1. Pendahuluan
Surat II Korintus ini ditulis
langsung oleh Paulus (II Kor. 1:1), namun Tituslah yang membawa surat ini
kepada jemaat di Korintus ketika dia bertemu dengan Paulus di Makedonia (2:13;
7:6,13,14; 8:6,16,23; 12:18). Surat ini ditulis Paulus pada saat dia berada di
Makedonia, pada pertengahan abad 1 M.[1]
Paulus menulis surat ini karena pada saat itu kondisi jemaat Korintus sedang
mengalami kekacauan oleh karena ada kelompok yang menfitnah Paulus sebagai
rasul palsu, atau merendahkan dan menyerang kerasulan Paulus. Ralph P. Marthin
menyebut kelompok ini sebagai anti-Paulus[2]
(II Kor. 10-13).
Surat II Kor. 10:1-11 menunjukkan
kesusahan hati Paulus sendiri, dan bagaimana kerasnya Paulus menentang
kelompok-kelompko tersebut. Sehingga warna isi surat ini cukup frontal dan
bahkan menyindir langsung para kelompok yang meragukan kerasulannya. Hal ini
menjelaskan bahwa pada perikop ini Paulus berusaha untuk mempertahankan
kerasulannya.
2. Gambaran Teks
2.1. Gambaran Umum
II Korintus terdiri dari 13 pasal,
dimana pada pasal 1-9 berbeda dengan pasal 10-13.[3]
Pada pasal 10-13, Paulus mengakui kelemahannya dalam berhadapan langsung dengan
publik, sehingga dia lebih baik dalam membuat surat. Paulus berharap agar
kelemahannya tersebut tidak menjadi alasan bagi jemaat di Korintus untuk
mengurangi kepercayaannya terhadap dirinya dan injil yang disampaikannya.
Paulus membenarkan dirinya dengan menyatakan kuasa Allah yang menjadi senjata
bagi dirinya dalam memberitakan Injil. Paulus memiliki kekhawatiran terhadap
jemaat di Korintus yang menjadi sesat pikirannya dan pudar akan kesetiaannya
terhadap Kristus (10:1- 11:6) dan dia menegaskan bahwa janganlah ada orang yang
menanggapnya bodoh (11:16). Paulus tidak pernah mementingkan dirinya sendiri
sehingga menyusahkan orang lain, dan Paulus juga memperingati mereka untuk
berhati-hati dengan rasul-rasul palsu dan para penipu yang menyamar sebagai
rasul Kristus (11:7-33), karena dirinya telah menerima penglihatan dan
penyataan dari Tuhan, sehingga dirinya layak dipercaya dan didengarkan
pemberitaan Injilnya (12:1-10). Pada suratnya ini, Paulus menyampaikan
kekuatirannya bahwa akan terjadi perselisihan antara dirinya dengan jemaat oleh
sebab rasul-rasul palsu dan dia kuatir bahwa kepercayaan Allah akan memudar
bagi dirinya karena telah gagal menjalankan tugas yang diberikan Allah
kepadanya (12:11-21). Oleh karena itu, Paulus menasehati jemaat di Korintus
(13:1-10) untuk tegak di dalam iman mereka (13:5) dan melakukan kebenaran
(13:8). Dan untuk menutuo suratnya, Paulus menyampaikan salamnya dan nasehatnya
untuk hidup dalam dami sejahtera (13:11-13).
2.2. Gambaran Khusus
II
Kor. 10:1-11 merupakan bagian yang menjelaskan mengenai ungkapan isi hati
Paulus dalam rangka mempertahankan kerasulannya. Pembagian II Kor. 10:1-11,
yaitu:[4]
-
10:1-6 :
Permintaan akan kepatuhan dan jawaban Paulus: 10:1-6
-
10:7-11 : Uraian jawaban Paulus yang tajam: 10:7-11
Perikop
ini dapat dibagi lagi ke dalam bagian yang lebih mendetail berdasarkan pokok
argimen dari setiap nats dalam perikop ini, antara lain:
a. 10:1 : Eksistensi Paulus à
Opening
b.
10:2-6 : Ancaman Paulus
Middle
c. 10:7-8 : Otoritas Kerasulan Paulus
d.
10:9-10 : Latar Belakang Penulisan Surat
e. 10:11a : Seruan Pertobatan Closing
f. 10:11b : Pengakuan Kerasulan Paulus
3. Kritik Sastra
Pertanyaan
mengenai kesatuan surat dalam II Korintus sudah menjadi perdebatan dari para
ahli. Hal ini ditunjukkan dari ketimpangan atau perbedaan pokok pikiran dari
surat ini yang membuat kesatuaannya dipertanyakan. Belum lagi hubungan II Korintus dengan I
Korintus, dimana II Korintus mengandung pernyataan-pernyataan yang sulit
dipahami karena adanya sambunga-sambungan antara bagian-bagian surat ini yang
menunjukkan pekerjaan penyuntingan. Willi Marxen (Pengantar Perjanjian Baru, 2009) berpendapat bahwa “..II Korintus yang dimiliki sekarang ini
tidak mungkin suatu tulisan yang utuh.”[5]
Hal ini semakin memperkuat argumen saya bahwa II Kor. 10:1-11 bisa saja
bukan bagian dari surat yang II
Korintus. Karena Merrill C. Tenney (Survei
Perjanjian Baru, 2013) lebih menjelaskan secara umum, bahwa pasal 10-13
dari II Kor. merupakan suatu surat yang ketiga, sedangkan pasal 1-9 merupakan
surat yang keempat.[6]
Susunan
argumen dalam II Kor. 10:1-11 disusun secara bertingkat, mulai dari pengenalan
akan diri Paulus dan masalah apa yang sedang ditanggapinya (ay.1-2), kemudian
dilanjutkan dengan argumen yang berbentuk ancaman (ay. 3-6), lalu dilapis
dengan kuasa apa yang ada pada Paulus/otoritas Paulus (ay. 7-8), kemudian
ditutup dengan nasehat pertobatan dari Paulus dengan mengulang masalah apa yang
terjadi sehingga Paulus menulis surat ini (ay. 9-11).
Ayat
1-2 merupakan pembuka dalam perikop II
Korintus 10:1-11, yang mana pada umumnya dalam surat-surat Paulus akan
dicantumkan suatu pengantar (introducing). Namun ada hal yang unik dalam
pengantar dari surat Paulus terhadap jemaat di Korintus ini, dimana pada bagian
ini yang diperkenalkan hanya Paulus sendiri dengan formula “autos de ego Paulos.” Hal
ini tidak seperti kebiasaan Paulus dalam menuliskan suratnya, karena surat-surat
yang dituliskan oleh Paulus kepada beberapa jemaat akan selalu diperkenalkan
orang-orang yang membantunya (bnd. I Kor. 1:1; II Kor. 1:1; Flp. 1:1; Kol. 1:1;
I Tes. 1:1; II Tes. 1:1; Flm. 1:1 ), dan meskipun tidak ada orang yang
membantunya, pada semua surat, Paulus hanya mencantumkan namanya saja pada
setiap bagian awal surat, yaitu paulos (bnd. Rm. 1:1; I Tim. 1:1; Gal.
1:1; Ef.1:1; II Tim 1:1; Tit. 1:1). Sementara pada II Kor. 10:1, penulis surat
diperkenalkan dengan tegas, dimana hal ini ditunjukkan dari penggunaan kata autos[7] dan ego[8].
Cara memperkenalkan penulis surat ini (II Korintus 10) menunjukkan penekanan
pada eksistensi seseorang itu, yaitu Paulus itu sendiri dengan tujuan agar
pembaca mengetahui dengan yakin bahwa memang betul lah dia yang menulis surat
tersebut dan hal ini sungguh amat penting. Sama halnya dengan pemaparan Fritz
Rienecker (A Linguistik Key To The Greek
New Testament) yang menyatakan bahwa penggunaan kata autos de ego digunakan
Paulus untuk mendapatkan perhatian terhadap suatu kepentingan yang sangat
spesial.[9]
Tentu ini mendukung argumen saya bahwa latar belakang Paulus menggunakan kata
tersebut adalah karena adanya suatu kepentingan ataupun tujuan yang sangat
serius dalam surat ini.
Kemudian
setelah Paulus memperkenalkan dirinya dengan cara yang tegas, lalu dilanjutkan
dengan kata parakalo humas yang mencoba menyatakan suatu permintaan Paulus
kepada jemaat di Korintus untuk melakukan sesuatu. Paulus menggunakan kata parakalo[10] untuk
menunjukkan bahwa ada hal yang Paulus inginkan untuk dilakukan oleh jemaat di
Korintus adalah suatu hal yang sangat penting dan sering juga kata ini
diterjemahkan atau bahkan dipahami sebagai suatu nasehat yang harus dilakukan
(bnd. Kis. 24:4; 27:34; Rm. 12:1; 15:30; 16:17; I Kor. 1:10; 4:16; 16:5; II
Kor. 2:8), artinya ini adalah permintaan yang serius kepada jemaat di Korintus.
Dan perlu diketahui bahwa orang yang menggunakan kata parakalo adalah seorang
yang memiliki eksistensi yang tinggi, dan disini Paulus menunjukkan bahwa dia
memiliki otoritas tersebut.[11]
Pada
sisi lain dari ayat ini, argumen yang digunakan Paulus dalam memperkenalkan
Allah juga berbeda dari surat-surat yang sudah pernah ia tuliskan. Karena pada
surat lain, seperti surat kepada jemaat di Roma, Galatia, Efesus, dsb, Paulus
cenderung menggambarkan/mendeskripsikan Tuhan dan Yesus sebagai sosok yang
mendukung dan bahkan memilihnya untuk melayani sebagai seorang rasul (bnd. Rm.
1:1; I Kor. 1:1; II Kor. 1:1; Gal. 1:1; Ef. 1:1; Flp. 1:1; Kol. 1:1; I Tim.
1:1; II Tim 1:1, dst). Sementara pada bagian lanjutan ayat ini, yang merupakan
bagian pembuka surat, kata pratetos[12], epieikeias[13],
dan Khristou[14].
Kata Khristou
memiliki bentuk yang sejajar dengan kata pratetos dan epieikeias, sehingga
dapat dilihat formulasi ini menunjukkan pendeskripsian Paulus terhadap Kristus,
yaitu Kristus yang lemah lembut dan baik. Hal ini tentu berbeda dengan cara
Paulus mendeskripsikan Yesus dalam surat-suratnya yang lain, belum lagi sebutan
untuk Yesus yang hanya menggunakan kata Kristus saja. Menurut saya, sebutan
Kristus digunakan oleh Paulus secara spesial untuk menekankan makna dari kata
tersebut, seperti yang dijelaskan oleh Christoph Barth (Teologi Perjanjian Baru I, 2015) bahwa kata Kristus (Yunani)
sejajar dengan kata Mesias (Ibrani), dimana kata ini berasal dari akar kata
yang berarti “mengurapi”, dan dari hal ini terlihat bahwa Yesus dipandang
sebagai orang yang secara khusus ditahbiskan untuk tugas tertentu.[15]
Lalu mengapa Paulus berusaha untuk menekankan hal makna kata Kristus tersebut?
Hal ini dapat dipahami dari cara penggunaan kata prautetos. Kata prautetos
selalu digunakan untuk menggambarkan sikap dan karakter manusia (bnd. I Kor.
4:21; Gal. 6:1; Ef. 4:2), namun kali ini ia menggunakannya untuk
mendeskripsikan Kristus itu sendiri. Jadi mungkin saja Paulus ingin
menyampaikan bahwa sikap itu ada pada dirinya, dan Kristus juga demikian. Menurut
Ralph P. Martin (Word Biblical Commentary
Vol. 40, 1986) bahwa penggunaan kata ini mungkin saja bermakna sebagai (1) kehidupan
dunia: bahwa Paulus yang mengakui dirinya berada dan tinggal di dunia tidak
berarti dia hidup secara duniawi, namun sorgawi seperti Kristus, atau (2)
kerendahan hati dalam penjelmaannya, dimana di dalam Paulus telah ada jelmaan
Kristus.[16]
hos kata prosopon men tapeinos en humin, apon de
tarro eis humas (=Aku
yang rendah hati ketika berhadapan denganmu, tetapi ketika aku jauh berani
terhadapmu) merupakan suatu pengakuan Paulus akan
karakternya. Kata tapeinos (=rendah hati) menunjukkan sikapnya yang sesuai dengan
karakter Kristus yang ada pada ayat 1 ini. Hal ini menunjukkan penekanan Paulus
akan eksistensinya yang menjadikan Yesus Kristus sebagai pedomannya, tentu ini
argumen ini akan mengarahkan pemikiran pembaca bahwa Paulus memang benar-benar
memiliki hubungan yang dekat dengan Kristus. Lalu pada kata tarro
(=berani) merujuk pada sikap Paulus yang berbeda dengan sikapnya yang
rendah hati. Kata tarro pada penjelasan Ralph P. Marthin (Word Biblical Commentary, 1986) menyatakan bahwa pada konteks II
Kor. 10:1 kata ini cenderung dipahami dalam hal yang negatif, dimana keberanian
itu bukanlah pada pemahaman akan kepercayaan diri, namun pada sikap yang
sombong, tinggi hati, dan angkuh.[17]
Hal ini mungkinlah suatu ungkapan kesedihan hati Paulus kepada jemaat Korintus
mengenai orang-orang yang merendahkan Paulus di tengah-tengah jemaat Korintus,
karena konteks pada nats ini adalah pernyataan sikap Paulus terhadap jemaat
Korintus dalam rangka menanggapi berita-berita buruk yang disebarkan oleh
musuh-musuh Paulus (anti-Paulus) akan dirinya.
Kata
deomai
(ay. 2) merupakan kata yang digunakan dalam pemahaman meminta karena ada suatu
hal yang sungguh menyusahkan hati, sehingga permintaan ini haruslah dilakukan.
Memang kata ini memiliki arti yang hampir sama dengan kata parakalo pada ayat 1,
namun kata deomai merupakan penggunaan yang umu dan tidak perlu memiliki
otoritas yang tinggi. Paulus menggunakan kata ini mungkin untuk membuat para
pembaca surat ini betul-betul memahami kesusahan hati Paulus mengenai apa yang
telah tersebar di tengah-tengah jemaat Korintus, karena melalui kata ini Paulus
telah menunjukkan kerendahan dirinya. Mungkin saja Paulus berusaha untuk
menarik simpati jemaat Korintus yang merupakan objek dari kata deomai,
agar para jemaat tidak mendengarkan dan mempercayai segala berita yang
merendahkan dirinya. Karena bila terjadi demikian, maka Paulus akan dipandang
rendah, dan para jemaat akan melihat Paulus sebagai seorang pembual yang
beraninya hanya dari surat saja. Lalu semua kerja keras dan pengorbanan Paulus
dalam memberitakan injil akan sia-sia. Hal inilah yang munkin saja sedang
dihindari Paulus.
Pada
akhir ayat 2 ada perubah bentuk subjek, dimana sejak awal perikop ini yang
ditekankan adalah kata ego dalam bentuk singular. Namun
pada ayat 2, kata ego berubah bentuk menjadi bentuk plural hemas (=kami). Hal ini
tentu menimbulkan pertanyaan akan perubahan bentuk kata yang digunakan. Perubahan
ini bisa saja menjadi hal yang disengaja oleh Paulus, karena kemampuan Paulus
dalam menulis surat sudah tidak diragukan lagi. Setiap kalimat ataupun kata
yang dituliskan oleh seorang yang ahli dalam menulis tentu memiliki tujuan dan
alasannya masing-masing. Melihat dari latar belakang Paulus yang telah memiliki
banyak pengikut dan bahkan orang-orang yang turut membantunya dalam menyebar
luaskan berita keselamatan, tentu hal ini wajar dilakukan oleh Paulus. Karena
dia sebagai seorang pemimpin tentu harus membela para pengikutnya yang telah
bersama-sama dengan dia menaruh imannya kepada Yesus Kristus.
Pada
ayat 3-6 merupakan kecaman yang keras dari Paulus terhadap orang-orang yang
telah merendahkan dirinya di tengah-tengah jemaat Korintus. Pada argumen
pembukanya, Paulus mengakui bahwa mereka memang masih hidup menurut daging atau
secara duniawi yang ditunjukkan oleh kata kata sarka. Namun pengakuan tersebut
dilapisi dengan argumen bahwa Paulus dan para pengikutnya (hemas) tidak berjuang (strateuomai)
secara dunia. Dan bahkan argumen
tersebut diperkuat dengan pernyataan bahwa Paulus tidak berjuan dengan senjata
duniawi, namun dengan kuasa Tuhan. Selain itu, pada bagian ini hal yang
mengandung makna yang cukup keras juga disampaikan, yaitu katairesis (ay.4) yang
berarti “meruntuhkan; memusnahkan,” lalu
kata ekdikesai
(ay. 6) yang berarti “menghukum;membalas.”
Hal ini menunjukkan bahwa Paulus memang
benar-benar sedang dalam emosi yang cukup tinggi sehingga ia mampu mengecam,
dan bahkan mengancam orang-orang yang telah merendahkan dirinya.[18]
Namun
untuk membuat kecaman tersebut tentu membutuhkan penjelasan akan hal apa yang
membuat Paulus berani melakukan itu, dan menjadi benar dengan mengatakan
demikian.Hal ini lah yang coba disjelaskan dalam surat Paulus ini, bahwa mereka
juga merupakan milik Kristus, dan bertindak dengan kuasa Kristus juga. Sehingga
pemusnahan; peruntuhan; dan bahkan penghukuman yang dikatakan oleh Paulus
adalah suatu kebenaran dan itu semua berdasar pada imannya.
Lalu
pada bagian akhir surat ini, Paulus memberikan kesempatan bertobat bagi
orang-orang yang telah merendahkannya. Namun pada bagian ini Paulus menekankan
mengenai penghinaan akan dirinya. Orang –orang yang telah merendahkan Paulus
(anti-Paulus) dituliskan dengan cara yang berbeda, karena Paulus tidak
menggunakan kata ganti orang dengan lansung, namun Paulus menunjukkannya dengan
menyiratkannya dalam penggunaan kata kerja, seperti kata phesin (II Kor. 10:10).[19]
Kelompok yang dimaksudkan ini adalah orang-orang yang yang mengaku dirinya
sebagai rasul dengan membangga-banggakan nenek moyang Yahudinya serta
kegiatannya sebagai pelayan Kristus, menguasai Korintus dan merendahkan Paulus
di mata gereja (II Kor. 11. Dan anggota-anggota jemaat yang pada dasarnya
bukanlah orang Yahudi, namun seorang yang kafir ternyata belum juga bertobat
(II Kor. 12:21).[20]
4. Tafsiran: Tematis
Ayat 1,
pada ayat ini Paulus memperkenalkan dirinya dengan penggunaan kata ganti orang
pertama yang kuat dan tegas. Hal ini tentu dimaksudkan untuk memperkuat
otoritas Paulus yang sedang dipertanyakan oleh jemaat di Korintus. Cara
memperkenalakn Paulus ini juga ditemukan di Gal. 5:2 “..ego paulos..”, dengan
penekanan yang sejajar. Pada Gal. 5:2 juga menunjukkan isi surat Paulus yang
memperingati jemaat di Galatia dengan keras.[21]
Lalu pada 1 ayat ini ada juga kalimat yang berupa pengakuan dari Paulus, bahwa
dia memang seorang yang rendah hati ketika berhadapan dengan para jemaat dan
berani ketika jauh. Ayat ini memang cocok sebagai pembuka karena pada ayat ini
masalah yang menjadi inti surat telah disinggung.
Ayat 2-6,
kemudian pada ayat ini Paulus dengan otoritasnya meminta kepada para jemaat di
Korintus. Kata meminta yang digunakan Paulus merujuk tuntutan kepada jemaat
supaya benar-benar melakukannya. Selain itu pada bagian ini, apa yang menjadi
pegangan Paulus dalam menjalani kehidupan di dunia adalah senjata yang
diperlengkapi Tuhan, dalam artian bahwa Paulus telah diberikan kuasa oleh Tuhan
untuk memerang setiap dosa dan kesalahan, hal ini tentu suatu pernyataan yang
tegas sehingga jemaat di Korintus haruslah mendengarkan Paulus. Tema dari
bagian ini adalah ancaman Paulus kepada kelompok anti-Paulus yang telah
merendahkannya, dimana Paulus beberapa kali menggunakan kata kerja yang
berkonotasi negatif, yaitu kathairesin (=merusak;
menghancurkan; membinasakan); kathairountes (=kathairesin);
aikhmalotizontes (=menawan; memenjarakan); ekdikesai (=menuntut;
membalas dendam). Namun pada akhir bagian ini menggunakan kata otan
(=bilamana; jika) untuk menghubungkan kalimat “....engkau sudah dipenuhi ketaatan.” Hal ini bermaksud bahwa
Paulus akan menghukum mereka yang tidak taat, setelah semua jemaat Korintus
taat.[22]
Ayat 7-8,
mendeskripsikan kuasa yang ada di dalam diri Paulus. Paulus menyatakan bahwa
mereka juga adalah milik Kristus. Hal tentu digunakannya dalam rangka
menanggapai kelompok anti-Paulus yang mengakui bahwa mereka adalah milik
Kristus.[23] Oleh
karena itu Paulus mungkin berusaha memasukkan pembelaannya dari perspektif
jemaat di Korintus yang telah mendengarkan ajaran-ajaran dari kelompok
anti-Paulus. Hal ini merupakan sikap yang berani oleh Paulus atas pengakuan
akan milik Kristus ini disamakan dengan kelompok anti-Paulus. Akan tetapi argumen
Paulus tetap berlanjut, dan menyatakan perbedaannya dengan kelompok anti-Paulus
tersebut, dimana Paulus datang kepada jemaat untuk membangun bukan untuk
merusak. Bagian ini menjelaskan pokok pikiran bahwa Paulus adalah milik
Kristus, dan mereka datang kepada jemaat di Korintus untuk membangun jemaat
tersebut. Otoritas Paulus semakin ditekankan ketika dia mengatakan bahwa kuasa
Tuhanlah yang ada pada dirinya.Hal ini mungkin bertujuan untuk mengajak para
pembaca supaya memikirkan kembali apa yang telah dikatakan oleh anti-Paulus
mengenai dirnya, dengan harapan bahwa jemaat percaya dan mengakui Paulus
sebagai rasul, agar Paulus tidak mendapat malu di hadapan jemaat tersebut.
Robert E. Picirilli (The Randall House
Bible Commentary: 1,2 Corinthians, 1987) menjelaskan bahwa Paulus
menyampaikan bahwa mereka adalah milik Kristus, merupakan sebagai jawaban
terhadap kelompok-kelompok yang mengakui dirinya sebagai milik Kristus dan
Paulus bukanlah milik Kristus. Pernyataan ini membuat otoritas Paulus semakin
goyah dihadapan para jemaat di Korintus, dan ini membuat Paulus harus segera
mencegahnya sebelum jemaat di Korintus betul-betul berpaling dari ajarannya.[24]
Ayat 9-11,
pada bagian ini Paulus menjelaskan mengenai tujuannya menuliskan surat tersebut
dan apa yang melatar belakangi isi surat tersebut. Namun pada bagian ini, warna
atau rasa yang ditulisan Paulus terasa lebih lembut dan bersahabat, karena
susunan kalimat yang berusaha mengajak jemaat di Korintus untuk tetap percaya,
dan menasehati kelompok anti-Paulus tersebut untuk bertobat. Lalu pada akhir
bagian ini, Paulus menekankan dengan jelas bahwa firman yang diberitakan Paulus
dan pengikutnya ketika sedang jauh dalam bentuk surat, sama dengan tindakan
mereka ketika berhadapan langsung dengan jemaat. Menurut Frank J. Matera (II Corinthians: A Commentary, 2003)
bahwa susunan argumen pada ayat 9-11, yaitu sikap Paulus yang rendah hati dan
berani, terlihat sejajar dengan ayat 1-2.[25]
Namun pada ayat 9-11 lebih jelas diuraikan mengenai sikap dan bentuk komunikasi
Paulus dari jauh kepada jemaat di Korintus, bagaiman sikap Paulus ketika
berhadapan langsung dengan para jemaat, dan bagaiman berita yang telah
disebarkan oleh anti-Paulus. Namun pada ayat 11, Paulus secara jelas membela
dirinya dan berusaha meyakinkan jemaat bahwa firman yang diberitakan dan
sikapnya sebanding/sama.
6. Skopus
Skopus: “Pembelaan
diri Paulus, sebagai pribadi yang diutus Kristus.”
[1] Lih. Wismoady Wahono, Di Sini
Kutemukan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 425-426; Yusak B. Dermawan, My New Testament (Yogyakarta: Penerbit
Andi, 2010), 94
[2] Lih. Ralph P. Marthin, Word
Biblical Commentary Vol. 40 (Texas: Word Book Publisher, 1986), 298.
[3] Bnd. Merrill C. Tenney, Survei
Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2010- Cet. X), 369-371.
[4] [Google Book] Lih. Walter F. Taylor, Paul, Apostle To The Nations: An Introduction (Minneapolis:
Fortress Press, 2012), 241.
[5] Lih. Willi Marxen, Pengantar
Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 85.
[6] Lih. Merril C. Tenney, Survei
Perjanjian Baru, 371.
[7] autos (Pronoun Nominatif
Maskulin Singular), yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “diri sendiri; dirinya.” Kata ini
menunjukkan keseseorangan yang sangat mendasar dan alamiah, yang membuat suatu
perbedaan dari setiap orang dan yang lainnya. (Collins Dictionary)
[8] ego (Pronoun Personal Nominatif Singular), yang dalam bahasa
Indonesia diterjemahkan sebagai “aku”. Kata ini merupakan sesuatu yang menunjukkan
eksistensi dirinya dan selalu digunakan sebagai subjek. (Collins Dictionary).
[9] Lih. Fritz Rienecker, A
Linguistik Key To The Greek New Testament, 139.
[10] Parakalo (Verb Indikatif Present Aktive 1st Singular), yang
dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi appeal.
Kata appeal menunjukkan suatu permintaan yang sangat penting dan serius untuk
dilakukan. (Collins Dictionary).
[11] Lih. Ralph P. Martin, Word
Biblical Commentary Vol. 40, 301-302.
[12] Prautetos (Noun Genetive Feminim Singular), yang diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia “kelemah-lembutan.”
[13] Epieikeias (Noun Genetive Feminim Singular), yang diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesa “kerendahan hati.”
[14] Khristos (Noun Genetive Maskuline Singular).
[15] Lih. Christoph Barth, Teologi
Perjanjian Baru I (Jakarta: BPK Gunung Mulia - Cet. V, 2015), 265.
[16] Lih. Ralph P. Marthin, Word
Biblical Commentary Vol. 40, 302-303.
[17] Ibid, 303.
[18] Lih. Ralph P. Marthin, Word
Biblical Commentary Vol. 40, 304-306.
[19] Ibid, 310.
[20] Lih. Merrel C. Tenney, Surveo
Perjanjian Baru, 370.
[21] [Google Book] Lih. Frank J. Matera, II Corinthians: A Commentary (Louisville: Westminister John Knox
Press, 2003), 220.
[22] Lih. Ralph P. Marthin, Word
Biblica Commentary, 303-307; Robert E. Picirilli, The Randall House Bible Commentary: 1,2 Corinthians (Tenesse:
Randall House Publications Nashville, 1987),378-381; Frank J. Matera, II Corinthians: A Commentary, 218-219.
[23] Lih. Merril C. Tenney, Survei
Perjanjian Baru, 370.
[24] [Google Book] Lih. Robert E. Picirilli, The Randall House Bible Commentary: 1,2 Corinthians,383.
[25] [Google Book] Lih. Frank J. Matera, II Corinthians: A Commentary, 226-227.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar