Rabu, 17 April 2024

Kerukunan Umat Beragama dalam Pandangan Kekristenan

 I. Pendahuluan

           Mengapa perlu rukun? Ini adalah pertanyaan yang penting untuk di pikirkan oleh seluruh elemen bangsa ini. Seperti yang kita tau bersama negara kita Indonesia adalah negara yang besar. Terdiri lebih dari 280 juta jiwa yang punya keberagaman masing-masing. Tidak ada satupun wilayah Indonesia  yang homogen 100 persen. Apakah itu sama dalam jenis kelamin, suku, budaya, kebiasaan, bahkan agama. Semuanya hetero dan beragam. Apakah keberagaman adala bancana? Sesungguhnya tidak. Keberagaman adalah anugrah Allah. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, sudah ada perbedaan atau keberagaman itu. Siang dan malam dipisahkan, air dibawah dan cakrawala (air diatas/langit) dipisahkan, daat lau dipisahkan, sampai pada Adam dan hawa meskipun sama-sama dibuat oleh tangan Tuhan yang sama, keduanya juga beragam (berbeda).

Sesungguhnya keberagaman adalah anugrah Tuhan untuk membuat semuanya menjadi indah. Ibarat karangan bunga, bila hanya satu jenis saja, bisa saja indah, namun tidak seindah bila ada banyak bunga dalam karangan bunga tersebut. Jadi bagaimana menyikapi keberagaman. Salah satu cara penting adalah dengan inklusif (keterbukaan), menghargai perbedaan, dan lainnya yang semuanya ini diikat oleh keinginan untuk mau hidup rukun. Perjanjian Lama mencatat bahwa kerukunan adalah kesukaan Allah. Dalam Mazmur 35:20 Daud menyampaikan keluhannya kepada Allah bahwa para musuhnya adalah orang yang tidak mencintai damai dan kerukunan. Hal ini disampaikan Daud karena ia tau bahwa orang yang mencintai kedamaian dan kerukunan disukai Allah, dan orang jahat yang menjadi musuhnya jauh dari itu. Kedua dalam Mazmur 133:1 Daud bernyanyi bahwa adalah sangat indah bila yang saudara hidup rukun. Paulus juga dalam Roma 15:5 menguatkan jemaat di Roma dan memohonkan Allah agar memberikan kerukunan kepada jemaat Kristen di sana.  

        Kerukunan sangat penting dalam Kekristenan, dan itu adalah kesukaan Allah. Kerukunan memiliki peran yang sangat penting karena mencerminkan nilai-nilai dasar dari ajaran Kristus. Ajaran Kristus menekankan pentingnya kasih, perdamaian, dan pengampunan. Kerukunan merupakan ekspresi dari nilai-nilai ini dalam hubungan antar sesama, yang tercermin dalam ajaran Kristus untuk mencintai sesama seperti diri sendiri. Oleh sebab itu setiap orang yang percaya kepada Allah harus hidup dalam kerukunan itu, sebagai bagian dari imannya dan sikapnya yang cinta damai, inklusif dan melihat saudara lain yang berbeda sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang sama dengan dirinya.

          Lalu bagaimana konteks kita pada masa kini? Urgensi kerukunan pada masa kini selalu dikaitkan dengan kehidupan beragama? Mengapa? Bukankan konteks dunia saat ini bicara kerukunan soal pemerataan HAM, gender, dan perlakukan terhadap disabilitas, dll. Hal ini dikarenakan di Indonesia, persoalan keberagamaan adalah persoalan yang rumit dan memiliki jalan yang panjang. Pergesekan antar kepercayaan sangat berbahaya di negara kita ini. Rentan konflik dan sangat mudah dipantik oleh orang atau kelompok yang tidak bertanggungjawab. Sementara Pancasila, dasar ideologi negara Indonesia, menegaskan pentingnya persatuan Indonesia (sila 3) dan salah satu turunannya menekankan kerukunan di antara keragaman. Nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong (kerja sama), keadilan sosial, dan persatuan, mendorong masyarakat untuk hidup berdampingan secara damai meskipun memiliki perbedaan. Kerukunan beragama sanagt penting dalam konteks kita di Indonesia. Kerukunan beragama adalah keadaan hubungan antarumat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian dan saling menghormati dalam pengamalan ajaran agama serta kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat.

            Dalam bagian ini secara khusus akan melihat bagaimana kerukunan umat beragama yang dilihat dari sudut pandanga Kekristenan.

II. Kerukunan dalam pandangan Kristen

Kerukunan dalam pandangan Kristen adalah konsep yang mendasar dan penting dalam kepercayaan Kristen. Ini mengacu pada hubungan harmonis antara individu, komunitas, dan Tuhan, yang tercermin dalam kasih, perdamaian, kesatuan, dan pengampunan. Dalam Alkitab Kristen, konsep kerukunan meliputi berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan antarindividu hingga hubungan manusia dengan Tuhan.

Pertama-tama, kerukunan dalam pandangan Kristen berakar pada ajaran Yesus Kristus. Yesus mengajarkan 1kasih sebagai prinsip utama dalam menjalin hubungan dengan sesama. Salah satu ajaran paling terkenal Yesus adalah ”… Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:34). Kata dasar kasih  yang dipakai dalam teks ini adalah ἀγαπάω (agapao) yang dalam bentuk lain sama dengan agape, kasih agave, kasih dengan pengorbanan tanpa pamrih, cinta tanpa syarat dan ketulusan. Istilah ini sering dianggap sebagai konsep tertinggi dari kasih, yang dipraktikkan oleh Allah dan yang dipanggil untuk diperlihatkan oleh umat manusia dalam hubungan mereka dengan Tuhan dan sesama.  Kasih ini menjadi dasar bagi kerukunan antarindividu dalam komunitas Kristen.

Selain itu, Alkitab Kristen juga menekankan pentingnya 2perdamaian dalam kerukunan. Rasul Paulus menulis dalam suratnya kepada jemaat di Roma, ”Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera  dan yang berguna untuk saling membangun. Jadi, marilah kita mengejar hal-hal yang mendatangkan damai sejahtera dan membangun satu dengan lain” (Roma 14:19). Perdamaian bukan hanya tentang ketiadaan konflik, tetapi juga tentang aktif mencari kebaikan dan kesejahteraan sesama dan membangun harmoni.

Kerukunan dalam pandangan Kristen juga mencakup 3penghormatan terhadap perbedaan. Rasul Paulus menekankan pentingnya penghormatan dalam menjalin hubungan antarindividu dalam komunitas Kristen. Dalam Roma 14:19 Paulus menekankan bahwa dalam keberagaman, penting untuk menghargai perbedaan dan bekerja menuju kesatuan.

Kerukunan dalam pandangan Kristen juga mengajarkan pentingnya 4keadilan sosial. Alkitab secara konsisten menekankan pentingnya memperjuangkan keadilan bagi mereka yang lemah dan terpinggirkan dalam masyarakat. Dalam Kitab Mazmur, Allah dinyatakan sebagai ”pengampun, yang mencintai keadilan” (Mazmur 99:4). Oleh karena itu, dalam kehidupan Kristen, mencari keadilan sosial adalah bagian integral dari upaya untuk membangun kerukunan dalam masyarakat.

Selain itu, kerukunan dalam pandangan Kristen juga 5melibatkan kerja sama dalam. Rasul Paulus menggambarkan orang percaya sebagai tubuh Kristus yang memiliki banyak anggota yang memiliki peran yang berbeda-beda, tetapi semua bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama (1 Korintus 12:14, 12:27). Kerukunan dalam pandangan Kristen juga menekankan pentingnya 6belas kasihan. Yesus mengajarkan kasih yang menyeluruh, termasuk kasih terhadap mereka yang memerlukan pertolongan. Dalam perumpamaan tentang Tuhan yang Maha Kasih dalam Injil Lukas, Yesus mengajarkan pentingnya belas kasihan terhadap sesama, terlepas dari perbedaan dan latar belakang (Lukas 10:25-37).

Terakhir, kerukunan dalam pandangan Kristen mencakup 7penerimaan kebenaran  Tuhan. Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah sumber kerukunan yang sejati, dan hanya melalui hubungan yang benar dengan-Nya, manusia dapat mencapai kerukunan yang sejati. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Rasul Paulus menekankan pentingnya damai Allah yang melebihi segala pemahaman manusia (Filipi 4:7). Darisini kita bisa melihat bahwa kerukunan akan benar-benar bisa di capai dan dinyatakan kalau kita sungguh-sungguh mencari kebenaran Tuhan seperti yang disampaikan oleh Nabi Asmos ”Carilah Tuhan” (Amos 5:4,6)

Secara keseluruhan, kerukunan dalam pandangan Kristen melibatkan kasih, perdamaian-harmoni, penghormatan, keadilan sosial, kerja sama, belas kasihan, dan penerimaan Tuhan. Ini adalah panggilan untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan dunia di sekitar kita, dengan mengikuti ajaran dan contoh Yesus Kristus.

III. Dengan Siapa Harus Rukun?

            Dalam hal hidup rukun Alkitab menjelaskan bahwa orang percaya harus Rukun dengan sesama-saudara. Jadi siapakah sesama ku? Ini pertanyaan yang diajukan ahli taurat kepada Yesus dan Yesus menjelaskan tentang ”perumpamaan orang Samaria yang baik hati”. Sesama merujuk kepada individu atau manusia lainnya, terlepas dari perbedaan latar belakang, keyakinan, ras, atau budaya. Konsep sesama mengandung makna yang luas, mencakup semua orang di sekitar kita, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal, dengan tujuan untuk memahami, menghormati, dan berinteraksi dengan mereka dengan penuh kasih dan kebaikan.

            Allah juga mengatakan dalam Im.19:18 ”kasihilah sesama mu seperti dirimu sendiri”. Daud dalam Mazmur 133:1 menyerukan agar saudara/sesama hidup rukun. Ayat-ayat seperti Imamat 19:18 dan Mazmur 133:1 mencerminkan pentingnya kasih dan kerukunan antarsesama dalam ajaran agama Kristen. Dalam Imamat 19:18, Tuhan menginstruksikan umat-Nya untuk mengasihi sesama dengan cara yang sama seperti mereka mencintai diri sendiri. Ini menekankan pentingnya kasih tanpa pamrih (agave) dan penghormatan terhadap nilai dan keberadaan orang lain. Sementara itu, Mazmur 133:1, yang ditulis oleh Daud, menyuarakan keindahan dan pentingnya hidup bersama dalam kerukunan. Daud menggambarkan kesatuan yang menyenangkan dan diberkati, yang merupakan hasil dari kerukunan antarsaudara. Pesan-pesan ini menekankan bahwa kasih dan kerukunan adalah prinsip-prinsip inti dalam kehidupan Kristen, yang menghubungkan keyakinan agama dengan praktik sehari-hari, serta membangun fondasi bagi komunitas yang harmonis dan saling mendukung.

Hubungan dengan sesama harus inklusif. Ini juga memiliki keterkaitan yang erat dengan kerukunan umat beragama. Kerukunan umat beragama merujuk pada keadaan di mana individu-individu dari berbagai keyakinan agama hidup bersama dalam damai, saling menghormati, dan bekerja sama untuk mempromosikan perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan bersama.

Dalam konteks Kristen, pandangan tentang kerukunan dengan umat beragama lain tercermin dalam prinsip-prinsip ajaran Yesus Kristus. Yesus mengajarkan pentingnya kasih, pengampunan, dan penghormatan terhadap sesama, termasuk mereka yang berbeda keyakinan agama. Dia menekankan perlunya mencintai sesama sebagaimana kita mencintai diri sendiri, serta pentingnya memperlihatkan belas kasihan dan pelayanan kepada mereka yang memerlukan pertolongan.

IV.  Pandangan Kristen Tentang Kerukunan Dengan Umat Beragama Lain

Secara khusus, pandangan Kristen tentang kerukunan dengan umat beragama lain mencerminkan ajaran untuk menjadi pembawa damai dan penebus dalam dunia yang terbagi. Pengikut Kristus dipanggil untuk menjadi saksi kasih Allah dan memperlihatkan pengampunan serta kasih yang tidak memandang perbedaan keyakinan atau latar belakang. Dalam Perjanjian Baru, terdapat banyak contoh di mana Yesus menunjukkan kasih dan pengampunan kepada mereka yang dianggap sebagai ”orang asing” atau ”orang lain”. Perumpamaan tentang Orang Samaria yang murah hati di Lukas 10:25-37, misalnya, menggambarkan seorang Samaria yang menolong seorang Yahudi yang terluka, meskipun kedua kelompok itu pada saat itu memiliki hubungan yang tegang (konflik-permusuhan).

Selain itu, pengajaran Paulus dalam surat-suratnya juga menekankan pentingnya perdamaian, kesatuan, dan kerukunan antarindividu dari berbagai latar belakang dan keyakinan. Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus menulis, ” Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih,  sebagai pengikat yang mempersatukan  dan menyempurnakan (Kolose 3:14).

Pandangan Kristen tentang kerukunan dengan umat beragama lain juga melibatkan dialog antaragama yang tulus dan saling menghormati. Ini mencakup mendengarkan dengan teliti, berbagi pemahaman tentang keyakinan masing-masing, dan mencari titik persamaan serta kesempatan untuk bekerja sama dalam hal-hal yang bersifat positif, seperti penyelesaian konflik, pemberdayaan masyarakat, dan memajukan perdamaian. Dengan demikian, pandangan Kristen tentang kerukunan dengan umat beragama lain memandang sesama sebagai saudara sesama manusa dalam penciptaan Allah (saudara dalam kemanusiaan) yang patut dihormati, dicintai, dan dibantu. Ini mencerminkan ajaran Yesus Kristus untuk mngasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Matius 22:37-39). Dengan demikian, kerukunan antarumat beragama dapat terwujud ketika individu-individu mempraktikkan kasih agave dan menghormati nilai-nilai serta keyakinan yang berbeda dalam semangat saling menghormati dan kerja sama yang tulus.

V. Langkah Dalam Menciptakan Kerukunan Umat Beragama Dalam Pandangan Kristen

            Lalu apa yang harus kita lakukan?

1. Moderasi beragama sebagai langkah mengenal agama lain dan mengasihi mereka

            Moderasi beragama memiliki arti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan moral dan watak sebagai ekspresi sikap keagamaan individu atau kelompok tertentu di tengah keberagaman dan kebhinekaan fakta sosial yang melingkupi kita. Agama tentu tidak dapat dimoderasikan karena sudah menjadi ketetapan dari Tuhan, tetapi kita memoderasikan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang kita peluk sesuai dengan kondisi dan situasi sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran agama.  Terdapat empat indikator moderasi beragama, yaitu toleransi, anti kekerasan, penerimaan terhadap tradisi, dan komitmen kebangsaan. Apabila empat indikator tersebut terpenuhi, kehidupan beragama dan berbangsa yang harmonis, damai, dan toleran menuju hubungan antar umat yang kuat.

Tiap agama selalu berusaha untuk menjaga kedamaian, toleransi serta kerukunan antar umat beragama melalui dialog-dialog dan kerjasama antar agama. Akan tetapi terkhusus mengenai hubungan (dialog) antar agama, dikalangan umat Kristen ada saja selalu muncul polemik antara menerima atau tidak menerima keberadaan agama lain. Orang-orang Kristen masih selalu saja bertanya kepada dirinya tentang bagaimana seharusnya sikap yang diambil terhadap hal tersebut. Disamping itu, orang-orang Kristen juga dibingungkan oleh pernyataan (yang menjadi salah satu dasar penerimaan terhadap agama lain) yang mengatakan bahwa, “Setiap agama benar adanya”. Hal ini kemudian menyebabkan orang Kristen kembali mempertanyakan kebenaran agama Kristen, “Apakah kebenaran agama Kristen sama seperti kebenaran agama lainnya?”. Pada masa sekarang ini ada saja  orang-orang Kristen yang masih kurang memahami kebenaran agama Kristen yang dianutnya sekaligus juga kurang memahami dasar (ajaran dogmatis) bagi diri mereka sendiri untuk menyikapi keberadaan agama lain.

            Alkitab menegaskan bahwa Allah itu esa (bnd. Yes 45 : 5 ; 46 : 9 ; Mark 12 : 29). Memang kalau dilihat dari pemahaman agama lain, mungkin mereka tidak menerima Allah dari setiap agama satu (esa). Tetapi yang jelas Alkitab mengatakan bahwa Allah itu adalah esa. Dengan demikian perlu pengkajian lebih lanjut tentang keesaan Allah itu. Untuk itu penjelasan tentang Allah harus Theosentris. Kemudian pemahaman dalam Theosentris dilanjutkan dengan Theoantroposentris. Pembicaraan tentang Allah dan pembicaraan tentang manusia harus seimbang, sehingga terlihat hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesamanya.

Pengenalan terhadap mereka yang diluar Kristen harus menjadi salah satu pegangan, dimana ketika sudah saling mengenal maka akan bisa melihat bahwa orang yang diluar agama kita sebagai orang yang sudah di mengerti dan akan ada peneriamaan terhadap mereka. Pengenalan dan penerimaan adalah bagian yang penting, yang harus dengan sungguh-sungguh di kerjakan oleh umat Tuhan yang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesamanya, dan ini akan mempererat hubungan antar umat beragama.

2. Membangun sikap Inklusif dan toleransi

Toleransi bukanlah merupakan suatu “semangat untuk bersikap tidak berlebihan” terhadap penganut dan religiusitas agama lain. Toleransi adalah “melatih pengendalian diri” terhadap mereka yang telah mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa iman mereka bukanlah satu-satunya iman, yang mengatakan bahwa fanatisme adalah hal yang buruk, yang mengatakan bahwa kasih adalah satu-satunya. Toleransi tidak boleh disamakan dengan “sikap menyendiri” orang yang rasionalistis (yang berpendapat bahwa dia dapat merasa nyaman dan pada akhirnya berhasil dengan semua agama-agama melalui konsep agama yang benar). Dan juga toleransi tidak boleh disamakan dengan relatifisme dan skeptisime yang “tidak memihak” (yang tidak mempertanyakan kebenaran dan ketidakbenaran dalam fenomena keberagamaan).  Dalam Pemahaman umat Kristen tentang toleransi, hal itu sangat berkaitan dengan kata damai. Karena kata damai secara umum diartikan sebagai keadaan tanpa perang, tanpa kerusuhan, tanpa musuh, rukun dan tentram.

Orang Kristen dapat menunjukkan toleransi terhadap penganut agama lain dengan berbagai cara.

1.      Pertama, mereka dapat mempraktikkan prinsip-prinsip kasih dan pengampunan yang diajarkan oleh Yesus Kristus, dengan menghormati keberadaan dan keyakinan orang lain tanpa menghakimi atau mencoba mengubah mereka.

2.      Kedua, mereka dapat membuka diri untuk memahami keyakinan agama lain melalui dialog dan pembelajaran saling menghormati.

3.      Ketiga, mereka dapat menjalin hubungan yang positif dan kolaboratif dengan komunitas agama lain, bekerja sama dalam proyek-proyek sosial, kemanusiaan, dan perdamaian yang menguntungkan bersama.

4.      Keempat, mereka dapat menghindari diskriminasi dan sikap prejudis terhadap penganut agama lain, serta menjaga sikap yang inklusif dan ramah dalam interaksi sehari-hari.

Dengan demikian, orang Kristen dapat membawa dampak positif dalam mempromosikan kerukunan dan toleransi antarumat beragama, mewujudkan semangat kasih dan perdamaian yang diwarisi dari ajaran Kristus.

3. Pembawa damai (memciptakan harmoni) dan tidak egois

Terkait damai atau harmoni, kata ini berasal dari kata שָׁלוֹם (syalom). Secara harfiah, syalom berarti damai atau keselamatan. Namun, arti kata ini melampaui sekadar ketenangan fisik atau absennya konflik. Syalom juga mencakup konsep keutuhan, keharmonisan, kesejahteraan, dan keberlimpahan. Kata ini menunjukkan hubungan yang baik antara manusia dengan manusia (rekonsiliasi), dan juga manusia dengan Allah. Orang Israel menggambarkan bahwa Syalom merupakan suatu kualitas dari kosmos yang terdapat dalam seluruh dalam seluruh lapangan hidup dan berkaitan dengan kepercayaan terhadap Allah. Syalom itu datang bukan usaha atas usaha manusia tetapi datang dari Tuhan Allah (Im. 26:6; Bil.6:26). Syalom mencakup segala sesuatu yang berupa kebahagiaan manusia seluruhnya dan seutuhnya, baik rohani maupun jasmani, baik perorangan maupun persekutuan. Kata Syalom juga menunjukkan relasi dalam hidup manusia (antar individu, antar keluarga, antar umat dan antar bangsa).

Untuk membuat dan menciptakan damai, tidak cukup hanya dengan dua orang/kelompok yang bertikai. Tugas menciptakan perdamaian melampaui tanggung jawab mendamaikan dua pihak yang berkonflik. Yang dimaksud Yesus dengan pembuat damai adalah orang-orang yang inklusif yang mengasihi sesamanya bahkan musuh sekalipun. Dalam Matius 5:44-48 Yesus mengajarkan agar orang percaya mengasihi musuh karena dengan demikian mereka menjadi anak-anak Allah (Mat.5:9).. Membuat damai dihubungkan dengan karakter moral Allah, yaitu mengasihi semua orang. Orang percaya tidak boleh angkuh (sombong), mereka harus memiliki gaya hidup sederhana. Setiap bentuk yang memberikan petunjuk tentang keangkuhan dan kesombongan haruslah dihilangkan. Sebaliknya orang benar/orang percaya/umat Allah harus dan wajib mempunyai kemampuan untuk  menciptakan damai dan harmoni dengan sikap inklusif kepada semua orang maka akan terwujud pembangunan bangsa yang rukun, baik dan harmonis serta berkelanjutan.

VI. Kesimpulan

          Kerukunan sangat penting dalam konteks Indonesia yang kaya akan keberagaman. Dalam konteks ini, keberagaman dipandang sebagai anugerah Tuhan yang harus disikapi dengan inklusif, menghargai perbedaan, dan semangat untuk hidup rukun. Kerukunan dipandang sebagai kesukaan Allah dalam ajaran agama, khususnya dalam Kekristenan, yang menekankan nilai-nilai seperti kasih, perdamaian, pengampunan, dan keadilan sosial. Pandangan Kristen tentang kerukunan dengan umat beragama lain menekankan pentingnya kasih tanpa pamrih, penghormatan terhadap perbedaan, dan kerja sama dalam menciptakan perdamaian dan kesejahteraan bersama. Ini tercermin dalam ajaran Yesus Kristus untuk mengasihi sesama dan memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Langkah-langkah konkret untuk menciptakan kerukunan antarumat beragama dalam pandangan Kristen termasuk moderasi beragama, membangun sikap inklusif dan toleransi, serta menjadi pembawa damai yang tidak egois. Moderasi beragama melibatkan pengenalan dan penerimaan terhadap agama lain, sementara sikap inklusif dan toleransi melibatkan menghormati keyakinan orang lain dan menjalin hubungan yang positif. Pembawa damai juga harus mengasihi musuh dan berusaha menciptakan damai dengan sikap inklusif kepada semua orang.

Kerukunan antarumat beragama merupakan pondasi yang penting bagi keharmonisan dan kemajuan Indonesia. Dalam konteks Kristen, kerukunan ini tercermin dalam kasih, perdamaian, penghormatan, dan kerja sama untuk menciptakan kesejahteraan bersama. Melalui langkah-langkah konkret seperti moderasi beragama, sikap inklusif, dan menjadi pembawa damai, kerukunan antarumat beragama dapat terwujud sebagai prinsip yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, memperkuat fondasi bagi komunitas yang harmonis dan saling mendukung.

Top of Form

 

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...