I.
PENDAHULUAN
Masalah-masalah motivasi individu dan arti
subjectif menjadi penting bagi Weber, salah satu tujuan utama Weber adalah
untuk menganalisa hubungan yang penting antara pola-pola motivasi subjectif dan
pola-pola institusional yang besar dalam masyarakat. Weber memilih konsep
rasionalitas sebagai titik pusat perhatiannya yang utama. Weber melihat
perkembangan masyarakat barat yang modern sebagai suatu hal yang menyangkut
peningkatan yang mantap dalam bentuk rasionalitas. Peningkatan dalam tindakan
ekonomi individu setiap hari dan dalam bentuk-bentuk organisasi sosial, juga
terungkapnya dalam evolusi musik barat, bahwa musik barat tunduk pada
kecenderungan rasionalisasi yang merembes. Kriteria rasionalitas merupakan
suatu kerangka acuan, maka masalah keunikan orientasi subjektif individu serta
motivasinya sebagiannya dapat diatasi. Rasionalitas di tingkat individu dan di
tingkat organisasi mungkin mencerminkan kriteria yang berbeda di mana keduannya
tidak saling mengimplisit.
II.
ISI
[1]
Weber yang kehidupannya penuh dengan kesulitan tetapi meskipun Weber seorang
pemalu dan sering sakit tetapi dia sangat jenius. Pada masa kecilnya dia sudah
belajar tentang hukum, perhatian Weber kemudian dalam bidang teori mengenai
pengaruh ide-ide dan kepentingan dalam mengendalikan perilaku manusia tergambar
dalam keluargannya. Weber meneruskan studi akademisnnya kemudian terjadi
gangguan dalam karir akademisnya, iklim sosial dan politik.gangguan akademisnya
terganggu karena keluargannya berantakan dan kemudian ayahnya meninggal dunia. Iklim
sosial dan politik yang membuat Weber tegang dan penuh dengan kontradiksi,
seperti halnya dengan kehidupan keluarganya dan revolusi industri.
II.1 Tindakan
Individu dan Arti Subjectif
[2]Weber
melihat bahwa kenyataan sosial secara mendasar terdiri dari individu-individu
dan tindakan-tindakan sosialnya yang berarti. Weber mendefinisikan sosiologi
sebagai suatu pengetahuan yang berusaha memperoleh pemahaman intepretatif
mengenai tidakan sosial agar dengan demikian bisa sampai ke suatu penjelasan
kausal mengenai arah dan akibat-akibatnya. Gambaran Weber tentang kenyataan
sosial versus Durkheim yang berhubungan dengan suatu perbedaan dasar antara dua
gambaran mengenai kenyataan sosial yang berlawanan. Tujuan Weber adalah untuk
masuk ke arti-arti subjektif yang berhubungan berbagai kategori interaksi
manusia untuk menggunakannya dalam membedakan antara tipe-tipe struktur sosial
dan untuk memahami arah perubahan sosial yang besar dalam masyarakat barat.
Weber juga menjelaskan tindakan sosial melalui pemahaman subjektif sebagai
metode untuk memperoleh pemahaman yang valid mengenai arti-arti subjektif
tindakan sosial.
II.2 Tipe-tipe Tindakan Sosial
[3]Bagi
Weber konsep rasionalitas merupakan kunci bagi suatu analisa objektif mengenai
arti-arti subjektif dan juga merupakan dasar perbandingan mengenai jenis-jenis
tindakan sosial yang berbeda. Cara lain untuk melihat perbedaan objektif dan
subjektif adalah dalam hubungannya dengan hal dimana pengalaman subjektif
pribadi seseorang dimiliki bersama oleh suatu kelompok sosial. Rasionalitas
merupakan konsep dasar yang digunakan Weber dalam klasifikasinya mengenai
tipe-tipe tindakan sosial, ada dua kategori tindakan rasional dan non rasional
dan dua bagian yang berbeda satu sama lain. 1. Rasionalitas Instrumental (
Zweckrationalitat ), tingkat yang paling tinggi meliputi pertimbangan dan
pilihan yang sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan dan alat yang
dipergunakan untuk mencapainya. 2.
Rasionalitas yang Berorientasi Nilai ( Wertrationalitat ), bahwa alat-alat
hanya merupakan objek pertimbangan dan perhitungan yang sadar tujuannya sudah
ada dalam hubunganya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut atau
merupakan nilai akhir baginnya. 3. Tindakan Tradisional, merupakan tipe
tindakan sosial yang bersifat nonrasional. 4. Tindakan Afektif, tipe tindakan
yang ditandai oleh dominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau
perencanaan yang sadar.
II.3 Tindakan Sosial dan Struktur Sosial
[4]Struktur
sosial dalam perspektif Weber didefinisikan dalam istilah-istilah yang bersifat
probabilistik dan bukan sebagai suatu kenyataan empirik yang ada terlepas dari
individu-individu. Dalam realitas akhir yang menjadi dasar satuan-satuan sosial
yang lebih besar ini adalah tindakan sosial individu dengan arti-arti
subjektifnya, tindakan sosial ada yang bersifat baik maupun suatu alat untuk
mempermudah satu jenis tindakan yaitu: 1. Stratifikasi: Ekonomi, Budaya, dan
Politik. 2. Tipe Otoritas dan Bentuk Organisasi Sosial. 3. Otoritas
Tradisional. 4. Otoritas Karismatik. 4. Otoritas Legal-Rasional. Bentuk
oraganisasi biokratis, sebagian analisa Weber mengenai birokrasi mencakup
karekteristik-karakteristik yang istimewa yang dilihatnya sebagai tipe ideal.
II.4 Orientasi Agama, Pola Motivasi, dan
Rasionalisasi
Analisa Weber mengenai hubungan
antara etika protestantisme dan pertumbuhan sistem ekonomi kapitalis barangkali
merupakan sumbangannya yang paling terkenal, etika protestan mencerminkan dan
memperbesar kecenderungan bertambahnya rasionalitas, dan yang lebih penting
lagi memperlihatkan peran yang penting di mana ide-ide agama berperan dalam
meningkatkan perubahan sosial. Weber dan Marx dalam pandangannya mengenai
pengaruh ide agama, kepercayaan protestan dan perkembangan kapitalisme, etika
protestantisme sebagai protes terhadap katolisnme, etika protestan dan proses
sekularisasi, protestantisme dibandingkan dengan agama-agama dunia lainnya, dan
etika kerja masyarakat modern.
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Weber
yang memusatkan perhatiannya pada tingkat arti subjektif , pada tingkat
individual mengiatkan kita bahwa struktur sosial atau sistem budaya tidak dapat
dipikirkan sebagi sesuatu yang berada secara terlepas dari individu yang
terlibat di dalamnya. Dalam kehidupan sosial tantangan selalu ada, agama juga
harus kita mengerti pentingnya kepercayaan serta nilai dalam membentuk pola
motivasion individu agar lebih berkembang.
III.2 Refleksi
Dalam
zaman modern ini sekarang orang ada yang masih tidak memiliki agama atau
memiliki kepercayaan kepada Tuhannya. Banyak orang juga memiliki pikiran yang
kurang sehat sehingga banyak orang yang tidak berkembang dalam kehidupannya. Sementara
dalam rasionalitas ini kita diajarkan untuk mempunya pikiran yang sehat dan
baik agar kita dapat mengembangkan kehidupan kita.
[1] Robert M.Z. Lawang, Teori sosiologi : Klasik dan Modern
Jilid I , Gramedia, Jakarta 1988,hal. 209-214
[2] Robert M.Z. Lawang, Teori
sosiologi : Klasik dan Modern Jilid I , Gramedia, Jakarta 1988,hal. 214-218
[3] Robert M.Z. Lawang, Teori
sosiologi : Klasik dan Modern Jilid I , Gramedia, Jakarta 1988,hal. 219-222
[4] Robert M.Z. Lawang, Teori
sosiologi : Klasik dan Modern Jilid I , Gramedia, Jakarta 1988,hal. 223-247
Tidak ada komentar:
Posting Komentar