Selasa, 25 Juli 2023

Karakteristrik Murid Yesus

Mengapa menurutmu di dalam injil Markus para murid diperkenalkan sebagai orang yang sangat dekat dengan Yesus tetapi pada saat yang sama sebagai orang-orang yang gagal mengenal siapa Yesus itu sebenarnya dan apa misinya.

            Kitab Markus apabila diteliti dengan seksama akan menunjukkan kualitas dari keduabelas murid Yesus. Tujuannya adalah untuk menilai tindakan-tindakan murid Yesus mengenai etika pemuridan. Tiga kekurangan utama yang mereka miliki adalah: kurangnya pengetahuan, ketidakmampuan dalam menyembuhkan, dan ketidakinginan untuk menderita.

-          Kurangnya pengetahuan

            Para murid kurang mengetahui identitas Yesus yang sebenarnya, arti dari mujizat Yesus, dan makna dari pengajaran Yesus berupa perumpamaan. Berikut adalah analisa bagaimana Markus menggambarkan murid-murid yang gagal dalam mengerti aspek pelayanan Yesus.

 

a.      Murid-murid gagal untuk mengetahui makna dari perumpamaan-perumpamaan (Mark. 4:10-13, Mark. 4: 33-34)

            Catatan penting mengenai perumpamaan ini terletak pada Mark. 4:34 yang menekankan bahwa murid-murid tidak mengetahui makna perumpamaan Yesus karena segalanya harus dijelaskan secara tersendiri.  Mereka telah menunjukkan diri mereka sama seperti orang-orang yang “melihat tapi tidak merasa” dan “mendengar tetapi tidak mengerti”.

b.      Murid-murid gagal untuk mengenal Yesus melalui angin ribut yang diredakan (Mark. 4:35-41)

            Reaksi mereka terhadap keberhasilan Yesus meredakan angin ribut (ayat 41) adalah pertanyaan pertama mereka mengenai identitas kristologi Yesus. Satu harapan utama ketika Yesus menunjukkan mujizat ini adalah bahwa paling tidak murid-murid mencoba untuk memikirkan siapa yang pantas diberikan kuasa untuk meredakan angin ribut.

c.       Murid-murid gagal untuk mengenal Yesus melalui kisah berjalan diatas air (Mark. 6:45-52)

            Kegagalan ini sangatlah serius karena mujizat-mujizat sebelumnya juga belum mampu merasuki hati dan pikiran mereka bahwa Yesus adalah Allah. Hal ini dipertegas pada ayat 50 “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

d.      Murid-murid gagal untuk mengerti pengajaran Yesus (Mark. 7:17-23)

            Pertanyaan retoris Yesus berupa “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? “ merefleksikan kekecewaan Yesus terhadap murid-murid-Nya. Hal itu menekankan keinginan Yesus terhadap mereka untuk memahami pengajaran yang telah dilakukanNya selama ini.

e.       Murid-murid gagal untuk mengetahui peringatan Yesus dan Yesus dengan keras menegur mereka (Mark. 8:14-21)

            Yesus mengharapkan mereka untuk mengerti bahwa Ia adalah Mesias. Seharusnya para murid mengetahuinya melalui interpretasi mereka terhadap mujizat Yesus terhadap 5000 orang.

f.       Murid-murid gagal mengetahui pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus (Mark. 8:32-33)

            Hal yang menarik adalah panggilan Petrus sebagai Setan. Itu adalah sebuah sindiran halus bahwa roh kejahatanlah yang secara konsisten mengidentifikasikan keberadaan Yesus yang sebenarnya.

g.      Murid-murid gagal untuk mengerti pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus dan jatuh dalam pencobaan satu sama lainnya (Mark. 9:32-34)

            Yesus bertanya mengenai apa yang mereka perbincangkan ketika di Kapernaum, kemudian para murid hanya bisa diam. Hal ini menyatakan bahwa murid-murid merasa bersalah atas ketidakpatutan mereka dalam mempertengkarkan siapa yang terbesar diantara mereka.

h.      Murid-murid gagal untuk mengerti pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus (Mark.10:35-41)

            Yakobus dan Yohanes merasa bahwa mereka sudah melakukan hal yang cukup, agar layak untuk mendapatkan penghargaan dan permintaan yang mereka ajukan kepada Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti tujuan dalam pemuridan yaitu untuk melayani bukan untuk dilayani.

i.        Murid-murid gagal dalam melihat tampilan Bait Allah Yerusalem masa depan (Mark. 13:1-2)

            Kisah ini berkaitan dengan Penyucian Bait Allah yang dilakukan oleh Yesus. Lagi-lagi para murid tidak mengerti akan pengajaran Yesus. Kedangkalan pemikiran mereka menunjukkan bahwa nilai-nilai yang ditanamkan Yesus belum berakar didalam hati mereka.

 

-          Ketidakmampuan dalam menyembuhkan

            Kekurangan kedua ini begitu kontras perbedaannya dengan keberhasilan mereka dalam menyembuhkan yang terletak di Mark. 6:12-13, 30.  Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak bisa mengulangi kesuksesan yang mereka lakukan sebelumnya.

 

a.      Murid-murid gagal dalam menyembuhkan anak yang sakit ayan (Mark. 9:14-29)

            Hal yang menarik adalah dimana Yesus tidak hanya menyembuhakn anak yang sakit ayan, tetapi ia juga membantu sang ayah untuk mempercayai dan mengimani kuasaNya. Di bagian akhir cerita, murid-murid bertanya mengapa mereka tidak bisa mengusir roh jahat itu, Yesus membalas dengan berkata “Jenis ini tidak dapt diusir kecuali dengan berdoa”.

 

-          Ketidakinginan murid untuk menderita

            Kategori terakhir ini menunjukkan keburukan yang serius karena tidak mencerminkan karakterisitik utama pemuridan Yesus. Karakteristik tersebut tampak pada Mark. 8:34 yang menyatakan bahwa setiap orang yang mengikut Yesus harus rela memikul salibnya dan mengikut Yesus.

 

a.      Pengkhianatan Yudas Iskariot (Mark. 14:1-2, 10-11)

            Merupakan hal yang menarik bahwa tidak ada catatan yang menunjukkan latar belakang utama Yudas untuk mengkhianati Yesus. Tidak ada pula catatan yang menunjukkan kerenggangan hubungan Yudas dan Yesus. Hal yang diceritakan hanyalah karena motivasi uang (ayat 11).

b.      Murid-murid gagal untuk tetap terjaga dan berdoa di Taman Getsemani (Mark. 14:32-42)

            Petrus, Yakobus, dan Yohanes yang disebut sebagai murid terdekat Yesus pun tidak bisa tetap terjaga ketika Yesus sedang berdoa.

c.       Murid-murid meninggalkan Yesus saat penangkapannya.

            Markus menyimpulkan hal ini dalam Mark. 14:50 “Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri”. Mereka tidak melihat bagaimana seorang Mesias dapat ditahan oleh pemuka agama, namun mereka ingin melihat bagaimana seorang Mesias dapat keluar dari keadaan terjepit itu.

d.      Penyangkalan Petrus terhadap Yesus (Mark. 14:66-72)

            Hal ini merupakan gambaran terakhir yang diberikan Markus mengenai murid-murid. Skema terakhir ini meninggalkan memori yang sedih mengenai kegagalan Yesus dalam mengubah mereka menjadi pengikut yang setia. Hal ini jugalah yang menjadi contoh utama bagaimana para murid enggan untuk menderita.

 

Kesimpulan:

            Markus menggambarkan para murid sebagai sosok yang dekat dengan Yesus namun di sisi lain Markus juga menyiratkan bahwa mereka tidak mengetahui Yesus secara utuh. Para murid adalah manusia biasa dan berpikir masih dalam konteks keduniawian. Dan oleh karena itu mereka tidak selalu bisa mengerti hal mengenai Allah. Ketika sesuatu terjadi, mereka harus menunggu Yesus untuk menunjukkan tuntunan lain kepada mereka. Markus ingin menunjukkan bahwa dibutuhkan roh kudus untuk memimpin mereka menuju kebenaran walaupun hal itu tidak terjadi secara instan.

            Sebagai perbandingan yang membantu, Markus juga menampilkan sepuluh sosok pria yang notabene tidak dekat dengan Yesus namun mampu menunjukkan karakteristik pemuridan Yesus. (Seorang sakit kusta yang disembuhkan Yesus dan akhirnya memberitakannya kemana-mana; Seorang Lewi yang akhirnya mengikut Yesus; Seorang yang kerasukan roh jahat memulai kehidupan barunya dan memberitakannya di Dekapolis; Yairus, Kepala rumah ibadat yang akhirnya mengikut Yesus; Bartimeus si buta yang akhirnya mengikut Yesus; Seorang ahli taurat yang memiliki iman yang kuat sehingga dikatakan “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah”; Simon si kusta yang menawarkan keramahtamahan kepada Yesus di Betania; Kepala Pasukan Roma yang menyaksikan kematian Yesus di salib, dan mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah; Simon dari Kirene yang memikul salib Yesus dan menjadi citra pemuridan; Yusuf dari Arimatea menunjukkan dirinya sebagai pengikut Yesus yang benar dengan rendah hati menurunkan mayat Yesus dari salib).

            Melalui Markus kita bisa mengenal bahwa yang dekat dan mengerti Yesus bukanlah mereka yang hanya dekat dengan-Nya secara “kehidupan pribadi”, namun setiap orang yang walaupun tidak mengenalnya secara kehidupan sehari-hari, mampu peka dalam mengenal keinginan dan kemauan Yesus untuk dijalankan didalam hidupnya.

            Kehidupan para murid yang dipengaruhi oleh budaya keyahudian juga merupakan alasan mengapa mereka tidak mengenal Yesus dan misi-Nya yang sebenarnya. Konsep keyahudian salah dalam mengartikan kedatangan Mesias sang Raja. Mereka mengira bahwa Sang Raja akan datang dalam bentuk Raja Dunia, namun lebih dari itu sebenarnya Mesias yang datang haruslah menderita dan memikul dosa dunia.

 Identifisirlah tempat-tempat di/ke mana Yesus pergi dan apa yang dia lakukan disana. Buatlah didalam satu peta pergerakannya itu. Selanjutnya analisalah mengapa Markus memperkenalkan Yesus sebagai seorang yang bergerak dari desa-desa dan tempat lainnya di Galilea ke Yerusalem?

            Berangkat dari Mark. 1:38 (Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya disana juga Aku memberitakan injil, karena untuk itu Aku telah datang.”). Markus ingin menunjukkan bahwa Yesus pergi dari kota ke kota lain sebagi bentuk pemenuhan akan tugas dan tanggung jawab-Nya sebagai Anak Allah yang harus memberitakan kabar baik dan kerajaan Allah ke seluruh tempat. Kabar baik bahwa Allah telah datang ke dunia untuk menghapus dosa dunia dan memberikan kehidupan kekal.

            Selain itu ajaran keyahudian yang kental terhadap Daud sebagai sosok seorang Raja yang cocok bagi Israel dianggap sebagai gambaran Mesias yang akan datang, disinilah peran Yesus dalam membenarkan dan meluruskan pandangan bangsa Israel yang salah dalam hal pengharapan Mesias.

            Selain itu apabila berangkat dari Mark. 6:4 (Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan dirumahnya) mengindikasikan bahwa Yesus tidak mungkin hanya bergerak di sekitaran Nazareth atau Galilea saja.

            Yerusalem merupakan pusat atau sentral dari agama Yahudi, tempat dimana bait Allah berada. Dimana ada hari raya atau perayaan besar keagamaan, maka bangsa Yahudi pasti akan berbondong-bondong ke Yerusalem. Sebagai sentral agama Yahudi, maka kota tersebut dipenuhi oleh ahli taurat/ahli agama. Ahli taurat memiliki peranan yang besar dalam mempengaruhi kehidupan dan kepercayaan masyarakat Yahudi, dalam Mark. 12:28-34 dikisahkan ahli taurat yang bijaksana, dan diharapkan ahli taurat itu mampu menyebarkan kebijakan-kebijakan Yesus.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...