Selasa, 25 Juli 2023

Mechtild Magdeburg: Wendy Farley

Mechthild Magdeburg (1208-1282 atau 1294) tinggal dalam waktu kreativitas budaya besar dan konflik. Satu teks nya, 779: Mengalir Cahaya Ketuhanan, adalah diterjemahkan dari bahasa sehari-hari Low German Tengah tidak lama setelah kematiannya dalam Latin dan tinggi Jerman Tengah, tetapi hampir menghilang dari pandangan segera setelah itu. Pemulihan teks nya untuk pembaca yang lebih umum memungkinkan kita untuk menemukan kembali seorang teolog yang kreatif saat ia bertemu paradoks dari ecclesia berjuang dengan kemungkinan dan godaan kekayaan, kekuasaan politik, perang, inovasi, dan perbedaan pendapat. Sedikit yang diketahui tentang Mechthild, di luar apa yang mungkin disimpulkan dari tulisan-tulisannya. Secara umum, ia diduga berasal dari keluarga yang cukup kaya, karena dia bisa membaca dan menulis dan Familiar dengan puisi cinta sopan dan citra. Dia pertama "disambut" oleh Allah pada dua belas dan sebagai orang dewasa muda pindah ke Magdeburg di mana dia hidup sebagai seorang Beguine. Pada sekitar 1250 dia bersama dengan pengakuan dia, Dominika Friar, penjelasan tentang kekayaan yang luar biasa dari dirinya kontemplatif ' praktek. Dia bersikeras bahwa dia menuliskan pengalamannya, yang ia lakukan di seri dari tujuh buku selama beberapa dekade. Tahun-tahun terakhir hidupnya dihabiskan di biara Cistercian di Helfta, yang biarawati kredit berkembangnya mereka sendiri hidup kontemplatif untuk kehadirannya di antara mereka. "Di luar indikasi dalam tulisan-tulisannya bahwa dia adalah konflik sakit-sakitan dan berpengalaman dengan ulama, alasan sebenarnya Untuk dia pindah ke biara tidak mungkin tahu. Mechthild dalam banyak hal orang luar struktur kekuasaan kelembagaan. Dia berjanji dirinya untuk hidup miskin dan kekurangan dirinya untuk sebagian besar hidupnya dari dukungan dari keluarga atau perintah monastik. Tapi berhenti sejenak untuk mengidentifikasi beberapa Fitur gerejawi dan otoritas sekuler yang berbentuk dunianya dapat membantu kita untuk menafsirkan tulisan-tulisannya dan mereka signifikansi bagi kita.

Tanggapan

Banyak orang Kristen merasa prihatin atas munculnya ketidakadilan dalam tatanan dunia dan sangat tertarik pada ilmu pengetahuan dan kecenderungan humanistis di Eropa. Namun, gereja-gereja Kristen sebagai suatu keseluruhan belum cukup terbuka pada dunia ilmu pengetahuan dan menyokongnya, serta cenderung menarik keuntungan dari ekspansi Eropa itu tanpa bersikap cukup kritis atas sifat ketidakmanusiawiannya.

Dengan berubahnya kekristenan menjadi agama dari kekaisaran Romawi dan kemudian Barat pada umumnya, Injil Yesus Kristus menjadi sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai, aspirasi-aspirasi, dan kepentingan-kepentingan orang-orang Eropa. Terjadi suatu sinkretisme antara pesan injili dengan kepentingan-kepentingan sekular dari bangsa-bangsa dan kekuasaan-kekuasaan itu. Ekspansi geografis Kekristenan terkait dengan kemenangan militer kekuasaa-kekuasaan Barat, dan sebaliknya. Pemahaman mengenai gereja, misinya, dan peranya dalam masyarakat disesuaikan dengan  hubungan-hubungan tersebut.[1]

Umat kristen pada zaman bapa-bapa gereja dan abad pertengahan pada umumnya menerima dasar struktur sosial masyarakat mereka. Potensi transformasi sosial radikal yang termuat dalam alkitab dan teladan Yesus tidak pernah dieksploitasi secara penuh. Praktik umat kristen tradisional dalam periode bapa-bapa gereja dan abad pertengahan berupaya untuk meringankan penderitaan orang-orang miskin, sakit dan tertindas, namun hanya sedikit pemikiran untuk mengubah struktur masyarakat itu sendiri guna menghilangkan penyebab terdalam kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Kitab suci telah meninggalkan warisan ambigu kepada gereja, dan tradisi Katolik abad pertengahan telah mengikuti kedua sisi warisan itu. Pada satu pihak, penggunaan kekerasan suci secara eksplisit dikuduskan oleh para paus, uskup dan para anggota inkuisisi. Pola-pola penyingkiran, pengkambinghitaman dan penganiayaan telah mendominasi hubunangan antara umat kristen dan umat Yahudi selama berabad-abad. Pada pihak lain, kenangan terhadap Kasih Yesus yang tanpa kekerasan yang merangkul semua orang tidak pernah punah, seperti disaksikan oleh teladan Frransiskus asisi dan orang-orang lain yang telah meninggalkan senjata militer untuk mencari bentuk-bentuk pelayanan kristen yang tanpa kekerasan.[2]

Pada abad ke-11 adalah zaman pergerakan baru. Ada usaha menghidupkan kembali monastisisme kehidupan di biara. Suatu kepausan regormasi membersihkan gereja dari korupsi dan menghidupkan kembali keilmuan. Para teolog dihadapkan pada  masalah hubungan iman (teolog) dengan rasio (Filsafat). Seorang penulis modern mengatakan, usaha mencaru keharmonisan antara rasio dan iman adalah daya penggerak di balik pemikiran kristen abad pertengahan. Dampak filsafat mengakibatkan adanya pendekatan baru terhadap teologi, yaitu teologi skolastik atau skolastisisme. Teologi mulai dipelajari di luar biara, di universitas dan lingkungan duniawi lainnya. Sasarannya ialah pengetahuan intelektual yang objektif. Cara pendekatannya dengan mempertanyakan, menurut logika, merenungkan dan mediskusikan. Bagi seorang teolog, lebih penting menjadi filsuf yang tangkas daripada manusia yang saleh. Teologi telah menjadi ilmu yang objektif dan tak terikat. Pendekatan ini tidak menghentikan pendekatan monastik, tetapi ia menggesernya dari tempat terdepan di bidang teologi.

Dampak filsafat terhadap teologi dimulai pada abad ke-11 ketika munculnya rasio (filsafat) sebagai metode yang dipakai untuk mendalami teologi. Anselmus menggunakan metode ini untuk menunjukkan sifat rasional dari doktrin Kristen. Rasio telah menyusup ke dalam teologi bukan (belum) sebagai cara untuk merumuskan doktrin kristen (yang berdasarkan penyataan), melainkan sebagai teknik untuk membela dan untuk lebih memahami iman kristen. Pada abad berikutnya peranan rasio atau akal lebih dikembangkan. Ahli-ahli hukum menggunakannya untuk mengambil keputusan dalam perselisihan antar-penguasa.[3]



[1] Tissa Balasuriya, Teologi Siarah, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2004, hlm. 133-134

[2] Leo D. Lefebure, Penyataan Allah, Agama, dan Kekerasan, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2006, hlm. 192-193

[3] Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2012, hlm. 74-74

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...