1. Pemaparan
Bagaimana diakonia itu?
Diakonia sesungguhnya tidak terbelenggu oleh suatu
istitusi ataupun hal lainnya. Diakonia
juga harus dipahami sebagai sesuatu yang ekstrovert yang memikirkan juga orang
lain yang dalam kondisi yang tanpa batas. Stimulasi pertumbuhan diakonia
sesungguhnya sangat penting, sehingga peran dari agama itu juga merupakan
bagian yang penting. Agama punya 3 fondasi
dasar yang membuatnya utuh dan teruji dengan baik dan benar dalam koridor yang
terukur dengan baik pula.
adapun beberapa diantaranya adalah:
1. keyakinan
keyakinan itu harus
menjadi bagian yang sentral dan membuat seseorang semakin mengerti atas apa
yang ia pahami. Keyakinan merupakan simpul yang dapat memahami hal-hal lain dan
oleh karena keyakinanlah seseorang bisa melakukan sesuatu. Keyakinan itulah
yang pertama. Keyakinan itu kemudian menjadi jalan pembawa kedalam pengetahuan.
2. pengetahuan
Segala sisi bisa di
trobos dengan adanya pengetahuan. Dimana saja dengan cara apa saja dengan
memiliki pengetahuan maka ini menggiring kedalam praktek yang baik. Dalam
praktek ini akan ada pengalaman yang akan menjadikan sesuatu itu menjadi lebih
besar. Pengalaman atas sesuatu itu juga akan menjadi kekuatan. Pengalaman ini
juga akan menggiring kedalam militansi beragama, dan ini membuat menjadi kuat. Hal ini bersinergi dengan semuanya.
3. praktek
Praktek ini tidak bisa
berdisi sendiri. Ini ditopang oleh berbagai bagian dari keyakinan dan
pengalamannya.
Dunia sebagai Corpus Mixtum
Dunia merupakan sebuah
campuran yang merupakan ladang bagi kita untuk bereaksi dan perpraktek. Dalam
hal inilah gereja juga mengambil peran di dalamnya. Dalam hal ini gereja harus
dilihat sebagai sekolah kebenaran dan persekutuan dalam rahasia kebenaran. Dalam
hal ini maka gereja akan mencapai ini
dengan 3 tahapan:
1. Eksternalisasi
Usaha manusia
menuangkan kemanusiaanya kedalam dunia sehingga dunia itu menjadi Nampak sebagai
dunia manusia.
2. objektifitas
Usaha untuk menjadikan
dunia untuk tidak asing lagi bagi manusia. Dalam hal inilah tugas diakonia
mengimplimentasikan segala hal itu dalam dunianya.
3. internalisasi
Usaha mencerna kembali
menjadi bagian dari subjektif kesadaran.
Oleh karena itu
1. Teologi bukanlah
sebagai dogma-dogma yang abstak, melainkan sistematisasi sikap serta peristiwa
kongkrit dan kontekstualisasi.
2. perubahan tidak di lihat sebagai peralihan
dari potensia ke actus. Hal inilah menjadi tugas menjadikan harapan menjadi
pemenuhan. Harapan itu harus di wujudnyatakan dengan tindakan yang real.
Teologia diakonia menjadi ikut serta sehingga diakonia itu menjadi nyata. Keikutsertaan
menjadi salah satu masukan untuk mewujudkan teologia diakonia tersebut. Seorang ahli teologi memperkenalkan gagasan
tentang kristus yang kosmis. Dengan mengacu kepada anakefaleosis ( mempersatukan di bawah satu kepala). Hal ini
menekankan bahwa kesatuan di bawah satu kepala yang baru yaitu Tuhan yang
kosmis.
Cara keberagamaan
merupakan cara yang seharusnya melengkapi apa yang kita pahami. Apabila ini
tidak bisa dijalankan maka ini akan menggiring kepada kurangnya pemahaman yang
kompleks akan ajaran dan menimbulkan fanatisme.
Tuhan sesungguhnya
memiliki adikodrati dalam kasih karunia. Kasih karunia itu di berikan di dalam kristus. Maka bisa di pahami kasih karunia itu adalah kristus sendiri. Dari hal
ini maka kristus sendiri tidak di batasi oleh siapapun dan tidak terikat oleh
apapun. Sehingga orang yang menghalangi orang lain datang kepada kristus maka
ia sudah mencoba mengatasi kristus, dan inilah kesalahan yang fatal. Kita harus
memegang teguh iman dan kepercayaan kita namun tidak menghalangi orang lain
untuk datang kepada kristus.
·
Teologi
viatorum merupakan sebuah refleksi iman dengan pemahaman teologi yang
menyertakan injil dalam perjalanannya melalui bangsa-bangsa dan zaman.
·
dalam
teologi Kristen dikenal dengan istilah credenda
dan Agenda. Credenda mengacu kepada apa yang diimani dan dipercayai
yang dapat diungkapkan melalui pengakuan iman dan agenda merupakan
kelanjutannya dalam tindakan praktek.
·
Beragama
berarti percaya kepada Tuhan yang sedang terus memperbaiki dunia sampai tujuan
akhir, dimana Tuhan benar-benar menunjukkan hidup paripurna. Beragama bukanlah
loncatan buta yang mengabaikan realitas yang kelihatan namun berjarak dekat
dengan saling memberi dan saling terbuka, tanpa berusaha menyingkirkan sesama. Seseorang
yang Bergama tidak hanya memahami kebenaran namun ia harus menjelaskan itu
dengan baik dengan melihat realitas dan memperhatikan konteks dimana ia
berasal.
·
Agama
menjadi sesuatu yang rawan apabila ditempatkan di tempat yang tertutup. Oleh
sebab itu dalam sejarah keselamatan itu kita harus melihat dinamika perjumpaan
dengan Tuhan dengan tidak mengeneralisir dan harus terbuka.
·
Keberagamaan
itu tidak boleh hidup dalam :
o
Keterasingan
yang sempurna
o
Toleransi
yang acuh tak acuh
o
Bertemu
dan belajar untuk menolong sesama.
·
semua
agama harus melakukan transformasi gaya hidup keagamaan dan keragaman dari otoritas
simbolik-primordialistik kearah yang inklusif bagi terciptanya sikap yang
terbuka, mampu dan mau berjarak dekat serta bersikap aspiratif terhadap
keyakinan agama yang berbeda. Perjumpaan yang menghangatkan dengan melintasi
agama dan budaya yang berbeda maka ini akan membawa warna baru dengan
perkembangan yang baru dalam agama maupun budaya itu.
·
Sikap
pengosongan diri ( epohe) itu merupakan sebuah tindakan dalam studi agama
dengan mengedepankan keterbuakaan maka akan menjadi salah satu jalan yang baik.
pendapat ahli
a. Arthur adam
berpendapat bahwa akar dari konflik agama yang berawal dari standart tentang
agamanya sendiri.
b. agama pribadi seseorang itu dianggap sebagai
sesuatu yang bersikap lengkap yang final sehingga tidak di perlukan kebenaran
lain.
c. satu-satunya jalan keselamatan, pencerahan dan
pembebasan.
d. adanya teks-teks
yang dianggap sebagai pemberi kebencian
yang menjad pegangan oleh beberapa kelompok untuk meniadakan kelompok lain.
Allah
menciptakan manusia dengan kekhususannya dengan tujuan untuk mengayakan satu
dengan yang lainnya demi mewujudkan kesejahteraan bersama. Semua bangsa
merupakan satu kesatuan yang dimulai dari adam-hawa seperti yang dikehendaki
Allah yang dalam bingkai kesegambarannya.
Sesuai dengan tema maka hal ini menjadi sitesis
dengan diakonia bertolak dari pemahaman bahwa:
·
perbuatan
kita tidak melulu mencari kehidupan yang akan datang namun bergiat dalam
kehidupan sehari-hari.
·
Tidak
hanya berpusat pada diri sendiri namun beralih dengan memperhatikan orang lain.
·
Maka
hal ini akan menjadi berwarna dengan bergerak dari pusat ke luar, dengan
cakupan yang lebih luas lagi.
·
Tantangan
gereja untuk bertumbuh bukanlah antara percaya dan tidak percaya, namun antara
manusiawi dan tidak manusiawi.
·
Dimana
kristus ada, disitu gereja hadir dan memberi dukungan.
·
Allah
mengirim yang menderita sebagai penerima anugrahnya. Karena itu pemberian
kepada orang yang menderita selalu bersifat ilahi dan kekal. Dengan inilah
manusia yang memberi harus bersyukur dengan masih adanya kesempatan bagi
dirinya untuk berbagi sesuai dengan pesan kristus.
Dalam diakonia ada 3 hal yang berlu di kembangkan :
1. diakui ( recognize)
2. dipakai ( utilized
3. dirayakan ( celebrated)
Keselamatan yang sudah diberikan itu harus dinyatakan,
dirasakan dan dirayakan dengan membuat semua orang terlibat di dalamnya dengan
pengembangan berbagai hal.
·
Semakin
gereja berpihak kepada masyarakat, maka semakin banyak masyarakat berpihak pada
gereja.
·
Iman
mempersatukan, kepercayaan membedakan. Kesatuan di dalam iman, maka memunculkan
perjumpaan yang semakin baik dan indah.
·
Perbedaan
bukanlah ciptaan manusia namun itu adalah kehendak Allah.
·
Dengan
memberi maka kita akan melihat kebahagiaan dan memperoleh kebahagiaan.
landasan
aksi diakonia
1. semua manusia diciptakan sesuai dengan
gambar dan rupa Allah ( kej. 1: 26, 5:2)
2. Tuhan menyatakan dirinya melalui kebajikan
seperti menurunkan hujan dan memberi
musim, makanan dan minuman.
3. Tuhan memperhatikan dan meperdulikan,
memberikan nafas supaya mereka mencari Allah walau Allah itu sesungguhnya tidak
jauh dari manusia.
4. Tuhan memperhatikan manusia berdasarkan kasih
karunia. Tuhan juga mengasihi semua manusia. Maka apabila seseorang yang
berbeda agama maka ia harus melihat bahwa ia adalah orang yang sama dengan
orang itu yang merasakan kasih Allah yang sama.
·
Bersikap
toleran berarti mengikuti cara Allah dalam penyelenggaraan karyanya
·
Setiap
orang akan menjadi segambar dan serupa dengan Allah dan akan hidup dengan
memberlakukan kebajikan sama seperti yang dilakukan oleh Allah.
·
Kita akan
mengenal kemanusiaan yang sempurna apabila kita mengampuni dan mengasihi orang
lain.
·
Manusia
yang segambar dan serupa dengan Allah sebaiknya mewujudkan kepedulian yang
real.
·
Diakonia
merupakan pengetahuan dan penyebarluasan pemahaman bahwa Allah adalah pusat
kehidupan. Diakonia harus menempatkan pada posisi yang benar dihadapan sesama
dan manusia
·
Diakonia
adalah upaya merawat dunia
·
Diakonia
adalah praktek
·
Orang yang
memiliki kualitas iman akan membangun sebuah jaringan dan komunitas serta relasi
yang baik dengan yang lainnya.
·
Pekerjaan
diakonia berbeda dengan pekerjaan hukum. Karena pekerjaan Hukum dilakukan untuk
menyadarkan orang-orang. Pekerjaan kasih dilakukan untuk menolong sesama dengan
memakai sumber yang dari Allah.
·
Jika
iman tidak diikuti perbuatan maka iman itu mati.
Kesimpulan
Pelaya nan diakonia harus dibunyikan dan
dipraktekkan sedalam dan seluas mungkin agar nyatalah kuasa Allah di muka bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar