I. Pendahuluan.
II.
Isi.
Masyarakat
adalah suatu fenomena dialektik dalam pengertian bahwa masyarakat adalah suatu
produk manusia yang akan selalu memberi tindak-balik kepada produsernya, dimana
masyarakat adalah suatu produk dari manusia, hal ini terlihat dari realitas
sosial yang tidak terpisah dari manusia itu. Masyarakat sudah ada sebelum
individu dilahirkan, dan masih aka nada sesudah individu mati. Manusia tidak
bisa eksis terpisah dari masyarakat, hal ini karena manusia itu adalah produk
dari masyarakat yang sifatnya tidaklah berlawanan, melainkan menggambarkan
sifat dialektik inheren dari fenomena masyarakat. Proses dialektika fundamental dari masyarakat terdiri
dari: eksternalisasi, obyektifitasi, dan internalisasi. Eksternalisasi adalah
suatu pencurahan kedirian manusia secara terus-menerus kedalam dunia, baik
dalam aktivitas fisis maupun mentalnya. Obyektivasi adalah disandangnya produk-
produk aktivis yaitu suatu realitas yang berhadapan dengan para produsennya
semula, dalam bentuk suatu kefaktaan yang eksternal terhadap para produser itu
sendiri. Internalisasi adalah peresapan kembali realitas tersebut oleh manusia
dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur- struktur kesadaran
subjektif. Melalui eksternalisasi, maka masyarakat merupakan produk manusia,
dan juga melalui internalisasi maka manusia merupakan produk masyarakat.
Eksternalisasi adalah suatu keharusan antropologis,
dimana secara antropologis manusia tidak bisa terpisah dari pencurahan dirinya
terus-menerus kedalam dunia yang ditempatinya. Berbeda dengan binatang yang mana
dunia ini tidak begitu saja dianugrahkan baginya. Oleh karena itu aktifitas
manusia membangun- dunia manusia bukanlah suatu fenomena yang nonbiologis,
tetapi merupakan konsekuensi langsung dari konstruksi biologis manusia. Manusia
harus selalu membentuk hubungan dengan dunianya, dan akan terlihat aneh jika
manusia itu tidak berdamai dengan dirinya sendiri, dimana manusia itu harus
selalu mencoba untuk memahami dirinya sendiri dengan cara mengekspresikan diri
dalam aktivitas. Manusia membangun suatu dunia manusia yaitu kebudayaan, yang
tujuannnya adalah memberikan kepada manusia struktur- struktur kokoh yang
sebelumnya tidak dimilikinya secara biologis. Kebudayaan menjadi “alam kedua”
bagi manusia dan kebudayaan itu dihasilkan kembali oleh manusia, karena itulah
strukturnya secara inherent adalah rawan dan ditakdirkan untuk berubah. Hasil
dari kebudayaan itu salah satunya adalah bahasa, yang mana bahasa itu membangun
suatu bangunan symbol- symbol mahabesar yang meresapi semua aspek kehidupannya.
Dan juga bahwa masyarakat tidak lain adalah bagian tak terpisahkan dari
kebudayaan nonmaterial, yang membentuk hubungan- hubungan berlanjut dari
manusia dengan sesamanya. Masyarakat juga menempati suatu posisi terhormat
diantar formasi- formasi kebudayaan manusia. Manusia bersama- sama membangun
alat- alat, bahasa, menganut nilai- nilai, membentuk lembaga dan seterusnya.
Dalam menciptakan nilai- nilai manusia akan merasa bersalah jika ia melanggar
nilai- nilai itu. Kebudayaan bisa dialami dan diperoleh secara kolektif, karena
kebudayaan tersedia bagi semua orang, dan secara bersama- sama dimiliki orang
lain.
Di dalam masyarakat itu ada control sosial atau dengan
kata lain pemaksa masyarakat untuk membentuk
masyarakat. Objektivitas masyarakat mencakup semua unsure pembentuknya,
misalnya: keluarga sebagai pelembagaan seksualitas manusia dalam suatu masyarakat tertentu
dialami dan dimengerti sebagai realitas objektif. Masalah yang terjadi dimasyarakat
diselesaikan dengan proses sosialisasi yang secara psikologis sebagai proses
belajar. Keberhasilan tergantung adanya simetri antara dunia objektif
masyarakat dengan dunia subjektif individu. Namun terdapat juga tingkatan
keberhasilan dalam sosialisasi, keberhasilan akan memberikan simetri objektif
sementara kegagalan sosialisasi mengarah kepada berbagai tingkat asimetri.
Individu disosialisasi menjadi pribadi yang menempati dunia yang ditetapkan,
karena sosialisasi dak akan pernah berakhir, tetapi akan terus berkelanjutan
selama hidup individu. Karena dunia dibangun dalam kesadaran individu melalui
dialog dengan orangtua, guru, kelompok dan yang lainnya. Individu dibentuk selama suatu dialog yang
lama, yaitu dunia sosial yang tidak secara pasif diserap oleh individu,tetapi
secara aktif diambil olehnya.Dan individu selain ters merupakan co- produser
dunia sosial, juga koproduser dirinya sendiri. Dan hubungan individu dengan
bahasa dianggap sebagai paradigmatic dialektiaka sosialisasi.
Dunia yang dibangun secara sosial adalah suatu penataan
pengalaman yang bermakna atau nomos yang diterapkan pada pengalaman yang
memiliki makna tersendir. Sosialitas manusia mensyaratkan bahwa aktifitas
penataan ini harus bersifat kolektif. Dunia sosial merupakan sebuah nomos baik
secara objektif maupun subjektif. Setiap bahasa empiris bisa dikatakan
merupakan sebuah nomos yang sedang terbentuk., masyarakat juga mempunyai
berbagai ragam tingkat diferensiasinya dalam kesatuan pengetahuan, dengan hidup
dalam dunia sosial adalah menjalani kehidupan yang tertib dan bermakna, dan
fungsi paling penting dari masyarakat adalah nomisasi. Kematian
adalah situasi marginal par excellence menyaksikan kematian orang lain,
membayangkan kematian diri sendiri mendorong individu untuk mempertanyakan
produser pengoperasian kognitif. Dan jika dilihat dari perspektif individual setiap nomos merupakan sisi siang yang terang
dari kehidupan dan malam. Setiap nomos adalah suatu bangunan yang didirikan
dibawah ancaman yang menimbulkan kekacauan.
Dunia sosial bermaksud agar kehadirannya dianggap wajar, bilamana nomos ditetapkan secara sosial berhasil diterima maka terjadilah suatu peleburan makna- maknanya, yang mana nomos dan kosmos akan koekstensif. Dalam hal inilah agama suatu usaha untuk membentuk suatu kosmos keramat, yaitu agama sebagai kosmisasi suatu yang sacral. Keramat dimaksud adalah suatu kualitas kekuasaan yang misterius dan menakjubkan.Dan yang keramat itu adalah sebagai yang “ menyeruak” dari rutinitas normal kehidupan harian yang luar biasa dan potensial berbahaya. Namun pada tingkat yang lebih dalam, yang keramat itu memiliki suatu kategori lawan, yaitu kekacauan, kosmos yang keramat muncul dari kekacauan dan kemudian menghadapi kakacauan sebagai lawannya. Bisa dikatakan bahwa agama telah memainkan peran strategis dalam usaha untuk membangun- dunia, dengan kata lain agama adalah usaha berani untuk membayangkan adanya keseluruhan semesta sebagai bernilai manusiawi.
III.
Kesimpulan
dan Refleksi.
Bahwa
dalam pembangunan dunia itu peran dan partisipasi masyarakat tidak akan pernah lepas. Dalam
mencapai pembangunan dunia itu terjadi suatu proses yang sangat panjang yang
dialami oleh masyarakat. Hal itu dapat dilihat dari hasil masyarakat berupa
kebudayaan yang sama sekali tidak terpisahkan dari masyarakat dan kebudayaan
itu dimiliki oleh setiap masyarakat. Dan didalam kebudayaan itulah sekaligus
tercipta niali- nilai yang harus dituruti masyarakat. Ketika dalam masyarakat
terjadi masalah sosial akibat dari
pelanggaran nilai- nilai yang sudah tercipta itu maka muncullah sosialisasi
sosial untuk menyelesaikannya.
Dalam
proses pembangunan dunia ini perlu peran agama yang sangat besar yang bisa
memberikan keseimbangan dari apa yang sudah terjadi didalam masyarakat, agama
turut serta memainkan peran dalam usaha manusia membangun dunia, yaitu agama
menjangkau eksternalisasi diri manusia. Dan agama sekaligus menjadi tolak ukur
manusia dalam menjalankan pembangunan dunia tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar