Selasa, 25 Juli 2023

Hermeneutika II Korintus 10:1-11

 

1.    Pendahuluan

Surat II Korintus ini ditulis langsung oleh Paulus (II Kor. 1:1), namun Tituslah yang membawa surat ini kepada jemaat di Korintus ketika dia bertemu dengan Paulus di Makedonia (2:13; 7:6,13,14; 8:6,16,23; 12:18). Surat ini ditulis Paulus pada saat dia berada di Makedonia, pada pertengahan abad 1 M.[1] Paulus menulis surat ini karena pada saat itu kondisi jemaat Korintus sedang mengalami kekacauan oleh karena ada kelompok yang menfitnah Paulus sebagai rasul palsu, atau merendahkan dan menyerang kerasulan Paulus. Ralph P. Marthin menyebut kelompok ini sebagai anti-Paulus[2] (II Kor. 10-13).

Surat II Kor. 10:1-11 menunjukkan kesusahan hati Paulus sendiri, dan bagaimana kerasnya Paulus menentang kelompok-kelompko tersebut. Sehingga warna isi surat ini cukup frontal dan bahkan menyindir langsung para kelompok yang meragukan kerasulannya. Hal ini menjelaskan bahwa pada perikop ini Paulus berusaha untuk mempertahankan kerasulannya.

 

2.    Gambaran Teks

2.1.    Gambaran Umum

II Korintus terdiri dari 13 pasal, dimana pada pasal 1-9 berbeda dengan pasal 10-13.[3] Pada pasal 10-13, Paulus mengakui kelemahannya dalam berhadapan langsung dengan publik, sehingga dia lebih baik dalam membuat surat. Paulus berharap agar kelemahannya tersebut tidak menjadi alasan bagi jemaat di Korintus untuk mengurangi kepercayaannya terhadap dirinya dan injil yang disampaikannya. Paulus membenarkan dirinya dengan menyatakan kuasa Allah yang menjadi senjata bagi dirinya dalam memberitakan Injil. Paulus memiliki kekhawatiran terhadap jemaat di Korintus yang menjadi sesat pikirannya dan pudar akan kesetiaannya terhadap Kristus (10:1- 11:6) dan dia menegaskan bahwa janganlah ada orang yang menanggapnya bodoh (11:16). Paulus tidak pernah mementingkan dirinya sendiri sehingga menyusahkan orang lain, dan Paulus juga memperingati mereka untuk berhati-hati dengan rasul-rasul palsu dan para penipu yang menyamar sebagai rasul Kristus (11:7-33), karena dirinya telah menerima penglihatan dan penyataan dari Tuhan, sehingga dirinya layak dipercaya dan didengarkan pemberitaan Injilnya (12:1-10). Pada suratnya ini, Paulus menyampaikan kekuatirannya bahwa akan terjadi perselisihan antara dirinya dengan jemaat oleh sebab rasul-rasul palsu dan dia kuatir bahwa kepercayaan Allah akan memudar bagi dirinya karena telah gagal menjalankan tugas yang diberikan Allah kepadanya (12:11-21). Oleh karena itu, Paulus menasehati jemaat di Korintus (13:1-10) untuk tegak di dalam iman mereka (13:5) dan melakukan kebenaran (13:8). Dan untuk menutuo suratnya, Paulus menyampaikan salamnya dan nasehatnya untuk hidup dalam dami sejahtera (13:11-13).  

 

2.2.    Gambaran Khusus

II Kor. 10:1-11 merupakan bagian yang menjelaskan mengenai ungkapan isi hati Paulus dalam rangka mempertahankan kerasulannya. Pembagian II Kor. 10:1-11, yaitu:[4]

-          10:1-6      : Permintaan akan kepatuhan dan jawaban Paulus: 10:1-6

-          10:7-11   : Uraian jawaban Paulus yang tajam: 10:7-11

Perikop ini dapat dibagi lagi ke dalam bagian yang lebih mendetail berdasarkan pokok argimen dari setiap nats dalam perikop ini, antara lain:

a.       10:1          : Eksistensi Paulus                   à Opening

                                  

b.      10:2-6       : Ancaman Paulus

Middle

c.       10:7-8       : Otoritas Kerasulan Paulus

 

d.      10:9-10     : Latar Belakang Penulisan Surat

e.       10:11a      : Seruan Pertobatan                                         Closing

f.       10:11b      : Pengakuan Kerasulan Paulus

 

3.    Kritik Sastra

Pertanyaan mengenai kesatuan surat dalam II Korintus sudah menjadi perdebatan dari para ahli. Hal ini ditunjukkan dari ketimpangan atau perbedaan pokok pikiran dari surat ini yang membuat kesatuaannya dipertanyakan.  Belum lagi hubungan II Korintus dengan I Korintus, dimana II Korintus mengandung pernyataan-pernyataan yang sulit dipahami karena adanya sambunga-sambungan antara bagian-bagian surat ini yang menunjukkan pekerjaan penyuntingan. Willi Marxen (Pengantar Perjanjian Baru, 2009) berpendapat bahwa “..II Korintus yang dimiliki sekarang ini tidak mungkin suatu tulisan yang utuh.”[5] Hal ini semakin memperkuat argumen saya bahwa II Kor. 10:1-11 bisa saja bukan  bagian dari surat yang II Korintus. Karena Merrill C. Tenney (Survei Perjanjian Baru, 2013) lebih menjelaskan secara umum, bahwa pasal 10-13 dari II Kor. merupakan suatu surat yang ketiga, sedangkan pasal 1-9 merupakan surat yang keempat.[6]

Susunan argumen dalam II Kor. 10:1-11 disusun secara bertingkat, mulai dari pengenalan akan diri Paulus dan masalah apa yang sedang ditanggapinya (ay.1-2), kemudian dilanjutkan dengan argumen yang berbentuk ancaman (ay. 3-6), lalu dilapis dengan kuasa apa yang ada pada Paulus/otoritas Paulus (ay. 7-8), kemudian ditutup dengan nasehat pertobatan dari Paulus dengan mengulang masalah apa yang terjadi sehingga Paulus menulis surat ini (ay. 9-11). 

Ayat 1-2  merupakan pembuka dalam perikop II Korintus 10:1-11, yang mana pada umumnya dalam surat-surat Paulus akan dicantumkan suatu pengantar (introducing). Namun ada hal yang unik dalam pengantar dari surat Paulus terhadap jemaat di Korintus ini, dimana pada bagian ini yang diperkenalkan hanya Paulus sendiri dengan formula “autos de ego Paulos.” Hal ini tidak seperti kebiasaan Paulus dalam menuliskan suratnya, karena surat-surat yang dituliskan oleh Paulus kepada beberapa jemaat akan selalu diperkenalkan orang-orang yang membantunya (bnd. I Kor. 1:1; II Kor. 1:1; Flp. 1:1; Kol. 1:1; I Tes. 1:1; II Tes. 1:1; Flm. 1:1 ), dan meskipun tidak ada orang yang membantunya, pada semua surat, Paulus hanya mencantumkan namanya saja pada setiap bagian awal surat, yaitu paulos (bnd. Rm. 1:1; I Tim. 1:1; Gal. 1:1; Ef.1:1; II Tim 1:1; Tit. 1:1). Sementara pada II Kor. 10:1, penulis surat diperkenalkan dengan tegas, dimana hal ini ditunjukkan dari penggunaan kata autos[7] dan ego[8]. Cara memperkenalkan penulis surat ini (II Korintus 10) menunjukkan penekanan pada eksistensi seseorang itu, yaitu Paulus itu sendiri dengan tujuan agar pembaca mengetahui dengan yakin bahwa memang betul lah dia yang menulis surat tersebut dan hal ini sungguh amat penting. Sama halnya dengan pemaparan Fritz Rienecker (A Linguistik Key To The Greek New Testament) yang menyatakan bahwa penggunaan kata autos de ego digunakan Paulus untuk mendapatkan perhatian terhadap suatu kepentingan yang sangat spesial.[9] Tentu ini mendukung argumen saya bahwa latar belakang Paulus menggunakan kata tersebut adalah karena adanya suatu kepentingan ataupun tujuan yang sangat serius dalam surat ini.

Kemudian setelah Paulus memperkenalkan dirinya dengan cara yang tegas, lalu dilanjutkan dengan kata parakalo humas yang mencoba menyatakan suatu permintaan Paulus kepada jemaat di Korintus untuk melakukan sesuatu. Paulus menggunakan kata parakalo[10] untuk menunjukkan bahwa ada hal yang Paulus inginkan untuk dilakukan oleh jemaat di Korintus adalah suatu hal yang sangat penting dan sering juga kata ini diterjemahkan atau bahkan dipahami sebagai suatu nasehat yang harus dilakukan (bnd. Kis. 24:4; 27:34; Rm. 12:1; 15:30; 16:17; I Kor. 1:10; 4:16; 16:5; II Kor. 2:8), artinya ini adalah permintaan yang serius kepada jemaat di Korintus. Dan perlu diketahui bahwa orang yang menggunakan kata parakalo adalah seorang yang memiliki eksistensi yang tinggi, dan disini Paulus menunjukkan bahwa dia memiliki otoritas tersebut.[11]

Pada sisi lain dari ayat ini, argumen yang digunakan Paulus dalam memperkenalkan Allah juga berbeda dari surat-surat yang sudah pernah ia tuliskan. Karena pada surat lain, seperti surat kepada jemaat di Roma, Galatia, Efesus, dsb, Paulus cenderung menggambarkan/mendeskripsikan Tuhan dan Yesus sebagai sosok yang mendukung dan bahkan memilihnya untuk melayani sebagai seorang rasul (bnd. Rm. 1:1; I Kor. 1:1; II Kor. 1:1; Gal. 1:1; Ef. 1:1; Flp. 1:1; Kol. 1:1; I Tim. 1:1; II Tim 1:1, dst). Sementara pada bagian lanjutan ayat ini, yang merupakan bagian pembuka surat, kata pratetos[12], epieikeias[13], dan Khristou[14]. Kata Khristou memiliki bentuk yang sejajar dengan kata pratetos dan epieikeias, sehingga dapat dilihat formulasi ini menunjukkan pendeskripsian Paulus terhadap Kristus, yaitu Kristus yang lemah lembut dan baik. Hal ini tentu berbeda dengan cara Paulus mendeskripsikan Yesus dalam surat-suratnya yang lain, belum lagi sebutan untuk Yesus yang hanya menggunakan kata Kristus saja. Menurut saya, sebutan Kristus digunakan oleh Paulus secara spesial untuk menekankan makna dari kata tersebut, seperti yang dijelaskan oleh Christoph Barth (Teologi Perjanjian Baru I, 2015) bahwa kata Kristus (Yunani) sejajar dengan kata Mesias (Ibrani), dimana kata ini berasal dari akar kata yang berarti “mengurapi”, dan dari hal ini terlihat bahwa Yesus dipandang sebagai orang yang secara khusus ditahbiskan untuk tugas tertentu.[15] Lalu mengapa Paulus berusaha untuk menekankan hal makna kata Kristus tersebut? Hal ini dapat dipahami dari cara penggunaan kata prautetos. Kata prautetos selalu digunakan untuk menggambarkan sikap dan karakter manusia (bnd. I Kor. 4:21; Gal. 6:1; Ef. 4:2), namun kali ini ia menggunakannya untuk mendeskripsikan Kristus itu sendiri. Jadi mungkin saja Paulus ingin menyampaikan bahwa sikap itu ada pada dirinya, dan Kristus juga demikian. Menurut Ralph P. Martin (Word Biblical Commentary Vol. 40, 1986) bahwa penggunaan kata ini mungkin saja bermakna sebagai (1) kehidupan dunia: bahwa Paulus yang mengakui dirinya berada dan tinggal di dunia tidak berarti dia hidup secara duniawi, namun sorgawi seperti Kristus, atau (2) kerendahan hati dalam penjelmaannya, dimana di dalam Paulus telah ada jelmaan Kristus.[16]

hos kata prosopon men tapeinos en humin, apon de tarro eis humas (=Aku yang rendah hati ketika berhadapan denganmu, tetapi ketika aku jauh berani terhadapmu) merupakan suatu pengakuan Paulus akan karakternya. Kata tapeinos (=rendah hati) menunjukkan sikapnya yang sesuai dengan karakter Kristus yang ada pada ayat 1 ini. Hal ini menunjukkan penekanan Paulus akan eksistensinya yang menjadikan Yesus Kristus sebagai pedomannya, tentu ini argumen ini akan mengarahkan pemikiran pembaca bahwa Paulus memang benar-benar memiliki hubungan yang dekat dengan Kristus. Lalu pada kata tarro (=berani) merujuk pada sikap Paulus yang berbeda dengan sikapnya yang rendah hati. Kata tarro pada penjelasan Ralph P. Marthin (Word Biblical Commentary, 1986) menyatakan bahwa pada konteks II Kor. 10:1 kata ini cenderung dipahami dalam hal yang negatif, dimana keberanian itu bukanlah pada pemahaman akan kepercayaan diri, namun pada sikap yang sombong, tinggi hati, dan angkuh.[17] Hal ini mungkinlah suatu ungkapan kesedihan hati Paulus kepada jemaat Korintus mengenai orang-orang yang merendahkan Paulus di tengah-tengah jemaat Korintus, karena konteks pada nats ini adalah pernyataan sikap Paulus terhadap jemaat Korintus dalam rangka menanggapi berita-berita buruk yang disebarkan oleh musuh-musuh Paulus (anti-Paulus) akan dirinya.

Kata deomai (ay. 2) merupakan kata yang digunakan dalam pemahaman meminta karena ada suatu hal yang sungguh menyusahkan hati, sehingga permintaan ini haruslah dilakukan. Memang kata ini memiliki arti yang hampir sama dengan kata parakalo pada ayat 1, namun kata deomai merupakan penggunaan yang umu dan tidak perlu memiliki otoritas yang tinggi. Paulus menggunakan kata ini mungkin untuk membuat para pembaca surat ini betul-betul memahami kesusahan hati Paulus mengenai apa yang telah tersebar di tengah-tengah jemaat Korintus, karena melalui kata ini Paulus telah menunjukkan kerendahan dirinya. Mungkin saja Paulus berusaha untuk menarik simpati jemaat Korintus yang merupakan objek dari kata deomai, agar para jemaat tidak mendengarkan dan mempercayai segala berita yang merendahkan dirinya. Karena bila terjadi demikian, maka Paulus akan dipandang rendah, dan para jemaat akan melihat Paulus sebagai seorang pembual yang beraninya hanya dari surat saja. Lalu semua kerja keras dan pengorbanan Paulus dalam memberitakan injil akan sia-sia. Hal inilah yang munkin saja sedang dihindari Paulus.

Pada akhir ayat 2 ada perubah bentuk subjek, dimana sejak awal perikop ini yang ditekankan adalah kata ego dalam bentuk singular. Namun pada ayat 2, kata ego berubah bentuk menjadi bentuk plural hemas (=kami). Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan akan perubahan bentuk kata yang digunakan. Perubahan ini bisa saja menjadi hal yang disengaja oleh Paulus, karena kemampuan Paulus dalam menulis surat sudah tidak diragukan lagi. Setiap kalimat ataupun kata yang dituliskan oleh seorang yang ahli dalam menulis tentu memiliki tujuan dan alasannya masing-masing. Melihat dari latar belakang Paulus yang telah memiliki banyak pengikut dan bahkan orang-orang yang turut membantunya dalam menyebar luaskan berita keselamatan, tentu hal ini wajar dilakukan oleh Paulus. Karena dia sebagai seorang pemimpin tentu harus membela para pengikutnya yang telah bersama-sama dengan dia menaruh imannya kepada Yesus Kristus.

Pada ayat 3-6 merupakan kecaman yang keras dari Paulus terhadap orang-orang yang telah merendahkan dirinya di tengah-tengah jemaat Korintus. Pada argumen pembukanya, Paulus mengakui bahwa mereka memang masih hidup menurut daging atau secara duniawi yang ditunjukkan oleh kata kata sarka. Namun pengakuan tersebut dilapisi dengan argumen bahwa Paulus dan para pengikutnya (hemas) tidak berjuang (strateuomai) secara dunia.  Dan bahkan argumen tersebut diperkuat dengan pernyataan bahwa Paulus tidak berjuan dengan senjata duniawi, namun dengan kuasa Tuhan. Selain itu, pada bagian ini hal yang mengandung makna yang cukup keras juga disampaikan, yaitu katairesis (ay.4) yang berarti “meruntuhkan; memusnahkan,” lalu kata ekdikesai (ay. 6) yang berarti “menghukum;membalas.”  Hal ini menunjukkan bahwa Paulus memang benar-benar sedang dalam emosi yang cukup tinggi sehingga ia mampu mengecam, dan bahkan mengancam orang-orang yang telah merendahkan dirinya.[18]

Namun untuk membuat kecaman tersebut tentu membutuhkan penjelasan akan hal apa yang membuat Paulus berani melakukan itu, dan menjadi benar dengan mengatakan demikian.Hal ini lah yang coba disjelaskan dalam surat Paulus ini, bahwa mereka juga merupakan milik Kristus, dan bertindak dengan kuasa Kristus juga. Sehingga pemusnahan; peruntuhan; dan bahkan penghukuman yang dikatakan oleh Paulus adalah suatu kebenaran dan itu semua berdasar pada imannya.

Lalu pada bagian akhir surat ini, Paulus memberikan kesempatan bertobat bagi orang-orang yang telah merendahkannya. Namun pada bagian ini Paulus menekankan mengenai penghinaan akan dirinya. Orang –orang yang telah merendahkan Paulus (anti-Paulus) dituliskan dengan cara yang berbeda, karena Paulus tidak menggunakan kata ganti orang dengan lansung, namun Paulus menunjukkannya dengan menyiratkannya dalam penggunaan kata kerja, seperti kata phesin (II Kor. 10:10).[19] Kelompok yang dimaksudkan ini adalah orang-orang yang yang mengaku dirinya sebagai rasul dengan membangga-banggakan nenek moyang Yahudinya serta kegiatannya sebagai pelayan Kristus, menguasai Korintus dan merendahkan Paulus di mata gereja (II Kor. 11. Dan anggota-anggota jemaat yang pada dasarnya bukanlah orang Yahudi, namun seorang yang kafir ternyata belum juga bertobat (II Kor. 12:21).[20]

 

4.    Tafsiran: Tematis

Ayat 1, pada ayat ini Paulus memperkenalkan dirinya dengan penggunaan kata ganti orang pertama yang kuat dan tegas. Hal ini tentu dimaksudkan untuk memperkuat otoritas Paulus yang sedang dipertanyakan oleh jemaat di Korintus. Cara memperkenalakn Paulus ini juga ditemukan di Gal. 5:2 “..ego paulos..”, dengan penekanan yang sejajar. Pada Gal. 5:2 juga menunjukkan isi surat Paulus yang memperingati jemaat di Galatia dengan keras.[21] Lalu pada 1 ayat ini ada juga kalimat yang berupa pengakuan dari Paulus, bahwa dia memang seorang yang rendah hati ketika berhadapan dengan para jemaat dan berani ketika jauh. Ayat ini memang cocok sebagai pembuka karena pada ayat ini masalah yang menjadi inti surat telah disinggung.

Ayat 2-6, kemudian pada ayat ini Paulus dengan otoritasnya meminta kepada para jemaat di Korintus. Kata meminta yang digunakan Paulus merujuk tuntutan kepada jemaat supaya benar-benar melakukannya. Selain itu pada bagian ini, apa yang menjadi pegangan Paulus dalam menjalani kehidupan di dunia adalah senjata yang diperlengkapi Tuhan, dalam artian bahwa Paulus telah diberikan kuasa oleh Tuhan untuk memerang setiap dosa dan kesalahan, hal ini tentu suatu pernyataan yang tegas sehingga jemaat di Korintus haruslah mendengarkan Paulus. Tema dari bagian ini adalah ancaman Paulus kepada kelompok anti-Paulus yang telah merendahkannya, dimana Paulus beberapa kali menggunakan kata kerja yang berkonotasi negatif, yaitu kathairesin (=merusak; menghancurkan; membinasakan); kathairountes (=kathairesin); aikhmalotizontes (=menawan; memenjarakan); ekdikesai (=menuntut; membalas dendam). Namun pada akhir bagian ini menggunakan kata otan (=bilamana; jika) untuk menghubungkan kalimat “....engkau sudah dipenuhi ketaatan.” Hal ini bermaksud bahwa Paulus akan menghukum mereka yang tidak taat, setelah semua jemaat Korintus taat.[22]

Ayat 7-8, mendeskripsikan kuasa yang ada di dalam diri Paulus. Paulus menyatakan bahwa mereka juga adalah milik Kristus. Hal tentu digunakannya dalam rangka menanggapai kelompok anti-Paulus yang mengakui bahwa mereka adalah milik Kristus.[23] Oleh karena itu Paulus mungkin berusaha memasukkan pembelaannya dari perspektif jemaat di Korintus yang telah mendengarkan ajaran-ajaran dari kelompok anti-Paulus. Hal ini merupakan sikap yang berani oleh Paulus atas pengakuan akan milik Kristus ini disamakan dengan kelompok anti-Paulus. Akan tetapi argumen Paulus tetap berlanjut, dan menyatakan perbedaannya dengan kelompok anti-Paulus tersebut, dimana Paulus datang kepada jemaat untuk membangun bukan untuk merusak. Bagian ini menjelaskan pokok pikiran bahwa Paulus adalah milik Kristus, dan mereka datang kepada jemaat di Korintus untuk membangun jemaat tersebut. Otoritas Paulus semakin ditekankan ketika dia mengatakan bahwa kuasa Tuhanlah yang ada pada dirinya.Hal ini mungkin bertujuan untuk mengajak para pembaca supaya memikirkan kembali apa yang telah dikatakan oleh anti-Paulus mengenai dirnya, dengan harapan bahwa jemaat percaya dan mengakui Paulus sebagai rasul, agar Paulus tidak mendapat malu di hadapan jemaat tersebut. Robert E. Picirilli (The Randall House Bible Commentary: 1,2 Corinthians, 1987) menjelaskan bahwa Paulus menyampaikan bahwa mereka adalah milik Kristus, merupakan sebagai jawaban terhadap kelompok-kelompok yang mengakui dirinya sebagai milik Kristus dan Paulus bukanlah milik Kristus. Pernyataan ini membuat otoritas Paulus semakin goyah dihadapan para jemaat di Korintus, dan ini membuat Paulus harus segera mencegahnya sebelum jemaat di Korintus betul-betul berpaling dari ajarannya.[24]

Ayat 9-11, pada bagian ini Paulus menjelaskan mengenai tujuannya menuliskan surat tersebut dan apa yang melatar belakangi isi surat tersebut. Namun pada bagian ini, warna atau rasa yang ditulisan Paulus terasa lebih lembut dan bersahabat, karena susunan kalimat yang berusaha mengajak jemaat di Korintus untuk tetap percaya, dan menasehati kelompok anti-Paulus tersebut untuk bertobat. Lalu pada akhir bagian ini, Paulus menekankan dengan jelas bahwa firman yang diberitakan Paulus dan pengikutnya ketika sedang jauh dalam bentuk surat, sama dengan tindakan mereka ketika berhadapan langsung dengan jemaat. Menurut Frank J. Matera (II Corinthians: A Commentary, 2003) bahwa susunan argumen pada ayat 9-11, yaitu sikap Paulus yang rendah hati dan berani, terlihat sejajar dengan ayat 1-2.[25] Namun pada ayat 9-11 lebih jelas diuraikan mengenai sikap dan bentuk komunikasi Paulus dari jauh kepada jemaat di Korintus, bagaiman sikap Paulus ketika berhadapan langsung dengan para jemaat, dan bagaiman berita yang telah disebarkan oleh anti-Paulus. Namun pada ayat 11, Paulus secara jelas membela dirinya dan berusaha meyakinkan jemaat bahwa firman yang diberitakan dan sikapnya sebanding/sama.

 

6.    Skopus

Skopus: “Pembelaan diri Paulus, sebagai pribadi yang diutus Kristus.”



[1] Lih. Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 425-426; Yusak B. Dermawan, My New Testament (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2010), 94

[2] Lih. Ralph P. Marthin, Word Biblical Commentary Vol. 40 (Texas: Word Book Publisher, 1986), 298.

[3] Bnd. Merrill C. Tenney, Survei Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2010- Cet. X), 369-371.

[4] [Google Book] Lih. Walter F. Taylor, Paul, Apostle To The Nations: An Introduction (Minneapolis: Fortress Press, 2012), 241.

[5] Lih. Willi Marxen, Pengantar Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 85.

[6] Lih. Merril C. Tenney, Survei Perjanjian Baru, 371.

[7] autos (Pronoun Nominatif  Maskulin Singular), yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “diri sendiri; dirinya.” Kata ini menunjukkan keseseorangan yang sangat mendasar dan alamiah, yang membuat suatu perbedaan dari setiap orang dan yang lainnya. (Collins Dictionary)

[8] ego (Pronoun Personal Nominatif Singular), yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “aku”.  Kata ini merupakan sesuatu yang menunjukkan eksistensi dirinya dan selalu digunakan sebagai subjek. (Collins Dictionary).

[9] Lih. Fritz Rienecker, A Linguistik Key To The Greek New Testament, 139.

[10] Parakalo (Verb Indikatif Present Aktive 1st Singular), yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi appeal. Kata appeal menunjukkan suatu permintaan yang sangat penting dan serius untuk dilakukan. (Collins Dictionary).

[11] Lih. Ralph P. Martin, Word Biblical Commentary Vol. 40, 301-302.

[12] Prautetos (Noun Genetive Feminim Singular), yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “kelemah-lembutan.”

[13] Epieikeias (Noun Genetive Feminim Singular), yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesa “kerendahan hati.”

[14] Khristos (Noun Genetive Maskuline Singular).

[15] Lih. Christoph Barth, Teologi Perjanjian Baru I (Jakarta: BPK Gunung Mulia - Cet. V, 2015), 265.

[16] Lih. Ralph P. Marthin, Word Biblical Commentary Vol. 40, 302-303.

[17] Ibid, 303.

[18] Lih. Ralph P. Marthin, Word Biblical Commentary Vol. 40, 304-306.

[19] Ibid,  310.

[20] Lih. Merrel C. Tenney, Surveo Perjanjian Baru, 370.

[21] [Google Book] Lih. Frank J. Matera, II Corinthians: A Commentary (Louisville: Westminister John Knox Press, 2003), 220.

[22] Lih. Ralph P. Marthin, Word Biblica Commentary, 303-307; Robert E. Picirilli, The Randall House Bible Commentary: 1,2 Corinthians (Tenesse: Randall House Publications Nashville, 1987),378-381; Frank J. Matera, II Corinthians: A Commentary, 218-219.

[23] Lih. Merril C. Tenney, Survei Perjanjian Baru, 370.

[24] [Google Book] Lih. Robert E. Picirilli, The Randall House Bible Commentary: 1,2 Corinthians,383.

[25] [Google Book] Lih. Frank J. Matera, II Corinthians: A Commentary, 226-227.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...