Selasa, 25 Juli 2023

Persembahan Kurban dalam Keselamatan (Imamat 4:3 dan Ibrani 9:7&12)

I. Pendahuluan

Manusia adalah makhluk yang berdosa sejak kejatuhan manusia itu sendiri ke dalam dosa, maka baik manusia secara individu maupun manusia itu sendiri di tengah-tengah masyarakat memerlukan pertolongan untuk keselamatannya. Dalam mencapai keselamatan yang hendak dicapainya, manusia mencari dengan berbagai cara, baik itu dengan memberi kurban persembahan kepada yang dianggapnya mampu untuk memberi keselamatan bagi manusia. Seperti bangsa Israel yang memberikan kurban persembahan kepada Allah yang dianggapnya mampu memberi keselamatan bagi mereka. Kurban-kurban yang diberikan bangsa Israel pada waktu itu juga dipersembahkan dalam berbagai bentuk dan cara.

Dalam hal ini persembahan yang benar adalah persembahan yang dapat diwujudnyatakan dalam perbuatan manusia sehari-hari dalam melayni sesamanya manusia. Oleh karena itu, bagaimanakah persembahan yang benar yang dapat memberikan keselamatan kepada manusia. Hal inilah yang akan dibahas dalam sajian ini. Untuk mempermudah dalam memahami isi sajian ini, maka penyaji membuat sistematika sebagai berikut:

II. Terminologi Persembahan

Dalam kitab Perjanjian Lama kata persembahan digumakan dalam menunjuk kepada korban, sebab Perjanjian Lama tidak memiliki kata yang umum untuk korban, kecuali qorban yang artinya “yang dibawa mendekat”. Namun kata Isyeyeh mungkin secara umum memiliki arti kurban sesuai dengan hukum taurat, akan tetapi kata ini hanya terbatas kepada kurban dengan api (Imamat 24:9). Kata lain yang dipergunakan untuk menggambarkan mcam-macam korban tertentu dan dijabarkan dari bentuk korban yakni zavakh, korban yang disembelih, ola “korban bakaran yang membumbung ke atas. Dalam hal ini yang termasuk juga ke dalam qorban adalah korban bukan darah, korban sajian, buah sulung, adonan pesta minggu dan zakat.[1]  

Dalam kitab Perjanjian Lama pada umumnya persembahan tersebut dilakukan di kemah suci, karena bagi bangsa Israel pada waktu itu kemah suci merupakan suatu tempat yang kudus bagi bangsa itu sehingga bangsa Israel menjadikan kemah suci sebagai tempat untuk memberikan persembahan. Sedangkan dalam Perjanjian Baru kata persembahan yang digunakan adalah thusia (persembahan), doron (pemberian,hadiah, persembahan), prosfora (korban, pemberian, pengorbanan, persembahan, perbuatan). Selain itu persembahan juga menggambarkan korban bakaran (holokautoma), berdosa, mempersembahkan korban bakaran karena dosa (amartias).[2] Namun dari semua terminology ini kata amartias yang lebih sering dipakai dalam Perjanjian Baru dan inilah yang juga merupakan tema utama Perjanjian Baru. Perjanjian Baru. Thusia dalam Perjanjian Baru lebih cenderung didefinisikan sebagai suatu persembahan yang sah atau ditentukan dan juga tertulis dengan memperlihatkannya melalui tingkah laku atau perbuatan. Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuhnya kepada Allah, dan semua yang dikerjakan tubuhnya setiap hari.

Korban persembahan adalah sesuatu yang Allah karuniakan kepada manusia, yakni pemberian dari Allah bagi kebutuhan manusia. Allah yang punya kemampuan untuk menyelamatkan manusia dan manusia yang membutuhkan keselamatan bagi dirinya. Jadi bukan pemberian manusia kepada Allah, sebab bagaimana mungkin, manusia yang berdosa dan tidak berdaya mampu mempersembahkan kepada Allah yang kudus dan berkuasa? Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa. (Imamat 17:11)Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. (Wahyu 5:9)

Dari ayat-ayat di atas, dalam Imamat 17:11 dan juga di Wahyu 5:9, dapat ditemukan dua penjelasan mengenai makna darah dan kurban persembahan. Yaitu tentang konsep pendamaian, oleh karena ada penebusan, redemption dan konsep pengganti, substitution. Pertama, maksud dari darah itu ialah untuk mengadakan pendamaian. Sebab setiap kata yang diterjemahkan menjadi pendamaian adalah dimaksudkan sebagai membayar harga, suatu harga untuk penebusan. Upah dosa ialah maut. Orang yang berdosa tidak dapat menghadap Allah yang Maha Kudus. Dosa membuat orang terpisah dari Allah, dan pisah dari Allah berarti kematian. Tetapi bila harga tersebut, hukuman dan kematian, dibayar lunas melalui kematian dengan darah tercurah, maka terjadilah pendamaian, recontiliation, hubungan Allah dan manusia dipulihkan kembali.

Darah mengadakan pendamaian dengan menyediakan harga yang cukup untuk membayar lunas hutang dosa di hadapan Allah, suatu nilai penghukuman yang tersedia dan telah dilunasi oleh penghukuman oleh yang menanggungnya, yaitu Kristus yang menanggung hukuman manusia yang berdosa. Kedua, bahwa darah dapat menjadi perantara pendamaian dengan nyawa. Ulangan 19:21, menyatakan tentang “nyawa ganti nyawa”, artinya nyawa sebagai pembayaran atas nyawa. Darah berarti kematian, pemusnahan kehidupan atau nyawa. Dalam persembahan kurban nyawa dimusnahkan, darah yang tertumpah merupakan tanda telah diambilnya nyawa bagi pembayaran dosa-dosa orang yang bersalah dan bagi nyawanya yang telah ternoda oleh dosa. Persembahan hewan sebagai kurban menyatakan prinsip tersebut di atas dengan penggenapan sepenuhnya dalam kematian Tuhan Yesus Kristus.

III. Pemahaman Tekstual Kitab Imamat

1. Latar Belakang Kitab Imamat

            Dalam Bahasa Ibrani kitab Imamat disebut dengan Wayyiqra yang berarti “dan dia memanggil”, sebab hal ini sesuai dengan kebiasaan kuno yang lazim digunakan di Timur Dekat. Beik dalam terjemahan dulu maupun sekarang kitab Imamat ini selalu dihubungkan dengan Lewi. Dalam Septuaginta kitab Imamat dinamakan Levitikom. Memang dalam kitab ini disebutkan tentang orang Lewi, walaupun secara singkat, namun yang lebih diterangkan dalam kitab Imamat ini adalah tentang para Imam orang Israel, dan tugas serta tanggung jawab Imam tersebut.[3] Imamat termasuk ke dalam sumber P yang dikarang pada akhir zaman pembuangan atau sesudahnya yaitu pada akhir abad VI atau abad ke V. Akan tetapi Imamat 17-26 biasanya ditempatkan pada permulaan abad ke VI, karena sejiwa dengan kitab Yehezkiel.[4] Tema kitab Imamat adalah sebagai bangsa perjanjian, yaitu Israel harus hidup sebagai bangsa yang kudus dan suci. Oleh sebab itu dalam kitab Imamat ini juga diceritakan tentang persembahan-persembahan yang harus diberikan oleh umat Israel kepada Allah pada saat mereka telah melakukan dosa. Dengan memberikan persembahan terhadap Allah maka mereka diperdamaikan oleh Allah.

              Kitab Imamat dapat dibedakan dalam 6 bagian besar yaitu:[5]

·         Pasal 1-7 yaitu menjelaskan tentang korban-korban

·         Pasal 8-10 yaitu menerangkan penahbisan Harun dan anak-anaknya menjadi imam serta  

           kematian Nadab dan Abihu

·         Pasal 11-15 yaitu tentang menjaga kekudusan bangsa Israel

·         Pasal 16, yaitu kelanjutan dari pasal 8-10

·         Pasal 17-26 yaitu tentang hukum kesucian

·         Pasal 27, yaitu merupakan suatu pasal tambahan tentang mengabulkan kaul.

Bentuk dan isi kitab Imamat manunjuk kepada karya imam dalam mengajarkan hukum taurat kepada bangsa Israel, yang dimulai sejak keluarnya bangsa Israel dari penindasan Mesir yang dipimpin oleh Musa. Di Gunung Sinai, bangsa Israel menerima sepuluh Taurat, sebelum memasuki tanah perjanjian mempelajari cara-cara yang benar untuk menyembah Allah.[6]   Kitab Imamat adalah sumber utama untuk tatacara persembahan korban dalam Perjanjian Lama, termasuk bagaimana sikap yang seharusnya dalam memberi persembahan kepada Allah. Tiga persembahan korban pertama (korban bakaran, korban sajian dan korban keselamatan) serta dua persembahan korban terakhir (korban penghapus dosa dan korban penebus salah) menyangkut penebusan dari dosa. Hasilnya adalah pemindahan dosa, pemberian pengampunan, dan pemulihan hubungan antara orang berdosa dengan Allah. Darah adalah sarana untuk membersihkan dosa (Imamat 17:11). [DS]

Apakah makna korban keselamatan yang ditetapkan oleh Tuhan? Korban keselamatan adalah korban yang dipersembahkan secara sukarela. Korban ini merupakan ucapan syukur umat atas kebaikan Allah yang mau menghapus dosa dan bersekutu kembali dengan umat Israel. Korban ini menggambarkan penghargaan umat Allah atas pulihnya persekutuan umat Israel dengan Allah. Penghargaan tersebut nyata ketika umat Allah terdorong untuk bersekutu dengan Allah dengan memberikan korban keselamatan. Oleh karena itu, korban keselamatan dilakukan secara sukarela. Sekalipun demikian, sukarela bukan berarti sembarangan. Tuhan menetapkan apa yang harus dilakukan.

Makna ibadah yang sejati adalah persekutuan dengan Allah. Ibadah bukan sekadar sebuah aktivitas (kegiatan) membawa sesuatu bagi Tuhan, tetapi ibadah yang sejati adalah persekutuan kita dengan Allah. Tuhan Yesus sudah mengorbankan diri-Nya untuk memulihkan persekutuan antara manusia dengan Allah yang telah dirusak oleh dosa. Sudahkan kita menghargai pengorbanan Tuhan Yesus yang telah memungkinkan kita diperdamaikan dengan Allah? Penghargaan kita seharusnya bukan hanya dengan percaya serta menerima Kristus dan karya-Nya, namun juga melalui kerinduan kita untuk bersekutu dengan Tuhan secara sukarela, bukan karena paksaan.

Seluruh kisah tentang korban persembahan bagi Allah tercatat di Im 1-6 sebagai inti terpenting hingga Tuhan menegakkan peraturan ini dengan sangat ketat dan serius terutama jiwa, cara dan sikap manusia di hadapanNya ketika memberikan persembahan agar tidak mudah diselewengkan. Dari 5 macam korban di atas, penekanannya terletak pada 3 aspek global:

Pertama, Alkitab mengatakan bahwa persembahan merupakan gambaran keseriusan ketergantungan manusia kepada Tuhan. Ketika memberikan persembahan, orang Kristen seharusnya menyadari bahwa tak mungkin baginya untuk dapat menyelamatkan diri sendiri yang berdosa dari kebinasaan tanpa Tuhan membuka jalan keselamatan. Dengan demikian korban, persembahan dan dosa saling terkait erat.

Kedua, orang Kristen seharusnya menyadari ketergantungan mutlak kepada Tuhan. Di tengah dunia yang semakin rusak dan hancur, orang Kristen membutuhkan bijaksana, anugerah, belaskasihan dan berkat Tuhan. Tak seorang pun dapat bertahan hidup dengan kekuatannya sendiri karena terlalu banyak faktor kemungkinan yang berada di luar kemampuan, strategi, prediksi dan planning manusia. Seluruhnya dapat runtuh hanya dalam waktu beberapa menit. Lalu kebanyakan orang dunia berpikir untuk bunuh diri atau berubah menjadi gila karena kehilangan harapan hidup. Dari sudut pandang Kekristenan, orang dunia seharusnya segera bertobat karena hidupnya bersandar mutlak kepada Tuhan. Ketika sungguh-sungguh mengerti akan Tuhan yang beranugerah, itulah alasan pemberian persembahan.

Ketiga, ketika mulai hidup dalam korban, itulah saatnya manusia mengerti bahwa ini bukanlah sekedar persembahan melainkan sacrifice dengan adanya binatang terbaik yang dibinasakan. Konsep ini menjelaskan beberapa aspek:

(1)Tuhan tidak menghendaki barang sisa. Pdt. Stephen Tong seringkali merasa jengkel dan marah jika ada orang yang hendak masuk ke sekolah Teologi karena tidak diterima di universitas manapun atau jika sebuah keluarga yang memiliki 4 anak namun yang terbodoh dimasukkan ke sekolah Teologi sedangkan yang terpandai dimanfaatkan untuk mencari harta kekayaan. Seharusnya, anak terbaik dipersembahkan bagi kemuliaan Tuhan. Namun konsep ini dapat disalahgunakan seperti pada jaman Tuhan Yesus. Akibatnya, bait Allah dijadikan pasar untuk menjual binatang korban tak bercacat. Sedangkan binatang yang tidak dibeli di bait Allah dianggap tak sempurna.

(2)Memberi persembahan merupakan korban yang sangat serius di mana hidup si pemberi terkait di dalamnya. Banyak orang hidup dalam 2 ekstrim yang kadangkala tidak salah tetapi implikasinya dapat diselewengkan dan sangat berbahaya. Dalam Korintus diajarkan bahwa persembahan harus diberikan dengan sukarela. Maka jumlah persembahan menjadi sangat sedikit berdasarkan kerelaan hati. Dengan kata lain, tidak ada kerelaan untuk memberikan persembahan dalam jumlah besar. Lalu beberapa hamba Tuhan di Gereja tertentu merasa rugi dan mulai mengeluarkan konsep kedua yaitu persembahan adalah korban. Karena itu, jikalau persembahan tidak disertai dengan rasa sakit maka itu bukan persembahan sejati. Namun si penerima persembahan tidak merasa sakit. Padahal, Alkitab mengajarkan bahwa para imam besar yang juga berdosa justru harus mempersembahkan korban lebih dari persembahan jemaat dan disertai dengan perasaan sakit. Itulah teladan seorang hamba Tuhan.

 (3)Dalam persembahan terdapat kesadaran akan keberdosaan manusia. Di jaman Perjanjian Lama, setiap kali datang ke bait Allah, jemaat (kaya dan miskin) membawa korban persembahan. Akibatnya, timbullah jiwa ibadah dan pelayanan serta kesadaran bersama bahwa semua orang tidak sempurna. Kesadaran itu membuat Gereja dipakai Tuhan secara kompak dalam pekerjaanNya. Di dunia ini, banyak orang ingin dilayani tapi tidak bersedia melayani dengan baik. Banyak pula yang mau menerima tapi tidak bersedia memberikan yang terbaik karena merasa dirugikan. Padahal, sebelum memberi, ia telah mengalami kerugian karena konsep pemikirannya sudah rusak.

(4)Semua peraturan tentang korban tidak boleh disalahgunakan. Dalam Imamat dijelaskan bahwa tak semua korban boleh diambil oleh Imam sekeluarga atau si pemberi. Hanya korban keselamatan yang sebagian dapat dikembalikan dan dinikmati oleh pemiliknya. Selain itu, Tuhan tidak hanya menuntut jemaat untuk memikirkan tentang persembahan tapi juga menggumulkan pengelolaan dan pengembangannya secara bertanggung jawab. Karena itu, jemaat berhak memeriksa dan mempelajari keuangan Gereja. Maka diharapkan jemaat tidak mencantumkan sekedar NN ketika memberikan persembahan melainkan cukup dengan kode karena Alkitab memang mengajarkan bahwa orang lain tidak perlu mengetahuinya. Harus diingat bahwa Gereja adalah institusi yang Tuhan tegakkan sebagai manifestasi tubuh Kristus di tengah dunia. Jadi, yang berperan adalah setiap jemaat.

Kadang-kadang dikatakan bahwa kitab Imamat mengemukakan hukum-hukum upacara keagamaan Israel. Namun hal ini juga harus dipahami tentang makna dasar dari Tora yang artinya pengaharan, hukum yang mencakup melatih moral dan jika perlu menghajarnya. Jauh lebih berguna jika kitab Imamat dipandang sebagai petunjuk untuk bangsa imam dan wakil mereka yakni para imam. Adapun isi dari petunjuk tersebut adalah mencakup upacara-upacara dan ibadat yaitu perbuatan dan sikap yang harus dipelihara umat agar persekutuan dengan Allah tidak terputus.[7] Dalam hal ini dibahas tentang korban penghapus dosa yang berbeda dengan korban penebus salah. Korban penebus salah yang disebut dengan asyam bukanlah penyembelihan binatang-binatang, melainkan simbol-simbol emas yang ditaruh disamping tabut, juga dipakai untuk menunjuk kepada uang yang dibayar kepada imam. Dalam hal ini menyangkut yang berkenaan dengan perbuatan, baik itu sengaja yang merugikan yang dapat ditaksir. Sedangkan korban penghapus dosa merupakan suatu bentuk dari perbuatan dosa yang tidak disengaja.[8]  Dosa yang disengaja tidak akan ada pengampunan dan harus ditumpas. Sebagai contoh ialah orang kusta yang menjadi tahir (Im. 12:6&8), dan orang yang kena najis menjadi kena kenajisan (Bil 6:9). Orang yang demikian harus mempersembahkan korban penghapus dosa, sebab dengan demikian dosa mereka akan diampuni.[9] Adapun maksud dari kitab ini agar meningkatkan kesadaran Israel akan beratnya dosa, agar dosa yang dianggap remeh sekalipun dapat menyakitkan hati Allah.

   2. Kajian Teks Imamat 4:3

              Pada dasarnya bahwa Allah itu adalah kudus sebab Ia berbeda dengan ciptaan lainnya. Oleh sebab itu segala yang berhubungan dengan Allah haruslah kudus, baik itu dalam ibadah, tempat pemujaan atau hal-hal yang berhubungan dengan korban-korban persembahan.[10] Korban terdiri dari dua bagian, yaitu korban pendamaian dan korban pemujaan. Korban pendamaian terdiri dari korban penghapus dosa dan penebus salah. Sedangkan korban pemujaan adalah korban bakaran, korban keselamatan dan korban sajian. Korban penghapus dosa ini dimaksudkan untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Allah dan juga menebus dosa.[11] Dalam bidang agama atau kultus (ibadah) Israel istilah khatta’t tidak sama dengan korban bakaran, korban keselamatan yang sering diartikan dengan dosa saja. Sebab dari segi persembahan, korban tidak dipersembahkan di atas mezbah namun di luar perkemahan.

              Sebutan imam yang diurapi biasanya dianggap sebagai yang menunjuk kepada zaman antara tahun 587 dan 520, dimana pada zaman itu kepala imam mulai berkuasa dan diurapi. [12] Kepala imam inilah yang turut mewakili bangsa Israel di hadapan Allah dan memimpin upacara keagamaan atas nama bangsa Israel. Lembu jantan merupakan hal yang sangat bernilai untuk dipakai, karena seluruh umat terlibat di dalamnya. Seekor lembu jantan memiliki arti bahwa korban tersebut tidak bercacat. Dalam upacara persembahan tersebut memiliki arti kultus yang penting, oleh karena itu korban yang dipersembahkan haruslah benar-benar sempurna dan tidak bercacat. Dengan demikian Allah akan berkenan terhadap korban persembahan dan menerima orang tersebut, serta mengadakan hubungan baik antara mereka. Hal itulah yang menjadi korban penghapus dosa dalam kultus Israel. Dengan demikian persembahan itu memiliki arti bahwa dengan persembahan maka Allah akan mengampuni dosa-dosa. Korban penghapus menyatakan makna akan memupuk rasa penyesalan, penyerahan diri dan pengudusan diri. [13]Dengan kata lain bahwa persembahan adalah jalan menggapai kehidupan dan sebagai media dalam hal pengampunan dosa manusia.

IV. Pemahaman Tekstual Kitab

    I. Latar Belakang Teks Ibrani

Surat Ibrani ditulis berkisar awal tahun 60-an sampai pada akhir abad yang pertama. Surat ini tidak mungkin ditulis setelah tahun 90 M, sebab SUrat Clemens menyebutnya surat itu ditulis di Roma selambat-lambatnya tahun 96 M. [14] Kitab Ibrani ditulis pada masa menjelang penganiayaan yang dicetuskan kaisar Nero, oleh seorang penulis yang tak dikenal. Para pembaca pertamanya adalah sekelompok orang Kristen Yahudi Helenis di Roma, yang berusaha meloloskan diri dari akibat-akibat yang timbul bila diketahui mereka Kristen, dengan mengikuti kebiasaan-kebiasaan Yahudi. Penulis surat Ibrani menyayangkan sikap yang begitu mementingkan diri sendiri, sebab mereka menghianati saudara-saudara seiman, dan keikutsertaannya dalam upacara-upacara agama Yahudi pada hakikatnya merupakan penyangkalan atas apa yang telah dilakukan Yesus bagi mereka. Jika mereka benar-benar ingin melayani Dia, mereka harus berdiri teguh dan setia sebagai pengikut-pengikutNya apapun akibatnya.[15]       

            II Kajian Teks Ibrani 9:7&12

Hanya Imam Besar saja yang dapat masuk ke tempat Mahasuci, dan itupun hanya pada hari penebusan saja. Dalam perikop ini penulis mengarahkan pikirannya pada upacara-upacara pada hari penebusan itu. Bagi mereka, upacara-upacara itu merupakan upacara keagamaan yang paling suci di dunia ini. Sebagaimana kita ketahui, hubungan antara Israel dengan Allah ialah hubungan perjanjian, namun dosa di pihak Israel telah merusak hubungan itu, dan seluruh tata upacara korban diadakan untuk penebusan dosa dan memulihkan hubungan yang rusak itu.

Ia harus mengadakan pendamaian bagi Tempat Mahakudus, bagi kemah Pertemuan dan bagi Mezbah, juga bagi para imam dan seluruh bangsa itu. Upacara itu adalah suatu tindakan penebusan yang besar dan menyeluruh untuk segala dosa. Hari itu adalah hari yang Agung dimana segala sesuatu dan manusia dibersihkan, sehingga hubungan antara Israel dengan Allah tidak putus. Hari itu bukanlah pesta, tetapi berpuasa, karena pada hari itu seluruh bangsa berpuasa sepanjang hari, termasuk anak laki-laki dan perempuan. Bahkan orang Yahudi yang saleh telah mempersiapkan dirinya untuk hari itu dengan berpuasa 10 hari sebelumnya. Hari penebusan itu jatuh 10 hari sesudah pembukaan Tahun Baru Yahudi, kira-kira awal September menurut kalender kita. Hari itu adalah hari yang paling besar dalam kehidupan seorang Imam Besar.[16]

Yesus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, dan Ia telah masuk ke dalam rempat yang kudus ini satu kali untuk selama-lamanya kedalam tempat yangkudus, bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah domba anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya sendiri. Dengan itu Ia telah mendapatkan kelepasan yang kekal, sebab jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus yang oleh roh yang kekal yang telah mempersembahkan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani dan perbuatan kita yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.[17]

V. Refleksi Teologis

Kehidupan umat Kristen tidak terlepas dari Yesus Kristus sang kepala Gereja, sebab Yesus merupakan puncak dari keselamatan. Dalam setiap ajaranNya, yesus sendirilah inti dari kekristenan. Melalui peristiwa penyaliban Kristus dan darahNya merupakan suatu penggenapan akan Perjanjian Lama tentang system korban. Oleh darah Kristus segala korban persembahan telah digantikanNya, sebab Dialah korban yang sempurna dalam hal keselamatan manusia. Dalam Perjanjian Lama telah diterangkan bahwa setiap orang yang berdosa haruslah mempersembahkan suatu korban dalam menutupi kesalahannya. Melalui korban tersebutlah maka Allah berkenan dalam umatNya dan mau mengampuni atatupun berdamai. Namun dalam Perjanjian Baru hal tersebut bukan menjadi sasaran yang utama. Segala bentuk korban telah digenapi oleh yesus Kristus sebagai bentuk penghapusan dosa manusia. Akan tetapi dalam hal ini Allah yang berkehendak bahwa persembahan yang diperlukanNya adalah persembahan tubuh menusia baik secara jasmani dan rohani.

Dalam hubungannya dengan keselamatan manusia yaitu bahwa melalui persembahan yang ditunjukkan oleh Yesus maka manusia tidak perlu lagi mempersembahkan korban-korban dalam menebus dosa yang telah mereka perbuat, sebab segala korban telah diganti oleh Yesus. Namun yang diharapkan dari persembahan manusia adalah:[18]

·         Sebagai jawaban terhadap keselamatan yang telah dianugerahkan Allah melalui penebusan oleh darah Yesus sebagai Anak Domba Allah.

·         Sebagai pengakuan dan kesaksian orang percaya bahwa Allah sumber berkat.

·         Sebagai implementasi dari kesadaran akan hak dan tanggungjawab untuk membangun dan mengembangkan Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia.

·         Sebagai penyataan iman bahwa manusia secara mutlak bergantung kepada Allah.

 VI. Kesimpulan

Demi keselamatan manusia, maka Allah telah memberi persembahan sebagai penebusan dosa umat manusia, yaitu melalui puteraNya, Yesus Kristus. Persembahan sangat berkaitan erat dengan ibadah, oleh karen itu persembahan adalah mencakup segala perbuatan manusia sebagai wujud dari keselamatan. Perbuatan yang dimaksud yaitu memberikan yang terbaik bagi kemuliaan Allah, sebab Yesus telah rela mengorbankan diriNya demi keselamatan manusia dari dosa. Oleh karena itu sebagai ucapan syukur manusia atas penebusan dosa-dosa yang telah mereka lakukan, maka selayaknya manusia itu melakukan perbuatan yang baik dalam kehidupannya sehari-hari, sebagai wujud syukur dan hormat kepada Allah sebagai sang Pencipta alam semesta. Dengan demikian maka manusia tersebut telah memiliki keselamatan.


[1] J. D. Douglas (ed), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I, (Jakarta: YKBK/OMF, 2004) 572

[2] Ibid., 580-581

[3] C. Groenen OFM, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama, (Yogyakarta: Kanisius, 1991) 115

[4] D. C. Mulder, Pembimbing Ke Dalam Perjanjian Lama, ( Jakarta: BPK-GM, 1970) 154

[5] Ibid., 55

[6] W. S. Lassor, Pengantar Perjanjian Lama I, (Jakarta BPK-GM, 2001) 213

[7] Ibid., 215

[8] H. H. Rowley, Ibadat Israel Kuno, (Jakarta: BPK-GM, 2002) 105

[9] Ibid., 106

[10] G. Andre, “Tame” dalam Theologycal Dictionary of The Old Testament, Vol V, (ed) G. Johannes Borrerweek, Wm. B. Eerdmans (Michigan, 1986) 331

[11] F. L. Bakker, Sejarah Kerajaan Allah I, (Jakarta: BPK-GM, 1972) 261

[12] Robert M. Paterson, Tafsiran Alkitab: Kitab Imamat, (Jakarta BPK-GM, 2003) 66

[13] G. Von Rad, Old Testament Theology, Vol I, (New York: 1962) 260

[14] John Drane, Memahami Perjanjian Baru, (Jakarta : BPK-GM, 2005) 481

[15] Ibid., 482

[16] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Surat Ibrani, (Jakarta :BPK-GM, 2008) 131-132

[17] Ibid., 137

[18] C. W. Z. Pakpahan, Uang dan Persembahan dalam Gerak dan Persekutuan eskatologis, (ed. Darwin Lumbantobing dan CWZ Pakpahan) (P. Siantar, 2002) 174-175

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...