Rabu, 12 Juli 2023

YERUSALEM: Sejarah, Pergolakan dan Arkeologi

 I.                   Pendahuluan

      Pada masa kini, Yerusalem merupakan kota yang banyak diperbincangkan dalam kaitannya dengan isu Agama, Politik, Sosial dan  lainnya. Kota ini menjadi sorotan global sejak lama, yang dimulai dari zaman Perang salib. Mulanya Yerusalem bukan merupakan kota yang kontroversial di dunia kuno, seperti kota Atena, Ur, Niniwe, Memphis atau bahkan Yeriko. Sederetan kota kuno diatas yang sudah berdiri ratusan atau bahkan ribuan tahun sebelum Yerusalem berdiri sebagai kota dengan sederetan kontroversial dan masalah politik yang berkepanjangan. Pada masa sekarang ini, Yerusalem merupakan kota yang dimiliki Negara Israel, Palestina dan Yordania. Belakangan sejak Amerika menetapkan Yerusalem sebagai milik Israel, hal ini kemudian menimbulkan perdebatan baru dan isu kontroversial yang baru mengenai kepemilikan Yerusalem.

      Dalam tulisan ini, penulis tidak mengadopsi sejumlah permasalahan politik Modern  dan isu kontroversial tersebut. Penulis fokus terhadap masalah sejarah kuno, arkeologi dan juga pergeseran yang terjadi baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan lainnya.

II.                Pembahasan

Geografis

       Kota Yerusalem merupakan kota yang berada di atas bukit yang luas. Kota ini berada di perbatasan Yehuda. Kota ini terletak 32 mil dari laut, 18 mil dari sungai Yordan, 20 mil dari  Hebron dan 36 mil dari Samaria. Kota ini bukanlah terletak di jantung palestina, melainkan di daerah perbukitan yang luas, dimana perbukitan tersebut membentang dari wilayah Yehuda sampai ke  dekat Samaria. Kota ini juga bisa di tempuh melalui perjalanan dari yeriko dan juga bukit Zaitun.

      Kota Yerusalem sudah berdiri paling sedikit sejak milenium 3 sM, menurut catatan kuno dan penggalian arkeologi. Dewasa ini Yerusalem dipandang kota suci oleh penganut tiga agama monoteis, yaitu agama Yahudi, Kristen dan Islam.  Kontur kota itu sendiri tidak begitu datar, dan agak tajam menurun ke arah tenggara mengarah ke Yordan. Bukit-bukit yang  menjulang di kiri kanan lembah Tiropuon membagi kota ini menjadi dua bagian yaitu bagian barat dan timur.[1]

       Dalam pemerintahannya supremasi Yehuda atas suku-suku yang lain terkonsolidasi ketika Daud merebut Yerusalem dan menjadikannya ibukota kerajaan. Hal ini juga diperkuat dengan menempatkan tabut perjanjian di Yerusalem dan menjadikannya tempat kudus untuk peribadahan bersama.[2] Daud memilih kota yang netral ini sebagai ibu kota ideal, sehingga dari sana ia dapat memerintah, baik utara maupun selatan, dalam kesatuan religius dan politis.[3] Daud merebut kota ini dari Suku Yebus. Di perbatasan dengan kerajaan Utara dibangun istana raja, dan tempat Bait Allah dipilih di atas Gunung Moria, yang dibangun oleh Salomo, anak Daud. Sejak itu, Yerusalem menjadi pusat keagamaan dan politik. Pergeseran politik menyebabkan sejumlah situasi yang menyebabkan masa-masa makmur atau bahkan penyerangan, serta menjadi tujuan jutaan peziarah. Sayangnya, Yerusalem sebagai pusat keagamaan bersama, yang ideal untuk kedua bagian kerajaan itu, tidak berlangsung lama. Bahkan pada masa Salomo pun berbagai penyembahan asing  diizinkan berada di daerah pinggiran, dan setelah perpecahan, ketika Israel Utara memisahkan diri dari Yehuda, di Utara dibangun tempat-tempat suci untuk mencegah orang-orang yang mau beribadah agar tidak pergi ke Yerusalem.

 

Nama-nama Panggilan

      Kota ini memiliki banyak nama panggilan seperti:

Kota Allah

Mzm. 46:5; 48:2

Kota Daud

2Taw. 25:28

Kota yang tidak ditinggalkan

Yes. 62:12

Kota yang setia

Yes. 1:21,26

Kota kebenaran

Za. 8:3

Kota Raja Besar

Mzm 48:3

Kota keadilan

Yes 1:26

Kota yang kudus

Neh 11:1; Mat 4:5

Kota Tuhan

Yes 60:14

Sion

Mzm 48:13; Yes 33:20

      Sejarah

      Bangunan dari zaman pra Yebus hanya ada sedikit yg tersisa, tapi boleh jadi bahwa suatu kota kecil berkembang di bukit tenggara dekat mata air Gihon di sebelah timur. Orang Yebus memperluas kota tapi sangat terbatas, berupa pembangunan teras-teras ke sebelah timur, sehingga tembok timur berada di bawah bukit dekat mata air itu. Teras-teras dan tembok timur ini nampaknya sering menuntut pemeliharaan dan perbaikan sampai dibinasakan oleh orang Babel pada permulaan abad 6 sM.[4]

      Setelah kematian Daud, Salomo membangun bait suci, sebuah rumah untuk nama Tuhan, di Gunung Moria (1010 SM).[5] Dia juga sangat memperkuat dan menghiasi kota itu, dan kota itu menjadi pusat semua urusan sipil dan agama (Ulangan 12: 5; Mazmur 122). Setelah gangguan kerajaan saat Rehabeam, putra Salomo menjadi raja, Yerusalem kemudian hanya menjadi ibukota Israel selatan. 

      Setelah wafatnya Salomo pada 931 SM, sepuluh suku di utara menolak menerima Rehabeam sebagai raja mereka, dan sebagai gantinya memilih Yerobeam, yang bukan dari garis Daud, sebagai raja mereka. Kerajaan utara kemudian dikenal dengan Kerajaan Israel atau Israel.[6] Pemberontakan terjadi di Sikhem, dan Suku Yehuda merupakan yang tersisa pertama kali yang menerima Keluarga Daud. Kemudian, setelah Suku Benyamin bergabung dengan Yehuda, Yerusalem (yang terletak di teritori Benyamin (Yosua 18:28) menjadi ibu kota kerajaan baru tersebut. Kerajaan selatan disebut dengan kerajaan Yehuda atau Yehuda.  Kerajaan itu kemudian hanya di dukung dua suku yang kemudian menata ulang pemerintahan. Namun garis keturunan raja hanya diambil dari keturunan Daud, berbeda dengan yang terjadi di utara dimana tidak adanya dinasti yang tetap.

      Pertumbuhan Yehuda yang lambat dimulai dari abad 9-8 bukanlah perkembangan yang aneh, tetapi menjadi bagian dari panorama yang lebih besar dari pembentukan negara baru di pedalaman Palestina dan di Transyordan. Panorama ini tidak termasuk negara-negara kota Filistin di sepanjang pantai selatan, atau kota-kota Fenisia di sepanjang pantai utara, di mana kepatuhan tradisi budaya dan politik Zaman Perunggu Akhir menjamin kelanjutan dari organisasi negara tingkat tinggi.

      Ekonomi

      Populasi Yehuda pada abad ke-8 diperkirakan sekitar 110.000, ini adalah separuh dari mereka di Shephelah yang dikenal dengan penduduk paling padat dan berkembang. Yerusalem masih terbatas pada kota Daud dengan ukuran 4 atau 5 hektar dan dikelilingi oleh dinding.  Luas Yerusalem meningkatkan di zaman perunggu akhir usia sampai ke  Zaman besi I.  Tapi wilayah ini masih memiliki  sedikit penduduk disbanding  Tell En-nasbeh  di dataran tinggi yang menunjukan tanda perkembangan dengan dindingnya yang mengesankan (menampilkan 12 menara dan gerbang kota), dan dengan bentuk cincin perkotaan yang khas.[7]

      Kemudian, beberapa situs seperti, Khirbet Rabud (benteng). Namun, perbatasan Barat Negev lebih dikuasai oleh Filistin daripada kontrol Yehuda. Di ujung Selatan lembah Beer-Sheba yang dulunya adalah pemukiman Amalek telah berada di bawah kendali Yudea sejak Zaman Daud. Pemukiman ini masih didasarkan pada jenis empat kamar “rumah berpilar.”[8]

      Struktur keluarga tradisional memiliki daftar kalender Gezer (pertanggalan) sebagai berikut[9]:

1.   Dua bulan adalah panen ( Minyak)

2.   Dua bulan untuk menabur ( Menanam)

3.   Dua bulan adalah akhir penanaman  

4.   Satu bulan mencangkuli jerami

5.   Satu bulan panen jelai

6.   Satu bulan panen raya dan perayaan

7.   Dua bulan perawatan anggur

8.   Satu bulan dari buah musim panas

           Evolusi ekonomi yang berlaku di sekeliling Yehuda terjadi melalui Transjordania, Negev Selatan (sepanjang jalan antara Edom dan Gaza) dan pantai tenang dibawah kendali Filistin. Impor arkeologis dibuktikan jauh lebih sederhana daripada di Utara (misalnya, tembikar Fenisia).

             Selain ibukotanya lebih kecil, kota-kota sekunder dalam radius 10/20 km dan banyak permukiman dengan menara yang khas yang tersebar di tanah pertanian (khususnya di Beq‘a). Temuan-temuan (kurang lebih tidak disengaja) di benteng Amman telah termasuk potongan-potongan patung kerajaan abad kedelapan, satu bertuliskan prasasti; dan berkat penyebutan raja-raja Amon dalam prasasti-prasasti Asyur, dimungkinkan untuk merekonstruksi garis besar suksesi dinasti.

       Politik

      Kota Yerusalem sempat diserang oleh Mesir, orang Asyur, dan oleh raja-raja Israel (2 Raja-raja 14:13, 14; 18:15, 16; 23: 33-35; 24:14; 2 Tawarikh 12: 9 ; 26: 9; 27: 3, 4; 29: 3; 32:30; 33:11), sampai akhirnya setelah pengepungan tiga tahun kota ini benar-benar dihancurkan. Akibatnya kebanyakan  temboknya rata dengan tanah, rumah rumah dibakar, Bait Allah  serta istana  terbakar oleh Nebukadnezar, raja Babel (2 Raja 25; 2 Tawarikh 36; Yeremia 39), SM 587/586. Kehancuran kota dan tanah itu diselesaikan dengan mundurnya orang-orang Yahudi ke Mesir (Yeremia 40-44), dan dengan membawa tawanan ke Babel dari semua yang masih tersisa di negeri itu (52: 3), sehingga dibiarkan tanpa penghuni (SM 582).

      Tetapi jalan-jalan dan tembok-tembok Yerusalem dibangun kembali, pada masa-masa sulit (Dan. 9:16, 19, 25), setelah penahanan tujuh puluh tahun. Pemulihan ini dimulai SM 536, pada tahun pertama Koresh (Ezra 1: 2, 3, 5-11). Kitab Ezra dan Nehemia berisi sejarah pembangunan kembali kota dan Bait Allah, dan pemulihan kerajaan Yahudi, yang terdiri dari sebagian suku Israel. Kerajaan yang terbentuk adalah selama dua abad di bawah kekuasaan Persia, sampai 331 SM,  dan sesudahnya, selama sekitar satu setengah abad, di bawah penguasa kekaisaran Yunani di Asia, sampai 167 SM.[10] Selama seabad orang-orang Yahudi mempertahankan kemerdekaan mereka di bawah penguasa pribumi, para pangeran Hasmonean. Pada akhir periode ini mereka jatuh di bawah pemerintahan Herodes dan anggota keluarganya, tetapi secara praktis di bawah Romawi yang kemudian banyak melakukan pembangunan, sampai saat kehancuran Yerusalem 70 M ketika kota itu kemudian dihancurkan oleh jenderal Titus.

      Sanitasi

      Di Yerusalem, setiap Warga memiliki tangki air, yang disuplai oleh hujan dari atap rumah, dan setiap kota memiliki persediaan air yang kuotanya terkadang tidak jelas, karena tergantung curah hujan. Di Yerusalem, ada tiga saluran air yang berfungsi untuk sanitasi, irigasi mini dan lainnya.  Sejumlah kolam dan air mancur, dan area khusus untuk ibadah  dipenuhi kolam besar, yang total kapasitasnya diperkirakan 10.000.000 galon. Tiga puluh waduk/kolam  ini dijelaskan, bervariasi dari kedalaman 25-50 meter.  Waduk dan kolam ini disuplai air oleh curah hujan dan oleh saluran air. Salah satunya, yang dibangun oleh Pilatus, telah diperkirakan  hingga 40 meter. Meskipun dalam kenyataannya hanyalah 13 meter. Itu membawa air dari mata air Elam, di selatan, di luar Betlehem, sampai ke bawah penutup bait suci. 

      Di luar tembok di sisi barat ada kolam yang dinamakan  Kolam Atas dan Bawah Gihon, yang sebelumnya lebih ke barat laut di arah ke Jaffa. Di persimpangan lembah Hinom dan Yosafat Ada yang dinamakan  “Sumur Ayub” di tengah-tengah taman raja. Di dalam tembok, tepat di utara Sion, ada "Kolam Hizkia." Sebuah kolam besar yang ada di bawah bait Allah (sebagaimana dimaksud dalam Pengkhotbah 1: 3) mungkin dipasok oleh beberapa saluran air bawah tanah. "Kolam Raja" mungkin identik dengan "Air Mancur Perawan," di sudut selatan Moria. Dari sini saluran bawah tanah memotong melalui batuan padat menuntun air ke kolam Siloam.  Kumpulan tradisi yang telah menetapkan nama Betesda  terletak di sisi utara Moria, yang sekarang bernama Birket Israil.

Penyebutan Nama Yerusalem

      1. Dalam Cuneiform ( Huruf paku)

      Penyebutan Yerusalem yang paling awal adalah dalam surat Tell el-Amarna (1450 SM), dimana ia muncul dalam bentuk Uru-sa-lim; mirip dengan ini ada juga kata  Ur-sa-li-immu di monumen Asiria abad ke-8 SM. Dalam  Alkitab kata yang paling kuno adalah yerusyalem, disingkat dalam Mazmur 76: 2 (bandingkan Kejadian 14:18) dengan Salem, tetapi dalam Teks Masoretik sering di bacakan dengan yerusyalayim (Yeremia 26:18 Ester 2: 6 2 Tawarikh 25: 1; 2 Tawarikh 32: 9). Kata  Yerusyalayim juga digunakan pada koin Yahudi sewaktu  Pemberontakan dan juga dalam literatur Yahudi seperti dalam Talmud modern.

2. Dalam bahasa Ibrani:

      Bentuk bahasa Ibrani dengan akhiran -im atau -ayim diterjemahkan sebagai bentuk dual/rangkap. Dalam kata Yerusyalayim termuat istilah Yerusalem  atas dan bawah ( Timur-barat), tetapi bentuk-bentuk seperti itu terjadi dengan nama lain seperti Mitzrayim ( Mesir).

3. Dalam bahasa Yunani dan Latin:

      Dalam Septuaginta, ditemukan kata (Ierousalem), yang secara konstan mencerminkan pelafalan bahasa Ibrani yang paling awal dan umum, sehingga terjadi pergeseran menyebabkan sering diterjemahkan dengan Hierousalem. Bentuk terakhir ini telah dibawa ke penulis Latin oleh Cicero, Pliny, Tacitus dan Suetonius. Itu digantikan dalam penggunaan resmi selama beberapa abad oleh Hadrian's Aelia Capitolina, yang lebih dulu dari Jerome, tetapi kembali menjadi umum digunakan dalam dokumen Perang Salib. Dalam Perjanjian Baru juga ditemukan kata Hierousalem, khususnya dalam tulisan Lukas dan Paulus (ta Hierosoluma).

4. Arti Yerusalem:

      Berkenaan dengan makna nama asli tidak ada persetujuan pendapat. Bentuk tertua yang diketahui, Uru-sa-lim, telah dianggap oleh banyak orang berarti “Kota Damai” atau “Kota (dewa) Salem,” tetapi penafsir lain, yang menganggap nama itu berasal dari bahasa Ibrani, menafsirkan itu sebagai “kepemilikan perdamaian” atau “dasar perdamaian.” Ini adalah salah satu ironi sejarah bahwa sebuah kota yang sepanjang sejarah panjangnya telah melihat sangat sedikit kedamaian dan sangat berbanding terbalik dengan arti namanya.

5. Nama Lainnya

       Dalam Yesaya 29: 1, muncul nama ari’el mungkin mengacu pada  “perapian Allah,” dan dalam Mazmur 72:16, Yeremia 32:24, Yehezkiel 7:23, kita memiliki istilah ha’ir, “kota” berbeda dengan “tanah.” Seluruh kelompok nama dihubungkan dengan gagasan kesucian  “ kota suci” seperti dalam Yesaya 48: 2; Yesaya 52: 1 dan  Nehemia 11: 1.

Geologi

      Lingkungan Yerusalem relatif sederhana.  Ciri yang menonjol adalah bahwa batu-batu itu seluruhnya terdiri dari berbagai bentuk batu kapur, dengan lapisan batu yang mengandung strata. Dalam hal ini tidak ada batuan primer dan  tidak ada batu pasir (seperti muncul ke permukaan di sebelah timur Sungai Yordan) serta  tidak ada batu vulkanik. Formasi batu kapur berada dalam strata mencelupkan biasa ke arah Tenggara, dengan sudut sekitar 10 derajat.

      Di bukit-bukit tinggi yang menghadap ke Yerusalem di Timur, Tenggara dan Barat Daya masih ada lapisan tebal dari batu kapur berkapur dari periode pasca-Tersier yang memahkotai begitu banyak puncak bukit di Palestina, dan pernah menutupi seluruh daratan. Di “Bukit Zaitun,” misalnya, muncul lapisan batu kapur konglomerat yang dikenal sebagai Nari, atau “batu api,” dan endapan yang lebih tebal, yang dikenal sebagai Ka’kuli, di mana dua strata yang berbeda dapat dibedakan. Dalam lapisan ini, terutama yang terakhir, terjadi kantong yang mengandung marl atau haur, dan di keduanya ada pita batu.



[1] D.F. Payne, “ Yerusalem” dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, ( Jakarta: YKBK, 2002), 570-571.

[2] Daniel C. Snell, Kehidupan di Timur Tengah Kuno, ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), 267.  

[3] Robert B. Coote, Kuasa Politik dan Proses pembuatan Alkitab, ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 4-5.

[4] D.F. Payne, “ Yerusalem” dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, 574.

[5] Robert B. Coote, Kuasa Politik dan Proses pembuatan Alkitab, 41.

[6] Beth Alpert Nakhai, Archaeology and the Religions of Canaan and Israel, ( USA: ASOR books, 2001), 54-55.

[7] John C. H. Laughlin, Archaeology and the Bible, (New York: Routledge, 2000), 125-126.

[8] John C. H. Laughlin, Archaeology and the Bible, 129.

[9] Philip J. King, Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 101.

[10] Joachim Jeremias, Jerusalem in the Time of Jesus, (London: W & J Mackay, 1969), 64.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...