Data
Pada tahun 1962
“Gereja Kristen Protestan Bali” diubah menjadi “Gereja Kristen Protestan di
Bali’ dengan singkatan GKPB. Keterlibatan Gereja Bali dalam kegiatan ekonomi sejak
tahun 1972 dilatarbelakangi persoalan kemiskinan yang dihadapi oleh sebagian
besar warga jemaat dan gereja sendiri. Sebagai gereja yang baru berdiri dan
jemaatnya miskin, Gereja Bali tidak mampu membiayai seluruh biaya oprasiaonal
dan gaji para pendetanya sehingga hidupnya serba berkekurangan. Jemaat juga
mengalami kesulitan ekonomi dan umumnya berprofesi sebagai petani dan pekerja
kasar. Peralihan menjadi agama Kristen membuat mereka kehilangan harta benda, warisan dan dikucilkan masyarakat. Kondisi inilah yang menyebabkan
Gereja Bali pada sidang sinode mengabil keputusan untuk terlibat dalam kegitan
ekonomi dengan cara mengupayakan kemandirian dana, baik dalam teologi maupun
praktek, yang juga akan berdampak terhadap kemandirian dalam teologi dan daya,
serta mengangkat martabat orang Kristen sebagai orang percaya yang diberkati
Tuhan dan memberkati orang lain. Sejak tahun 1994 Gereja Bali secara bertahap
berhasil mencapai kemandirian dana untuk menggaji semua pendetanya, dan
meningkatkan perekonomian jemaatnya dengan mampu mendirikan atau merenovasi
gereja dengan unsur arsitektur bercorak tradisional Bali.
Tanggapan :
Teologi ekonomi Gereja Bali telah membangun paradigma
untuk pembenaran keterlibatan gereja dalam pelayanan dibidang ekonomi maupun
pemilikan bisnis oleh gereja, dan penerapan praktek peneguhkan paradigma yang
dianut. Oleh karena itu para teolog baik itu pendeta maupun jemaat dilibatkan
secara bersama-sama menjalin teologi terkait ekonomi secara kreatif. Pandangan
Mastra juga sangat jelas dituliskan di dalam buku ini mulai dari konteks Bali
dan juga kepada kontek Indonesia itu sendiri. Dan Mastra menekankan peran
konteks di Indonesia itu dengan mengembangkan perekonomian dengan memafaatkan
sumber daya lokal yang tersedia. Gereja akan menjadi subyek berarti gereja akan
menjadi berkat, saksi, garam, dan ragi. Seperti janji Tuhan kepada Abaraham
didalam Kejadian 12: 2. Gereja yang dipanggil Allah untuk menjadi umat Allah,
harus berperan bukan sebagai objek atau pelengkap penyerta atau pelengkap
penderita bagi kemiskinan yang terjadi di negara ini. Melalui konteks Gereja Bali ini Gereja-gereja
di Indonesia pada umumnya tergantung pada luar harus berani keluar dan berusaha
mandiri dan memanfaatkan sumber daya lokal yang ada maka kita akan lepas dari
belenggu kemiskinan dan menuju hidup yang lebih sejahtera.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar