I.
TESIS
1-12
Hukum Allah tidak bisa membawa
manusia menjadi benar, bahkan hukum Allah menghalanginya. Perlu untuk selalu
diingat dosa asali tidak bisa membuat manusia menjadi benar, walaupun pribadi
manusia itu telah melakukan Hukum Allah. Ini adalah pokok utama reformasi
Luther atas pemikiran dan praktek, serta merupakan langkah pertama dalam
menyerang Teologi Kemuliaan. Tesis pertama ini adalah serangan pertama terhadap
Teologi Kemuliaan itu. Tesis ini menyerang kerangka ketenteraman Adam Lama yang
bertumpu pada perbuatan, jatidiri, dan cara kita membela diri. Karena ketika kadangkala
dipersalahkan, Adam Lama berpegang pada Hukum Allah, yang baginya merupakan
standar yang bisa dipakai untuk menonjolkan kebenarannya di hadapan Allah. Jadi
sebenarnya Adam Lama hanya melipatgandakan dosanya ketika ia mencoba
membenarkan dirinya di hadapan Allah. Tesis pertama ini, Luther menegur bahwa
Hukum hanya menghalangi ikhtiar untuk menunjukkan kebenaran kita dihadapan
Allah. Hukum tidak membantu Adam Lama membenarkan diri dihadapan Allah. Adam
Lama yang mencoba membenarkan diri dan memuliakan dirinya sendiri dengan
perbuatan baik bukan mempersembahkan kemuliaan itu kepada Allah atas
pengampunan yang diterima di Salib, inilah yang menjadi pusat paradoks yang
dibahas Luther dalam 12 Tesis Pertama ini.
Dalam tesis yang kedua Luther
membalas reaksi yang telah diperhitungkannya terhadap tesis pertamanya. Hukum
adalah jalan buntu bila menyangkut masalah kebenaran dimata Allah. Mengapa
dikatakan demikian, karena Hukum menuntut kasih, dan mengamalkannya adalah hal
yang benar, namun Hukum tidak bisa menghasilkan atau mempengaruhi apa yang
dituntutnya. Inilah serangan berikut terhadap Teologi Kemuliaan. Luther
menegaskan juga bahwa Hukum Allah yang paling sempurna itu tidak bisa
memotivasi kita dalam kasih kepada Allah dan sesama. Diluar Salib, dosa asali
tetap ada. Tesis 3 dan 4 mengawali uraian yang panjang lebar tentang perbuatan
manusia secara bertolak-belakang dengan perbuatan Allah. Untuk itu, dengan
benar kedua tesis ini sejak awal memberi pijakan atas perbedaan fundamental
antara orang yang berpikir dan bertindak sebagai seorang Teolog Kemuliaan,
serta orang yang berpikir dan bertindak selaku Teolog Salib (menurut Forde).
Teologi Salib adalah kerangka pikiran, yang karena bentukan Hukum dan Injil, berfungsi
dengan cara yang berbeda dengan pikiran Teolog Kemuliaan yang dibentuk oleh
Dosa Asali dan Adam Lama. Luther memakai perbedaan Tesis 3 dan 4 ini untuk
mengembangkan premis dasar Tesis 2 bahwa perbuatan baik yang dilakukan dalam
pandangan Allah itu baik, bukan terutama karena perbuatan itu sendiri telah
dilakukan, melainkan bahwa perbuatan itu lahir dari “takut akan, mengasihi, dan
mempercayai Allah melebihi segala hal lain” yang sejati. Kebenaran sejati
mengalir dari iman. Jika perbuatan baik yang kita tonjolkan, maka kita menolak
Salib, lalu kemudian iman, dan ketidakberimanan adalah dosa yang paling
mematikan. Perbedaan tajam tentang perbuatan dalam tesis 3 dan 4 ini, Luther
katakan bahwa perbuatan tidak menarik yang Allah lakukan didalam kita” adalah
perbuatan yang menyalibkan Adam Lama kita. Tak heran perbuatan-perbuatan itu
tampak sebagai perbuatan yang tidak menarik! Perbuatan itu meremukkan
kesombongan kita, baik lewat penderitaan,
maupun konfrontasi dengan Salib Kristus. Sementara,
perbuatan itu baik karena mengupayakan jasa kerendahan hati yang kekal dan
takut akan Allah di dalam kita.
Untuk menjelaskan Tesis ke 5 dan 6,
Luther mengatakan kejahatan adalah perbuatan-perbuatan yang bisa dipersalahkan
di mata manusia. Dosa yang membawa kematian adalah dosa yang tampak baik dan
pada dasarnya merupakan buah dari akar yang buruk dan pohon yang buruk. Jadi
perbuatan baik manusia masih bisa disebut dosa yang membawa kematian karena
perbuatan itu masih merupakan perbuatan Adam Lama, yang tidak bisa, dan tidak akan
“takut akan, mengasihi, dan mempercayai Allah melebihi segala hal.” Yang
membuat perbuatan ini mungkin merupakan dosa yang membawa kematian adalah bahwa
kita tergoda percaya bahwa perbuatan-perbuatan itu membenarkan dan
menghadiahkan kemuliaan Allah kepada diri kita. Tesis 6 masih menyalibkan Adam
Lama kita. Sekalipun Allah berbuat melalui kita dalam iman, perbuatan-perbuatan
kita tetaplah bukan tanpa dosa. Adam Lama kita berusaha menyelewengkan
perbuatan-perbuatan Allah yang dilakukan-Nya melalui kita. Perbuatan baik
membujuk kita untuk menjauh dari kepercayaan kita yang tulus akan pengampunan
Allah.
Dalam tesis ke 7, menurut Forde,
Luther mengangkat masalah takut akan Allah. Takut menguntungkan orang Kristen
sebagai sisi yang perlu dari iman. Luther mengatakan pahami bahwa motivasi
fundamental Adam lama adalah rasa takut. Takut akan Allah yang tepat itu perlu
untuk menyalibkan Adam Lama di dalam diri kita, sehingga hatinya mungkin
berpegang pada Injil dan mensyukuri jaminan pengampunan Allah melalui Salib.
Luther menulis Semua perbuatan sebaiknya dilakukan dalam takut yang saleh.
Kemudian dalam Tesis ke 8 Luther melanjutkan bahwa ia sangat tegas menghubungkan
masalah takut, kerendahan hati, kesombongan, dosa, serta murka dan penghakiman Allah
satu sama lain. Kesombongan adalah jawaban Adam Lama terhadap takut.
Kesombongan adalah sama dengan dosa. Dalam Tesis 9 dan 10 ini menegur
penyimpangan khusus masa Luther. Tesis ini adalah untuk memperlunak sikap menyalahkan
perbuatan-perbuatan orang tak beriman dengan sekedar menyebut perbuatan itu “mati,”
bukan dosa yang “membawa kematian” (mematikan). Inilah yang terjadi pada manusia
yang berusaha berdalih dari apa yang Allah kutuk. Manusia akhirnya menilai
Allah sebagai pihak yang tidak adil atau terlalu kaku. Ini lagi-lagi mengungkap
Teologi Kemuliaan, yang dari sifatnya selalu lebih mengharapkan sikap lunak daripada
pertobatan. Orang yang tak beriman melakukan perbuatan baik demi kesenangan dan
reputasinya sendiri. Apa pun tidak dilakukannya demi kemuliaan Allah, tidak pula
dia bisa berbuat sesuatu menurut kemuliaan Allah! Dalam ketakberimanannya dia sudah
menolak Allah sebagai Allah. Dalam penjelasan Tesis 10, Luther mengatakan “mati”
itu lebih buruk daripada menjumpai sesuatu yang “mematikan.” Tesis 11 dan 12
ini semakin Luther tegaskan tentang kembali
mengangkat tuntutan takut dalam kehidupan orang Kristen, terutama karena takut
akan kutukan dalam setiap perbuatan itu perlu untuk menyalibkan Adam Lama dan
tetap mewaspadainya. Luther menulis bila perbuatan baik dilakukan dalam takut
yang membawa kematian akan kutukan, terjadilah pemurnian, dan godaan ke arah
kesombongan yang berdosa lenyap karena takut yang saleh. Jadi kita harus takut
akan penghakiman Allah dalam setiap perbuatan dan perasaan. Tesis 12 cukup
menunjukkan bentuk penghakiman. Namun bila perbuatan ditakuti sebagai pembawa
kematian, maka kita akan termaafkan dan dosa-dosa benar-benar bisa diampuni.
Dosa benar-benar bisa diampuni bila ditakuti sebagai penyebab kutukan. Luther
menyatakan bahwa harapan sejati mustahil ada kecuali penghakiman atas kesalahan
ditakuti dalam setiap perbuatan. Setiap harapan yang didasarkan pada perbuatan
manusia akan terbukti tidak benar. Harapan yang timbul dari abu api penyucian
takkan mengecewakan. Tetapi caranya adalah Jalan Salib.
II.
TESIS
13-21
Tesis 13 mulai membahas aspek
masalah yang berbeda-beda. Bila Tesis 1-12 membahas masalah perbuatan obyektif
kita, maka Dalam Tesis 13-18 Luther beralih pada sisi subyektif masalahnya,
masalah kehendak. Tesis-tesis ini sedemikian jauh berpusat pada pengkhianatan
penuh Adam Lama di dalam diri kita. Adam Lamalah yang mencoba memenuhi tuntutan
Allah, bila perlu, untuk tetap memiliki kontrol, dan apa pun caranya menolak
tunduk sepenuhnya kepada Kehendak Allah. Dalam enam tesis berikut ini (13-18), Luther
memperlihatkan bahwa bahkan dalam kehendak kita tidak ada keiinginan untuk
membiarkan Allah menjadi Allah, bahkan ketika Dia menawarkan untuk mengampuni
dosa dan menyelamatkan kita dari diri kita. Adam Lama kita berkeras memberi
jawaban, bahwa keselamatan bagaimana pun terkait dengan sesuatu di dalam diri
kita-yaitu perbuatan baik, Adam Lama selalu berpegang pada ganjaran terkecil-dimana
ganjaran kecil itu membawa kepada kematian kekal. Maka Forde menulis Jika
keselamatan harus ada, keselamatan itu tidak bisa hadir melalui gerak kehendak
itu sendiri. Itu berarti, harus ada kematian dan kebangkitan. Salib ada di
balik masalah kehendak. Salib itu sendiri adalah bukti bahwa kita tidak
memilihNya, namun Dialah yang memilih kita, keselamatan kita mengharuskan
penyaliban total Adam Lama dan kebangkitan Manusia Baru. Luther mau mengatakan
kehendak kita sendiri, keputusan itu sama sekali tak sanggup kita lakukan demi
kemuliaan Allah. Seperti Adam Lama, keputusan itu hanya bisa kita lakukan karena
kepentingan kita sendiri yang egois. Kita sama sekali tidak bisa, secara
sendiri, melakukan sesuatu yang pada akhirnya tidak tampak menguntungkan diri
kita.
Atas tesis 13, tegas Forde
mengatakan kehendak yang telah jatuh ke dalam dosa itu tertawan dan tunduk kepada
dosa. Kehendak bukannya tidak berarti namun kehendak tidak bebas untuk berbuat
jahat. Kehendak adalah sesuatu yang terikat. Kehendak terikat pada kehendak
yang dikehendakinya. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, kehendak terikat
dosa, sehingga tidak bebas. Dalam Tesis 14 dan 15 pemikiran tambahannya adalah
bahwa kehendak bebas sanggup berbuat baik, namun hanya dalam kapasitas pasif,
dan hanya sebagaimana digerakkan Allah. Di sini Luther memperkenalkan istilah
aktif dan pasif, dalam pengertian kapasitas untuk berbuat baik dalam pandangan
Allah. Aktif berarti kemampuannya berasal dari dalam individu. Pasif berarti kemampuannya
berasal dari kekuatan-kekuatan di luar individu. Luther juga jelaskan bahwa apa
pun yang dilakukan manusia dalam kapasitas aktif, artinya, atas prakarsanya
sendiri, pasti jahat. Dalam Tesis 15 Luther menyerang beberapa sikap filsafati
pada masanya dengan menelaah kehendak bebas sebelum Adam dan Hawa terjatuh ke
dalam dosa. Singkatnya Luther katakan, bahwa sebelum kejatuhan ke dalam dosa
pun, kehendak bebas Adam atau Hawa tidak bisa tetap suci dengan kesanggupan
mereka sendiri, artinya, dalam kapasitas aktif, namun hanya dalam kapasitas
pasif, artinya, hanya karena Allah terus menuntun mereka dalam kebenaran.
Luther maksudkan di sini bahwa manusia sama sekali tidak mampu melakukan
sesuatu selain keberdosaan dalam kapasitas aktif. Dengan kata lain, Allah
sematalah sumber seluruh kebenaran, bahkan sumber semua kehendak menuju
kebenaran. Inti dosa asali adalah keinginan manusia untuk memberontak, demi
mengedepankan kehendak bebasnya sendiri—bahkan jika itu termasuk kesanggupan
untuk secara aktif memilih kehendak Allah. Dosa Asali adalah keinginan manusia
untuk merdeka dari Allah. Jadi keselamatan kita sampai kepada kita oleh
anugerah Allah semata, bukan anugerah kita sendiri.
Dari Tesis 16, Forde mengatakan: Bila
orang melakukan apa yang ada pada dirinya, dia berdosa dan mengupayakan segala
sesuatu bagi dirinya. Tetapi jika ia menganggap bahwa melalui dosa dia menjadi
layak atau siap menerima anugerah, dia menjumlahkan kepongahan yang angkuh
dengan dosanya, dan tidak yakin bahwa dosa itu dosa dan kejahatan itu
kejahatan; ini adalah dosa yang sangat parah. Tesis ini adalah serangan yang
menohok dan menyebabkan Teologi Kemuliaan kehilangan daya, dan gementar mandek
di tengah jalan. Jadi, dikatakanlah bahwa Hukum merendahkan, anugerah
meninggikan, Hukum mengakibatkan takut dan murka, anugerah melahirkan harapan
dan pengampunan. “Oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” [Roma 3:20], namun
dengan mengetahui dosa, muncul kerendahan hati, dan dengan kerendahan hati anugerah
didapatkan. Jadi, suatu tindakan yang aneh menurut watak Allah, melahirkan perbuatan
yang termasuk watakNya juga: orang dijadikanNya pendosa agar Ia mungkin
menjadikan orang itu benar. Manusia harus berputus asa sama sekali dengan
kemampuannya sendiri, sebelum siap menerima anugerah Kristus. Ini-lah yang
sejak awal kita tuju. Adam lama dan teologinya harus dibawa ke titik
keputusasaan penuh, sehingga dia mungkin berserah kepada kasih Allah dalam
Kristus. Dalam tesis 17 keputusasaan bukanlah tujuan. Tujuannya adalah kerendahan
hati, yang diperlukan untuk menerima anugerah. Sebab dalam kutipan di atas,
tegas Luther, “dengan kerendahan hati, anugerah didapatkan.” Dalam tesis ini
Luther berkata, “menimbulkan keinginan untuk merendahkan hati,” bukan sekedar “merendahkan
hati.” Orang tidak bisa benar-benar merendahkan hati. Orang hanya bisa rendah
hati. Kerendahan hati selalu berupa sesuatu yang ditimpakan kepada kita.
Alatnya adalah hukum dan murka, “perbuatan Allah yang aneh,” bukan perbuatan
kita yang saleh. Kerendahan hati dalam konteks ini justru mau diturunkan ke
posisi di mana kita tidak mengklaim apa pun juga. Itu sebabnya Luther katakan,
bahwa kita hanya bisa sampai kepada Allah melalui penderitaan dan Salib. Salib
yang kita pikul adalah salib penderitaan kita. Tetapi pernyataan ini masih
mengajukan paradoks lain yang aneh. Orang yang mengikut Kristus mampu menderita
dengan kesabaran yang aneh. Di satu sisi, penderitaan itu dibencinya karena
nyata, namun di sisi lain, disadarinya bahwa penderitaan itu melapangkan
jiwanya, sehingga anugerah Kristus bisa diresapi (bnd Rom 5:3-4; 8:28).
Selanjutnya Luther katakan kerendahan
hati pada seorang manusia itu baik, maka keputusasaan penuh pada kemampuannya
sendiri pasti bahkan lebih baik. Akhirnya Luther katakan bahwa Adam Lama itu
tidak bisa sama sekali, bahkan meskipun yang terbaik yang dilakukannya, dengan
secuil atau tak secuil pun pengertian, membantu menyelamatkannya. Adam Lama adalah
suatu kelemahan total—kutukan atas dirinya, kutukan ganda jika ia lakukan apa
yang ada pada dirinya—dan bukan aset. Teolog Salib mengakui bahwa pokoknya
tidak ada sesuatu pada diri kita yang mampu mendekatkan kita dengan Allah atau
bahkan memahami Dia—keberdosaan kita yang menghalangi. Satu-satunya harapan
kita adalah bahwa dengan pengampunanNya Allah mungkin menyingkapkan Dirinya
kepada kita melalui Salib. Perbedaan pandangan ini—yang di dalamnya melalui Adam
Lama Teolog Kemuliaan mau menahan kesombongannya, dan melalui Manusia Baru
Teolog Salib berserah kepada Allah dengan kerendahan hati penuh, lantas menghasilkan
dua jalan spiritual dan pandangan hidup yang sangat berbeda, dan karena itu,
dua pendekatan yang sepenuhnya berbeda terhadap kehidupan dan Allah.
Dalam Tesis 19 Luther mengatakan betapa
pentingnya apa yang dipikirkan orang, namun, betapa vitalnya apa yang
dipikirkan Allah. Keingintahuan manusia alami teramat besar. Manusia alami juga
berupaya menjelajahi watak Allah dengan akal budinya yang tak sempurna,
mendahului apa yang akhirnya harus dilakukannya agar akur dengan Sang Khalik. Ini
tentulah prasangka Teolog Kemuliaan, mengandalkan “apa yang ada pada dirinya”
untuk memahami Yang Maha Kuasa yang tak terbatas dengan pengetahuan manusia
yang terbatas. Untuk kajian etika dan tingkah laku manusia, filsafat bisa
sangat berguna, namun untuk mengenali watak dan sifat-sifat Allah, yang terbaik
adalah membiarkan firman Allah berbicara kepada kita. Forde jelaskan pula bahwa
ketika Teolog Kemuliaan akhirnya berpaling kepada Kristus dan Salib demi
mencari Allah, dia malah mau “membaca” Allah dan Salib dari sudut manusia. Dia
berupaya lebih memahami “mengapa”-nya Salib dan peristiwa-peristiwa hidup ini,
dan dengan demikian, apa yang Allah lakukan atau izinkan, bukan sekedar menatap
langsung Kristus di Salib agar mengerti apa yang Allah telah lakukan di sana
(Forde, 1997, 75). Dalam Tesis berikutnya (20) Luther menekankan pokok tentang
theolog sejati mencari Allah. Luther
menulis, “mengenal Allah dalam kemuliaan dan kebesaranNya tidak membawa
manfaat, kecuali mengenalNya dalam kehinaan dan aib Salib.” Betapa bodohnya
mencari Allah dalam kemuliaanNya terlepas dari Salib. Betapa bodohnya melihat
kita yang mau memuliakan diri, padahal sang Pencipta segala hal merendahkan
diriNya dengan terlahir dari seorang perawan dan mati sebagai penjahat di Salib”.
Hubungan kita dengan Allah hanya bisa terjadi melalui penderitaan dan kehinaan
Kristus, hubungan kita dengan Allah hanya bisa terjalin melalui penyucian spiritual
Kristus yang disalibkan. Tesis 20 mengembangkan pemikiran, bahwa manusia telah menyalahgunakan
pengetahuan tentang Allah yang didapatnya dari apa yang Allah ciptakan. Manusia,
karenanya, adalah orang orang bodoh. Pengetahuan tentang Allah (yang didapat)
dari karyaNya tidak membuat manusia terjauhkan dari Allah dan menjadi penyembah
berhala. Jadi, menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan itu
menyenangkan bagi Allah. Pemberitaannya adalah perkataan Salib. Teolog
Kemuliaan mau menyingkap tabir Allah dari karyaNya yang dahsyat—dan memang menemukan,
namun tetap tidak bisa melihat Allah secara kasat mata. Tetapi, Teolog
Salib—yang ditarik mendekat kepada Salib terutama demi pengampunan dosa—hanya
melihat “kehinaan, aib, kelemahan, penderitaan, dan kematian yang mendukakan,”
yang namun, di dalam Kristus, sebenarnya melihat Allah dengan cara yang
“sekasat mata sebagaimana Allah bisa terlihat di mata manusia, sebagaimana Dia terlihat
di mata Musa saat Allah mengizinkannya melihatNya setelah Dia berlalu. Salib merupakan
penyingkapan Allah, dan Teologi Salib sajalah yang layak disebut teologi… “Itu
sebabnya, teologi dan pengetahuan yang benar tentang Allah terletak pada
Kristus yang disalibkan. (Sasse).
Mengenai tesis 21 ini Luther
menulis: Pernyataan ini jelas: dia yang tidak mengenal Kristus, tidak mengenal
Allah yang tersembunyi dalam penderitaan. Karena itu, ia lebih menyukai
perbuatan daripada penderitaan, kemenangan daripada Salib, kekuatan daripada
kelemahan, hikmat daripada kebodohan, dan secara umum, kebaikan daripada
kejahatan. Inilah orang yang disebut Rasul sebagai “seteru Salib Kristus” [Filipi
3:18], sebab mereka membenci Salib dan penderitaan, serta mencintai dan memuliakan
perbuatan. Maka kebaikan Salib mereka sebut jahat dan kejahatan perbuatan
mereka sebut baik. Allah hanya bisa ditemukan dalam penderitaan dan Salib, sebagaimana
yang telah dikatakan. Karena itu, para sahabat Salib berkata bahwa Salib itu
baik dan perbuatan itu jahat, sebab melalui Salib perbuatan dihancurkan, dan Adam
Lama yang khususnya dibentuk oleh perbuatan, disalibkan. Mustahil orang tidak
menjadi sombong karena perbuatan baiknya, jika dia tidak terlebih dahulu
diremehkan dan dihancurkan oleh penderitaan dan kejahatan, sehingga ia paham
bahwa ia tak layak, dan bahwa perbuatan itu bukanlah perbuatannya, melainkan
perbuatan Allah.
III.
TESIS
22-28
Sebagaimana pengamatan Forde, Tesis
22-24 membentuk kelompok yang menyimpulkan bagian ini dan menggarap “masalah kebijaksanaan
Hukum Taurat berdasarkan pemisahan besar Teolog Kemuliaan dengan Teolog Salib.
Dalam satu pengertian, di sini Luther, dalam serangan terakhirnya terhadap
Teologi Kemuliaan, menggambarkan kesia-siaan penuh karena mengikuti Teologi
Kemuliaan sewaktu ia tercebur memasuki kedalaman kelam keputusasaan kekal. Tidak
hanya sia-sia, Teologi Kemuliaan adalah perangkap berumpan uluran kepercayaan palsu
akibat kesombongan manusia. Ada beberapa masalah dalam pemahaman ini. Pertama,
kita cepat melihat ini sebagai keselamatan lewat perbuatan. Kedua, kepercayaan
yang kita dapatkan dengan berbuat berulang-ulang, memberi kita ketenteraman
palsu. Ketiga, seperti ketagihan, semakin banyak yang kita lakukan, semakin kita
merasa nyaman, dan semakin banyak yang kita inginkan. Selain itu, Forde katakan
bahwa mereka yang cenderung lebih religius cenderung lebih mudah ingin.
Sehingga akhirnya jelas bahwa nafsu
tak pernah bisa dipuaskan, melainkan harus dimatikan. Dalam soal iman, Salib
mengatakan hal yang sejalan dengan intervensi itu. Itulah tindakan Allah, yang
dari luar sepenuhnya. Intervensi itu tidak diadakan untuk memuaskan nafsu
beragama Adam dan Hawa Lama, melainkan mematikannya. Nafsu itu disalibkan dengan
Kristus untuk diperbarui. Ini adalah pokok kajian kedua tesis berikut (23-24). Lagi-lagi
tidak ada saja gunanya mencoba membenarkan diri dengan mematuhi Hukum. Tesis
ini berhubungan dengan tesis sebelumnya dalam mengingatkan kita bahwa upaya menjangkau
Allah melalui peningkatan diri adalah Teologi Kemuliaan dan sekaligus merupakan
upaya menjangkau Allah melalui Hukum, bukannya Salib. Tesis ini jelas bertumpu
pada pokok pikiran yang disampaikan dalam Tesis 18, bahwa kita harus terlebih
dulu berputus asa sepenuhnya dengan kemampuan-kemampuan kita, sebelum bisa menerima
anugerah Kristus. Sama sekali tak ada cara mengelak dari kutukan Hukum kecuali
melalui Kristus dan Salib. Ini jelas urusan Hukum dan Injil yang lama itu. Hukum
selalu mengutuk. Hanya Injil yang menyelamatkan. Salib pasti-lah harapan kita
satu-satunya. Kemurahan melalui pengampunan, bukan perbuatan, adalah doa kita
satu-satunya.
Berbicara tentang perbedaan klasik
Lutheran antara Hukum dan Injil, menurut banyak penganut Lutheran, hal terburuk
yang bisa dilakukan seorang teolog adalah mencampuradukkan perbedaan antara
Hukum dan Injil, sebab itu menyesatkan iman. Luther menyentuh masalah yang sama
ini dalam tesis berikutnya. Jangan kambinghitamkan pengetahuan atau Hukum!
Luther tahu benar ke mana kesombongan mengarah bila terpojok. Ia akan mencari
seseorang atau sesuatu untuk dikambinghitamkan! Jangan. Hukum Allah itu
sempurna, sebagaimana dikatakan dalam Tesis 1. Hukum adalah “doktrin yang
paling bermanfaat tentang kehidupan.” Tidak ada pula yang salah dengan hikmat
yang benar, seperti yang Amsal katakan, khususnya pasal 8-9. Tidak, namun
Teolog Kemuliaan mengambil berkat-berkat Allah yang indah ini, yang semula
diniatkan Allah untuk keluhuran manusia, serta menyalahgunakan berkat itu demi
kemuliaan manusia sendiri dan kehancuran kekal. Diri kita yang lama harus mati!
Kita harus lahir baru! Itulah kematian lewat penderitaan dan Salib sebagaimana
kita telah disalibkan dengan Kristus! Ingatlah kembali pembahasan kita tentang Tesis
17, bagaimana kita mengerti bahwa disebabkan kesombongan kita yang nyata dalam
diri kita, merendahkan hati adalah hal yang mustahil. Ternyata melalui penderitaan
(yang mencakup putusan salah menurut Hukum) dan Salib, roh kita yang berdosa
dan sombong direndahkan, sehingga kita mungkin “mengupayakan anugerah Kristus,”
bukannya kemuliaan kita sendiri. Jika telah mulai memahami hal ini, meskipun
tidak benar-benar merasakan luka penderitaan, orang Kristen masih bisa
bersukaria oleh iman, mempercayai janji Allah bahwa hal-hal ini diizinkan-Nya
terjadi demi kebaikan kita semaksimalmaksimalnya.
Sebagai orang Kristen yang
dibaptiskan ke dalam Kristus, Adam Lama kita telah dibunuh. Bahwa baptisan air,
“menunjukkan bahwa Adam Lama di dalam diri kita harus, dengan penyesalan dan
pertobatan setiap hari, terhanyut mati dengan semua dosa dan nafsu jahat, dan bahwa
seorang manusia baru harus lahir setiap hari dan bangkit untuk hidup di hadapan
Allah dalam kebenaran dan kemurnian selamanya. Kita, orang Kristen adalah
sekaligus orang yang kudus dan pendosa. Kita adalah karya Allah yang sedang
berproses sekaligus kudus sepenuhnya dalam pandangan-Nya. Konflik didalam diri
kita yang sama yang melahirkan paradoks tentang bagaimana kita, sebagai orang
Kristen bisa, di satu sisi, mati karena dosa, dan di sisi lain, terus berbuat
dosa. Konflik ini akan tetap ada hingga kita menyadari sepenuhnya kemenangan
besar kita dalam Kristus, dan kematian akhirnya membebaskan kita dari
kedagingan lama ini. “Mati” yang merupakan keharusan menurut Luther dan Kristus,
adalah sebenarnya timbul dari rasa takut berpisah
selamanya dari Allah. Jadi harus kita perhatikan, bahwa ada dua jenis kematian:
kematian alami, atau lebih baik, kematian sementara, dan kematian kekal.
Kematian sementara adalah perpisahan jiwa dan tubuh. Tetapi kematian ini hanyalah
sebuah gambaran, simbol, dan mirip kematian yang dilukis di dinding bila
dibandingkan dengan kematian kekal, yang juga bersifat spiritual. Kematian
kekal juga rangkap dua, yang satu baik, sangat baik. Itulah kematian dari dosa
dan kematian segala kematian (the death of death), yang membuat jiwa terlepas
dan dipisahkan dari dosa, sedangkan tubuh dipisahkan dari kerusakan, lalu
melalui anugerah dan kemuliaan bergabung dengan Allah yang hidup.
Dalam kutipan ini Luther akhirnya
menjelaskan paradoksnya. Melalui baptisan orang Kristen sebenarnya mengalami “kematian
kekal” ini, sebab dalam Kristus kita secara kekal dipisahkan baik dari dosa-dosa
kita (sekalipun Adam Lama kita terus melakukannya), maupun dari kematian (yang
didefinisikan sebagai keterpisahan kekal dari Allah). Kelebihan kematian
sementara (ragawi), yang boleh diidamkan oleh orang Kristen, karenanya, adalah
kelepasan akhir dari cobaan, penderitaan dan teror nurani, serta sukacita
kebangkitan untuk hidup kekal bersama Allah! Dalam Kristus, dosa-dosa kita
telah terpisah dari kita sejauh timur dari barat! Dalam Kristus, efek Adam Lama
dilenyapkan selamanya—dibunuh.
Akhirnya, dalam keempat tesis
terakhir ini, kita ditenteramkan oleh kabar baik Injil—kasih Allah yang
meredakan rasa sakit dan jawaban semua kerisauan dan penderitaan. Hukum harus
dikelola agar hati menjadi putus asa. Tanpa efek penghancur kesombongan dari
Hukum ini, Injil dinegasikan dan kuasa Salib menjadi percuma. Tetapi bila
individu telah berputus asa dengan kemampuan-kemampuannya, maka Injil sematalah
yang harus diamalkan, sebab Injil sendirilah yang mengubah dan membawa sukacita
ke dalam hati manusia. Dengan mengingat introduksi ini, Tesis 25 kini membawa
kita kem dalam wilayah anugerah. Sebab kebenaran Allah tidak diperoleh dengan
tindakan yang sering diulang-ulang, seperti yang diajarkan
Aristoteles-perbuatan baik, namun ditanam dengan iman. Bukan berarti orang
benar tidak melakukan apa-apa, melainkan bahwa perbuatannya tidak membenarkannya,
bahwa kebenaranlah yang melahirkan perbuatan. Sebab anugerah dan iman
disampaikan tanpa perbuatan. Setelah keduanya tertanam, barulah perbuatan. perbuatan
tidak menunjang pembenaran, sehingga manusia tahu bahwa perbuatan yang dilakukan
dengan iman demikian bukan perbuatannya, melainkan perbuatan Allah. Dengan
alasan inilah dia tidak ingin dibenarkan atau dimuliakan melalui perbuatan,
namun mencari Allah. Pembenaran oleh iman dalam Yesus Kristus sudah cukup
baginya. Kristus adalah kebijaksanaannya, kebenarannya, dst., yang terkandung
dalam I Korintus 1:30, bahwa ia sendiri adalah alat bagi tindakan Kristus. Kita
menjadi lebih benar oleh iman, bukan perbuatan. Perbuatan baik apa pun yang
benar-benar kita lakukan tak lebih dari perbuatan yang Allah lakukan melalui
kita, sehingga ganjarannya adalah milik-Nya. Di sisi lain, kita tidak lagi perlu
cemas, selalu menguatirkan apakah kita telah cukup berbuat, sebab melalui iman perbuatan
itu telah dilakukan. Inilah pokok pikiran tesis berikutnya (26). Tesis 26 bisa
dipandang sebagai inti Tesis 25-28 yang memproklamirkan Injil Allah. Sebab iman
membenarkan. “Dan hukum (ungkap St. Agustinus) memerintahkan apa yang iman
dapatkan.” Sebab melalui iman Kristus ada di dalam kita, sebenarnya, menjadi
satu dengan kita. Kristus itu adil dan telah memenuhi perintah-perintah Allah,
sementara kita juga memenuhi segala sesuatu melalui Dia karena Dia kita jadikan
milik kita melalui iman. Fungsi terpenting hukum taurat adalah merendahkan kita
sepenuhnya dan menyalibkan Adam Lama hingga titik di mana kita berputus asa
dengan kemampuan kita untuk menyenangkan hati Allah, sehingga kita bisa
mendapatkan kemurahan Allah Maha Pemurah. Melalui Salib kita menerima semua hal
baik. Melalui iman semata dan anugerah semata semua berkat spiritual mengalir
dari Allah melalui Salib—bahkan kemampuan untuk yakin dan percaya terhadap
Salib mengalir melalui Salib! Salib ada di belakang setiap berkat yang Allah
nyatakan melalui Firman-Nya, dan mungkin karena itulah Luther berkata bahwa
“Salib semata-lah teologi kita. Salib ada di balik semua ini sebab hanya melalui
Saliblah kita diampuni atas siapa sebenarnya kita dan apa yang sebenarnya telah
kita lakukan. Pengampunan ini membuka Jalan masuk semua berkat-berkat lain,
termasuk kebenaran yang Luther ungkapkan dalam tesis ini, bahwa Kristus telah
memenuhkan bagi kita. Jadi, pengurbanan Kristus di Salib dan kebangkitan-Nya
sajalah yang membuat kita benar di hadapan Allah—bukan perbuatan kita. Selain
itu, ini disediakan Kristus bagi semua orang, Karena berkat-berkat ini kita
terima melalui iman, bisa dikatakan saat hal ini kita percayai, ia sudah usai!
Inilah titik yang disebut oleh para teolog sebagai pembenaran pribadi. Selama
kita berupaya membuktikan kebenaran kita kepada Alah, berarti kita menolak pengampunan
Salib. Meski demikian, pembenaran pribadi terjadi pada saat kita berputus asa
dengan upaya pembuktian kelayakan kita kepada Allah dan sadar bahwa upaya ini
tidak menghasilkan apa pun—pengampunan telah kita dapatkan di dalam Kristus
melalui Salib tak ada yang perlu kita lakukan. Sebagaimana dikatakan Luther, “Semua
telah dilakukan.” Inilah Teologi Salib. Allah, dalam Kristus, telah
menyelamatkan kita! Dosa kita telah diampuni. Itulah sebabnya Injil bertindak
sangat cepat—semuanya sudah beres. Pembenaran juga kita terima melalui iman
karena Kristus telah menggenapi sepenuhnya Hukum Allah bagi kita, sebagaimana
diungkapkan Roma 10:4. Kemudian Allah memerintahkan kita untuk menjadi
sempurna. Kunci untuk memahami paradoks ini ada pada pengertian Hukum dan Injil
yang tepat, yang berkaitan dengan watak orang kudus dan pendosa Kristen.
Merangkum apa yang kita gali sebelumnya pada bab ini, kalau Hukum selalu mendakwa,
Injil sajalah yang mengubah hati manusia. Telah disinggung pula bahwa Hukum
terutama berfungsi untuk mempersalahkan Adam Lama (pendosa), sedangkan Injil menguatkan
Manusia Baru (orang kudus, atau Kristus di dalam kita). Pemakaian Ketiga atas
Hukum,” yang menggambarkan bagaimana Hukum memerintahkan orang Kristen untuk
berbuat baik. Orang Kristen secara alami berupaya melakukan perbuatan baik
karena kasih dan rasa syukur kepada Allah atas pengampunan dosa dan dan janji
hidup kekal. Jadi, saat orang Kristen mendengar Hukum, dua hal terjadi sekaligus.
Hukum selalu mendakwa Adam Lama, dan serentak mengajari si Manusia Baru. Selain
itu, karena ketaatan kita sebenarnya berasal dari Kristus di dalam kita,
Manusia Baru tidak perlu dipersalahkan dan hanya berupaya patuh sepenuhnya karena
kasih, dan karena Kristus di dalam kitalah yang sebenarnya menyelesaikan
perbuatan demikian melalui Manusia Baru kita (atau watak yang baru), kita tidak
akan mendapat ganjaran karenanya. Karena Kristus hidup di dalam kita melalui
iman, maka Dia menggugah kita melakukan perbuatan baik dengan iman yang hidup
itu dalam karyaNya, sebab karya yang dilakukanNya adalah penggenapan hukum Allah
yang diberikan kepada kita melalui iman. Jika kita amati perbuatan itu, kita
tergerak untuk menirunya. Jadi, perbuatan karena kemurahan dibangkitkan dengan
karya yang melaluinya Dia menyelamatkan kita.
Dalam tesis 28 ini, Luther
menjelaskan tentang siapa Allah sebenarnya. Allah itu sendiri adalah Kasih. Di
luar Allah tidak ada kasih sejati. Yang dimaksudkan tentulah kasih Allah yang
tidak egois, yang mengasihi para pendosa kendati mereka tidak patuh dan
membenci Dia. Kasih Allah yang luar biasa ini adalah kasih yang sama dengan
kasih yang Luther ungkapkan dalam tesis sebelumnya, dan yang berdiam di dalam
orang Kristen, serta berupaya mematuhi Hukum Allah. Bahkan yang lebih penting,
itulah kasih yang menggerakkan Kristus untuk mempersembahkan diri-Nya di atas
Salib demi dosa-dosa kita, dan kasih yang melahirkan iman di hati para pendosa.
Kasih yang sama ini juga malah mencipta si Manusia Baru di dalam diri kita.
Dengan kata lain, kasih Kristus sebenarnya adalah pencipta Kristus di dalam
aku. Jadi, bagian pertama tesis ini mendalami konversi jiwa manusia. Hukum
membunuh Adam Lama, sementara Injil menciptakan Manusia Baru di dalam diri kita
dari ketiadaan. Luther katakan di atas bahwa, “Kasih Allah bukan menemukan,
melainkan mencipta, hal yang menyenangkan Allah.” Alasan bahwa Allah bukan menemukan,
melainkan pasti mencipta, semestinya sudah jelas saat ini. Tak ada apa pun di
dalam diri kita yang darinya bisa Allah ciptakan “hal yang menyenangkan Dia”! Sebagaimana
sudah disebutkan di atas, Allah itu kasih. Kasih itu berkurban, sedangkan Adam
Lama egois dan hanya mengupayakan hidupnya sendiri, sehingga tak bisa memahami
pengurbanan Salib dan yang hanya bisa disalibkan dengan Kristus. Sementara,
Allah melalui kasih-Nya, yang berupa Firman Injil, menciptakan Manusia Baru di
dalam diri kita dari ketiadaan, Kristus di dalam kita, yang dengan sendirinya
bisa menyenangkan Allah. Terlepas dari Allah, manusia tidak bisa mencintai
dengan berkorban. Dia hanya bisa menginginkan hal-hal untuk kemuliaannya
sendiri, namun dengan Kristus dalam diri kita, kita bisa mengasihi sesama
manusia dan Allah dalam kebenaran yang menyenangkan Dia.Inilah Jalan Salib.
Jalan menuju kebenaran Allah. Jalan menuju kehidupan kekal di surga. Jalan menuju
kedamaian kekal, baik di kehidupan sekarang maupun di dunia yang akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar