1.
PENGANTAR [1]
Para pakar narasi kini telah sepakat menerima rumusan Seymour Chatman bahwa narasi mengandung unsur cerita (story) dan wacana (discourse). Analisis naratif berusaha menjelaskan hubungan antara ”apa” dan ”bagaimana” suatu narasi. Dalam proses yang kompleks, pengarang bayangan bercerita untuk mempengaruhi pembaca bayangan melalui sudut pandang, narator dan taktik literer sehingga menerima tujuan dan maksud penulisan. Dengan kata lain analisis naratif pada hakikatnya berusaha mengungkapkan komunikasi-komunikasi yang terjadi pada aras cerita dan wacana. Pada level cerita, peranan tokoh dan narator sangat besar dalam proses komunikasi, sedang pada level wacana berlangsung komunikasi pengarang bayangan dengan pembaca bayangan. Kedua aras komunikasi ini harus diperhatikan bila ingin memahami suatu teks dalam konteksnya.
Pada dasarnya komunikasi yang terjadi adalah : pengarang teks pembaca. Dalam komunikasi dasar ini rekonstruksi
latar historis pembaca semula merupakan fokus utama suatu penafsiran.
Pengarang Bayangan (Implied
Author)
Pengarang mengkomunikasikan
pesan yang ingin disampaikannya melalui teks. Pengarang dan pembaca adalah
figur historis. Dalam hal ini pembaca dapat berarti pembaca semula atau pembaca
kontemporer yang membaca suatu teks yang disusun seorang pengarang. Konteks
pengarang dapat bersamaan atau berbeda dengan konteks pembaca. Pembaca bayangan
ini adalah kesan tentang seorang pengarang ketika pembaca membaca teks.
Pengarang bayangan, dirumuskan Jeffrey Staley adalah kesadaran tunggal yang
mengetahui awal dan akhir suatu cerita. Kesadaran ini mengetahui persis apa
yang dikehendaki guna mempengaruhi pembacanya. Dalam nada yang sama, Mark
Powell menjelaskan bahwa pengarang bayangan adalah persfektif suatu tulisan
yang harus direkonstruksi pembaca berdasarkan apa yang ditemukan pada suatu
narasi.
Pembaca Bayangan (Implied
Reader)
Berbeda dengan pengarang bayangan yang mengetahui narasi dari awal dan akhir, pembaca bayangan hanya memiliki informasi sebatas apa yang telah dibaca. Ada baiknya kita membedakan antara pembaca bayangan dengan pembaca pertama atau pembaca kontemporer. Pembaca asli adalah figur historis. Pembaca bayangan adalah bentukan imajiner pengarang bayangan atau pembaca. William Kurz mengatakan bahwa pembaca bayangan adalah produk suatu teks yakni pembaca yang dituntut suatu teks atau pembaca seperti yang dibayangkan oleh penulis. Sementara Grant Osborne menerima bahwa pembaca bayangan adalah figur yang mampu menemukan maksud sebenarnya dari suatu teks. Sedangkan menurut Mark Powell, pembaca bayangan adalah yang mengaktualisasikan potensi makna suatu teks yang merespons terhadap teks seperti seperti yang diharapkan. Jadi pembaca bayangan berada di dalam teks dan dibentuk oleh pengarang bayangan.
2. PENGERTIAN
Kritik naratif adalah cabang
dari kritik sastra yang disebut dan mirip dengan apa yang telah dikerjakan oleh
para pembaca sastra klasik berabad-abad lamanya. Narasi mengandung unsur cerita (story) dan wacana (discourse). Cerita adalah isi suatu narasi, unsur apamya suatu
narasi. Dari pengkajian kritik naratif, pendekatan dilakuan dengan menganalisi
alur cerita (plot), tema, motif-motif, watak, (karakterisasi), gaya (style),
gambaran pidato, simbolik, banyangan, pengulangan, ketepatan waktu dalam
naratif, sudut pandangan, dll. Pengkajian ini lebih mementingkan nilai
estetika, pekerjaan daripada nilai teologi dan moral[2].
Pendekatan naratif muncul
sekitar tahun 1980-an, pendekatan naratif melihat teks alkitab sebagai sebuah
narasi atau cerita yang memiliki tujuan jadi pembentukan cerita itu dari awal
telah ditentukan apa pesan untuk pembaca, karena itu cerita menjadi satu
kesatuan yang utuh untuk suatu tujuan tertentu dalam hal ini menjadi pusat
perhatian adalah teks Alkitab.[3]
Penafsiran naratif lebih sederhana dibanding dengan penafsiran historis kritis. Karena penafsiran naratif tidak memerlukan latarbelakang sejarah teks tetapi kita berhadapan langsung dengan teks dimana refleksi memantul dari teks yang kita baca. Sedangkan penafsiran historis kritis harus melihat latarbelakang penafsiran teks. Dalam penafsiran naratif yang menjadi fokus kita melihat apa yang tertulis sedangkan dalam historis kritis melihat yang tidak nampak (latar belakang teks). Akan tetapi yang menjadi persoalan dalam pendekatan naratif bagaimana memasuki dunia cerita tersebut. Untuk itu penafsir harus memasuki dunia cerita dan berusaha menjadi saksi mata dalam setiap adegan cerita, seolah-olah kita ada bersama dengan narator menyaksikan semua peristiwa yang diceritakan.
3. LANGKAH-LANGKAH DALAM KRITIK NARASI
Ketika kita membaca teks yang
mau ditafsirkan (Teks Narasi) ada delapan unsur pembacaan yang harus
diperhatikan:[4]
1.
Struktur: Suatu teks harus kita baca dengan secara keseluruhan dari awal sampai
akhir cerita. Sekaligus memperhatikan kedelapan unsur tersebut di atas. Untuk
memahami teks harus dibaca berulang-ulang agar dapat ditemukan gambaran (struktur) apa yang mau dikatakan teks
dan apa tujuannya kemudian kita juga dapat mengetahui untuk apa ini ditulis,
kapan digubah tahun berapa ditulis, dimana dituliskan. Sebuah cerita ditulis
mempunyai tujuan tertentu.
2.
Plot: Penafsiran naratif untuk memahami alur cerita.
Sebuah cerita sudah duflot pengarang sebagaimana cerita itu ditanpilkan di
tengah, di depan, akhir. Ituha sebabnya cerita alur mundur, dengan pembacaan
cerita kita harus menangkap apakah cerita itu berakhir dengan klimaks atau
anti-klimaks.
3.
Karakteristik (Penokohan):
Pembacaan sebuah cerita dari tokoh yang terlibat dalam cerita narator sendiri
yang bertanggungjawab atas karakter dari tokoh-tokoh tersebut. Artinya narator
sengaja menciptakan atau menempelken serita tertentu kepada tokoh-tokoh cerita
itu. Apakah seorang tokoh ditampilkan sebagai yang keras atau lembut.
Temperamental atau sabar, berani atau takut. Biasanya dalam sebuah cerita kita
perlu mencari/mengidentifikasi siapa tokoh cerita, bagaimana karakternya, dan
bagaimana karakter yang dilakukan pemeran pembantu satu yang dibuat oleh
narator, bagaimana peranan figuran. Untuk itu kita perlu mencari siapa figuran
dalam cerita tersebut.
4. Setting: Pembacaan
cerita dengan memperhatikan lokasi dan suasana dimana cerita itu berlangsung ,
sebuah cerita ada kalanya mengambil setting
istana, bait suci, kuil, gunung, hutan, sungai , dan bagaimana suasana juga
harus diperhatikan apakah ribut, tenang, sunyi, perang atau damai.
5. Konflik: Suatu
pembacaan cerita dengan memperhatikan apa yang dipersoalkan / di pergumulkan oleh narator dalam cerita yang disampaikannya
, untuk itu bacalah cerita itu sampai menemukan konflik apa yang ada
didalamnya. Konflik ini akan menjadi jelas apabila kita berhasil memperhatikan
interaksi dari tokoh cerita itu baik di satu setting maupun di setting yang
lain atau satu adegan dengan adegan lain mungkin ada adegan keras atau
pergumulan. Biasanya dalam sebuah cerita narator menampilkan tiga kategori
konflik dan konflik tersebut bisa pergumulan manusia dengan Tuhan seperti
Abraham, antara manusia dan manusia seperti Daud, Saul, Yakub dan Esau, ada
konflik dengan diri sendiri (internal)
misalnya Yusuf mau meninggalkan Maria, Yudas, Kain dan Saul. Sebuah cerita
sengaja sengaja mengangkat sebuah konflik dari tokoh-tokoh dengan tujuan
tertentu. Konflik ini lebih tajam lagi kalau kita memperhatikan waktu dalam
penafsiran naratif yang dimaksud.
6. Waktu: Dalam waktu
tidak sama dengan waktu dalam historis kritis. Karena waktu dlam historis
kritis adalah zaman ketika nabi memberitakan firman, kapan dituliskan.
Sedangkan waktu dalam naratif terdiri dari dua kategori yaitu: waktu yang
bersifat alamiah, yaitu menunjuk pada waktu bulan, jam, hari kapan mulai
terbit. Waktu yang cerita yang bersifat naratif, yaitu suatu adegan yang
berlangsung dalam suatu rentetan adegan yang ditandai dengan istilah lalu,
maka, kemudian, selanjutnya. Hal ini menghubungkan kepada kejadian selanjutnya.
7. Style: Gaya bercerita
bagaimana narator menampilkan gaya tertentu. Dalam gaya style ini kita perlu
memperhatikan gaya yang diulang-ulangi oleh narator. Kemungkinan hal itu dari
sumber yang lain dan bukan dari satu sumber cerita (historis kritis). Tetapi dalam penampilan naratif bukanlah
menandakan cerita itu berasal dari berbagai sumber melainkan narator ingin
menekankan satu hal. Gaya narator mengulangi statemen, hal itu perlu
diperhatikan oleh pembaca.
8. Narator: Dalam hal
ini adalah tokoh yang bertanggungjawab atas seluruh cerita dimana ia merancang
seluruh cerita dengan maksud dan tujuan cerita itu. Suatu cerita perlu dilihat
dari sudut pandang narator.
Kedelapan
unsur ini bukanlah suatu ketentuan yang bersifat kronologis, karena kita harus
melihat teks sebagai satu kesatuan yang utuh. Jadi kedelapan unsur ini harus
dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh menjadi satu cerita.
Macam-
macam ceritera[5] :
Naratorologi membeda-bedakan macam-macam
ceritera a.l. sebagai berikut :
- Ceritera
disebut realistis bila apa yang diceritakan mungkin terjadi juga diluar
ceritera, di dunia obyektip, entah terjadi atau tidak
- Ceritera
disebut fantastis, bila apa yang diceritakan tidak mungkin terjadi di luar
cerita, sehingga hanya bisa terjadidalam dunia fiktif ceritera
- Ceritera
disebut mistis, bila dalam cerita tampil pelaku adi-manusiawi (allah,
malaikat, dewa-dewi)
- Cerita
disebut komis jika keadaan pelaku utama pada akhir ceritera lebih baik
dari awalnya, ada happi end,
- Cerita
disebut tragis, jika keadaan pelaku utama pada akhir ceritera lebih buruk
dari pada awalnya
- Cerita disebut ”tragedi” jika dalam cerita garis komis disusul garis tragis dan ”komedi”, jika garis tragis disusul haris komis
4. KESIMPULAN
Kesimpulan
kami bahwa analisis yang sangat perlu untuk penafsiran naratif adalah : mengapa
narator menceritakan cerita tersebut, apa latar belakang cerita narator. Maka
dengan membaca cerita tersebut maka pembaca dapat menentukan sikap untuk
melakukan sesuatu. Bagaimana maksud si narator dikomunikasikan kepada pembaca
atau pendengar.
Analisa
Naratif menolong penafsir memahami teks alkitab melalui eksplorasi tema suatu
cerita (latar, tokoh, plot) dalam
konteks literernya dan bagaimana cerita tersebut dinarasikan (narator, sudut pandang, taktik literer)
dan membacanya pada aras cerita dan aras pengarang-pembaca bayangan sehingga
memiliki makna bagi pembaca masa kini. Jadi ke delapan unsur analisis naratif yang dioperasikan sebagai
alat memahami teks. Alkitab di dalam konteksnya akan memperkaya arti dan makna
teks yang telah dicapai melalui analisis-analisis lainnya [6].
[1] M.K.
Sembiring, Forum Biblika (Jurnal
ilmiah), Lembaga Alkitab
[2] A.A.
Sitompul & Ulrich Beyer, Metode Penafsiran Alkitab, BPK Gunung Mulia,
[3] C.W.Z. Pakpahan, Rekaman Mata Kuliah
Pengantar Hermen PL, semester II, 2008.
[4] Ibid.
[5]
C.Groenen, OFM, Analisis Naratif Kisah Sengsara ( Yoh 18-19),Lembaga Biblika
[6] M.K.
Sembiring, Op-Cit, hlm. 59.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar