I. Pendahuluan/Latar Belakang
Weber memberikan
perhatiannya terhadap masalah-masalah motivasi individu dan arti subyektif
merupakan suatu yang penting. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk
menganalisa hubungan yang penting antara pola-pola motivasi subyektif dan
pola-pola institusional yang besar dalam masyarakat. Dalam menentukan darimana
mulainya aspek apa yang akan ditentukan dalam memahami dinamika-dinamika
institusi sosial, Weber memilih konsep rasionalitas
sebagai titik pusat perhatiannya yang utama. Konsep ini sama pentingnya dengan
konsep solidaritas untuk Durkheim, dan konflik kelas terhadap Marx. Weber melihat
perkembangan masyarakat Barat yang Modern sebagai suatu hal yang menyangkut
peningkatan yang mantap dalam bentuk rasionalitas. Weber memilih konsep
rasionalitas ini karena dia menganggap kriteria rasionalisme itu merupakan
suatu dasar yang logis dan objektif untuk mendirikan suatu ilmu pengetahuan
mengenai tindakan sosial serta institusi sosial. Namun banyak
pertanyaan-pertanyaan yang muncul sehubungan dengan rasionalitas menjadi lebih
kompleks apabila melihat perannya dalam institusi-institusi sosial.
Salah satu sumbangan
Weber yang paling masyur terhadap sosiologi adalah analisa lasiknya mengenai
birokrasi modern sebagai satu bentuk organisasi sosial yang paling rasional.
Sebelum mendeskripsikan sumbangan Weber terhadap sosiologi, dibawah ini akan dipaparkan
sepintas kehidupan Weber dan konteks intelektual dan sosial dimasa hidupnya.
II.
ISI
a.
Riwayat hidup Weber
Max Weber lahir di
Erfurt, Thuringia tahun 1864, dia dibesarkan di Berlin dimana keluarganya
pindah ketika dia berusia lima tahun. Keluarganya adalah orang Protestas kelas
menengah atas, sangat termakan oleh kebudayaan Bourjuis. Ayah Weber adalah
seorang politisi yang senang dengan kompromi politik dan kesenangan bourjois.
Berbeda dengan ibunya adalah seorang wanita yang saleh dan bertanggung jawab.
Ketika Weber kecil, dia seorang yang pemalu tapi memiliki pola pikir yang
jenius. Sehingga ketika ia menginjak usia 18 tahun, ia mulai mempelajari ilmu
hukum di Universitas Heidelberg, hal ini menunjukkan weber memiliki
identifikasi yang kuat terhadap ayahnya. Namun studinya di Heidberg terganggu
akibat dari tugas militer di Strasbourg selama setahun, dimana ia menjalin
hubungan erat dengan pamannya bernama Herman Baumgarten dan tantenya dari pihak
ibu bernama Ida. Keluarga Baumgarten kelihatannya memiliki hubungan
kekeluargaan yang lebih rukun dibandingkan dengan keluarga Weber. Perhatian
Weber dalam bidang teori mengenai pengaruh ide-ide dan kepentingan dalam
mengendalikan perilaku manusia tergambar dalam kluarganya. Ayahnya memberikan
prioritas pada kepentingan politik dan ekonomi, sedangkan ibunya kepada
ideal-ideal etika Protestantisme, yang pada akhirnya Weber lebih mengarahkan
perilakunya sesuai dengan ibunya. Pada tahun 1889 dia menyelsaikan tesis
doktoralnya dan setelah itu dia mulai mengajar di Universitas Berlin, dan
sementara bekerja sebagai pengacara.
b.
Pandangan Intelektual
Weber terhadap Rasionalitas dan Tindakan Sosial
Weber mendefenisikan
rasionalitas, ia membedakan dua jenis rasionalitas-rasionalitas sarana-tujuan
dan rasionalitas nilai. Namun konsep-konsep tersebut merejuk pada tipe
tindakan. Itu semua adalah dasar, namun tidak sama dengan pemahaman tentang
rasionalisasi skala luas yang dikemukakan Weber. Weber tidak terlalu tertarik
pada orientsi tindakan yang
terfragmentasi. Perhatian pokoknya adalah keteraturan dan pola-pola tindakan
dalam peradaban, instistusi, organisasi, strata, kelas dan kelompok.
Menurut Weber tindakan
sosial adalah tindakan manusia yang dapat mempengaruhi individu-individu
lainnya dalam masyarakat serta mempunyai maksud tertentu, suatu tindakan sosial
adalah tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain dan
berorientasi pada perilaku orang lain. Max Weber membedakan tindakan sosial itu
kedalam 4 kategori, yaitu:
-
Rasionalitas
Instrumental merupakan tindakan yang dilaksanakan setelah melalui tindakan
matang mengenai tujuan dan cara yang akan ditempuh untuk meraih tujuan itu.
-
Rasionalitas yang
Berorientasi Nilai merupakan tindakan-tindakan sosial yang ditentukan oleh
pertimbangan atas dasar keyakinan individu pada nilai-nilai estetis, etis dan
keagamaan, manakala cara-cara yang dipilih untuk keperluan efisiensi mereka
karena tujuannya pasti yaitu keunggulan.
-
Tindakan Tradisional
merupakan tindakan yang dilakukan dibawah pengaruh adat dan kebiasaan. Tindakan
ini mengandung nilai subyektif dan tidak dapat dipahami.
-
Tindakan Afektif
merupakan tindakan yang terjadi dibawah pengaruh keadaan emosional seseorang.
c.
Pandangan Weber
terhadap Hubungan antara Etika Protestan dan Perkembangan Kapitalisme.
Sebelumnya ada
perbedaan pandangan agama antara tokoh Weber dan Marx. Weber memandang bahwa
agama merupakan sebagai kelas. Weber menunjukkan bahwa tipe-tipe Protestanisme
tertentu mendukung pengejaran rasional akan keuntungan ekonomi dan aktivitas
duniawi yang telah diberikan arti rohani dan moral yang positif. Perbedaan
pandangan menurut Marx yang cukup terkenal mengenai perihal agama ialah agama
merupakan candu dari masyarakat. Marx melihat masyarakat menjadikan agama
sebagai praktik pembenaran sepihak tanpa implementasi lebih lanjut dalam praktik
kehidupan.[1]
Max Weber dengan baik
mengaitkan antara Etika Protestan dan Semangat Kapitalis. Tesisnya tentang
etika protestan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kapitalis. Ini sangat kontral
dengan anggapan bahwa agama tidak dapat menggerakkan semangat kapitalisme.
Studi Weber tentang bagaimana kaitan antara doktrin-doktrin agama yang bersifat
puritan dengan fakta-fakta sosial terutama dalam perkembangan industri modern
melahirkan corak dan ragam nilai, dimana nilai itu menjadi tolak ukur bagi
perilaku individu. Upaya untuk merebut kehidupan yang indah di dunia dengan
mengumpulkan harta benda yang banyak (kekayaan) material, tidak hanya menjamin
kebahagian dunia, tetapi juga sebagai media dalam mengatasi kecemasan.
Etika Protestan
dimaknai Weber dengan kerja yang luwes, bersemangat, sungguh-sungguh, dan rela
melepas imbalan materialnya. Dalam perkembangannya etika Protestan menjadi
faktor utama bagi munculnya kapitalisme di Eropa dan ajaran Calvinisme ini
menebar ke Amerika Serikat dan berpengaruh sangat kuat disana.[2]
III.
KESIMPULAN
Dari keterangan data diatas dapat
disimpulkan bahwa pandangan-pandangan Weber tersebut lebih dominan terhadap
masalah Rasionalisme
Tidak ada komentar:
Posting Komentar