Yunani merupakan bangsa yang sudah lama ada. Diketahui bahwa bangsa ini sudah ada sejak orang-orang Israel keluar dari tanah Mesir. Sebelumnya, kontak pertama antara orang-orang Yunani dengan orang Israel telah berlangsung semenjak bangsa Israel mulai menetap di Kanaan dan telah berlangsung hubungan keniagaan. Tentara-tentara Yunani juga dipergunakan sebagai tentara bayaran dalam angkatan perang Mesir maupun Babilonia sehingga melalui kedua bangsa tersebut, bangsa Israel juga telah berkenalan dengan orang Yunani. Akan tetapi perjumpaan antara bangsa Yunani dan Yahudi terjadi pada akhir abad keempat sebelum masehi (abad IV sM).
Pada awal
tahun 301 sM terdapat lima wilayah pemerintahan yaitu Makedonia, Trasia, Asia
kecil bersama Fenesia, Mesir bersama Palestina, dan Babilonia. Setelah
Alexander meninggal, maka terjadi perang saudara antara jenderal-jenderal
Alexander. Mereka berusaha mempertahankan wilayah mereka masing-masing. Yang
berkuasa di Mesir adalah Jenderal Plotomeus. Pada tahun 281 sM, jenderal
Seleukus yang memerintah Babilonia.
Oleh karena
itu, tinggallah tiga wilayah Yunani yang masih bertahan yakni Makedonia, yang
diperintah oleh Antigonus, Mesir yang diperintah oleh Plotomeus dan sisa
wilayah kerajaan Alexander yang beribukota Antiokhia oleh wangsa Seleukus. Pada dasarnya, ketiga kerajaan
Yunani ini bertahan sampai awal abad II sM. Akan tetapi raja Antiokhus III dari
bangsa Seleukus memberikan perlindungan kepada Hanibal yang juga dikalahkan
bangsa Romawi. Raja Antiokhus III mencoba merebut daratan Yunani, namun ia
dipukul mundur oleh bangsa Romawi.
1. Yehuda di bawah permerintahan bangsa
Ptolomeus
Setelah kematian Alexander,
wilayahnya yang ia perluas selama pemerintahannya harus menjadi suatu kerajaan
kecil sebagaimana kita mengetahui bahwa wilayah yang sudah menjadi kecil itu
dibagi oleh para prajuritnya. Hal ini dilakukan berdasarkan atas kekuasaan atas
wilayahnya.
Yehuda pada pemerintahan
bangsa Ptolomeus ini sebenarnya berada pada witayah bangsa Mesir. Ptolomeus
mempunyai daerah kekusaannya yang terdiri dari Mesir bersama dengan Palestina,
Babilonia. Ptolomeus memerintah Mesir pada masa ketika Yunani masih kerajaan
kuat yang menentukan perkembangan dunia pada masa itu. Pada masa pemerintahan
Ptolomeus, ia berusaha mengatur tanpa campur tangan dari para jenderal yang
lain.
Akan tetapi kemudian timbul
peperangan antara para jenderal yang lain itu, yang cukup lama. Akhirnya pada
tahun 281 sM jenderal Seleukus yang memerintah Babilonia. Dari sini kita
mengetahui bahwa Ptolomeus kehilangan daerahnya. Pada tahun yang sama jenderal
Seleukus meninggal akibat terbunuh dan Makedonia dapat dengan segera
membebaskan diri dari kekuasaan pengganti Seleukus.
Bangsa Ptolomeus memerintah
selama 125 tahun dan kehidupannnya berlangsung dengan aman. Imam besar masih
memegang kepemimpinan atas seluruh bangsa Yahudi. Tidak hanya masalah keagamaan
namun juga masalah politik. Walaupun demikian ia merupakan seorang pejabat yang
harus bertanggungjawab kepada bangsa Ptolomeus tentang segala hal yang terjadi
di Yehuda.
Perkembangan penting bagi
orang-orang Yahudi pada periode ini ialah timbulnya suatu paguyuban Yahudi yang
kuat di kota Alexandria mengakui buah-buah pikiran dan kebudayaan Yunani
sebagai hal yang tinggi nilainya. Oleh karena itu, mereka belajar agar dapat
menggunakannya. Satu hal yang tidak baik dari bangsa Yahudi adalah mereka
dengan mudah melupakan bahasa dan tulisan yang ada di tanah air mereka, dan
sebagai gantinya mereka menggunakan bahasa Yunani dalam kesehariaannya.
Dari keterangan ini, jelaslah
tampak bahwa mereka segera mengalami kesulitan untuk mempertahankan warisan
sejarah dan iman mereka sebagai orang Yahudi karena buku keagamaan yang menjadi
Kitab Suci mereka masih tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa yang tidak
dimengerti lagi oleh seorang Yahudi pada kota itu.
Untuk itu disadari bahwasannya
perlu sekali terjemahan dari kitab Taurat Musa dalam bahasa Yunani. Dan yang
paling menonjol adalah kitab Perjanjian Lama berhasil diterjemahkan ke dalam
bahasa Yunani. Dan dalam terjemahan itu ditambahkan pula kepada PL berbahasa
Yunani. Perjanjian Lama berbahasa Yunani ini disebut dengan Septuaginta, karena
diterjemahkan oleh 72 orang ahli Yahudi di kota Alexandria. Dalam pengetahuan
kita mengenai bangsa Yahudi pada zaman Yunani justru berasal dari laporan
maupun kesaksian yang terdapat pada kitab Apokrif.
2. Yehuda di bawah bangsa Seleukus
Sama halnya dengan Ptolomeus,
Seleuka berasal dari kata Seleucus, adalah sama-sama perwira kaisar Alexander
yang Agung. Pada tahun 312 sM, seleukus mengangkat dirinya menjadi raja atas
wilayah bagian timur kekaisaran Alexander yang Agung. Kita telah mengetahui
bahwa pada tahun 281 sM, Seleukus berhasil mengalahkan para jenderal saingannya
yang lain, kecuali jenderal Ptolomeus yang berkuasa di Mesir. Akan tetapi pada
tahun 198 sM, Antiokhus III dari bangsa Seleukus memperoleh kemenangan atas
bangsa Mesir dan mengambil alih kekuasaan atas Palestina sehingga wilayah
Palestina berada di tangan Seleuka.
Bangsa Yahudi pada
pemerintahan Ptolomeus sudah terpengaruh oleh Hellenistis yang didasarkan pada
kehidupan kota. Pada pemerintahan bangsa Seleuka, mereka memandang bahwa bangsa
Yahudi tidak terlalu membahayakan, sehingga
keturunan Seleuka tidak memperlakukan mereka dengan jahat. Bahkan raja
Antiokhus III berjanji untuk memperbaiki kota Yerusalem yang rusak, membantu
memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk persembahan di Bait Allah dan
melakukan penghapusan pajak-pajak.
Akan tetapi setelah raja
Antiokhus III menderita kekalahan dalam peperangan melawan bangsa Romawi, ia
mulai menuntut lebih banyak dari bangsa Yahudi. Pada saat pemerintahan Raja
Antiokhus III berakhir, pemerintahan berikutnya, yaitu raja Seleukus IV (Tahun
187-175 sM). Dia berusaha untuk menolong bangsa Yahudi (2 Mak 3:3). Akan
tetrapi ternyata Seleukus IV tergoda untuk menggunakan sejumlah besar uang
simpanan Bait Allah untuk kepentingan sendiri.
Masa yang terburuk bagi
orang-orang Yahudi pada periode ini adalah masa pemerintahan Antiokhus IV
(175-163 sM). Ia memakai gelar Epifanes yang merupakan penampakan Allah secara
jasmani. Yason saudara dari imam besar Onias membangun gelanggang olahraga yang
berhubungan dengan pemujaan dewa Zeus di Yerusalem dan ia mengizinkan para imam
untuk menyelenggarakan peribadatan kafir. dan selanjutnya Yason digantikan oleh
Manelaus yang diangkat oleh Antiokhus IV sebagai imam besar. Namun, dia pun
melakukan kesalahan dalam jabatannya dan dia merampok perbendaharaan Bait
Allah. Antiokhus IV mengirim Apolonius yang menghancurkan kota
Yerusalem,merobohkan tembok-temboknya dan mendirikan satu batalion tentara yang
tetap menduduki Yerusalem sampai tahun 142 sM.
Tindakan Antiokhus IV
selanjutnya sangat kejam dimana dia menginginkan Yahudi meninggalkan adat dan
kebiasaan seperti mempersembahkan korban persembahan di tempat suci, menyucikan
hari sabbat, membangun Bait Suci, menyunat anak laki-laki mereka. Antiokhus IV
ingin bangsa Yahudi berbalik dan menentang itu semua. Dia berprinsip jika
Yahudi dipaksa untuk menerima kebudayaan Yunani maka dengan sendirinya mereka
akan tunduk serta mendukung pemerintahan Yunani. Untuk itu, Bait Allah
benar-benar dinodai atau dinajiskan dengan mendirikannya sebuah patung berhala
di atas mezbah persembahan. Antiokhus IV terus melakukan kehendaknya atas
Yunani dan tidak memperdulikan hati dan perasaan bangsa Yahudi.
3. Timbulnya perlawanan terhadap Hellenisme
oleh kelompok Makabeus.
Secara
menyeluruh ada beberapa reaksi yang berbeda-beda dari masyarakat Yahudi
terhadap proses Hellenisme itu. Ada kelompok Yahudi yang secara positif
menyambut Hellenisasi itu diantara mereka itu ada juga para imam Yahudi yang mendukung ketegasan kebijaksanaan
Antiokhus IV. Imam-imam besar Yason, Menelaus dan Alkimus adalah mereka dengan senang hati memasukkannya. Di
samping itu, ada sekelompok orang Yahudi yang sangat tegas menentang
Hellenisasi ini. Kelompok yang menentang tersebut kelompok Hasidim artinya
kelompok ‘saleh’ yang dengan kekuatan mereka menentang keyunaniannya yang
memang bertentangan dengan imam dan agama Yahudi.
Dan kelompok
Hasidim ini ada yang menggabungkan diri dengan kelompok Makkabeus yang militan.
Reaksi dan perlawanan yang paling keras terhadap kebijaksanaan Antiokhus IV
datang dari kelompok yang dipimpin oleh Matathias yaitu orang dari Modein.
Matathias mempunyai anak yang bernama Yudas Makkabeus. Nama Makkabeus dipakai
untuk menyebut kelompok yang sangat militan itu. Nama Makkabeus dalam bahasa
Ibrani berarti Palu. Pada tahun 166 sM, penduduk Modein, dipaksa untuk
mempersembahkan persembahan kepada dewa-dewi Yunani.
Atas dasar
inilah kelompok Makkabeus semakin tidak senang. Mereka akan membunuh setiap
orang yang melaksanakan perintah tersebut dan juga akan membunuh setiap orang
yang datang yaitu utusan raja yang memaksa hal tersebut. Mereka melakukan
perlawanan yang sangat hebat. Matathias lalu merobohkan mezbah dan bersama
banyak pengikut melarikan diri ke bukit-bukit. Mereka selalu menghendaki adanya
kebenaran dan keadilan. Pada saat itu juga pada suatu hari sabbat mereka
diserang oleh tentara raja. Mereka memilih mati daripada melanggar hukum Tuhan.
Namun, sejak peristiwa itu muncullah suatu perubahan kecil dalam hukum hari
sabbat, yaitu bahwa hari sabbat orang Yahudi diperkenankan untuk mengadakan
perlawanan dalam rangka pembelaan diri.
Dan kemudian
semakin banyaklah orang Hasidim yang bergabung dengan kelompok Matatous itu.
Dalam penggabungan itu, mereka membentuk tentara, mereka menghancurkan
mezbah-mezbah berhala, melakukan sunat dan melawan orang-orang Yahudi yang
memihak Hellenisme. Dan juga mereka menganiaya orang Yunani asli.
Matathias
meninggal dan digantikan oleh anaknya Yudas Makkabeus. Dan sejak saat itu
kelompok ini disebut kelompok Makkabeus. Adapun tujuan dari perlawanan
Makkabeus adalah:
·
Memperoleh
kembali kebebasan untuk menaati hukum-hukum Yahudi.
·
Menguasai
dan menyucikan Bait Allah.
Tujuan
itu berhasil dengan perjuangan berat pada tahun 166-165 sM. Dari keberhasilan
itu, mezbah baru didirikan dan merekapun menentukan hari perayaan syukur kepada
Tuhan Allah. Mereka membangun tembok keliling Bait Allah dan menempatkan
penjaga-penjaga disana. Banyak hal yang dilakukan Makkabeus dalam usaha
perlawanannya. Mereka berusaha untuk membantu orang-orang Yahudi yang tinggal di tengah-tengah masyarakat
Yunani / non Yunani. Sebagaimana kita mengetahui bahwa Alkimus juga salah
seorang yang sangat pro dengan Hellenisasi itu berusaha menyenangkan kelompok
Hasidim. Namun, kelompok Makkabeus segera menentangnya dan berhasil mengalahkan
tentara Syria yang datang membantu Alkimus di Adasa. Dan hari kemenangan itu
selalu diperingati dan dirayakan oleh kelompok Makkabeus.
Akan
tetapi Yudas Makkabeus berhasil dibunuh oleh tentara Syria dan menduduki
wilayah Yudea. Kelompok Makkabeus melarikan diri ke padang gurun. Di sana
mereka mengatur diri di bawah pimpinan Yonatan Makkabeus, adik Yudas Makkabeus.
Kelompok Makkabeus memperoleh kekuasaan untuk mengatur kehidupan bangsa Yahudi.
Yohanes Hirkanus, kemenakan laki-laki dari Yudas Makkabeus yang menyandang
gelar ‘raja’ atas negeri Yehuda. Ia memperluas wilayah kekuasaannya dengan
menaklukkan negeri-negeri yang tidak mau mengakui kekuasaan kerajaan Yahudi di
bawah bangsa Makkabe.
Dan
setelah raja mangkat, dua orang anaknya secara berurutan menggantikannya. Kedua
anak itu adalah Aristobulus I dan Alexander Yeneus. Yang pertama raja adalah
Aristobulus I dan ketika ia mangkat lalu ia digantikan oleh Alexander Yeneus.
Pada dasarnya, peristiwa-peristiwa tersebut diatas mempunyai tujuan-tujuan
tersendiri melalui kelompok-kelompok tersebut. Kelompok Hasidim menginginkan
kebebasan agama. Para pendukung Hellenisasipun tidak dapat merasakan keamanan
karena kelompok Makkabeus sewaktu-waktu dapat menyerang mereka dari padang
gurun. Akhirnya kelompok Makkabeus tinggal di Mikhmash yaitu sebuh benteng yang
kuat di sebelah timur kota Yerusalem. Yonatan memimpin kelompoknya dan
melakukan tugasnya. Ia menjadi pemimpin militer, agama dan sekaligus politik,
sehingga kelompok Makkabeus memperoleh kemenangan yang gemilang.