I. PENDAHULUAN
Banyak pemahaman orang tentang hakikat dan makna ibadah.
Ada yang memahami ibadah itu sebagai sebuah persekutuan yang melakukan ritus di
tempat-tempat tertentu. Ada juga yang memahami ibadah itu sebatas kegiatan
liturgis pada waktu-waktu tertentu, dan ada juga yang mengatakan bahwa ibadah
itu adalah urusan pribadi dengan Tuhannya, tidak perlu dilakukan di tempat
ibadah berkumpul dengan saudara seimannya. Karena kenyataan itu dapat
menimbulkan masalah dalam kehidupan jemaat itu tak jarang menjadi kacau, maka
hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menuliskan pembahasan tentang
ibadah yang diinginkan Tuhan sebagaimana yang telah difirmankanNya. Salah satu
nats yang menjadi dasar alkitabiah yang digunakan dalam tulisan ini adalah Roma
12:1-2, dimana Paulus menasihatkan jemaat agar mempersembahkan tubuhnya sebagai
persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Tuhan. Itulah ibadah yang
sejati.
II.
TERMINOLOGI
Ibadah dalam konsep Perjanjian Lama
maupun Perjanjian Baru mempunyai arti pelayanan. Dalam istilah Ibrani disebut avoda sedangkan dalam bahasa Yunani
disebut latreia. Istilah avoda merujuk kepada ibadah di kuil dan khusus lebih
mengarah dalam hal berdoa.[1]
Abineno menunjukkan bahwa kata ‘ibadah’ yang biasanya digunakan dalam PB terjemahan
dari istilah Yunani adalah:[2]
- leiturgia (λειτουργια) Kis.13:2,
beribadah kepada Allah
- latreia (λατρεια) Roma 12:1,
mempersembahkan seluruh tubuh
- thereskeia (θρησκεια) Yak.1:27,
pelayanan kepada orang yang dalam kesusahan.
Jadi ibadah adalah avoda
atau latreia yang sebenarnya yang
merupakan suatu pelayanan yang dipersembahkan/ketaatan kepada Allah, tidak
hanya dalam arti ibadah di Bait Suci (berdoa), tetapi juga dalam arti pelayanan
kepada sesama (Luk.10:25; Mat.5:23, Yoh.4:20-24, Yak.1:27).[3]
III. ISI
3.1. Latar belakang Kitab
Roma
Surat itu ditulis di Korintus
(15:32), agaknya pada akhir perjalanan Paulus yang ketiga (15:25), menjelang
awal musim pelayaran di wilayah Laut Tengah, jadi pada akhir musim dingin.
Keadaan Paulus pada saat itu digambarkan dalam Kisah 20: 2-3. Ternyata pada
waktu itu orang-orang Yahudi bermaksud membunuh dia, sehingga dia terpaksa
membatalkan pelayaran ke Siria dan mengambil jalan darat ke Filipi (700 km
jalan kaki dari Korintus).[4]
Jemaat Roma, keseluruhan surat
Paulus hadir dengan mendekati sebuah risalat teologis. Di dalam hampir seluruh
suratnya yang lain, dia menghadapi beberapa masalah yang mendesak, berbagai
kekeliruan (kesalahan) zaman sekarang, bahaya yang mengancam, itulah momen yang
mengancam jemaat yang sedang dituju oleh Paulus. Tetapi surat Roma paling dekat
pada sebuah penjelasan sistematis, terlepas dari beberapa keadaan yang segera
harus dituntaskan.[5]
Ketika Paulus menulis Surat ke Roma
pada tahun 58 dan dia berada di Korintus.
Dia masih baru saja mau menghentikan penyelesaian rencananya yang sangat
berharga di hatinya. Jemaat di Yerusalem adalah jemaat induk, tetapi merupakan
jemaat yang miskin dan Paulus telah mengorganisir pengumpulan (dana) melalui
jemaat-jemaat muda untuk jemaat di Yerusalem ( I Korin 16:1 dst, II Korin 9: 1
dst). Ketika Paulus menulis kitab Roma, dia baru saja berangkat ke Yerusalem
dengan dana untuk bait Allah di Yerusalem.[6]
Mungkin dalam menulis surat ini Paulus membayangkan masalah-masalah di
Yerusalem. Pasal 12:1-2 menandakan peralihan dari pembicaraan mengenai
prinsip-prinsip dasar kepada pembicaraan tentang etika, yang dapat dibagi
menjadi tiga bagian: a).12:3-21; b).13; c).14:1-14:13.[7]
Surat Roma ditulis pada waktu orang-orang Yahudi diizinkan kembali ke Roma,
tetapi hal ini pun berarti bahwa orang-orang Kristen Yahudi itu kini menemukan
suatu komunitas Kristen yang amat berbeda dengan apa yang telah mereka
tinggalkan. Dugaan ini menolong mencari penjelasan seluruh persoalan Surat Roma
dan menolong menjelaskan nas 13:1 dyb. Apa yang kita miliki di sini bukanlah
suatu risalat dogmatis tentang pemerintahan dan negara, tetapi suatu tuntutan
akan tingkah laku yang setia guna menghindari maklumat yang baru. Mengingat
parousia yang akan segera datang, doktrin tentang negara juga tidak perlu, sama
halnya dengan pembaruan sosial apapun.[8]
Keadaan sekitar kunjungan ke
Yerusalem memungkinkan Paulus menulis surat ini kepada jemaat Roma untuk
mencapai beberapa tujuan yang dikehendakinya. Pertama, surat ini merupakan
kesempatan untuk memperkenalkan diri kepada jemaat, yang sebagian besar tidak
ia kenal secara pribadi. Kedua, ia dapat menyusun, mengevaluasi, dan meringkas
argumen-argumen yang mugkin harus dikemukakannya bila khotbahnya dilawan di
Yerusalem. Ketiga, ia tentu sangat memperhatikan keadaan orang Kristen Yahudi
yang merupakan minoritas di Roma ketika ia menulis surat ini. Bagian mengenai
orang Yahudi (Rm.9-11) dan bab-bab mengenai hidup dalam kebersamaan (terutama
bab14-15) mungkin dimaksudkan untuk merebut hati umat yang minoritas ini. Bila
Paulus berhasil, ia tentu memperoleh dukungan kuat dari mereka bagi
kesukaran-kesukaran yang akan ia hadapi di Yerusalem.[9]
3.2. Tafsiran Roma 12:1-2
Dua ayat pertama dalam bab 12
dibuka dengan tiga seruan kepada orang Kristen di Roma: (1) hendaknya mereka
mempersembahkan diri sebagai kurban hidup kepada Allah; (2) hendaknya mereka
jangan serupa dengan budaya mereka (melainkan membentuknya); (3) hendaknya
mereka membiarkan Allah mengubah mereka melalui Roh-Nya. Seruan-seruan dibuat
berdasarkan apa yang telah dikemukakan dalam surat mengenai hal ini, yaitu
sejarah belas kasih Allah terhadap ciptaan-Nya.[10]
Ayat 1
Aku memohon kepadamu.Di sini
persoalan etika dihadirkan kembali sebagai sebuah kekacauan yang besar. Tingkah
manusia tidak terelakkan lagi harus diganggu dengan pikiran tentang Allah.
Setiap percakapan tentang Dia, berakhir tidak harmonis, sejak hal itu dilakukan
oleh manusia tak cukup memungkinkan untuk menanggapi dan menjaga suatu pegangan
yang teguh atas subjek tentang apa yang mereka bicarakan. Kenyataan bahwa etika
merupakan sebuah problem mengingatkan kita akan objek tentang apa yang kita
bahas tidak memiliki objektivitas, maksudnya hal itu bukanlah sebuah
perbendaharaan pengalaman spiritual kita; bukan juga sesuatu yang sangat sukar
untuk dipahami.[11]
Jika pemikiran kita tidak palsu,
kita harus memikirkan tentang hidup sebagaimana pemikiran kita tentang Allah.
Dan jika kita berpikir tentang hidup kita harus menembus sudut yang tersembunyi
itu, dan terus menolak untuk mencoba segala sesuatu bagaimanapun sepele atau
menjijikkan hal itu, sebagai sesuatu hal yang menyimpang.[12]
Ayat ini dan berikut merupakan
semacam ikhtisar pengenal nasehat-nasehat khusus yang menyusul. Di dalamnya
kita seakan-akan menemukan garis merah kehidupan Kristen. Kata-kata “karena
itu”, menghubungkan ikhtisar ini dengan pasal-pasal yang mendahului. Etika
kristen berdasarkan dogmatika. Atau dengan perkataan yang lebih tepat dan
sesuai dengan nas ini, kehidupan seorang Kristen merupakan sambutan atas
kemurahan Allah terhadap dirinya. Kemurahan Allah itu telah diuraikan dengan
panjang lebar dalam pasal 1-11 pada umumnya dan dalam ayat-ayat yang terdahulu
pada khususnya ( bnd. Ayat 31).[13]
Atas kemurahan hati Allah. Paulus
disini tidak mengalihkan perhatiannya pada praktek agama sebagaimana hal itu
adalah yang berdampingan dengan teori keagamaan. Kita telah menemukan sebuah
dunia yang besar, teka-teki yang belum terungkap; sebuah teka-teki dimana
Kristus kemurahan hati Allah memberikan jawabannya. Dan karena anugerah Allah adalah
jawaban untuk teka-teki itu, kita terpaksa harus kembali pada poin dari mana
kita berangkat untuk merumuskan secara tajam, sepenuhnya hal-hal yang perlu,
yang tidak dapat dipecahkan.[14]
Supaya kamu mempersembahkan
tubuhmu. Perkataan Yunani paristanai yang dipakai disini kita
temukan juga dalam pasal 6:13, 16, 19. Di situ pemakaiannya berkaitan dengan
suasana lingkungan istana: menyediakan, mengabdikan kepada raja. Sebaliknya di sini
paristanai
merupakan istilah peribadatan dari lingkungan bait Allah: mempersembahkan kurban.
Jadi, gagasan dasar di sini sama dengan yang terdapat dalam pasal 6: 12-14
yaitu penyerahan diri kepada Allah secara total, namun penjabarannya berbeda.
Yang harus dipersembahkan adalah ‘tubuhmu’.
Yang dimaksud tentu bukan bahwa orang percaya harus menyerahkan tubuhnya untuk
dibunuh, sebagaimana kadang-kadang terjadi dalam lingkungan agama lain. Bukan
juga bahwa mereka wajib menyiksa diri supaya bertambah suci. Atau bahwa mereka
pada masa gereja mengalami penindasan dari pihak pemerintahan, harus mengadukan
diri kepada pihak yang berwajib sebagai orang Kristen agar dengan demikian
dapat memperoleh kedudukan syahid. Dalam tafsiran 6: 12 telah dicatat bahwa
tubuh kita adalah kehadiran kita ditengah dunia ini, pikiran, perkataan, dan perbuatan
kita yang semuanya dapat terjadi dan
terungkap lewat beberapa bagian tubuh kita. Memang apakah yang dapat orang
lakukan seandainya tidak mempunyai tubuh?[15]
Dalam hal ini kita mengingat kembali
betapa pentingnya pengertian kita bahwa anugerah menjadi kuasa akan
kebangkitan, menuntut kita untuk hadir dengan ketaatan dan menyerahkan tubuh kita
sebagai pelayan bagi kontradiksi yang suci yang ditentukan untuk kita. Tuntutan
mengenai tubuh kita dan anggota-anggotanya. Sekarang, tubuh itu kelihatan berhubungan
dengan sejarah manusia yang hanya kepadanya kita memiliki pengetahuan. Ketika
manusia itu bertemu manusia baru dalam Kristus, dia dikurung dan dibuat
ragu-ragu sama sekali oleh rahmat Tuhan.[16]
Paulus di sini menggunakan istilah
persembahan. Bagi umat Kristen, ibadah sejati tidaklah terdiri dari persembahan
kurban sebagaimana yang ditawarkan oleh orang Yahudi dan oleh orang kafir.
Keduanya tidak hanya memberikan jiwa atau roh manusia kepada Allah, seperti
pemikiran beberapa filosof Yunani; tidak juga hanya dalam memuji Allah dalam pelayanan
ibadah gereja. Orang Kristen harus beribadah kepada Tuhan dengan tubuh mereka
dalam semua aktivitas tubuh dan pikiran sehari-hari. Mereka harus hati-hati
mengingat apa-apa saja kelakuan yang berkenan dengan kehendak Allah, dan
kemudian membuat perlakuan mereka menjadi pola hidup mereka. Jenis ibadah ini
adalah ibadah rohani dan ‘layak’.[17]
Maka yang hendak dikatakan Paulus di
sini ialah seluruh pikiran, perkataan dan perbuatan, pokoknya seluruh kemampuan
dan kegiatan kita harus dipersembahkan kepada Tuhan. Hal itu membawa kita pada
beberapa pertimbangan. Pertama, bahwa
”mempersembahkan” berarti penyerahan secara total. Kita tidak dapat menyisihkan
sebagian untuk dipegang sendiri atau diserahkan kepada pihak lain. Pun, kurban
itu harus bersifat sempurna. Kedua,
bahwa selain tubuh itu tidak ada kurban lain yang harus dipersembahkan orang Kristen.
Bukan pemberian kita yang Tuhan kehendaki, tetapi Ia menghendaki kita sendiri.
Oleh karena itu juga persembahan itu dikatakan persembahan hidup. Perkataan
“hidup” itu dipakai bukan karena kita sendiri memang hidup, bertentangan dengan
hewan kurban yang mati. Kata “hidup” di sini mempunyai arti yang sama seperti
dalam 6:4, “yang hidup dalam hidup yang baru”. Hidup yang baru itu dibangkitkan
oleh Roh Kudus (8:11). Dan karena orang percaya hidup bagi Allah, mereka telah
mati bagi dosa. Jadi persembahan yang hidup adalah penyerahan diri kita untuk
menempuh kehidupan baru, yang menjauhi dosa dan menentang kuasa dosa itu.
Persembahan itu dikatakan juga
kudus. Dengan demikian diungkapkan bahwa “tubuh” = kehidupan kita bukan lagi
milik kita sendiri. Sebab mempersembahkan kurban berarti kurban itu diserahkan
menjadi milik Allah.[18]
Ibadah yang sejati dalam bahasa
Yunani adalah logike latreia,
berarti: pengabdian, dan kalau dipakai dalam hubungan dengan dewa-dewa:
“ibadah”. Istilah logikos tidak terdapat dalam PL berbahasa Yunani. Dalam PB,
selain disini, kita hanya menemukannya dalam I Petrus 2:2, artinya agak dekat
dengan pneumatikos “rohani’. Dalam
lingkungan helenistis, termasuk Yahudi helenistis, logikos dipakai dengan arti (ibadah, persembahan) yang batiniah,
yang rohani. Itulah artinya yang khusus. Dari situlah timbul pengertian yang
lebih umum: ibadah itu dianggap “yang sejati, yang wajar, bertentangan dengan
yang jasmani”. Pertentangan yang ditandai oleh istilah logikos bukanlah
pertentangan lahir batin ataupun upacara ibadah-kehidupan sehari-hari,
melainkan sesuai dengan kehendak Allah-tidak sesuai dengan kehendak Allah (‘hidup’,
‘kudus’.[19]
Ayat 2
Menyesuaikan diri...berubah :
manusia hidup di dunia ini dan memiliknya. Mereka lebih berfikir tentang apa
yang hendak dimakan (pada hari esok) daripada tentang Allah, lebih mengarah
pada soal keuntungan daripada tentang melayani Allah. Hal ini adalah manusiawi.
Paulus telah memaparkan situasi ini pada 1:18-32. tetapi manusia yang memiliki
Kristus, memiliki hari Tuhan yang baru, dan seharusnya tinggal di jalan yang
sesuai dengan zaman (hari) yang baru itu. Ini tidaklah mudah karena kita masih
tinggal di zaman sekarang dan cenderung untuk berpikir dan berlaku demikian di
sekitar kita.[20]
Dalam bahasa Yunani umum, skhema berarti ‘kerangka’, pola. Rupa,
sosok, dengan menekankan sifat lahiriahnya. ‘Persembahan tubuh’ dan ‘ibadah’
yang idsebut dalam ayat 1 memiliki segi negatif dan positif. Segi negatif
ialah; orang Kristen tidak boleh lagi membiarkan pola hidupnya ditentukan oleh
dunia. Menurut terjemahan harafiah; “jangan lagi biarkan dirimu menjadi sepola
dengan dunia ini”. Dunia merupakan terjemahan perkataan Yunani aion. Artinya: masa yang sangat panjang,
masa hidup dunia. Kata-kata “janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini”:
tidak boleh ditafsirkan seakan-akan orang percaya diajak untuk menjauhi dunia,
dalam arti kenyataan jasmani. Yang dimaksud di sini bukanlah anjuran untuk
beraskese (bertapa). Sekali lagi, tafsiran semacam itu dicegah oleh dekatnya
perkataan ‘tubuh’ dalam ayat 1.[21]
Secara positif, anjuran Paulus
berbunyi: berubahlah oleh pembaharuan budimu. Atau, menurut terjemahan yang
mungkin lebih tepat:’biarlah rupamu diubah terus”. Rupa itu bukan hanya segi
manusia yang lahiriah. Seperti yang nampak dalam Flp.3:21, baik pola maupun
rupa bagi Paulus mengandung pengertian: wujud, yang menunjukkan hakikat. Maka
perubahan yang diharapkan dari orang-orang percaya itu bukan hanya perkara
lahiriah saja. Yang diharapkan ialah perubahan hati, yang terwujud dalam
seluruh kehidupan. Perubahan itu berlangsung oleh pembaharuan budimu. Perkataan
Yunani nous, yang di sini diberi
terjemahan ‘budi’ muncul juga dalam 1:28, dalam 7:23 dan 25, dan baru saja
dalam 11:34. Kata ini dipilih karena dalam hubungan ini memang yang dimaksud
ialah perubahan kelakuan manusia, bukan perubahan pikirannya saja. Yang
dimaksud ialah: pusat kemauan kita, yang mengambil keputusan-keputusan ysng
menentukan tindakan kita. Pusat itu perlu diperbarui. Kita telah melihat bahwa
pembaruan hidup dikerjakan oleh Roh Kudus (7:6; 8:4). Namun di sini manusia
sendiri juga diajak untuk membarui diri. Pendekatan ganda seperti itu sudah kita
temukan pula dalam tafsiran 9:16.
Bagian kedua ayat ini menyebut hasil
pembaharuan budi. Tujuannya ialah: sehingga kamu dapat membedakan manakah
kehendak Allah. Kata kerja Yunani dokimazein
berarti: memeriksa, menguji. Ternyata kehendak Allah tidak dengan sendirinya
jelas, karena 2 alasan. Pertama,
karena dalam kehidupan sehari-hari seorang Kristen dihadapkan dengan berbagai
keadaan. Sering kali adalah sulit baginya untuk begitu saja menentukan
sikapnya. Lebih-lebih pada masa kini, dari perkembangan teknis yang begitu
cepat di berbagai bidang, orang Kristen tidak begitu saja dapat menetukan
apakah dia boleh menggunakan aneka ragam sarana mutakhir. Kita dapat
membayangkan perkembangan di bidang medis atau bidang teknologi nuklir. Dalam
semua hal itu diperlukan pertimbangan matang-matang sebelum kita dapat
menentukan (itupun dengan hati-hati) manakah kehendak Allah. Kedua, kita diajak untuk mengusahakan
budi kita dalam mencari kehendak Allah, karena Allah bukanlah kitab hukum.
Allah tidak menyajikan kepada kita peraturan-peraturan yang menunjuk jalan
kepada orang Kristen sekaligus mengikatnya sebab Injil itu bukanlah hukum yang
baru, tetapi justru memberi kita kebebasan anak-anak Allah (8:15,21).[22]
Anjuran ini diarahkan oleh Paulus
kepada setiap anggota jemaat di Roma. Orang-orang Kristen bukan
individu-individu yang hidup sendiri-sendiri. Mereka merupakan satu tubuh
(ay.4). Maka dalam mencari kehendak Allah pun mereka akan berkumpul dan saling
meminta nasihat. Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna,
mungkin kita anggap luapan kata-kata ini agak berlebihan. Tetapi agaknya dalam
jemaat Roma ada yang cenderung untuk mengutamakan kebebasan orang percaya
tersebut di atas sedemikian rupa, hingga mereka tidak mau lagi terikat kepada
peraturan-peraturan bagi kelakuan mereka. Terhadap orang seperti itu perlu
dipentingkan bahwa melakukan kehendak Allah adalah melakukan yang baik. Dari
Gal 6:10 dan 1Tes 5:15 kita tahu bahwa yang baik itu adalah perbuatan yang
sederhana dan sangat konkret: menolong orang yang berkebutuhan, mengampuni
mereka yang bersalah terhadap kita.[23]
Dengan menambahkan ‘yang berkenan
kepada Allah’ Paulus memberi lagi penjelasan mengenai apa itu yang baik. Yang
baik itu bukanlah suatu asas yang abstrak. Tetapi yang baik itu menyatakan diri
dalam pergaulan antara seorang percaya dengan Allah. Pergaulan itu menuntut
pengabdian sepenuhnya. Itulah makna ‘yang sempurna’. Perkataan ‘sempurna’ ini
sekaligus menentukan arti ‘yang baik’ dan ‘yang berkenan’. Yang baik dan yang
berkenan itu bukanlah sesuatu yang dapat kita jangkau, yang dapat kita anggap
sebagai sudah terlaksana. Tetapi kesempurnaannya merupakan tujuan yang selalu
harus kita kejar.[24]
3.3. Skopus
Mempersembahkan tubuh (diri) dan
melakukan kehendak Tuhan, itulah ucapan syukur yang sejati.
3.4. Teologi Ibadah Sejati Dalam PL
Λάτρέίά hanya terdapat sembilan
kali dalam LXX, dan demikian juga di Alkitab Ibrani tersedia selalu dapat
disamakan dengan avoda. Dengan satu
pengecualian artinya selalu kultus. Itu menunjukkan ibadah kultus (Yosua 22:27)
atau spesifikasi yang lain praktek pribadi seseorang, disebut, paskah (Keluaran
12:25,26;13:5).[25]
Allah para Bapa leluhur tampak sebagai pemberi
janji/perjanjian yang penuh kemurahan. Dia memilih Israel untuk menjadi ahli
waris berkat-berkat yang telah diberikanNya kepada para Bapa Leluhur. Namun Dia
berbuat demikian bukan karena kebersamaan atau kelayakan Israel (Ul.7:7).
Israel merupakan bangsa yang lemah, terhina, tertindas. Dalam proses
pembebasannya, Allah memaksa Firaun menyelamatkan mereka tanpa bantuan tangan
manusia.[26]
Dalam segala perkara ini Allah menyatakan diri sebagai Allah yang berkemurahan,
Allah yang tersinggung kalau manusia memeras manusia, Allah yang memilih, Allah
yang Maha Kuasa. Waktu Musa mengantar umat itu ke gunung suci, di situ mereka
memasuki perjanjian dengan Allah. Oleh karena Dia telah membebaskan mereka,
mereka berjanji akan menyatakan rasa terima kasih mereka dalam pelayanan
terhadap Dia, sedang Dia membebankan perintah-perintah-Nya atas mereka.
Perjanjian itu tidak merupakan kontrak atau persetujuan dagang dengan Allah,
melainkan respons terhadap apa yang sudah dikerjakan Allah demi mereka. Disitu
berarti timbul kewajiban moral yang menuntut ketaatan Israel terhadap kehendak
Allah. Kehendak Allah itu tidak dirumuskan terutama dalam bentuk ritus-ritus
yang perlu dilaksanakan, melainkan sebagai petunjuk-petunjuk yang menuntut
perbuatan dan kelakuan yang sesuai. Di antara hukum-hukum dan perintah yang
disampaikan melalui Musa, maka Dasa Titah mendapat tempat yang utama. Yang
ditekankan sekali dalam Dasa Titah itu bukanlah upacara-upacara kultis
melainkan patokan-patokan yang akan mempengaruhi cara orang membawakan diri dalam
hubungan dengan sesamanya.
Nabi Amos juga menyampaikan Firman
Tuhan yang bertanya: “apakah kamu mempersembahkan kepada-Ku korban sembelihan
dan korban sajian, selama empat puluh tahun di padang gurun itu, hai kaum
Israel?” (Am.5:25). Maka, menurut pengertian yang lazim, ayat ini berarti bahwa
pada zaman Keluaran tidak ada persembahan kurban. Dan kita dapat melihat lagi
dari laporan Yeremia: “Sungguh, pada waktu Aku membawa nenek
moyangmu keluar dari tanah Mesir Aku tidak mengatakan atau memerintahkan kepada
mereka sesuatu tentang korban bakaran dan sembelihan; hanya yang berikut inilah
yang telah Kuperintahkan kepada mereka: dengarkanlah suaraKu, maka Aku akan
menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku” (Yer.7:22-23).[27]
Maka kesimpulannya adalah panggilan Tuhan di Sinai menuntut ketaatan; dan
ketaatan sebagaimana dirumuskan dalam Dasa Titah adalah bukan soal upacara
kultis melainkan soal kelakuan yang sesuai. Yahweh lebih mementingkan perbuatan
dan tabiat daripada ritus. Apa yang perlu disyukuri pada waktu itu? Tidak lain
adalah pembebasan dari tanah Mesir. Inilah yang menjadi titik tolak ibadah
dalam PL (historis teologisnya).
Ibadah adalah tanggapan hati yang
percaya kepada Allah. Kultus adalah istilah yang dipakai para sarjana Alkitab
untuk aspek-aspek formal dan ritual dari peribadatan dalam PL. Kultus atau
upacara ibadah hanyalah merupakan bentuk tanggapan Israel terhadap penyingkapan
Allah. Uraian yang disiapkan Perjanjian Lama mengenai ibadah menekankan bahwa
seluruh kehidupan Israel berada dalam kekuasaan Allah. Hubungan mereka dengan
Allah dibuat, diteguhkan, dan diperbarui dalam upacara ibadah itu.
Upacara ibadah yang ditentukan Allah
bagi Israel harus menjadi pengungkapan yang nyata dari iman mereka. Namun, iman
yang sungguh-sungguh ingin menyatakan dirinya secara lahiriah.
3.5. Teologi Ibadah Sejati dalam PB
Kata benda Λάτρέίά jauh lebih umum. Awalnya punya arti
pelayanan sebagai hadiah atau upah. Dalam kelima peristiwa kata ini dalam PB,
tiga diantaranya menunjuk kepada imam upacara-upacara kurban. Dalam Roma 9:4,
Dengan pemberian taurat dan janji, λάτρέίά adalah salah satu kegunaan agama
yang bertumbuh bagi Israel. Ide kongkrit dari persembahan (korban) tampaknya
selalu berpegang teguh tidak kurang dari sebuah kata kerja. Ini juga benar pada
ayat yang terakhir (Roma 12:1), walaupun pemakaian di sini bersifat metafor. Pelayanan
dimana Kristen diperbuat dalam cara atau penampakan kehidupan batin mereka dan dalam
jalan yang direncanakan untuk merespon kehendak Allah. Inilah persembahan yang
hidup yang harus mereka lakukan. Menggunakan sebuah istilah pada zamannya,
Paulus menggambarkan persembahan ini sebagai ibadah sejati (Logike Latreia)
pelayanan Tuhan yang koresponden pada alasan manusia, yang bagaimanapun bentuk
sucinya juga terdapat pada pekerjaan. Jika manusia mendengarkan hal ini dia
harus mengakui bahwa inilah ibadah yang sejati kepada Allah. [28]
Tidak ada tuntutan Kristen yang
lebih karakteristik daripada mempersembahkan tubuhnya kepada Tuhan. Umat
Kristen percaya bahwa tubuhnya milik Allah sebagaimana jiwanya, dan dia dapat
melayani Allah dengan tubuhnya seperti yang dilakukannya juga dengan pikiran
atau jiwa (rohnya). Tubuh adalah bait Roh Kudus, tempat dimana Roh Kudus
tinggal, dan alat dimana Roh Kudus bekerja. Setelah itu, realita besar akan
inkarnasi pada dasarnya berarti bahwa Allah sendiri tidak dendam untuk
mengambil tubuh manusia atasNya, dan hidup di dalamnya dan bekerja melaluinya.
Tubuh dibangun bagi pelayanan ibadah manusia kepada Allah. Tetapi itu tidak
harus dibentuk dengan pemikiran para arsitek; harus dibangun oleh tangan para
tukang (ahli) dan para pekerja; hanya kemudian itu menjadi sebuah tempat yang
suci dimana manusia berkumpul untuk beribadah. Hal itu benar-benar sebuah hasil
dari pikiran, tubuh, dan jiwa manusia.[29]
Jika kita adalah milik Allah, kita bukanlah milik dunia.
Iman Kristen sungguh-sungguh tidak mengeluarkan manusia dari dunia ini, cukup
menempatkan mereka di tengah-tengahnya, tetapi iman itu menjauhkan mereka dari
cinta mereka terhadap dunia ini. Hukum dan jalan-jalan duniawi tidak dapat
lebih lama dimiliki setelah menjadi milik Allah. Berserah kepada Allah adalah
sekaligus merupakan suatu perubahan dari jalan-jalan duniawi ini. Seseorang
tidak dapat menyenangkan (melayani) dunia dan Allah secara bersamaan. Seseorang
“tidak dapat melayani Allah dan mammon” (Mat.6:24). Seluruh hidup, oleh sebab
itu, harus direkonstruksi (dibangun kembali) sesuai dengan
perencanaan/rancangan hidup baru.[30]
Berubah oleh pembaharuan budi, itu
berarti ada peralihan fase, dari fase yang buruk ke fase yang baru. Dan kita
dituntut meninggalkan cara hidup yang lama, yang penuh celah-celah, hingga
berada dalam suatu kerajaan baru.
Perkataan yang paling positif untuk
menggambarkan fase ini ialah “hidup yang baru” (Roma 6:4), suatu hidup yang
dihayati dalam persekutuan dengan Allah melaui Kristus, suatu hidup yang
dibebaskan dari kuasa dosa, suatu hidup yang disemangati oleh “damai sejahtera
dengan Allah”. Inilah teori rohani tentang hal itu; tetapi sebenarnya, oleh
karena kita masih “di dalam daging”, manusia lama itu masih hidup segar bugar
dan memerlukan sangat banyak pembunuhan. Jadi, manusia yang selamat itu
dipanggil untuk mematikan tabiatnya yang lama, dan menjadi manusia baru, dengan
pertolongan Allah, yang kemungkinan untuk itu ia punyai. Hidup yang baru ini
dapat dicirikan selanjutnya sebagai hidup “di dalam Kristus” atau hidup “ di
dalam Roh”.[31]
IV. PENGGABUNGAN TEOLOGI IBADAH DARI PL DAN PB
Allah dalam rahmat-Nya yang berdaulat telah berkenan
untuk memberikan diri-Nya dalam Roh Kudus kepada orang lemah, rusak, dan
berdosa, dan hal ini merupakan alasan tertinggi bagi ibadah dan syukur kita.
Banyak hal yang telah, sedang, dan akan dilakukan Allah melalui persatuan orang
dengan Kristus. Semuanya itu adalah alasan untuk menyembah dan beribadah
kepada-Nya.[32]
Sebenarnya jiwa ibadah dalam Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru adalah sukacita. Bersukacita bertemu dengan Allah dan
memberikan persembahan kepadaNya. Hal ini juga nampak dari syair-syair pemazmur
yang memuji-muji kasih setia Allah di setiap waktu mereka, dimana mereka luput
dari marabahaya, serangan musuh, atas segala kebaikan Allah sebagai gembalanya.
Dimana Tuhan bertindak, di situ dikerjakan-Nya perbuatan
ajaib menurut maksud-Nya yaitu rancangan-Nya yang tak terbayangkan manusia,
rencana keselamatan-Nya itu pasti dilakukannya untuk kita, demi pembebasan
kita. Dalam semuanya itu, Tuhan menyatakan diri sebagai yang tak terbandingi.
Itulah sebabnya manusia tidak dapat membalas tindakan Allah itu dengan suatu
pemberian berupa korban.[33]
Sesuatupun
yang diusahakan manusia tidak dapat mengimbangi perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan; tidak ada jasa yang dapat
disodorkan kepada Allah, apa saja yang manusia perbuat bagi Tuhan diberikan
kepadanya oleh Tuhan sendiri: “Engkau membuka telinga (harf: Engkau menggali
telinga bagiku) untuk mendengar seperti seorang murid” (Yes.50:4-5). Sebenarnya
manusia tidak dapat mendengar, melihat, dan mengerti kalau Tuhan sendiri tidak
membuka telinga, mata, dan hatinya. Ketika seorang percaya masuk ke dalam bait
suci untuk mengucap syukur, di situ ia datang menyerahkan diri sendiri, dengan
merelakan dirinya menjalankan kehendak Allah. Untuk mengetahui apa yang
berkenan kepada Allah, dibutuhkan suatu pedoman, yang diberikan kepadanya dalam
Alkitab.[34]
V.
REFLEKSI
Gereja berfungsi seperti kelompok imam yang mempersembahkan
kurban syukur kepada Allah. Bila gereja mengenal tanggung jawabnya untuk
mempersembahkan ibadah maka hal ini cocok dengan arti dasar kata ‘latreia’
yaitu “kebaktian atau pelayanan”. Sayang, terlalu sering orang mengikuti ibadah
dengan pikiran, “Apa yang dapat saya peroleh dari kebaktian ini?” Sedangkan
pikiran yang lebih tepat ialah “Apa yang dapat saya persembahkan (kepada Tuhan)
dalam kebaktian ini?”
Orang-orang percaya hanya dituntut untuk mempersembahkan dirinya kepada Allah, yaitu melakukan ibadah dengan benar, baik ibadah ritual maupun ibadah sosial sebagai aplikasi responnya terhadap kasih Allah. Allah tidak meminta orang-orang percaya untuk mempersembahkan seluruh harta miliknya atau tubuhnya untuk dijadikan korban persembahan (korban sajian atau bakaran), tetapi menjadikan dirinya seorang hamba yang taat kepada Allah. Hanya satu yang diinginkan-Nya, yaitu mengasihi Dia dengan sepenuh hati, jiwa, dan kekuatan kita. Kita mengasihi Dia, tentu juga mengasihi semua ciptaan yang lain. Kita melayani sesama dengan kasih kita tehadap Dia, menyayangi makhluk ciptaan yang lain sebagai ucapan syukur kita atas segala karunia-Nya, itulah ibadah kita yang sejati.
VI. KESIMPULAN
Ibadah adalah pelayananan dan
persembahan umat kepada Tuhan. Apa yang harus dipersembahkan? Tidak lain adalah
tubuh, dalam arti seluruh pikiran, perkataan, dan perbuatan, pokoknya seluruh
kemampuan dan kegiatan kita harus dipersembahkan kepada Tuhan. Ini berarti
penyerahan secara total akan hidup kita. Oleh karena itulah persembahan itu
disebut juga sebagai persembahan yang hidup. Dan karena tubuh kita
dipersembahkan khusus menjadi milik Tuhan, maka persembahan itu disebut juga
kudus.
Ibadah adalah persekutuan antara umat dengan Tuhan. Yang bersekutu di sini bukan hanya jasmani tetapi juga pikiran, hati, dan jiwa kepada Tuhan. Ibadah tidak terbatas pada puji-pujian bersama dan pelayanan Firman, tetapi seharusnya diteruskan dan dijadikan sikap seluruh hidup. Ibadah harus menjadi pola hidup, sehingga terwujudlah apa yang dikatakan dalam Kol.3:17 “segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita”.
[1] James Hastings, Encyclopedia of Relegion and Ethics vol.29, (New York: Charles
Scribner’s Sons, 1955), hlm.527.
[2] Riemer G, Cermin Injil, (Jakarta: Yayasan
Komunikasi Bina Kasih, 1995), hlm.52
[3] J.D. Douglas (ed.), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini jilid I,
(Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2004), hlm.409.
[4] Th.Van den End, Tafsiran
Alkitab: Surat Roma, (Jakarta:BPK-GM,2000), hlm 3
[5] William Barclay, The Letter to The Romans, (Philadelphia: The Westminster Press, 1957),
hlm.xxi
[6] Ibid, hlm.xxiii
[7] Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru, (
[8] Ibid, hlm.115-116
[9] Dianne Bergant &
Robert J.Karris (ed.), Tafsir Alkitab
Perjanjian Baru, (
[10] Ibid, hlm. 265.
[11] Edwin C. Hoskyns, The Epistle To The Romans, (London:
Oxford University Press,1960), hlm.424
[12] Ibid, hlm.425.
[13] Th. Van den End, op.cit, hlm.562
[14] Edwin C.H, Op.cit, hlm.426
[15] Th. Van den End, Op.cit, hlm.562
[16] Edwin C.H, Op.cit, hlm.429
[17] Roger Bowen, A Guide to Romans, (London: SPCK,
1975), hlm. 157.
[18] Th. Van den End, Op.cit, hlm.564
[19] Ibid, hlm.566
[20] Roger Bowen, Op.cit, hlm.157.
[21] Th. Van den End, Op.cit, hlm.567.
[22] Ibid, hlm.568
[23] Ibid, hlm.569
[24] Ibid, hlm.570.
[25] Gerhard Kittel (ed.), Theological
Dictionary of The New Testament Vol IV, (Michigan: WMB. Eerdmans Publishing
Company, 1967), hlm 61
[26] H.H. Rowley, Ibadat Israel Kuno, (
[27] Ibid, hlm.31-33.
[28] Gerhard Kittel (ed.), Op.cit.
hlm 65
[29] William Barclay, Op.cit, hlm. 168.
[30] Emil Brunner, The Letter to The Romans A Commentary,
(Philadelphia: The Westminster Press, 1952), hlm.102.
[31] A.M.Hunter, Memperkenalkan
Teologi Perjanjian Baru, F.F. Drake (terj.), (Jakarta:BPK-GM, 2004), hlm. 7
[32] Bruce Milne, Mengenali Kebenaran, (Jakarta: BPK-GM,
2003), hlm.285.
[33] Marie C. Barth& B.A.
Pareira, Tafsiran Alkitab Kitab Mazmur
1-72, (
[34] Ibid, hlm.423.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar