Selasa, 25 Juli 2023

Max Weber Dan Masalah Rasionalitas


I.                   PENDAHULUAN

Masalah-masalah motivasi individu dan arti subjectif menjadi penting bagi Weber, salah satu tujuan utama Weber adalah untuk menganalisa hubungan yang penting antara pola-pola motivasi subjectif dan pola-pola institusional yang besar dalam masyarakat. Weber memilih konsep rasionalitas sebagai titik pusat perhatiannya yang utama. Weber melihat perkembangan masyarakat barat yang modern sebagai suatu hal yang menyangkut peningkatan yang mantap dalam bentuk rasionalitas. Peningkatan dalam tindakan ekonomi individu setiap hari dan dalam bentuk-bentuk organisasi sosial, juga terungkapnya dalam evolusi musik barat, bahwa musik barat tunduk pada kecenderungan rasionalisasi yang merembes. Kriteria rasionalitas merupakan suatu kerangka acuan, maka masalah keunikan orientasi subjektif individu serta motivasinya sebagiannya dapat diatasi. Rasionalitas di tingkat individu dan di tingkat organisasi mungkin mencerminkan kriteria yang berbeda di mana keduannya tidak saling mengimplisit.

II.                ISI

        [1] Weber yang kehidupannya penuh dengan kesulitan tetapi meskipun Weber seorang pemalu dan sering sakit tetapi dia sangat jenius. Pada masa kecilnya dia sudah belajar tentang hukum, perhatian Weber kemudian dalam bidang teori mengenai pengaruh ide-ide dan kepentingan dalam mengendalikan perilaku manusia tergambar dalam keluargannya. Weber meneruskan studi akademisnnya kemudian terjadi gangguan dalam karir akademisnya, iklim sosial dan politik.gangguan akademisnya terganggu karena keluargannya berantakan dan kemudian ayahnya meninggal dunia. Iklim sosial dan politik yang membuat Weber tegang dan penuh dengan kontradiksi, seperti halnya dengan kehidupan keluarganya dan revolusi industri.

 

II.1   Tindakan Individu dan Arti Subjectif

            [2]Weber melihat bahwa kenyataan sosial secara mendasar terdiri dari individu-individu dan tindakan-tindakan sosialnya yang berarti. Weber mendefinisikan sosiologi sebagai suatu pengetahuan yang berusaha memperoleh pemahaman intepretatif mengenai tidakan sosial agar dengan demikian bisa sampai ke suatu penjelasan kausal mengenai arah dan akibat-akibatnya. Gambaran Weber tentang kenyataan sosial versus Durkheim yang berhubungan dengan suatu perbedaan dasar antara dua gambaran mengenai kenyataan sosial yang berlawanan. Tujuan Weber adalah untuk masuk ke arti-arti subjektif yang berhubungan berbagai kategori interaksi manusia untuk menggunakannya dalam membedakan antara tipe-tipe struktur sosial dan untuk memahami arah perubahan sosial yang besar dalam masyarakat barat. Weber juga menjelaskan tindakan sosial melalui pemahaman subjektif sebagai metode untuk memperoleh pemahaman yang valid mengenai arti-arti subjektif tindakan sosial.

II.2   Tipe-tipe Tindakan Sosial

            [3]Bagi Weber konsep rasionalitas merupakan kunci bagi suatu analisa objektif mengenai arti-arti subjektif dan juga merupakan dasar perbandingan mengenai jenis-jenis tindakan sosial yang berbeda. Cara lain untuk melihat perbedaan objektif dan subjektif adalah dalam hubungannya dengan hal dimana pengalaman subjektif pribadi seseorang dimiliki bersama oleh suatu kelompok sosial. Rasionalitas merupakan konsep dasar yang digunakan Weber dalam klasifikasinya mengenai tipe-tipe tindakan sosial, ada dua kategori tindakan rasional dan non rasional dan dua bagian yang berbeda satu sama lain. 1. Rasionalitas Instrumental ( Zweckrationalitat ), tingkat yang paling tinggi meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan dan alat yang dipergunakan untuk mencapainya.  2. Rasionalitas yang Berorientasi Nilai ( Wertrationalitat ), bahwa alat-alat hanya merupakan objek pertimbangan dan perhitungan yang sadar tujuannya sudah ada dalam hubunganya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut atau merupakan nilai akhir baginnya. 3. Tindakan Tradisional, merupakan tipe tindakan sosial yang bersifat nonrasional. 4. Tindakan Afektif, tipe tindakan yang ditandai oleh dominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar.

II.3  Tindakan Sosial dan Struktur Sosial

            [4]Struktur sosial dalam perspektif Weber didefinisikan dalam istilah-istilah yang bersifat probabilistik dan bukan sebagai suatu kenyataan empirik yang ada terlepas dari individu-individu. Dalam realitas akhir yang menjadi dasar satuan-satuan sosial yang lebih besar ini adalah tindakan sosial individu dengan arti-arti subjektifnya, tindakan sosial ada yang bersifat baik maupun suatu alat untuk mempermudah satu jenis tindakan yaitu: 1. Stratifikasi: Ekonomi, Budaya, dan Politik. 2. Tipe Otoritas dan Bentuk Organisasi Sosial. 3. Otoritas Tradisional. 4. Otoritas Karismatik. 4. Otoritas Legal-Rasional. Bentuk oraganisasi biokratis, sebagian analisa Weber mengenai birokrasi mencakup karekteristik-karakteristik yang istimewa yang dilihatnya sebagai tipe ideal.

II.4  Orientasi Agama, Pola Motivasi, dan Rasionalisasi

            Analisa Weber mengenai hubungan antara etika protestantisme dan pertumbuhan sistem ekonomi kapitalis barangkali merupakan sumbangannya yang paling terkenal, etika protestan mencerminkan dan memperbesar kecenderungan bertambahnya rasionalitas, dan yang lebih penting lagi memperlihatkan peran yang penting di mana ide-ide agama berperan dalam meningkatkan perubahan sosial. Weber dan Marx dalam pandangannya mengenai pengaruh ide agama, kepercayaan protestan dan perkembangan kapitalisme, etika protestantisme sebagai protes terhadap katolisnme, etika protestan dan proses sekularisasi, protestantisme dibandingkan dengan agama-agama dunia lainnya, dan etika kerja masyarakat modern.   

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Weber yang memusatkan perhatiannya pada tingkat arti subjektif , pada tingkat individual mengiatkan kita bahwa struktur sosial atau sistem budaya tidak dapat dipikirkan sebagi sesuatu yang berada secara terlepas dari individu yang terlibat di dalamnya. Dalam kehidupan sosial tantangan selalu ada, agama juga harus kita mengerti pentingnya kepercayaan serta nilai dalam membentuk pola motivasion individu agar lebih berkembang.

                   III.2 Refleksi       

            Dalam zaman modern ini sekarang orang ada yang masih tidak memiliki agama atau memiliki kepercayaan kepada Tuhannya. Banyak orang juga memiliki pikiran yang kurang sehat sehingga banyak orang yang tidak berkembang dalam kehidupannya. Sementara dalam rasionalitas ini kita diajarkan untuk mempunya pikiran yang sehat dan baik agar kita dapat mengembangkan kehidupan kita.



[1]  Robert M.Z. Lawang, Teori sosiologi : Klasik dan Modern Jilid I , Gramedia, Jakarta 1988,hal. 209-214

                                            

[2] Robert M.Z. Lawang, Teori sosiologi : Klasik dan Modern Jilid I , Gramedia, Jakarta 1988,hal. 214-218

[3] Robert M.Z. Lawang, Teori sosiologi : Klasik dan Modern Jilid I , Gramedia, Jakarta 1988,hal. 219-222           

[4] Robert M.Z. Lawang, Teori sosiologi : Klasik dan Modern Jilid I , Gramedia, Jakarta 1988,hal. 223-247

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...