Mechthild Magdeburg
(1208-1282 atau 1294)
tinggal dalam waktu kreativitas budaya besar
dan konflik. Satu teks nya, 779: Mengalir Cahaya Ketuhanan,
adalah diterjemahkan dari bahasa sehari-hari Low German Tengah
tidak lama setelah kematiannya dalam Latin dan tinggi Jerman Tengah,
tetapi hampir menghilang dari pandangan
segera setelah itu. Pemulihan teks nya untuk pembaca yang lebih umum memungkinkan kita untuk menemukan kembali
seorang teolog yang kreatif saat ia bertemu paradoks
dari ecclesia berjuang
dengan kemungkinan dan godaan kekayaan, kekuasaan
politik, perang, inovasi, dan perbedaan pendapat. Sedikit yang diketahui
tentang Mechthild, di luar apa
yang mungkin disimpulkan dari tulisan-tulisannya.
Secara umum, ia diduga
berasal dari keluarga yang cukup
kaya, karena dia bisa
membaca dan menulis dan Familiar dengan puisi cinta
sopan dan citra. Dia
pertama "disambut" oleh Allah pada dua
belas dan sebagai orang dewasa muda pindah
ke Magdeburg di mana dia hidup sebagai seorang Beguine.
Pada sekitar 1250 dia bersama dengan pengakuan dia, Dominika Friar,
penjelasan tentang kekayaan yang luar biasa dari dirinya
kontemplatif ' praktek.
Dia bersikeras bahwa dia menuliskan pengalamannya, yang ia lakukan di seri
dari tujuh buku selama
beberapa dekade. Tahun-tahun terakhir hidupnya dihabiskan di biara Cistercian di
Helfta, yang biarawati kredit berkembangnya mereka
sendiri hidup kontemplatif untuk
kehadirannya di antara mereka. "Di luar indikasi dalam
tulisan-tulisannya bahwa dia adalah konflik sakit-sakitan dan
berpengalaman dengan ulama, alasan sebenarnya Untuk dia pindah ke
biara tidak mungkin tahu. Mechthild dalam banyak hal orang luar struktur kekuasaan kelembagaan. Dia berjanji
dirinya untuk hidup miskin dan kekurangan dirinya
untuk sebagian besar hidupnya dari dukungan dari keluarga
atau perintah monastik. Tapi berhenti sejenak untuk mengidentifikasi beberapa Fitur gerejawi dan
otoritas sekuler yang berbentuk
dunianya dapat membantu kita untuk menafsirkan tulisan-tulisannya dan mereka signifikansi
bagi kita.
Tanggapan
Banyak
orang Kristen merasa prihatin atas munculnya ketidakadilan dalam tatanan dunia
dan sangat tertarik pada ilmu pengetahuan dan kecenderungan humanistis di
Eropa. Namun, gereja-gereja Kristen sebagai suatu keseluruhan belum cukup
terbuka pada dunia ilmu pengetahuan dan menyokongnya, serta cenderung menarik
keuntungan dari ekspansi Eropa itu tanpa bersikap cukup kritis atas sifat
ketidakmanusiawiannya.
Dengan
berubahnya kekristenan menjadi agama dari kekaisaran Romawi dan kemudian Barat
pada umumnya, Injil Yesus Kristus menjadi sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai,
aspirasi-aspirasi, dan kepentingan-kepentingan orang-orang Eropa. Terjadi suatu
sinkretisme antara pesan injili dengan kepentingan-kepentingan sekular dari
bangsa-bangsa dan kekuasaan-kekuasaan itu. Ekspansi geografis Kekristenan
terkait dengan kemenangan militer kekuasaa-kekuasaan Barat, dan sebaliknya.
Pemahaman mengenai gereja, misinya, dan peranya dalam masyarakat disesuaikan
dengan hubungan-hubungan tersebut.[1]
Umat
kristen pada zaman bapa-bapa gereja dan abad pertengahan pada umumnya menerima
dasar struktur sosial masyarakat mereka. Potensi transformasi sosial radikal
yang termuat dalam alkitab dan teladan Yesus tidak pernah dieksploitasi secara
penuh. Praktik umat kristen tradisional dalam periode bapa-bapa gereja dan abad
pertengahan berupaya untuk meringankan penderitaan orang-orang miskin, sakit
dan tertindas, namun hanya sedikit pemikiran untuk mengubah struktur masyarakat
itu sendiri guna menghilangkan penyebab terdalam kemiskinan dan kesenjangan
sosial.
Kitab
suci telah meninggalkan warisan ambigu kepada gereja, dan tradisi Katolik abad
pertengahan telah mengikuti kedua sisi warisan itu. Pada satu pihak, penggunaan
kekerasan suci secara eksplisit dikuduskan oleh para paus, uskup dan para
anggota inkuisisi. Pola-pola penyingkiran, pengkambinghitaman dan penganiayaan
telah mendominasi hubunangan antara umat kristen dan umat Yahudi selama
berabad-abad. Pada pihak lain, kenangan terhadap Kasih Yesus yang tanpa
kekerasan yang merangkul semua orang tidak pernah punah, seperti disaksikan
oleh teladan Frransiskus asisi dan orang-orang lain yang telah meninggalkan
senjata militer untuk mencari bentuk-bentuk pelayanan kristen yang tanpa
kekerasan.[2]
Pada abad
ke-11 adalah zaman pergerakan baru. Ada usaha menghidupkan kembali monastisisme
kehidupan di biara. Suatu kepausan regormasi membersihkan gereja dari korupsi
dan menghidupkan kembali keilmuan. Para teolog dihadapkan pada masalah hubungan iman (teolog) dengan rasio
(Filsafat). Seorang penulis modern mengatakan, usaha mencaru keharmonisan
antara rasio dan iman adalah daya penggerak di balik pemikiran kristen abad
pertengahan. Dampak filsafat mengakibatkan adanya pendekatan baru terhadap
teologi, yaitu teologi skolastik atau skolastisisme. Teologi mulai dipelajari
di luar biara, di universitas dan lingkungan duniawi lainnya. Sasarannya ialah
pengetahuan intelektual yang objektif. Cara pendekatannya dengan
mempertanyakan, menurut logika, merenungkan dan mediskusikan. Bagi seorang
teolog, lebih penting menjadi filsuf yang tangkas daripada manusia yang saleh.
Teologi telah menjadi ilmu yang objektif dan tak terikat. Pendekatan ini tidak
menghentikan pendekatan monastik, tetapi ia menggesernya dari tempat terdepan
di bidang teologi.
Dampak
filsafat terhadap teologi dimulai pada abad ke-11 ketika munculnya rasio
(filsafat) sebagai metode yang dipakai untuk mendalami teologi. Anselmus
menggunakan metode ini untuk menunjukkan sifat rasional dari doktrin Kristen. Rasio
telah menyusup ke dalam teologi bukan (belum) sebagai cara untuk merumuskan
doktrin kristen (yang berdasarkan penyataan), melainkan sebagai teknik untuk
membela dan untuk lebih memahami iman kristen. Pada abad berikutnya peranan
rasio atau akal lebih dikembangkan. Ahli-ahli hukum menggunakannya untuk
mengambil keputusan dalam perselisihan antar-penguasa.[3]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar