelaksanaan pelayanan penggembalaan dalam kehidupan gereja-gereja
dalam lingkungan PGI.
·
Disiplin Gerejawi
Mengakui dan
menerima tindakan disiplin gerejawi seperti yang dinyatakandalam Alkitab
·
Pengajaran Pokok-Pokok Iman Kristen
Mengakui dan
menerima penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran pokok-pokok iman Kristen
·
Pemberitaan pernikahan gerejawi
Mengakui dan
menerima setiap pelayanan pemberkatan pernikahan gerejawi oleh pejabat gereja
menurut peraturan gereja anggota PGI
·
Pelayan/pejabat gerejawi
mengakui
menerima pengadauan, pengakatan dan peneguhan/pelantikan pejabat gerejawi yang
dilakukan oleh setiap gereja Anggota PGI.
Hal itu
berdasarkan kesksian alkitab bahwa seluruh anggota jemaat dipanggil untuk
melayani pada dasarnya Allahlah yang memanggil para pejabat gerejawi,untuk
menjadi kawan sekerja-Nya dalam perwujutan npekerjaan dan misi Allah bagi dan
dalam dunia ini. Kristus memberikan jabatan untuk memperlengkapi warga gereja
bagi pekerjaan pelayanan.
·
Penguburan/pengabuan
Kami mengakui
dan menerima pelayanan dan upacara
penguburan dan atau vpengabuan menurut pemahaman dan peraturan gereja anggota
PGI. Mengakui dan menerima pelayanan upacara penguburan dan atau pengbuan
menurut pemahaman gereja anggota PGI, untuk memberitakan kebangkitan Kristus
bahwa ia telah mengalahkan maut dan untuk memberikan penghiburan dan harapan
bagi keluarga yang ditinggalkan. Penghiburan dan pengharapan ini berdasar pada
kebangkitan Kristus dari antara orang mati
C. Saling
menopang di bidang daya dan dana[21]
Yang
dimaksud saling topang menopang gereja dalah suatu upaya bersama untuk terus
menerus memperkembangkan semua kemampuan dan pemberian Tuhan secara bebas dan
bertanggungjawab bagi persekutuan pelayanan dan kesaksian yaitu kedewasaan
penuh dan tingkat pertumbuhan sesuai dengan kepenuhan Kristus. Saling menopang
mencakup tiga unsure yaitu teologi, daya, dan dana yang merupakan satu mata
rantai yang saling berkaitan erat, di mana yang satu dapat mengambat bila tidak
diperhatikan, tetapi akan sangat mendorong bila mana dikaitkan dengan yang
lainnya. Secara umum saling menopang dipahami sebagai sikap yang merupakan
salah satu cirri kemandirian. Saling meopang didasarkan pada pemahaman dan
pengakuan bahwa dalam diri Yesus Kristu yang datang di tengah kancah kehidupan
dunia, Allah berkenan mengawali misiNya untuk menyelamatkan dan mensejahterakan
dunia dengan membebaskan manusia dari dosa, maut dan segala bentuk penindasan
dan penderitaan dalam rahmat pengampunanNya. Untuk melaksanakan panggilannya
sesuai hakikat dan tujuan hidupnya, gereja memerlukan visi dan motifasi
teologis, tenaga manusia dan dana serta berbagai sarana lain. Seluruh upaya
saling menopang di bidang teologi daya dan dana dilaksanakan dalam konteks
keesaan, visi dan misi bersama, sekaligus merupakan gaya hidup otentik dari
gereja-gereja di Indonesia.
I.
Tata dasar persekutuan Gereja-Gereja di
Indonesia[22]
Semua orang
percaya di setiap tampat mengakui dan percaya bahwa adanya satu gereja yang
Esa, kudus, am dan rasuli seperti keesaan antara Allah Bapa, Anak dan Roh
Kudus. Bahwa oleh bimbingan dan kuasa Roh Kudus yang senantiasa membaharui,
membangun dan mempersatukan gereja-gereja, dan didorong pula oleh keinginan
melanjutkan dan meninggalkan kebersamaan dalam keesaan yang telah dicapai
selama ini melalui wadah DGI, maka 54 gereja anggota DGI yang terhimpun dalam
sidang raya X DGI di Ambontelah sepakat untuk meningkatkan DGI dalam saru
lembaga gerejawi dengan nama persekutuan gereja-gereja di Indonesia yaitu PGI
dengan tujuan perwujudan gereja Kristen yang Esa di Indonesia
V.
Tanggapan
Dogmatis Kontekstual
Oikoumene adalah kata dari bahasa
Yunani, yaitu Partitium Preasentis passivum femium dari kata kerja oikeo, yang
berarti tinggal, berdiman atau yang mendiami. Oleh karena itu arti harfiah kata
Oikoumene adalah “yang didiami”. Tetapi particium ini telah mempunyai arti
khusus sebagai kata benda. Arti pertama adalah geografis, dunia yang didiami
(LK. 4 : 5, Rom. 10 : 18, Lbr. 1 : 6 dan lain-lain). Kemudian kata Oikoumene
juga mendapat arti politik : kekaisaran Romawi (Kis. 24 : 5) dan semua
penduduknya (Kis. 17 : 6).[23]
jika Oikoumene diartikan dalam
arti yang sesungguhnya, maka dapat ditarik akar-akar yang melatarbelakangi
gerakan Oikoumene (keseluruhan orang-orang Kristen) yaitu adanya perpecahan di
kalangan orang-orang Kristen. Perpecahan itu terlihat secara nyata, pada zaman
reformasi gereja Katolik Roma untuk pertama kali (sejak Khisma dengan gereja
ortodoks Yunani tahun 1054), umat Kristen dihadapkan pada ancaman perpecahan
secara besar-besaran.
Walaupun Luther
dengan cepat dikucilkan dari gereja (1612), namun tetap diusahakan mencari
perdamaian dengan pengikutpengikutnya kaum Injil demi kesatuan kaum Kristen
terhadap ancaman Turki. Usaha-usaha ini yang didorong oleh
pertimbangan-pertimbangan politik menghasilkan pembicaraan-pembicaraan agama di
Leipzig (1539), Hagenau (1540), Worms (1540) dan Regensburg Ratizbon (1561) di
wilayah kekaisaran Jerman dan Colloguium di Poissy (1561) di Perancis tetapi
persetujuan tidak dicapai.[24]
Perlu dijelaskan
di sini hal-hal mendasar yang membedakan antara Kristen Katolik dan Protestan,
faktor-faktor ini pula yang menjadi sebab awal perpecahan di kalangan
orang-orang Kristen sekaligus factor pendorong adanya Kristen Protestan.
Menurut orag-orang Katolik, gereja-gereja adalah jalan ke Kristus dengan
jabatan dan sakramensakramen. Sedangkan menurut orang-orang Protestan, Kristus
adalahjalan ke gereja, dengan penekanan menurut firman dan iman. Disamping itu
juga, terjadinya kehidupan mewah dalam istana Paus melebihi kemewahan raja-raja
Perancis dan Inggris, sementara itu perubahan sosial politik sangat tajam,
sehingga kedudukan para rohaniawan kehilangan monopoli dalam masyarakat. Pada
puncaknya gereja ternyata menyalahgunakan wewenangnya, antara lain karena
menjual idulgensi (penghapusan siksa, dosa) dan absolusi kepada parajemaat
gereja. Hal ini menyebabkan kejengkelan para anggota jemaat dan pemimpin gereja,
terutama di Jerman yang dipelopori oleh Marthin Luther.[25]
Demikianlah
sekilas gambaran penyebab perpecahan yang ada di kalangan umat Kristen yang
kemudian memunculkan konsep gerakan Oikoumene yang muncul di kalangan
orang-orang Kristen Protestan.
Kembali kepada
pembahasan gerakan Oikoumene, seperti yang dijelaskan di atas, bahwa meskipun
kaum Injili memisahkan diri dari Roma, namun tetap ada kesadaran, baik di
kalangan Protestan maupun di kalangan Katolik-Roma bahwa satu warisan menjadi
milik bersama, yaitu warisan gereja kuno. Timbul kesadaran bahwa usaha-usaha
untuk memulihkan perpecahan yang diakibatkan reformasi harus bertolak dari
warisan bersama. Kesadaran ini hidup khususnya di kalangan kaum humanis,
cendekiawan Katolik maupun Protestan yang mengecam keadaan gereja Katolik Roma
pada zaman itu karena telah menyimpang dari ajaran dan praktek gereja kuno.
Dengan
penjelasan ini marilah kita melihat adanya ajaran yang sah didalam gereja dan
melalui kesepakatan. Dengan adanya penyimpangan disitulah adanya perpecahan.
Dogmatika dalam gereja juga berubah. Namun dibuatlah sebuah gerakan yaitu
gerakan oikumene untuk menyatukan gereja yang esa. Karena gereja adalah satu.
Kepala gereja adalah Kristus. Ada beberapa bagian Alkitab yang ada sangkut
pautnya membicarakan mengenai keesaan gereja. Salah satu di antaranya yaitu
terdapat di dalam Yohanes
17:20-26. Bagian ini menunjukkan perhatian Tuhan Yesus yang
khusus untuk semua orang percaya/gereja yang universal. Perhatian yang dominan
dalam bagian ini adalah merupakan suatu kesatuan dan kemuliaan Ilahi.[26] Tetapi apa yang
dimaksud kesatuan di sini? Kesatuan orang percaya dibandingkan dengan kesatuan
antara Bapa dan Anak (ay. 21a).
Sifat kesatuan ini bukan persamaan melainkan merupakan suatu analogi. Tetapi
yang jelas bahwa kesatuan antara orang percaya permulaannya hanya mungkin
diperoleh dalam hubungan Bapa dan Anak. Namun selanjutnya kesatuan yang
dimaksud dalam doa Tuhan Yesus ini dapat ditafsirkan dalam dua cara; yaitu:
1. Keberadaan kesatuan di antara orang percaya dan
kesatuan antara Bapa dan Anak ada dalam kekekalan. Keduanya ini jelas sifat dasar
kesatuan antara Bapa dan Anak yang rohani dapat bersatu menghadapi dunia ini.
Ketika orang percaya bersatu dalam iman mereka ini, maka mereka mempunyai kuasa
dan pengaruh dalam menghadapi dunia.[27]
2. Kesatuan yang diutarakan oleh Berkouwer, yaitu yang
dimaksud dalam bagian ini (Yoh. 17:21), bukan 'kesatuan yang mistik'
atau kesatuan batiniah yang tidak kelihatan tetapi kesatuan kebenaran,
pengudusan dan kasih sebagai suatu realitas yang nampak, yang dapat dilihat
oleh tiap-tiap orang.[28]
Kesatuan di antara orang percaya
hanya dimungkinkan karena kepercayaan kepada Kristus (Yoh. 17:20). Kesatuan di antara orang
percaya berhubungan dan berdasarkan pada kesatuan Bapa dan Anak. Kesatuan di
sini erat hubungannya dengan kebenaran, kekudusan (ay. 17-19), kemuliaan (ay. 22,24) dan kasih (ay. 23,26), semuanya untuk dapat dilihat orang
(ay.21,24). Bapa dan Anak secara zat/esensi
adalah satu (Yoh. 10:30), sehingga apa yang Bapa miliki
juga dimiliki oleh Anak (Yoh. 16:15). Tetapi kesatuan ini tanpa
dinyatakan kepada manusia, maka itu tidak akan berarti dan tidak dimengerti
oleh manusia. Sebab itu Kristus yang mulia harus datang ke dalam dunia untuk
menyatakan hal ini (Yoh. 1:14; band. Yoh. 17:24). Kedatangan Kristus sejak
semula yaitu melakukan kehendak Bapa untuk mati di atas kayu salib (Yoh. 3:14-17; band. Fil. 2:8). Kristus datang untuk menyatakan Allah
Bapa kepada manusia (Yoh. 14:9-10). Tetapi dalam melihat hubungan
Kristus yang unik dengan Allah Bapa, dan sekaligus memperkenalkan Allah Bapa
kepada manusia, maka itu diwujudkan melalui perbuatan-perbuatanNya (Yoh. 14:11). Segala sesuatu yang Kristus
lakukan dan katakan semuanya sesuai dengan kehendak Allah Bapa (Yoh. 8:28; 14:24). Jikalau kesatuan orang
percaya ada dalam kesatuan Bapa dan Anak (ay. 21), maka kesatuan itu juga adalah dalam
melakukan segala pekerjaan yang sesuai dengan Firman Tuhan, atau melakukan
segala pekerjaan seperti Kristus melakukan pekerjaan Allah. Kesatuan di antara
orang percaya/gereja akan terwujud jikalau orang percaya/gereja melakukan
pekerjaan Tuhan sesuai dengan yang difirmankan Tuhan, dengan demikian barulah
dapat membawa orang-orang untuk percaya kepada Kristus dan mengaku Kristus
sungguh diutus Allah, sebagai Juru Selamat (ay. 21,23). Berhubungan dengan kemuliaan, jika
orang-orang percaya menyatakan kemuliaan Kristus, maka ini akan menghasilkan
kesatuan asasi.
Pemahaman tentang kesatuan di antara orang
percaya/gereja di atas, hampir sejalan dengan pandangan yang dikemukakan oleh
Dr. Harun Hadiwijono yakni bahwa kesatuan yang dirindukan oleh Kristus dalam
doanya itu, adalah terletak dalam berkata dan berbuat seperti yang difirmankan
dan diperbuat oleh Bapa dan Anak: Perkataan dan perbuatan mereka harus
mendemonstrasikan Firman dan karya Kristus dan Bapa. Di situlah mereka
dipersatukan dengan Bapa dan Anak. Jikalau semua itu terjadi, maka dunia akan
percaya bahwa Allah Bapa benar-benar telah mengutus Kristus untuk menyelamatkan
dunia ini. Berdasarkan hal ini, maka tidak benar untuk menafsirkan doa Tuhan
Yesus dalam Yoh. 17:20, 21, sebagai amanat untuk
mendirikan satu gereja yang esa.[29]
Keesaan (=kesatuan) gereja adalah
pekerjaan Roh Kudus. Hanya pekerjaan Roh Kudus sendiri yang memungkinkan
kesatuan itu terwujud. Pengalaman dalam kesatuan ini hanya memungkinkan di
antara mereka yang telah diterangi dan didiami oleh Roh Kudus (ay. 2-3, band. I Kor. 12:12-13). Pada dasarnya kesatuan
yang dikerjakan oleh Roh Kudus itu tidak terlihat, bersifat rohani. Tetapi hal
itu kemudian akan diungkapkan secara nyata, terlihat melalui persekutuan di
antara orang percaya.[30] Dalam mencapai keesaan di antara orang
percaya, maka hal pertama harus dimiliki oleh orang Kristen adalah kerendahan
hati (ay. 2). Dengan, kerendahan hati akan mengantar
seseorang untuk lemah lembut dan sabar; selanjutnya dalam kasih akan membawa
kerja sama di antara orang percaya, karena kasih itu tidak mementingkan diri
sendiri, tetapi mau toleransi dengan yang lain (I Kor. 13:4-7).
[1] Geogre B. Grose dan Benjamin J. Hubbard (ed.), Tiga Agama Satu Tuhan :
Sebuah
Dialog, Terj. Santi Indra Astuti, Mizan,
Bandung, 1998: hlm. 227
[2]Weinata Sairin, Gereja,
agama-agama dan Pembangunan nasional, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2006: hlm.
82
[3] Th. Sumartana, Noegroho Agoeng, Zuly Qodir (ed.), Pluralisme, Konflik dan
Perdamaian
(Studi Bersama Antar Iman), Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 2002: hlm. 94-95
[4] Rouse, Ruth, Stephen Charles Neil, (ed), A History of the Ecumenical Movement, The Westminster Press,
Philadelphia 1967: hlm.1-69.
[5] Ukur, F. dan F.L. Cooley, (ed),
Jerih dan Juang : Lembaga Penelitian
Studi DGI, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1979: hlm.571-572.
[7] Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Dokumen
Keesaan Gereja Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (DKG-PGI): Keputusan
Sidang Raya XIV PGI, Wisma Kinasih, 29 November - 5 Desember 2004(Jakarta:
Gunung Mulia, 2006)
[8] Ibid 1-30
[9] Ibid hal 31-40
[10] Ibid 41-49
[11] Ibid 50-58
[12] Ibid 59-65
[13] Ibid 66-71
[14] Ibid, 72-73
[15] Ibid, 73-74
[16] Ibid 78-79
[17] Ibid 79-83
[18] Ibid 83-84
[19] Ibid 85-87
[20]Ibid 87-95
[21] Ibid 96-100
[22] Ibid 101-118
[23]
Dr. Christian De Jonge, Menuju Keesaan Gereja (Sejarah, Dokumen-dokumen dan
Tema-tema Gerakan Oikoumene), BPK Gunung
Mulia, Jakarta, 2000, hlm. xvii
[24]
Dr. Christian De Jonge, Op. cit., hlm. 3
[25]
Hilman Hadikusuma, Antropologi Agama (Bagian II : Pendekatan Budaya terahdap
Yahudi, Kristen Katolik, Protestan dan Islam),
PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993, hlm. 128
[26]
Leon Morris, The Gospel According to John, Eerdmands, Grand Rapids, Michigan,
1973.hal 732
[27]
William hendriksen, The Gospel of John, New Testament Commentary, The Banner of
Truth Trust, London, 1973.hal 364-365
[28] Abineno,J.L.Ch, Gereja dan Keesaan Gereja, BPK Gunung Mulia,
Jakarta: hlm. 14
[29] Harun Hadiwijono, Supaya mereka semua menjadi satu, Berita
Oikumene, Nopember 1981. hal 16-19
[30]
Donal Guthrie (ed), Tafsiran Alkitab Masa Kini, BPK, Jakarta, 1981.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar