Rabu, 12 Juli 2023

Diakonia Lintas Iman ( Rancang Bangun Studi Teologi)

1. Pemaparan

Bagaimana diakonia itu?

Diakonia sesungguhnya tidak terbelenggu oleh suatu istitusi ataupun hal  lainnya. Diakonia juga harus dipahami sebagai sesuatu yang ekstrovert yang memikirkan juga orang lain yang dalam kondisi yang tanpa batas. Stimulasi pertumbuhan diakonia sesungguhnya sangat penting, sehingga peran dari agama itu juga merupakan bagian yang penting.  Agama punya 3 fondasi dasar yang membuatnya utuh dan teruji dengan baik dan benar dalam koridor yang terukur dengan baik pula.  
adapun beberapa diantaranya adalah:

1. keyakinan
                keyakinan itu harus menjadi bagian yang sentral dan membuat seseorang semakin mengerti atas apa yang ia pahami. Keyakinan merupakan simpul yang dapat memahami hal-hal lain dan oleh karena keyakinanlah seseorang bisa melakukan sesuatu. Keyakinan itulah yang pertama. Keyakinan itu kemudian menjadi jalan pembawa kedalam pengetahuan.

2. pengetahuan

                Segala sisi bisa di trobos dengan adanya pengetahuan. Dimana saja dengan cara apa saja dengan memiliki pengetahuan maka ini menggiring kedalam praktek yang baik. Dalam praktek ini akan ada pengalaman yang akan menjadikan sesuatu itu menjadi lebih besar. Pengalaman atas sesuatu itu juga akan menjadi kekuatan. Pengalaman ini juga akan menggiring kedalam militansi beragama, dan ini membuat menjadi kuat. Hal ini bersinergi dengan semuanya.

3. praktek

                Praktek ini tidak bisa berdisi sendiri. Ini ditopang oleh berbagai bagian dari keyakinan dan pengalamannya.

 

Dunia sebagai Corpus Mixtum

                Dunia merupakan sebuah campuran yang merupakan ladang bagi kita untuk bereaksi dan perpraktek. Dalam hal inilah gereja juga mengambil peran di dalamnya. Dalam hal ini gereja harus dilihat sebagai sekolah kebenaran dan persekutuan dalam rahasia kebenaran. Dalam hal ini maka gereja akan  mencapai ini dengan 3 tahapan:

1. Eksternalisasi

                Usaha manusia menuangkan kemanusiaanya kedalam dunia sehingga dunia itu menjadi Nampak sebagai dunia manusia.

2. objektifitas

                Usaha untuk menjadikan dunia untuk tidak asing lagi bagi manusia. Dalam hal inilah tugas diakonia mengimplimentasikan segala hal itu dalam dunianya.

3. internalisasi

                Usaha mencerna kembali menjadi bagian dari subjektif kesadaran.

Oleh karena itu
                1. Teologi bukanlah sebagai dogma-dogma yang abstak, melainkan sistematisasi sikap serta peristiwa kongkrit dan kontekstualisasi.

                2. perubahan tidak di lihat sebagai peralihan dari potensia ke actus. Hal inilah menjadi tugas menjadikan harapan menjadi pemenuhan. Harapan itu harus di wujudnyatakan dengan tindakan yang real. Teologia diakonia menjadi ikut serta sehingga diakonia itu menjadi nyata. Keikutsertaan menjadi salah satu masukan untuk mewujudkan teologia diakonia tersebut.  Seorang ahli teologi memperkenalkan gagasan tentang kristus yang kosmis. Dengan mengacu kepada  anakefaleosis  ( mempersatukan di bawah satu kepala). Hal ini menekankan bahwa kesatuan di bawah satu kepala yang baru yaitu Tuhan yang kosmis.

                Cara keberagamaan merupakan cara yang seharusnya melengkapi apa yang kita pahami. Apabila ini tidak bisa dijalankan maka ini akan menggiring kepada kurangnya pemahaman yang kompleks akan ajaran dan menimbulkan fanatisme.

                Tuhan sesungguhnya memiliki adikodrati dalam kasih karunia. Kasih karunia itu di berikan di dalam kristus. Maka bisa di pahami kasih  karunia itu adalah kristus sendiri. Dari hal ini maka kristus sendiri tidak di batasi oleh siapapun dan tidak terikat oleh apapun. Sehingga orang yang menghalangi orang lain datang kepada kristus maka ia sudah mencoba mengatasi kristus, dan inilah kesalahan yang fatal. Kita harus memegang teguh iman dan kepercayaan kita namun tidak menghalangi orang lain untuk datang kepada kristus.                

·         Teologi viatorum merupakan sebuah refleksi iman dengan pemahaman teologi yang menyertakan injil dalam perjalanannya melalui bangsa-bangsa dan zaman.

·         dalam teologi Kristen dikenal dengan istilah credenda  dan Agenda. Credenda mengacu kepada apa yang diimani dan dipercayai yang dapat diungkapkan melalui pengakuan iman dan agenda merupakan kelanjutannya dalam tindakan praktek.

·         Beragama berarti percaya kepada Tuhan yang sedang terus memperbaiki dunia sampai tujuan akhir, dimana Tuhan benar-benar menunjukkan hidup paripurna. Beragama bukanlah loncatan buta yang mengabaikan realitas yang kelihatan namun berjarak dekat dengan saling memberi dan saling terbuka, tanpa berusaha menyingkirkan sesama. Seseorang yang Bergama tidak hanya memahami kebenaran namun ia harus menjelaskan itu dengan baik dengan melihat realitas dan memperhatikan konteks dimana ia berasal.

·         Agama menjadi sesuatu yang rawan apabila ditempatkan di tempat yang tertutup. Oleh sebab itu dalam sejarah keselamatan itu kita harus melihat dinamika perjumpaan dengan Tuhan dengan tidak mengeneralisir dan harus terbuka.

·         Keberagamaan itu tidak boleh hidup dalam :

o   Keterasingan yang sempurna

o   Toleransi yang acuh tak acuh

o   Bertemu dan belajar untuk menolong sesama.

·         semua agama harus melakukan transformasi gaya hidup keagamaan dan keragaman dari otoritas simbolik-primordialistik kearah yang inklusif bagi terciptanya sikap yang terbuka, mampu dan mau berjarak dekat serta bersikap aspiratif terhadap keyakinan agama yang berbeda. Perjumpaan yang menghangatkan dengan melintasi agama dan budaya yang berbeda maka ini akan membawa warna baru dengan perkembangan yang baru dalam agama maupun budaya itu.

·         Sikap pengosongan diri ( epohe) itu merupakan sebuah tindakan dalam studi agama dengan mengedepankan keterbuakaan maka akan menjadi salah satu jalan yang baik.

 

  pendapat ahli

a. Arthur adam berpendapat bahwa akar dari konflik agama yang berawal dari standart tentang agamanya sendiri.

b.  agama pribadi seseorang itu dianggap sebagai sesuatu yang bersikap lengkap yang final sehingga tidak di perlukan kebenaran lain.

c.  satu-satunya jalan keselamatan, pencerahan dan pembebasan.

d. adanya teks-teks yang dianggap sebagai  pemberi kebencian yang menjad pegangan oleh beberapa kelompok untuk meniadakan kelompok lain.

 

 Allah menciptakan manusia dengan kekhususannya dengan tujuan untuk mengayakan satu dengan yang lainnya demi mewujudkan kesejahteraan bersama. Semua bangsa merupakan satu kesatuan yang dimulai dari adam-hawa seperti yang dikehendaki Allah yang dalam bingkai kesegambarannya.

Sesuai dengan tema maka hal ini menjadi sitesis dengan diakonia bertolak dari pemahaman bahwa:

·         perbuatan kita tidak melulu mencari kehidupan yang akan datang namun bergiat dalam kehidupan sehari-hari.

·         Tidak hanya berpusat pada diri sendiri namun beralih dengan memperhatikan orang lain.

·         Maka hal ini akan menjadi berwarna dengan bergerak dari pusat ke luar, dengan cakupan yang lebih luas lagi.

·         Tantangan gereja untuk bertumbuh bukanlah antara percaya dan tidak percaya, namun antara manusiawi dan tidak manusiawi.

·         Dimana kristus ada, disitu gereja hadir dan memberi dukungan.

·         Allah mengirim yang menderita sebagai penerima anugrahnya. Karena itu pemberian kepada orang yang menderita selalu bersifat ilahi dan kekal. Dengan inilah manusia yang memberi harus bersyukur dengan masih adanya kesempatan bagi dirinya untuk berbagi sesuai dengan pesan kristus.

 

Dalam diakonia ada 3 hal yang berlu di kembangkan :

1. diakui ( recognize)

2. dipakai ( utilized

3. dirayakan ( celebrated)

Keselamatan yang sudah diberikan itu harus dinyatakan, dirasakan dan dirayakan dengan membuat semua orang terlibat di dalamnya dengan pengembangan berbagai hal.

·         Semakin gereja berpihak kepada masyarakat, maka semakin banyak masyarakat berpihak pada gereja.

·         Iman mempersatukan, kepercayaan membedakan. Kesatuan di dalam iman, maka memunculkan perjumpaan yang semakin baik dan indah.

·         Perbedaan bukanlah ciptaan manusia namun itu adalah kehendak Allah.

·         Dengan memberi maka kita akan melihat kebahagiaan dan memperoleh kebahagiaan.

 

  landasan aksi diakonia

1. semua manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah ( kej. 1: 26, 5:2)

2. Tuhan menyatakan dirinya melalui kebajikan seperti menurunkan  hujan dan memberi musim, makanan dan minuman.

3. Tuhan memperhatikan dan meperdulikan, memberikan nafas supaya mereka mencari Allah walau Allah itu sesungguhnya tidak jauh dari manusia.

4. Tuhan memperhatikan manusia berdasarkan kasih karunia. Tuhan juga mengasihi semua manusia. Maka apabila seseorang yang berbeda agama maka ia harus melihat bahwa ia adalah orang yang sama dengan orang itu yang merasakan kasih Allah yang sama.

·         Bersikap toleran berarti mengikuti cara Allah dalam penyelenggaraan karyanya

·         Setiap orang akan menjadi segambar dan serupa dengan Allah dan akan hidup dengan memberlakukan kebajikan sama seperti yang dilakukan oleh Allah.

·         Kita akan mengenal kemanusiaan yang sempurna apabila kita mengampuni dan mengasihi orang lain.

·         Manusia yang segambar dan serupa dengan Allah sebaiknya mewujudkan kepedulian yang real.

·         Diakonia merupakan pengetahuan dan penyebarluasan pemahaman bahwa Allah adalah pusat kehidupan. Diakonia harus menempatkan pada posisi yang benar dihadapan sesama dan manusia

·         Diakonia adalah upaya merawat dunia

·         Diakonia adalah praktek

·         Orang yang memiliki kualitas iman akan membangun  sebuah jaringan dan komunitas serta relasi yang baik dengan yang lainnya.

·         Pekerjaan diakonia berbeda dengan pekerjaan hukum. Karena pekerjaan Hukum dilakukan untuk menyadarkan orang-orang. Pekerjaan kasih dilakukan untuk menolong sesama dengan memakai sumber yang dari Allah.

·         Jika iman tidak diikuti perbuatan maka iman itu mati.

Kesimpulan

Pelaya nan diakonia harus dibunyikan dan dipraktekkan sedalam dan seluas mungkin agar nyatalah kuasa Allah di muka bumi.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...