Selasa, 25 Juli 2023

EMILE DURKHEIM


I.              Pendahuluan/Latar Belakang

Emile Durkheim lahir pada tahun 1858 di Epinal, dia adalah ahli sosialogi dari Prancis. Berbagai tulisan dan teorinya menjadi sumbangan bagi penyusunan ilmu sosiologi modern. Durkheim tidak sependapat dengan pandangan umum para ahli sosiologi angkatan 1800an, yang menganggap individu sebagai dasar terbentuknya tatanan sosial. Ia sendiri menganggap sosiologi sebagai studi tentang kelompok masyarakat yang melingkupi dan mempengaruhi tindakan individu. Ia menulis semua teori sosiologinya itu dalam bukunya yang berjudul Syarat-syarat Metode Sosiologi (1895.[1]

Ketika Durkheim berusia 21 tahun, dia diterima di Ecole Normale Superieure. Durkheim menunjukkan dirinya sebagai seorang mahasiswa yang sangat serius. Pada masa mudanya dia menginginkan satu dasar yang lebih teliti dalam ilmu yang dia rasa dapat membantu memberikan satu landasan bagi rekontruksi moral masyarakat. Durkheim mulai berkecimpung dalam karirnya mengenai masalah bagaimana tuntutan moral masyarakat diendapkan dalam kesadaran subyektif individu, dia kembali memperhatikan agama dan sumbangannya dalam mempertahankan integrasi masyarakat.

Pada tahun 1915 ketika anak Durkheim mendapat cedera parah dan menemui ajalnya, Durkheim benar-benar merasa terpuruk dan sulit untuk bangkit berkarya kembali. Dan akhirnya tahun 1917 Durkheim menghembuskan nafas terakhirnya dan menerima penghormatan untuk karirnya yang produktif dan bermakna, serta setelah ia mendirikan dasar sosiologi ilmiah.

 

II.           ISI

Dalam perjalanan karirnya yang pertama yaitu menjadi seorang pengajar di sekolah menengah atas di Paris, Durkheim bertekad untuk menekankan pengajaran praktis ilmiah serta moral daripada pendekatan filsafat tradisional yang menurut dia tidak relavan dengan masalah sosial yang tengah terjadi pada saat itu. Pendirian ideologis Durkheim secara pribadi bersifat liberal. Namun dalam prakteknya dia membela hak-hak individu melawan pernyataan-pernyataan yang tidak adil atau berlebih-lebihan yang dibuat atas nama masyarakat. 

Pada tahun 1887, dari beberapa artikel yang telah ditulisnya membuat dia menjadi seorang ahli ilmu sosial muda yang terpandang.  Hal itu ditandai dengan pengangkatannya di fakultas pendidikan dan fkults ilmu sosial di Universitas Bordeaux. Kebutuhan untuk mengajar kursus pendidikan, memungkinkan Durkheim mengembangkan perspektif sosiologinya mengenai kepribadian manusia yang dibentuk oleh masyarakat melalui wakil-wakilnya dalam sistem pendidikan. Durkheim menjadi satu kekuatan penting dalam sistem pendidikan di Prancis. Dan jenjang karir Durkheim selanjutnya yaitu pada tahun 1896 diangkat menjadi profesor penuh dalam ilmu sosial.

Tahun 1899 Durkheim ditarik ke Sorbonne. Tahun 1906 dia dipromosikan sebagai profesor penuh dalam ilmu pendidikan. Sebelumnya belum ada didirikan Universitas Sosiologi di Paris, namun pada tahun 1913 setelah kedudukan Durkheim diubah ke ilmu pendidikan dan sosiologi akhirnya sosiologi didirikan secara resmi dalam lembaga pendidikan yang sangat terhormat di Prancis.

Durkheim memberikan perhatian selama hidupnya terhadap solidaritas dan integrasi sosial karena keadaan keteraturan sosial yang goyah di masa Republik Ketiga ketika ia muda. Perhatian Durkheim terhadap moralitas umum terjadi bersamaan dengan masa peralihan dalam sistem pendidikan di Prancis. Dalam mengatasi masa peralihan ini Durkheim membutuhkan suatu ideologi sekuler atau sistem kepercayaan yang memberikan tongak-tongak moral dan etika dalam suatu masyarakat sekuler. Sangatlah jelas Durkheim memandang pengajaran moralitas umum bagi warga sangatlah penting untuk memperkuat dasar-dasar masyarakat dan meningkatkan integrasi serta solidaritas sosialnya.

Asumsi umum yang paling fundamental yang mendasari pendekatan Durkheim terhadap sosiologi adalah bahwa gejala sosial itu nyata dan mempengaruhi kesadaraan individu serta perilakunya yang berbeda dari karekteristik psikologis, biologis, atau karekteristik individu lain-lainnya. Berbagai pertanyaan yang fundamental pada kenyataan gejala sosial yang obyektif menyangkut sifat dasar kenyataan itu dilayangkan pada Durkheim, dan dengan tegas Durkheim memecahkan permasalahannya secara langsung dan tetap bertahan pada pendiriannya bahwa fakta sosial itu tidak dapat direduksikan ke fakta individu, melainkan memiliki eksistensi yang independen pada tingkat sosial.

Durkheim mengemukakan tiga karekteristik fakta sosial yang berbeda. Pertama, gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu. Kedua, fakta itu memaksakan individu. Dimana bagi Durkheim individu dipaksa, dibimbing, didorong, atau dengan cara tertentu dipengaruhi oleh berbagai tipe fakta sosial dalam lingkungan sosialnya. Dan yang ketiga adalah bahwa fakta itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam satu masyarakat. Dengan kata lain, fakta sosial itu merupakan milik bersama, bukan sifat individu perorangan.

Dari semua fakta sosial yang telah didiskusikan oleh Durkheim, yang paling sentral dari antara semuanya adalah mengenai solidaritas sosial. Solidaritas menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan/atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Ikatan ini lebih mendasar daripada hubungan kontraktual yang dibuat atas persetujuan rasional, karena hubungan-hubungan serupa itu mengandaikan sekurang-kurangnya satu tingkat/derajat konsensus terhadap prinsip-prinsip moral yang menjadi dasar kontrak itu.

Durkheim juga menyajikan mengenai tipe-tipe perbedaan yang berbeda dalam solidaritas dan sumber-sumber struktur sosialnya dalam bukunya The Division of labor in Society. Tujuan keseluruhan dari karya klasik ini adalah untuk menganalisa pengaruh kompleksitas dan spesialisasi pembagian kerja dalam struktur sosial dan perubahan-perubahan yang diakibatkannya dalam bentuk-bentuk pokok solidaritas sosial. Singkatnya, pertumbuhan dalam pembagian kerja meningkatkan suatu perubahan dalam struktur sosial dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik.

Perbedaan antara solidaritas mekanik dan organik merupakan salah satu sumbangan Durkheim yang paling terkenal. Mayarakat-masyarakat berkembang dari solidaritas mekanik ke yang organik. Tetapi kesadaran kolektif tidak hilang seluruhnya dalam masyarakat organik. Banyak sumber ketegangan yang dapat membuat runtuhnya solidaritas sosial, salah satunya yaitu meningkatnya angka bunuh diri. Analisa Durkheim mengenai angka bunuh diri diperlihatkan sebagai suatu demonstrasi mengenai pentingnya tekanan pada tingkat analisa struktur sosial, khususnya keadaan integrasi sosial dalam masyarakat.

Analisa Durkheim pada agama dalam masyarakat modern dapat dikecam karena terlalu sepihak menekankan solidaritas. Tekanan ini terkandung dalam definisi yakni “agama mempersatukan orang dalam satu komunitas moral.” Jadi tidak mengherankan bahwa Durkheim melihat agama bersifat meningkatkan kekompakan dan solidaritas sosial. Memudarnya pengaruh agama dalam mayarakat modern mungkin dapat dilihat dengan mudah dalam perspektif Durkheim sebagai satu indikator runtuhnya solidaritas sosial.

Dalam memperluas pokok pikiran utamanya, Durkheim memperluas pokok pikirannya itu dengan mengemukakan bahwa tidak hanya pemikiran agama melainkan juga pengetahuan pada umumnya berlandaskan pada dan mencerminkan dasar sosialnya. Pada tingkat yang lebih dalam, Durkheim mengemukakan bahwa kategori-kategori berfikir yang dasar seperti waktu, ruang, kelas, dan lainnya muncul dari kehidupan sosial dan mencerminkan struktur sosial.[2]

 

III.        KESIMPULAN Dan REFLEKSI

 

a.      Kesimpulan

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa Emile Durkheim adalah seorang pemikir sosiologi yang meletakkan landasan dalam ilmu sosiologi dengan menunjukkan bahwa gejala sosial itu merupakan fakta nyata dan dapat dipelajari dengan metode yang empiris. Melalui metode dan penelitiannya, Durkheim dapat menjelaskan bagaimana hubungan antara individu dengan masyarakat yang didasarkan pada data dan pengamatan yang empirik dan jelas. Tekanan Durkheim untuk melihat tentang keteraturan sosial menjadi dasar fungsional pada saat ini.

b.      Refleksi

Dari teori Durkheim dalam pembagian solidaritas Mekanis dan Solidaritas Organis, dapat dikatakan bahwa solidaritas itu merupakan suatu yang penting dalam menjalin hubungan antara individu dengan masyarakat. Dalam Solidaritas Mekanis dapat kita lihat dalam pembagian kerja dalam masyarakat. Disini individu memiliki tingkat kemampuan dalam suatu pekerjaan sehingga individu dapat mencukupi kebutuhannya tanpa menyusahkan individu lain. Dan setelah itu lahirlah Solidaritas Organis yang didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi akibat semakin beragamnya sistem pembagian kerja. Dalam hal ini masing-masing individu memiliki keterampilan tertentu dalam suatu pekerjaan, sehingga tanpa kehadirannya individu lain tidak dapat mencukupi keinginannya, dan dapat menciptakan adanya suatu ketergantungan antara individu satu dengan yang lainnya.  

 



[1] ENSIKLOPEDI NASIONAL INDONESIA Jilid 4, (Jakarta:PT Cipta Adi Pustaka,1989)

[2]Doyle Paul johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Jilid I, diindonesiakan oleh Robert M.Z Lawang, Jakarta, Gramedia, 1988

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...