Mengapa menurutmu di dalam injil Markus para murid diperkenalkan sebagai orang yang sangat dekat dengan Yesus tetapi pada saat yang sama sebagai orang-orang yang gagal mengenal siapa Yesus itu sebenarnya dan apa misinya.
Kitab Markus apabila diteliti dengan
seksama akan menunjukkan kualitas dari keduabelas murid Yesus. Tujuannya adalah
untuk menilai tindakan-tindakan murid Yesus mengenai etika pemuridan. Tiga
kekurangan utama yang mereka miliki adalah: kurangnya pengetahuan,
ketidakmampuan dalam menyembuhkan, dan ketidakinginan untuk menderita.
-
Kurangnya
pengetahuan
Para murid kurang mengetahui
identitas Yesus yang sebenarnya, arti dari mujizat Yesus, dan makna dari
pengajaran Yesus berupa perumpamaan. Berikut adalah analisa bagaimana Markus
menggambarkan murid-murid yang gagal dalam mengerti aspek pelayanan Yesus.
a.
Murid-murid
gagal untuk mengetahui makna dari perumpamaan-perumpamaan (Mark. 4:10-13, Mark.
4: 33-34)
Catatan penting mengenai perumpamaan
ini terletak pada Mark. 4:34 yang menekankan bahwa murid-murid tidak mengetahui
makna perumpamaan Yesus karena segalanya harus dijelaskan secara
tersendiri. Mereka telah menunjukkan
diri mereka sama seperti orang-orang yang “melihat tapi tidak merasa” dan
“mendengar tetapi tidak mengerti”.
b.
Murid-murid
gagal untuk mengenal Yesus melalui angin ribut yang diredakan (Mark. 4:35-41)
Reaksi mereka terhadap keberhasilan
Yesus meredakan angin ribut (ayat 41) adalah pertanyaan pertama mereka mengenai
identitas kristologi Yesus. Satu harapan utama ketika Yesus menunjukkan mujizat
ini adalah bahwa paling tidak murid-murid mencoba untuk memikirkan siapa yang
pantas diberikan kuasa untuk meredakan angin ribut.
c.
Murid-murid
gagal untuk mengenal Yesus melalui kisah berjalan diatas air (Mark. 6:45-52)
Kegagalan ini sangatlah serius
karena mujizat-mujizat sebelumnya juga belum mampu merasuki hati dan pikiran
mereka bahwa Yesus adalah Allah. Hal ini dipertegas pada ayat 50 “Tenanglah!
Aku ini, jangan takut!”
d.
Murid-murid
gagal untuk mengerti pengajaran Yesus (Mark. 7:17-23)
Pertanyaan retoris Yesus berupa
“Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? “ merefleksikan kekecewaan Yesus
terhadap murid-murid-Nya. Hal itu menekankan keinginan Yesus terhadap mereka
untuk memahami pengajaran yang telah dilakukanNya selama ini.
e.
Murid-murid
gagal untuk mengetahui peringatan Yesus dan Yesus dengan keras menegur mereka
(Mark. 8:14-21)
Yesus mengharapkan mereka untuk
mengerti bahwa Ia adalah Mesias. Seharusnya para murid mengetahuinya melalui
interpretasi mereka terhadap mujizat Yesus terhadap 5000 orang.
f.
Murid-murid
gagal mengetahui pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus (Mark.
8:32-33)
Hal yang menarik adalah panggilan
Petrus sebagai Setan. Itu adalah sebuah sindiran halus bahwa roh kejahatanlah
yang secara konsisten mengidentifikasikan keberadaan Yesus yang sebenarnya.
g.
Murid-murid
gagal untuk mengerti pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus dan jatuh
dalam pencobaan satu sama lainnya (Mark. 9:32-34)
Yesus bertanya mengenai apa yang
mereka perbincangkan ketika di Kapernaum, kemudian para murid hanya bisa diam.
Hal ini menyatakan bahwa murid-murid merasa bersalah atas ketidakpatutan mereka
dalam mempertengkarkan siapa yang terbesar diantara mereka.
h.
Murid-murid
gagal untuk mengerti pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus
(Mark.10:35-41)
Yakobus dan Yohanes merasa bahwa
mereka sudah melakukan hal yang cukup, agar layak untuk mendapatkan penghargaan
dan permintaan yang mereka ajukan kepada Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa
mereka tidak mengerti tujuan dalam pemuridan yaitu untuk melayani bukan untuk
dilayani.
i.
Murid-murid
gagal dalam melihat tampilan Bait Allah Yerusalem masa depan (Mark. 13:1-2)
Kisah ini berkaitan dengan Penyucian
Bait Allah yang dilakukan oleh Yesus. Lagi-lagi para murid tidak mengerti akan pengajaran
Yesus. Kedangkalan pemikiran mereka menunjukkan bahwa nilai-nilai yang
ditanamkan Yesus belum berakar didalam hati mereka.
-
Ketidakmampuan
dalam menyembuhkan
Kekurangan kedua ini begitu kontras
perbedaannya dengan keberhasilan mereka dalam menyembuhkan yang terletak di
Mark. 6:12-13, 30. Hal ini menunjukkan
bahwa mereka tidak bisa mengulangi kesuksesan yang mereka lakukan sebelumnya.
a.
Murid-murid
gagal dalam menyembuhkan anak yang sakit ayan (Mark. 9:14-29)
Hal yang menarik adalah dimana Yesus
tidak hanya menyembuhakn anak yang sakit ayan, tetapi ia juga membantu sang
ayah untuk mempercayai dan mengimani kuasaNya. Di bagian akhir cerita,
murid-murid bertanya mengapa mereka tidak bisa mengusir roh jahat itu, Yesus
membalas dengan berkata “Jenis ini tidak dapt diusir kecuali dengan berdoa”.
-
Ketidakinginan
murid untuk menderita
Kategori terakhir ini menunjukkan
keburukan yang serius karena tidak mencerminkan karakterisitik utama pemuridan
Yesus. Karakteristik tersebut tampak pada Mark. 8:34 yang menyatakan bahwa
setiap orang yang mengikut Yesus harus rela memikul salibnya dan mengikut
Yesus.
a.
Pengkhianatan
Yudas Iskariot (Mark. 14:1-2, 10-11)
Merupakan hal yang menarik bahwa
tidak ada catatan yang menunjukkan latar belakang utama Yudas untuk
mengkhianati Yesus. Tidak ada pula catatan yang menunjukkan kerenggangan
hubungan Yudas dan Yesus. Hal yang diceritakan hanyalah karena motivasi uang
(ayat 11).
b.
Murid-murid
gagal untuk tetap terjaga dan berdoa di Taman Getsemani (Mark. 14:32-42)
Petrus, Yakobus, dan Yohanes yang
disebut sebagai murid terdekat Yesus pun tidak bisa tetap terjaga ketika Yesus
sedang berdoa.
c.
Murid-murid
meninggalkan Yesus saat penangkapannya.
Markus menyimpulkan hal ini dalam
Mark. 14:50 “Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri”. Mereka
tidak melihat bagaimana seorang Mesias dapat ditahan oleh pemuka agama, namun
mereka ingin melihat bagaimana seorang Mesias dapat keluar dari keadaan terjepit
itu.
d.
Penyangkalan
Petrus terhadap Yesus (Mark. 14:66-72)
Hal
ini merupakan gambaran terakhir yang diberikan Markus mengenai murid-murid.
Skema terakhir ini meninggalkan memori yang sedih mengenai kegagalan Yesus
dalam mengubah mereka menjadi pengikut yang setia. Hal ini jugalah yang menjadi
contoh utama bagaimana para murid enggan untuk menderita.
Kesimpulan:
Markus menggambarkan para murid
sebagai sosok yang dekat dengan Yesus namun di sisi lain Markus juga
menyiratkan bahwa mereka tidak mengetahui Yesus secara utuh. Para murid adalah
manusia biasa dan berpikir masih dalam konteks keduniawian. Dan oleh karena itu
mereka tidak selalu bisa mengerti hal mengenai Allah. Ketika sesuatu terjadi,
mereka harus menunggu Yesus untuk menunjukkan tuntunan lain kepada mereka.
Markus ingin menunjukkan bahwa dibutuhkan roh kudus untuk memimpin mereka
menuju kebenaran walaupun hal itu tidak terjadi secara instan.
Sebagai perbandingan yang membantu,
Markus juga menampilkan sepuluh sosok pria yang notabene tidak dekat dengan
Yesus namun mampu menunjukkan karakteristik pemuridan Yesus. (Seorang sakit kusta yang disembuhkan Yesus
dan akhirnya memberitakannya kemana-mana; Seorang
Lewi yang akhirnya mengikut Yesus; Seorang
yang kerasukan roh jahat memulai kehidupan barunya dan memberitakannya di
Dekapolis; Yairus, Kepala rumah
ibadat yang akhirnya mengikut Yesus; Bartimeus
si buta yang akhirnya mengikut Yesus; Seorang
ahli taurat yang memiliki iman yang kuat sehingga dikatakan “Engkau tidak
jauh dari Kerajaan Allah”; Simon si
kusta yang menawarkan keramahtamahan kepada Yesus di Betania; Kepala Pasukan Roma yang menyaksikan
kematian Yesus di salib, dan mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah; Simon dari Kirene yang memikul salib
Yesus dan menjadi citra pemuridan; Yusuf
dari Arimatea menunjukkan dirinya sebagai pengikut Yesus yang benar dengan
rendah hati menurunkan mayat Yesus dari salib).
Melalui Markus kita bisa mengenal
bahwa yang dekat dan mengerti Yesus bukanlah mereka yang hanya dekat dengan-Nya
secara “kehidupan pribadi”, namun setiap orang yang walaupun tidak mengenalnya
secara kehidupan sehari-hari, mampu peka dalam mengenal keinginan dan kemauan
Yesus untuk dijalankan didalam hidupnya.
Kehidupan para murid yang
dipengaruhi oleh budaya keyahudian juga merupakan alasan mengapa mereka tidak
mengenal Yesus dan misi-Nya yang sebenarnya. Konsep keyahudian salah dalam
mengartikan kedatangan Mesias sang Raja. Mereka mengira bahwa Sang Raja akan
datang dalam bentuk Raja Dunia, namun lebih dari itu sebenarnya Mesias yang
datang haruslah menderita dan memikul dosa dunia.
Berangkat dari Mark. 1:38
(Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan,
supaya disana juga Aku memberitakan injil, karena untuk itu Aku telah
datang.”). Markus ingin menunjukkan bahwa Yesus pergi dari kota ke kota lain
sebagi bentuk pemenuhan akan tugas dan tanggung jawab-Nya sebagai Anak Allah
yang harus memberitakan kabar baik dan kerajaan Allah ke seluruh tempat. Kabar
baik bahwa Allah telah datang ke dunia untuk menghapus dosa dunia dan
memberikan kehidupan kekal.
Selain itu ajaran keyahudian yang
kental terhadap Daud sebagai sosok seorang Raja yang cocok bagi Israel dianggap
sebagai gambaran Mesias yang akan datang, disinilah peran Yesus dalam
membenarkan dan meluruskan pandangan bangsa Israel yang salah dalam hal
pengharapan Mesias.
Selain itu apabila berangkat dari
Mark. 6:4 (Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya
sendiri, di antara kaum keluarganya dan dirumahnya) mengindikasikan bahwa Yesus
tidak mungkin hanya bergerak di sekitaran Nazareth atau Galilea saja.
Yerusalem merupakan pusat atau
sentral dari agama Yahudi, tempat dimana bait Allah berada. Dimana ada hari
raya atau perayaan besar keagamaan, maka bangsa Yahudi pasti akan
berbondong-bondong ke Yerusalem. Sebagai sentral agama Yahudi, maka kota
tersebut dipenuhi oleh ahli taurat/ahli agama. Ahli taurat memiliki peranan
yang besar dalam mempengaruhi kehidupan dan kepercayaan masyarakat Yahudi,
dalam Mark. 12:28-34 dikisahkan ahli taurat yang bijaksana, dan diharapkan ahli
taurat itu mampu menyebarkan kebijakan-kebijakan Yesus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar