Selasa, 25 Juli 2023

MAX WEBER DAN MASALAH RASIONALITAS

I.              Pendahuluan/Latar Belakang

Weber memberikan perhatiannya terhadap masalah-masalah motivasi individu dan arti subyektif merupakan suatu yang penting. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk menganalisa hubungan yang penting antara pola-pola motivasi subyektif dan pola-pola institusional yang besar dalam masyarakat. Dalam menentukan darimana mulainya aspek apa yang akan ditentukan dalam memahami dinamika-dinamika institusi sosial, Weber memilih konsep rasionalitas sebagai titik pusat perhatiannya yang utama. Konsep ini sama pentingnya dengan konsep solidaritas untuk Durkheim, dan konflik kelas terhadap Marx. Weber melihat perkembangan masyarakat Barat yang Modern sebagai suatu hal yang menyangkut peningkatan yang mantap dalam bentuk rasionalitas. Weber memilih konsep rasionalitas ini karena dia menganggap kriteria rasionalisme itu merupakan suatu dasar yang logis dan objektif untuk mendirikan suatu ilmu pengetahuan mengenai tindakan sosial serta institusi sosial. Namun banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul sehubungan dengan rasionalitas menjadi lebih kompleks apabila melihat perannya dalam institusi-institusi sosial.

Salah satu sumbangan Weber yang paling masyur terhadap sosiologi adalah analisa lasiknya mengenai birokrasi modern sebagai satu bentuk organisasi sosial yang paling rasional. Sebelum mendeskripsikan sumbangan Weber terhadap sosiologi, dibawah ini akan dipaparkan sepintas kehidupan Weber dan konteks intelektual dan sosial dimasa hidupnya.

 

II.           ISI

a.             Riwayat hidup Weber

Max Weber lahir di Erfurt, Thuringia tahun 1864, dia dibesarkan di Berlin dimana keluarganya pindah ketika dia berusia lima tahun. Keluarganya adalah orang Protestas kelas menengah atas, sangat termakan oleh kebudayaan Bourjuis. Ayah Weber adalah seorang politisi yang senang dengan kompromi politik dan kesenangan bourjois. Berbeda dengan ibunya adalah seorang wanita yang saleh dan bertanggung jawab. Ketika Weber kecil, dia seorang yang pemalu tapi memiliki pola pikir yang jenius. Sehingga ketika ia menginjak usia 18 tahun, ia mulai mempelajari ilmu hukum di Universitas Heidelberg, hal ini menunjukkan weber memiliki identifikasi yang kuat terhadap ayahnya. Namun studinya di Heidberg terganggu akibat dari tugas militer di Strasbourg selama setahun, dimana ia menjalin hubungan erat dengan pamannya bernama Herman Baumgarten dan tantenya dari pihak ibu bernama Ida. Keluarga Baumgarten kelihatannya memiliki hubungan kekeluargaan yang lebih rukun dibandingkan dengan keluarga Weber. Perhatian Weber dalam bidang teori mengenai pengaruh ide-ide dan kepentingan dalam mengendalikan perilaku manusia tergambar dalam kluarganya. Ayahnya memberikan prioritas pada kepentingan politik dan ekonomi, sedangkan ibunya kepada ideal-ideal etika Protestantisme, yang pada akhirnya Weber lebih mengarahkan perilakunya sesuai dengan ibunya. Pada tahun 1889 dia menyelsaikan tesis doktoralnya dan setelah itu dia mulai mengajar di Universitas Berlin, dan sementara bekerja sebagai pengacara.  

b.             Pandangan Intelektual Weber terhadap Rasionalitas dan Tindakan Sosial

Weber mendefenisikan rasionalitas, ia membedakan dua jenis rasionalitas-rasionalitas sarana-tujuan dan rasionalitas nilai. Namun konsep-konsep tersebut merejuk pada tipe tindakan. Itu semua adalah dasar, namun tidak sama dengan pemahaman tentang rasionalisasi skala luas yang dikemukakan Weber. Weber tidak terlalu tertarik pada orientsi tindakan  yang terfragmentasi. Perhatian pokoknya adalah keteraturan dan pola-pola tindakan dalam peradaban, instistusi, organisasi, strata, kelas dan kelompok.

Menurut Weber tindakan sosial adalah tindakan manusia yang dapat mempengaruhi individu-individu lainnya dalam masyarakat serta mempunyai maksud tertentu, suatu tindakan sosial adalah tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain dan berorientasi pada perilaku orang lain. Max Weber membedakan tindakan sosial itu kedalam 4 kategori, yaitu:

-          Rasionalitas Instrumental merupakan tindakan yang dilaksanakan setelah melalui tindakan matang mengenai tujuan dan cara yang akan ditempuh untuk meraih tujuan itu.

-          Rasionalitas yang Berorientasi Nilai merupakan tindakan-tindakan sosial yang ditentukan oleh pertimbangan atas dasar keyakinan individu pada nilai-nilai estetis, etis dan keagamaan, manakala cara-cara yang dipilih untuk keperluan efisiensi mereka karena tujuannya pasti yaitu keunggulan.

-          Tindakan Tradisional merupakan tindakan yang dilakukan dibawah pengaruh adat dan kebiasaan. Tindakan ini mengandung nilai subyektif dan tidak dapat dipahami.

-          Tindakan Afektif merupakan tindakan yang terjadi dibawah pengaruh keadaan emosional seseorang.

 

c.              Pandangan Weber terhadap Hubungan antara Etika Protestan dan Perkembangan Kapitalisme.

Sebelumnya ada perbedaan pandangan agama antara tokoh Weber dan Marx. Weber memandang bahwa agama merupakan sebagai kelas. Weber menunjukkan bahwa tipe-tipe Protestanisme tertentu mendukung pengejaran rasional akan keuntungan ekonomi dan aktivitas duniawi yang telah diberikan arti rohani dan moral yang positif. Perbedaan pandangan menurut Marx yang cukup terkenal mengenai perihal agama ialah agama merupakan candu dari masyarakat. Marx melihat masyarakat menjadikan agama sebagai praktik pembenaran sepihak tanpa implementasi lebih lanjut dalam praktik kehidupan.[1] 

Max Weber dengan baik mengaitkan antara Etika Protestan dan Semangat Kapitalis. Tesisnya tentang etika protestan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kapitalis. Ini sangat kontral dengan anggapan bahwa agama tidak dapat menggerakkan semangat kapitalisme. Studi Weber tentang bagaimana kaitan antara doktrin-doktrin agama yang bersifat puritan dengan fakta-fakta sosial terutama dalam perkembangan industri modern melahirkan corak dan ragam nilai, dimana nilai itu menjadi tolak ukur bagi perilaku individu. Upaya untuk merebut kehidupan yang indah di dunia dengan mengumpulkan harta benda yang banyak (kekayaan) material, tidak hanya menjamin kebahagian dunia, tetapi juga sebagai media dalam mengatasi kecemasan.

Etika Protestan dimaknai Weber dengan kerja yang luwes, bersemangat, sungguh-sungguh, dan rela melepas imbalan materialnya. Dalam perkembangannya etika Protestan menjadi faktor utama bagi munculnya kapitalisme di Eropa dan ajaran Calvinisme ini menebar ke Amerika Serikat dan berpengaruh sangat kuat disana.[2]

 

III.        KESIMPULAN

Dari keterangan data diatas dapat disimpulkan bahwa pandangan-pandangan Weber tersebut lebih dominan terhadap masalah Rasionalisme

 



[1] Doyle Paul johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Jilid I, diindonesiakan oleh Robert M.Z Lawang, Jakarta, Gramedia, 1988

[2] Hotman Siahaan, Pengantar Kearah Sejarah dan teori Sosiologi, Jakarta, Erlangga, 1986.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...