Selasa, 25 Juli 2023

Agama Dan Pembangunan Dunia

       I.            Pendahuluan.

     Setiap masyarakat manusia adalah suatu usaha pembangunan dunia, yang mana agama itu menempati suatu tempat tersendiri. Dalam hal ini tujuan dari pada pembelajaran ini adalah untuk mengetahui hubungan antara agama dan manusia dengan pembangunan- dunia oleh manusia.

    II.            Isi.

Masyarakat adalah suatu fenomena dialektik dalam pengertian bahwa masyarakat adalah suatu produk manusia yang akan selalu memberi tindak-balik kepada produsernya, dimana masyarakat adalah suatu produk dari manusia, hal ini terlihat dari realitas sosial yang tidak terpisah dari manusia itu. Masyarakat sudah ada sebelum individu dilahirkan, dan masih aka nada sesudah individu mati. Manusia tidak bisa eksis terpisah dari masyarakat, hal ini karena manusia itu adalah produk dari masyarakat yang sifatnya tidaklah berlawanan, melainkan menggambarkan sifat dialektik inheren dari fenomena masyarakat. Proses dialektika fundamental dari masyarakat terdiri dari: eksternalisasi, obyektifitasi, dan internalisasi. Eksternalisasi adalah suatu pencurahan kedirian manusia secara terus-menerus kedalam dunia, baik dalam aktivitas fisis maupun mentalnya. Obyektivasi adalah disandangnya produk- produk aktivis yaitu suatu realitas yang berhadapan dengan para produsennya semula, dalam bentuk suatu kefaktaan yang eksternal terhadap para produser itu sendiri. Internalisasi adalah peresapan kembali realitas tersebut oleh manusia dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur- struktur kesadaran subjektif. Melalui eksternalisasi, maka masyarakat merupakan produk manusia, dan juga melalui internalisasi maka manusia merupakan produk masyarakat.

Eksternalisasi adalah suatu keharusan antropologis, dimana secara antropologis manusia tidak bisa terpisah dari pencurahan dirinya terus-menerus kedalam dunia yang ditempatinya. Berbeda dengan binatang yang mana dunia ini tidak begitu saja dianugrahkan baginya. Oleh karena itu aktifitas manusia membangun- dunia manusia bukanlah suatu fenomena yang nonbiologis, tetapi merupakan konsekuensi langsung dari konstruksi biologis manusia. Manusia harus selalu membentuk hubungan dengan dunianya, dan akan terlihat aneh jika manusia itu tidak berdamai dengan dirinya sendiri, dimana manusia itu harus selalu mencoba untuk memahami dirinya sendiri dengan cara mengekspresikan diri dalam aktivitas. Manusia membangun suatu dunia manusia yaitu kebudayaan, yang tujuannnya adalah memberikan kepada manusia struktur- struktur kokoh yang sebelumnya tidak dimilikinya secara biologis. Kebudayaan menjadi “alam kedua” bagi manusia dan kebudayaan itu dihasilkan kembali oleh manusia, karena itulah strukturnya secara inherent adalah rawan dan ditakdirkan untuk berubah. Hasil dari kebudayaan itu salah satunya adalah bahasa, yang mana bahasa itu membangun suatu bangunan symbol- symbol mahabesar yang meresapi semua aspek kehidupannya. Dan juga bahwa masyarakat tidak lain adalah bagian tak terpisahkan dari kebudayaan nonmaterial, yang membentuk hubungan- hubungan berlanjut dari manusia dengan sesamanya. Masyarakat juga menempati suatu posisi terhormat diantar formasi- formasi kebudayaan manusia. Manusia bersama- sama membangun alat- alat, bahasa, menganut nilai- nilai, membentuk lembaga dan seterusnya. Dalam menciptakan nilai- nilai manusia akan merasa bersalah jika ia melanggar nilai- nilai itu. Kebudayaan bisa dialami dan diperoleh secara kolektif, karena kebudayaan tersedia bagi semua orang, dan secara bersama- sama dimiliki orang lain.

Di dalam masyarakat itu ada control sosial atau dengan kata lain pemaksa masyarakat untuk membentuk  masyarakat. Objektivitas masyarakat mencakup semua unsure pembentuknya, misalnya: keluarga sebagai pelembagaan seksualitas  manusia dalam suatu masyarakat tertentu dialami dan dimengerti sebagai realitas objektif.  Masalah yang terjadi dimasyarakat diselesaikan dengan proses sosialisasi yang secara psikologis sebagai proses belajar. Keberhasilan tergantung adanya simetri antara dunia objektif masyarakat dengan dunia subjektif individu. Namun terdapat juga tingkatan keberhasilan dalam sosialisasi, keberhasilan akan memberikan simetri objektif sementara kegagalan sosialisasi mengarah kepada berbagai tingkat asimetri. Individu disosialisasi menjadi pribadi yang menempati dunia yang ditetapkan, karena sosialisasi dak akan pernah berakhir, tetapi akan terus berkelanjutan selama hidup individu. Karena dunia dibangun dalam kesadaran individu melalui dialog dengan orangtua, guru, kelompok dan yang lainnya.  Individu dibentuk selama suatu dialog yang lama, yaitu dunia sosial yang tidak secara pasif diserap oleh individu,tetapi secara aktif diambil olehnya.Dan individu selain ters merupakan co- produser dunia sosial, juga koproduser dirinya sendiri. Dan hubungan individu dengan bahasa dianggap sebagai paradigmatic dialektiaka sosialisasi.

Dunia yang dibangun secara sosial adalah suatu penataan pengalaman yang bermakna atau nomos yang diterapkan pada pengalaman yang memiliki makna tersendir. Sosialitas manusia mensyaratkan bahwa aktifitas penataan ini harus bersifat kolektif. Dunia sosial merupakan sebuah nomos baik secara objektif maupun subjektif. Setiap bahasa empiris bisa dikatakan merupakan sebuah nomos yang sedang terbentuk., masyarakat juga mempunyai berbagai ragam tingkat diferensiasinya dalam kesatuan pengetahuan, dengan hidup dalam dunia sosial adalah menjalani kehidupan yang tertib dan bermakna, dan fungsi paling penting dari masyarakat adalah nomisasi. Kematian adalah situasi marginal par excellence menyaksikan kematian orang lain, membayangkan kematian diri sendiri mendorong individu untuk mempertanyakan produser pengoperasian kognitif. Dan jika dilihat dari perspektif individual  setiap nomos merupakan sisi siang yang terang dari kehidupan dan malam. Setiap nomos adalah suatu bangunan yang didirikan dibawah ancaman yang menimbulkan kekacauan.

Dunia sosial bermaksud agar kehadirannya dianggap wajar, bilamana nomos ditetapkan secara sosial berhasil diterima maka terjadilah suatu peleburan makna- maknanya, yang mana nomos dan kosmos akan koekstensif. Dalam hal inilah agama suatu usaha untuk membentuk suatu kosmos keramat, yaitu agama sebagai kosmisasi suatu yang sacral. Keramat dimaksud adalah suatu kualitas kekuasaan yang misterius dan menakjubkan.Dan yang keramat itu adalah sebagai yang “ menyeruak” dari rutinitas normal kehidupan harian yang luar biasa dan potensial berbahaya. Namun pada tingkat yang lebih dalam, yang keramat itu memiliki suatu kategori lawan, yaitu kekacauan, kosmos yang keramat muncul dari kekacauan dan kemudian menghadapi kakacauan sebagai lawannya. Bisa dikatakan bahwa agama telah memainkan peran strategis dalam usaha untuk membangun- dunia, dengan kata lain agama adalah usaha berani untuk membayangkan adanya keseluruhan semesta sebagai bernilai manusiawi. 

 III.            Kesimpulan dan Refleksi.

Bahwa dalam pembangunan dunia itu peran dan partisipasi  masyarakat tidak akan pernah lepas. Dalam mencapai pembangunan dunia itu terjadi suatu proses yang sangat panjang yang dialami oleh masyarakat. Hal itu dapat dilihat dari hasil masyarakat berupa kebudayaan yang sama sekali tidak terpisahkan dari masyarakat dan kebudayaan itu dimiliki oleh setiap masyarakat. Dan didalam kebudayaan itulah sekaligus tercipta niali- nilai yang harus dituruti masyarakat. Ketika dalam masyarakat terjadi masalah sosial  akibat dari pelanggaran nilai- nilai yang sudah tercipta itu maka muncullah sosialisasi sosial untuk menyelesaikannya.

Dalam proses pembangunan dunia ini perlu peran agama yang sangat besar yang bisa memberikan keseimbangan dari apa yang sudah terjadi didalam masyarakat, agama turut serta memainkan peran dalam usaha manusia membangun dunia, yaitu agama menjangkau eksternalisasi diri manusia. Dan agama sekaligus menjadi tolak ukur manusia dalam menjalankan pembangunan dunia tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...