I. Pendahuluan
Pada
masa kini, Yerusalem merupakan kota yang banyak diperbincangkan dalam kaitannya
dengan isu Agama, Politik, Sosial dan
lainnya. Kota ini menjadi
sorotan global sejak lama, yang dimulai dari zaman Perang salib. Mulanya
Yerusalem bukan merupakan kota yang kontroversial di dunia kuno, seperti kota
Atena, Ur, Niniwe, Memphis atau bahkan Yeriko. Sederetan kota kuno diatas yang
sudah berdiri ratusan atau bahkan ribuan tahun sebelum Yerusalem berdiri
sebagai kota dengan sederetan kontroversial dan masalah politik yang
berkepanjangan. Pada masa sekarang ini, Yerusalem merupakan kota yang dimiliki
Negara Israel, Palestina dan Yordania. Belakangan sejak Amerika menetapkan
Yerusalem sebagai milik Israel, hal ini kemudian menimbulkan perdebatan baru
dan isu kontroversial yang baru mengenai kepemilikan Yerusalem.
Dalam tulisan ini, penulis tidak
mengadopsi sejumlah permasalahan politik Modern
dan isu kontroversial tersebut. Penulis fokus terhadap masalah sejarah
kuno, arkeologi dan juga pergeseran yang terjadi baik dalam bidang sosial,
ekonomi, politik dan lainnya.
II.
Pembahasan
Geografis
Kota Yerusalem merupakan kota yang berada di
atas bukit yang luas. Kota ini
berada di perbatasan Yehuda. Kota ini terletak 32 mil dari laut, 18 mil dari
sungai Yordan, 20 mil dari Hebron dan 36
mil dari Samaria. Kota ini bukanlah terletak di jantung palestina, melainkan di
daerah perbukitan yang luas, dimana perbukitan tersebut membentang dari wilayah
Yehuda sampai ke dekat Samaria. Kota ini
juga bisa di tempuh melalui perjalanan dari yeriko dan juga bukit Zaitun.
Kota Yerusalem sudah
berdiri paling sedikit sejak milenium 3 sM, menurut catatan kuno dan penggalian
arkeologi. Dewasa ini Yerusalem dipandang kota suci oleh penganut tiga agama
monoteis, yaitu agama Yahudi, Kristen dan Islam. Kontur kota itu sendiri tidak begitu datar,
dan agak tajam menurun ke arah tenggara mengarah ke Yordan. Bukit-bukit
yang menjulang di kiri kanan lembah
Tiropuon membagi kota ini menjadi dua bagian yaitu bagian barat dan timur.[1]
Dalam pemerintahannya supremasi Yehuda atas
suku-suku yang lain terkonsolidasi ketika Daud merebut Yerusalem dan
menjadikannya ibukota kerajaan. Hal ini juga diperkuat dengan menempatkan tabut
perjanjian di Yerusalem dan menjadikannya tempat kudus untuk peribadahan
bersama.[2] Daud
memilih kota yang netral ini sebagai ibu kota ideal, sehingga dari sana ia
dapat memerintah, baik utara maupun selatan, dalam kesatuan religius dan
politis.[3]
Daud merebut kota ini dari Suku Yebus. Di perbatasan dengan kerajaan Utara
dibangun istana raja, dan tempat Bait Allah dipilih di atas Gunung Moria, yang
dibangun oleh Salomo, anak Daud. Sejak itu, Yerusalem menjadi pusat keagamaan
dan politik. Pergeseran politik menyebabkan sejumlah situasi yang menyebabkan
masa-masa makmur atau bahkan penyerangan, serta menjadi tujuan jutaan peziarah.
Sayangnya, Yerusalem sebagai pusat keagamaan bersama, yang ideal untuk kedua
bagian kerajaan itu, tidak berlangsung lama. Bahkan pada masa Salomo pun
berbagai penyembahan asing diizinkan
berada di daerah pinggiran, dan setelah perpecahan, ketika Israel Utara
memisahkan diri dari Yehuda, di Utara dibangun tempat-tempat suci untuk
mencegah orang-orang yang mau beribadah agar tidak pergi ke Yerusalem.
Nama-nama
Panggilan
Kota
ini memiliki banyak nama panggilan seperti:
|
Kota
Allah |
Mzm. 46:5; 48:2 |
|
Kota
Daud |
2Taw. 25:28 |
|
Kota
yang tidak ditinggalkan |
Yes. 62:12 |
|
Kota
yang setia |
Yes. 1:21,26 |
|
Kota
kebenaran |
Za. 8:3 |
|
Kota
Raja Besar |
Mzm 48:3 |
|
Kota
keadilan |
Yes 1:26 |
|
Kota
yang kudus |
Neh 11:1; Mat 4:5 |
|
Kota
Tuhan |
Yes 60:14 |
|
Sion |
Mzm 48:13; Yes 33:20 |
Sejarah
Bangunan
dari zaman pra Yebus hanya ada sedikit yg tersisa, tapi boleh jadi bahwa suatu
kota kecil berkembang di bukit tenggara dekat mata air Gihon di sebelah timur.
Orang Yebus memperluas kota tapi sangat terbatas, berupa pembangunan
teras-teras ke sebelah timur, sehingga tembok timur berada di bawah bukit dekat
mata air itu. Teras-teras dan tembok timur ini nampaknya sering menuntut
pemeliharaan dan perbaikan sampai dibinasakan oleh orang Babel pada permulaan
abad 6 sM.[4]
Setelah
kematian Daud, Salomo membangun bait suci, sebuah rumah untuk nama Tuhan, di
Gunung Moria (1010 SM).[5]
Dia juga sangat memperkuat dan menghiasi kota itu, dan kota itu menjadi pusat
semua urusan sipil dan agama (Ulangan 12: 5; Mazmur 122). Setelah gangguan
kerajaan saat Rehabeam, putra Salomo menjadi raja, Yerusalem kemudian hanya
menjadi ibukota Israel selatan.
Setelah
wafatnya Salomo pada 931 SM, sepuluh suku di utara menolak menerima Rehabeam
sebagai raja mereka, dan sebagai gantinya memilih Yerobeam, yang bukan dari
garis Daud, sebagai raja mereka. Kerajaan utara kemudian dikenal dengan
Kerajaan Israel atau Israel.[6]
Pemberontakan terjadi di Sikhem, dan Suku Yehuda merupakan yang tersisa pertama
kali yang menerima Keluarga Daud. Kemudian, setelah Suku Benyamin bergabung
dengan Yehuda, Yerusalem (yang terletak di teritori Benyamin (Yosua 18:28) menjadi
ibu kota kerajaan baru tersebut. Kerajaan selatan disebut dengan kerajaan
Yehuda atau Yehuda. Kerajaan itu
kemudian hanya di dukung dua suku yang kemudian menata ulang pemerintahan. Namun
garis keturunan raja hanya diambil dari keturunan Daud, berbeda dengan yang
terjadi di utara dimana tidak adanya dinasti yang tetap.
Pertumbuhan
Yehuda yang lambat dimulai dari abad 9-8 bukanlah perkembangan yang aneh,
tetapi menjadi bagian dari panorama yang lebih besar dari pembentukan negara
baru di pedalaman Palestina dan di Transyordan. Panorama ini tidak termasuk
negara-negara kota Filistin di sepanjang pantai selatan, atau kota-kota Fenisia
di sepanjang pantai utara, di mana kepatuhan tradisi budaya dan politik Zaman
Perunggu Akhir menjamin kelanjutan dari organisasi negara tingkat tinggi.
Ekonomi
Populasi
Yehuda pada abad ke-8 diperkirakan sekitar 110.000, ini adalah separuh dari
mereka di Shephelah yang dikenal dengan penduduk paling padat dan berkembang. Yerusalem masih terbatas pada kota Daud dengan ukuran 4
atau 5 hektar dan dikelilingi oleh dinding.
Luas Yerusalem meningkatkan di zaman perunggu akhir usia sampai ke Zaman besi I.
Tapi wilayah ini masih memiliki sedikit penduduk disbanding Tell En-nasbeh di dataran tinggi yang menunjukan tanda
perkembangan dengan dindingnya yang mengesankan (menampilkan 12 menara dan
gerbang kota), dan dengan bentuk cincin perkotaan yang khas.[7]
Kemudian, beberapa situs seperti, Khirbet
Rabud (benteng). Namun, perbatasan Barat Negev lebih dikuasai oleh Filistin
daripada kontrol Yehuda. Di ujung Selatan lembah Beer-Sheba yang dulunya adalah
pemukiman Amalek telah berada di bawah kendali Yudea sejak Zaman Daud.
Pemukiman ini masih didasarkan pada jenis empat kamar “rumah berpilar.”[8]
Struktur keluarga tradisional memiliki
daftar kalender Gezer (pertanggalan) sebagai berikut[9]:
1. Dua
bulan adalah panen ( Minyak)
2. Dua
bulan untuk menabur ( Menanam)
3. Dua
bulan adalah akhir penanaman
4. Satu
bulan mencangkuli jerami
5. Satu
bulan panen jelai
6. Satu
bulan panen raya dan perayaan
7. Dua
bulan perawatan anggur
8. Satu
bulan dari buah musim panas
Evolusi ekonomi yang berlaku di
sekeliling Yehuda terjadi melalui Transjordania, Negev Selatan (sepanjang jalan
antara Edom dan Gaza) dan pantai tenang dibawah kendali Filistin. Impor
arkeologis dibuktikan jauh lebih sederhana daripada di Utara (misalnya,
tembikar Fenisia).
Selain ibukotanya lebih kecil,
kota-kota sekunder dalam radius 10/20 km dan banyak permukiman dengan menara
yang khas yang tersebar di tanah pertanian (khususnya di Beq‘a). Temuan-temuan
(kurang lebih tidak disengaja) di benteng Amman telah termasuk potongan-potongan
patung kerajaan abad kedelapan, satu bertuliskan prasasti; dan berkat
penyebutan raja-raja Amon dalam prasasti-prasasti Asyur, dimungkinkan untuk
merekonstruksi garis besar suksesi dinasti.
Kota
Yerusalem sempat diserang oleh Mesir, orang Asyur, dan oleh raja-raja Israel (2
Raja-raja 14:13, 14; 18:15, 16; 23: 33-35; 24:14; 2 Tawarikh 12: 9 ; 26: 9; 27:
3, 4; 29: 3; 32:30; 33:11), sampai akhirnya setelah pengepungan tiga tahun kota
ini benar-benar dihancurkan. Akibatnya kebanyakan temboknya rata dengan tanah, rumah rumah
dibakar, Bait Allah serta istana terbakar oleh Nebukadnezar, raja Babel (2 Raja
25; 2 Tawarikh 36; Yeremia 39), SM 587/586. Kehancuran kota dan tanah itu
diselesaikan dengan mundurnya orang-orang Yahudi ke Mesir (Yeremia 40-44), dan
dengan membawa tawanan ke Babel dari semua yang masih tersisa di negeri itu
(52: 3), sehingga dibiarkan tanpa penghuni (SM 582).
Tetapi
jalan-jalan dan tembok-tembok Yerusalem dibangun kembali, pada masa-masa sulit
(Dan. 9:16, 19, 25), setelah penahanan tujuh puluh tahun. Pemulihan ini dimulai
SM 536, pada tahun pertama Koresh (Ezra 1: 2, 3, 5-11). Kitab Ezra dan Nehemia
berisi sejarah pembangunan kembali kota dan Bait Allah, dan pemulihan kerajaan
Yahudi, yang terdiri dari sebagian suku Israel. Kerajaan yang terbentuk adalah
selama dua abad di bawah kekuasaan Persia, sampai 331 SM, dan sesudahnya, selama sekitar satu setengah
abad, di bawah penguasa kekaisaran Yunani di Asia, sampai 167 SM.[10]
Selama seabad orang-orang Yahudi mempertahankan kemerdekaan mereka di bawah
penguasa pribumi, para pangeran Hasmonean. Pada akhir periode ini mereka jatuh
di bawah pemerintahan Herodes dan anggota keluarganya, tetapi secara praktis di
bawah Romawi yang kemudian banyak melakukan pembangunan, sampai saat kehancuran
Yerusalem 70 M ketika kota itu kemudian dihancurkan oleh jenderal Titus.
Sanitasi
Di
Yerusalem, setiap Warga memiliki tangki air, yang disuplai oleh hujan dari atap
rumah, dan setiap kota memiliki persediaan air yang kuotanya terkadang tidak
jelas, karena tergantung curah hujan. Di Yerusalem, ada tiga saluran air yang
berfungsi untuk sanitasi, irigasi mini dan lainnya. Sejumlah kolam dan air mancur, dan area
khusus untuk ibadah dipenuhi kolam
besar, yang total kapasitasnya diperkirakan 10.000.000 galon. Tiga puluh waduk/kolam
ini dijelaskan, bervariasi dari kedalaman 25-50 meter. Waduk dan kolam ini
disuplai air oleh curah hujan dan oleh saluran air. Salah satunya, yang
dibangun oleh Pilatus, telah diperkirakan
hingga 40 meter. Meskipun dalam kenyataannya hanyalah 13 meter. Itu
membawa air dari mata air Elam, di selatan, di luar Betlehem, sampai ke bawah
penutup bait suci.
Di
luar tembok di sisi barat ada kolam yang dinamakan Kolam Atas dan Bawah Gihon, yang sebelumnya
lebih ke barat laut di arah ke Jaffa. Di persimpangan lembah Hinom dan Yosafat
Ada yang dinamakan “Sumur Ayub” di
tengah-tengah taman raja. Di dalam tembok, tepat di utara Sion, ada "Kolam
Hizkia." Sebuah kolam besar yang ada di bawah bait Allah (sebagaimana dimaksud
dalam Pengkhotbah 1: 3) mungkin dipasok oleh beberapa saluran air bawah tanah.
"Kolam Raja" mungkin identik dengan "Air Mancur Perawan,"
di sudut selatan Moria. Dari sini saluran bawah tanah memotong melalui batuan
padat menuntun air ke kolam Siloam.
Kumpulan tradisi yang telah menetapkan nama Betesda terletak di sisi utara Moria, yang sekarang
bernama Birket Israil.
Penyebutan
Nama Yerusalem
1.
Dalam Cuneiform ( Huruf paku)
Penyebutan
Yerusalem yang paling awal adalah dalam surat Tell el-Amarna (1450 SM), dimana
ia muncul dalam bentuk Uru-sa-lim; mirip dengan ini ada juga kata Ur-sa-li-immu di monumen Asiria abad ke-8 SM.
Dalam Alkitab kata yang paling kuno
adalah yerusyalem, disingkat dalam Mazmur 76: 2 (bandingkan Kejadian 14:18)
dengan Salem, tetapi dalam Teks Masoretik sering di bacakan dengan yerusyalayim
(Yeremia 26:18 Ester 2: 6 2 Tawarikh 25: 1; 2 Tawarikh 32: 9). Kata Yerusyalayim juga digunakan pada koin Yahudi
sewaktu Pemberontakan dan juga dalam
literatur Yahudi seperti dalam Talmud modern.
2. Dalam bahasa Ibrani:
Bentuk
bahasa Ibrani dengan akhiran -im atau -ayim diterjemahkan sebagai bentuk
dual/rangkap. Dalam kata Yerusyalayim termuat istilah Yerusalem atas dan bawah ( Timur-barat), tetapi
bentuk-bentuk seperti itu terjadi dengan nama lain seperti Mitzrayim ( Mesir).
3. Dalam bahasa
Yunani dan Latin:
Dalam Septuaginta, ditemukan kata (Ierousalem),
yang secara konstan mencerminkan pelafalan bahasa Ibrani yang paling awal dan
umum, sehingga terjadi pergeseran menyebabkan sering diterjemahkan dengan
Hierousalem. Bentuk terakhir ini telah dibawa ke penulis Latin
oleh Cicero, Pliny, Tacitus dan Suetonius. Itu digantikan dalam penggunaan
resmi selama beberapa abad oleh Hadrian's Aelia Capitolina, yang lebih dulu
dari Jerome, tetapi kembali menjadi umum digunakan dalam dokumen Perang Salib. Dalam
Perjanjian Baru juga ditemukan kata Hierousalem, khususnya dalam tulisan Lukas
dan Paulus (ta Hierosoluma).
4. Arti Yerusalem:
Berkenaan
dengan makna nama asli tidak ada persetujuan pendapat. Bentuk tertua yang
diketahui, Uru-sa-lim, telah dianggap oleh banyak orang berarti “Kota Damai”
atau “Kota (dewa) Salem,” tetapi penafsir lain, yang menganggap nama itu
berasal dari bahasa Ibrani, menafsirkan itu sebagai “kepemilikan perdamaian”
atau “dasar perdamaian.” Ini adalah salah satu ironi sejarah bahwa sebuah kota
yang sepanjang sejarah panjangnya telah melihat sangat sedikit kedamaian dan
sangat berbanding terbalik dengan arti namanya.
5. Nama Lainnya
Dalam Yesaya 29: 1, muncul nama ari’el mungkin
mengacu pada “perapian Allah,” dan dalam
Mazmur 72:16, Yeremia 32:24, Yehezkiel 7:23, kita memiliki istilah ha’ir,
“kota” berbeda dengan “tanah.” Seluruh kelompok nama dihubungkan dengan gagasan
kesucian “ kota suci” seperti dalam Yesaya
48: 2; Yesaya 52: 1 dan Nehemia 11: 1.
Geologi
Lingkungan
Yerusalem relatif sederhana. Ciri yang
menonjol adalah bahwa batu-batu itu seluruhnya terdiri dari berbagai bentuk
batu kapur, dengan lapisan batu yang mengandung strata. Dalam hal ini tidak ada
batuan primer dan tidak ada batu pasir
(seperti muncul ke permukaan di sebelah timur Sungai Yordan) serta tidak ada batu vulkanik. Formasi batu kapur berada dalam strata mencelupkan biasa
ke arah Tenggara, dengan sudut sekitar 10 derajat.
Di bukit-bukit tinggi yang menghadap ke
Yerusalem di Timur, Tenggara dan Barat Daya masih ada lapisan tebal dari batu
kapur berkapur dari periode pasca-Tersier yang memahkotai begitu banyak puncak bukit
di Palestina, dan pernah menutupi seluruh daratan. Di “Bukit Zaitun,” misalnya,
muncul lapisan batu kapur konglomerat yang dikenal sebagai Nari, atau “batu
api,” dan endapan yang lebih tebal, yang dikenal sebagai Ka’kuli, di mana dua
strata yang berbeda dapat dibedakan. Dalam lapisan ini, terutama yang terakhir,
terjadi kantong yang mengandung marl atau haur, dan di keduanya ada pita batu.
[1] D.F. Payne, “ Yerusalem” dalam
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, ( Jakarta: YKBK, 2002), 570-571.
[2] Daniel C. Snell, Kehidupan di Timur Tengah Kuno, (
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), 267.
[3] Robert B. Coote, Kuasa Politik dan Proses pembuatan Alkitab,
( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 4-5.
[4] D.F. Payne, “ Yerusalem” dalam
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, 574.
[5] Robert
B. Coote, Kuasa Politik dan Proses pembuatan Alkitab, 41.
[6] Beth Alpert Nakhai, Archaeology and the Religions of Canaan and
Israel, ( USA: ASOR books, 2001), 54-55.
[7] John
C. H. Laughlin, Archaeology and the
Bible, (New York: Routledge, 2000), 125-126.
[8] John
C. H. Laughlin, Archaeology and the
Bible, 129.
[9] Philip J. King, Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, (
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 101.
[10]
Joachim Jeremias, Jerusalem in the Time of Jesus, (London: W & J Mackay, 1969),
64.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar