I. Pendahuluan
Manusia
merupakan salah satu makhluk ciptaan yang selalu mengalami perkembangan, mulai
dari kemajuan peradaban hingga pada pola pikir dan pola hidup yang semakin
berkembang. Hal ini tentu
mempengaruhi hasil pikiran manusia yang tertuang pada ilmu pengetahuan dan
teknologi, sehingga akan selalu terjadi perkembangan. Apa lagi melihat zaman
sekarang ini yang menunjukkan perkembangan pengetahuan dan teknologi yang sudah
sangat maju, dan telah menyumbangkan setiap pengaruhnya baik itu positif maupun negatif.
Sebagai
ciptaan ilahi, menurut religiusitas manusia, memberikan pemahaman bahwa IPTEK
yang merupakan hasil dari anugerah kepada manusia berkaitan dengan sang
pencipta. Namun di Indonesia
sendiri ada banyak agama-agama yang ada, mulai dari agama tradisional/agama
suku hingga ke pada agama-agama dunia. Sejauh ini agama yang diakui
pemerintahan ada 6
(Enam)
agama, yaitu: Agama Islam, Agama
Kristen Protestan, Agama Kristen Katolik,
Agama Hindu, Agama Budha, Konghucu
dan Agama Suku Batak di Indonesia yaitu Ugamo Malim (Parmalim).
Oleh karena itu, kami akan menyajikan pandangan berdasarkan data yang ada dari
beberapa agama yang ada di Indonesia mengenai IPTEK. Hal ini bukan dimaksudkan untuk memperdebatkan setiap
pandangan, tetapi agar kita
mampu memahami pandangan agama lain dan menghargai pandangan tersebut. Sajian
ini juga kami harapakan dapat menambah wawasan mengenai pemahaman agama lain
mengenai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan melihat bagaimana kesatuan
tujuan yang ada.
II.
IPTEK: Etimotogi
IPTEK merupakan bentukan atau akronim dari kata Ilmu
Pengetahuan Dan Teknologi. Teknologi sendiri berasal dari Bahasa Yunani tekne yang berarti “pekerjaan”, dan
logos yang berarti suatu “ilmu” mengenai peralatan, prosedur, dan metode yang
dipakai di berbagai cabang industri.[1]
2.1.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Kamus Besar Bahasa Indonesia mencantumkan pengertian
mengenai IPTEK dengan menjelaskannya secara kata-per-kata, antara lain.[2]
·
Ilmu
Pengetahuan
Ilmu pengetahuan
merupakan seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan
pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi
ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan
kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu
diperoleh dari keterbatasannya.
·
Teknologi
Teknologi
merupakan metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; Ilmu pengetahuan
terapan; Keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan
bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.
Jadi, IPTEK merupakan ilmu yang dapat memberikan
kontribusi besar terhadap manusia dalam menyumbangkan pengetahuan/teori dan
praksis di setiap pola kehidupan.
2.2.
Defenisi Para Ahli
Ada banyak pendapat para ahli untuk menjelaskan apa IPTEK
itu. Maka, berikut dicantumkan defenisi mengenai Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi
(IPTEK) yang dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain:
a.
Poerbahawadja
Harahap[3]
IPTEK adalah
sebuah ilmu tentang teknik yang akan memacu kita untuk mengetahui akan bidang
industri. IPTEK merupakan sebuah yang akan menjadikan kita lebih mampu
mengerjakan pekerjaan yang lebih praktis dan lebih mudah. Dan IPTEK juga akan
banyak kita temukan ditempat-tempat industri dan pabrik.
b.
John
Naisbitt[4]
IPTEK adalah
sebuah alat atau benda yang wujudnya berbeda dengan manusia biasa. Namun
disamping wujudnya berbeda, IPTEK akan mampu membantu kita dalam mengerjakan
perkerjaan yang kita kerjakan dengan tangan langsung.
c.
Yusufhadi
Miarso[5]
IPTEK adalah
sebuah upaya untuk mendapatkan sebuah hal yang lebih. Seperti pekerjaan yang
biasanya dikerjakan dengan target standart, dengan IPTEK, akan menjadikan kita
lebih mampu untuk mendapatkan hasil yang lebih dari biasanya. Dan itu menjadi
sebuah keuntungan untuk kita. Apalagi orang yang menjalankan usaha dan juga
produksi. IPTEK menjadi alat yang akan membantu dalam produksi banyak.
d.
Read
Bain[6]
Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merupakan sebuah alat atau mesin yang akan
membantu manusia dalam mengerjakan segala pekerjaan. IPTEK yang berupa alat dan
mesin itu, akan mampu menjadi seorang manusia yang juga kan mampu mengerjakan
hal yang sama. Dan dengan begitu. IPTEK itu akan mampu membantu kita dalam
pekerjaan dan juga produksi.
III.
IPTEK dari Sudut Pandang Beberapa Agama di Indonesia
3.1.
Kristen
IPTEK sudah dimulai sejak zaman Alkitab atau sejak awal sejarah
manusia, dalam pandangan keKristenan. Dan berdaasarkan teks yang ada di
Alkitab, setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, ide dan pemikiran manusia
selalu dipengaruhi oleh dua kekuatan. (1). Manusia dengan ide dan pemikiran
yang telah dipulihkan oleh Allah melalui kematian Yesus Kristus, atau (2). Ide dan
pemikiran yang tetap dalam dosa.
·
IPTEK dalam sejarah Alkitab[7]
Kejadian atau peristiwa yang menunjukkan bahwa pada
sejarah Alkitab sudah terasa bagaimana kehadiran IPTEK itu sendiri di dalam
kehidupan ciptaan, antara lain:
Peristiwa air bah, di mana Allah memerintahkan Nuh
membuat kapal (bahtera) untuk menyelamatkan ia dan keluarganya dari kebinasaan
akibat air bah dan dosa dunia pada waktu itu. Dimensi ruang dalam kapal ataupun
bahan telah ditentukan oleh Allah (Kej. 6:14-15). Musa diperintahkan untuk
membuat Kemah Suci (Kel. 25:9), Allah sendiri telah menjadi arsitek yang
merencanakan ruang-ruang, dimensi, dan bahan yang hendak digunakan (Kel.
25:1-27:21). Proses Bait Suci dan istana yang dibangun oleh Raja Salomo (I Raj.
7-8). Akan tetapi di sisi lain, kita akan melihat bahwa Allah juga menentang
setiap penciptaan teknologi yang bermotivasikan kesombongan/memuliakan diri
sendiri. Allah memporak-porandakan Babel (Kej. 11:1-9), yang ditentang bukanlah
pendirian kota dan menara Babelnya, tetapi motivasi manusia saait itu yang
ingin mencarri nama dan ingin menyamai Allah (Kej. 11:4). Ketika murid-murid
menujuk pada pembangunan Baik Suci, Yesus mengatakan bahwa bangunan tersebut
akan diruntuhkan (Mat. 24: 1-2). Tuhan Yesus juga menentang penyalah-gunaan fungsi
Bait Suci yang dibangun selama empat puluh enam tahun (Yoh. 2:16).
Hal ini menunjukkan bila IPTEK telah dimulai sejak awal
sejarah manusia yang tertulis dalam kitab Alkitab. Allah sendiri adalah
pencipta alam semesta, dan memberikan ide-ide terhadap manusia untuk melahirkan
IPTEK. Tujuan kemampuan yang diberikan kepada manusia adalah untuk memuji nama
Allah (1 Kor. 10:13), sehingga Ia akan memberikan hukuman bagi setiap manusia
yang menggunakan kemampuan itu atas dasar kesombongan. Sejarah kehadiran IPTEK
di dalam Alkitab juga menunjukkan bahwa Allah tidak pernah menghalangi ataupun
menutupi segala perkembangan IPTEK, karena setiap ilmu pengetahuan dan
teknologi dapat dikaitkan dengan keselamatan yang dimaksud Allah terhadap
seluruh ciptaan.
·
Iman
Kristen dan IPTEK
Iman merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah kepada
manusia untuk percaya kepada-Nya. Untuk menjadi percaya dibutuhkan pengetahuan,
maka pengetahuan dan kepercayaan dipahami dalam arti yang lebih utuh, sehingga
mencakup keyakinan hati, maka seperti dalam Yoh. 17:3 dan 1 Yoh. 5: 1 yang
menggambarkan iman secara menyeluruh. Iman itulah yang kemudian mendorong
manusia melakukan perbuatan baik.[8]
Hal ini
menujukkan bahwa seharusnya iman sejalan dengan IPTEK, karena hal ini merupakan
hasil dari pemikiran dan perbuatan yang diberikan Allah kepada manusia melalui
iman. IPTEK juga dapat menjadi cerminan sikap Kristiani yang bertanggung jawab
terhadap tugas yang memberikan Allah kepada manusia ( Kej. 1:28), yaitu untuk
menguasai IPTEK untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan. Oleh karena itu, IPTEk
haruslah sesuai dengan norma-norma Allah. Agama Kristen dengan ilmu pengetahuan
dapat seling menopang satu sama lain. Iman Kristen mengenai IPTEK adalah
percaya mendahului pengetahuan, karena untuk memperoleh ilmu yang sejati,
pertama-tama manusia harus mempunyai rasa ahormat dan takut kepada Tuhan,
karena orang bodoh tidak menghargai hikmat dan tidak mau diajar (Ams 1:7).
3.2.
Islam
Agama Islam bersumber dari wahyu Allah, sedangkan ilmu pengetahuan
bersurnber dari pikiran manusia yang disusun berdasarkan hasil penyelidikan
alam. IPTEK dalam Islam dipandang sebagai kebutuhan manusia, karena itu Islam
memandang IPTEK sebagai bagian dari pelaksanaan kewajiban manusia sebagai
makhluk Allah yang berakal. IPTEK merupakan sarana bagi manusia dalam
melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi, dengan IPTEK manusia
juga dapat menghayati kekuasaan Allah secara mendalam dan empiris, sehingga
kualitas keimanannya kepada Allah semakin kuat. Agama Islam menempatkan IPTEK
di atas dasar keimanan dan ketakwaan.
Wahyudin menyatakan bahwa penguasaan, pengembangan, dan
pendayagunaan IPTEK harus senantiasa berada dalam jalur-jalur nilai keimanan
dan kemanusiaan. IPTEK dan segala hasilnya dapat diterima oleh Islam manakala
bermanfaat bagi kehidupan manusia. Jika penggunaan hasil IPTEK akan melalaikan
seseorang dan dzikir-tafkkur, serta mengantarkan kepada rusaknya nilai-nilai
kemanusiaan, maka Islam dengan tegas menolaknya.[9]
Islam sebagai agama memiliki tiga aspek ajaran, yaitu:
moral, aqidah, dan syariah, senantiasa mengukur segala sesuatu (benda-benda,
karya seni, aktivitas) dengan pertimbangan-pertimbangan yang berdasar pada
ketiga aspek tersebut. Dalam perspektif Islam, ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni merupakan hasil pengembangan potensi manusia yang telah diberikan oleh
Allah dalam bentuk akal dan budi. IPTEK haruslah membuat manusia semakin
mendekatkan diri pada Allah. Sumber pengembangan IPTEK dalam Islam adalah wahyu
Allah. IPTEK yang Islami selalu mengutamakan dan mengedepankan kepentingan orang
banyak dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia. IPTEK dalam pandangan Islam
tidak bebas nilai.[10]
IPTEK yang dikembangkan di atas nilai-nilai iman dan ilmu
akan menghasilkan amal saleh, di mana pengembangan ini merupakan hasil dari
integrasi antara iman, ilmu, dan amal (Al-Quran surat Irahim: 24-25). Agama
Islam merupakan agama yang menghargai ilmu pengetahuan. Islam juga menekankan,
atau juga mewajibkan, agar umatnya mengusahakan dan menuntut ilmu pengetahuan.[11]
Hal ini dikarenakan pentingnya ilmu dalam kehidupan umat manusia. Ayat Al-Qur'an
yang berkenaan dengan pendidikan adalah sebagai berikut:[12]
Qs. Al-Alaq 1-5.
“(1). Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
menciptakan (2). Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3).
Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha pemurah. (4). Yang mengajar (manusia) dengan
perantaraan alam. (5). Dia mengajar ke pada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
QS. Az-Zumar 9:
Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui
dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang-orang berakallah
yang dapat menerima pelajaran.
Al-Mujadalah 11:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Maha mengetahuai apa yang kamu kerjakan.”
Ajaran agama Islam tidak meigekang umatnya untuk maju dan
modern, namun mendukung umatnya. IPTEK merupakan anugerah Allah SWT ke pada
manusia untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. IPTEK menjadi
media untuk menerapkan Aqidah Islam sebagai paradigma pemikiran dan ilmu
pengetahuan, dan menjadikan Syariah Islam sebagai standar penggunaan IPTEK.[13]
Dan pada dasamya Al-Quran telah mendorong manusia untuk berteknologi supaya
kehidupan manusia meningkat. Pada masa Nabi sudah ada penemuan-penemuan yang
bisa dinamakan dengan IPTEK, seperti halnya dalam dunia pertanian.
3.3.
Hindu
Agama Hindu memandang IPTEK sebagai pengetahuan, hal yang
sangat diagungkan sebagai suatu anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang
didasari dharma, sehingga ketika seseorang memanfaatkan pengetahuan itu
diharapkan selalu mengingat Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai suatu bentuk
pengalaman dari berkarma berdasarkan dharma, dan kemudahan serta kenikmatan
yang dapat diberikan oleh hasil pengembangan.
Catur Asrama (empat tahap kehidupan) pada ajaran Hindu
yang terdiri dari: Brahmacari (Brahmacarya), Grehastha, Wanaprastha, dan Bhiksuka. Ajaran
Brahmacari itulah yang menghubungkan Agama Hindu dengan IPTEK, karena Brahmacari
Asrama merupakan masa menuntut ilmu, yakni masa belajar dan berjuang, mengisi
diri menuju peringkat hidup yang lebih baik, dalam usaha melenyapkan atau
menghilangkan kegelapan menuju kecerdasan. IPTEK haruslah seimbang dengan imtak
(iman dan takwa). Menurut ajaran Agama Hindu saat berada dalam Brahmacari
Asrama manusia dilarang mengumbar hawa nafsu. Semua kekuatan jasmani dan
rohaninya sebagian besar hendaknya diarahkan untuk pembentukan kecerdasan otak
yang disebut dengan Oyas Sakti dan sebagiannya lagi diarahkan untuk kesegaran
jasmani.[14]
Hindu memandang ilmu pengetahuan sebagai hal yang
memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Seseorang yang memiliki
pengetahuan yang cukup dianggap telah mampu menunjukkan dirinya sebagai
seseorang yang bermanfaat.
Pada sloka "Canakya Niti Sastra" Bab X Ayat 1,
disebutkan:
Vhana hina na hinas ca
dhanikah sa suniscayah
vydiratnena yo hinah
sa hinah sarvavastusu.
Artinya:
“Orang yang kurang dalam harta benda, bukanlah orang
miskin
Sebaliknya orang kaya adalah dia yang memiliki ilmu
pengetahuan
Dia yang kurang dalam ilmu pengetahuan, sesungguhnya
dalam segala keadaan ia disebut orang miskin.”
Canakya Niti Sastra dan Niti Sataka menjelaskan bahwa
ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai peranan yang sangat penting dalam
kehidupan manusia. Pengetahuan dapat dipandang sebagai kamadhenu: "yang
dapat memenuhi segala keinginan setiap saat bagaikan seorang ibu yang selalu
memelihara kita, kekayaan atau harta adalah memiliki pengetahuan, memiliki
kegunaan sebagai seorang manusia. Pengetahuan adalah kekayaan yang tidak dapat
dicuri, semakin banyak pengetahuan itu diajarkan, maka pengetahuan itu makin
berkembang."[15]
·
Simbol
ilmu pengetahuan dalam Agama Hindu
Simbol pengetahuan di dalam Agama Hindu adalah Dewi
Saraswati yang memiliki peran penting dalam perkembangan pemahaman ajaran
Hindu. Saraswati digambarkan sebagai dewi pengetahuan yang melindungi umat
manusia, sebagai sosok wanita cantik yang merupakan perlambangan ilmu
pengetahuan yang suci, yang memberikan kesahajaan ke pada para pelajar. Pakaian
yang didominasi warna putih, duduk atau berdiri di atas bunga teratai, dan juga
terdapat angsa yang merupakan kendaraan sucinya, merupakan simbol dari
kebenaran sejati. Dewi Saraswati memitiki empat lengan yang melambangkan empat
aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan: pikiran
intelektual, waspada (mawas diri), dan ego. Pada masing-masing lengan
tergenggam empat benda yang berbeda, yaitu:[16]
a.
Lontar
(buku), adalah kitab suci Weda, yang melambangkan pengetahuan universal, abadi,
dan ilmu sejati.
b.
Genitri
(tasbih, rosario), melambangkan kekuatan meditasi dan pengetahuan spiritual.
c.
Wina
(kecapi), alat musik yang melambangkan kesempurnaan seni dan ilmu pengetahuan.
d.
Damaru
(kendang kecil), melambangkan semangat untuk menuntut ilmu.
IPTEK bagi Hindu merupakan pedang yang berharga yang
sebaiknya dimiliki untuk memotong keragu-raguan yang berasal dari kebodohan itu
sendiri, untuk bisa lepas dari kesengsaraan. Yang merupakan harta serta
kekayaan yang rahasia dan tidak kelihatan. Ilmu pengetahuan dapat membawa
manusia ada kemoksaan (kebebasan) bagi yang meyakininya.
3.4.
Buddha
Agama Buddha bukan agama yang anti terhadap IPTEK,
sepanjang digunakan untuk kemajuan batin dan menambah kebajikan. Penerapan
IPTEK merupakan jalur utama yang dapat memberikan kehidupan yang lebih baik,
dan menjadi media untuk melakukan kebajikan dan pada akhirnya mencapai
kebebasan.
Kemajuan IPTEK menjadi penting dalam Agama Buddha, karena
dapat bersinergi dengan ajaran Buddha. Buddha melihat bahwa IPTEK tanpa
kehadiran agama akan membahayakan kehidupan, dan sebaliknya agama tanpa
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi akan membuat kehidupan manusia
menjadi lumpuh dan tidak bisa melihat dunia luaar yang luas.[17]
Hubungan ajaran Buddha dengan IPTEK dapat dilihat
hubungannya melalui Panca Niyama (lima hukum/aturan) yang bekerja di alam
semesta ini, yaitu:[18]
1.
Utu
Niyama
Utu sendiri berarti benda mati, di mana yang dimaksudkan
adalah keberadaan materi non-organik. Utu Niyama dapat dipahami sebagai hukum
yang berhubungan dengan materi non-organik seperti fenomena cuaca/musim,
pergerakan angin, hujan dan angin, musim, dan lain sebagainya. Jadi dapat
dikatakan bila Utu Niyama ini memiliki keterkaitan dengan ilmu kimia, fisikan,
dan ilmu lainnnya yang berkaitan (ilmu cuaca, ilmu iklim, dan lain sebagainya).
2.
Bija
Niyama
Bija berarti benih/bibit, sehingga Bija Niyama diartikan
sebagai hukum yang berhubungan dengan materi yang hidup. Hukum ini berkaitan
dengan ilmu biologi.
3.
Citta
Niyama
Citta berarti pikiran. Citta Niyama mencakup segala hal
yang berkaitan dengan pikiran, proses berpikir, memahami, mengenali sesuatu,
kemampuan pikiran (telepati, membaca pikiran, dan sebagainya). Citta Niyama
memiliki keterkaitan dengan ilmu psikologi, dan sejenisnya.
4.
Kamma
Niyama
Kamma atau Karma berarti tindakan yang dilakukan dengan
kesadaran atau kemauan sendiri (cetana). Kamma Niyama mengatur hubungan antara
suatu perbuatan dengan hasi1 yang diperolehnya, sehingga hukum ini berkaitan
dengan ilmu pengetahuan tentang etika dan moral.
5.
Dhamma
Niyama
Hukum ini mengatur segala sesuatu yang ada di alam
semesta yang berhubungan dengan kejadian-kejadian yang khas, seperti keajaiban
alam. Hukum ini berdekatan dengan hukum gravitasi, kosmologi, dan yang sejenisnya.
Kelima hukum yang tersebut selalu berbicara mengenai
pengetahuan manusia yang bertujuan untuk memberikan kebajikan dalam menjalani
kehidupan, sehingga hal ini berkaitan dengan keberadan IPTEK yang dianggap
sebagai media untuk mengeskpresikan hukurn-hukum tersebut di dalam kehidupan
yang dijalani.
3.5.
Agama Khonghucu
Agama Khonghucu memandang IPTEK merupakan hasil dari
pemikiran manusia harus ditunjang oleh manusia yang memahami etika moral, patuh
dan sujud kepada Tian, Tuhan YME. Hanya orang-orang yang bercirikan “samcai”
akan mampu membangun dunia tertib dan damai. Bagi Agama Khonghucu orang yang
sudah memahami “samcai” boleh disebut Ru yang “Nei- sheng-wai-wang” , seorang
Ru yang menjadikan iman terhadap IPTEK. Karena
itu agama tidak menolak IPTEK hadi ditengah-tengah kehidupan mereka selama itu
masih beriringan dengan iman mereka. [19]
3.6.
Parmatim (Ugamo Malim)
Ugamo Malim (Parmalim) merupakan salah satu agama
tradisional di Indonesia yang berasal dari etnis Batak. Agama ini juga memiliki
ajaran atau doktrin yang menjadi pedoman hidup bagi setiap umatnya.
Pantun bagi Ugamo Malim, yaitu:
“Marpangkirimon do na mangoloi jala na mangulahon patik
ni Debata, jala dapotna do sogot hangoluan ni tondi asing ni ngolu ni diri on.”
Artinya:
“Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan
melakukannya dalam kehidupannya, memiliki pengaharapan, kelak ia akan mendapat
kehidupan roh suci yang kekal.”
Secara
implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugomo Malim (Parmalim) di
Tanah Batak sejak turun temurun. Prinsip Ugomo Malim juga berbicara mengenai
sikap untuk saling mengasihi dalam kehidupan, karena Tuhan selalu bersama umat
manusia.
Ugomo
Malimmenerima perkembangan jaman, baik itu IPTEK dan lainya, dengan tujuan
untuk meningkatkan kesejahteraan serta peradapan umatnya, dengan syarat bahwa
IPTEK itu tidak melanggar etika sosial sesuai tuntutan pengajaran Ugomo Malim.[20]Raja
Sisingamangaraja dan Raja Nasiakbagi menanamkan prinsip bagi para pengikutnya
untuk menerima perkembangan (IPTEK) tanpa mengorbankan nilai spritual Batak,
yaitu:
“Parbinotoan Naimbaru, Ngolu Naimbaru, Tondi Na
Marsihohot”
Artinya:
“Pengetahuan yang baru, Hidup yang baru, Kepercayaan yang
teguh.”
·
Parbinotoan
Naimbaru
Ugomo Malim menerima perkembangan IPTEK demi meningkatkan
kualitas sumber daya manusia.
·
Ngolu
Naimbaru
Ugomo Malim menerima perkembangan jaman untuk
meningkatkan kesejahteraan dan perpadan, tampa melanggar etika sosial sesuai
tuntutan ajaran Ugamo Malim.
·
Tondi
Na Marsihohot
Ugomo Malim tetap bertaqwa kepada Debata Mulajadi Nabolon
melalui ajaran Sisingamangaraja – Raja Nasiakbagi tampa dipengaruhi oleh
keyakinan agama lain (keteguhan).
Contoh
ketidak kakuan Ugamo Malim terhadap IPTEK adalah sejarah anak tunggalnya Raja
Unggkap yang di sekolahkan ke sekolah indenpendent yang dikelola Lembaga
Pendidikan Inggris di Tambunan, yang
berbasis di Singapura. Pada awalnya para tokoh Parmalim menganggap Raja Ungkap
akan menjadi lawan setelah menerima pendidikan modern dan pergaulan dengan
orang asing. Namun Raja Ungkap membuktikan dirinya, meskipun perjalan yang ditempuh
tidak terlalu mulus, ia mendirikan Sekolah Parmalim (Parmalim School) tanggal
01 November 1932. Sejak itu banyak anak Parmalim mendapatkan pendidikan, dan
tumbuhlah generasi muda yang lebih cerdas.
IV.
Penutup: Analisa Kesimpulan
4.1.
Analisa
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merupakan hal-hal
yang dikembangkan melalui ide-ide yang ada pada manusia. Pandangan berbagai
agama yang ada di atas memahami ide tersebut sebagai anugerah yang diberikan
oleh Sang Pencipta melalui alam maupun ilham/wahyu-Nya ke pada manusia. Sehingga
IPTEK dapat dihasilkan manusia melalui berbagai cara yang telah diaturkan oleh
pencipta. Lalu, iman percaya setiap umat beragama memang tidaklah sama secara
eksistensi, karena Agama Kristen mengimani Yesus Kristus, Agama Islam pada Nabi
Muhammad, Hindu-Buddha dan Khonghucu pada dewa-dewa, dan seterusnya. Perbedaan
dasar iman juga mempengaruhi pandangan setiap agama, apalagi mengenai IPTEK
yang mempunyai ragam penjelasan mengenai kehadirannya. Akan tetapi setiap
pandangan agama yang telah diuraikan di atas, baik itu Agama Kristen, Agama
Islam, Agama Hindu, Agama Buddha, Agama Khonghucu dan Ugamo Malim (Parmalim),
memiliki kesamaan pandangan mengenai IPTEK, di mana kelima agama tersebut tidak
menolak IPTEK yang berkembang di tengah-tengah umat manusia, namun dengan
syarat bahwa IPTEK itu harus berjalan atas dasar nilai-nilai dan norma sosial
serta mensejahterahkan kehidupan manusia. Selain itu, keenam agama ditambah
dengan agama suku tersebut juga menjelaskan bahwa IPTEK merupakan manifestasi
allahnya masing-masing untuk membantu manusia dalam menjalani kehidupannya dan
semakin menyadari kehadiran Sang Pencipta.
Albert
Einstein menyatakan ilmu tampa agama buta dan agama tampa ilmu lumpuh.[21]Hal
ini menunjukkan bahwa IPTEK membutuhkan agama, dan begitu juga sebaliknya agar
keberadaan dapat menjadi alat untuk memajukan kehidupan manusia. Pada dasarnya,
apa yang diajarkan oleh agama adalah kasih sayang dan cara-cara hidup mampu
untuk berdampingan dengan seluruh
ciptaan. Padahal inilah IPTEK mengambil perannya untuk menjadi tanda kehadiran
dari setiap ajaran yang disampaikan. Dan pada konteks Indonesia yang trdiri
dari masyarakat yang beraneka ragam dan relegius (beragama) membutuhkan kerja
samadiantara agama-agama tersebut, baik itu agama dunia maupun agama
tradisional, untuk menghadapi pengaruh negatif IPTEK yang sudah banyak terjadi.
4.2.
Kesimpulan
Ada 5 (lima) pandangan dari agama-agama yang berbeda dan
ditambah 1 agama suku Batak yang ada di Indonesia mengenai IPTEK. Kristen memahami
IPTEK sebagai anugerah Allah yang berkaita dengan iman; Islam menerima IPTEK
asal sesuai dengan syariah; Hindu memandang IPTEK sebagai hal yang dapat
membebaskan manusia dari kegelapan; Buddha memahami IPTEK sebagai kebajikan
manusia untuk hidup sejahtera; Khonghucu memandang IPTEK sebagai ilmu yang
harus di ikuti tetapi harus memiliki samcai yaitu iman yang kuat dan Parmalim
juga tidak menolok kehadiran IPTEK selama itu tidak mengorbankan nilai-nilai
spritual.
Setiap
pemahaman agama terhadap IPTEK tersebut menunjukkan adanya tujuan yang sama,
dan kondisi ini menjadi motivasi positif yang dapat membangun kehidupan bangsa,
terkhususnya bangsa Indonesia. Oleh karena itu, baiknya setiap agama memiliki
sikap yang pruralis dn inklusif
terhadapa pandangan agama lain., dan melihat kesamaan tujuan ini
agar terwujud kesatuan didalam perbedaan layaknya semboyan Bhineka Tunggal Ika yang da dilambang negara Indonesia, Garuda.
Perkembangan IPTEK menimbulkan konflik batin dalam
kehidupan banyak kaum
muda. Kaum mudalah
yang paling banyak menyerap hasil perkembangan IPTEK. Mereka pula yang terkena dampak negatif
secara langsung dari penggunaan produk-produk IPTEK. Menumbuhkan moralitas kaum muda
menjadi penting mengingat bahwa
kaum muda adalah kendali bagi pengembangan IPTEK di masa mendatang. Itulah sebabnya perlu dikaji di sini
hubungan antara agama dan IPTEK, bagaimana hubungan
itu mesti dilihat dan bagaimana mengembangkan moralitas kaum muda dalam konteks hubungan keduanya.[22]
Di tengah perkembangan IPTEK, agama ditantang untuk
memberikan refleksi cerdas
yang mencerahkan bagi manusia modern. Pemahaman dan penghayatan agama yang dipersempit hanya pada
tataran dogma (yang berciri deduktif dan otoritatif)
dan hukum-hukum yang mengarahkan pada kehidupan sorgawi tidaklah memadai. Agama perlu membantu manusia
untuk merefleksikan dan memaknai berbagai
pengalaman konkrit di tengah hiruk pikuk di dunia ini. Selain itu, di tengah mentalitas modern
yang menghembuskan optimisme terhadap kekuatan akal budi manusia, agama perlu membantu
menumbuhkan kesadaran insani bahwa hidup manusia
bukanlah sekadar proses alami, melainkan proses kultural dan religious yang menghadirkan keutuhan hidup dan
mengarahkan pada cakrawala tujuan hidup
tertinggi yang melampaui hal-hal material dan historis duniawi.[23]
Agama dan keyakinan iman tidak perlu dipertentangkan
dengan perkembangan IPTEK.
Manusia beragama dan manusia IPTEK
adalah makhluk yang sama sebagai
cipataan Tuhan, penghuni alam semesta ini. Keyakinan iman seharusnya memberi pencerahan bagi pengembangan
IPTEK agar manusia tetap menyadari keterbatasannya.
Sehebat apapun manusia dan IPTEK yang dikembangkan, ia tidak mampu menguak semua misteri kehidupan
dan alam semesta ini. Kegagalan IPTEK untuk
menjelaskan peristiwa kehidupan dan berbagai peristiwa alam semesta juga tidak perlu membuat manusia merasa
pesimis terhadap hidup dan masa depannya. Manusia
tidak hanya bisa belajar dari segala potensi dirinya yang mendatangkan optimisme. Ia juga bisa belajar dari
kegagalannya dan memaknai keterbatasannya untuk
menegaskan bahwa ada kuasa adi kodrati yang terlibat dalam sejarah hidup manusia. Di tengah perkembangan IPTEK
agama justru ditantang menegaskan kekhasan
refleksi dan sumbangannya bagi perkembangan peradaban umat manusia. Usaha manusia untuk mengembangkan IPTEK
tetap mempertimbangkan perkembangan keutuhan pribadi manusia dengan segala
dimensi yang dimilikinya. Kesadaran
akan multidimensionalitas ini menyadarkan bahwa baik IPTEK maupun agama
perlu terus menerus berdialog
satu sama lain dan berdialog dengan kenteks hidup
manusia serta kekuatan adikodrati yang membimbing manusia menuju perwujudan dirinya secara utuh.[24]
IPTEK sebagai bagian tak terpisahkan dari peradaban
modern adalah potensi besar
untuk membantu manusia dalam mengembangkan agama yang berwajah manusiawi dan semakin relevan. Berbagai
sarana komunikasi dan multimedia yang
merupakan produk dari IPTEK telah dimanfaatkan oleh agama untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Dengan
demikian, dogma dan norma-norma moral
bisa disampaikan tidak hanya melalui bahasa diskursif-doktriner (instruktif) melainkan juga dalam bahasa yang populis
pesuasit-dialogis. Di tengah situasi masyarakat
yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis, pendekatan humanis dengan bahasa persuasif-dialogis akan
lebih mudah dicerna banyak kalangan dari pada
dari pada bahasa doktriner konspetual (yang cenderung elitis). Maka, para pemimpin agama dan pengjaran agama
kiranya perlu menjalin kerjasama dan dialog intensif
dengan berbagai kalangan agar dapat membahasakan dan menghadirkan agama dalam secara humanis dan
kontekstual. Sebaliknya, para ilmuwan perlu membuka
diri untuk berdialog dengan berbagai kalangan, termasuk agamawan, agar mereka mampu merefleksikan dan
memaknai IPTEK dalam keutuhan dimensi manusia.
Dalam
dialog kritis kiranya kita makin disadarkan bahwa iman yang menolak ilmu pengetahuan bukan merupakan sikap
iman yang benar. Sebaliknya, hanya menerima
ilmu dan mengabaikan iman, juga bukan sikap
ilmiah yang benar, sebab
akal budi manusia ada batasnya. IPTEK tanpa iman dapat mengarah pada penyalahgunaan IPTEK. Pengembangan IPTEK
menjadi liar dan bisa kehilangan orientasinya
pada pengembangan keutuhan hidup manusia. Penyalahgunaan IPTEK untuk tindak kejahatan seperti
penggunaan bom atom untuk perang, teknologi
pencurian data dan informasi, teknik aborsi, dan penghancuran alam dengan menggunakan dinamit merupakan
bukti bahwa IPTEK yang dipisahkan dari norma-norma
moral (dan agama) jugstu akan menghancurkan manusia dan masa depan kehidupan. Maka, pendidikan dan
kuliah agama bagi kaum muda akan lebih menyentuh
nurani mereka melalui pembelajaran bersama secara dialogis (learning community) mengenai penanganan terhadap
berbagai persoalan kemanusia konkrit dan
pengalaman kebersamaan di tengah suka-duka kehidupan.
Dengan demikian, pendidikan
dan kuliah agama merupakan kesempatan untuk mengembangkan komunitas belajar tentang makna hidup
dan mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan secara
nyata. Agama adalah tempat untuk memelihara dan
mengungkapan iman. Dalam agama,
iman mendapat bentuk yang khas, yang memampukan orang beriman untuk mengkomunikasikan imannya kepada sesama.
Dengan bantuan ilmu pengetahuan, orang
beriman diharapkan semakin mampu berdialog secara lebih luas dalam menjalankan tanggungjawabnya untuk
meningkatkan kualitas hidup bersama dan melestarikan
alam semesta. Iman memberi warna terbangunnya visi hidup dan tanggungjawab sosial. Bagi para
cendekiawan, iman mencerahi moralitas, yaitu visi dan
tindakan nyata dalam mengembangkan ilmu dalam rangka mewujudkan nilainilai kemanusiaan di tengah masyarakat.[25]
Pertentangan antara agama dan IPTEK terjadi karena adanya sikap curiga dan sikap kurang terbuka baik dari sisi pemeluk agama dan ilmuwan. Hal itu terjadi ketika agama dipahami secara sempit sebagai aturan beku dan peribadatan belaka yang tidak boleh dikritisi dan ilmu menempatkan diri sebagai oposisi terhadap agama. Meskipun agama dan IPTEK masing-masing bersifat otonom, artinya masingmasing memiliki hukum-hukum dan nilai-nilai sendiri, keduanya mempunyai subyek yang sama, yaitu manusia. Manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan berhati nurani mempunyai tanggungjawab moral untuk mengembangkan IPTEK supaya dapat membantu memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan. Bagi umat beragama tidak ada alasan untuk mempertentangkan atau menolak IPTEK. Justru dengan mengembangkan IPTEK manusia ikut terlibat dalam pekerjaan Allah untuk membangun dan menyelamatkan dunia. Bagi para ilmuwan juga tidak ada alasan untuk menolak agama, karena inti pokok agama adalah iman yang harus dipertanggungjawabkan dalam perbuatan di segala bidang kehidupan, termasuk pengembangan IPTEK. Tanggungjawab dan tindakan untuk menggembangkan hidup pribadi dan bersama dalam segala dimensinya merupakan inti moralitas hidup manusia. Pembelajaran agama akan menjadi praksis pengembangan moralitas generasi muda ketika proses pembelajaran tersebut memberi ruang bagi refleksi iman atas pengalaman dan persoalan hidup, termasuk yang ditimbulkan oleh IPTEK.
Kesimpulan
Dari Tambahan Pribadi:
Setelah kita melihat secara seksama tentang perkembangan IPTEK dan berbagai persoalan yang diakibatnya, masa depan dari agama-agama dewasa ini sangat ditentukan oleh seberapa serius agama-agama itu menanggapi masalah-masalah aktual yang ada ditengah masyarakat. Ketika agama hanya sibuk memberikan pengajaran konseptual, mengurusi soal-soal kultus dan tidak peka terhadap persoalan konkrit, agama semakin ditinggalkan oleh orang-orang yang mengatasnamakan generasi modern. Dengan demikian kepercayaan kepada Tuhan memberikan kekuatan pada orang beriman untuk bertahan tidak hanya dalam suka, tetapi juga dlam duka, sehat atau sakit, keberhasilan atau kegagalan. Dengan kata lain iman kepada Tuhan memberikan kebebasan dalam pelbagai keadaan
Internet:
1. Dilihatya.com/2522/pengertian-pitek-menurut-para-ahli
2. http://kbbi.web.id/teknologi dan http://kbbi.web.id/ ilmu-pengetahuan
3. http://www.penegertianmu.com/2016/10/pengertian-iptek-menurut
para ahli. html
4. Lih. http://www.
Geocities.ws/shandy_sheva/p12073574ro/imankristendaniptek.html
5. http://ldk.stmik-dci.oc.id/?post=pandangan-islam-terhadap-ilmu-pengetahuan-dan-tekonologi
6. https://pasirpanjang.wordpress.com/2012/11/29/iptek-dalam-pandangan-agama-islam/
7.
http//documentslide.com/dokuments/paper-iptek-dalam-kontek-hindu-htm
8. http://matapelajaranagama.blogspot.co.id//2016/07/pandangan-agama-buddha-terhadap-ilmu.html
9. http://www.academia.edu/11450654/AGAMA_BUDDHA_DAN_IPTEK_ATAU_SAINS_MODERN
10. https://www.scribd.com.document/18013462/Agama-Malim
[1] Lih. Dilihatya.com/2522/pengertian-pitek-menurut-para-ahli,
yang diunduh pada hari Jumat, 31 Maret 2017 pukul 21.04 WIB.
[2] Lih. http://kbbi.web.id/teknologi
dan http://kbbi.web.id/ ilmu-pengetahuan, yang diunduh pada hari Jumat, 31 Maret 2017
pukul 20.03 WIB
[3] Lih. Poerbahawadja Harahap, Ensiklopedia
Pendidikan, (Jakarta: PT. Gunung Agung, 1982), hlm. 65-67
[4] Lih. John Naisbitt, High Tech High Touch,
(Bandung: Mizan, 2002), hlm. 89-90
[5] Lih. Yusufhadi Miarso, Menyemai
Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Pustekom Diknas, 2007), hlm. 41
[6] Lih. http://www.penegertianmu.com/2016/10/pengertian-iptek-menurut para ahli. html, yang diunduh pada hari
Jumat, 31 Maret 2017 pukul20:40 WIB.
[7] Lih. http://www.
Geocities.ws/shandy_sheva/p12073574ro/imankristendaniptek.html, yang diunduh pada hari Juma, 31 Maret
2017 pukul 22.06 WIB.
[8] Edward W.A Koerhler, Intisari Ajaran Kristen, terj.
Mangisi S.E. Simorangkir, dkk, (Macomb, Michigan: Lutheran Heritage
Foundation, 2010), hlm. 149-153
[9] Lih. Wahyudin, Ahmad, dkk, Pendidikan
Agama Islam, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), hlm. 82-83
[10] Lih. Wahyudin, Ahmad, dkk, Pendidikan
Agama Islam, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), hlm. 84
[11] Lih. Wahyudin, Ahmad, dkk, Pendidikan
Agama Islam, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), hlm. 85
[12] Lih. http://ldk.stmik-dci.oc.id/?post=pandangan-islam-terhadap-ilmu-pengetahuan-dan-tekonologi, yang diunduh pada hari minggu, 02 April
2017 pukul 19.08 WIB.
[13] Lih.
https://pasirpanjang.wordpress.com/2012/11/29/iptek-dalam-pandangan-agama-islam/,
yang diunduh pada hari Minggu, 02 April 2017 pukul 19.52 WIB.
[14] Lih. Ida Bagus Sudirga, I Nengah Mudan, Ni
Wayan Suratmini, I Made Arya, Widya Dharma: Agama Hindu, ed. I.G.B. Widyantara,
(Jakarta: Ganca Exact, 2007), hlm. 52-53
[15] Lih. http//documentslide.com/dokuments/paper-iptek-dalam-kontek-hindu-html,
yang diunduh pada hari Minggu, 02 April 2017 pukul 21.03 WIB.
[16] Lih. Ida Bagus Gede Agastia, Saraswati
Simbol Penyadaran dan Pencerahan, (Warta Hindu Dharma, 1997), hlm.
30-34
[17] Lih. http://matapelajaranagama.blogspot.co.id//2016/07/pandangan-agama-buddha-terhadap-ilmu.html, yang diunduh pada hari Senin, 03April
2017 pukul 08.59 WIB.
[18] Lih. http://www.academia.edu/11450654/AGAMA_BUDDHA_DAN_IPTEK_ATAU_SAINS_MODERN, yang diundu pada hari Senin, 03 April
2017 pukul 08.59 WIB.
[19] Indarto, Xs, Buku Pelajaran Ru-Jiao Pemula,
(Makalah:2010), hlm. 18
[20] Lih. https://www.scribd.com.document/18013462/Agama-Malim, yang diunduh pada hari Senin, 03 April
2017 pukul 16.37 WIB.
[21] Lih. Ida Bagus Sudirga, Widya
Dharma: Agama Hindu, hlm. 52
[22] Lih. J. Riberu, Mencari Tulang Punggung
Kemandirian Pada Ajaran Iman, (Prisma 14, 1985), hlm. 75-85
[23] Lih. J. Sudiarja, Pendidikan Agama dan Zaman yang
Berubah, Basis 07-08,
(Juli-Agustus 2003), hlm. 09
[24] Lih. M. Pelleerey, Spritualita ‘e educazione,
(LIX, 2002), hlm. 43-44
[25] Lih. S. Lili Tjahyadi, Tantangan
Ateisme bagi Agama dan Teknologi, (Dikursus, 2008), hlm. 153
Tidak ada komentar:
Posting Komentar