Selasa, 25 Juli 2023

Kitab Taurat Musa

I.Suharyo, Pr dalam bukunya yang berjudul Mengenal Tulisan-tulisan Perjanjian Lama mengenalkan Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan dengan nama TAURAT (Kitab Hukum) dan PENTATEUKH (Lima Kitab). Inti dari Kitab Pentateukh ini adalah kisah Allah yang memilih dan mengangkat Israel menjadi umat-Nya. Dalam buku ini, diberitahukan bahwa kisah dan peristiwa yang diceritakan di Kitab Pentateukh terjadi sebelum tahun 400 SM dan melalui proses panjang dihasilkanlah sebuah karya sebagaimana yang kita miliki sekarang.

Kisah dalam Kitab Pentateukh diteruskan dalam bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan tempat dan lingkungan penulis. Kaum Yahwis adalah kaum yang menggunakan kata “YHWH” sebagai nama Allah, Kaum Elohis adalah kaum yang menggunakan kata “Elohim” sebagai nama Allah. Kitab Pentateukh juga disusun oleh kontribusi kaum Priest / kaum Imam yang berpusat pada hukum, silsilah, peraturan ibadah, dan teologi. Pada kisah tertentu dalam Kitab Pentateukh, terdapat gabungan antara tulisan kaum Y dan Kaum E dengan penambahan bahan-bahan tradisi lain.

Kitab Pentateukh kemudian disusun oleh para imam dan ahli kitab selama dan sesudah masa pembuangan Babilonia (587 SM – 538 SM). Pada tahun 398 SM, Ezra, ahli kitab melengkapi Kitab Pentateukh walau hasilnya tidak selalu selaras, dibuktikan dengan adanya beberapa kisah yang sama namun disajikan dalam bentuk dan kronologi yang berbeda.

A.                KITAB KEJADIAN

Kitab Pertama dari Pentateukh adalah kejadian, sehingga dengan itu, Kitab Kejadian merupakan Kitab pertama dalam Kitab Suci.

Buku ini membagi Kitab Kejadian dalam empat bagian umum:

-Bagian I : Kejadian 1 – 11

Kisah Penciptaan dunia dan manusia, dosa manusia pertama, air bah yang menghancurkan keturunan manusia yang berdosa, dan keturunan Nuh yang kembali memenuhi bumi, serta adanya penjelasan mengenai asal-usul berbagai bangsa melalui keturunan Nuh.

-Bagian II : Kejadian 12 – Kejadian 25 : 18

Silsilah Abraham dan nenek moyang Yahudi

-Bagian III : Kejadian 25 : 19 – Kejadian 37 : 1

Kisah keturunan Abraham yaitu Ishak, dan Yakub (Israel)

-Bagian IV : Kejadian 37 : 2 – Kejadian 50 : 26

Kisah Yusuf dari penjualannya sebagai budak hingga menjadi perdana menteri firaun.

1.                  Penciptaan, dosa, dan air bah

Buku ini mempercayai bahwa kisah penciptaan, dosa, dan air bah merupakan kisah utama dalam Kitab Kejadian bagian pertama. Ketiga kisah ini menceritakan dua hal, yaitu :

-                      Asal-usul dunia, dan

-                      Masa lampau sebelum segala sesuatu ada

Namun ketiga kisah tersebut tidak bercerita secara ilmiah. Sebagian Kitab Kejadian diambil dari mitologi Timur Tengah Kuno. Mitologi tersebut berisikan kehidupan dewa-dewi (makhluk diatas). Salah satu kisah yang paling populer adalah terbentuknya jagad raya dari bangkai Binatang Purba yang mati dikalahkan oleh Pemimpin Dewa dalam peperangan.

Kisah mitologi Timur Tengah itu kemudian diubah dan disesuaikan dengan iman Israel kepada Allah yang Esa. Kisah mitologi ini juga disesuaikan dengan Kisah Sejarah Kitab Suci. Kisah itu tepat diletakkan dalam bagian awal Kitab Kejadian (Kitab Pertama Kitab Suci) untuk menunjukkan kasih ilahi Allah, dosa manusia, hukuman terhadap dosa, hingga janji akan pembebasan.

Gereja Katolik memandang bahwa kisah-kisah kitab suci diceriterakan dengan tujuan untuk :

-          Pernyataan bahwa Allah lah yang menciptakan langit dan bumi, manusia menurut gambar-Nya.

-          Menunjukkan adanya dosa manusia

-          Janji penyelamatan kepada manusia (Kej. 3:15, nubuat pertama mengenai kedatangan Kristus). (Kisah air bah adalah yang mengingatkan kita akan dosa, dan pengampunan).

 

2.                  Lambang-lambang

Buku ini juga menjelaskan Kitab Kejadian yang berisikan lambang-lambang untuk mengungkapkan kebenaran tertentu. Kisah-kisah mengenai lambang itu disebut dengan mite. Contoh mite adalah kisah air bah yang dipercaya benar-benar terjadi dan memiliki makna yang mendalam.

Contoh lain:

Lambang penciptaan: Kisah penciptaan dalam Kejadian 1 dan Kejadian 2, bukan rumusan ilmu pengetahuan.

Lambang dosa: Kisah jatuhnya manusia dalam Kejadian 3. Kisah yang tidak diterima dan juga tidak ditolak.

Lambang penyelamatan akan dosa: kisah air bah, didasarkan pada peristiwa yang benar-benar terjadi.

Adapun perlambangan lainnya adalah seperti bumi, tanah liat, tukang periuk, air, sungai kehidupan, pohon kehidupan, laki-laki dan perempuan. Perlambangan digunakan untuk menguatkan kembali ikatan hubungan berbagai tulisan yang didapat dari zaman dan orang yang berbeda.

Contohnya adalah dalam kejadian 3:15 “protoevangelium” sebagai kabar gembira dan injil keselamatan yang pertama.

 

3.                  Nenek moyang Kita dalam Iman

Menurut I Suharyo, Pr, kisah tentang Abraham, Ishak, dan Yakub merupakan bagian-bagian penting dalam Kitab Kejadian. Kisah ini diceritakan oleh pengembara yang mengembara ternak bersama di daerah Mesir dan Siria. Kisah-kisah itu adalah kisah keluarga yang mengenangkan dan menceritakan kembali riwayat nenek moyang. Dan kisah ini diwariskan kepada anak-anak keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub.

Dari sisi lain kisah ini juga menggambarkan kehidupan kelompok-kelompok atau semi-nomad (=setengah pengembara) dan keadaan wilayah Timur sekitar tahun1800 sM. Meskipun demikian kisah-kisah tersebut juga mempunya ciri “ cerita rakyat”. Orang-orang menceritakan kisah ini terutama untuk menghibur dan menarik perhatian pendengarnya dengan mengisahkan tentang nenek moyang mereka yang hebat dan gagah berani. Ketika kitab kejadian untuk mengemukakan hubungan antara Abraham, Ishak, Yakub dengan Allah.

 

4.                  Panggilan Abraham

Dalam Kel 12, Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan kediamannya dan berangkat menuju tanah perjanjian. Allah juga menjanjikan keturunan yang besar baginya. Allah yang memanggilnya adalah Allah yang Esa. Abraham menanggapinya dengan keyakinan yang amat teruji.

Keturunan Abraham tidak hanya melalui hubungan darah, tetapi juga karena keikutsertaan dalam iman terhadap Allah. Perjanjian Allah dengan Abraham diberi atas dasar kasih Allah, dan ditandai dengan pengadaan sunat (kej. 17). Abraham  menerima perjanjian itu hanya karena ia percaya kepada Allah.

Tetapi Abraham mengalami kesulitan yang rupanya tidak dapat diatasi. Sara, istrinya mandul dan merekan belum memilki anak padahal usia mereka sudah tua. Dalam hal ini Abraham dicobai dan diuji imannya, dia harus bertahan dalam keadaan yang sulit walaupun hal itu mustahil untuk dipertahankan.

5.                  Cobaan Iman

Buku Mengenal Tulisan-tulisan Perjanjian Lama menampilkan keteguhan iman dan kepercayaan Abraham yang kuat kepada Allah sehingga dapat membawanya pada anugerah akan seorang anak yaitu Ishak, yang sebelumnya kita ketahui bahwa istrinya, Sara mandul. Di balik anugerah itu iman Abraham akan dicobai dimana Allah memerintahkannnya untuk mengorbankan anaknya. Ketaatan dan kepercayaannya masih bertahan dan  kokoh yang membuat Allah menghentikan cobaan itu. Dengan ketaatannya ia dikenal, sehingga secara otomatis kisah anaknya (Ishak) dikenal & diangkat menjadi pokok pembicaraan.

 

6.                  Ishak dan Yakub

Ishak dan Yakub juga dijelaskan dalam buku ini. Sara meninggal dan Gua Makhpela menjadi tempat penguburannya yang dibeli oleh Abraham. Dengan membeli tanah itu, hal itu menjadi suatu pertanda bagi Abraham dan keturunanya akan mempunyai tanah sendiri. Diceritakan juga tentang perkawinan Ishak dan Ribka, kematian dan penguburan Abraham, Yakub yang merebut hak kesulungan Esau (anak Ishak) dengan bantuan Ribka (Esau meminta roti dan masakan kacang merah). Intinya penulis menceritakan kelicikan dan kecerdikan Yakub. Penulis juga menceritakan kebaikan dan keburukan Yakub.

 

7.                  Yusuf dan Saudara-saudaranya

Dalam buku I.Suharyo,Pr yang berjudul Mengenal Tulisan-tulisan  Perjanjian Lama, Yakub disebut juga Israel sebab ia telah melihat Allah. Dalam buku ini dipaparkan  bahwa Yakub memiliki 12 anak yang juga disebut Bapa bangsa. Hal ini juga dapat dilihat dari kitab Kejadian yang dimulai dari pasal 37 menceritakan juga kisah Israel dan anak-anaknya yang akhirnya tinggal di Mesir. Adanya rasa iri hati pada Yusuf membuat saudara-saudarnya menjual Yusuf pada pedagang yang membawanya ke Mesir yang hingga akhirnya Yusuf diangkat menjadi penguasa di Mesir. Bencana kelaparan yang terjadi membuat saudara-saudara Yusuf pergi ke Mesir mencari makan. Di Mesir mereka bertemu Yusuf dan dari pertemuan itu Yakub bertemu dengan anaknya yang telah dianggapnya sudah lama mati. Pada bagian kesimpulannya, cerita ini ingin menyampaikan bahwa adanya tema kehilangan lalu bertemu, dan kejahatan yang dapat diampuni.

 

8.                  Janji dipenuhi

Buku ini juga memaparkan kitab kejadian yang berkaitan dengan anggota keluarga dan keturunan. Seperti cerita mengenai penggenapan janji Allah pada Abraham akan keturunan yang Allah berikan.

Perjanjian Allah setiap kalinya merupakan dasar pemenuhan janji Allah untuk selanjutnya. Dan tidak hanya berhenti pada cerita Ishak dan tujuh puluh keturunan Yakub yang pergi ke Mesir. Kitab kejadian juga dinyatakan tidak hanya membahas masa lalu raja melainkan juga kehidupan masa depan.

Adanya kisah Ishak sama dengan cerita mengenai Yesus, dimana sama-sama menceritakan penyerahan diri untuk  diserahkan dalam ketaatan pada Bapa.

 

B.                 KITAB KELUARAN

Dinasti Hyksos adalah dinasti yang memerintah Mesir dari tahun 1700 SM sampai 1500 SM. Pada masa itulah Israel diperbudak dan ditindas dengan melakukan kerja paksa. Tampillah sosok Musa disertai Harun saudaranya dalam memimpin Israel menuju pembebasan. Hal ini menjadi sebuah dasar keberadaan Israel sebagai sebuah bangsa dan dasar iman mereka

Tema Kitab keluaran adalah Allah sebagi pembebas Israel dari kehancuran sehingga Allah berhak atas bangsa itu. Allah lah yang memilih Israel karena cinta kasihNya. Seluruh sejarah Israel adalah sejarah campur tangan Allah dalam kehidupan bangsa di Kanaan.

Keluaran pasal 15:22 – Keluaran pasal 18 mengisahkan perjalanan mereka di gurun Sinai dan ketidakpercayaan mereka terhadap Allah, tetapi Allah memberikan kepada mereka kemenangan melalui Musa. Sesampainya Israel di gunung Sinai, Allah mengadakan perjanjian dengan Israel dan menjadikan bangsa itu miliknya, dan Israel mengakui bahwa mereka adalah milik Allah. Ternyata dengan sangat cepat mereka menjadi tidak setia dengan menyembah patung lembu emas. Melalui doa Musa, Allah mengurungkan murka-Nya dan menyatakan diri-Nya sebagai Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya. Perjanjian itupun diperbarui. Perjanjian Allah dengan bangsa Israel kini dirumuskan dalam bentuk hukum. Hukum yang berisikan kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama manusia.

Hukum ini terdiri dari:

Pengenalan akan Allah dan keharusan kesetiaan Israel kepada Allah

Selanjutnya adalah keharusan-keharusan pokok yang harus dipenuhi oleh Israel terhadap Allah. Ketujuh perintah terhadap sesama sejajar terhadap ketiga perintah terhadap Allah.

Sepuluh perintah Allah merupakan landasan dasar hukum-hukum lain dalam Perjanjian Lama. Keadaan baru menuntut adanya pengembangan dan penyesuaian terhadap hukum mula-mula. Seperti halnya dengan kisah penciptaan, Israel juga memakai bahan dari negara lain, dalam hal ini Israel menyesuaikan kode Hammurabi sebagai hukumnya.

Hukum-hukum selanjutnya juga adalah pembaruan dari hukum Musa. Hukum yang paling utama adalah Ulangan 6 ayat 5 dan Imamat 19:18. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, ayng sama dengan tiu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi.

 

C.                KITAB IMAMAT

Buku ini menjelaskan tema utama kitab Imamat yaitu Ibadah. Ibadah umat ini harus dilaksanakan secara benar, artinya sesuai dengan kehendak Allah. Diberikan peraturan-peraturan rinci mengenai binatang korban dan persembahan yang lain ; mengenai pengudusan para imam ; mengenai kebersihan ritual dan mengenai perayaan tahunan Hari Pendamaian.

            Di bagian akhir kitab Imamat juga tersirat pengalaman akan Allah yang kudus ; artinya bahwa Allah adalah sama sekali lain dari manusia. Umat yang dipilih oleh Allah bagi diri-Nya sendiri adalah juga suci. Mereka disendirikan dari bangsa-bangsa lain dan menjadi milik Allah. Ini berarti, cara hidup umat harus mencerminkan kesucian Allah : “Tuhan berfirman kepada Musa, ‘Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakana kepada mereka : kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus’ “ (Imamat 19 : 1-2). Kitab ini membuat sesuatu yang disebut hukum (atau kode) kesucian. Dalam bagian ini terdapat keterangan rinci mengenai arti menjadi milik Allah, baik dalam kebersihan ritual dan tingkah laku moral.

 

D.                KITAB BILANGAN

Menurut buku ini, kitab Bilangan umumnya menceritakan kisah tinggalnya umat Allah di padang gurun selama empat puluh (40) tahun, sejak keluar dari Mesir sampai mereka masuk ke tanah terjanji. Masa empat puluh tahun itu adalah masa “Pengembaraan”, meskipun sebenarnya sebagian besar waktu itu dilewatkan di sekitar oasis Kadesh, yang terletak di bagian timur laut semenanjung Sinai.

            Kehidupan selama empat puluh tahun itu digambarkan sebagai masa yang berat, masa ketika umat merasa tidak puas dan kurang percaya kepada Allah. Selama masa itu ternyata Allah tetap dekat dengan umat-Nya. Dalam sejarah selanjutnya masa ini akan dikenang sebagai masa “Cinta Pertama” (bdk. Hosea 2 : 15 st).

            Dalam pengembaraan mereka, orang-orang Israel membawa semacam kotak dari kayu yang berisi loh batu yang bertuliskan kesepuluh perintah. Di situ mereka beribadah kepada Allah, yang hadir di antara mereka dan memancarkan cahaya kemuliaan-Nya.

            Allah memperhatikan umat-Nya. Kalau mereka mencabut kemah, Allah berjalan mendahului mereka, menunjukkan jalan dengan awan di siang hari dan api pada malam hari. Ia terus-menerus menjaga mereka dengan member mereka makan dan air. Kalau mereka harus berperang melawan musuh, Allah menyertai mereka dalam peperangan itu  tentu kalau mereka setia dan percaya kepada Allah.

E.        KITAB ULANGAN

Buku ini menjelaskan tujuan Kitab Ulangan atau Deuteronomium dalam mengembangkan hukum perjanjian Israel dengan Allah, termasuk rumusan kedua sepuluh perintah Allah.

Buku ini membagi Kitab Ulangan dalam:

-Ulangan 1-11   :  Perjanjian yang diikat Allah dengan Israel

-Ulangan 12-26 :  Usaha menangkal pengaruh buruk penyembahan berhala

-Ulangan 27-33 :  Kata-kata Musa terakhir dan kematiannya.

 

Tema Kitab Ulangan adalah kasih Allah yang menjadikan Israel menjadi milik kepunyaan-Nya. Tema lain adalah bentuk kesetiaan Israel akan perjanjian itu. Pemahaman inilah yang kemudian menjadi bahan tafsiran bangsa Israel dalam memahami sejarah mereka selanjutnya.

Kita sebagai orang kristiani melalui Kristus telah ikut serta dalam pembebasan dan perjanjian dengan Allah, Allah dengan kasih-Nya membuat kita sebagai umat-Nya yaitu gereja. Allah telah membebaskan kita dari kekuasaan setan, dari dosa dan kematian dengan wafat dan kebangkitan Kristus. Kita diikutsertakan dengan penyelamatan ini melalui sakramen baptis. Allah mengikat perjanjian baru melalui darah Kristus. Pembaharuan perjanjian ini kita rayakan dalam perayaan ekaristi melalui darah dan daging Krsitus. Pada perjamuan malam Yesus mengadakan perintah baru yaitu agar saling mengasihi.

 

Katolik mencoba melakukan perbandingan dan keselarasan antara kehidupan kita di dunia ini dengan kehidupan Israel di masa lalu.

1.                  Perjalanan Hidup

Sama seperti bangsa Israel yang ingin keluar dari Mesir, Mesir dianggap sebagai perbudakan dosa, menuju tanah terjanji Kanaan yaitu Surga. Perjalanan ini tidaklah mudah, namun kita dibina oleh Allah untuk menerima anugerah perjanjian.

2.                  Pengalaman Hidup

Dalam pengembaraannya di padang gurun Sinai, bangsa Israel kerap mendapat kesulitan, dan mereka mengeluh bahkan memberontak. Sama seperti pengalaman kehidupan kita yang tidak pernah lepas dari kesulitan sehingga kita sering mengeluh sama seperti bangsa Israel. Dengan itulah Allah memberikan hukuman bagi kita, namun hukuman itu berusaha itu berusaha membawa kita menuju kembali kepada-Nya.

3.                  Kedekatan dengan Allah

Allah dekat dengan kita, sebagaimana ia dekat dengan bangsa Israel. Allah menghadirkan kepada kita kemenangan dalam pergumulan hidup.

 

Adapun menurut I.Suharyo,Pr dalam bukunya yang berjudul Mengenal Tulisan-tulisan Perjanjian Lama, Hubungan antara Musa dan Yesus dijelaskan sebagai berikut:

 

Musa

Yesus

Tempat berdiam

Kemah

Surga

Kedudukan

Imam besar dunia

Imam besar sejati dan abadi

Bentuk persembahan

Darah hewan korban dan persembahan dilakukan berulang kali.

Darah Yesus sendiri dan persembahan tersebut hanyalah sekali dalam menghapus dosa dunia dalam tujuan menguduskan kehidupan kudus.

 

Tanggapan terhadap buku Mengenal Tulisan-tulisan Perjanjian Lama oleh I.Suharyo, Pr

Melalui buku ini kami menyimpulkan bahwa pada dasarnya ahli-ahli Katolik mempercayai bahwa Kitab Pentateukh menunjukkan adanya hubungan dengan tradisi dan perlambangan yang dimiliki oleh negara-negara tetangga Israel di daerah Timur Tengah Kuno, seperti Babylonian, Assyrian dan Kekaisaran Hittie. Namun yang membedakannya, adalah  bangsa Israel membentuk pemahaman teologis dalam menjelaskan hubungannya dengan Allah (YHWH).         

Kami memandang bahwa buku Mengenal Tulisan-tulisan Perjanjian Lama oleh I.Suharyo,Pr lebih berfokus pada penjelasan dengan aspek teologia dan belum bisa menjelaskan secara terperinci pembagian-pembagian bahasan setiap kitab dalam Pentateukh, sehingga disarankan bahwa buku ini dapat digunakan hanya sebagai pelengkap buku pembimbing perjanjian lama. Buku ini mempercayai bahwa tema sentral dari Kitab Pentateukh adalah kisah kasih Allah dalam merancang sebuah jalan kehidupan bagi bangsa Israel untuk memilih dan menjadikannya sebagai umat pilihan-Nya. Berlandaskan pada pemahaman itu, ahli-ahli Katolik lebih menekankan aplikasi dan tindakan praksis dari manusia dalam menyambut anugerah yang diberikan oleh Allah kepada kita manusia. Kita diikutsertakan dalam peristiwa penyelamatan melalui sakramen baptis, perjanjian melalui darah Kristus, dan pembaharuan perjanjian melalui perayaan ekaristi.

 

           

 

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...