Gereja tidak terlepas dari teologi dan taradisi
yang mengitarinya. Teologi di terjemahkan secara sederhana yaitu pengalaman
manusia dengan Allah. Meskipun pada masa kini banyak yang mencoba untuk
menjelaskan defenisi teologi secara etimologi dan ontologis, namun secara umum
teologi terkait dengan perjumpaan manusia dan Allah yang pasti dibingkai dalam
iman. Dalam perjalanan gereja dikemudian hari, timbul yang namanya tradisi
teologi. Tradisi teologi ini merupakan corak pemikiran teologi yang di wariskan
dalam kurun waktu yang lama dalam sebuah komunitas. Hal ini tidak berkembang
sendirian namun dikembangkan oleh banyak pemikiran dan dalam rentang waktu yang
tidak sedikit. Tradisi teologi memainkan peran yang penting dalam pembentukan
corak pemikiran teologis yang di wariskan kepada generasi selanjutnya. Cakupan
dari tradisi teologi ini ada banyak seperti hal yang terkait dengan penafsiran
Alkitab, ajaran, metode teologis,dll. Meskipun tradisi teologi berkembang dan
diwariskan secara turun-temurun, namun ia tidak terlepas dari sumbernya yang
adalah teologi itu sendiri dengan dasarnya adalah Alkitab. Dua hal ini mewarnai
perkembangan gereja dan Kekristenan dalam kurun waktu 2000 tahun lamanya.
Apakah
hal ini adalah hal yang baru? Sesungguhnya tidak. Sejarah Yudaisme menunjukkan
bahwa jauh sebelum Kekristenan ada, sudah ada beragam kelompok yang tumbuh
dalam komunitas Yahudi, dengan pengembangan teologi kelompoknya dan juga
tradisi kelompok tersebut yang di tutunkan kepada generasi selanjutnya dalam
komunitas tersebut. Sebagai contoh, antara abad 2 SM-1 M, ada kelompok Qumran
(Esseni), Farisi, Saduki, Zelotes, dll. Kelompok ini mengembangkan teologi dari
Alkitab Ibrani (Hebrew Bible) dan juga tradisi yang berasal dari guru atau
pemimpin kelompok tersebut.
Lalu
hal ini kemudian oleh gereja (ekklesia) dikembangkan sehingga corak teologi dari
pengembangan teologi Kristen pada masa gereja mula-mula menjadi warisan yang di
teruskan kepada orang Kristen di segala zaman. Salah satu contohnya adalah Sakramen
(Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus). Sejarah gereja mula-mula dalam Kisah Para
Rasul mencatat bahwa ketika orang-orang Kristen berkumpul mereka beribadah dan
kemudian melakukan Perjamuan Kudus. Demikian juga ketika ada yang hendak
menjadi orang Kristen maka setelah ia di didik dengan Firman Tuhan dan
pengajaran para rasul, maka ia kemudian di Baptis. Oleh gereja yang berkembang
di kemudian hari, hal ini di masukkan ke
dalam liturgi gereja sehingga Sakramen yang 2 ini masuk dalam rangkaian
peribadahan.
Sampai
nantinya di abad Pertengahan (dimulai dari abad 4 M) terjadi perkembangan
signifikan terhadapa perkembangan Kekristenan dan gereja, maka dimulailah
secara massif pengembangan teologi dan
tradisi gereja. Namun sepertinya dalam perjalanan sejarah gereja, terjadi
pembakuan tradisi teologi oleh gereja dan ini sepertinya di dorong oleh alasan
politis untuk menyatukan peribadahan di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi. Memang
diakui bahwa pada masa itu gereja dan negara menyatu. Sehingga kontrol Kaisar
Konstantinus dan kaisar berikutnya terhadap gereja sangat kuat. Belum lagi pada
masa itu, hal-hal yang di sampaikan oleh para Paus dan Uskup seperti menjadi
sebuah ketentuan baku sehingga harus di jalankan. Ajaran gereja (Katolik)
tentang otoritas Paus membuat banyak tradisi gereja menjadi seolah sejajar
dengan sumber teologi itu sendiri yaitu Alkitab. Seolah tradisi itu datang dari
surga dan dianggap sebagai pengejawantahan Alkitab.
Hal ini
dikemudian mendapatkan penentangan oleh Martin Luther sang Proklamator
Protestantisme. Luther mengingatkan gereja Katolik pada waktu itu untuk tidak
kaku dengan tradisi teologi gereja (tradisi gereja). Gereja harus kembali ke
dasar yang utama yaitu Alkitab sebab Alkitab adalah dasar teologi Kekristenan. Seruan
Sola Skriptura mengubah pandangan
para pengikut Luther untuk setia kepada Firman Allah yang dituangkan dalam
Alkitab dan teologi yang di bangun dari Alkitab. Tradisi Teologi dapat di
kembangkan, di perbaiki bahkan di modifikasi sesuai dengan perkembangan umat
dan juga zaman, namun dalam kadar yang tepat.
Belakangan
kitik Luther kepada Paus dan gereja Katolik pada abad ke-16 M menimbulkan
perpecahan dalam tubuh Katolik. Semula Luther hanya hendak mereformasi gereja
Katolik agar mau membaharui diri kembali ke yang seharusnya. Perkataan
Luther ”ekklesia reformata semper
reformanda” dikemudian hari ternyata menjadi semangat yang kuat bagi para
pengikutnya untuk menata ulang gereja sesuai dengan tuntunan Kristus sang
kepala gereja. Para pengikut Luther dikemudian hari menamakan dirinya menjadi
Lutheran, dengan menggunakan nama Luther sebagai pemimpinnya. Luther sendiri
menolak digunakannya namanya untuk menjadi sebuah kelompok yang mereformasi
gereja, namun pengikutnya bersikeras menggunakan nama ini. Belakangan meluasnya
semangat Luther dan para pengikutnya untuk membaharui gereja, menyebarkan api
reformasi ke berbagai wilayah di Eropa. Muncullaah tokoh reformasi lain dengan
pengembangan teologi, untuk mengembalikan ajaran gereja atau teologi sesuai
dengan Alkitab.
Luther
dikemudian hari merumuskan ajarannya dan akhirnya di kenal dengan teologi
Luther. Adapun teologi Luther seperti ajaran tentang Sola, 95 Dalil, 2
Kerajaan, Teologia Crusis, Katekhismus Kecil dan Besar, Sakramen, Baptisan, dll.
Para pengikut Luther yang menyebut dirinya dengan Lutheran, kemudian merumuskan
teologi yang dikembangkan dari teologi Luther. Dikemudian hari hal ini disebut
dengan teologi Lutheran. Teologi Lutheran salah satunya adalah konfessi
Augsburg. Itu sebabnya nanti gereja-gereja yang menyebut dirinya Lutheran,
mereka menggunakan Konfessi Augsburg sebagai ajaran disamping teologi Luther
yang diajarkan.
Tidak
hanya berhenti disana, teologi Lutheran berkembang dalam beragam konteks
geografis dan budaya. Hal ini nantinya akan menimbulkan dorongan
untuk di berlakukannya implementasi dari teologi Luther dan Lutheran tersebut. Hal
ini disebut dengan tradisi Lutheran. Teologi Lutheran yang menjadi fondasi
ajaran gereja sedangkan tradisi Lutheran merujuk pada bagaimana
pengimplementasian ajaran itu dalam kehidupan gereja sehari-hari. Tradisi
Lutheran merujuk pada cara beribadah, praktik gereja, kebiasaan dalam gereja-gereja
Lutheran, liturgi, struktur gereja, pola ibadah, musik gereja, dll.
Tradisi Lutheran tidaklah sama suatu
negara/kawasan dengan wilayah lain. Sebagai contoh, ada perbedaan antara
tradisi Lutheran di Jerman, Skandinavia dan Amerika Utara. Tradisi Lutheran
bisa saja berbeda satu wilayah dengan wilayah lainnya. Juga bisa saja berbeda
dari satu zaman ke zaman lainnya. Agaknya sedikit terlalu kaku bila gereja di
masa sekarang bila hendak melakukan tradisi Lutheran seperti zaman Luther di
abad 16 M. Tradisi Lutheran sesungguhnya mencakup banyak aspek praktis gereja,
sebab ia berakar dalam teologi Lutheran. Namun tradisi Lutheran dapat di
perbaharui sesuai dengan geografis dan budaya yang berkembang, walau tidak
boleh terlalu jauh dari Alkitab, teologi Luther dan teologi Lutheran. Tradisi
Lutheran dapat di modifikasi dalam beberapa hal. Tradisi Lutheran dapat
dimodifikasi dalam beberapa hal dan bagian, dan dalam proses ini dipandu oleh
pertimbangan teologis, sejarah gereja dan konsensus antara para pendeta dengan
jemaat (di sinode). Meski demikian dalam prosesnya, tradisi teologi Lutheran
yang hendak di modifikasi tidak boleh terlalu kaku maupun terlalu liar.
Beberapa contoh modifikasi tradisi Lutheran:
1.
Liturgi
Gereja-gereja Lutheran banyak mengikuti
liturgi yang terstandar dan dianggap sudah baku dan benar. Namun sesungguhnya
karena ini adalah tradisi Lutheran, maka tidaklah salah bila ada sejumlah
modifikasi yang dilakukan. Pada masa kini, ada juga gereja yang bergerak dan
memodifikasi urutan ibadah, pemilihan bacaan doa yang beragam dan juga bacaan
ayat Alkitab dengan tujuan menyesuaikan dengan konteks gereja lokal atau
kehidupan jemaat. Anehnya pada masa kini justru timbul kekakuan dalam gereja
arus utama, dengan dalih ketika hal ini dimodifikasi maka sudah merusak teologi
Luther atau teologi Lutheran. Hal ini adalah dua hal yang berbeda. Praktik dari
Liturgi memang pengimplementasian teologi Lutheran, namun bukan berarti ketika
itu di modifikasi sudah merusak total Teologi Lutheran. Teologi Lutheran adalah
ajaran atau dogma, sedangkan tradisi Lutheran adalah pengimplementasian teologi
yang sesungguhnya dapat di baharui sesuai dengan konteks dimana gereja berada.
Walau hal ini tidak dapat di ganggu dan dirubah sembarangan. Ada alasan yang
kuat dan dasar dapat di pertahankan dan di pertanggungjawabkan.
2.
Musik dan Nyanyian gereja
Sejak semula Luther hanya hendak mereformasi
Katolik, namun setelah terjadi perdebatan panjang pasca 95 dalil yang di
pakukan di gereja Wittenberg 31 Oktober 1517, perlahan terjadi pemisahan
Katolik dengan para Pengikut Luther dan mereka juga disebut dengan kaum
Protestantisme atau orang Protestan. Agama baru akhirnya muncul sebagai bagian
dari reformasi dogma oleh Luther dan kawan-kawan. Pasca pemisahan ini, ada
beragam tradisi Katolik yang tidak sepenuhnya dirubah, salah satunya adalah
nyanyian dan musik. Pengaruh dari musik dan nyanyian Katolik masih kental di
gereja-gereja Lutheran pada masa itu, meskipun dorongan Luther dikemudian hari
kepada para pendeta untuk menciptakan nyanyian baru dalam bingkai semangat
reformasi. Tradisi musik gereja beragam mulai dari Hymne tradisional hingga
musik kontemporer. Gereja juga tidak bisa terlalu kaku dengan hal ini. Memasuki
abad 21 M, penggunaan musik modern dan ritme kontemporer sudah mulai terjadi di
gereja, secara khusus di perkotaan/wilayah urban. Beberapa gereja memilih
mengintegrasikan gaya musik yang berbeda sesuai dengan kebutuhan jemaat. Memodifikasi
ini tidaklah merubah ajaran.
3.
kebiasaan beribadah
Praktik-praktik penatalayanan Sakramen,
penampilan liturgis dan partisipasi jemaat dalam ibadah dapat di kembangkan dan
di perbaharui sesuai dengan konteks dan kebutuhan lokal. Perubahan atau
modifikasi ini bila dirasa perlu untuk di perbaharui maka hal tersebut sash-sah
saja, sebab hal di perbaharui adalah tradisi Lutherannya bukan teologi Lutheran
itu sendiri. Gereja harus lebih terbuka terhadap hal ini dengan melihat
perkembangan dunia dan konteks dimana gereja berada pada masa kini.