Selasa, 25 Juli 2023

TEOLOGI KEWIRAUSAHAAN: Konsep dan Praktek bisnis Gereja Kristen Protestan di Bali Oleh: Made Gunaraksawati Mantra-ten Veen

Data

Pada tahun 1962 “Gereja Kristen Protestan Bali” diubah menjadi “Gereja Kristen Protestan di Bali’ dengan singkatan GKPB. Keterlibatan Gereja Bali dalam kegiatan ekonomi sejak tahun 1972 dilatarbelakangi persoalan kemiskinan yang dihadapi oleh sebagian besar warga jemaat dan gereja sendiri. Sebagai gereja yang baru berdiri dan jemaatnya miskin, Gereja Bali tidak mampu membiayai seluruh biaya oprasiaonal dan gaji para pendetanya sehingga hidupnya serba berkekurangan. Jemaat juga mengalami kesulitan ekonomi dan umumnya berprofesi sebagai petani dan pekerja kasar. Peralihan menjadi agama Kristen membuat mereka kehilangan harta benda, warisan dan dikucilkan masyarakat. Kondisi inilah yang menyebabkan Gereja Bali pada sidang sinode mengabil keputusan untuk terlibat dalam kegitan ekonomi dengan cara mengupayakan kemandirian dana, baik dalam teologi maupun praktek, yang juga akan berdampak terhadap kemandirian dalam teologi dan daya, serta mengangkat martabat orang Kristen sebagai orang percaya yang diberkati Tuhan dan memberkati orang lain. Sejak tahun 1994 Gereja Bali secara bertahap berhasil mencapai kemandirian dana untuk menggaji semua pendetanya, dan meningkatkan perekonomian jemaatnya dengan mampu mendirikan atau merenovasi gereja dengan unsur arsitektur bercorak tradisional Bali.

 Teologi ekonomi Gereja Bali tidak menganut paham dikotomistik jasmani-rohani, sorgawi-duniawi, gereja suci-bisnis kotor. Berbicara mengenai hubungan antara gereja dan bisnis, warga gereja dilihat sebagi sumber dana bagi persembahan di gereja dan berguna untuk mendukung pelayanan-pelayanan gereja. Citra bisnis sebenarnya mulai merosot pada perdagangan masa dulu, dimana mereka akan melakukan perbuatan yang salah atau kotor untuk mendapatkan untung yang sebesar-besarnya tanpa memperdulikan kerugian pada konsumen. Dan di masa kini, perbuatan yang demikian juga masih sering kita jumpai. Hingga pelayanan masyarakat juga sudah sering dibisniskan. Namun pada hakikatnya kotor tidaknya bisnis itu tergantung bagaimana orang memandang dan bersikap terhadap bisnis itu. Bisnis menjadi kotor bila orang berperilaku tamak dan tidak bertanggung jawab dalam melakukan kegiatan bisnisnya. Dan di dalam buku ini ada  beberapa ahli yang berpendapat tentang bagaimana bisnis dan gereja, tetapi saya hanya menjelaskan satu ahli saja yaitu menurut Sedgwick, teologi kewirausahaan itu bukan hanya untuk menjadikan manusia menjadi kaya, melainkan untuk menciptakan hubungan yang baik Tuhan dengan manusia. Hal ini boleh tercapai dengan menyelaraskan dua atribut tradisi Kristen yaitu, “teologi Protestan” yang berdasarkan iman dan “etika sosial Kristen” yang melayani satu sama lain demi kesejahteraan bersama.

 Dari penelitian, wacana yang dikemukakan oleh tokoh para pengurus Gereja Bali maupun agenda program kerja, ditemukan bahwa dalam teologi ekonomi Gereja Bali sudah terumuskan teologi kerja berupa nilai-nilai kerja Kerajaan Allah atau ciptaan baru. Demikian pula teologi berkat Mastra, khususnya teologi “Pohon Mangga” yang memaparkan tiga tujuan dari berbuah, yaitu menjadi saksi, menjadi berkat, dan menjadi benih baru. Mastra memadukan berkat dan mengahasilkan buah, untuk memberikan pengertian yang utuh bagi orang Kristen selaku orang yang terpilih dalam Kristus dan yang hidup baru bersama Kristus dalam masyarakat dan serentak dengan kesejahteraan sesamanya. 

Tanggapan :

Teologi ekonomi Gereja Bali telah membangun paradigma untuk pembenaran keterlibatan gereja dalam pelayanan dibidang ekonomi maupun pemilikan bisnis oleh gereja, dan penerapan praktek peneguhkan paradigma yang dianut. Oleh karena itu para teolog baik itu pendeta maupun jemaat dilibatkan secara bersama-sama menjalin teologi terkait ekonomi secara kreatif. Pandangan Mastra juga sangat jelas dituliskan di dalam buku ini mulai dari konteks Bali dan juga kepada kontek Indonesia itu sendiri. Dan Mastra menekankan peran konteks di Indonesia itu dengan mengembangkan perekonomian dengan memafaatkan sumber daya lokal yang tersedia. Gereja akan menjadi subyek berarti gereja akan menjadi berkat, saksi, garam, dan ragi. Seperti janji Tuhan kepada Abaraham didalam Kejadian 12: 2. Gereja yang dipanggil Allah untuk menjadi umat Allah, harus berperan bukan sebagai objek atau pelengkap penyerta atau pelengkap penderita bagi kemiskinan yang terjadi di negara ini.  Melalui konteks Gereja Bali ini Gereja-gereja di Indonesia pada umumnya tergantung pada luar harus berani keluar dan berusaha mandiri dan memanfaatkan sumber daya lokal yang ada maka kita akan lepas dari belenggu kemiskinan dan menuju hidup yang lebih sejahtera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...