Selasa, 25 Juli 2023

Ringkasan Tesis Marthin Luther Jalan Salib - Herb Keistman

I.                   TESIS 1-12

Hukum Allah tidak bisa membawa manusia menjadi benar, bahkan hukum Allah menghalanginya. Perlu untuk selalu diingat dosa asali tidak bisa membuat manusia menjadi benar, walaupun pribadi manusia itu telah melakukan Hukum Allah. Ini adalah pokok utama reformasi Luther atas pemikiran dan praktek, serta merupakan langkah pertama dalam menyerang Teologi Kemuliaan. Tesis pertama ini adalah serangan pertama terhadap Teologi Kemuliaan itu. Tesis ini menyerang kerangka ketenteraman Adam Lama yang bertumpu pada perbuatan, jatidiri, dan cara kita membela diri. Karena ketika kadangkala dipersalahkan, Adam Lama berpegang pada Hukum Allah, yang baginya merupakan standar yang bisa dipakai untuk menonjolkan kebenarannya di hadapan Allah. Jadi sebenarnya Adam Lama hanya melipatgandakan dosanya ketika ia mencoba membenarkan dirinya di hadapan Allah. Tesis pertama ini, Luther menegur bahwa Hukum hanya menghalangi ikhtiar untuk menunjukkan kebenaran kita dihadapan Allah. Hukum tidak membantu Adam Lama membenarkan diri dihadapan Allah. Adam Lama yang mencoba membenarkan diri dan memuliakan dirinya sendiri dengan perbuatan baik bukan mempersembahkan kemuliaan itu kepada Allah atas pengampunan yang diterima di Salib, inilah yang menjadi pusat paradoks yang dibahas Luther dalam 12 Tesis Pertama ini.

Dalam tesis yang kedua Luther membalas reaksi yang telah diperhitungkannya terhadap tesis pertamanya. Hukum adalah jalan buntu bila menyangkut masalah kebenaran dimata Allah. Mengapa dikatakan demikian, karena Hukum menuntut kasih, dan mengamalkannya adalah hal yang benar, namun Hukum tidak bisa menghasilkan atau mempengaruhi apa yang dituntutnya. Inilah serangan berikut terhadap Teologi Kemuliaan. Luther menegaskan juga bahwa Hukum Allah yang paling sempurna itu tidak bisa memotivasi kita dalam kasih kepada Allah dan sesama. Diluar Salib, dosa asali tetap ada. Tesis 3 dan 4 mengawali uraian yang panjang lebar tentang perbuatan manusia secara bertolak-belakang dengan perbuatan Allah. Untuk itu, dengan benar kedua tesis ini sejak awal memberi pijakan atas perbedaan fundamental antara orang yang berpikir dan bertindak sebagai seorang Teolog Kemuliaan, serta orang yang berpikir dan bertindak selaku Teolog Salib (menurut Forde). Teologi Salib adalah kerangka pikiran, yang karena bentukan Hukum dan Injil, berfungsi dengan cara yang berbeda dengan pikiran Teolog Kemuliaan yang dibentuk oleh Dosa Asali dan Adam Lama. Luther memakai perbedaan Tesis 3 dan 4 ini untuk mengembangkan premis dasar Tesis 2 bahwa perbuatan baik yang dilakukan dalam pandangan Allah itu baik, bukan terutama karena perbuatan itu sendiri telah dilakukan, melainkan bahwa perbuatan itu lahir dari “takut akan, mengasihi, dan mempercayai Allah melebihi segala hal lain” yang sejati. Kebenaran sejati mengalir dari iman. Jika perbuatan baik yang kita tonjolkan, maka kita menolak Salib, lalu kemudian iman, dan ketidakberimanan adalah dosa yang paling mematikan. Perbedaan tajam tentang perbuatan dalam tesis 3 dan 4 ini, Luther katakan bahwa perbuatan tidak menarik yang Allah lakukan didalam kita” adalah perbuatan yang menyalibkan Adam Lama kita. Tak heran perbuatan-perbuatan itu tampak sebagai perbuatan yang tidak menarik! Perbuatan itu meremukkan kesombongan kita, baik lewat penderitaan, maupun konfrontasi dengan Salib Kristus. Sementara, perbuatan itu baik karena mengupayakan jasa kerendahan hati yang kekal dan takut akan Allah di dalam kita.

Untuk menjelaskan Tesis ke 5 dan 6, Luther mengatakan kejahatan adalah perbuatan-perbuatan yang bisa dipersalahkan di mata manusia. Dosa yang membawa kematian adalah dosa yang tampak baik dan pada dasarnya merupakan buah dari akar yang buruk dan pohon yang buruk. Jadi perbuatan baik manusia masih bisa disebut dosa yang membawa kematian karena perbuatan itu masih merupakan perbuatan Adam Lama, yang tidak bisa, dan tidak akan “takut akan, mengasihi, dan mempercayai Allah melebihi segala hal.” Yang membuat perbuatan ini mungkin merupakan dosa yang membawa kematian adalah bahwa kita tergoda percaya bahwa perbuatan-perbuatan itu membenarkan dan menghadiahkan kemuliaan Allah kepada diri kita. Tesis 6 masih menyalibkan Adam Lama kita. Sekalipun Allah berbuat melalui kita dalam iman, perbuatan-perbuatan kita tetaplah bukan tanpa dosa. Adam Lama kita berusaha menyelewengkan perbuatan-perbuatan Allah yang dilakukan-Nya melalui kita. Perbuatan baik membujuk kita untuk menjauh dari kepercayaan kita yang tulus akan pengampunan Allah.

Dalam tesis ke 7, menurut Forde, Luther mengangkat masalah takut akan Allah. Takut menguntungkan orang Kristen sebagai sisi yang perlu dari iman. Luther mengatakan pahami bahwa motivasi fundamental Adam lama adalah rasa takut. Takut akan Allah yang tepat itu perlu untuk menyalibkan Adam Lama di dalam diri kita, sehingga hatinya mungkin berpegang pada Injil dan mensyukuri jaminan pengampunan Allah melalui Salib. Luther menulis Semua perbuatan sebaiknya dilakukan dalam takut yang saleh. Kemudian dalam Tesis ke 8 Luther melanjutkan bahwa ia sangat tegas menghubungkan masalah takut, kerendahan hati, kesombongan, dosa, serta murka dan penghakiman Allah satu sama lain. Kesombongan adalah jawaban Adam Lama terhadap takut. Kesombongan adalah sama dengan dosa. Dalam Tesis 9 dan 10 ini menegur penyimpangan khusus masa Luther. Tesis ini adalah untuk memperlunak sikap menyalahkan perbuatan-perbuatan orang tak beriman dengan sekedar menyebut perbuatan itu “mati,” bukan dosa yang “membawa kematian” (mematikan). Inilah yang terjadi pada manusia yang berusaha berdalih dari apa yang Allah kutuk. Manusia akhirnya menilai Allah sebagai pihak yang tidak adil atau terlalu kaku. Ini lagi-lagi mengungkap Teologi Kemuliaan, yang dari sifatnya selalu lebih mengharapkan sikap lunak daripada pertobatan. Orang yang tak beriman melakukan perbuatan baik demi kesenangan dan reputasinya sendiri. Apa pun tidak dilakukannya demi kemuliaan Allah, tidak pula dia bisa berbuat sesuatu menurut kemuliaan Allah! Dalam ketakberimanannya dia sudah menolak Allah sebagai Allah. Dalam penjelasan Tesis 10, Luther mengatakan “mati” itu lebih buruk daripada menjumpai sesuatu yang “mematikan.” Tesis 11 dan 12 ini semakin Luther tegaskan  tentang kembali mengangkat tuntutan takut dalam kehidupan orang Kristen, terutama karena takut akan kutukan dalam setiap perbuatan itu perlu untuk menyalibkan Adam Lama dan tetap mewaspadainya. Luther menulis bila perbuatan baik dilakukan dalam takut yang membawa kematian akan kutukan, terjadilah pemurnian, dan godaan ke arah kesombongan yang berdosa lenyap karena takut yang saleh. Jadi kita harus takut akan penghakiman Allah dalam setiap perbuatan dan perasaan. Tesis 12 cukup menunjukkan bentuk penghakiman. Namun bila perbuatan ditakuti sebagai pembawa kematian, maka kita akan termaafkan dan dosa-dosa benar-benar bisa diampuni. Dosa benar-benar bisa diampuni bila ditakuti sebagai penyebab kutukan. Luther menyatakan bahwa harapan sejati mustahil ada kecuali penghakiman atas kesalahan ditakuti dalam setiap perbuatan. Setiap harapan yang didasarkan pada perbuatan manusia akan terbukti tidak benar. Harapan yang timbul dari abu api penyucian takkan mengecewakan. Tetapi caranya adalah Jalan Salib.

II.                TESIS 13-21

Tesis 13 mulai membahas aspek masalah yang berbeda-beda. Bila Tesis 1-12 membahas masalah perbuatan obyektif kita, maka Dalam Tesis 13-18 Luther beralih pada sisi subyektif masalahnya, masalah kehendak. Tesis-tesis ini sedemikian jauh berpusat pada pengkhianatan penuh Adam Lama di dalam diri kita. Adam Lamalah yang mencoba memenuhi tuntutan Allah, bila perlu, untuk tetap memiliki kontrol, dan apa pun caranya menolak tunduk sepenuhnya kepada Kehendak Allah. Dalam enam tesis berikut ini (13-18), Luther memperlihatkan bahwa bahkan dalam kehendak kita tidak ada keiinginan untuk membiarkan Allah menjadi Allah, bahkan ketika Dia menawarkan untuk mengampuni dosa dan menyelamatkan kita dari diri kita. Adam Lama kita berkeras memberi jawaban, bahwa keselamatan bagaimana pun terkait dengan sesuatu di dalam diri kita-yaitu perbuatan baik, Adam Lama selalu berpegang pada ganjaran terkecil-dimana ganjaran kecil itu membawa kepada kematian kekal. Maka Forde menulis Jika keselamatan harus ada, keselamatan itu tidak bisa hadir melalui gerak kehendak itu sendiri. Itu berarti, harus ada kematian dan kebangkitan. Salib ada di balik masalah kehendak. Salib itu sendiri adalah bukti bahwa kita tidak memilihNya, namun Dialah yang memilih kita, keselamatan kita mengharuskan penyaliban total Adam Lama dan kebangkitan Manusia Baru. Luther mau mengatakan kehendak kita sendiri, keputusan itu sama sekali tak sanggup kita lakukan demi kemuliaan Allah. Seperti Adam Lama, keputusan itu hanya bisa kita lakukan karena kepentingan kita sendiri yang egois. Kita sama sekali tidak bisa, secara sendiri, melakukan sesuatu yang pada akhirnya tidak tampak menguntungkan diri kita.

Atas tesis 13, tegas Forde mengatakan kehendak yang telah jatuh ke dalam dosa itu tertawan dan tunduk kepada dosa. Kehendak bukannya tidak berarti namun kehendak tidak bebas untuk berbuat jahat. Kehendak adalah sesuatu yang terikat. Kehendak terikat pada kehendak yang dikehendakinya. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, kehendak terikat dosa, sehingga tidak bebas. Dalam Tesis 14 dan 15 pemikiran tambahannya adalah bahwa kehendak bebas sanggup berbuat baik, namun hanya dalam kapasitas pasif, dan hanya sebagaimana digerakkan Allah. Di sini Luther memperkenalkan istilah aktif dan pasif, dalam pengertian kapasitas untuk berbuat baik dalam pandangan Allah. Aktif berarti kemampuannya berasal dari dalam individu. Pasif berarti kemampuannya berasal dari kekuatan-kekuatan di luar individu. Luther juga jelaskan bahwa apa pun yang dilakukan manusia dalam kapasitas aktif, artinya, atas prakarsanya sendiri, pasti jahat. Dalam Tesis 15 Luther menyerang beberapa sikap filsafati pada masanya dengan menelaah kehendak bebas sebelum Adam dan Hawa terjatuh ke dalam dosa. Singkatnya Luther katakan, bahwa sebelum kejatuhan ke dalam dosa pun, kehendak bebas Adam atau Hawa tidak bisa tetap suci dengan kesanggupan mereka sendiri, artinya, dalam kapasitas aktif, namun hanya dalam kapasitas pasif, artinya, hanya karena Allah terus menuntun mereka dalam kebenaran. Luther maksudkan di sini bahwa manusia sama sekali tidak mampu melakukan sesuatu selain keberdosaan dalam kapasitas aktif. Dengan kata lain, Allah sematalah sumber seluruh kebenaran, bahkan sumber semua kehendak menuju kebenaran. Inti dosa asali adalah keinginan manusia untuk memberontak, demi mengedepankan kehendak bebasnya sendiri—bahkan jika itu termasuk kesanggupan untuk secara aktif memilih kehendak Allah. Dosa Asali adalah keinginan manusia untuk merdeka dari Allah. Jadi keselamatan kita sampai kepada kita oleh anugerah Allah semata, bukan anugerah kita sendiri.

Dari Tesis 16, Forde mengatakan: Bila orang melakukan apa yang ada pada dirinya, dia berdosa dan mengupayakan segala sesuatu bagi dirinya. Tetapi jika ia menganggap bahwa melalui dosa dia menjadi layak atau siap menerima anugerah, dia menjumlahkan kepongahan yang angkuh dengan dosanya, dan tidak yakin bahwa dosa itu dosa dan kejahatan itu kejahatan; ini adalah dosa yang sangat parah. Tesis ini adalah serangan yang menohok dan menyebabkan Teologi Kemuliaan kehilangan daya, dan gementar mandek di tengah jalan. Jadi, dikatakanlah bahwa Hukum merendahkan, anugerah meninggikan, Hukum mengakibatkan takut dan murka, anugerah melahirkan harapan dan pengampunan. “Oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” [Roma 3:20], namun dengan mengetahui dosa, muncul kerendahan hati, dan dengan kerendahan hati anugerah didapatkan. Jadi, suatu tindakan yang aneh menurut watak Allah, melahirkan perbuatan yang termasuk watakNya juga: orang dijadikanNya pendosa agar Ia mungkin menjadikan orang itu benar. Manusia harus berputus asa sama sekali dengan kemampuannya sendiri, sebelum siap menerima anugerah Kristus. Ini-lah yang sejak awal kita tuju. Adam lama dan teologinya harus dibawa ke titik keputusasaan penuh, sehingga dia mungkin berserah kepada kasih Allah dalam Kristus. Dalam tesis 17 keputusasaan bukanlah tujuan. Tujuannya adalah kerendahan hati, yang diperlukan untuk menerima anugerah. Sebab dalam kutipan di atas, tegas Luther, “dengan kerendahan hati, anugerah didapatkan.” Dalam tesis ini Luther berkata, “menimbulkan keinginan untuk merendahkan hati,” bukan sekedar “merendahkan hati.” Orang tidak bisa benar-benar merendahkan hati. Orang hanya bisa rendah hati. Kerendahan hati selalu berupa sesuatu yang ditimpakan kepada kita. Alatnya adalah hukum dan murka, “perbuatan Allah yang aneh,” bukan perbuatan kita yang saleh. Kerendahan hati dalam konteks ini justru mau diturunkan ke posisi di mana kita tidak mengklaim apa pun juga. Itu sebabnya Luther katakan, bahwa kita hanya bisa sampai kepada Allah melalui penderitaan dan Salib. Salib yang kita pikul adalah salib penderitaan kita. Tetapi pernyataan ini masih mengajukan paradoks lain yang aneh. Orang yang mengikut Kristus mampu menderita dengan kesabaran yang aneh. Di satu sisi, penderitaan itu dibencinya karena nyata, namun di sisi lain, disadarinya bahwa penderitaan itu melapangkan jiwanya, sehingga anugerah Kristus bisa diresapi (bnd Rom 5:3-4; 8:28).

Selanjutnya Luther katakan kerendahan hati pada seorang manusia itu baik, maka keputusasaan penuh pada kemampuannya sendiri pasti bahkan lebih baik. Akhirnya Luther katakan bahwa Adam Lama itu tidak bisa sama sekali, bahkan meskipun yang terbaik yang dilakukannya, dengan secuil atau tak secuil pun pengertian, membantu menyelamatkannya. Adam Lama adalah suatu kelemahan total—kutukan atas dirinya, kutukan ganda jika ia lakukan apa yang ada pada dirinya—dan bukan aset. Teolog Salib mengakui bahwa pokoknya tidak ada sesuatu pada diri kita yang mampu mendekatkan kita dengan Allah atau bahkan memahami Dia—keberdosaan kita yang menghalangi. Satu-satunya harapan kita adalah bahwa dengan pengampunanNya Allah mungkin menyingkapkan Dirinya kepada kita melalui Salib. Perbedaan pandangan ini—yang di dalamnya melalui Adam Lama Teolog Kemuliaan mau menahan kesombongannya, dan melalui Manusia Baru Teolog Salib berserah kepada Allah dengan kerendahan hati penuh, lantas menghasilkan dua jalan spiritual dan pandangan hidup yang sangat berbeda, dan karena itu, dua pendekatan yang sepenuhnya berbeda terhadap kehidupan dan Allah.

Dalam Tesis 19 Luther mengatakan betapa pentingnya apa yang dipikirkan orang, namun, betapa vitalnya apa yang dipikirkan Allah. Keingintahuan manusia alami teramat besar. Manusia alami juga berupaya menjelajahi watak Allah dengan akal budinya yang tak sempurna, mendahului apa yang akhirnya harus dilakukannya agar akur dengan Sang Khalik. Ini tentulah prasangka Teolog Kemuliaan, mengandalkan “apa yang ada pada dirinya” untuk memahami Yang Maha Kuasa yang tak terbatas dengan pengetahuan manusia yang terbatas. Untuk kajian etika dan tingkah laku manusia, filsafat bisa sangat berguna, namun untuk mengenali watak dan sifat-sifat Allah, yang terbaik adalah membiarkan firman Allah berbicara kepada kita. Forde jelaskan pula bahwa ketika Teolog Kemuliaan akhirnya berpaling kepada Kristus dan Salib demi mencari Allah, dia malah mau “membaca” Allah dan Salib dari sudut manusia. Dia berupaya lebih memahami “mengapa”-nya Salib dan peristiwa-peristiwa hidup ini, dan dengan demikian, apa yang Allah lakukan atau izinkan, bukan sekedar menatap langsung Kristus di Salib agar mengerti apa yang Allah telah lakukan di sana (Forde, 1997, 75). Dalam Tesis berikutnya (20) Luther menekankan pokok tentang theolog sejati mencari Allah.  Luther menulis, “mengenal Allah dalam kemuliaan dan kebesaranNya tidak membawa manfaat, kecuali mengenalNya dalam kehinaan dan aib Salib.” Betapa bodohnya mencari Allah dalam kemuliaanNya terlepas dari Salib. Betapa bodohnya melihat kita yang mau memuliakan diri, padahal sang Pencipta segala hal merendahkan diriNya dengan terlahir dari seorang perawan dan mati sebagai penjahat di Salib”. Hubungan kita dengan Allah hanya bisa terjadi melalui penderitaan dan kehinaan Kristus, hubungan kita dengan Allah hanya bisa terjalin melalui penyucian spiritual Kristus yang disalibkan. Tesis 20 mengembangkan pemikiran, bahwa manusia telah menyalahgunakan pengetahuan tentang Allah yang didapatnya dari apa yang Allah ciptakan. Manusia, karenanya, adalah orang orang bodoh. Pengetahuan tentang Allah (yang didapat) dari karyaNya tidak membuat manusia terjauhkan dari Allah dan menjadi penyembah berhala. Jadi, menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan itu menyenangkan bagi Allah. Pemberitaannya adalah perkataan Salib. Teolog Kemuliaan mau menyingkap tabir Allah dari karyaNya yang dahsyat—dan memang menemukan, namun tetap tidak bisa melihat Allah secara kasat mata. Tetapi, Teolog Salib—yang ditarik mendekat kepada Salib terutama demi pengampunan dosa—hanya melihat “kehinaan, aib, kelemahan, penderitaan, dan kematian yang mendukakan,” yang namun, di dalam Kristus, sebenarnya melihat Allah dengan cara yang “sekasat mata sebagaimana Allah bisa terlihat di mata manusia, sebagaimana Dia terlihat di mata Musa saat Allah mengizinkannya melihatNya setelah Dia berlalu. Salib merupakan penyingkapan Allah, dan Teologi Salib sajalah yang layak disebut teologi… “Itu sebabnya, teologi dan pengetahuan yang benar tentang Allah terletak pada Kristus yang disalibkan. (Sasse).

Mengenai tesis 21 ini Luther menulis: Pernyataan ini jelas: dia yang tidak mengenal Kristus, tidak mengenal Allah yang tersembunyi dalam penderitaan. Karena itu, ia lebih menyukai perbuatan daripada penderitaan, kemenangan daripada Salib, kekuatan daripada kelemahan, hikmat daripada kebodohan, dan secara umum, kebaikan daripada kejahatan. Inilah orang yang disebut Rasul sebagai “seteru Salib Kristus” [Filipi 3:18], sebab mereka membenci Salib dan penderitaan, serta mencintai dan memuliakan perbuatan. Maka kebaikan Salib mereka sebut jahat dan kejahatan perbuatan mereka sebut baik. Allah hanya bisa ditemukan dalam penderitaan dan Salib, sebagaimana yang telah dikatakan. Karena itu, para sahabat Salib berkata bahwa Salib itu baik dan perbuatan itu jahat, sebab melalui Salib perbuatan dihancurkan, dan Adam Lama yang khususnya dibentuk oleh perbuatan, disalibkan. Mustahil orang tidak menjadi sombong karena perbuatan baiknya, jika dia tidak terlebih dahulu diremehkan dan dihancurkan oleh penderitaan dan kejahatan, sehingga ia paham bahwa ia tak layak, dan bahwa perbuatan itu bukanlah perbuatannya, melainkan perbuatan Allah.

III.             TESIS 22-28

Sebagaimana pengamatan Forde, Tesis 22-24 membentuk kelompok yang menyimpulkan bagian ini dan menggarap “masalah kebijaksanaan Hukum Taurat berdasarkan pemisahan besar Teolog Kemuliaan dengan Teolog Salib. Dalam satu pengertian, di sini Luther, dalam serangan terakhirnya terhadap Teologi Kemuliaan, menggambarkan kesia-siaan penuh karena mengikuti Teologi Kemuliaan sewaktu ia tercebur memasuki kedalaman kelam keputusasaan kekal. Tidak hanya sia-sia, Teologi Kemuliaan adalah perangkap berumpan uluran kepercayaan palsu akibat kesombongan manusia. Ada beberapa masalah dalam pemahaman ini. Pertama, kita cepat melihat ini sebagai keselamatan lewat perbuatan. Kedua, kepercayaan yang kita dapatkan dengan berbuat berulang-ulang, memberi kita ketenteraman palsu. Ketiga, seperti ketagihan, semakin banyak yang kita lakukan, semakin kita merasa nyaman, dan semakin banyak yang kita inginkan. Selain itu, Forde katakan bahwa mereka yang cenderung lebih religius cenderung lebih mudah ingin.

Sehingga akhirnya jelas bahwa nafsu tak pernah bisa dipuaskan, melainkan harus dimatikan. Dalam soal iman, Salib mengatakan hal yang sejalan dengan intervensi itu. Itulah tindakan Allah, yang dari luar sepenuhnya. Intervensi itu tidak diadakan untuk memuaskan nafsu beragama Adam dan Hawa Lama, melainkan mematikannya. Nafsu itu disalibkan dengan Kristus untuk diperbarui. Ini adalah pokok kajian kedua tesis berikut (23-24). Lagi-lagi tidak ada saja gunanya mencoba membenarkan diri dengan mematuhi Hukum. Tesis ini berhubungan dengan tesis sebelumnya dalam mengingatkan kita bahwa upaya menjangkau Allah melalui peningkatan diri adalah Teologi Kemuliaan dan sekaligus merupakan upaya menjangkau Allah melalui Hukum, bukannya Salib. Tesis ini jelas bertumpu pada pokok pikiran yang disampaikan dalam Tesis 18, bahwa kita harus terlebih dulu berputus asa sepenuhnya dengan kemampuan-kemampuan kita, sebelum bisa menerima anugerah Kristus. Sama sekali tak ada cara mengelak dari kutukan Hukum kecuali melalui Kristus dan Salib. Ini jelas urusan Hukum dan Injil yang lama itu. Hukum selalu mengutuk. Hanya Injil yang menyelamatkan. Salib pasti-lah harapan kita satu-satunya. Kemurahan melalui pengampunan, bukan perbuatan, adalah doa kita satu-satunya.

Berbicara tentang perbedaan klasik Lutheran antara Hukum dan Injil, menurut banyak penganut Lutheran, hal terburuk yang bisa dilakukan seorang teolog adalah mencampuradukkan perbedaan antara Hukum dan Injil, sebab itu menyesatkan iman. Luther menyentuh masalah yang sama ini dalam tesis berikutnya. Jangan kambinghitamkan pengetahuan atau Hukum! Luther tahu benar ke mana kesombongan mengarah bila terpojok. Ia akan mencari seseorang atau sesuatu untuk dikambinghitamkan! Jangan. Hukum Allah itu sempurna, sebagaimana dikatakan dalam Tesis 1. Hukum adalah “doktrin yang paling bermanfaat tentang kehidupan.” Tidak ada pula yang salah dengan hikmat yang benar, seperti yang Amsal katakan, khususnya pasal 8-9. Tidak, namun Teolog Kemuliaan mengambil berkat-berkat Allah yang indah ini, yang semula diniatkan Allah untuk keluhuran manusia, serta menyalahgunakan berkat itu demi kemuliaan manusia sendiri dan kehancuran kekal. Diri kita yang lama harus mati! Kita harus lahir baru! Itulah kematian lewat penderitaan dan Salib sebagaimana kita telah disalibkan dengan Kristus! Ingatlah kembali pembahasan kita tentang Tesis 17, bagaimana kita mengerti bahwa disebabkan kesombongan kita yang nyata dalam diri kita, merendahkan hati adalah hal yang mustahil. Ternyata melalui penderitaan (yang mencakup putusan salah menurut Hukum) dan Salib, roh kita yang berdosa dan sombong direndahkan, sehingga kita mungkin “mengupayakan anugerah Kristus,” bukannya kemuliaan kita sendiri. Jika telah mulai memahami hal ini, meskipun tidak benar-benar merasakan luka penderitaan, orang Kristen masih bisa bersukaria oleh iman, mempercayai janji Allah bahwa hal-hal ini diizinkan-Nya terjadi demi kebaikan kita semaksimalmaksimalnya.

Sebagai orang Kristen yang dibaptiskan ke dalam Kristus, Adam Lama kita telah dibunuh. Bahwa baptisan air, “menunjukkan bahwa Adam Lama di dalam diri kita harus, dengan penyesalan dan pertobatan setiap hari, terhanyut mati dengan semua dosa dan nafsu jahat, dan bahwa seorang manusia baru harus lahir setiap hari dan bangkit untuk hidup di hadapan Allah dalam kebenaran dan kemurnian selamanya. Kita, orang Kristen adalah sekaligus orang yang kudus dan pendosa. Kita adalah karya Allah yang sedang berproses sekaligus kudus sepenuhnya dalam pandangan-Nya. Konflik didalam diri kita yang sama yang melahirkan paradoks tentang bagaimana kita, sebagai orang Kristen bisa, di satu sisi, mati karena dosa, dan di sisi lain, terus berbuat dosa. Konflik ini akan tetap ada hingga kita menyadari sepenuhnya kemenangan besar kita dalam Kristus, dan kematian akhirnya membebaskan kita dari kedagingan lama ini. “Mati” yang merupakan keharusan menurut Luther dan Kristus, adalah sebenarnya timbul dari rasa takut berpisah selamanya dari Allah. Jadi harus kita perhatikan, bahwa ada dua jenis kematian: kematian alami, atau lebih baik, kematian sementara, dan kematian kekal. Kematian sementara adalah perpisahan jiwa dan tubuh. Tetapi kematian ini hanyalah sebuah gambaran, simbol, dan mirip kematian yang dilukis di dinding bila dibandingkan dengan kematian kekal, yang juga bersifat spiritual. Kematian kekal juga rangkap dua, yang satu baik, sangat baik. Itulah kematian dari dosa dan kematian segala kematian (the death of death), yang membuat jiwa terlepas dan dipisahkan dari dosa, sedangkan tubuh dipisahkan dari kerusakan, lalu melalui anugerah dan kemuliaan bergabung dengan Allah yang hidup.

Dalam kutipan ini Luther akhirnya menjelaskan paradoksnya. Melalui baptisan orang Kristen sebenarnya mengalami “kematian kekal” ini, sebab dalam Kristus kita secara kekal dipisahkan baik dari dosa-dosa kita (sekalipun Adam Lama kita terus melakukannya), maupun dari kematian (yang didefinisikan sebagai keterpisahan kekal dari Allah). Kelebihan kematian sementara (ragawi), yang boleh diidamkan oleh orang Kristen, karenanya, adalah kelepasan akhir dari cobaan, penderitaan dan teror nurani, serta sukacita kebangkitan untuk hidup kekal bersama Allah! Dalam Kristus, dosa-dosa kita telah terpisah dari kita sejauh timur dari barat! Dalam Kristus, efek Adam Lama dilenyapkan selamanya—dibunuh.

Akhirnya, dalam keempat tesis terakhir ini, kita ditenteramkan oleh kabar baik Injil—kasih Allah yang meredakan rasa sakit dan jawaban semua kerisauan dan penderitaan. Hukum harus dikelola agar hati menjadi putus asa. Tanpa efek penghancur kesombongan dari Hukum ini, Injil dinegasikan dan kuasa Salib menjadi percuma. Tetapi bila individu telah berputus asa dengan kemampuan-kemampuannya, maka Injil sematalah yang harus diamalkan, sebab Injil sendirilah yang mengubah dan membawa sukacita ke dalam hati manusia. Dengan mengingat introduksi ini, Tesis 25 kini membawa kita kem dalam wilayah anugerah. Sebab kebenaran Allah tidak diperoleh dengan tindakan yang sering diulang-ulang, seperti yang diajarkan Aristoteles-perbuatan baik, namun ditanam dengan iman. Bukan berarti orang benar tidak melakukan apa-apa, melainkan bahwa perbuatannya tidak membenarkannya, bahwa kebenaranlah yang melahirkan perbuatan. Sebab anugerah dan iman disampaikan tanpa perbuatan. Setelah keduanya tertanam, barulah perbuatan. perbuatan tidak menunjang pembenaran, sehingga manusia tahu bahwa perbuatan yang dilakukan dengan iman demikian bukan perbuatannya, melainkan perbuatan Allah. Dengan alasan inilah dia tidak ingin dibenarkan atau dimuliakan melalui perbuatan, namun mencari Allah. Pembenaran oleh iman dalam Yesus Kristus sudah cukup baginya. Kristus adalah kebijaksanaannya, kebenarannya, dst., yang terkandung dalam I Korintus 1:30, bahwa ia sendiri adalah alat bagi tindakan Kristus. Kita menjadi lebih benar oleh iman, bukan perbuatan. Perbuatan baik apa pun yang benar-benar kita lakukan tak lebih dari perbuatan yang Allah lakukan melalui kita, sehingga ganjarannya adalah milik-Nya. Di sisi lain, kita tidak lagi perlu cemas, selalu menguatirkan apakah kita telah cukup berbuat, sebab melalui iman perbuatan itu telah dilakukan. Inilah pokok pikiran tesis berikutnya (26). Tesis 26 bisa dipandang sebagai inti Tesis 25-28 yang memproklamirkan Injil Allah. Sebab iman membenarkan. “Dan hukum (ungkap St. Agustinus) memerintahkan apa yang iman dapatkan.” Sebab melalui iman Kristus ada di dalam kita, sebenarnya, menjadi satu dengan kita. Kristus itu adil dan telah memenuhi perintah-perintah Allah, sementara kita juga memenuhi segala sesuatu melalui Dia karena Dia kita jadikan milik kita melalui iman. Fungsi terpenting hukum taurat adalah merendahkan kita sepenuhnya dan menyalibkan Adam Lama hingga titik di mana kita berputus asa dengan kemampuan kita untuk menyenangkan hati Allah, sehingga kita bisa mendapatkan kemurahan Allah Maha Pemurah. Melalui Salib kita menerima semua hal baik. Melalui iman semata dan anugerah semata semua berkat spiritual mengalir dari Allah melalui Salib—bahkan kemampuan untuk yakin dan percaya terhadap Salib mengalir melalui Salib! Salib ada di belakang setiap berkat yang Allah nyatakan melalui Firman-Nya, dan mungkin karena itulah Luther berkata bahwa “Salib semata-lah teologi kita. Salib ada di balik semua ini sebab hanya melalui Saliblah kita diampuni atas siapa sebenarnya kita dan apa yang sebenarnya telah kita lakukan. Pengampunan ini membuka Jalan masuk semua berkat-berkat lain, termasuk kebenaran yang Luther ungkapkan dalam tesis ini, bahwa Kristus telah memenuhkan bagi kita. Jadi, pengurbanan Kristus di Salib dan kebangkitan-Nya sajalah yang membuat kita benar di hadapan Allah—bukan perbuatan kita. Selain itu, ini disediakan Kristus bagi semua orang, Karena berkat-berkat ini kita terima melalui iman, bisa dikatakan saat hal ini kita percayai, ia sudah usai! Inilah titik yang disebut oleh para teolog sebagai pembenaran pribadi. Selama kita berupaya membuktikan kebenaran kita kepada Alah, berarti kita menolak pengampunan Salib. Meski demikian, pembenaran pribadi terjadi pada saat kita berputus asa dengan upaya pembuktian kelayakan kita kepada Allah dan sadar bahwa upaya ini tidak menghasilkan apa pun—pengampunan telah kita dapatkan di dalam Kristus melalui Salib tak ada yang perlu kita lakukan. Sebagaimana dikatakan Luther, “Semua telah dilakukan.” Inilah Teologi Salib. Allah, dalam Kristus, telah menyelamatkan kita! Dosa kita telah diampuni. Itulah sebabnya Injil bertindak sangat cepat—semuanya sudah beres. Pembenaran juga kita terima melalui iman karena Kristus telah menggenapi sepenuhnya Hukum Allah bagi kita, sebagaimana diungkapkan Roma 10:4. Kemudian Allah memerintahkan kita untuk menjadi sempurna. Kunci untuk memahami paradoks ini ada pada pengertian Hukum dan Injil yang tepat, yang berkaitan dengan watak orang kudus dan pendosa Kristen. Merangkum apa yang kita gali sebelumnya pada bab ini, kalau Hukum selalu mendakwa, Injil sajalah yang mengubah hati manusia. Telah disinggung pula bahwa Hukum terutama berfungsi untuk mempersalahkan Adam Lama (pendosa), sedangkan Injil menguatkan Manusia Baru (orang kudus, atau Kristus di dalam kita). Pemakaian Ketiga atas Hukum,” yang menggambarkan bagaimana Hukum memerintahkan orang Kristen untuk berbuat baik. Orang Kristen secara alami berupaya melakukan perbuatan baik karena kasih dan rasa syukur kepada Allah atas pengampunan dosa dan dan janji hidup kekal. Jadi, saat orang Kristen mendengar Hukum, dua hal terjadi sekaligus. Hukum selalu mendakwa Adam Lama, dan serentak mengajari si Manusia Baru. Selain itu, karena ketaatan kita sebenarnya berasal dari Kristus di dalam kita, Manusia Baru tidak perlu dipersalahkan dan hanya berupaya patuh sepenuhnya karena kasih, dan karena Kristus di dalam kitalah yang sebenarnya menyelesaikan perbuatan demikian melalui Manusia Baru kita (atau watak yang baru), kita tidak akan mendapat ganjaran karenanya. Karena Kristus hidup di dalam kita melalui iman, maka Dia menggugah kita melakukan perbuatan baik dengan iman yang hidup itu dalam karyaNya, sebab karya yang dilakukanNya adalah penggenapan hukum Allah yang diberikan kepada kita melalui iman. Jika kita amati perbuatan itu, kita tergerak untuk menirunya. Jadi, perbuatan karena kemurahan dibangkitkan dengan karya yang melaluinya Dia menyelamatkan kita.

Dalam tesis 28 ini, Luther menjelaskan tentang siapa Allah sebenarnya. Allah itu sendiri adalah Kasih. Di luar Allah tidak ada kasih sejati. Yang dimaksudkan tentulah kasih Allah yang tidak egois, yang mengasihi para pendosa kendati mereka tidak patuh dan membenci Dia. Kasih Allah yang luar biasa ini adalah kasih yang sama dengan kasih yang Luther ungkapkan dalam tesis sebelumnya, dan yang berdiam di dalam orang Kristen, serta berupaya mematuhi Hukum Allah. Bahkan yang lebih penting, itulah kasih yang menggerakkan Kristus untuk mempersembahkan diri-Nya di atas Salib demi dosa-dosa kita, dan kasih yang melahirkan iman di hati para pendosa. Kasih yang sama ini juga malah mencipta si Manusia Baru di dalam diri kita. Dengan kata lain, kasih Kristus sebenarnya adalah pencipta Kristus di dalam aku. Jadi, bagian pertama tesis ini mendalami konversi jiwa manusia. Hukum membunuh Adam Lama, sementara Injil menciptakan Manusia Baru di dalam diri kita dari ketiadaan. Luther katakan di atas bahwa, “Kasih Allah bukan menemukan, melainkan mencipta, hal yang menyenangkan Allah.” Alasan bahwa Allah bukan menemukan, melainkan pasti mencipta, semestinya sudah jelas saat ini. Tak ada apa pun di dalam diri kita yang darinya bisa Allah ciptakan “hal yang menyenangkan Dia”! Sebagaimana sudah disebutkan di atas, Allah itu kasih. Kasih itu berkurban, sedangkan Adam Lama egois dan hanya mengupayakan hidupnya sendiri, sehingga tak bisa memahami pengurbanan Salib dan yang hanya bisa disalibkan dengan Kristus. Sementara, Allah melalui kasih-Nya, yang berupa Firman Injil, menciptakan Manusia Baru di dalam diri kita dari ketiadaan, Kristus di dalam kita, yang dengan sendirinya bisa menyenangkan Allah. Terlepas dari Allah, manusia tidak bisa mencintai dengan berkorban. Dia hanya bisa menginginkan hal-hal untuk kemuliaannya sendiri, namun dengan Kristus dalam diri kita, kita bisa mengasihi sesama manusia dan Allah dalam kebenaran yang menyenangkan Dia.Inilah Jalan Salib. Jalan menuju kebenaran Allah. Jalan menuju kehidupan kekal di surga. Jalan menuju kedamaian kekal, baik di kehidupan sekarang maupun di dunia yang akan datang.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...