I.
Pendahuluan/Latar Belakang
Emile
Durkheim lahir pada tahun 1858 di Epinal, dia adalah ahli sosialogi dari
Prancis. Berbagai tulisan dan teorinya menjadi sumbangan bagi penyusunan ilmu
sosiologi modern. Durkheim tidak sependapat dengan pandangan umum para ahli
sosiologi angkatan 1800an, yang menganggap individu sebagai dasar terbentuknya
tatanan sosial. Ia sendiri menganggap sosiologi sebagai studi tentang kelompok
masyarakat yang melingkupi dan mempengaruhi tindakan individu. Ia menulis semua
teori sosiologinya itu dalam bukunya yang berjudul Syarat-syarat Metode Sosiologi (1895.[1]
Ketika
Durkheim berusia 21 tahun, dia diterima di Ecole Normale Superieure. Durkheim
menunjukkan dirinya sebagai seorang mahasiswa yang sangat serius. Pada masa
mudanya dia menginginkan satu dasar yang lebih teliti dalam ilmu yang dia rasa
dapat membantu memberikan satu landasan bagi rekontruksi moral masyarakat. Durkheim
mulai berkecimpung dalam karirnya mengenai masalah bagaimana tuntutan moral
masyarakat diendapkan dalam kesadaran subyektif individu, dia kembali
memperhatikan agama dan sumbangannya dalam mempertahankan integrasi masyarakat.
Pada tahun
1915 ketika anak Durkheim mendapat cedera parah dan menemui ajalnya, Durkheim
benar-benar merasa terpuruk dan sulit untuk bangkit berkarya kembali. Dan
akhirnya tahun 1917 Durkheim menghembuskan nafas terakhirnya dan menerima
penghormatan untuk karirnya yang produktif dan bermakna, serta setelah ia
mendirikan dasar sosiologi ilmiah.
II.
ISI
Dalam
perjalanan karirnya yang pertama yaitu menjadi seorang pengajar di sekolah
menengah atas di Paris, Durkheim bertekad untuk menekankan pengajaran praktis
ilmiah serta moral daripada pendekatan filsafat tradisional yang menurut dia
tidak relavan dengan masalah sosial yang tengah terjadi pada saat itu. Pendirian
ideologis Durkheim secara pribadi bersifat liberal. Namun dalam prakteknya dia
membela hak-hak individu melawan pernyataan-pernyataan yang tidak adil atau
berlebih-lebihan yang dibuat atas nama masyarakat.
Pada tahun
1887, dari beberapa artikel yang telah ditulisnya membuat dia menjadi seorang
ahli ilmu sosial muda yang terpandang.
Hal itu ditandai dengan pengangkatannya di fakultas pendidikan dan
fkults ilmu sosial di Universitas Bordeaux. Kebutuhan untuk mengajar kursus
pendidikan, memungkinkan Durkheim mengembangkan perspektif sosiologinya
mengenai kepribadian manusia yang dibentuk oleh masyarakat melalui
wakil-wakilnya dalam sistem pendidikan. Durkheim menjadi satu kekuatan penting
dalam sistem pendidikan di Prancis. Dan jenjang karir Durkheim selanjutnya
yaitu pada tahun 1896 diangkat menjadi profesor penuh dalam ilmu sosial.
Tahun 1899
Durkheim ditarik ke Sorbonne. Tahun 1906 dia dipromosikan sebagai profesor
penuh dalam ilmu pendidikan. Sebelumnya belum ada didirikan Universitas
Sosiologi di Paris, namun pada tahun 1913 setelah kedudukan Durkheim diubah ke
ilmu pendidikan dan sosiologi akhirnya sosiologi didirikan secara resmi dalam
lembaga pendidikan yang sangat terhormat di Prancis.
Durkheim
memberikan perhatian selama hidupnya terhadap solidaritas dan integrasi sosial
karena keadaan keteraturan sosial yang goyah di masa Republik Ketiga ketika ia
muda. Perhatian Durkheim terhadap moralitas umum terjadi bersamaan dengan masa
peralihan dalam sistem pendidikan di Prancis. Dalam mengatasi masa peralihan
ini Durkheim membutuhkan suatu ideologi sekuler atau sistem kepercayaan yang
memberikan tongak-tongak moral dan etika dalam suatu masyarakat sekuler.
Sangatlah jelas Durkheim memandang pengajaran moralitas umum bagi warga
sangatlah penting untuk memperkuat dasar-dasar masyarakat dan meningkatkan
integrasi serta solidaritas sosialnya.
Asumsi umum
yang paling fundamental yang mendasari pendekatan Durkheim terhadap sosiologi
adalah bahwa gejala sosial itu nyata dan mempengaruhi kesadaraan individu serta
perilakunya yang berbeda dari karekteristik psikologis, biologis, atau
karekteristik individu lain-lainnya. Berbagai pertanyaan yang fundamental pada
kenyataan gejala sosial yang obyektif menyangkut sifat dasar kenyataan itu
dilayangkan pada Durkheim, dan dengan tegas Durkheim memecahkan permasalahannya
secara langsung dan tetap bertahan pada pendiriannya bahwa fakta sosial itu
tidak dapat direduksikan ke fakta individu, melainkan memiliki eksistensi yang
independen pada tingkat sosial.
Durkheim
mengemukakan tiga karekteristik fakta sosial yang berbeda. Pertama, gejala
sosial bersifat eksternal terhadap individu. Kedua, fakta itu memaksakan
individu. Dimana bagi Durkheim individu dipaksa, dibimbing, didorong, atau
dengan cara tertentu dipengaruhi oleh berbagai tipe fakta sosial dalam
lingkungan sosialnya. Dan yang ketiga adalah bahwa fakta itu bersifat umum atau
tersebar secara meluas dalam satu masyarakat. Dengan kata lain, fakta sosial
itu merupakan milik bersama, bukan sifat individu perorangan.
Dari semua
fakta sosial yang telah didiskusikan oleh Durkheim, yang paling sentral dari
antara semuanya adalah mengenai solidaritas sosial. Solidaritas menunjuk pada
satu keadaan hubungan antara individu dan/atau kelompok yang didasarkan pada
perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh
pengalaman emosional bersama. Ikatan ini lebih mendasar daripada hubungan kontraktual
yang dibuat atas persetujuan rasional, karena hubungan-hubungan serupa itu
mengandaikan sekurang-kurangnya satu tingkat/derajat konsensus terhadap
prinsip-prinsip moral yang menjadi dasar kontrak itu.
Durkheim
juga menyajikan mengenai tipe-tipe perbedaan yang berbeda dalam solidaritas dan
sumber-sumber struktur sosialnya dalam bukunya The Division of labor in Society. Tujuan keseluruhan dari karya
klasik ini adalah untuk menganalisa pengaruh kompleksitas dan spesialisasi
pembagian kerja dalam struktur sosial dan perubahan-perubahan yang
diakibatkannya dalam bentuk-bentuk pokok solidaritas sosial. Singkatnya,
pertumbuhan dalam pembagian kerja meningkatkan suatu perubahan dalam struktur
sosial dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik.
Perbedaan
antara solidaritas mekanik dan organik merupakan salah satu sumbangan Durkheim
yang paling terkenal. Mayarakat-masyarakat berkembang dari solidaritas mekanik
ke yang organik. Tetapi kesadaran kolektif tidak hilang seluruhnya dalam
masyarakat organik. Banyak sumber ketegangan yang dapat membuat runtuhnya
solidaritas sosial, salah satunya yaitu meningkatnya angka bunuh diri. Analisa
Durkheim mengenai angka bunuh diri diperlihatkan sebagai suatu demonstrasi
mengenai pentingnya tekanan pada tingkat analisa struktur sosial, khususnya
keadaan integrasi sosial dalam masyarakat.
Analisa
Durkheim pada agama dalam masyarakat modern dapat dikecam karena terlalu
sepihak menekankan solidaritas. Tekanan ini terkandung dalam definisi yakni
“agama mempersatukan orang dalam satu komunitas moral.” Jadi tidak mengherankan
bahwa Durkheim melihat agama bersifat meningkatkan kekompakan dan solidaritas
sosial. Memudarnya pengaruh agama dalam mayarakat modern mungkin dapat dilihat
dengan mudah dalam perspektif Durkheim sebagai satu indikator runtuhnya
solidaritas sosial.
Dalam
memperluas pokok pikiran utamanya, Durkheim memperluas pokok pikirannya itu
dengan mengemukakan bahwa tidak hanya pemikiran agama melainkan juga
pengetahuan pada umumnya berlandaskan pada dan mencerminkan dasar sosialnya. Pada
tingkat yang lebih dalam, Durkheim mengemukakan bahwa kategori-kategori
berfikir yang dasar seperti waktu, ruang, kelas, dan lainnya muncul dari
kehidupan sosial dan mencerminkan struktur sosial.[2]
III.
KESIMPULAN Dan REFLEKSI
a. Kesimpulan
Dari data
diatas dapat disimpulkan bahwa Emile Durkheim adalah seorang pemikir sosiologi
yang meletakkan landasan dalam ilmu sosiologi dengan menunjukkan bahwa gejala
sosial itu merupakan fakta nyata dan dapat dipelajari dengan metode yang
empiris. Melalui metode dan penelitiannya, Durkheim dapat menjelaskan bagaimana
hubungan antara individu dengan masyarakat yang didasarkan pada data dan
pengamatan yang empirik dan jelas. Tekanan Durkheim untuk melihat tentang
keteraturan sosial menjadi dasar fungsional pada saat ini.
b. Refleksi
Dari teori
Durkheim dalam pembagian solidaritas Mekanis dan Solidaritas Organis, dapat
dikatakan bahwa solidaritas itu merupakan suatu yang penting dalam menjalin
hubungan antara individu dengan masyarakat. Dalam Solidaritas Mekanis dapat
kita lihat dalam pembagian kerja dalam masyarakat. Disini individu memiliki
tingkat kemampuan dalam suatu pekerjaan sehingga individu dapat mencukupi
kebutuhannya tanpa menyusahkan individu lain. Dan setelah itu lahirlah
Solidaritas Organis yang didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang
tinggi akibat semakin beragamnya sistem pembagian kerja. Dalam hal ini
masing-masing individu memiliki keterampilan tertentu dalam suatu pekerjaan,
sehingga tanpa kehadirannya individu lain tidak dapat mencukupi keinginannya,
dan dapat menciptakan adanya suatu ketergantungan antara individu satu dengan
yang lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar