I. PENDAHULUAN
Persoalan
agama adalah realiti yang tak terelakkan dalam kehidupan sehari-hari. Agama
telah memasuki segala tingkat sosial masyarakat dalam berbagai bentuk.
Perbedaan bentuk ini tidak lepas dari cara memandang dan menafsirkan agama
sebagai ajaran yang normatif, sehingga menimbulkan implikasi terhadap sikap
sosial, pilitik, dan kebudayaan.
Robert N. Bellah adalah sosiolog dari Amerika, dia lahir pada 23 februari 1927 di Altus. Dia dibesarkan dalam lingkungan yang religius sehingga ia tumbuh menjadi seorang anak yang aktif dalam Sekolah Minggu. Pada tahun 1950 ia berhasil menamatkan pendidikan sarjananya di universitas Harvard, disana ia belajar banyak dari Talcott Parsons dosennya yang memprkenalkan kepada Bellah mengenai karya Max Weber dan Emile Durkheim, sehingga pada akhirnya ia berkomitmen untuk memiliki pendekatan sosiologi yang netral.
II.
ISI
a.
Skema
Evolusi Agama
Skema Evolusi Agama terbentuk berdasarkan beberapa asumsi dan asumsi pertama yang juga paling mendasar adalah mengenai simbolisasi agama yang disebut oleh Clifford Geertz (1963) sebagai keteraturan umum dari keberadaan cenderung mengalami perubahan sepanjang waktu, setidak-tidaknya dalam hal-hal tertentu seperti lebih berdiferensiasi, mendalam, dan rasional. Asumsi yang kedua adalah konsepsi-konsepsi seperti tindakan, sifat pelaku, organisasi dan tempat keagamaan dalam masyarakat cenderung berubah dengan cara yang sistematis menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada simbolisasi tadi. Asumsi yang ketiga adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam konteks agama ini berkaitan dengan berbagai perubahan yang terjadi pada dimensi laindalam konteks sosial yang menjelaskan proses umum evolusi sosial budaya.
b.
Tahap-tahp
evolusi agama
Robert
N Bellah menganalisis agama berdasarkan pemikiran evolusionisme. Ia beramsumsi
sekurang-kurangnya ada lima tahapan yang dapat digunakan dalam memudahkan untuk
menganalisa agama-agama di dunia. Adapun kelima tahap tersebut ialah sebagai
berikut:
-
Agama Primitif
:
Agama Primitif adalah agama yang terisi dengan mitos makhluk spiritual. Agama
primitif memberikan penekanan yang besar atas ritual, dan bahwa dalam pelaksanaan
ritual dan partisipan diidentifikasi dengan makhluk-makhluk mitos yang mereka wakili. Agama primitif dikenal
tidak memiliki spesialisasi; tidak ada padri, tidak ada jemaat dan tidak ada
penonton. Agama dan masyarakat terbaur menjadi satu
-
Agama Arkaik
:
Agama Arkaik meliputi sistem-sistem agama Afrika, Polinesia, beberapa agama di
dunia baru, dan sistem-sistem agama tahap permulaan dari Timur Tengah kuno,
India, dan Cina. Gambaran khas agama arkaik adalah munculnya cult murni dengan
sejumlah dewa, pendeta, persembahan, kurban, dan beberapa kasus kerajaan para
ahli agama. Agama Arkaik pada umumnya dijumpai dalam masyarakat-masyarakat yang
mempunyai sistem stratifiksai.
-
Agama Historis
:
Agama historis adalah agama-agama besar dunia yang timbul pada suatu saat
selama atau sesudah masa seribu tahun pertama sebelum kristus. Agama Historis
dihubungkan dengan lahirnya kolektif-kolektif keagamaan yang berdiferensiasi
sebagai ciri utama organisasi keagamaannya. Tujuan utama agama historis adalah
keselamatan, hal itu merupakan tindakan yang paling religius. Ciri pokok adalah
dunia lain mereka. Penolakan mereka terhadap nilai dunia sekuler dan penetapan
suatu dunia eksistensi yang lain yang adalah superior dalam nilai terhadap
dunia sekuler.
-
Agama Pra Modern : Karakteristik
Agama Pra Modern adalah lenyapnya hirarkis yang menstrukturkan dunia dan
akhirat. Dualisme agama sejarah tetap menjadi gambaran agama pra modern tetapi
memiliki makna yang baru dalam konteks konfrontasi yang lebih langsung antara
kedua dunia itu. Tindakan keagamaan pada tingkat pra modern ini dikonsepsikan
sebagai identitas keseluruhan segi kehidupan. Agama pra modern ini timbul
dengan adanya reformasi Protestan. Agama ini meneruskan pembedaan yang
dilakukan agama-agama historis diantara dunia sekuler dan dunia baru, adapun
perhatiannya yang kuat pada keselamatan, tetapi mengubah cara keselamatan itu.
Agama pra modern menolak tema penolakan dunia agama-agama historis.
- Agama Modern : gambaran pokok dari perubahan yang terjadi pada face modern ini adalah rusaknya dualisme yang begitu penting dalam semua agama historis. Membicarakan sistem simbol agama modern adalah sulit dan memerlukan analisa yang mendalam. Namun pada tingkat pemikirannya, Bellah berusaha menelusuri dan menjelaskan proses melunturnya dasar-dasar simbolik lama dengan menggunakn pendekatan etika rasional Kant. Namun yan g dimaksud disini tidak berarti manusia pada fase ini adalah sekuler atau tidak beragama. Tetapi yang dimaksud oleh Bellah disini adalah bahwa simbolisasi keagamaan tradisional tetap dipertahankan dan berkembang ke arah yang baru sehingga manusia semakin menyadari simbolisasi itu sendiri dan harus bertanggung jawab atas simbolisme yang diwujudkannya tersebut.
III.
KESIMPULAN
Dari data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa evolusi agama didasarkan pada proposisi bahwa setiap tahap kebebasan pribadi dan masyarakat meningkatkan relatif terhadap kondisi-kondisi yang melingkunginya. Kebebasan meningkat karena pada setiap tahap hubungan manusia dengan kondisi-kondisi keberadaannya dianggap lebih kompleks, lebih terbuka, dan lebih cenderung berubah dan berkembang. Skema evolusi agama juga memberikan pengaruh terhadap hampir setiap pokok suatu teori umum mengenai evolusi sosial, yang untuk sebagian besar tetap tersirat saja. Skema evolusi ini dapat membantu menjelaskan fakta-fakta mengenai peneriman dan penolakan dunia yang kita bicarakan terdahulu. Walaupun dikenal sebagai ahli sosiologi agama, tetapi Bellah tidak mengenyampingkan disiplin-disiplin lain dalam memotret agama sebagai problem kemanusiaan. Maka dari itu tidak jarang ia menggunakan bidang-bidang kajian lain untuk mengkayakan pengungkapan persoalan religius dengan psikologi, antropologi serta falsafah sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar