Selasa, 23 April 2024

Yehuda Pada Masa Pemerintahan Bangsa Yunani



 

Yunani merupakan bangsa yang sudah lama ada. Diketahui bahwa bangsa ini sudah ada sejak orang-orang Israel keluar dari tanah Mesir. Sebelumnya, kontak pertama antara orang-orang Yunani dengan orang Israel telah berlangsung semenjak bangsa Israel mulai menetap di Kanaan dan telah berlangsung hubungan keniagaan. Tentara-tentara Yunani juga dipergunakan sebagai tentara bayaran dalam angkatan perang Mesir maupun Babilonia sehingga melalui kedua bangsa tersebut, bangsa Israel juga telah berkenalan dengan orang Yunani. Akan tetapi perjumpaan antara bangsa Yunani dan Yahudi terjadi pada akhir abad keempat sebelum masehi (abad IV sM).

Pada awal tahun 301 sM terdapat lima wilayah pemerintahan yaitu Makedonia, Trasia, Asia kecil bersama Fenesia, Mesir bersama Palestina, dan Babilonia. Setelah Alexander meninggal, maka terjadi perang saudara antara jenderal-jenderal Alexander. Mereka berusaha mempertahankan wilayah mereka masing-masing. Yang berkuasa di Mesir adalah Jenderal Plotomeus. Pada tahun 281 sM, jenderal Seleukus yang memerintah Babilonia.

Oleh karena itu, tinggallah tiga wilayah Yunani yang masih bertahan yakni Makedonia, yang diperintah oleh Antigonus, Mesir yang diperintah oleh Plotomeus dan sisa wilayah kerajaan Alexander yang beribukota Antiokhia oleh wangsa Seleukus. Pada dasarnya, ketiga kerajaan Yunani ini bertahan sampai awal abad II sM. Akan tetapi raja Antiokhus III dari bangsa Seleukus memberikan perlindungan kepada Hanibal yang juga dikalahkan bangsa Romawi. Raja Antiokhus III mencoba merebut daratan Yunani, namun ia dipukul mundur oleh bangsa Romawi.

1.      Yehuda di bawah permerintahan bangsa Ptolomeus

Setelah kematian Alexander, wilayahnya yang ia perluas selama pemerintahannya harus menjadi suatu kerajaan kecil sebagaimana kita mengetahui bahwa wilayah yang sudah menjadi kecil itu dibagi oleh para prajuritnya. Hal ini dilakukan berdasarkan atas kekuasaan atas wilayahnya.

Yehuda pada pemerintahan bangsa Ptolomeus ini sebenarnya berada pada witayah bangsa Mesir. Ptolomeus mempunyai daerah kekusaannya yang terdiri dari Mesir bersama dengan Palestina, Babilonia. Ptolomeus memerintah Mesir pada masa ketika Yunani masih kerajaan kuat yang menentukan perkembangan dunia pada masa itu. Pada masa pemerintahan Ptolomeus, ia berusaha mengatur tanpa campur tangan dari para jenderal yang lain.

Akan tetapi kemudian timbul peperangan antara para jenderal yang lain itu, yang cukup lama. Akhirnya pada tahun 281 sM jenderal Seleukus yang memerintah Babilonia. Dari sini kita mengetahui bahwa Ptolomeus kehilangan daerahnya. Pada tahun yang sama jenderal Seleukus meninggal akibat terbunuh dan Makedonia dapat dengan segera membebaskan diri dari kekuasaan pengganti Seleukus.

Bangsa Ptolomeus memerintah selama 125 tahun dan kehidupannnya berlangsung dengan aman. Imam besar masih memegang kepemimpinan atas seluruh bangsa Yahudi. Tidak hanya masalah keagamaan namun juga masalah politik. Walaupun demikian ia merupakan seorang pejabat yang harus bertanggungjawab kepada bangsa Ptolomeus tentang segala hal yang terjadi di Yehuda.

Perkembangan penting bagi orang-orang Yahudi pada periode ini ialah timbulnya suatu paguyuban Yahudi yang kuat di kota Alexandria mengakui buah-buah pikiran dan kebudayaan Yunani sebagai hal yang tinggi nilainya. Oleh karena itu, mereka belajar agar dapat menggunakannya. Satu hal yang tidak baik dari bangsa Yahudi adalah mereka dengan mudah melupakan bahasa dan tulisan yang ada di tanah air mereka, dan sebagai gantinya mereka menggunakan bahasa Yunani dalam kesehariaannya.

Dari keterangan ini, jelaslah tampak bahwa mereka segera mengalami kesulitan untuk mempertahankan warisan sejarah dan iman mereka sebagai orang Yahudi karena buku keagamaan yang menjadi Kitab Suci mereka masih tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa yang tidak dimengerti lagi oleh seorang Yahudi pada kota itu.

Untuk itu disadari bahwasannya perlu sekali terjemahan dari kitab Taurat Musa dalam bahasa Yunani. Dan yang paling menonjol adalah kitab Perjanjian Lama berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Dan dalam terjemahan itu ditambahkan pula kepada PL berbahasa Yunani. Perjanjian Lama berbahasa Yunani ini disebut dengan Septuaginta, karena diterjemahkan oleh 72 orang ahli Yahudi di kota Alexandria. Dalam pengetahuan kita mengenai bangsa Yahudi pada zaman Yunani justru berasal dari laporan maupun kesaksian yang terdapat pada kitab Apokrif.

2.      Yehuda di bawah bangsa Seleukus

Sama halnya dengan Ptolomeus, Seleuka berasal dari kata Seleucus, adalah sama-sama perwira kaisar Alexander yang Agung. Pada tahun 312 sM, seleukus mengangkat dirinya menjadi raja atas wilayah bagian timur kekaisaran Alexander yang Agung. Kita telah mengetahui bahwa pada tahun 281 sM, Seleukus berhasil mengalahkan para jenderal saingannya yang lain, kecuali jenderal Ptolomeus yang berkuasa di Mesir. Akan tetapi pada tahun 198 sM, Antiokhus III dari bangsa Seleukus memperoleh kemenangan atas bangsa Mesir dan mengambil alih kekuasaan atas Palestina sehingga wilayah Palestina berada di tangan Seleuka.

Bangsa Yahudi pada pemerintahan Ptolomeus sudah terpengaruh oleh Hellenistis yang didasarkan pada kehidupan kota. Pada pemerintahan bangsa Seleuka, mereka memandang bahwa bangsa Yahudi tidak terlalu membahayakan,  sehingga keturunan Seleuka tidak memperlakukan mereka dengan jahat. Bahkan raja Antiokhus III berjanji untuk memperbaiki kota Yerusalem yang rusak, membantu memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk persembahan di Bait Allah dan melakukan penghapusan pajak-pajak.

Akan tetapi setelah raja Antiokhus III menderita kekalahan dalam peperangan melawan bangsa Romawi, ia mulai menuntut lebih banyak dari bangsa Yahudi. Pada saat pemerintahan Raja Antiokhus III berakhir, pemerintahan berikutnya, yaitu raja Seleukus IV (Tahun 187-175 sM). Dia berusaha untuk menolong bangsa Yahudi (2 Mak 3:3). Akan tetrapi ternyata Seleukus IV tergoda untuk menggunakan sejumlah besar uang simpanan Bait Allah untuk kepentingan sendiri.

Masa yang terburuk bagi orang-orang Yahudi pada periode ini adalah masa pemerintahan Antiokhus IV (175-163 sM). Ia memakai gelar Epifanes yang merupakan penampakan Allah secara jasmani. Yason saudara dari imam besar Onias membangun gelanggang olahraga yang berhubungan dengan pemujaan dewa Zeus di Yerusalem dan ia mengizinkan para imam untuk menyelenggarakan peribadatan kafir. dan selanjutnya Yason digantikan oleh Manelaus yang diangkat oleh Antiokhus IV sebagai imam besar. Namun, dia pun melakukan kesalahan dalam jabatannya dan dia merampok perbendaharaan Bait Allah. Antiokhus IV mengirim Apolonius yang menghancurkan kota Yerusalem,merobohkan tembok-temboknya dan mendirikan satu batalion tentara yang tetap menduduki Yerusalem sampai tahun 142 sM.

Tindakan Antiokhus IV selanjutnya sangat kejam dimana dia menginginkan Yahudi meninggalkan adat dan kebiasaan seperti mempersembahkan korban persembahan di tempat suci, menyucikan hari sabbat, membangun Bait Suci, menyunat anak laki-laki mereka. Antiokhus IV ingin bangsa Yahudi berbalik dan menentang itu semua. Dia berprinsip jika Yahudi dipaksa untuk menerima kebudayaan Yunani maka dengan sendirinya mereka akan tunduk serta mendukung pemerintahan Yunani. Untuk itu, Bait Allah benar-benar dinodai atau dinajiskan dengan mendirikannya sebuah patung berhala di atas mezbah persembahan. Antiokhus IV terus melakukan kehendaknya atas Yunani dan tidak memperdulikan hati dan perasaan bangsa Yahudi.

3.      Timbulnya perlawanan terhadap Hellenisme oleh kelompok Makabeus.

Secara menyeluruh ada beberapa reaksi yang berbeda-beda dari masyarakat Yahudi terhadap proses Hellenisme itu. Ada kelompok Yahudi yang secara positif menyambut Hellenisasi itu diantara mereka itu ada juga para imam Yahudi yang mendukung ketegasan kebijaksanaan Antiokhus IV. Imam-imam besar Yason, Menelaus dan Alkimus adalah mereka dengan senang hati memasukkannya. Di samping itu, ada sekelompok orang Yahudi yang sangat tegas menentang Hellenisasi ini. Kelompok yang menentang tersebut kelompok Hasidim artinya kelompok ‘saleh’ yang dengan kekuatan mereka menentang keyunaniannya yang memang bertentangan dengan imam dan agama Yahudi.

Dan kelompok Hasidim ini ada yang menggabungkan diri dengan kelompok Makkabeus yang militan. Reaksi dan perlawanan yang paling keras terhadap kebijaksanaan Antiokhus IV datang dari kelompok yang dipimpin oleh Matathias yaitu orang dari Modein. Matathias mempunyai anak yang bernama Yudas Makkabeus. Nama Makkabeus dipakai untuk menyebut kelompok yang sangat militan itu. Nama Makkabeus dalam bahasa Ibrani berarti Palu. Pada tahun 166 sM, penduduk Modein, dipaksa untuk mempersembahkan persembahan kepada dewa-dewi Yunani.

Atas dasar inilah kelompok Makkabeus semakin tidak senang. Mereka akan membunuh setiap orang yang melaksanakan perintah tersebut dan juga akan membunuh setiap orang yang datang yaitu utusan raja yang memaksa hal tersebut. Mereka melakukan perlawanan yang sangat hebat. Matathias lalu merobohkan mezbah dan bersama banyak pengikut melarikan diri ke bukit-bukit. Mereka selalu menghendaki adanya kebenaran dan keadilan. Pada saat itu juga pada suatu hari sabbat mereka diserang oleh tentara raja. Mereka memilih mati daripada melanggar hukum Tuhan. Namun, sejak peristiwa itu muncullah suatu perubahan kecil dalam hukum hari sabbat, yaitu bahwa hari sabbat orang Yahudi diperkenankan untuk mengadakan perlawanan dalam rangka pembelaan diri.

Dan kemudian semakin banyaklah orang Hasidim yang bergabung dengan kelompok Matatous itu. Dalam penggabungan itu, mereka membentuk tentara, mereka menghancurkan mezbah-mezbah berhala, melakukan sunat dan melawan orang-orang Yahudi yang memihak Hellenisme. Dan juga mereka menganiaya orang Yunani asli.

Matathias meninggal dan digantikan oleh anaknya Yudas Makkabeus. Dan sejak saat itu kelompok ini disebut kelompok Makkabeus. Adapun tujuan dari perlawanan Makkabeus adalah:

·         Memperoleh kembali kebebasan untuk menaati hukum-hukum Yahudi.

·         Menguasai dan menyucikan Bait Allah.

      Tujuan itu berhasil dengan perjuangan berat pada tahun 166-165 sM. Dari keberhasilan itu, mezbah baru didirikan dan merekapun menentukan hari perayaan syukur kepada Tuhan Allah. Mereka membangun tembok keliling Bait Allah dan menempatkan penjaga-penjaga disana. Banyak hal yang dilakukan Makkabeus dalam usaha perlawanannya. Mereka berusaha untuk membantu orang-orang Yahudi  yang tinggal di tengah-tengah masyarakat Yunani / non Yunani. Sebagaimana kita mengetahui bahwa Alkimus juga salah seorang yang sangat pro dengan Hellenisasi itu berusaha menyenangkan kelompok Hasidim. Namun, kelompok Makkabeus segera menentangnya dan berhasil mengalahkan tentara Syria yang datang membantu Alkimus di Adasa. Dan hari kemenangan itu selalu diperingati dan dirayakan oleh kelompok Makkabeus.

      Akan tetapi Yudas Makkabeus berhasil dibunuh oleh tentara Syria dan menduduki wilayah Yudea. Kelompok Makkabeus melarikan diri ke padang gurun. Di sana mereka mengatur diri di bawah pimpinan Yonatan Makkabeus, adik Yudas Makkabeus. Kelompok Makkabeus memperoleh kekuasaan untuk mengatur kehidupan bangsa Yahudi. Yohanes Hirkanus, kemenakan laki-laki dari Yudas Makkabeus yang menyandang gelar ‘raja’ atas negeri Yehuda. Ia memperluas wilayah kekuasaannya dengan menaklukkan negeri-negeri yang tidak mau mengakui kekuasaan kerajaan Yahudi di bawah bangsa Makkabe.

      Dan setelah raja mangkat, dua orang anaknya secara berurutan menggantikannya. Kedua anak itu adalah Aristobulus I dan Alexander Yeneus. Yang pertama raja adalah Aristobulus I dan ketika ia mangkat lalu ia digantikan oleh Alexander Yeneus. Pada dasarnya, peristiwa-peristiwa tersebut diatas mempunyai tujuan-tujuan tersendiri melalui kelompok-kelompok tersebut. Kelompok Hasidim menginginkan kebebasan agama. Para pendukung Hellenisasipun tidak dapat merasakan keamanan karena kelompok Makkabeus sewaktu-waktu dapat menyerang mereka dari padang gurun. Akhirnya kelompok Makkabeus tinggal di Mikhmash yaitu sebuh benteng yang kuat di sebelah timur kota Yerusalem. Yonatan memimpin kelompoknya dan melakukan tugasnya. Ia menjadi pemimpin militer, agama dan sekaligus politik, sehingga kelompok Makkabeus memperoleh kemenangan yang gemilang.

Religious Moderation: Strengthening Relationships In Order To Maintain Religious Harmony In Indonesia

  I. Introduction Indonesia has a pluralistic nation, namely a nation that has a variety of ethnicities, cultures and religions. This was ...