Selasa, 25 Juli 2023

Sejarah Gereja Kalimantan Tenggara Dan Timur

I.                   PENDAHULUAN

Pulau Kalimantan terletak di sebelah utara pulau Jawa, sebelah timur Selat Melaka, sebelah barat pulau Sulawesi dan sebelah selatan Filipina. Luas pulau Kalimantan adalah 743.330 km². Pulau Kalimantan dikelilingi oleh Laut Cina Selatan di bagian barat dan utara-barat, Laut Sulu di utara-timur, Laut Sulawesi dan Selat Makassar di timur serta Laut Jawa dan Selat Karimata di bagian selatan. Gunung Kinabalu (4095 m) yang terletak di Sabah, Malaysia ialah lokasi tertinggi di Kalimantan. Selain itu terdapat pula Gunung Palung, Gunung Lumut, dan Gunung Liangpran. Sungai-sungai terpanjang di Kalimantan adalah Sungai Kapuas (1143 km) di Kalimantan Barat, Indonesia, Sungai Barito (880 km) di Kalimantan Tengah, Indonesia, Sungai Mahakam (980 km) di Kalimantan Timur, Indonesia, Sungai Rajang (562,5 km) di Serawak, Malaysia.

Ada 5 budaya dasar masyarakat asli rumpun Austronesia di Kalimantan atau Etnis Orang Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai dan Paser. Suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokan menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia (268 suku bangsa) dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar). Suku Melayu menempati wilayah pulau Karimata dan pesisir Kalimantan Barat, Sarawak, Brunei hingga pesisir Sabah. Suku Banjar menempati wilayah Kalimantan Selatan serta sebagian Kalimantan Tenggara dan Kalimantan Timur. Suku Kutai dan Paser menempati wilayah Kalimantan Timur, sedangkan suku Dayak menempati daerah pedalaman Kalimantan.[1]

II.                ISI

1.      Sejarah Gereja di Kalimantan

            Pada tahun 1925 terhitung kira-kira 5100 orang Kristen yang terkumpul di dalam kira-kira 50 jemaat. Terdapatlah 19 penginjil, 77 guru, 1 pendeta, dan 14 pekabar injil ditambah dengan 13 isteri dan zuster. Pada waktu itulah terjadilah pergantian mengenai tenaga-tenaga pekabaran injil di luar negeri. Sampai pada waktu itu, kira-kita 90 tahun lamanya, RMG Barmen telah mencurahkan tenaga-tenaganya untuk usaha di Kalimantan itu. Tetapi setelah perang dunia pertama 1914-1918 maka Barmen tidak sanggup lagi untuk memenuhi tugas yang luar biasa beratnya di Kalimantan itu. Oleh karenanya lembaga pekabaran injil Bazel bersedia mengambil alih tugas itu. Pergantian itu telah menyebabkaan perubahan apapun dalam kebijaksanaan dan usaha-usaha pekabaran Injil. Sifat pekerjaanya tetap sama, asal kebangsaannya pun hampir tidak berbeda oleh karena lembaga Basel didukung bersama-sama oleh Swiss dan Jerman Selatan. Akibat dari pada pergantian itu nampak dalam pelbagai perkembangan. Hasil dari pada segala daya upaya pada masa yang lalu berangsur-angsur menjadi nyata. Kesedian pemerintah  untuk memperkembangkan sekolah-sekolah dan usaha kesehatan terhadap suku Dayak memperganda kesempatan-kesempatan gereja guna mendekati suku itu. Perawatan orang-orang sakit dimulailah pada tahun 1923 dan diikuti dengan didirikannya sebuah rumah sakit Bersalin di Banjarmasin sangat disukai oleh penduduk-penduduk disitu. Sekolah-sekolah juga didirikan dan diperkembangkan. Sekolah guru yang sudah ada diteruskan sebagai Normaalleergang, sesudah sebuah sekolah guru yang 30 tahun lamanya mendidik guru-guru Dayak terpaksa ditutup, berhubung dengan pencabutan subsidi pemerintah bagi sekolah tersebut. Usaha yang paling utama ialah kursus pendeta Dayak. Kursus yang pertama dibuka oleh Epple dan 1 juli 1932 di Banjarmasin untuk kelima calon pertama yang dipilih dari antara guru-guru sekolah. Pada tahun 1935 kelima calon tadi ditahbiskan dan dipekerjakan. Mereka ditempatkan bukannya di jemaat-jemaat yang tua, melainkan ke daerah-daerah yang baru dibuka untuk bekerja seperti pekabar-pekabar injil. Kursus kedua dimulai pada tahun 1935 untuk 9 orang calon yang dipekerjakan pada tahun 1937. Juga kursus-kursus penginjilan diadakan di Mandomai pada tahun 1937 sudah ada 40 penginjil yang dapat dipekerjakan.[2]

            Tenaga RMG berangsur-angsur diganti oleh Basel. Mereka ini ternyata berpendapat lain mengenai kemampuan Dayak. Setelah mengenal lapangan mereka segera (1925-1929) mengadakan serangkaian rapat persiapan kemandirian gereja. Agar memperoleh tenaga pemimpin yang terdidik, pada tahun 1932 lembaga pendidikan guru di Banjarmasin ditingkatkan menjadi sekolah teologia. Pada tanggal 4 april 1935 diresmikanlah Gereja Dayak Evangelis yang berdiri sendiri, dan pada hari berikutnya ditahbiskan kelima orang pendeta Dayak yang pertama, diantaranya H. Dingang, seorang anak kepala suku F. Dingang. Namun, peranan zending dalam gereja yang berdiri sendiri itu masih sangat besar. Menurut peraturan gereja 1935, ketua majelis Sinode haruslah seorang zendeling, para zendeling akan menolong dan memajukan Gereja Dayak itu dalam jalannya sampai benar-benar dapat berdiri sendiri.[3]

            Sejak tahun 1929 lembaga Christian and Missionary Alliane (CAMA/CMA) bekerja di Kalimantan Timur. Karya ini akan dibahas dalam pasar tersendiri. Disini sudah bisa dicatat bahwa tenaga CMA, bertentangan dengan apa yang dialami RMG dikalangan orang Dayak di Kalimantan Selatan, sering menghadapi gerakan massal ke agama Kristen bahwa mereka tidak keberatan membabtis orang sesudah pendidikan yang berlangsung beberapa hari ataupun beberapa bulan saja, dan bahwa pertumbuhan gereja di Kaltim jauh lebih pesat ketimbang yang di Kalsel. Pada tahun 1990 jumlah anggota KINGMI (kemudian GKII) DI Kiltim berkisar 100.000 jiwa (yang telah dibabtis 30.000). sementara itu telah berdiri jemaat mandiri, yang kemudian berkembang menjadi Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee dan pada tahun 1967 menerima nama gereja Kristen Kalimantan Barat (1997: 8000 anggota). Di lapangan CAMA di wilayah yang sama terdapat 3000 orang kristen. Pada tahun 1963 pendatang dari daerah lain mendirikan Gereja Protestan Kalimantan Barat (GKPB). Sesudah tahun 1990  gereja ini berkembang karena mulai mengabarkan injil kepada orang Dayak di wilayahnya (1997: 6500 anggota. Sekitar tahun 1990, orang kristen protestan diseluruh wilayah kalimantan (bagian Indonesia) berjumlah ± 700.000 jiwa yang sepertiganya termasuk GKE ( disamping itu terdapat ± 500.000 orang katolik, 80% diantaranya di Kalbar, termasuk yang belum dibabtis, berjumlah ± 60.000 orang (1995).[4]

2.      Sejarah Gereja Menurut Dr. Berkhof

2.1.       Dari segi tugas Gereja

Dalam Sinode ini juga ada beberapa pemikiran bagi eksistensi Gereja, yakni : 

1.      Gereja hadir bukan hanya bagi dirinya namun bagi dunia dan masyarakat Kalimantan.

2.      Gereja dalam penunaian panggilannya yang misioner itu, tidak terbatas bagi suku-suku dari golongan tertentu, tetapi bagi seluruh bangsa yang ada di daerah ini.

3.      Gereja adalah bagian yang hidup dalam persekutuan “ Catholica Ecclesia” (Gereja yang am), dan bergerak menuju keesaan Gereja di seluruh wilayah Indonesia, dengan memusatkan usaha-usaha bagi penyatuan gereja yang ada di Kalimantan.

Poin ketiga diatas menunjukkan bahwa GKE menyadari panggilan oikumenisnya. Hal itu kemudian diwujudkan dengan berpartisipasinya GKE dalam pembentukan Dewan Gereja Indonesia (DGI) dan menjdi anggota dari DGI pada 1950. Sebelumnya pada tahun 1948, GKE telah menjadi anggota dari Dewan Gereja-gereja se-Dunia di Amsterdam (WCC). GKE juga melakukan hubungan dengan Konferensi Kristen Asia Timur, Asosiasi Sekolah Teologi se-Asia Tenggara dan Pelayanan Mahasiswa dan Pemuda Kristen Indonesia.[5]

            Dalam hal hubungan dan ikatan oikumenis inilah GKE secara perlahan-lahan membuka diri bagi segala nasihat dan kritik dari Gereja tetangga di Indonesia bahkan di luar negeri. Sehingga apa yang tertuang dalam peraturan Gereja tahun 1959, Bab VI pasal 12g yang berbunyi :

“Membangun, menghidupkan dan memelihara perhubungan dengan segala Gereja [...] dan badan-badan oikumenis lainnya, serta mengusahakan perhubungan dan kerjasama dengan Gereja-gereja lain [...] dengan tujuan terwujudnya kehendak Yesus Kristus : “ supaya mereka menjadi satu” Yoh 17 : 21”

Peraturan ini mengisyaratkan kepada kita bahwa pemikiran misi GKE pada saat itu benar-benar telah bersifat universal, holistik dan berkembang maju.[6]

2.2.   Dari sudut wujud Gereja

            Sejarah Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) dimulai pada abad ke-19 ketika di Eropa terjadi kebangkitan kesadaran untuk mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Abad ini dikenal sebagai “The Great Century” (Abad Agung) untuk Pekabaran Injil (PI).

Pada tahun 1830-an tersiar kabar mengenai pulau Kalimantan di tanah Jerman. Dalam cerita-cerita itu digambarkan mengenai ratusan ribu orang Dayak masih tertinggal dalam peradaban: sering terjadi perang antar suku, praktek pengayauan, masyarakatnya tidak mengenal pendidikan dan pelayanan kesehatan. Orang-orang Dayak tersebut tinggal dalam “kegelapan”, karena belum menerima Injil. Karena itu muncul kerinduan, kesadaran dan semangat yang menggebu-begu di kalangan umat Kristen di Jerman untuk memberitakan Injil ke Kalimantan.

 

-  Periode I, 1835 - 1920 (Periode Perintisan Oleh Misionaris)

Kerinduan, kesadaran dan semangat itu selanjutnya diwujudkan dengan diutusnya dua orang misionaris dari Rheinische Missionsgezelschaft zu Barmen (RMG) untuk berangkat ke Kalimantan, yakni Barnstein dan Heyer. Mereka berdua pertama-tama datang ke Batavia (Jakarta). Namun, Heyer walaupun dengan penyesalan kemudian harus kembali ke Jerman karena sakit. Dan sesudah melalui perundingan sekitar enam bulan dengan pemerintah Hindia Belanda, dengan menumpang kapal selama 44 hari, maka pada tanggal 26 Juni 1835, Barnstein untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di Banjarmasin. Selanjutnya, enam bulan kemudian datang lagi menyusul tiga Missionaris dari Jerman, yakni Becker, Hupperts dan Krusmann. Dalam beberapa tahun kemudian berdatangan lagi sejumlah missionaris lainnya dari Jerman untuk memberitakan Injil di Kalimantan.

Pada tahap awal kedatangan Barnstein di Kalimantan, maka sesuai dengan pemberitaan di jerman mengenai Kalimantan, yang pertama-tama dicarinya adalah orang-orang Dayak. Karena itu selama beberapa bulan pertama ia mengadakan sejumlah perjalanan ke pedalaman Kalimantan untuk menjajaki kemungkinan bagi pelaksanaan pemberitaan Injil. Dalam perjalanan tersebut, di Gohong (Kahayan Hilir KalimantanTengah), Barnstein mengadakan upacara “angkat saudara dengan pertukaran darah” (Hangkat hampahari hatunding daha) dengan Temanggung Ambo Nikodemus, Kepala Suku setempat. Sejak itu Barnstein dianggap saudara oleh orang Dayak karena telah bertukar darah dengan kepala suku Dayak.

Sesudah melalui sejumlah perjalanan awal itu, selanjutnya Barnstein bersama dengan beberapa missionaris membuka stasi-stasi pangkalan PI) di beberapa wilayah Kalimantan Tengah. Pangkalan/stasi pekabaran injil yang pertama di Pulau Kalimantan  adalah Bethabara, terletak di tepian Sungai Murong Kab. Kapuas Kalimantan Tengah, didirikan oleh seorang penginjil dari Danisch-Halliche Mission, Berger, Tahun 1839. Di sinilah pertama kali diadakan baptisan di Kalimantan yaitu pada Tanggal 10 April 1839 oleh Hupperts (Tahun 1839 inilah dianggap sebagai tahun cikal bakal berdirinya GKE sehingga dimasukkan ke dalam komponen/unsur Logo Resmi GKE sekarang hasil SU Sinode XXIII di Tamiang Layang Tahun 2015).

Dengan adanya stasi-stasi ini, mulailah diadakan usaha-usaha di bidang pendidikan seperti pendirian sekolah-sekolah, pelayanan kesehatan, pemberitaan, perkunjungan dan percakapan langsung dengan orang-orang Dayak. Dengan demikian, beberapa metode yang dipakai oleh para missionaries untuk mencapai orang Dayak dengan Injil adalah : (1) memenangkan ikatan persahabatan dan persaudaraan, (2) Pendekatan kepada golongan atasan/kepala suku, (3) Perbaikan taraf hidup sosial ekonomi rakyat, (4) Pendidikan dan (5) Pelayanan Kesehatan.

Dengan lambat sekali Injil mulai menyelusup dan merintis jalannya sendiri ke celah-celah hati suku Dayak. Periode ini menuntut kesabaran dan keuletan. Periode pertama PI di Kalimantan mengalami cobaan berat ketika terjadi pemberontakan Hidayat dari Kesultanan Banjarmasin 01 Mei 1859, pemberontakan ini didukung oleh banyak tokoh masyarakat Dayak yang berhasil dihasut. Tujuan pemberontakan adalah mengusir pemerintah Belanda dan semua orang kulit putih dari bumi Kalimantan. Pemberontakan ini memakan korban baik dari pihak pemerintah Belanda maupun para misionaris Jerman. Empat orang missionaris, tiga orang isteri dan dua orang anak mereka mati dibunuh oleh orang Dayak sendiri. Missionaris Roth, Wiegand dan isteri, Misionaris Kind dan isteri beserta dua orang anak mereka mati dibunuh di Tanggohan. Missionaris Hofmeister dan isteri di bunuh di Penda Alai. Sedangkan Missionaris Klammer yang berada di Tamiang layang, yang dalam keputusasaan dan ketakutan berhasil diselamatkan oleh para pemimpin Dayak Maanyan.

Sejak pemberontakan yang memakan korban orang-orang kulit putih tersebut, Pemerintah Hindia Belanda melarang semua orang kulit putih termasuk para missionaris untuk masuk ke pedalaman Kalimantan. Hasil Pekabaran Injil yang sudah berlangsung 25 tahun itu musnah dihapus oleh kegagalan, kekecewaan, air mata dan darah. Baru beberapa tahun kemudian, sesudah pemberontakan Hidayat dapat ditumpas (1866), Pemerintah Hindia Belanda mengijinkan para Missionaris memulai kembali pekerjaan mereka di sekitar “benteng Belanda”. PI dimulai kembali di berbagai kawasan termasuk pembukaan daerah baru. Tahun 1911, tercatat 3.000 orang Dayak sudah dibabtis menjadi Kristen. Pertobatan di kalangan suku Dayak memang sangat sukar dan lambat. Ini berkaitan dengan kuatnya ikatan orang Dayak terhadap adat dan agama sukunya, termasuk karena keharusan bagi Orang Dayak yang hendak menjadi Kristen untuk meninggalkan kebudayaan Dayaknya oleh para missionaris.

Awal abad XX ditandai oleh tragedi dunia dengan pecahnya Perang Dunia I di Eropa. Salah satu akibat nyata yang dialami oleh Badan Zending RMG akibat Perang Dunia I tersebut adalah kesulitan keuangan yang parah. Badan ini tidak mampu lagi membiayai pelaksanaan PI baik di Kalimantan maupun Sumatera. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan kerinduan sebuah Badan Zending di Basel, Swiss yang bernama Basler Misssionsgezellschaft, (BM) maka pada tahun 1920 disepakati bahwa BM mengambil alih pelaksanaan PI di Kalimantan. Sedangkan gambaran hasil PI di Kalimantan pada waktu itu adalah : jumlah orang Kristen 5.000 orang, 14 Pemberita, 39 Penatua, 14 missionaris dan isteri mereka, 11 stasi (pangkalan induk). Langkah-langkah BM adalah menempatkan empat missionaris mereka di pangkalan induk, yakni missionaris Henking di Banjarmasin, Weiler di Tamiang Layang, Kuhnle di Mengkatip, dan Huber di Puruk Cahu.

- Periode II, 1920 - 1935 (Periode Peralihan Zending).

Mengawali tugasnya di Kalimantan, BM melakukan tugas PI dengan mengandalkan missionaris-missionaris yang datang dari Jerman dan kemudian Swiss. Belum banyak orang Dayak yang dilibatkan dalam berbagai kegiatan PI. Namun, BM memang berminat untuk mendirikan gereja suku. Oleh sebab itu usaha pertama yang dilakukan adalah meneruskan apa yang sudah dirintis oleh RMG, yakni melakukan pelayanan kesehatan, pendidikan, menghidupkan jemaat dan mempersatukannya menjadi satu gereja yang akan berdiri sendiri. Dalan rangka itu dilihat pentingnya melibatkan orang-orang Dayak dalam pelaksanaan PI dan pembinaan jemaat di Kalimantan. Konsolidasi stasi-stasi mulai dilakukan dan dikembangkan menjadi satu lembaga persekutuan orang-orang Kristen yang kemudian akan menjadi jemaat.

Peraturan Gereja untuk orang-orang Kristen di Kalimantan mulai disusun, sejumlah persidangan gerejawi pun dilaksanakan, seperti: diterimanya Peraturan Sidang Jemaat Kristen yang disahkan oleh RMG pada tahun 1912 menjadi dasar hidup berjemaat, pertemuan para missionaris dan sejumlah utusan jemaat/stasi, yang dilaksanakan di Banjarmasin, 03 – 04 Maret 1925, Konferensi Pekerja Zending tahun 1926, 1928 dan 1930. Selanjutnya Sinode Mandomai tahun 1930 memutuskan menerima secara resmi Peraturan Sidang Jemaat Kristen di Borneo Selatan yang sudah diperbarui sebelumnya (1925) dan dipilihnya anggota Majelis Sinode (Synodale Commissie) pertama dengan keanggotaan :

-          Ketua           : Pdt. K. Epple (Zending BM)

-          Wakil Ketua: August Narang

-          Anggota       : Pdt.C. Weiler (Zending), M. Lampe, E.Tahanan,  A  Kiting dan A. blantan.

-          Anggota Kehormatan : F. Dingang

Sejak tahun 1930, dilakukan persiapan untuk membentuk jemaat-jemaat yang tersebar di Kalimantan hasil PI RMG dan BM ke dalam satu wadah lembaga Gereja. Dalam rangka persiapan itu pada tahun 1932 didirikan Sekolah Teologia di Banjarmasin. Usaha memperkuat peran orang Dayak pun dilakukan dengan serius oleh pihak Zending BM dan pada tahun 1935 adalah tahun yang paling bersejarah dengan berdirinya Gereja Dayak Evangelis (GDE) secara mandiri.

- Periode III, 1935 - 1945 (Periode Lahirnya Gereja Dayak).

Proklamasi berdirinya Gereja Dayak Evangelis dilaksanakan pada persidangan Sinode Umum di Kuala kapuas yang berlangsung sejak tanggal 2-6 April 1935. Persidangan tersebut dihadiri oleh 30 orang Kristen Dayak dan 8 orang Penginjil Zending. Dalam persidangan tersebut, pada tanggal 4 April 1935 pukul 12 siang disahkan secara resmi Peraturan Gereja I Gereja Dayak Evangelis. Inilah tanggal yang dinyatakan sebagai berdirinya Gereja Dayak Evangelis disingkat GDE sebagai Gereja yang berdiri sendiri. Kemudian pada tanggal 5 April 1935, bersamaan dengan perayaan genap 100 tahun (SEABAD) pekabaran Injil di Kalimantan, maka kelima pemuda lulusan Sekolah Theologia Banjarmasin yang dianggap memiliki potensi besar telah ditahbiskan di gedung Gereja Hampatung (Kuala Kapuas), sebagai Pendeta-pendeta pertama dari Gereja Dayak Evangelis (GDE). Pengutusan, Berkat dan Pentahbisan Suci 5 (lima) “Pendeta Dayak” pertama yang dilakukan Zending Basel oleh Inspektur Sir H. Witschi. Pada tanggal 5 April 1935, sebagai berikut:

1. Pdt. Rudolf Kiting, ditempatkan di Rungan dengan kedudukan di Tumbang Bunut.
2. Pdt. Eduard Dohong, ditempatkan di Miri dengan kedudukan di Tumbang Sian.
3.
  Pdt. Gerson Akar, ditempatkan di Hulu Kapuas dengan kedudukan di Sungai Hanyu.

4. Pdt. Hernald Dingang Patianom, ditempatkan di Sungai Tiwei dengan kedudukan.
5.
 Pdt. Mardonius Blantan, ditempatkan di Dusun Timur dengan kedudukan di Tewah Puluh.

            Daerah-daerah tempat ke-5 pendeta pertama itu ditempatkan adalah merupakan daerah-daerah front pekabaran Injil. Dari sini sudah tampak karakter Gereja Dayak dengan segala pekerjaannya, selaku gereja yang mengabarkan Injil sesuai dengan nama Gereja tersebut yaitu“Evangelis. Patut pula dicatat dalam sejarah gereja ini, bahwa kelima Pendeta pertama ini adalah tokoh-tokoh Pionir dan pesuruh-pesuruh Injil yang penuh daya gerak diantara orang sebangsanya dan mereka inilah yang merupakan orang-orang pertama PEKERJA NASIONAL GEREJA dan bukan pekerja suatu lembaga atau badan Zending dari luar negeri. Penguatan Peran Orang Dayak Kristen dalam mengelola GDE semakin dimatangkan. Pada tahun 1937 diadakan Konferensi Pengerja Zending yang menegaskan: “Badan Zending patutlah semakin berkurang, dan gereja Dayak makin bertambah. Hendaklah kita semakin mengundurkan diri sampai pada pelayanan persaudaraan dan nasihat”.

Pada tahun 1939, keadaan GDE yang dapat dicatat adalah sebagai berikut : Jumlah anggota 15.000, tenaga pengerja Dayak (pribumi) 235, terdiri dari 16 pendeta – 33 pemberita Injil - 158 guru – 26 pembantu perawat – 1 kolportir – 1 dokter diperbantukan. Pengerja Zending 40 tenaga, terdiri dari 14 missioner, 3 dokter, 4 suster, 2 guru, 1 administratur (dengan keluarga masing-masing). Gereja yang masih sangat muda ini kembali mendapat ujian berat seiring dengan terjadinya Perang Dunia II pada tahun 1940-an. Kengerian yang pernah terjadi pada masa PD I kembali terulang dengan intensitas yang lebih besar. Para Missionaris dan keluarga yang berasal dari Jerman dan Swiss ada yang ditawan dan diangkut ke Jawa untuk selanjutnya dipulangkan. Dalam penawanan dan pembuangan sejumlah missionaris dan keluarga tersebut, ketika diangkut untuk dibuang ke kamp Interniran di India, kapal yang mereka tumpangi karam dan menewaskan semua penumpang termasuk para atingaries dan keluarga mereka.

GDE dengan beberapa pendeta Swiss dan Belanda yang masih ada di Kalimantan ditambah beberapa pendeta Dayak sendiri harus berjuang mempertahankan hidupnya dengan berbagai kekurangan dan kesulitan akibat penguasaan tentara Jepang. Awal bulan Pebruari 1942, merupakan awal habisnya para pengerja yang berasal dari Badan Zending di Eropa dan hancurnya sejumlah sarana yang didirikan Zending oleh tentara Jepang. Hubungan dengan Zending di Eropa putus sama sekali. Pada masa pendudukan Jepang inilah GDE yang masih muda harus benar-benar mampu berdiri berdasarkan kekuatan sendiri. Pada masa ini pula datang sejumlah Pendeta dari Jepang, seperti: Pdt. Shirato, Pdt. S. Honda, Pdt. K. Kaneda, dan Pdt. Suzuki. Dengan bantuan beberapa pendeta Jepang ini GDE terus berbenah diri. Melalui sejumlah konferensi, GDE semakin memantapkan organisasi dan kehadiran-nya sebagai Gereja Tuhan di Kalimantan. Dan ini terus berlangsung sampai Proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945. Pada akhir tahun 1944 terdapat jumlah anggota GDE sebanyak 16.671 orang.

- Periode IV, 1945 – 1960 (Periode Perubahan Nama GDE).

Sejak tahun 1945, GDE mulai membangun wajah baru dengan kehadirannya yang semakin kokoh di bumi Kalimantan. Pada saat yang sama, seiring dengan tumbuhnya kesadaran dan semangat keesaan gereja, GDE semakin terlibat di dalam kegiatan oikumenis Gereja-Gereja di Indonesia. Hal ini selanjutnya ditunjukkan dengan kesadaran bahwa orang-orang yang bisa menjadi anggota gereja ini bukan hanya orang Dayak, melainkan semua orang dari berbagai suku bangsa yang ada di Kalimantan.

Atas dasar kesadaran oikumenis itulah, maka pada Sinode Umum GDE ke-5 Di Banjarmasin pada tahun 1950, seiring dengan masuknya GDE menjadi anggota Dewan gereja-Gereja Di Indonesia (DGI), nama Gereja Dayak Evangelis (GDE) diganti menjadi “GEREJA KALIMANTAN EVANGELIS” (GKE). Gereja ini tidak lagi membatasi diri sebagai gereja suku tetapi gereja yang terbuka untuk semua orang yang ada di Kalimantan. Mulai pada Tahun 1960 GKE memperluas wilayah pelayanannya ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Dengan demikian sejak itu kawasan pelayanan GKE meliputi seluruh wilayah Kalimantan.[7]Tantangan yang harus dihadapi GKE adalah perkembangan masyarakat dan dunia yang terus berlangsung secara cepat dan berubah-ubah. GKE perlu benar-benar hadir sebagai alat kesaksian di bumi Kalimantan bersama-sama dengan semua umat beragama lainnya dari semua suku bangsa yang ada. GKE-pun terus dipanggil dan ditantang untuk semakin eksis dalam membawa syalom Allah di bumi Kalimantan sampai Ia mengenapkan rencana-Nya secara sempurna.

2.3. Dari sudut pekerjaan dan perkembangan gereja

Pekabaran Injil dan pekerjaan gereja di Kalimantan Tenggara dan Timur diteruskan oleh Basler Mission, suatu badan sending yang penting, yang anggotanya mula-mula terdapat di Swiss, maupun di jerman Barat daya, sesudah perang dunia 2, perhimpunan ini hanya terdapat di Swiss dan Basler Mission menerima tugas/pekerjaan pekabaran injil diantara suku dayak di Kalimantan pada tahun 1925.[8]

Supaya lebih memahami konteks dimana GKE berdiri, akan lebih baik jika keadaan Kalimantan dijelaskan terlebih dahulu. Sehingga dengan demikian kita dapat lebih memahami mengenai hubungan antara metode dan pemikiran misi yang diterapkan dalam GKE dengan keadaan Kalimantan sendiri. Bahkan kita mungkin bisa mengkritisi tepat tidaknya metode dan pemikiran misi tersebut dengan keadaan Kalimantan sendiri wilayah Borneo.[9]Sekarang Kalimantan terbagi menjadi lima provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Berikut ini akan dipaparkan secara singkat mengenai keadaan Kalimantan, baik pada masa dulu hingga masa sekarang. Di sini kelompok tidak memaparkan keadaan Kalimantan secara mendetail, namun hanya mengambil hal-hal yang dipandang penting dan berpengaruh dalam rangka pelaksanaan misi di Kalimantan.

3.      Sejarah Gereja menurut Dr. Abineno

3.1. Peletakan patokan Gereja (tanggal)

Gereja ini telah berdiri atas dorongan dari gerakan PGI pada 4 April 1935, yang dahulunya bernama Gereja Dayak Evangelis (GDE).

a.       Organisasi Gereja

Gambaran penyebaran pelayanan GKE dikoordinir melalui penjenjangan organisasi terdiri :

§  Sinode adalah bentuk kehadiran GKE secara menyeluruh, yang dinampakkan dalam seluruh gerak kebersamaan resort-resort dan calon resort dalam melaksanakan hidup persekutuan, kesaksian dan pelayanan bersama selaku gereja, dan dipimpin oleh Majelis Sinode.

§  Resort adalah bentuk kehadiran GKE yang merupakan persekutuan jemaat-jemaat dalam suatu daerah tertentu, yang ditampakkan dalam gerak kebersamaan dan kerjasama jemaat-jemaat dalam melaksanakan hidup persekutuan, kesaksian dan pelayanan selaku gereja di daerah itu. Dalam rangka pengembangan kerjasama antar jemaat yang berdekatan dilaksanakan dalam wadah Calon Resort dan dipimpin oleh Majelis Resort.

§  Jemaat adalah bentuk kehadiran GKE di suatu tempat atau wilayah tertentu, yang ditampakkan dalam hidup persekutuan, kesaksian dan pelayanan anggota-anggota GKE di tempat atau wilayah itu secara tertib dan teratur. Dalam rangka pengembangan pelaksanaan tugas-panggilan anggota jemaat di suatu wilayah pelayanan jemaat, maka dilaksanakan pelayanan khusus dalam wadah Pos Pelayanan, Pos Kebaktian dan Calon Jemaat dan dipimpin oleh Majelis Jemaat.

 

b.      Jawaban Gereja terhadap Adat

Pada gereja GKE Kalimantan Timur dan tenggara lebih kepada adat, antara lain :

§  Lembaga perkawinan adalah akta sosial yang dibentuk oleh Allah (Kej 2:18-25;Mat 19:1-11; Yoh.2:1-11).

§  Perkawinan perlu memperhatikan : kaidah sosial (adat dan hukum negara); dan kehendak Allah (peraturan Gereja).

§  Lembaga perkawinan dibentuk atas dasar pengesahan yang dilakukan oleh :

§  Gereja  : Peneguhan dan pemberkatan

§  Adat    : Pemenuhan Hukum Adat (bukan Kawin Adat)

§  Negara : Pencatatan Sipil

§  UU Perkawinan no. 1 tahun 1974 menegaskan bahwa perkawinan itu sah apabila dilaksanakan menurut agama yang dianut oleh mempelai, kemudian dicatat menurut undang-undang yang berlaku.

§  Dewan Adat/Majelis Adat adalah orang yang paling bertanggungjawab dalam kegiatan yang berhubungan dengan adat. Karena itu MJ perlu membangun relasi yang dialogis dengan mereka sebagai mitra pelayanan. Sebaiknya di dalam Dewan Adat atau Majelis Adat ada unsur yang mewakili warga gereja.

§  Ketiga lembaga sangat terkait erat dan perlu hubungan dialogis.

 

3.2. Dari sudut gereja (khatolik) yang dimana juga terdapat dalam Kalimantan Timur dan Tenggara.

            Bermula Dari Hulu Mahakam Mgr. Florentinus Sului MSF dalam kotbah misa perayaan 100 tahun Gereja Katolik di Kalimantan Timur yang dilaksanakan di Lapangan Tanaa Purai Ngeriman ( tanah yang suci-bersih, subur-makmur dan berlimpah ini) mengisahkan sejarah perkembangan karya misi di bumi Kalimantan Timur. Dalam penuturan Uskup Agung Samarinda ini diungkapkan bahwa karya missioner di Kalimantan Timur sebenarnya mulai dirintis dari abad ke 16 dengan masuknya Pastor Antonius Ventimiglia yang masuk ke komunitas Dayak Ngaju lewat Kalimantan Tengah. Namun karya missioner itu terhenti dengan terbunuhnya P. Antonius Ventimiglia pada tahun 1662.

            Namun usaha untuk meneruskan karya missioner terus dilakukan meski pernah disimpulkan bahwa daerah Kalimantan Timur bukanlah daerah yang aman untuk mewartakan Injil. Prefektus Apostolik Pontianak yang terbentuk pada tahun 1905 dengan dimotori para missionaris dari Ordo Kapusin mulai merintis kembali pekabaran Injil di Kalimantan Timur. Karya missioner ini dimulai dengan kedatangan Pastor Libertus Cluts, Cammilus Buil dan Bruder Ivo ketiganya dari Ordo Kapusin pada tahun 1907 di Desa Laham yang terletak di hulu Mahakam kurang lebih 500 km dari Samarinda. Medan karya missioner mereka adalah masyarakat Dayak yang kental dengan kepercayaan lokal mereka (yang kerap disebut sebagai animisme dan dinamisme) susah untuk ditembus bahkan cenderung menolak sistem kepercayaan baru yang diperkenalkan oleh para missionaris yang tentu saja tidak menguasai bahasa mereka. Mgr. Sului mengatakan saat itu para missionaris hampir putus asa dan berniat untuk menyerah. Namun sebuah pencerahan datang, muncul ide dari antara mereka untuk merubah strategi pendekatan yaitu dengan mendirikan sekolah bagi anak-anak Dayak. Maka mereka mulai mendirikan sekolah dan asrama sederhana serta memberi pelayanan kesehatan. Usaha untuk membawa anak-anak ke asrama untuk bersekolah juga tidak mudah karena keberatan dari orang tua mereka yang perlu tenaga anak-anaknya untuk membantu kegiatan perladangan. Ketika anak-anak sudah ada di asramapun kadang masih dijemput kembali oleh orang tuanya untuk dibawa pulang karena kegiatan perladangan telah dimulai kembali atau karena ada acara adat di kampungnya.[10]

      Namun meski perlahan akhirnya bibit yang disebar oleh para missionaris mulai dituai dengan baptisan untuk 14 putra dan 21 putri pada tahun 1913. Dua belas tahun kemudian yaitu pada tahun 1925 sakramen perkawinan untuk pertama kalinya diterima oleh sepasang putra-putri Dayak. Kekuatan karya missioner pada tahun 1920 bertambah dengan kehadiran 3 suster dari konggregasi Fransikanes Veghel (sr. Alexia, Ligoria dan Theodorata). Karena kesulitan komunikasi antara Pontianak dan Laham serta kurangnya sumberdaya dari Ordo Kapusin, maka popinsial Kapusin di Belanda menawarkan kepada Konggregasi MSF (Misionaris Keluarga Kudus) untuk mengambil alih karya missioner di Kalimantan Timur. Sejak tahun 1926, konggregasi MSF secara resmi mengambil alih karya missioner di Kalimantan Timur. Pusat misi kemudian di pindah ke Tering. Sumberdaya juga mulai bertambah dengan kedatangan suster dari Konggregasi Fransikanes Dongen dan MASF. Setelah jaman kemerdekaan tepatnya tahun 1955, pusat misi akhirnya dipindahkan ke Samarinda. Pada tahun 1961 status vikariat apostolik Samarinda ditingkatkan menjadi Keuskupan Samarinda. Tahun 2003 Keuskupan Samarinda yang telah melahirkan Keuskupan Tanjung Selor ditetapkan sebagai Keuskupan Agung dengan wilayah koordinasi pastoralnya meliputi Keuskupan sufragan Banjarmasin, Palangkaraya.

      Dalam penutup kotbahnya Mgr. Sului yang adalah putra Dayak mengungkapkan bahwa karya missioner di Kaltim menuai tuaian yang lumayan banyak. Namun lanjut Mgr. Sului tugas itu belum selesai dan harus terus dilanjutkan sebagaimana kutipan yang diambil dari injil Lukas 5:1. Memang dalam tata perayaan ekaristi (terutama setelah konsili Vatikan ke II), bentuk-bentuk kesenian adat (tarian, lagu/syair dan alat musik) mulai dipakai sebagai gaya misa lokal (Indonesia). Misa dengan lagu-lagu bercorak Dayak kini menjadi bagian dari kehidupan peribatan di Kalimantan Timur. Demikian pula tari-tarian, pakaian adat dan simbol-simbol Dayak dengan mudah ditemukan dalam peristiwa peribadatan atau peristiwa lainnya dalam Gereja Katolik Kalimantan Timur.[11]

      Saat perayaan misa peringatan 100 tahun, perarakan barisan konselebrans yang terdiri dari puluhan pastor dan uskup serta duta besar Vatikan (pro nuncius) menuju altar didahului dengan barisan panjang putra-putri Dayak dengan pakaian dan tarian yang mencerminkan keberagaman sub-sub suku yang disebut sebagai Suku Dayak. Petugas-petugas misa (petugas bacaan, pengumpul kolekte, pembawa derma, penerima tamu) juga menggunakan pakaian pakaian adat Dayak.

Suwila seorang Balian Bawe (Balian Perempuan) yang mempunyai nama dukun Putri Melak Hilir, menceritakan pengalamannya bahwa saat tidak menjalankan aktivitas sebagai Belian maka dia adalah orang Katolik, tetapi saat menjadi Belian maka kepercayaannya adalah kepercayaan adat/suku. Meski tidak menunjukkan adanya rivalitas tapi dalam sesungguhnya dalam diri sang Putri Melak Hilir ada dualisme kepercayaan yang sungguh berbeda. Rasau, kepala adat Benuag di desa Dermai, Kecamatan Damai, Kubar mengungkapkan bahwa agama adalah tambahan bagi adat. Dari pernyataan ini maka agama berada dalam posisi sub-ordinat dari adat. Sementara sebagian besar umat menganggap bahwa praktek-praktek adat terutama dalam bentuk Balian adalah praktek yang bertentangan dengan kepercayaan Kristen. Mama Pirin, warga Kenyah yang tinggal di Long Anai bahkan kerap mengatakan praktek seperti itu adalah praktek mereka saat masih kafir (belum Kristen). Dari kesaksian beberapa warga di Eheng, terangkum pernyataan bahwa Gereja Katolik (pastor) tidak pernah secara jelas-jelas melarang kegiatan itu. Bahkan seorang pastor dulu pernah disembuhkan lewat pengobatan Balian setelah penanganan secara medis tidak berhasil. Rudi Haryo AMZ seorang pencinta kebudayaan Dayak mengungkapkan bahwa Gereja memang tidak melarang tetapi menciptakan kondisi yang tidak mendukung tumbuh kembangnya praktik Balian. Dan memang karya missioner kesehatan dari gereja Katolik lewat yayasan Setia Budi (Rumah Sakit Dirgahayu, dll) secara jelas telah merubah orientasi medis masyarakat Dayak dari medis Balian ke arah medis Modern. Pak Yoseph yang merupakan tetua di Lamin Benum, Kecamatan Damai, Kubar, menyatakan bahwa Balian sudah jarang dilakukan di desanya karena kini mereka berobat ke dokter.

Gambaran diatas meski bukan merupakan riak besar dalam kehidupan iman masyarakat Katolik di Kalimantan Timur, namun tetap merupakan persoalan yang harus diselesaikan dalam konteks kepenuhan baik sebagai orang Dayak dan sekaligus Katolik (Dayak dan Katolik seutuhnya). Dualitas adalah persoalan dan sekaligus membingungkan. Supinah seorang Balian dari Suku Benuaq mengungkapkan kebingungan itu dengan pertanyaan ”Kenapa gereja yang satu (bisa juga umatnya) selalu mengusik profesi saya sebagai ”praktek orang hutan”, sementara Gereja yang lain (bisa juga umatnya) bersikap tidak ambil peduli?”. ”Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam”, dalam kondisi seperti ini bisa dimaknai sebagai sebuah perintah misioner untuk menyelami keadaan secara lebih dalam, menembus ruang dan pergolakan batin sebagian masyarakat Dayak yang meski telah menjadi Katolik tetapi tidak memutus hubungan dengan tradisi, ritual dan keyakinan yang diwarisi dari nenek moyangnya. Gereja Katolik Kalimantan Timur telah membuktikan pertautan yang cukup manis dengan kebudayaan Dayak terutama berkaitan dengan seni baik musik (syair dan lagu), tari, pakaian dan simbol-simbol lainnya. Namun ruang dialog dan tranformasi teologi berkaitan dengan kepercayaan dan ritual warisan para leluhur masih harus terus dilakukan hingga tercapai ’kesepakatan’ tanpa semangat saling mengalahkan melainkan melahirkan sebuah generasi yang utuh baik sebagai orang Dayak yang sekaligus adalah Katolik. Bukankah ada adagium yang mengatakan ”Theologia semper reformanda” atau teologi harus terus menerus diperbaharui. Dengan demikian gereja lokal bukan semata-mata bercorak fisik tetapi secara lebih luas juga menjadi cemin penghayatan iman berbasis pada teologi lokal tanpa meninggalkan ajaran dan kepercayaan inti yang diturunkan oleh Tuhan Allah melalui Yesus putraNYA yang terkasih.[12]Gereja Lokal Mandiri setelah cukup lama menyusul dari kelompok missioner Eropa, pelan-pelan Gereja Katolik Kalimantan Timur mulai ’disapih’ agar bisa berdiri sendiri. Bantuan dari Eropa saat ini bisa dikatakan sudah tidak ada lagi, semua kebutuhan bagi pelayanan gereja harus diperoleh dan dikumpulkan sendiri. Para misionaris telah lama menyadari hal ini, Pastor Klein yang berkarya di Barong Tongkok dalam kenangan Pak Juventius dianggap telah mempersiapkan hal itu dengan mengembangkan unit produksi berupa kebun karet dan usaha perkayuan. Lebih lanjut Pak Juven menerangkan bahwa hasil dari usaha itu sangat membantu karya dan pelayanan Gereja terutama dalam hal pendidikan dimana para guru bisa memperoleh kesejahteraan yang cukup. Namun sayangnya saat ditinggalkan oleh Pastor Klein justru terjadi miss manajemen yang mengakibatkan kebun menjadi tidak terurus bahkan dijual dan pohon yang tersisapun kini telah ditebang. Kini kondisi guru di sekolah yang dikelola yayasan Katolik memprihatinkan. Bahkan ada sekolah yang ditutup dan digabungkan dengan SD Negeri karena yayasan tak mampu menanggung beban operasional. ”Salah satunya adalah SDK di Eheng tempat saya mengajar,” katanya.

            Masyarakat Dayak sebagai bagian terbesar dari umat Katolik di Kalimantan Timur masih terus dicitrakan negatif sampai saat ini. Citra yang direpuduksi oleh para pelancong, peneliti dan kolonialis barat terus masih bertahan, bahkan dalam masa pasca kemerdekaan para penyiar agama, birokrat dan cerdik pandai (kaum terdidik) masih saja terjebak dalam strerotype yang sama. Kebijakan pembangunan sampai saat ini juga belum berpihak pada mereka, bahkan usaha pembangunan sektor wisata jika tidak segera dikritisi bisa terus melanggengkan image, pencitraan dan menghadirkan kenyataan yang tidak lagi ada untuk menarik perhatian wisatawan. Iman atau kepercayaan dalam fitrahnya adalah sebuah jalan kemerdekaan tanpa kekerasan. Sejarah siar agama (misi dan dakwah) di masa lalu mungkin juga masih tersisa saat ini tidak lepas dari jejak penahklukan (kolonisasi) atas sistem maupun praktek peradaban lokal.

             Banyak sekali sikap hidup, nilai dasar  dan praktek/pengetahuan/kebijakan lokal suku Dayak (dan tentu saja suku-suku lainnya) yang bisa disumbangkan bagi terwujudnya praktek keberimanan yang memerdekakan. Iman sebagai siasat untuk menghadapi tantangan jaman adalah praksis yang merefleksikan ajaran kitab suci, iman, tradisi agama dan lokal (suku/adat) untuk mendayagunakan segenap potensi perubahan jaman menuju tegaknya nilai-nilai: kemerdekaan, persaudaraan, keadilan/kesejahteraan sosial dan kerakyatan. Ad Multos Annos, Selamat merayakan 100 Tahun Gereja Katolik Keuskupan Agung Samarinda.

III.             PENUTUP

Kesimpulan

Pada tanggal 4 april 1935 diresmikanlah Gereja Dayak Evangelis. Proklamasi berdirinya Gereja Dayak Evangelis dilaksanakan pada persidangan Sinode Umum di Kuala kapuas yang berlangsung sejak tanggal 2-6 April 1935. Dalam persidangan tersebut, pada tanggal 4 April 1935 pukul 12 siang disahkan secara resmi Peraturan Gereja I Gereja Dayak Evangelis. Inilah tanggal yang dinyatakan sebagai berdirinya Gereja Dayak Evangelis disingkat GDE sebagai Gereja yang berdiri sendiri. Kemudian pada tahun 1950, seiring dengan masuknya GDE menjadi anggota Dewan gereja-Gereja Di Indonesia (DGI), nama Gereja Dayak Evangelis (GDE) diganti menjadi “GEREJA KALIMANTAN EVANGELIS” (GKE). Gereja ini tidak lagi membatasi diri sebagai gereja suku tetapi gereja yang terbuka untuk semua orang yang ada di Kalimantan. Barnstein adalah missionaris pertama yang datang ke Kalimantan yang diutus oleh Badan Zending dari Rheinische Missionsgezelschaft zu Barmen (RMG). Kemudian Awal abad XX ditandai oleh tragedi dunia dengan pecahnya Perang Dunia I di Eropa. Salah satu akibat nyata yang dialami oleh Badan Zending RMG akibat Perang Dunia I tersebut adalah kesulitan keuangan yang parah. Badan ini tidak mampu lagi membiayai pelaksanaan PI baik di Kalimantan maupun Sumatera. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan kerinduan sebuah Badan Zending di Basel, Swiss yang bernama Basler Misssionsgezellschaft, (BM) maka pada tahun 1920 disepakati bahwa BM mengambil alih pelaksanaan PI di Kalimantan. Para Misionaris yang datang Kalimantan adalah Missionaris Roth, Wiegand dan isteri, Misionaris Kind dan isteri beserta dua orang anak mereka mati dibunuh di Tanggohan. Missionaris Hofmeister dan isteri di bunuh di Penda Alai. Sedangkan Missionaris Klammer yang berada di Tamiang layang, yang dalam keputusasaan dan ketakutan berhasil diselamatkan oleh para pemimpin Dayak Maanyan. Dan beberapa metode yang dipakai oleh para missionaries untuk mencapai orang Dayak dengan Injil adalah : (1) memenangkan ikatan persahabatan dan persaudaraan, (2) Pendekatan kepada golongan atasan/kepala suku, (3) Perbaikan taraf hidup sosial ekonomi rakyat, (4) Pendidikan dan (5) Pelayanan Kesehatan. Sedangkan GKE-pun terus dipanggil dan ditantang untuk semakin eksis dalam membawa syalom Allah di bumi Kalimantan sampai Ia mengenapkan rencana-Nya secara sempurna. Hal ini selanjutnya ditunjukkan dengan kesadaran bahwa orang-orang yang bisa menjadi anggota gereja ini bukan hanya orang Dayak, melainkan semua orang dari berbagai suku bangsa yang ada di Kalimantan.


[2] Muller Kruger, Sedjarah Geredja, hlm 130-131.

[3] Van Den End, Ragi Cerita 2: Sejarah Gereja di Indonesia 1860-Sekarang, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hlm 177.

[4] Van Den End, Ragi Cerita 2: Sejarah Gereja di Indonesia 1860-Sekarang, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hlm 179.

[5] Berkhof, Dr I H Enklaar, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), hlm 70.

[6] Fridolin Ukur, Tuaiannya sungguh banyak: Gereja Kalimantan Evangelis sejak tahun 1835, (Jakarta: BPK Gunung Muli, 2002), hlm 72-292.

[7] Fridolin Ukur, Tuaiannya sungguh banyak: Gereja Kalimantan Evangelis sejak tahun 1835, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2002), hlm 211.

[8] Berkhof, Dr I H Enklaar, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), hlm 312.

[10] R. Masri Sareb Putra, 101 Tokoh Dayak yang Mengukir Sejarah, (Bandung: Surya University, 2014), hlm 81.

[11] Jan Sihar Aritonang, A history of Cristiany In Indonesian, (Boston: Leiden, 2008), hlm 201-205.

[12] Jan Sihar Aritonang, A history of Cristiany In Indonesian, (Boston: Leiden, 2008), hlm 502.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...