Selasa, 25 Juli 2023

Peter L. Berger Agama Dan Pembangunan Dunia

I.              PENDAHULUAN

Setiap masyarakat manusia adalah suatu usaha pembangunan dunia. Agama menempati suatu tempat tersendiri dalam usaha ini. Pernyataannya adalah bagaimana nantinya manusia dapat membangun dunia diantara agama manusia. Untuk menyatakan pernyataan tersebut yang terpenting adalah memahi masyarakat dalam kerangka-kerangka dialektik. Masyarakat adalah suatu fenomena dialektik dalam artian adalah suatu produk manusia. Mayarakat tidak mempunyai bentuk lain kcuali bentuk yang sudah diberikan kepadanya oleh aktivitas dan kesadaran manusia. Realitas sosial tak terpisah oleh manusia, sehingga dapat dipastikan bahwa manusia suatu produk dari masyarakat.[1]

Berger Ludwig Berger adalah seorang sosiolog dan teolog Amerika. Dia dilahirkan di Vienna, Austria, yang kemudian dibesarkan di Wina dan kemudia bermigrasi ke Amerika Serikat. Dia dikenal dengan pandangannya yang mengatakan bahwa realitas sosial adalah suatu bentuk dari kesadaran. Karya-karya Berger memusatkan perhatian kepada masyrakat dengan individu.[2]

II.           ISI

Relevansi Teori Konstruksi Berger dengan Perubahan Sosial mengambil tiga pokok dialektika sebagai struktur sosial yang objektif yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

-          Eksternaliasi (Luar), adalah sebuah upaya untuk mengeksiskan diri terhadap dunia luar, salah satunya didasari pada sebuah kebutuhan. Atau proses manusia menciptakan sesuatu.

-          Objektivasi, usaha untuk mewadahkan objeknya, agar tidak sia-sia dan musnah. Obyektivitas kebudayaan sebagai faktisitas yang dimiliki bersama itu bahkan jauh lebih penting untuk dipahami berkaitan dengan menunjuk pada kontruksi-kontruksi nonmaterialnya.

-          Internalisasi (Dalam), penyerapan nilai atau norma dalam diri manusia.

Keberhasilan sosialisasi tergantung pada adanya simetri antara dunia obyektif masyarakat dengan dunia subyektif individu. jika kita membayangkan seorang individu yang tersosialisasi total, maka setiap makna yang secara obyektif terdapat dalam dunia sosial akan mempunyai makna analognya secara subyektif di dalam kesadaran individu itu sendiri.

a.             Lampiran I _ Definisi-definisi Sosiologi Agama

Suatu definisi, karena sifatnya, tidak dapat dikatakan sebagai definisi benar atau salah, melainkan hanya bisa dikatakan sebagai definisi yang bermanfaat atau yang tidak bermanfaat. Dapat kita lihat dalam pandangan dari beberapa ahli yaitu salah satunya Max Weber yang pada permulaan bahasannya mengenai sosiologi agama, mengambil sikap bahwa suatu definisi agama, jikapun tidak mungkin dilakukan, hanya bisa diperoleh pada akhir, bukan pada permulaan, suatu tugas yang telah ditetapkannya bagi dirinya sendiri. Secara de facto weber mengikuti definisi dari lingkup agama yang berlaku dalam Religionswissenschaft waktu itu.

Emile Durkheim, mulai dengan suatu deskripsi substanstif atas fenomena-fenomena relijius, terutama dalam konteks dikotomi keramat/profan, tetapi berakhir dengan suatu definisi dalam konteks fungsionalitas agama yang sosial umum. Berbeda dengan Weber, dia menolak kecenderungan keilmuan Religionswissenschaft pada masa itu, yang mencoba mendefinisi agama secara substantif dengan satu atau lain cara. Pendekatan Durkheim terhadap agama secara radikal lebih sosiologis daripada Weber, yaitu agama dipahami sebagai suatu fakta sosial.

Usaha yang paling menyakinkan dan paling jauh jangkauannya guna mendefinisi agama dalam konteks fungsionalitas sosialnya adalah karya Thomas Luckmann. Fungsionalitas itu didasarkan pada asumsi-asumsi antropologis fundamental tertentu yang sudah ada. Karena itu, agama buakn saja adalah fenomena sosial tetapi bahkan adalah fenomena antropologis. Teristimewa, agama itu disamakan dengan transedensi, diri simbolik. Maka segala sesuatu yangbenar-benar manusiawi itu dengan begitu adalah religius dan fenomena-fenomena yang nonreligius dalam lingkungan manusia didasarkan dalam hakikat kebinatangan manusia, lebih tepatnya bagian dari kontruksi biologisnya yang dimilikinya bersama dengan binatang-binatang lain.

b.             Lampiran II_Perspektif-perspektif Sosiologis dan Teologis

Di dalam argumen buku ini menganggap penting bahwa sesuatu pernyataan yang ada didalamnya merupakan kerangka status purna definisi-definisi religius atau realitas. Perspektif esensial teori sosiologis yang diajukan ini adalah bahwa agama harus dimengerti sebagai suatu proyeksi manusiawi, yang didasarkan dalam infrastruktur spesifik diri sejarah manusia.

Perbedaan antara agama dengan keimanan kristiani merupakan bahan penting dalam argumen The Precarious Vision yang melakukan pendekatan neoortodoks paling tidak pada titik itu (yang kebetulan diserap olh beberapa kritikus).

Secara spesifik teori liberal bermaksud menanggapi dengan serius historitas agama, tanpa akal-akalan teoretis seperti membedakan antara Historie dan Geschichte, sehingga menanggapi dengan serius ciri agama sebagai produk manusia.[3]

III.         KESIMPULAN DAN REFLEKSI

a.             Kesimpulan

Dari data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi, adalah sebuah proses yang terjadi dalam masyarakat, dimana masyarakat berjalan dari proses tersebut dalam suatu keteraturan. Baik Realitas objektif atau subyektif, adalah kenyataan yang terjadi pada masyarakat itu sendiri. Tiga proses atau karakteristik realitas sosial yang telah disinggung diatas, adalah wujud nyata dari perubahan sosial itu sendiri, yang melahirkan adanya struktur sosial. Struktur sosial itu sendiri merupakan bagian dari perubahan, dimana terjadi karena adanya penemuan baru, konsep atau pengetahuan yang baru.

b.             Refleksi

Dari teori Berger terhadap sosialisasi kita dapat melihat bagaimana prosesnya terjadi didalam masyarakat. Contohnya saja dimulai dengan hal makan dan menjalankan kehidupan sehari-hari. Semua itu diawali ketika masa kanak-kanak atau dapat dikatakan belajar terhadap akan hal itu diawali sejak kecil hingga desawa ini sebagai penerapannya.

 

 

 

                                                    



[1] Peter L. Berger, Langit Suci: Agama Sebagai Realitas Sosial (Jakarta:LP3ES, 1993).

[3] [3] Peter L. Berger, Langit Suci: Agama Sebagai Realitas Sosial (Jakarta:LP3ES, 1993).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...