Selasa, 25 Juli 2023

TEOLOGI AGAMA-AGAMA: “ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI IPTEK"

 

I. Pendahuluan

Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan yang selalu mengalami perkembangan, mulai dari kemajuan peradaban hingga pada pola pikir dan pola hidup yang semakin berkembang. Hal ini tentu mempengaruhi hasil pikiran manusia yang tertuang pada ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga akan selalu terjadi perkembangan. Apa lagi melihat zaman sekarang ini yang menunjukkan perkembangan pengetahuan dan teknologi yang sudah sangat maju, dan telah menyumbangkan setiap pengaruhnya baik itu positif maupun negatif.

Sebagai ciptaan ilahi, menurut religiusitas manusia, memberikan pemahaman bahwa IPTEK yang merupakan hasil dari anugerah kepada manusia berkaitan dengan sang pencipta. Namun di Indonesia sendiri ada banyak agama-agama yang ada, mulai dari agama tradisional/agama suku hingga ke pada agama-agama dunia. Sejauh ini agama yang diakui pemerintahan ada 6 (Enam) agama, yaitu: Agama Islam, Agama Kristen Protestan, Agama Kristen Katolik, Agama Hindu, Agama Budha, Konghucu dan Agama Suku Batak di Indonesia yaitu Ugamo Malim (Parmalim). Oleh karena itu, kami akan menyajikan pandangan berdasarkan data yang ada dari beberapa agama yang ada di Indonesia mengenai IPTEK. Hal ini bukan dimaksudkan untuk memperdebatkan setiap pandangan, tetapi agar kita mampu memahami pandangan agama lain dan menghargai pandangan tersebut. Sajian ini juga kami harapakan dapat menambah wawasan mengenai pemahaman agama lain mengenai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan melihat bagaimana kesatuan tujuan yang ada.

II. IPTEK: Etimotogi

IPTEK merupakan bentukan atau akronim dari kata Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi. Teknologi sendiri berasal dari Bahasa Yunani tekne yang berarti “pekerjaan”, dan logos yang berarti suatu “ilmu” mengenai peralatan, prosedur, dan metode yang dipakai di berbagai cabang industri.[1]

2.1. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Kamus Besar Bahasa Indonesia mencantumkan pengertian mengenai IPTEK dengan menjelaskannya secara kata-per-kata, antara lain.[2]

·         Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan merupakan seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

·         Teknologi

Teknologi merupakan metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; Ilmu pengetahuan terapan; Keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Jadi, IPTEK merupakan ilmu yang dapat memberikan kontribusi besar terhadap manusia dalam menyumbangkan pengetahuan/teori dan praksis di setiap pola kehidupan.

2.2.  Defenisi Para Ahli

Ada banyak pendapat para ahli untuk menjelaskan apa IPTEK itu. Maka, berikut dicantumkan defenisi mengenai Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi (IPTEK) yang dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain:

a.       Poerbahawadja Harahap[3]

IPTEK adalah sebuah ilmu tentang teknik yang akan memacu kita untuk mengetahui akan bidang industri. IPTEK merupakan sebuah yang akan menjadikan kita lebih mampu mengerjakan pekerjaan yang lebih praktis dan lebih mudah. Dan IPTEK juga akan banyak kita temukan ditempat-tempat industri dan pabrik.

b.      John Naisbitt[4]

IPTEK adalah sebuah alat atau benda yang wujudnya berbeda dengan manusia biasa. Namun disamping wujudnya berbeda, IPTEK akan mampu membantu kita dalam mengerjakan perkerjaan yang kita kerjakan dengan tangan langsung.

c.       Yusufhadi Miarso[5]

IPTEK adalah sebuah upaya untuk mendapatkan sebuah hal yang lebih. Seperti pekerjaan yang biasanya dikerjakan dengan target standart, dengan IPTEK, akan menjadikan kita lebih mampu untuk mendapatkan hasil yang lebih dari biasanya. Dan itu menjadi sebuah keuntungan untuk kita. Apalagi orang yang menjalankan usaha dan juga produksi. IPTEK menjadi alat yang akan membantu dalam produksi banyak.

d.      Read Bain[6]

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merupakan sebuah alat atau mesin yang akan membantu manusia dalam mengerjakan segala pekerjaan. IPTEK yang berupa alat dan mesin itu, akan mampu menjadi seorang manusia yang juga kan mampu mengerjakan hal yang sama. Dan dengan begitu. IPTEK itu akan mampu membantu kita dalam pekerjaan dan juga produksi.

III. IPTEK dari Sudut Pandang Beberapa Agama di Indonesia

3.1. Kristen

IPTEK sudah dimulai sejak zaman Alkitab atau sejak awal sejarah manusia, dalam pandangan keKristenan. Dan berdaasarkan teks yang ada di Alkitab, setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, ide dan pemikiran manusia selalu dipengaruhi oleh dua kekuatan. (1). Manusia dengan ide dan pemikiran yang telah dipulihkan oleh Allah melalui kematian Yesus Kristus, atau (2). Ide dan pemikiran yang tetap dalam dosa.

 

·         IPTEK dalam sejarah Alkitab[7]

Kejadian atau peristiwa yang menunjukkan bahwa pada sejarah Alkitab sudah terasa bagaimana kehadiran IPTEK itu sendiri di dalam kehidupan ciptaan, antara lain:

Peristiwa air bah, di mana Allah memerintahkan Nuh membuat kapal (bahtera) untuk menyelamatkan ia dan keluarganya dari kebinasaan akibat air bah dan dosa dunia pada waktu itu. Dimensi ruang dalam kapal ataupun bahan telah ditentukan oleh Allah (Kej. 6:14-15). Musa diperintahkan untuk membuat Kemah Suci (Kel. 25:9), Allah sendiri telah menjadi arsitek yang merencanakan ruang-ruang, dimensi, dan bahan yang hendak digunakan (Kel. 25:1-27:21). Proses Bait Suci dan istana yang dibangun oleh Raja Salomo (I Raj. 7-8). Akan tetapi di sisi lain, kita akan melihat bahwa Allah juga menentang setiap penciptaan teknologi yang bermotivasikan kesombongan/memuliakan diri sendiri. Allah memporak-porandakan Babel (Kej. 11:1-9), yang ditentang bukanlah pendirian kota dan menara Babelnya, tetapi motivasi manusia saait itu yang ingin mencarri nama dan ingin menyamai Allah (Kej. 11:4). Ketika murid-murid menujuk pada pembangunan Baik Suci, Yesus mengatakan bahwa bangunan tersebut akan diruntuhkan (Mat. 24: 1-2). Tuhan Yesus juga menentang penyalah-gunaan fungsi Bait Suci yang dibangun selama empat puluh enam tahun (Yoh. 2:16).

Hal ini menunjukkan bila IPTEK telah dimulai sejak awal sejarah manusia yang tertulis dalam kitab Alkitab. Allah sendiri adalah pencipta alam semesta, dan memberikan ide-ide terhadap manusia untuk melahirkan IPTEK. Tujuan kemampuan yang diberikan kepada manusia adalah untuk memuji nama Allah (1 Kor. 10:13), sehingga Ia akan memberikan hukuman bagi setiap manusia yang menggunakan kemampuan itu atas dasar kesombongan. Sejarah kehadiran IPTEK di dalam Alkitab juga menunjukkan bahwa Allah tidak pernah menghalangi ataupun menutupi segala perkembangan IPTEK, karena setiap ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dikaitkan dengan keselamatan yang dimaksud Allah terhadap seluruh ciptaan.

·         Iman Kristen dan IPTEK

Iman merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah kepada manusia untuk percaya kepada-Nya. Untuk menjadi percaya dibutuhkan pengetahuan, maka pengetahuan dan kepercayaan dipahami dalam arti yang lebih utuh, sehingga mencakup keyakinan hati, maka seperti dalam Yoh. 17:3 dan 1 Yoh. 5: 1 yang menggambarkan iman secara menyeluruh. Iman itulah yang kemudian mendorong manusia melakukan perbuatan baik.[8]

            Hal ini menujukkan bahwa seharusnya iman sejalan dengan IPTEK, karena hal ini merupakan hasil dari pemikiran dan perbuatan yang diberikan Allah kepada manusia melalui iman. IPTEK juga dapat menjadi cerminan sikap Kristiani yang bertanggung jawab terhadap tugas yang memberikan Allah kepada manusia ( Kej. 1:28), yaitu untuk menguasai IPTEK untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan. Oleh karena itu, IPTEk haruslah sesuai dengan norma-norma Allah. Agama Kristen dengan ilmu pengetahuan dapat seling menopang satu sama lain. Iman Kristen mengenai IPTEK adalah percaya mendahului pengetahuan, karena untuk memperoleh ilmu yang sejati, pertama-tama manusia harus mempunyai rasa ahormat dan takut kepada Tuhan, karena orang bodoh tidak menghargai hikmat dan tidak mau diajar (Ams 1:7).

3.2. Islam

Agama Islam bersumber dari wahyu Allah, sedangkan ilmu pengetahuan bersurnber dari pikiran manusia yang disusun berdasarkan hasil penyelidikan alam. IPTEK dalam Islam dipandang sebagai kebutuhan manusia, karena itu Islam memandang IPTEK sebagai bagian dari pelaksanaan kewajiban manusia sebagai makhluk Allah yang berakal. IPTEK merupakan sarana bagi manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi, dengan IPTEK manusia juga dapat menghayati kekuasaan Allah secara mendalam dan empiris, sehingga kualitas keimanannya kepada Allah semakin kuat. Agama Islam menempatkan IPTEK di atas dasar keimanan dan ketakwaan.

Wahyudin menyatakan bahwa penguasaan, pengembangan, dan pendayagunaan IPTEK harus senantiasa berada dalam jalur-jalur nilai keimanan dan kemanusiaan. IPTEK dan segala hasilnya dapat diterima oleh Islam manakala bermanfaat bagi kehidupan manusia. Jika penggunaan hasil IPTEK akan melalaikan seseorang dan dzikir-tafkkur, serta mengantarkan kepada rusaknya nilai-nilai kemanusiaan, maka Islam dengan tegas menolaknya.[9]

Islam sebagai agama memiliki tiga aspek ajaran, yaitu: moral, aqidah, dan syariah, senantiasa mengukur segala sesuatu (benda-benda, karya seni, aktivitas) dengan pertimbangan-pertimbangan yang berdasar pada ketiga aspek tersebut. Dalam perspektif Islam, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni merupakan hasil pengembangan potensi manusia yang telah diberikan oleh Allah dalam bentuk akal dan budi. IPTEK haruslah membuat manusia semakin mendekatkan diri pada Allah. Sumber pengembangan IPTEK dalam Islam adalah wahyu Allah. IPTEK yang Islami selalu mengutamakan dan mengedepankan kepentingan orang banyak dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia. IPTEK dalam pandangan Islam tidak bebas nilai.[10]

IPTEK yang dikembangkan di atas nilai-nilai iman dan ilmu akan menghasilkan amal saleh, di mana pengembangan ini merupakan hasil dari integrasi antara iman, ilmu, dan amal (Al-Quran surat Irahim: 24-25). Agama Islam merupakan agama yang menghargai ilmu pengetahuan. Islam juga menekankan, atau juga mewajibkan, agar umatnya mengusahakan dan menuntut ilmu pengetahuan.[11] Hal ini dikarenakan pentingnya ilmu dalam kehidupan umat manusia. Ayat Al-Qur'an yang berkenaan dengan pendidikan adalah sebagai berikut:[12]

Qs. Al-Alaq 1-5.

“(1). Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan (2). Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3). Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha pemurah. (4). Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan alam. (5). Dia mengajar ke pada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

QS. Az-Zumar 9:

Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang-orang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Al-Mujadalah 11:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahuai apa yang kamu kerjakan.”

Ajaran agama Islam tidak meigekang umatnya untuk maju dan modern, namun mendukung umatnya. IPTEK merupakan anugerah Allah SWT ke pada manusia untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. IPTEK menjadi media untuk menerapkan Aqidah Islam sebagai paradigma pemikiran dan ilmu pengetahuan, dan menjadikan Syariah Islam sebagai standar penggunaan IPTEK.[13] Dan pada dasamya Al-Quran telah mendorong manusia untuk berteknologi supaya kehidupan manusia meningkat. Pada masa Nabi sudah ada penemuan-penemuan yang bisa dinamakan dengan IPTEK, seperti halnya dalam dunia pertanian.

3.3. Hindu

Agama Hindu memandang IPTEK sebagai pengetahuan, hal yang sangat diagungkan sebagai suatu anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang didasari dharma, sehingga ketika seseorang memanfaatkan pengetahuan itu diharapkan selalu mengingat Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai suatu bentuk pengalaman dari berkarma berdasarkan dharma, dan kemudahan serta kenikmatan yang dapat diberikan oleh hasil pengembangan.

Catur Asrama (empat tahap kehidupan) pada ajaran Hindu yang terdiri dari: Brahmacari  (Brahmacarya),  Grehastha, Wanaprastha, dan Bhiksuka. Ajaran Brahmacari itulah yang menghubungkan Agama Hindu dengan IPTEK, karena Brahmacari Asrama merupakan masa menuntut ilmu, yakni masa belajar dan berjuang, mengisi diri menuju peringkat hidup yang lebih baik, dalam usaha melenyapkan atau menghilangkan kegelapan menuju kecerdasan. IPTEK haruslah seimbang dengan imtak (iman dan takwa). Menurut ajaran Agama Hindu saat berada dalam Brahmacari Asrama manusia dilarang mengumbar hawa nafsu. Semua kekuatan jasmani dan rohaninya sebagian besar hendaknya diarahkan untuk pembentukan kecerdasan otak yang disebut dengan Oyas Sakti dan sebagiannya lagi diarahkan untuk kesegaran jasmani.[14]

Hindu memandang ilmu pengetahuan sebagai hal yang memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang cukup dianggap telah mampu menunjukkan dirinya sebagai seseorang yang bermanfaat.

Pada sloka "Canakya Niti Sastra" Bab X Ayat 1, disebutkan:

Vhana hina na hinas ca

dhanikah sa suniscayah

vydiratnena yo hinah

sa hinah sarvavastusu.

Artinya:

“Orang yang kurang dalam harta benda, bukanlah orang miskin

Sebaliknya orang kaya adalah dia yang memiliki ilmu pengetahuan

Dia yang kurang dalam ilmu pengetahuan, sesungguhnya dalam segala keadaan ia disebut orang miskin.”

Canakya Niti Sastra dan Niti Sataka menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pengetahuan dapat dipandang sebagai kamadhenu: "yang dapat memenuhi segala keinginan setiap saat bagaikan seorang ibu yang selalu memelihara kita, kekayaan atau harta adalah memiliki pengetahuan, memiliki kegunaan sebagai seorang manusia. Pengetahuan adalah kekayaan yang tidak dapat dicuri, semakin banyak pengetahuan itu diajarkan, maka pengetahuan itu makin berkembang."[15]

·         Simbol ilmu pengetahuan dalam Agama Hindu

Simbol pengetahuan di dalam Agama Hindu adalah Dewi Saraswati yang memiliki peran penting dalam perkembangan pemahaman ajaran Hindu. Saraswati digambarkan sebagai dewi pengetahuan yang melindungi umat manusia, sebagai sosok wanita cantik yang merupakan perlambangan ilmu pengetahuan yang suci, yang memberikan kesahajaan ke pada para pelajar. Pakaian yang didominasi warna putih, duduk atau berdiri di atas bunga teratai, dan juga terdapat angsa yang merupakan kendaraan sucinya, merupakan simbol dari kebenaran sejati. Dewi Saraswati memitiki empat lengan yang melambangkan empat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan: pikiran intelektual, waspada (mawas diri), dan ego. Pada masing-masing lengan tergenggam empat benda yang berbeda, yaitu:[16]

a.       Lontar (buku), adalah kitab suci Weda, yang melambangkan pengetahuan universal, abadi, dan ilmu sejati.

b.      Genitri (tasbih, rosario), melambangkan kekuatan meditasi dan pengetahuan spiritual.

c.       Wina (kecapi), alat musik yang melambangkan kesempurnaan seni dan ilmu pengetahuan.

d.      Damaru (kendang kecil), melambangkan semangat untuk menuntut ilmu.

IPTEK bagi Hindu merupakan pedang yang berharga yang sebaiknya dimiliki untuk memotong keragu-raguan yang berasal dari kebodohan itu sendiri, untuk bisa lepas dari kesengsaraan. Yang merupakan harta serta kekayaan yang rahasia dan tidak kelihatan. Ilmu pengetahuan dapat membawa manusia ada kemoksaan (kebebasan) bagi yang meyakininya.

3.4. Buddha

Agama Buddha bukan agama yang anti terhadap IPTEK, sepanjang digunakan untuk kemajuan batin dan menambah kebajikan. Penerapan IPTEK merupakan jalur utama yang dapat memberikan kehidupan yang lebih baik, dan menjadi media untuk melakukan kebajikan dan pada akhirnya mencapai kebebasan.

Kemajuan IPTEK menjadi penting dalam Agama Buddha, karena dapat bersinergi dengan ajaran Buddha. Buddha melihat bahwa IPTEK tanpa kehadiran agama akan membahayakan kehidupan, dan sebaliknya agama tanpa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi akan membuat kehidupan manusia menjadi lumpuh dan tidak bisa melihat dunia luaar yang luas.[17]

Hubungan ajaran Buddha dengan IPTEK dapat dilihat hubungannya melalui Panca Niyama (lima hukum/aturan) yang bekerja di alam semesta ini, yaitu:[18]

1.      Utu Niyama

Utu sendiri berarti benda mati, di mana yang dimaksudkan adalah keberadaan materi non-organik. Utu Niyama dapat dipahami sebagai hukum yang berhubungan dengan materi non-organik seperti fenomena cuaca/musim, pergerakan angin, hujan dan angin, musim, dan lain sebagainya. Jadi dapat dikatakan bila Utu Niyama ini memiliki keterkaitan dengan ilmu kimia, fisikan, dan ilmu lainnnya yang berkaitan (ilmu cuaca, ilmu iklim, dan lain sebagainya).

2.      Bija Niyama

Bija berarti benih/bibit, sehingga Bija Niyama diartikan sebagai hukum yang berhubungan dengan materi yang hidup. Hukum ini berkaitan dengan ilmu biologi.

3.      Citta Niyama

Citta berarti pikiran. Citta Niyama mencakup segala hal yang berkaitan dengan pikiran, proses berpikir, memahami, mengenali sesuatu, kemampuan pikiran (telepati, membaca pikiran, dan sebagainya). Citta Niyama memiliki keterkaitan dengan ilmu psikologi, dan sejenisnya.

4.      Kamma Niyama

Kamma atau Karma berarti tindakan yang dilakukan dengan kesadaran atau kemauan sendiri (cetana). Kamma Niyama mengatur hubungan antara suatu perbuatan dengan hasi1 yang diperolehnya, sehingga hukum ini berkaitan dengan ilmu pengetahuan tentang etika dan moral.

5.      Dhamma Niyama

Hukum ini mengatur segala sesuatu yang ada di alam semesta yang berhubungan dengan kejadian-kejadian yang khas, seperti keajaiban alam. Hukum ini berdekatan dengan hukum gravitasi, kosmologi, dan yang sejenisnya.

Kelima hukum yang tersebut selalu berbicara mengenai pengetahuan manusia yang bertujuan untuk memberikan kebajikan dalam menjalani kehidupan, sehingga hal ini berkaitan dengan keberadan IPTEK yang dianggap sebagai media untuk mengeskpresikan hukurn-hukum tersebut di dalam kehidupan yang dijalani.

 

 

3.5. Agama Khonghucu

            Agama Khonghucu memandang IPTEK merupakan hasil dari pemikiran manusia harus ditunjang oleh manusia yang memahami etika moral, patuh dan sujud kepada Tian, Tuhan YME. Hanya orang-orang yang bercirikan “samcai” akan mampu membangun dunia tertib dan damai. Bagi Agama Khonghucu orang yang sudah memahami “samcai” boleh disebut Ru yang “Nei- sheng-wai-wang” , seorang Ru yang menjadikan iman terhadap  IPTEK. Karena itu agama tidak menolak IPTEK hadi ditengah-tengah kehidupan mereka selama itu masih beriringan dengan iman mereka. [19]

3.6. Parmatim (Ugamo Malim)

Ugamo Malim (Parmalim) merupakan salah satu agama tradisional di Indonesia yang berasal dari etnis Batak. Agama ini juga memiliki ajaran atau doktrin yang menjadi pedoman hidup bagi setiap umatnya.

Pantun bagi Ugamo Malim, yaitu:

“Marpangkirimon do na mangoloi jala na mangulahon patik ni Debata, jala dapotna do sogot hangoluan ni tondi asing ni ngolu ni diri on.”

Artinya:

“Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya dalam kehidupannya, memiliki pengaharapan, kelak ia akan mendapat kehidupan roh suci yang kekal.”

            Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugomo Malim (Parmalim) di Tanah Batak sejak turun temurun. Prinsip Ugomo Malim juga berbicara mengenai sikap untuk saling mengasihi dalam kehidupan, karena Tuhan selalu bersama umat manusia.

            Ugomo Malimmenerima perkembangan jaman, baik itu IPTEK dan lainya, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan serta peradapan umatnya, dengan syarat bahwa IPTEK itu tidak melanggar etika sosial sesuai tuntutan pengajaran Ugomo Malim.[20]Raja Sisingamangaraja dan Raja Nasiakbagi menanamkan prinsip bagi para pengikutnya untuk menerima perkembangan (IPTEK) tanpa mengorbankan nilai spritual Batak, yaitu:

“Parbinotoan Naimbaru, Ngolu Naimbaru, Tondi Na Marsihohot”

Artinya:

“Pengetahuan yang baru, Hidup yang baru, Kepercayaan yang teguh.”

·         Parbinotoan Naimbaru

Ugomo Malim menerima perkembangan IPTEK demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

·         Ngolu Naimbaru

Ugomo Malim menerima perkembangan jaman untuk meningkatkan kesejahteraan dan perpadan, tampa melanggar etika sosial sesuai tuntutan ajaran Ugamo Malim.

·         Tondi Na Marsihohot

Ugomo Malim tetap bertaqwa kepada Debata Mulajadi Nabolon melalui ajaran Sisingamangaraja – Raja Nasiakbagi tampa dipengaruhi oleh keyakinan agama lain (keteguhan).

            Contoh ketidak kakuan Ugamo Malim terhadap IPTEK adalah sejarah anak tunggalnya Raja Unggkap yang di sekolahkan ke sekolah indenpendent yang dikelola Lembaga Pendidikan  Inggris di Tambunan, yang berbasis di Singapura. Pada awalnya para tokoh Parmalim menganggap Raja Ungkap akan menjadi lawan setelah menerima pendidikan modern dan pergaulan dengan orang asing. Namun Raja Ungkap membuktikan dirinya, meskipun perjalan yang ditempuh tidak terlalu mulus, ia mendirikan Sekolah Parmalim (Parmalim School) tanggal 01 November 1932. Sejak itu banyak anak Parmalim mendapatkan pendidikan, dan tumbuhlah generasi muda yang lebih cerdas.

IV. Penutup: Analisa Kesimpulan

4.1. Analisa

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merupakan hal-hal yang dikembangkan melalui ide-ide yang ada pada manusia. Pandangan berbagai agama yang ada di atas memahami ide tersebut sebagai anugerah yang diberikan oleh Sang Pencipta melalui alam maupun ilham/wahyu-Nya ke pada manusia. Sehingga IPTEK dapat dihasilkan manusia melalui berbagai cara yang telah diaturkan oleh pencipta. Lalu, iman percaya setiap umat beragama memang tidaklah sama secara eksistensi, karena Agama Kristen mengimani Yesus Kristus, Agama Islam pada Nabi Muhammad, Hindu-Buddha dan Khonghucu pada dewa-dewa, dan seterusnya. Perbedaan dasar iman juga mempengaruhi pandangan setiap agama, apalagi mengenai IPTEK yang mempunyai ragam penjelasan mengenai kehadirannya. Akan tetapi setiap pandangan agama yang telah diuraikan di atas, baik itu Agama Kristen, Agama Islam, Agama Hindu, Agama Buddha, Agama Khonghucu dan Ugamo Malim (Parmalim), memiliki kesamaan pandangan mengenai IPTEK, di mana kelima agama tersebut tidak menolak IPTEK yang berkembang di tengah-tengah umat manusia, namun dengan syarat bahwa IPTEK itu harus berjalan atas dasar nilai-nilai dan norma sosial serta mensejahterahkan kehidupan manusia. Selain itu, keenam agama ditambah dengan agama suku tersebut juga menjelaskan bahwa IPTEK merupakan manifestasi allahnya masing-masing untuk membantu manusia dalam menjalani kehidupannya dan semakin menyadari kehadiran Sang Pencipta.

            Albert Einstein menyatakan ilmu tampa agama buta dan agama tampa ilmu lumpuh.[21]Hal ini menunjukkan bahwa IPTEK membutuhkan agama, dan begitu juga sebaliknya agar keberadaan dapat menjadi alat untuk memajukan kehidupan manusia. Pada dasarnya, apa yang diajarkan oleh agama adalah kasih sayang dan cara-cara hidup mampu untuk berdampingan dengan  seluruh ciptaan. Padahal inilah IPTEK mengambil perannya untuk menjadi tanda kehadiran dari setiap ajaran yang disampaikan. Dan pada konteks Indonesia yang trdiri dari masyarakat yang beraneka ragam dan relegius (beragama) membutuhkan kerja samadiantara agama-agama tersebut, baik itu agama dunia maupun agama tradisional, untuk menghadapi pengaruh negatif IPTEK yang sudah banyak terjadi.

4.2. Kesimpulan

            Ada 5 (lima) pandangan dari agama-agama yang berbeda dan ditambah 1 agama suku Batak yang ada di Indonesia mengenai IPTEK. Kristen memahami IPTEK sebagai anugerah Allah yang berkaita dengan iman; Islam menerima IPTEK asal sesuai dengan syariah; Hindu memandang IPTEK sebagai hal yang dapat membebaskan manusia dari kegelapan; Buddha memahami IPTEK sebagai kebajikan manusia untuk hidup sejahtera; Khonghucu memandang IPTEK sebagai ilmu yang harus di ikuti tetapi harus memiliki samcai yaitu iman yang kuat dan Parmalim juga tidak menolok kehadiran IPTEK selama itu tidak mengorbankan nilai-nilai spritual.

            Setiap pemahaman agama terhadap IPTEK tersebut menunjukkan adanya tujuan yang sama, dan kondisi ini menjadi motivasi positif yang dapat membangun kehidupan bangsa, terkhususnya bangsa Indonesia. Oleh karena itu, baiknya setiap agama memiliki sikap yang pruralis dn inklusif  terhadapa pandangan agama lain., dan melihat kesamaan tujuan ini agar terwujud kesatuan didalam perbedaan layaknya semboyan Bhineka Tunggal Ika yang da dilambang negara Indonesia, Garuda.

 Tambahan Pribadi:

Perkembangan IPTEK menimbulkan konflik batin dalam kehidupan banyak kaum muda. Kaum mudalah yang paling banyak menyerap hasil perkembangan IPTEK. Mereka pula yang terkena dampak negatif secara langsung dari penggunaan produk-produk IPTEK. Menumbuhkan moralitas kaum muda menjadi penting mengingat bahwa kaum muda adalah kendali bagi pengembangan IPTEK di masa mendatang. Itulah sebabnya perlu dikaji di sini hubungan antara agama dan IPTEK, bagaimana hubungan itu mesti dilihat dan bagaimana mengembangkan moralitas kaum muda dalam konteks hubungan keduanya.[22]

Di tengah perkembangan IPTEK, agama ditantang untuk memberikan refleksi cerdas yang mencerahkan bagi manusia modern. Pemahaman dan penghayatan agama yang dipersempit hanya pada tataran dogma (yang berciri deduktif dan otoritatif) dan hukum-hukum yang mengarahkan pada kehidupan sorgawi tidaklah memadai. Agama perlu membantu manusia untuk merefleksikan dan memaknai berbagai pengalaman konkrit di tengah hiruk pikuk di dunia ini. Selain itu, di tengah mentalitas modern yang menghembuskan optimisme terhadap kekuatan akal budi manusia, agama perlu membantu menumbuhkan kesadaran insani bahwa hidup manusia bukanlah sekadar proses alami, melainkan proses kultural dan religious yang menghadirkan keutuhan hidup dan mengarahkan pada cakrawala tujuan hidup tertinggi yang melampaui hal-hal material dan historis duniawi.[23]

Agama dan keyakinan iman tidak perlu dipertentangkan dengan perkembangan IPTEK. Manusia beragama dan manusia IPTEK adalah makhluk yang sama sebagai cipataan Tuhan, penghuni alam semesta ini. Keyakinan iman seharusnya memberi pencerahan bagi pengembangan IPTEK agar manusia tetap menyadari keterbatasannya. Sehebat apapun manusia dan IPTEK yang dikembangkan, ia tidak mampu menguak semua misteri kehidupan dan alam semesta ini. Kegagalan IPTEK untuk menjelaskan peristiwa kehidupan dan berbagai peristiwa alam semesta juga tidak perlu membuat manusia merasa pesimis terhadap hidup dan masa depannya. Manusia tidak hanya bisa belajar dari segala potensi dirinya yang mendatangkan optimisme. Ia juga bisa belajar dari kegagalannya dan memaknai keterbatasannya untuk menegaskan bahwa ada kuasa adi kodrati yang terlibat dalam sejarah hidup manusia. Di tengah perkembangan IPTEK agama justru ditantang menegaskan kekhasan refleksi dan sumbangannya bagi perkembangan peradaban umat manusia. Usaha manusia untuk mengembangkan IPTEK tetap mempertimbangkan perkembangan keutuhan pribadi manusia dengan segala dimensi yang dimilikinya. Kesadaran akan multidimensionalitas ini menyadarkan bahwa baik IPTEK maupun  agama perlu terus menerus berdialog satu sama lain dan berdialog dengan kenteks hidup manusia serta kekuatan adikodrati yang membimbing manusia menuju perwujudan dirinya secara utuh.[24]

IPTEK sebagai bagian tak terpisahkan dari peradaban modern adalah potensi besar untuk membantu manusia dalam mengembangkan agama yang berwajah manusiawi dan semakin relevan. Berbagai sarana komunikasi dan multimedia yang merupakan produk dari IPTEK telah dimanfaatkan oleh agama untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Dengan demikian, dogma dan norma-norma moral bisa disampaikan tidak hanya melalui bahasa diskursif-doktriner (instruktif) melainkan juga dalam bahasa yang populis pesuasit-dialogis. Di tengah situasi masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis, pendekatan humanis dengan bahasa persuasif-dialogis akan lebih mudah dicerna banyak kalangan dari pada dari pada bahasa doktriner konspetual (yang cenderung elitis). Maka, para pemimpin agama dan pengjaran agama kiranya perlu menjalin kerjasama dan dialog intensif dengan berbagai kalangan agar dapat membahasakan dan menghadirkan agama dalam secara humanis dan kontekstual. Sebaliknya, para ilmuwan perlu membuka diri untuk berdialog dengan berbagai kalangan, termasuk agamawan, agar mereka mampu merefleksikan dan memaknai IPTEK dalam keutuhan dimensi manusia.

            Dalam dialog kritis kiranya kita makin disadarkan bahwa iman yang menolak ilmu pengetahuan bukan merupakan sikap iman yang benar. Sebaliknya, hanya menerima ilmu dan mengabaikan iman, juga bukan sikap ilmiah yang benar, sebab akal budi manusia ada batasnya. IPTEK tanpa iman dapat mengarah pada penyalahgunaan IPTEK. Pengembangan IPTEK menjadi liar dan bisa kehilangan orientasinya pada pengembangan keutuhan hidup manusia. Penyalahgunaan IPTEK untuk tindak kejahatan seperti penggunaan bom atom untuk perang, teknologi pencurian data dan informasi, teknik aborsi, dan penghancuran alam dengan menggunakan dinamit merupakan bukti bahwa IPTEK yang dipisahkan dari norma-norma moral (dan agama) jugstu akan menghancurkan manusia dan masa depan kehidupan. Maka, pendidikan dan kuliah agama bagi kaum muda akan lebih menyentuh nurani mereka melalui pembelajaran bersama secara dialogis (learning community) mengenai penanganan terhadap berbagai persoalan kemanusia konkrit dan pengalaman kebersamaan di tengah suka-duka kehidupan.

Dengan demikian, pendidikan dan kuliah agama merupakan kesempatan untuk mengembangkan komunitas belajar tentang makna hidup dan mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan secara nyata. Agama adalah tempat untuk memelihara dan mengungkapan iman. Dalam agama, iman mendapat bentuk yang khas, yang memampukan orang beriman untuk mengkomunikasikan imannya kepada sesama. Dengan bantuan ilmu pengetahuan, orang beriman diharapkan semakin mampu berdialog secara lebih luas dalam menjalankan tanggungjawabnya untuk meningkatkan kualitas hidup bersama dan melestarikan alam semesta. Iman memberi warna terbangunnya visi hidup dan tanggungjawab sosial. Bagi para cendekiawan, iman mencerahi moralitas, yaitu visi dan tindakan nyata dalam mengembangkan ilmu dalam rangka mewujudkan nilainilai kemanusiaan di tengah masyarakat.[25]

Pertentangan antara agama dan IPTEK terjadi karena adanya sikap curiga dan sikap kurang terbuka baik dari sisi pemeluk agama dan ilmuwan. Hal itu terjadi ketika agama dipahami secara sempit sebagai aturan beku dan peribadatan belaka yang tidak boleh dikritisi dan ilmu menempatkan diri sebagai oposisi terhadap agama. Meskipun agama dan IPTEK masing-masing bersifat otonom, artinya masingmasing memiliki hukum-hukum dan nilai-nilai sendiri, keduanya mempunyai subyek yang sama, yaitu manusia. Manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan berhati nurani mempunyai tanggungjawab moral untuk mengembangkan IPTEK supaya dapat membantu memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan. Bagi umat beragama tidak ada alasan untuk mempertentangkan atau menolak IPTEK. Justru dengan mengembangkan IPTEK manusia ikut terlibat dalam pekerjaan Allah untuk membangun dan menyelamatkan dunia. Bagi para ilmuwan juga tidak ada alasan untuk menolak agama, karena inti pokok agama adalah iman yang harus dipertanggungjawabkan dalam perbuatan di segala bidang kehidupan, termasuk pengembangan IPTEK. Tanggungjawab dan tindakan untuk menggembangkan hidup pribadi dan bersama dalam segala dimensinya merupakan inti moralitas hidup manusia. Pembelajaran agama akan menjadi praksis pengembangan moralitas generasi muda ketika proses pembelajaran tersebut memberi ruang bagi refleksi iman atas pengalaman dan persoalan hidup, termasuk yang ditimbulkan oleh IPTEK.

Kesimpulan Dari Tambahan Pribadi:

            Setelah kita melihat secara seksama tentang perkembangan IPTEK dan berbagai persoalan yang diakibatnya, masa depan dari agama-agama dewasa ini sangat ditentukan oleh seberapa serius agama-agama itu menanggapi masalah-masalah aktual yang ada ditengah masyarakat. Ketika agama hanya sibuk memberikan pengajaran konseptual, mengurusi soal-soal kultus dan tidak peka terhadap persoalan konkrit, agama semakin ditinggalkan oleh orang-orang yang mengatasnamakan generasi modern. Dengan demikian kepercayaan kepada Tuhan memberikan kekuatan pada orang beriman untuk bertahan tidak hanya dalam suka, tetapi juga dlam duka, sehat atau sakit, keberhasilan atau kegagalan. Dengan kata lain iman kepada Tuhan memberikan kebebasan dalam pelbagai keadaan

 

Internet:

1. Dilihatya.com/2522/pengertian-pitek-menurut-para-ahli

2. http://kbbi.web.id/teknologi dan http://kbbi.web.id/ ilmu-pengetahuan

3. http://www.penegertianmu.com/2016/10/pengertian-iptek-menurut para ahli. html

4. Lih. http://www. Geocities.ws/shandy_sheva/p12073574ro/imankristendaniptek.html

5. http://ldk.stmik-dci.oc.id/?post=pandangan-islam-terhadap-ilmu-pengetahuan-dan-tekonologi

6. https://pasirpanjang.wordpress.com/2012/11/29/iptek-dalam-pandangan-agama-islam/

7. http//documentslide.com/dokuments/paper-iptek-dalam-kontek-hindu-htm

8. http://matapelajaranagama.blogspot.co.id//2016/07/pandangan-agama-buddha-terhadap-ilmu.html

9. http://www.academia.edu/11450654/AGAMA_BUDDHA_DAN_IPTEK_ATAU_SAINS_MODERN

10. https://www.scribd.com.document/18013462/Agama-Malim

 



[1] Lih. Dilihatya.com/2522/pengertian-pitek-menurut-para-ahli, yang diunduh pada hari Jumat, 31 Maret 2017 pukul 21.04 WIB.

[2] Lih. http://kbbi.web.id/teknologi dan http://kbbi.web.id/ ilmu-pengetahuan, yang diunduh pada hari Jumat, 31 Maret 2017 pukul 20.03 WIB

[3] Lih. Poerbahawadja Harahap, Ensiklopedia Pendidikan, (Jakarta: PT. Gunung Agung, 1982), hlm. 65-67

[4] Lih. John Naisbitt, High Tech High Touch, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 89-90

[5] Lih. Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Pustekom Diknas, 2007), hlm. 41

[6] Lih. http://www.penegertianmu.com/2016/10/pengertian-iptek-menurut para ahli. html, yang diunduh pada hari Jumat, 31 Maret 2017 pukul20:40 WIB.

[7] Lih. http://www. Geocities.ws/shandy_sheva/p12073574ro/imankristendaniptek.html, yang diunduh pada hari Juma, 31 Maret 2017 pukul 22.06 WIB.

[8] Edward W.A Koerhler, Intisari Ajaran Kristen, terj. Mangisi S.E. Simorangkir, dkk, (Macomb, Michigan: Lutheran Heritage Foundation, 2010), hlm. 149-153

[9] Lih. Wahyudin, Ahmad, dkk, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), hlm. 82-83

[10] Lih. Wahyudin, Ahmad, dkk, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), hlm. 84

[11] Lih. Wahyudin, Ahmad, dkk, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), hlm. 85

[12] Lih. http://ldk.stmik-dci.oc.id/?post=pandangan-islam-terhadap-ilmu-pengetahuan-dan-tekonologi, yang diunduh pada hari minggu, 02 April 2017 pukul 19.08 WIB.

[13] Lih. https://pasirpanjang.wordpress.com/2012/11/29/iptek-dalam-pandangan-agama-islam/, yang diunduh pada hari Minggu, 02 April 2017 pukul 19.52 WIB.

[14] Lih. Ida Bagus Sudirga, I Nengah Mudan, Ni Wayan Suratmini, I Made Arya, Widya Dharma: Agama Hindu, ed. I.G.B. Widyantara, (Jakarta: Ganca Exact, 2007), hlm. 52-53

[15] Lih. http//documentslide.com/dokuments/paper-iptek-dalam-kontek-hindu-html, yang diunduh pada hari Minggu, 02 April 2017 pukul 21.03 WIB.

[16] Lih. Ida Bagus Gede Agastia, Saraswati Simbol Penyadaran dan Pencerahan, (Warta Hindu Dharma, 1997), hlm. 30-34

[17] Lih. http://matapelajaranagama.blogspot.co.id//2016/07/pandangan-agama-buddha-terhadap-ilmu.html, yang diunduh pada hari Senin, 03April 2017 pukul 08.59 WIB.

[18] Lih. http://www.academia.edu/11450654/AGAMA_BUDDHA_DAN_IPTEK_ATAU_SAINS_MODERN, yang diundu pada hari Senin, 03 April 2017 pukul 08.59 WIB.

[19] Indarto, Xs, Buku Pelajaran Ru-Jiao Pemula, (Makalah:2010), hlm. 18

[20] Lih. https://www.scribd.com.document/18013462/Agama-Malim, yang diunduh pada hari Senin, 03 April 2017 pukul 16.37 WIB.

[21] Lih. Ida Bagus Sudirga, Widya Dharma: Agama Hindu, hlm. 52

[22] Lih. J. Riberu, Mencari Tulang Punggung Kemandirian Pada Ajaran Iman, (Prisma 14, 1985), hlm. 75-85

[23] Lih. J. Sudiarja, Pendidikan Agama dan Zaman yang Berubah, Basis 07-08, (Juli-Agustus 2003), hlm. 09

[24] Lih. M. Pelleerey, Spritualita ‘e educazione, (LIX, 2002), hlm. 43-44

[25] Lih. S. Lili Tjahyadi, Tantangan Ateisme bagi Agama dan Teknologi, (Dikursus, 2008), hlm. 153

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...